Jadilah Lelaki Perkasa, Seperkasa Kuda Putih

Wednesday, August 13, 2014

Balada Viana 3: Forbidden Love

Chapter 1

Viana

Siang hari itu terasa panas sekali, khususnya bagi orang-orang dari kota besar seperti Pak Sumarga yang terbiasa dengan dinginnya AC ruangan, namun meskipun panas terasa sangat menyengat kulit Pak Sumarga tampak semangat sekali berjalan diiringi oleh dua orang pembantunya. Mereka menuju mobil  Kijang yang teronggok di tepi jalan.

“Jo, kamu yang nyetir ya, kita langsung pulang saja sekarang” dengan wajah berseri Pak Sumarga memasuki mobil yang baru seminggu dibelinya diikuti Udin yang merasa bangga bisa duduk bersama dengan sang majikan.
“Siap bos” kemudian nafas lega terdengar dari mulut Tarjo yang daritadi merasa kepanasan dan akan segera merasakan sejuknya AC dalam mobil.
“wahhh, jasa-jasa kalian pasti saya balas, terutama kamu jo!”
“Terimakasih bos, kita sama-sama udah kecipratan rejeki koq bos” sahut Tarjo di belakang kemudi.
“ya, itu masih kurang, kalian juga akan saya nikahkan, semua biaya biar saya yang tanggung, tinggal kalian pilih sendiri ceweknya mau yang mana?” dengan wajah gembira, pria yang agak tambun itu menimpali pembantunya.
“yah bos, kita belum niat nikah, lagian kalau dipaksa nikah juga belum ada yang mau bos”
Tarjo tampak tersenyum mendengar kalimat Udin yang bernada lugu.. “kita?? Elu kali din” pikirnya..
“kalau gitu, kalian pilih saja maunya apa? Pasti saya penuhi!” tegas Pak Sumarga saking gembiranya melontarkan kalimat tanpa pikir panjang.
“bener nih bos?” tanya Udin setengah tak percaya.
“Ya iya Din, terutama kamu Jo, kan kamu yang pertama kenalin aku ke si Sumirah, jadi kamu juga tadinya mau aku biayain nikah”
“Nah Jo, kesempatan lu tuh nikahin anak Pak RT di kampung lu dulu, katanya dulu lu demen sama tuh cewek” balas Udin sehingga membuat Tarjo gelagapan, karena dia memang menyukai Tarmini, anak ketua RT di kampungnya, namun ditolak bapaknya lantaran dia masih pelaku kriminal.
“eh… itukan dulu Din, sekarang si Tarmi mungkin udah nikah, diakan juga banyak yang naksir”
“Wah, kebetulan kalau gitu Jo, kamu cari tau dulu saja. Kalau masih single, nanti kita lamar sekalian”
“Iya deh bos, nanti saya selidiki dulu orangnya” sahut Tarjo ogah-ogahan. Pikirannya sedang menimbang-nimbang antara mau atau tidak, karena sebenarnya dia sedang mengincar Viana, anak bosnya ini, namun dia juga tau diri menyadari statusnya.

Tarjo memang mengalami trauma sejak ditolak bapaknya Tarmini gara-gara tindak premanisme dan kegiatan kriminal yang dilakukannya bersama gerombolannya dulu, tapi masalah hati Tarjo sangat menyukai Tarmini. Sekarang ini Tarjo mulai berubah sejak dia bekerja pada Pak Sumarga. Perubahan itu semata-mata akibat kedua gadis anak majikannya itu yang selalu membuat  birahinya naik, juga akibat keisengannya melepas ilmu gendam pada Viana yang tadinya untuk membuat gadis itu takluk seperti perbuatannya pada banyak gadis desa, tapi malah membuatnya tambah berminat pada gadis bermata sipit majikannya itu apalagi sejak melihat tubuh polos Viana yang putih terang pada kejadian beberapa hari sebelumnya. Tapi dalam hati kecilnya Tarjo tetap mencintai Tarmini, hanya saja hubungan mereka tidak direstui oleh ayah Tarmini, sang ketua RT. Jika dibandingkan secara fisik, memang keduanya bagaikan langit dan bumi, tentu lebih memilih Viana, namun sikap Tarmini yang sangat baik itu membuat Tarjo tidak bisa melupakannya begitu saja, cocok sekali bila dijadikan istri, apalagi sekarang dia telah mempunyai pekerjaan tetap, bukan lagi pengangguran yang selalu membuat ulah.  Lagian terlalu berharap pada Vianapun kemungkinan besar terlalu membuang-buang waktu, seperti punguk merindukan bulan, jadi cukuplah baginya hanya mencicipi tubuh mulus Viana saja tanpa harus bertanggung jawab pada hidup Viana, itu sudah membuatnya sangat puas. Biar saja si Udin yang mengurus Viana, itupun kalau dia berhasil mendapat persetujuan PakSumarga majikannya. Sepanjang perjalanan pulang itu otak Tarjo yang licin berdenyut-denyut menimbang-nimbang yang harus dia pilih, apakah menerima atau menolak hadiah dari majikannya. Sementara Pak Sumarga sedang berbunga-bunga hatinya karena tak lama lagi ia akan memiliki Sumirah sebagai istri barunya. Udin disampingnya pun sedang sibuk memikirkan siasat bagaimana menjerat Viana tanpa harus bertanggung jawab sekaligus menguasai kekayaan majikannya. Memang selama ini Pak Sumarga sangat bergantung pada mereka berdua dalam mencari pelacur-pelacur untuk kesenangannya, bahkan terakhir Tarjo malah berhasil mendapatkan seorang gadis desa baik-baik dan menjerat gadis itu untuknya hingga kemudian gadis itu hamil dan tak lama lagi akanmenjadi istri barunya. Dengan begitu, Pak Sumarga merasa harus memberi penghargaan khusus pada kedua pembantu atau lebih tepat dikatakan kaki tangannya itu, selama inipun kedua pembantunya selalu dimanjakan oleh banyak pelacur suruhannya, namun begitu mendapatkan Sumirah yang masih perawan, Pak Sumarga pun rela memberikan bonus khusus pada kedua pembantunya terutama Tarjo. Berburu gadis-gadis desa yang lugu membuat kesan tersendiri bagi Pak Sumarga yang terbiasa dengan gadis-gadis mewah kota Jakarta yang matre dan juga untuk keadaan sekarang yang sedang bangkit dari kebangkrutan, berburu gadis desa lebih pas dikantongnya. Secara kenikmatan, memang gadis dimanapun sama saja kalau sudah diranjang, hanya sensasinya bagi Pak Sumarga saat ini lebih memilih gadis manis berkulit mulus sawo matang di desa daripada gadis cantik berkulit putih dikota.

Sejak hari itu gemparlah seisi rumah Viana karena niat Pak Sumarga yang akan nikah dengan gadis 18 tahun seumuran dengannya. Tatik, istri Pak Sumarga tentu saja merasa gerah mengetahui berita itu, niatnya seakan mendapat saingan untuk menguasai harta Pak Sumarga terlebih sampai saat ini dirinya belum juga hamil.
“Kalian harus secepatnya membereskan kedua anak itu, aku sudah tidak sabar memiliki rumah dan usaha ini. Bandot tua itu makin membuatku tidak betah, sekarang dia malah mau kawin lagi” katanya berbisik pada Udin sewaktu mereka berpapasan dibagian belakang toko.
“hehe tenang Tik, sebentar lagi beres koq, katanya si Bos ga sengaja bikin tu cewek hamil, kita juga gak maksud nambah saingan buat ente Tik, semuanya diluar rencana semula, maksud awalnya sih cuma senang-senang, ngambil hati si Bos” jawab Udin.
“Huuh, kalian para pria memang sama, gila perempuan. Pokoknya aku tidak mau ada saingan di rumah ini, termasuk juga tuh cewek” ketus Tatik sambil ngeloyor pergi kedepan. 
Udinpun mengikuti Tatik dari belakang dengan langkah seenaknya. Udin dan Tarjo selama ini memang telah menjadi kepercayaan Pak Sumarga, sebagai tukang pukul, sebagai kuli dan juga sebagai penghubung pada gadis-gadis desa yang lugu. Sebagai upah mengenalkan gadis-gadis desa, Udin dan Tarjo ditraktir bermain pelacur sepuasnya, malah Pak Sumarga menawarkan akan menikahkan Udin dan Tarjo dengan salah satu gadis desa, tapi Udin menolak tawaran itu, karena baginya lebih baik bermain dengan pelacur daripada menikah dengan gadis desa yang tidak dapat menjamin hidupnya yang memang pemalas dan pelaku kriminal. Udin malah lebih mengincar Viana atau Airin, karena lebih bisa menjamin masa depannya dan juga jauh lebih menggairahkan secara sexual daripada gadis-gadis desa yang kusam, hanya dia belum berani mengatakannya pada Pak Sumarga, masih menunggu saat yang tepat. Tinggallah Tarjo yang masih berkutat dengan pertimbangannya akan penawaran Pak Sumarga.
Dua hari kemudian Tarjo dipanggil kembali oleh Pak Sumarga sang boss di ruangannya.
“Gimana Jo, kamu sudah selidiki belum?” tanyanya.
“Sudah bos, ternyata masih lajang”
“Terus bagaimana, apa yang kamu pilih? Mau dinikahkan dengan Tarmini atau pilih yang lain atau pilih hadiah lain?” tanyanya lagi.

5 jagoan ((Tarjo, Warsa, Darsono, Kosim, dan Udin)
“Terus terang bos, sebenarnya saya punya pilihan lain, tapi sepertinya tidak akan terlaksana”
“Lho, kenapa bisa begitu?”
“percuma bos, orang tuanya tak akan setuju kalau nikah dengan saya”
“Lho, koq kamu sok tau begitu, bukannya orang tuanya Tarmini juga tak setuju? Apa bedanya”
“Ini lain bos, ada alesan lain yang lebih penting daripada alesan karena masalah pekerjaan saya dulu”
“Hmmmm, ya sudahlah jadi sekarang mau kamu bagaimana?” Pak Sumarga masih tidak menyadari maksud Tarjo yang membicarakan masalah Viana dan tentu dirinya sebagai orangtua gadis itu.
“Saya pilih dinikahkan saja bos, lagian umur saya sudah hampir kepala empat, masa belum nikah juga”
“hahaha baguslah kalau begitu Jo, masalah kepala empatmu itu ya salahmu sendiri kebanyakan kawin sama  main cewek sampai lupa nikah.”
“hehehe iya bos, makanya mumpung ada yang bayarin, aku pilih nikah saja, kan enak”
“ya  sudah, kamu nikah minggu depan saja, ajak cewek itu nikah, diusahain secepat mungkin ya Jo, aku juga minggu depan kan nikah juga, jadi waktu kerja tidak terbuang dan tetap efektif” sahut Pak Sumarga masih saja naluri bisnisnya keluar disaat-saat begitu.
“Koq digabung sih bos, saya belakangan saja, gak apa koq, jodoh kan tak akan lari dikejar”
“OO ga bisa! Soalnya toko akan diliburkan 3 hari, jadi kita harus pakai kesempatan itu buat nikah. Kalau nikahnya terpisah, pasti ditoko ini cuma tinggal si Udin sama aku yang kerja, sementara kamu pasti ambil cuti satu minggu, betul kan Jo?”
“hehehe si bos bisa aja, koq tau sih bos?”
“OO ya iya, tentu aku tau sifatmu, apalagi kalau lagi sama cewek”
Hari berikutnya bertambahlah kegemparan ditoko sembako itu karena Tarjo, sang tangan kiri bos sembako juga akan menikah dengan anak ketua RT dikampung sebelah dihari yang sama dengan pernikahan sang Bos.
“Bagaimana dengan kamu Din? Kamu mau hadiah atau mau dinikahkan juga?” kata Pak Sumarga disela-sela kesibukannya pada Udin sang tangan kanan.
“Saya masih bingung boss, takut ditolak sama ortunya”
“Yah, kamu ini bagaimana, mau dinikahin juga susah, yasudah bilang saja mau apapun pasti saya kasih, asal jangan minta uang banyak” kata Pak Sumarga masih tetap serakah.

“Weh bener nih bos, minta apapun dikabulkan?” tanya Udin dan dijawab dengan anggukan Pak Sumarga.
“bagaimana kalau saya minta dinikahkan sama anaknya si bos sendiri, non Viana” jawab Udin datar.
Untuk sementara Pak Sumarga diam, wajahnya yang kekuningan menjadi merah padam, betapapun ia akan menikahkan Udin, tapi tentu bukan dengan anaknya sendiri.
“Kurang ajar kamu Din!! Dikasih hati malah minta jantung! Kamu mana level dengan anakku, ngaca dulu dong, goblok!” makinya tak tertahankan.
“Lho, tadi katanya apapun yang saya minta pasti bos kabulkan, gimana sih bos, koq sekarang saya malah dimarah-marahi”
“Tapi bukan dengan Viana!!”
“Y asudah deh bagaimana kalau dengan Non Airin saja” kata Udin malah makin menjadi, dan membuat Pak Sumarga naik pitam.
“Sama saja guoblokkk!! Tidak bisa! Sudah, kamu kembali kerja! Jangan pikir lagi masalah hadiah! Tidak akan ada hadiah buat kamu Udin, dan sekali lagi kamu berpikir yang tidak-tidak terhadap Viana atau Airin, kamu akan saya pecat! Ngerti kamu!!!” Udinpun ngeloyor pergi dari hadapan Pak Sumarga sebelum bosnya itu bertambah marah.
Udin bersungut-sungut dalam hatinya “awas saja kamu bos, liat nanti malah anakmu yang kubuat memohon-mohon kawin dengan aku” .
Sebagai seorang pengusaha, Pak Sumarga selalu memegang teguh apa yang telah diucapkannya. Setelah memarahi Udin diapun merasa menyesal telah menjanjikan “apapun” pada Udin, dan bukan salah Udin kalau dia memilih anaknya. Diapun tahu kalau anaknya telah menjadi incaran para pemuda di desa itu, tapi dia baru sadar ternyata Udinpun menginginkan anaknya. Semalam suntuk Pak Sumarga tidak dapat memejamkan matanya.
“Sudah malam koq belum tidur Pak,  mikirin Sumirah terus ya?” tanya Tatik menyindir suaminya, namun hanya dibalas senyuman dari Pak Sumarga.
Berikutnya Tatik malah tertdur lebih dahulu. Otak Pak Sumarga sibuk memikirkan jalan keluar baginya agar tidak jadi bahan tertawaan para pembantu di tokonya, sebagai seorang bos yang ingkar janji. Beberapa jam kemudian sebersit ide terlintas dibenaknya, Pak Sumarga tersenyum senang akan ide briliannya. Barulah dia bisa tertidur dengan pulas, karena hatinya sudah merasa plong.

Pagi-pagi sekali kembali Pak Sumarga memanggil Udin ke kantornya di toko.
“Baiklah Din, semalaman saya sudah pikirkan masalah kamu kemarin. Rasanya tidak adil kalau saya membedakan kamu karena masalah ras. Baiklah, kamu saya izinkan mendekati Viana, tapi ingat selama Viana setuju, saya tidak akan melarang hubungan kalian, tapi kalau anakku itu tidak mau, kamu harus berhenti mengejarnya, jelas?!”
Bukan main senangnya Udin mendengar lampu hijau dari bosnya yang mengizinkan dia merayu putri sulungnya.
 “Wah, bener nih bos, waduh terima kasih banyak bos, siapa tau saya jadi mantu si bos. Hehehe” sahut Udin senang.
Pak Sumarga hanya tersenyum, namun hatinya juga ikut tertawa “hahaha anakku mana mau sama orang kayak elu Din, apalagi dia akan aku kenalkan pada anak temanku di kota, Via tidak akan memilih kamu…hahaha dasar orang udik bodoh, mana bisa memperistri anakku”. Pak Sumarga benar-benar tidak tahu apa yang terjadi dalam rumahnya beberapa hari belakangan ini yang menyangkut putrinya bersama dengan kedua pembantunya itu.

#################################
Chapter 2

Gadis itu termenung sendiri di kamarnya. Kehidupan di rumah ini meskipun terlihat sibuk, namun tetap saja gadis itu merasa kesepian. Berbeda jauh dengan di Jakarta, selalu ada teman istimewa yang selalu siap menemaninya bermain-main. Viana sangat membutuhkan kehadiran seorang pria dalam hidupnya sekarang. Memang banyak pria-pria yang mendekatinya, di sekolahnya pun sekarang banyak dikunjungi para alumni pria yang tujuannya untuk berkenalan dengannya ataupun dengan Airin belum lagi teman-teman SMA nya yang berebut perhatian darinya. Di luar sekolah ada Supri tukang bakso tahu langganannya yang sering merayunya dengan bonus siomay, atau  Mas Burhan tukang becak yang selalu menawarkan becaknya meskipun sudah tau ada yang menjemput pulang sekolah, belum lagi pemuda-pemuda pengangguran tetangganya yang selalu nongkrong di depan tokonya sambil bermain gitar yang selalu menggodanya di kala lewat sendirian. Di dalam rumahpun ada Udin dan Tarjo yang selalu baik padanya, yang juga sudah membuatnya terlena dengan kata-kata cabul dan porno.  Bahkan mereka sudah menembaknya beberapa hari yang lalu dan lebih parah lagi mereka sudah melihat tubuhnya polos tanpa pakaian. Satu hal yang disayangkan dan hal itulah yang membuat kehancuran dalam hidupnya kelah, yaitu Viana telah memuaskan kedua pembantunya dengan sex oral dan handjob. Udin dan Tarjo telah berhasil memasukkan pengaruh percabulan dalam alam bawah sadar Viana. Di saat-saat seperti inilah pengaruh cabul itu muncul dalam pikiran Viana. Saat dia membutuhkan teman pria yang bisa menemani hari-harinya. Sebenarnya tak ada satupun yang dia suka dari para pemuda yang mendekatinya, dia lebih mengharapkan di desa itu ada pemuda chinesse yang mendekatinya karena tentu tak akan mendapat halangan dari papanya, berbeda kalau para pemuda pribumi itu yang mendekatinya, tentu dia yang akan kena marah papanya meskipun dari dirinya sendiri tak terlalu mempermasalahkan tentang ras terutama sejak kejadian dengan mantan pacarnya dulu. Namun berhubung di tempat itu jarang sekali keluarga yang satu ras, (kalaupun ada tentu anak-anaknya sekolah di kota besar) mulailah Viana menimbang-nimbang semua pemuda yang mendekatinya, celakanya hanya Udin dan Tarjo yang sudah menembaknya, sedangkan yang lainnya semua masih berusaha merebut perhatiannya. Sekali lagi pengaruh gendam Udin dan Tarjo menunjukkan keunggulannya. Tarjo menjadi pilihan utamanya sekarang, wajahnya tak bisa dibilang tampan, malah jauh dari tampan, namun cuma Tarjo yang masih lumayan dibanding yang lainnya. Telah beberapakali pula Viana memandang tubuh telanjang para pembantunya itu, tak terasa nafsunya perlahan-lahan bangkit membayangkan tubuh kekar kehitaman dengan penis 20cm yang tegak menantang di wajahnya. Namun lamunan itu sirna bahkan berakhir dengan kekecewaan yang terbayang di wajahnya yang putih dan tampak pada lingkaran kemerahan di sekitar matanya seperti menahan tangis. Betapa tidak, setelah sekian lama dia menimbang tentang siapa pria yang dipilihnya, sekarang pria yang telah dipilihnya malah akan menikahi wanita lain, Viana merasa rugi telah memuaskan Tarjo, apalagi telah membiarkannya memandangi tubuh telanjangnya sepuas hati.

Memang Jodoh itu Tuhan yang mengatur, kalau saja Tarjo tahu Viana memilihnya, tentu dia tidak akan memilih menikahi Tarmini sebagai hadiah dari Pak Sumarga, sebaliknya dia akan dengan senang hati memilih putri sang bos yang demikian cantiknya. Sementara sebagai wanita yang hanya bisa menunggu aksi dari pria, Viana pun hanya bisa menunggu aksi Tarjo melanjutkan tembakannya tempo hari atau menagih jawabannya. Hasilnya kekecewaan yang didapat Viana, dirinya merasa Tarjo telah mempermainkan perasaannya. Tinggal Udinlah satu-satunya pria yang telah menembaknya, terlintas juga pikiran untuk menerima sebagai kekasihnya, namun terlintas juga pikiran buruknya, tentu Udin juga sama dengan Tarjo, yang hanya ingin bermain-main dengannya. Viana sangat menyesal telah mengobral tubuhnya untuk orgasme para pembantunya itu. Kini musnahlah harapannya untuk mendapat pria idaman, namun  kenangan akan kejantanan tubuh seorang pria tidak dapat menghilang dari pikirannya yang telah terinfeksi oleh gendam cabul Udin dan Tarjo. Dalam pikirannya selalu terlintas tubuh hitam kekar seorang pria pribumi yang sedang menyetubuhinya berulang-ulang. Tapi juga terlintas bayangan papanya dengan wajah galak melarangnya dan akhirnya Viana tertidur kecapean memikirkan itu semua.

##############################
Chapter 3

Seminggu kemudian tibalah hari yang ditunggu, pernikahan Pak Sumarga dan Tarjo dilaksanakan di dua tempat yang berbeda karena pengantin wanita berasal dari dua kampung yang berbeda pula.
Akhirnya akad nikah pun dilaksanakan, dan resmilah Sumirah menjadi istri muda Pak Sumarga.
Hari itu tampak pesta pernikahan diadakan dikeluarga mempelai wanita sesuai tradisi mereka. Viana dan Airin tampil seperti dua bidadari chinesse yang amat berbeda dengan tamu-tamu yang lain. Mereka memakai gaun putih berdada rendah yang hanya tersangkut oleh tali tipis berwarna putih yang kebetulan seperti warna kulit mereka yang putih. Gaun itu tentunya yang hanya cocok untuk pesta-pesta gedung mewah di kota besar, namun apa daya, hanya gaun itu yang mereka punya dan merekapun sudah terbiasa memakainya utuk pesta. Kali ini Viana dan Airin canggung sekali di pesta itu yang mayoritas tamunya malah mengenakan batik kebaya, sungguh di luar perkiraan mereka sebelumnya, tapi apa mau dikata, pesta sudah mulai dan mereka harus bersikap anggun sebagai putri dari pengantin pria. Udin tampak selalu berada didekat Viana, Udinpun baru menyaksikan Viana mengenakan gaun seperti itu, baginya justru Viana ataupun Airin yang seperti memakai baju pengantin. Mata Udin tak lepas dari belahan dada Viana yang begitu putih menggairahkan, pas sekali dengan usianya yang sudah 18 tahun, yang bagi orang didesa itu sudah layak untuk dinikmati. Pemandangan di pagi hari itu agak berbeda dengan pemandangan waktu malam dimana tubuh Viana polos di depannya. Sinar terang dari matahari begitu mengekspose terangnya kulit putih Viana dan Airin. Ingin rasanya Udin mengelus kulit yang terlihat sangat lembut itu, meskipun kemarin-kemarin dia bahkan sudah merayapi seluruh permukaan kulit Viana, namun kali ini tetap terlihat sekali perbedaannya. Seperti kebiasaan orang-orang desa yang masih mengutamakan kekeluargaan, hampir seluruh penduduk desa diundang ke acara pernikahan itu, tentunya diantara para undangan terdapat pula teman-teman sekolah Viana, mas Burhan, mas Supri, dan para pemuda lainnya yang berlomba mendekati Viana. Sepasang pengantin yang berada di pelaminan justru tidak terlalu menjadi perhatian para tamu yang hadir, justru Viana dan Airinlah yang menjadi pusat perhatian mereka, tapi meskipun begitu upacara pernikahan tetap berjalan seperti seharusnya. Sapaan demi sapaan terus berdatangan pada Viana dan Airin, mulai dari yang sopan sampai yang kurang ajar, semua itu tidak mereka tanggapi. Untuk mengalihkan perhatian para tamu, terutama para pemudanya yang mulai bermata nakal, Viana sengaja berdekat-dekatan dengan Udin seakan mencari perlindungan dari pembantunya itu. Tentu saja Udin yang sudah mendapat angin dari Pak Sumarga merasa di atas angin, dan dengan bangganya juga berani menggandeng pundak telanjang Viana di hadapan para tamu. Viana tentu merasa risih dengan ulah Udin, segera saja dia menepis tangan Udin, namun tetap tidak mau terpisah dengan pembantunya itu.

Untuk beberapa waktu Viana aman dengan adanya Udin disampingnya, tinggallah Airin yang kelimpungan ditinggal sendiri oleh cicinya. Waktu makan pun dikerumuni para pemuda dan digoda habis-habisan, untunglah Tatik mendekatinya sehingga para pemuda itu otomatis bubar. Pesta berlangsung meriah sampai sore hari, setelah semua tamu bubar tinggallah keluarga kedua mempelai termasuk Viana , Airin dan juga Udin.
“Wah-wah wah, ternyata kamu punya anak gadis yang cantik sekali ya…” kata Pak Hasan, orang tua Sumirah ketika melihat Viana dan Airin.
“eh, hmm iya pak, mereka anak-anakku dari istriku yang pertama”
“hmmm gitu toh, boleh juga tuh anakmu, sepertinya sudah waktunya dinikahkan juga tuh” kata Pak Hasan demi melihat Viana yang selalu bersama Udin, dikiranya Udin adalah pacar Viana.
“hehehe masih lama pak, kedua anakku belum punya calon koq” kata Pak Sumarga, matanya mendelik ke arah Udin agar sedikit menjauh dari Viana.
Tapi Udin malah bergeser duduknya mendekati Viana.
“Wah, kebetulan kalau gitu, keponakan bapak juga sudah cukup waktunya buat nikah, bagaimana kalau kita jodohkan saja anakmu dengan ponakan bapak, Bagaimana?”
Giliran Viana yang merah padam wajahnya, tapi tidak dapat berkata apa-apa.
“ooo, kalau saya sih terserah anaknya, tapi anak saya ini masih sekolah, bagaimana kalau tunggu sampai sekolahnya selesai baru kita bicarakan lagi” kata Pak Sumarga menolak secara halus.
“ooo iya juga, masih sekolah ternyata, iya nanti malah mengganggu sekolahnya, kasian juga ya, apalagi kalau sudah hamil, repot juga tuh, iya setuju, nanti saja dah” tukas Pak Hasan.
Bergidik juga Viana mendengar kata hamil, sementara Airin tersenyum-senyum menggoda cicinya yang juga tengah melotot ke arahnya. Dua jam lamanya mereka mengobrol dengan hangatnya sebelum Tatik pamit untuk pulang karena tidak mau mengganggu malam pertama suaminya.Viana, Airin dan Udinpun ikut pulang karena dirumah Sumirah tidak ada tempat untuk menampung mereka semua. Apalagi mereka juga harus menghadiri resepsi pernikahan Tarjo di desa tetangga. Meskipun merestui pernikahan suaminya, Tatik tetap tidak mengizinkan Sumirah tinggal bersama mereka, sehingga Sumirah tetap tinggal bersama kedua orangtuanya, namun secara bergilir Pak Sumarga mengunjunginya. Usia Sumirah hanya berbeda tiga tahun dengan Viana, alias 21tahun, namun tubuhnya begitu sintal dengan kulit kecoklatan. Sebenarnya Sumirah sudah memiliki kekasih, tapi karena kekasihnya seorang pemuda pengangguran tanpa masa depan sehingga bujuk rayu Pak Sumarga dengan iming-iming sejumlah uang membuat Sumirah menyerahkan tubuhnya pada Pak Sumarga sampai akhirnya Sumirah hamil, maka terpaksalah Pak Sumarga menikahinya. Jadi begitulah sekarang Pak Sumarga harus membagi jatah waktu di rumahnya dan di rumah istri barunya secara adil. Keadaan itu membuat Viana menjadi semakin dalam terperangkap dalam jerat Udin dan Tarjo.

#############################
Chapter 4

Viana sebenarnya enggan menghadiri pernikahan Tarjo di desa sebelah karena beberapa alasan, pertama Via malas bertemu dengan pria yang sudah dianggap mempermainkan perasaannya, kedua Viana merasa risih diperhatikan para tamu undangan seperti tadi siang, apalagi karena bajunya yang terlalu mewah , ketiga Viana tidak mau menghadiri pernikahan Tarjo hanya dengan adiknya, sementara papanya malah tengah bersenang-senang dengan istri mudanya. Ketiga alasan itu tampak percuma saja karena Tatik dan Udin yang menjadi sopir mobilnya malah berkeras akan ke pernikahan Tarjo. Jadi mau tidak mau, Viana dan Airin harus ikut bersama ibu tiri dan Udin. Airin tertidur dalam perjalanan itu, Vianapun tampak enggan berbicara sehingga dia menutup matanya berharap dapat tertidur seperti Airin, dan juga karena malas melihat Tatik yang duduk di depan disamping Udin. Tatik mengira kedua anak tirinya telah tertidur, merasa bebas berbicara dengan Udin, Namun Udin sebagai sopir selalu memperhatikan Viana dari balik kaca spion, dan tahu juga dari gerakgerik Viana bahwa gadis ini belum tidur.
“Sekarang, setelah bapaknya tidak di rumah, apa rencanamu Din?” tanya Tatik sambil kepalanya menoleh ke belakang memastikan Viana benar-benar tertidur.
Udin agak gelagapan juga ditanya begitu, namun otaknya yang culas seakan menemukan jalan terbentang di hadapannya.
“Apa maksudmu mbak?”
“ya apalagi kalau bukan kedua anak tiriku ini, apa kamu sudah berhasil dengan rencanamu itu?”
“Walah, koq kamu tau sih mbak? Pasti si bos yang bilang ya…..? Aku sih sejujurnya berminat sama non Via itu, kalau saja dia mau jadi istriku mbak, pasti bahagia sekali rasanya, tapi apa daya, aku cuma sebagai pembantu, mana mau non Via nikah sama aku, si Tarjo saja nyerah mbak, sampai dia mau nikah sama cewek lain” kata Udin panjang lebar sambil agak mengeraskan suaranya.
Tatik agak berkerut mendengar jawaban yang tidak seharusnya, tapi wanita ini cukup cerdik waktu melihat kedipan mata Udin. Tatik melirik pada Viana yang masih menutup matanya, lalu dia tersenyum kecil, mulai mengerti permainan Udin.
“Oo iya yah Din, mana mau anakku ini sama kamu hihii… Aku juga Ibu tirinya tirinya merasa aneh, koq suamiku itu malah ngizinin kamu merayu anaknya ini, padahal kalau aku pribadi gak bakal ngizinin anakku pacaran sama orang macem kamu Din” Kata Tatik dengan cerdiknya merangkai kata agar terdengar Viana.
“Yah itulah mbak, nasibnya jadi orang kecil, cewek jarang ada yang mau, padahal bapaknya malah sudah merestui lho kalau aku pacaran dengan anaknya”
“Lho, kapan bapak bilang sama kamu Din?”
“Itu lho mbak, waktu bos memberi Tarjo hadiah, dia juga menawarkan akan nikahkan aku sama gadis desa ini, tapi aku tetep gak mau mbak, karena aku cinta mati sama non Viana”
“Wah, beruntung kamu Din kalau bisa dapetin Viana”
“Jangan keras-keras mbak, nanti kalau Non Via bangun, malah jadi marah sama aku, bisa gawat nanti. Gak apalah kalau non Via gak mau sama aku, aku akan bawa cinta ini sampai mati, tapi mbak harus bisa jaga rahasiaku ini lho mbak, jangan sampai non Via tau, bisa malu aku…” kata Udin dengan suara mengecil dengan cerdiknya supaya tidak terdengan berlebihan di telinga Viana.

Viana dari awal mendengar percakapan itu sungguh merasa seperti terbang di langit, betapa Udin yang memujanya seperti itu, dan juga Tatik ternyata bukan ibu tiri yang selama ini dia bayangkan. Viana merasa sangat tersanjung mendengar cerita mereka, namun andai saja dia berani membuka matanya, akan tampak Udin dan Tatik saling mengedipkan mata. Hilanglah sudah keraguan di hati Viana akan kata-kata Udin yang pernah menembaknya beberapa hari lalu. Ternyata Udin berbeda dengan Tarjo, Viana merasa Udin benar-benar tulus mencintainya, lebih plong lagi mendengar bahwa papanya sendiri sudah mengizinkan Udin jadi kekasihnya, itulah surprise terbesar dalam hidupnya meskipun papanya tidak secara langsung bicara padanya, Viana merasa Udin tak mungkin bohong karena mengira dia tidur dan tak mendengar semua pembicaraan mereka. Tatik tersenyum melihat telinga Viana menjadi merah, dia mengacungkan jempolnya pada Udin. Udin pun tersenyum penuh kemenangan melihat reaksi anak bosnya di kaca spion.  Satu jam kemudian sampailah mereka di tempat resepsi Tarjo, pesta itu tidak semewah pernikahan Pak Sumarga, tapi berlangsung penuh kekeluargaan, tidak seperti pernikahan Pak Sumarga yang mewah tapi miskin suasana kekeluargaan, mungkin karena perbedaan budaya yang menyebabkan keengganan kedua belah pihak untuk saling berinteraksi. Bagi Viana tetap saja pesta itu memojokkan dirinya dan Airin, bahkan disini lebih parah lagi kejadiannya, karena ada seorang pemuda kampung telah berani mencolek dada Airin hingga membuat adiknya menangis, hingga terpaksa Tatik mengajak Udin untuk langsung pulang setelah bersalaman dengan Tarjo.
“Selamat ya mang” begitu sepatah kata dari Viana begitu menyalami Tarjo
“Iya, terima kasih non mau datang kesini. Eh, jangan panggil mang lagi ah, aku kan belum 40 tahun, panggil mas aja ya non, kan baru nikah nih”
Viana mengangguk tersenyum kecil menahan kekecewaan hatinya “Iya deh mas, selamat ya”
“Nah lho, berarti ke aku juga jangan panggil mang, mas aja ya biar lebih akrab gitu” celetuk Udin yang menunggu antri salaman di belakang Viana.
Viana mendelik “Ihhh maunya…yeee” sambil tertawa kecil, sambil menggandeng adiknya yang salaman terlebih dulu dengan mata sembab akibat insiden colekan tadi.
“Cici di depan ah..” kata Airin karena melihat di depannya ada pemuda yang tadi mencoleknya bersama dengan para pemuda lainnya.

 Viana pun agak ngeri melihatnya, jadi dia sengaja menunggu Udin bersalaman dengan Tarjo di belakangnya. Udin seakan tau masalah nona majikannya, dengan beraninya menggandeng bahu Viana seakan mereka sedang pacaran, padahal dipesta sebelumnya Viana sudah menolak tangan itu. Tapi kali ini Viana membiarkan tangan kekar Udin memegang bahunya, entah karena ketakutan melihat kumpulan pemuda kurang ajar tadi atau memang sengaja membiarkan Udin berbuat demikian. Airin pun memandang aneh pada cicinya yang mau saja dipeluk oleh pembantunya seperti itu, tapi dia tidak berpikir panjang, keinginannya adalah untuk secepatnya pergi dari situ. Terdengar suitan waktu mereka melewati kumpulan pemuda tadi, tapi mereka tidak lagi berani mengganggu Airin, entah kenapa. Mereka berempat kembali dalam perjalanan pulang, kali ini benar-benar pulang ke rumah Viana. Kali ini pula Viana dan Airin benar-benar tertidur dalam keadaan lelah. Udin mengedipkan mata dan Tatik tersenyum penuh arti. Rupanya Tatik telah mengetahui keadaan yang terjadi pada anak tirinya, segera saja  dia melapor perkembangan keadaan Pak Sumarga pada Kosim kakaknya yang masih di Jakarta. Dari Kosimlah Tatik mendapat kabar bahwa memang rencana Kosim untuk mengorbankan kedua putri Pak Sumarga pada Udin dan Tarjo sehingga Tatik tidak mendapat saingan dalam mengambil sisa-sisa kekayaan Pak Sumarga. Sayang sekali Tarjo malah memilih menikah dengan gadis lain. Dalam keluarga Chinesse, seorang anak gadis harus ikut suaminya dan memang tidak berhak mendapat warisan kecuali kalau memang diberikan oleh orangtuanya secara sukarela atau karena tidak ada anak lain yang lebih berhak. Keadaan inilah rupanya yang akan dimanfaatkan Kosim untuk membalas perlakuan Pak Sumarga padanya dahulu. Tentu saja Tatik sangat mendukung rencana kakaknya itu, maka dia sengaja membiarkan Viana dalam kekuasaan teman-teman kakaknya. 

###############################
Chapter 5

Jam 8 malam ketika mereka berempat sampai di rumah yang lebih tepat dibilang toko. Kantuk Viana segera saja hilang, digantikan oleh rasa tidak nyaman akibat keringat yang keluar sepanjang hari tadi, ditambah lagi dalam mobil tadi penuh dengan aroma bau badan Tatik dan Udin, untunglah mobil mereka ber AC sehingga bau itu menjadi agak tawar. Mereka semua masuk dalam kamarnya masing-masing. Segera saja Viana dan Airin mandi membersihkan sisa kotoran dan make up yang menempel pada tubuhnya. Kedua kamar kakak beradik itu letaknya berhadapan dipisahkan oleh ruang keluarga berukuran 5x4 m. Sebagai gadis belia, keduanya mempunyai privasi sendiri-sendiri sehingga keduanya sepakat untuk tidak memasuki kamar tanpa seizin yang punya kamar, disamping itu pintu kamar mereka terbuat dari kayu jati yang terkenal kuat dan tebal membuat kedua gadis itu merasa nyaman dalam kamar masing-masing. Viana masih mengenakan baju daleman dari gaun yang dipakainya tadi. Ia merasa enggan mengganti baju daleman yang terbuat dari kain sutra pilihan itu. Yang penting gaun luarnya sudah dilepas barulah ia merasa nyaman dari rasa panas. Baju dalem berwarna putih bening itu memang pas sekali kalau untuk tidur, hamper mirip daster, namun lebih ketat dan lebih mewah tentunya. Kulitnya yang putih menjadi agak kekuningan diterpa cahaya lampu neon dikamarnya.  Saat itu ia masih bersantai sambil merebahkan badan di kasurnya. Ia ingin keluar dari kamar itu tapi malu juga kalau membiarkan dirinya dicolakcolek Udin, rasanya gengsi juga.  Tubuh Viana terkapar diatas ranjang angin semilir dari jendela yang sedikit terbuka menelusuri kedua kaki Viana sampai ke selangkangannya, terasa sejuklah seluruh tubuhnya.  Setelah mandi air hangat, hilanglah rasa lelahnya akibat kegiatan hari itu yang lumayan padat. Rasa nyaman yang dirasakan tubuhnya kembali membuat Viana merasa sendiri, apalagi papanya tidak dirumah, sedangkan Airin tentu sudah tertidur dikamarnya tanpa mau diganggu. Disaat-saat seperti itulah pengaruh gendam cabul dari Udin dan Tarjo bekerja. Pikiran Viana membayangkan Tarjo, pria yang dianggap telah mempermainkan perasaannya itu tentu sedang bersenang-senang menikmati malam pengantinnya, ada rasa panas dalam dadanya akibat cemburu. Cemburu? Pikirnya, sedetik kemudian pikiran itu hilang kembali mengingat Tarjo adalah jongos papanya, tentu dia tidak pantas untuk merasa cemburu. Hanya tinggal Udin yang tertinggal dalam benaknya. Terngiang kembali kata-kata Udin dalam mobil tadi siang sewaktu dirinya pura-pura tidur.Tiba-tiba terdengar bunyi SMS masuk dari HP Viana, dengan malas Viana membaca isi sms itu, ternyata dari Udin. Ada rasa bangga dalam hatinya, ternyata Udin benar-benar mencintainya, tidak seperti yang dia kira sebelumnya. Sebelumnya dia mengira Udin seperti pria lain yang hanya menginginkan tubuhnya, Viana menyesali kekeliruannya selama ini. Pandangan cabul yang selama ini selalu terpancar dari mata Udin kini mulai dirasakan Viana sebagai pernyataan cinta. Kata-kata cabul yang pernah dikeluarkan pembantunya itu pun terngiang-ngiang kembali dalam sanubarinya dan dirasakannya sebagai kata-kata cinta yang begitu menginginkannya.

Viana seperti juga gadis normal seumurnya tentu menginginkan cinta dalam hidupnya, setelah dia mengalami kegagalan waktu pacaran di Jakarta dulu. Viana tidak lagi peduli meskipun di desa itu hanya ada para pemuda kampung yang dulu selalu dijauhinya karena merasa tidak level bergul dengan mereka, tapi kenyataan sekarang dia tidak punya pilihan lain karena sejauh mata memandang yang ada hanya pemuda-pemuda kampung. Sudah hampir setahun Viana tinggal di desa itu, dan lama kelamaan dirinya mulai tertarik dengan fisik para pemuda kampung yang rata-rata hitam, kekar dan berotot, namun ketertarikannya itu dibatasi oleh sikap papanya yang selalu menentangnya jika ketahuan berhubungan dengan mereka. Karena itulah Viana rela berhubungan dengan Udin dan Tarjo, sampai rela pula telanjang bulat di depan mereka dan membuat kedua pembantunya mengalami klimaks meskipun hanya dengan tangan dan lidahnya. Viana samasekali tidak menyadari semua itu karena ulah kedua pembantunya juga yang selalu menanamkan gendam cabul dalam pikirannya sejak awal mereka bekerja, malah gadis sipit itu menjadi terobsesi pada penis kedua pembantunya yang memang jantan dan perkasa itu. Udin dan Tarjo pada awalnya memang hanya ingin mempermainkan putri bosnya karena permintaan dendam dari Kosim, yang terhitung teman atau kakak seperguruan mereka, namun melihat kemajuan usaha Pak Sumarga, mereka semakin berniat buruk, selain menghancurkan nama baik Viana sekaligus menaklukkannya juga ingin merampas usaha keluarga mereka. Viana tidak dapat membayangkan tubuh pria lain selain Udin dan Tarjo yang memang pernah dilihatnya telanjang, jadi ketika pikiran cabul itu datang, tentu tubuh kekar kehitaman milik Udin yang menghantui otaknya. Dia berusaha membuang bayangan Tarjo, karena tidak ingin membayangkan pria yang sudah menikah. Begitu juga malam itu Viana begitu resah membayangkan keperkasaan Udin ketika membuatnya orgasme untuk pertama kalinya meskipun tanpa adanya hubungan badan diantara mereka. Viana merasa celana dalamnya menjadi  lembab hingga terasa agak basah. Pikiran Viana sibuk membayangkan bagaimana dia akan menjawab tembakan Udin beberapa hari yang lalu, dia merasa gengsi juga, namun senang karena menurut Udin, papanya telah menyetujui kalau Udin mendekatinya, ini berarti lampu hijau juga untuknya. Viana saat itu masih belum mengerti tujuan Pak Sumarga mengizinkan pembantunya mendekati putrinya sendiri, tapi Viana tidak mau berpikir terlalu jauh, yang penting sekarang Viana merasa bebas menentukan pilihan hatinya. Dan rasanya Viana sekarang telah memilih Udin sang jongos untuk menjadi kekasihnya, tapi dia masih bingung bagaimana cara menyampaikan pada Udin karena dia merasa gengsi juga apalagi kalau teman-temannya di Jakarta mengetahuinya, tentu dia akan malu sekali.

“Hmmm duhh koq keluar lagi sih ni cairan” gumam Viana.
Gadis berkulit terang itu sengaja membuka celana dalamnya sambil tetap posisi di ranjang, lalu melempar celana dalam itu ke sudut ruangan, angin sepoi-sepoipun kembali menghantam pahanya, kali ini menyapu vaginanya yang sengaja dengan maksud supaya kering. Tubuh belianya ternyata memang membutuhkan sentuhan pria, cairan yang keluar itu menjadi saksi seolah menyatakan bahwa tubuh mulus itu ingin segera disetubuhi. Bayangan akan tatapan cabul pada setiap lekuk tubuhnya justru membuat cairan vagina Viana tambah banyak. Sama halnya dengan Udin yang kini sedang berada di dalam gudang tempat kamarnya berada. Setelah mandi dia merasa gairahnya kembali meletup-letup, betapa seharian ini dia bersama dengan Viana yang terbalut gaun yang serba terbuka, memperlihatkan kulit tubuhnya yang bagi Udin sangat mewah itu. Sejak di resepsi Pak Sumarga, mata liar Udin selalu berusaha menelanjangi tubuh mulus Viana dan Airin, meskipun dia sudah melihat tubuh polos Viana, namun tetap saja keinginan melihat lagi tubuh itu datang tiap saat. Udin begitu bernafsu terhadap putri bosnya itu, terutama setelah mendengar Pak Sumarga memberi lampu hijau untuknya. Udin yang cukup cerdik memang agak curiga dengan “lampu hijau” nya Pak Sumarga, maka dari itu sebelum semuanya berubah, dia harus cepat mengambil tindakan untuk segera menaklukkan Viana dengan atau tanpa paksaan. Tubuh putih mulus putri bosnya itu terbayang terus di pelupuk matanya yang cabul dan membuat penisnya berkedut kencang dan membesar. Timbul niat Udin untuk meminta Viana datang lagi kegudang. Udin mulai aksinya dengan mengirim SMS yang isinya mengajak lagi Viana ke kamarnya. Tak lama kemudian Viana membalasnya.
“Gak mau ah, mang, Via mau istirahat, kalau mau juga Mang Udin kesini pijitin Via”
Bukan main senangnya Udin membaca SMS dari nona majikannya itu.
“Lho, koq non masih bilang mang? Tadi siang kan non setuju panggil mas biar mesra gitu”
Di dalam kamarnya tampak Viana tersipu membaca sms balasan Udin itu, rasanya janggal sekali melakukan panggilan yang tidak pernah dia ucapkan sebelumnya. Tapi keadaannya saat itu yang sedang dilanda gairah birahi, tentu saja semua sms dari Udin ditanggapinya dengan hati yang berdesir.
“udah deh, kesini aja pijit Via sekarang ya, tapi masuknya lewat jendela aja biar gak ada yang tau” Viana merasa risih sekali kalau ada yang melihat Udin masuk ke kamarnya, jadi melihat jendela kamarnya yang sengaja dibuka, ia segera mendapat ide cemerlang.

Kamar Viana terletak di lantai dua dan kebetulan tepat di atas gudang tempat kamar Udin. Jendela kamar Viana sebetulnya menghadap tembok rumah tetangga hanya dibatasi oleh celah ruang kosong sepanjang 1 meter yang gunanya untuk menerangi gudang agar tidak berbau dan tidak lembab. Udin pun dengan cekatan memanjat dinding dari arah gudang, berbekal kemampuannya sebagai bekas pencuri kampung akhirnya Udin berhasil mencapai jendela kamar Viana yang setengah terbuka, namun cukup untuknya dapat masuk ke kamar anak gadis bosnya itu. Menyadari Udin akan datang ke kamarnya, Viana segera memakai kembali celana dalamnya, dia tidak mau Udin mengetahui keadaannya barusan yang asyik berfantasi dengan pembantunya itu, tapi dia masih mengenakan baju sutra halus yang merupakan baju dalam dari gaun yang dipakainya tadi siang. Melihat Udin telah masuk kamar melalui jendela, jantung Viana berdebar kencang, baru kali ini dia berani memasukkan seorang laki-laki dalam kamarnya. Segera Viana berdiri di samping meja belajarnya. Udin menyeringai mesum pada Viana. Vianapun balas tersenyum pada Udin.
“mang, tolong pijit punggung Via ya, seharian ini pegal baget” kata Viana. Udin sebenarnya mengerti Viana hanya pura-pura minta dipijat, tapi diapun menuruti keinginan Viana.
“boleh non, tapi kan syaratnya kudu ganti panggilan tadi, ayo panggil mas, jangan malu-malu gitu ah” kata Udin sambil mencolek pantat Viana yang berjalan di depannya.
Viana otomatis berbalik, tapi wajahnya tidak menunjukkan kemarahan, malah tersenyum manja.
“ehh maunya tuh! .. pijat dulu, baru dipanggil mas.. hehehe” Viana langsung telungkup di atas ranjangnya.
Tanpa diperintah dua kali Udin langsung naik ke ranjang Viana yang berseprai putih, tangannya mulai bekerja meraba pundak halus Viana, lalu pelan-pelan memijatnya sampai ke punggung. Matanya menatap liar menelusuri sekujur tubuh Viana yang hanya dibatasi oleh selapis pakaian dalam sutra mahal yang dikaitkan kelehernya oleh seutas tali tipis.
“hehehe non Via kangen ya sama dipijat sama mas” seringai Udin sambil tak hentinya menahan liur melihat keindahan tubuh Viana. Tapi Viana tak menjawabnya. Lima menit kemudian Viana tiba-tiba membalikkan tubuhnya menjadi posisi telentang, wajahnya kini berhadapan langsung dengan wajah Udin yang agak kaget karena tadi sedang asyik-asyiknya menikmati kehalusan kulit pundak Viana yang terbuka.
“Papa pernah bilang apa tentang Via?” tanya Viana, matanya menatap Udin.
Udin cepat mengerti, pertanyaan itu tentu karena pembicaraannya dengan Tatik tadi siang yang sengaja supaya didengar Viana.

“Sebenernya papa non minta supaya mas ngawinin Via” jawab Udin
“Terus mas jawab apa sama papa? Kenapa papa bisa sampai bilang gitu?”
“Ya, mungkin papa non sudah kepingin punya cucu, lagian non Via kan sudah bisa dikawini” jawab Udin seenaknya.
“Terus mas jawab apa?” tanya Viana makin tak sabar
“aku sih mau non, justru mas udah ngebet sama non Via dari dulu, Cuma tinggal non Via nya aja, mau ga kawin sama mas?”
Kalau saja posisi Viana tidak sedang telentang, tentu dia sudah membuang mukanya karena malu ditanya seperti itu oleh pembantunya sendiri, tapi posisinya mengharuskan Viana memperlihatkan ekspresi wajahnya yang merah, bukan karena marah, tapi malu dan hatinya berdebar kencang. Udin maklum reaksi seorang gadis seperti itu artinya setuju. Perlahan Udin mendekatkan wajah mesumnya ke wajah Viana yang putih oriental, lalu bibirnya mulai menciumi bibir Viana dengan lembutnya tanpa perlawanan dari Viana, malah Vianapun membalas ciuman itu dengan mesranya.
“Gimana non? Mau kan dikawin sama mas?” bisik Udin ditelinga Viana sambil terus menciumi leher gadis itu.
“ehhh hmmmmmm, memangnya mas mau kapan?”
“non maunya kapan?” Udin balas bertanya.
“ehhmm, abis Via lulus aja, gak lama lagi, gimana?” jawab Via
“mungkin maksud Via nikah ya, wah kalau mas diajak nikah sih kapan juga mau, maksudnya kawin tadi tuh ngentot, ngerti  ga kamu Via?” jawab Udin sambil menyeringai mesum di depan wajah Viana.
“Idiih mas, Via kirain resepsi, tapi mas benerkan mau nikahin Via?”
“ya pasti mauu dong Via, kalau sudah nikah kan kita bisa ngewe tiap hari, gak usah sembunyi-sembunyi kayak sekarang, tapi gak apa-apa gitu Via nikah sama mas, kita kan beda keturunan, terus mas ini kan hitam, jelek, gak kayak Via, udah cantik, putih, muluss lagi”
“Ya gak apa-apa mas, yang penting masnya serius dan papa juga setuju, Via mah suka-suka aja dikawinin…eh di nikahin sama mas Udin” jawab Viana polos tersipu.
Udin yang tadinya hanya mau “kawin” merasa senang bukan main bakal mendapatkan istri anak bosnya sendiri yang tentu saja hidupnya akan sangat terjamin tanpa dia harus bekerja keras.
“kawinnya sekarang aja yu non” ajak Udin
“Koq mas masih panggil non sih? Panggil Via aja” jawab Viana sambil membiarkan saja tangan Udin merengkuhnya sampai posisinya menjadi duduk.

Matanya memperhatikan Udin yang sedang membuka baju dan celananya hingga tersisa hanya celana dalam, Tubuh hitam Udin terlihat kekar dan tampak jantan sekali bagi Viana. Dirinya duduk di tengah-tengah ranjang memperhatikan tubuh pembantunya yang sedang mendekatinya. Jari-jari tangan Udin yang kasar membelai rambut Viana dari belakang. Udin mulai menciumi kulit leher Viana sampai ke daerah kuping. Tentu saja Viana merasa geli, tapi dia menahannya bahkan birahinya malah naik. Setelah puas menciumi wajah dan leher Viana, Udin mulai menurunkan tali penyangga dari bahu Viana hingga melorot sampai ke pinggang, dan tampaklah kulit mulai dari bahu, dada dan perut yang sangat putih. Udin semakin bernafsu melihatnya, Lidahnya menjilati kulit tubuh Viana itu dan menciuminya sementara tangannya melepas bra gadis itu hingga terlihatlah payudara Viana yang juga sangat putih dengan putting mencuat kemerahan. Memang ukuran payudara Viana tak terlalu besar, namun sangat proporsional dengan bentuk tubuhnya.  Viana yang memang sedang dilanda birahi, membiarkan saja ketika mulut Udin dengan bibir tebalnya mencaplok payudaranya dengan buas. Lidah Udin bermain-main di putting Viana dengan gerakan memutar-mutar, sesekali menyedotnya. Viana makin hilang kendali diperlakukan seperti itu, tangannya memeluk punggung Udin. Puas mempermainkan tubuh bagian atas Viana, Udin melanjutkan pekerjaannya yang tertunda yaitu melepas baju dalam Viana yang cuma selapis itu, sekalian dengan celana dalam Viana. Kini poloslah tubuh Viana tanpa sehelai benangpun yang menempel pada tubuhnya dihadapan Udin. Udin ternganga melihat tubuh gadis di hadapannya, sungguh putih sekali, berbeda dengan yang dilihatnya sewaktu mereka didalam gudang yang hanya fiterangi oleh cahaya lampu kuning. Sekarang dalam kamar Viana yang diterangi lampu neon tampaklah tubuh Viana begitu indah, putih mulus menggairahkan siapapun pria yang melihatnya. Dilihat seperti itu Viana merasa bangga sekali dengan tubuhnya, ia merasa bangga bisa memuaskan “calon suami” di hadapannya itu.
“kenapa melihat seperti itu mas?”
“Via, kamu cantik sekali kalau polos seperti ini, badan kamu putih sekali Via, mas belum pernah liat badan gadis seperti ini”
“Mas suka?”
“Suka sekali non, eh Via. Ayo, sekarang kamu baring dulu aja, kakinya agak dibuka ya, mas mau periksa memek kamu.”
Viana yang diam-diam menyukai pemuda pribumi seperti Udin, tak menolak kata-kata Udin tadi, langsung saja melakukannya.

Vagina Viana terlihat kemerahan dengan bulu-bulu halus di sekitarnya yang tertata rapi dan masih dalam keadaan tertutup. Tangan Udin membuka vagina Via perlahan-lahan, terlihat genangan cairan di sekitar kulit penutupnya.
“Wah, koq sudah basah begini ? Via sudah kepingin ya..”goda Udin sambil menjilati lender yang membasahi vagina Via.
“Aduhh mas, enakkk…” rintih Viana.
“Tuh kan non, enak.., kakinya buka lebih lebar lagi ya”
Tangan kasar Udin membuka kedua kaki Viana lebih lebar, lidahnya terus menjilati permukaan Vagina Via, sesekali lidah itu masuk ke dalamnya tapi belum bisa terlalu dalam.
10 menit Udin mengerjai vagina Viana membuat gadis itu orgasme kala lidah Udin menyapu bagisn dalam vaginanya, Via tak kuat lagi menahan gelora birahinya, dengan rinihan panjang gadis itu melepas orgasmenya. Kali ini giliran Viana memainkan penis  Udin yang sudah bugil. Penis itu sudah tegak sepenuhnya. Udin berdiri di hadapan Viana yang bersimpuh dengan wajah di depan penis Udin yang sedang ereksi total. Viana pun semakin jelas melihat penis Udin dibandingkan dengan waktu dalam gudang. Cahaya terang lampu neon seolah memperlihatkan detail alat kelamin pria yang sebentar lagi akan mengawininya itu. Viana kagum juga dalam hatinya, penis Udin yang tegak 20 cm itu terlihat sangat besar, hampir sepanjang wajahnya. Via mulai memasukkan penis itu dalam mulutnya. Udin memejamkan matanya, tak kuat melihat tubuh putri bos di depannya yang sedang bersimpuh mengulum ujung penisnya sambil sesekali mengocoknya pelan. Namun efek dari kocokan tangan Viana yang halus itu sungguh luar biasa dirasakan Udin, tak pernah ada pelacur yang disetubuhinya memiliki kehalusan dan kelembutan seperti kulit Viana. Sepuluh menit kemudian, Udin merebahkan tubuh Viana di ranjangnya.
“Via, belum pernahkan ada kontol yang masuk?”
Viana menggeleng, memang selama ini belum pernah ada yang menyetubuhinya. Keperawanannya hilang juga karena permainan tangan pacarnya dulu.
“mau dicoba ya, sekarang”
Tanpa menjawab, Viana merenggangkan kedua pahanya, berarti gadis itu telah siap menyerahkan tubuhnya pada Udin. Udin bersiap memasukkan penisnya yang keras seperti besi, daritadi dia disuguhi pemandangan tubuh polos seorang gadis, tentu saja penisnya yang sudah terlatih itu tegak terus, apalagi sekarang melihat Viana membuka kedua pahanya yang amat putih hingga ke pangkalnya, dan terlihatlah vagina yang kemerahan itu telah siap menanti penisnya.

 Tangan Udin membimbing penisnya sendiri menjejali vagina Via, tapi gagal, penis itu meleset kepaha Via, sentuhan kepala penisnya dengan kulit halus paha Via membuat sensasi tersendiri, membuat penis itu semakin tegang. Tusukan kedua agaknya berhasil membuat kepala penis itu masuk menyeruak vagina. Viana memejamkan mata sipitnya, tampak menikmati sekali malam pertamanya bersama Udin itu, ingin rasanya memuaskan pria di atas tubuhnya yang dikira nantinya bakal menjadi suami. Vaginanya pun menjadi semakin basah, dan itu malah memudahkan penis Udin memasukinya. Pelan-pelan kepala penis Udin masuk menembus kesempitan celah kemaluan gadis yang sudah pasrah itu. Kerasnya batang penis itu amat dirasakan oleh Via, betapa vaginanya kini mulai terasa penuh dan hangat, meskipun ada sedikit rasa nyeri dan perih saat penis itu berhenti memasukinya.  Tiba-tiba Udin menarik penisnya keluar setelah tadi dirasakannya menabrak sesuatu. Tampaklah sedikit darah di sekitar kepala penis Udin.
“Via, masih ada sisa keperawanan kamu nih” katanya bangga ternyata masih tersisa keperawanan Viana yang tidak semuanya terenggut jari-jari Johan, mantan pacarnya. Viana tersenyum manis
“yah, buat mas aja”
Kembali Udin memasukkan penisnya, kali ini terasa lebih mudah, tapi tetap perlahan agar gadis itu tidak merasa sakit. Ketika Udin mulai memompanya pelan, rasa nyeri itu lama-lama hilang dan vaginanya serasa ditembus benda padat yang keras dan hangat. Cairan vagina Via sangat membantu Udin melancarkan gerakannya, kini vagina Via terasa licin oleh pelumas yang dihasilkannya sendiri, membuat pompaan Udin semakin cepat. Viana terlihat melentingkan tubuhnya tanda telah mencapai orgasme. Sementara Udin tanpa henti terus memompa lubang vagina Via, penis besar itu menabrak-nabrak dinding rahim Viana membuat Viana merasa diawang-awang hingga orgasme berkali-kali.
Tubuh hitam sang pembantu itu tampak perkasa sekali menyetubuhi tubuh halus anak majikannya yang amat putih dan halus. Namun kedua manusia itu terus tenggelam dalam lautan nafsu birahi tanpa mempedulikan status sosial yang sebenarnya. Tubuh kekar sang pembantu terlihat naik turun diatas tubuh mulus putri majikan. Sang putri pun merintih menikmati setiap hentakan dan sodokan pria yang menyetubuhinya. Sementara Udin, si pembantu itu semakin memuncak birahinya, tatkala posisi mereka berubah menjadi gaya doggy, pemandangan punggung Viana yang putih halus, ditambah jepitan vaginanya amat membuat penisnya berkedut.

Menyadari dirinya akan keluar, Udin segera membalikkan tubuh Viana seperti posisi semula, namun tanpa mencabut penisnya.
“Via, kamu lagi masa subur?” tanyanya sambil terus menggenjot Via.
Viana menggeleng sambil tetap memejamkan matanya, terus menikmati tiap gerakan Udin.
“Semprot di dalem ya?” bisik Udin.
Viana tidak menjawab, pikirannya sedang terbang menikmati  persetubuhan pertamanya.
Udin semakin mempercepat pompaannya. Viana merintih-rintih agak keras saat dirasakan penis Udin berkedut dalam vaginanya, nalurinya sebagai wanita seakan memberitahu bahwa pria yang menyetubuhinya akan orgasme juga. Namun pompaan Udin begitu dalamnya hingga membuat Viana orgasme untuk kesekian kalinya, secara reflek Viana memeluknya erat tanda diapun sangat menikmati orgasmenya itu. Udinpun tak bisa menahan lebih lama lagi spermanya segera menyembur deras dalam rahim Viana. Lidahnya memainkan lidah Viana membuat gadis itu mengusap-usap punggung Udin yang sedang menyelesaikan hasratnya. Dirasakannya juga penis Udin memuntahkan cairan hangat di dalam vagina membuat hangat juga rahimnya. Lima menit mereka meresapi kenikmatan terakhir itu sebelum akhirnya Udin mencabut penisnya. Mereka saling berpelukan, tampak wajah Viana merona merah tanda gadis itu merasa sangat puas, Udin pun menutup matanya menikmati kepuasan tak hingga yang baru saja dialaminya. Setelah dirasa cukup lama, badan merekapun terasa lelah. Lelehan sperma terlihat di celah lubang vagina Via yang sekarang telah bolong.
“Mas, mandi dulu yuk..” ajak Viana. Udin mengangguk dan langsung membopong tubuh bugil Viana ke kamar mandinya yang terletak dalam kamarnya juga. Sisa air bekas tadi mandi masih terasa hangat, mereka berdua berendam dalam bathtub. Udin merasa berada di surga, baru kali ini dia mandi dalam kamar mandi yang mewah seperti itu. Selesai mandi merekapun tertidur pulas, letih akibat kegiatan resepsi tadi siang, juga letih akibat senggama tadi.

###############################
Chapter 6

Malam itu, ditempat yang berbeda, Pak Sumargapun terlihat habis melepas hajatnya, dia tertidur dalam pelukan Tumirah istri barunya yang amat muda. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa putri pertamanyapun saat itu tengah bermalam pengantin bersama Udin, pembantu tangan kanannya.
Malam yang sama, nun jauh di kota Jakarta sana, Kosim terlihat menyeringai puas sekali memandangi tubuh telanjang wanita di dekatnya yang sedang tidur dalam keadaan telanjang bulat. Keadaannya mirip seperti keadaan Viana putrinya.Nyonya Irene terlihat puas sekali dalam tidurnya setelah sebelumnya Kosim memberi jatah kenikmatan padanya. Sesekali dilihatnya bunyi sms dilayar HPnya.
“Mas, malam ini dendam mas mulai terbalas, cewek itu sudah jadi milik Udin malam ini, rencana kita berhasil”
Tersungging senyum kejam di bibir Kosim melihat sms dari Tatik adiknya, Viana, gadis anak mantan majikannya yang membuatnya terusir dulu kini telah bisa dihancurkan. Sebentar lagi Airin, lalu semua usaha majikannya dapat dikuasai berikut tubuh telanjang yang tidur dalam pelukannya sekarang ini. Jam telah menunjukkan pukul 03.00 dini hari, Kosimpun tertidur dengan pulasnya sambil membayangkan keberhasilan semua rencananya kelak…..

Bersambung…
By: Dream Master

Friday, August 8, 2014

Yuki Kato XXX: Gara-gara Nyontek

PERHATIAN !!!

  • Cerita berikut mengandung unsur seksual, jadi bagi yang tidak suka atau merasa di bawah umur harap tinggalkan segera…
  • Penulis tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi setelah membaca cerita ini…
  • Cerita ini hanyalah FIKTIF…
 ————————————————————-
Yuki Kato
Yuki Kato (17 tahun) adalah seorang pemain sinetron muda Indonesia berdarah Jawa-Jepang. Ia memiliki kecantikan yang khas antara oriental dan lokal, kulit yang putih, serta badan yang proporsional dengan tinggi 160cm dan berat 35kg. Rambutnya pun panjang, hitam, sedikit ikal dan tergerai dengan indah. Namanya mulai dikenal setelah membintangi sinetron "Primata Cantik" produksi Starvision. Selain menjadi pemeran utama dalam sinetron Heart Series dan My Love, Yuki juga bermain bersama Raffi Ahmad dan Laudya Chintya Bella dalam Jodoh Arietta berperan sebagai adik Raffi. Dan pada tahun 2010 Yuki membintangi sinetron yang berjudul Arti Sahabat. Di sini ia digosipkan terlibat cinta lokasi dengan rekan seprofesinya, Steven William, namun Yuki masih belum melangkah lebih jauh selain berteman dekat dengan aktor muda itu.Sebagai artis, tentunya banyak teman-teman pria di sekolahnya yang selama ini mencoba untuk mendekati dan menjadikannya pacar. Namun Yuki memang sangat pemilih dalam hal ini karena kesibukannya membuat ia sering kali tidak sempat memikirkan untuk pacaran. Karena itu pula, sekolahnya kadang menjadi terbengkalai. Sampai-sampai saat ujian dia tidak sempat belajar akibat syuting sinetron kejar tayang. Akibatnya dia pun berpikir untuk mengambil jalan pintas, menyontek, sesuatu penyakit kronis para anak sekolahan. Malam itu sebelum ujian, dia membuat kertas contekan. Keesokan harinya, saat ujian, dengan perlahan-lahan dan jantung berdebar-debar, Yuki membuka kertas contekan tersebut. Guru pengawas saat itu adalah Pak Dodo, merupakan guru olahraga di sekolahnya. Pak Dodo terkenal sebagai ‘guru killer’ di sekolah itu, tak jarang murid-murid di sana di hukum dengan sangat kejam apabila berbuat kenakalan. Pak Dodo berwajah seperti Tarzan Srimulat. Walaupun sudah berumur 50an, tubuhnya tetap tegap bak prajurit karena sering berolahraga. Tanpa di sadari oleh Yuki, Pak Dodo melihat perbuatannya yang mencontek saat ujian. Tapi bukannya menegur, Pak Dodo mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Ternyata itu adalah sebuah HP yang ada kameranya, dan dengan kamera HP itu, dia merekam perbuatan Yuki yang mencontek saat ujian secara diam-diam sambil pura-pura melihat ke layar HP seolah-olah ada SMS yang masuk. Yuki yang tidak sadar sedang direkam justru merasa aman karena Pak Dodo dikiranya sedang lengah dengan SMS. Ia pun buru-buru mengingat jawaban dari kertas contekan itu dan memindahkannya ke kertas jawaban.
“Hhhuuufff...!” ia bernafas lega dan juga dikejar perasaan berdosa saat berhasil memasukkan kembali kertas contekannya ke bawah jam tangannya.

Siang hari setelah ujian hari itu selesai, Yuki menghela nafas panjang. Sepanjang waktu ujian, jantungnya berdetak sangat kencang karena dia takut tertangkap basah mencontek. Ketika sedang menunggu jemputan di depan, tiba-tiba Ayu, salah seorang teman sekelasnya datang menghampiri dan menegurnya.
“Eh Ki, lo dipanggil Pak Dodo tuh” kata Ayu.
“Ada apa Yu?” tanya Yuki.
“Mana gue tau, gue cuma disuruh Pak Dodo manggil lo” kata Ayu.
“Waduh....apa gue ketahuan ya?” tanya Yuki dalam hati dengan was-was.
Dengan tegang Yuki bergegas menuju ke ruangan Pak Dodo. Sebagai guru olahraga, Pak Dodo memiliki ruangan khusus di samping gudang tempat menyimpan alat-alat olahraga. Tok… Tok… Tok…Yuki mengetuk pintu ruangan itu
“Siapa?” tanya Pak Dodo.
“Saya Yuki pak” kata Yuki.
“Masuk!” perintah Pak Dodo.
“Bapak memanggil saya?” tanya Yuki.
“Oh iya, silakan duduk” kata Pak Dodo.
“Kamu yang bernama Yuki Kato?” tanya Pak Dodo.
“Iya pak” kata Yuki.
“Nampaknya kamu sibuk sekali syuting ya, sampai-sampai gak sempat belajar?” kata Pak Dodo.
“Iya, cukup sibuk belakangan ini, memangnya kenapa pak?” tanya Yuki.
Lalu Pak Dodo mengeluarkan HPnya,
“Lihat ini!” Pak Dodo menunjukkan video yang merekam Yuki saat mencontek yang membuat matanya membelakak dan jantungnya seolah berhenti berdetak.
“Kamu tahu hukuman murid yang ketahuan mencontek saat ujian? Dia tidak boleh ikut ujian berikutnya. Berarti kamu pasti tidak naik kelas. Dan yang gawat...bagaimana kalo infotainment tahu soal ini, bisa bahaya karir kamu!” kata Pak Dodo dengan pelan namun mengancam.
“Pliss pak...iya saya mengaku salah, saya udah terlalu capek sampai gak keburu belajar untuk ujian, tapi tolong...jangan laporkan soal ini” kata Yuki memohon pada Pak Dodo yang dibalas dengan semyuman penuh kemenangan oleh pria itu.
“Baik...tenanglah Yuki....Bapak mengerti masalah kamu, dan bapak tidak akan melaporkan kamu, asal…” kata Pak Dodo sambil mendekati Yuki.
“Asal apa pak?” tanya Yuki, suaranya bergetar dan matanya berkaca-kaca, ia sudah skak mat, tidak tahu harus bagaimana.
“Kamu tahu, Bapak juga diam-diam jadi penggemar kamu, sudah lama Bapak menginginkan kamu, dan sekarang saat yang tepat. Kamu harus melayani Bapak sampai puas, kalo tidak Bapak akan berikan ini ke Kepsek. Dan kalau tersebar ke pers karirmu bakal terancam loh” kata Pak Dodo.

Pak Dodo

Mata Yuki terbelalak mendengar permintaan gila gurunya itu, ia tidak menyangka gara-gara nyontek harus sampai begini. Ciuman aja belum pernah apalagi harus bercinta dengan gurunya lagi.
“Tapi saya belum pernah gituan pak?” Yuki mencoba menolak.
“Hahaha...masa sih, kamu kerja jadi artis masa ga pernah gituan sama produser, sutradara, atau aktor lain? Hehehe”
“Bener Pak, saya gak pernah terima tawaran kaya gituan..saya bukan artis seperti itu, tolong Pak jangan begini!” Yuki memohon dan air matanya mulai menetes.
“Hahaha...bapak ga bilang gitu kok, ya udah, kalo gitu biar bapak aja yang ajarin. Pokoknya kamu cuma nurutin kata bapak? Siapa tau nanti-nanti kamu bisa godain mereka supaya tambah baik karir kamu hahaha” kata Pak Dodo.
“Nggaaakkk!!” Yuki menjerit sambil menangis.
“Ssstttt!!!” Pak Dodo menempelkan telunjuk di depan bibirnya, “kalau ada yang tau kamu tau akibatnya gimana?”
Yuki baru sadar hal itu dan segera terdiam dan sesegukan. Di tengah kebingungannya, Pak Dodo mendekati artis muda itu dan mengelus pipinya.
“Jangan pak…saya gak mau” kata Yuki sambil menepis tangan Pak Dodo.
Karena nafsu yang sudah membumbung tinggi, Pak Dodo pun menarik tangan Yuki sehingga Yuki berdiri dari duduknya.
“Pokoknya kamu turutin aja mau bapak biar kita sama-sama enak.” kata Pak Dodo sambil menghempaskan badan Yuki kembali ke kursi.
Tak ada pilihan lain bagi Yuki selain menuruti nafsu bejat gurunya itu. Yuki pun hanya memalingkan wajahnya ketika Pak Dodo mulai melepaskan kancing seragamnya satu per satu. Setelah semua kancingnya terlepas, Pak Dodo menarik kaos dalamanya keatas hingga terlihat BHnya yang berwarna krem. Tanpa permisi lagi dia meremas kedua buah dada Yuki yang masih tertutup BH itu. Yuki hanya bisa meringgis merasakan setiap remasan Pak Dodo.
“Sudah pak…saya mohon hentikan” iba Yuki yang dibalas dengan sebuah tamparan di wajah Yuki.
Plaaakkk…
“Lonte...jangan sok jual mahal ya!!” kata Pak Dodo dengan pitam, “jangan paksa Bapak main kasar...sekarang kamu buka semua baju lo atau tak sobek-sobek, kamu pilih yang mana” lanjutnya.
Apabila seragamnya di sobek-sobek Pak Dodo, berarti dia pulang bugil, maka dengan terpaksa, Yuki pun mulai  melepas pakaiannya satu per satu hingga tinggal BH dan CD nya saja. Pak Dodo melihat dengan takjub kemolekan muridnya ini yang masih begitu muda dan menggiurkan. Melihat Pak Dodo menatapnya dengan nanar, Yuki mencoba menutupi daerah kemaluannya walaupun usahanya sia-sia. Pak Dodo menatap tubuhnya Yuki seakan-akan siap untuk disantap.

Pak Dodo berjalan memutari tubuh Yuki sambil berdecak kagum akan kemolekan tubuhnya artis muda itu. Sudah lama dia memperhatikan Yuki, dia selalu membayangkan tubuh putih mulus Yuki, tubuh seorang artis sinetron. Saat ada di belakang Yuki, Pak Dodo mengelus punggungnya. Yuki tersentak kaget, belum pernah ada yang menyentuhnya seperti ini.
“Jang… an…” belum sempat Yuki menyelesaikan kalimatnya, Pak Dodo sudah menggenggam kedua buah dada Yuki dari belakang.
Yuki coba berontak, tapi Pak Dodo langsung mendekap tubuhnya.
“Akhirnya Bapak bisa menikmati tubuhmu Yuki, dari dulu Bapak cuma ngebayangin sambil ngocok di depan TV waktu kamu tampil, sekarang bapak bisa nikmatin sepuasnya. Hehehe…” kata Pak Dodo.
Yuki hanya bisa memjamkan mata. Dia tak bisa membayangkan apa yang akan diperbuat gurunya itu. Melihat Yuki yang sudah tak berontak lagi, tubuh Yuki dibalikkan hingga sekarang mereka saling berhadapan. Dengan secepat kilat Pak Dodo mencaplok bibir manis Yuki, bibir yang masih segar, merah merekah, karena belum pernah dijamah laki-laki manapun. Mendapat serangan dadakan itu Yuki pun gelagapan.
“Mmmphhh… mmmphhh…” dia berusaha menghindari mulut Pak Dodo yang beraroma rokok kretek yang biasa dia hisap.
Bau tak sedap yang keluar dari mulut Pak Dodo membuat Yuki berontak, dia berusaha melepaskan pelukan Pak Dodo. Tapi apalah artinya seorang perempuan seperti Yuki melawan Pak Dodo yang lebih kekar. Pak Dodo mulai memainkan lidahnya bahkan menghisap lidah Yuki. Tampak sekali Yuki kewalahan menghadapi ciuman buas Pak Dodo yang tentu saja lebih pengalaman. Tiba-tiba Pak Dodo menarik tali BH Yuki ke bawah hingga terpampang dua buah dada Yuki yang masih mulus yang belum terjamah tangan-tangan nakal manapun. Walaupun tidak terlalu besar, tapi proporsional dengan tubuhnya hingga manambah kemolekan tubuh Yuki. Yuki tersentak kaget, secara refleks dia berusaha menutupi kedua buah dadanya. Tapi tangan Pak Dodo segera membuka tangan Yuki. Yuki berusaha melawan, tapi tenaganya tidak kuasa menahan Pak Dodo yang sedang bernafsu ingin melahap buah dadanya. Sambil menahan tangan Yuki agar tidak menutupi buah dadanya itu, Pak Dodo langsung melahap kedua buah dada gadis itu secara bergantian bagai seorang anak kecil yang sedang mengemut permen. Dihisap dalam-dalam buah dadanya Yuki sambil sesekali menjilati putingnya. Yuki hanya bisa meringgis menahan sakit sekaligus kenikmatan yang belum pernah dirasakannya. Nampak sekali Yuki yang belum pengalaman mulai takluk dari Pak Dodo yang sudah sarat pengalaman.
“Ampun… pak… sudah…” rintih Yuki yang tak digubris Pak Dodo yang sudah terbakar nafsu.
Renggekan Yuki malah semakin manambah nafsu Pak Dodo hingga menghisap buah dada Yuki semakin dalam, akibatnya timbul noda kemerahan di buah dada Yuki. Puas dengan buah dadanya Yuki, Pak Dodo berdiri hingga muka Yuki tepat berada di kemaluannya. Tanpa malu-malu lagi dia meloroti celana training yang biasa dia pakai sebagai guru olahraga berikut celana dalamnya. Maka tersembulah senjata maut Pak Dodo yang sudah berdiri tegak.
“Nah Yuki, coba kamu pegang punya bapak ini” perintah Pak Dodo.
“Gak ah pak, jijik” tolak Yuki menggelengkan kepala

Penolakan gadis itu membuat Pak Dodo naik pitam lagi. Dia mengangkat tangannya seolah-olah ingin menampar Yuki.
“Ampun pak, iya saya pegang” kata Yuki ketakutan.
Dengan gemetar sambil menahan rasa jijik, Yuki menggerakkan tangannya memegang penisnya Pak Dodo. ini pertama kalinya Yuki memegang penis laki-laki yang sebelumnya hanya dilihat di gambar-gambar porno atau film-film porno.
“Nah gitu dong, jadi anak manis, Yuki sayang. hehehe” sambut Pak Dodo.
“Sekarang gerakkan tangan kamu, kocok yang enak” perintah Pak Dodo. Yuki menuruti permintaan Pak Dodo sambil menahan rasa jijik.
“Ahhh… Enak tenan…” Pak Dodo mulai menikmati kocokan Yuki.
“Sekarang masukin ke mulut lo!” perintah Pak Dodo.
Yuki terperanjat, ini saja baru pertama kalinya dia memegang alat vital laki-laki, sekarang dia harus memasukkannya ke dalam mulutnya. Yuki merasa tambah jijik, apalagi penis itu mengeluarkan bau tak sedap yang membuatnya mau muntah.
“Dibilang masukin, kok bandel ya!” Pak Dodo mulai tak sabar, tangannya memegang belakang kepala Yuki, lalu ditariknya kepala tersebut hingga penisnya langsung masuk ke dalam mulutnya Yuki. Ditekannya kepala Yuki hingga penisnya masuk seluruhnya.
“Mmmppphhh…” Yuki berusahan melepaskan diri tetapi Pak Dodo menahannya dengan semakin menekan kepala Yuki lebih dalam.
Akhirnya Pak Dodo melepaskan kepala Yuki yang membuat Yuki lega bisa bernafas lagi.
“Ampun pak, jangan lagi” renggek Yuki dengan berlinang air mata.
“Hehehe, lama-lama juga lo terbiasa” kata Pak Dodo dengan raut wajah mengejek Yuki.
“Ayo masukin lagi. Apa lo mau bapak paksa lagi?” perintah Pak Dodo.
Karena tidak punya pilihan lagi, maka Yuki dengan terpaksa kembali memasukkan penis Pak Dodo ke dalam mulutnya.
“Nah gitu dong dari tadi, sekarang oral Yuk!” perintah Pak Dodo. Yuki diam saja, dia belum pernah melihat alat kelamin laki-laki apalagi mengoralnya.
“Kamu belum pernah ya? Sini bapak ajarin” lalu Pak Dodo memegang kepala Yuki dan bergerak maju mundur hingga penisnya keluar masuk mulut Yuki.
“Nah sekarang kamu coba lakukan” perintah Pak Dodo.
Yuki pun menggerakkan kepalanya hingga penisnya Pak Dodo keluar masuk dengan menahan rasa jijik.
“Hahaha, kamu emang cepat belajarnya...sekalian isep dong!” perintah Pak Dodo.

Di bawah ancaman, Yuki mau tak mau menuruti perintah Pak Dodo. Guru bejat itu benar-benar menikmati oral yang dilakukan tapi dia tak mau klimaks dulu, dia masih ingin menikmati tubuh Yuki. Lalu Pak Dodo menarik penisnya dari mulut Yuki. Kembali dia mencaplok kedua buah dada Yuki. Pak Dodo mulai bergerilya dari buah dadanya Yuki ke bawah menuju perut Yuki. Setibanya di perut Yuki, Pak Dodo menarik celana dalam Yuki hingga lututnya. Yuki kaget hingga dia terdorong ke belakang. Untung saja ada kursi tempat yang dia duduki tadi. Tapi itu membuat Pak Dodo dapat melihat kemaluan Yuki yang masih ditumbuhi oleh bulu-bulu halus yang baru tumbuh. Pak Dodo terpana melihat pemandangan itu hingga membuat dia semakin bernafsu. Tak sabar dia ingin memasukkan penisnya ke dalam vaginanya Yuki. Tapi dia ingin bermain sepuasnya dengan tubuhnya Yuki. Dengan perlahan tapi pasti, dia mulai mendekati selangkangan Yuki. Yuki berusaha mencegahnya dengan menutupi daerah kemaluannya itu.
“Tolong jangan Pak....saya masih perawan” Yuki memohon belas kasihan pak Dodo.
Bagai serigala yang tak kenal ampun pada mangsanya, Pak Dodo menyibak tangan Yuki, bahkan memelintir tangannya.
“Diem jangan ngelawan, kalo kamu masih ngelawan, ntar Bapak gampar” kata Pak Dodo dengan keras.
Yuki pun hanya pasrah bahwa dia akan kehilangan keperawanannya oleh Pak Dodo guru olahraga yang sangat dia benci itu. Lalu dia manarik celana dalam Yuki hingga lepas semua. Sekarang bagian bawah Yuki sudah polos tak tertutup apapun. Lalu Pak Dodo menjauhkan kedua kaki Yuki hingga daerah intim Yuki semakin terbuka lebar. Langsung saja dia menjilati bibir vagina Yuki yang membuat pemiliknya meringgis. Namun, ada sensasi kenikmatan yang belum pernah Yuki rasakan sebelumnya, sensasi organ kewanitaannya dirangsang seperti ini, sepertinya membawanya terbang.
“Enak kan hehehe?” tanya Pak Dodo.
Yuki memejamkan mata, air matanya makin tertumpah, tentu ia tak mau mengakui bahwa dirinya juga menikmati permainan lidah Pak Dodo. Dia hanya menahan kedua bibirnya berusah menahan gelombang kenikmatan yang dialaminya. Tak mendapat respon dari Yuki, Pak Dodo kembali menjilati vaginanya Yuki. Kali ini dia memasukkan lidahnya ke dalam yang membuat Yuki menggelengkan kepalanya sambil meringgis seperti menahan sesuatu.

Selang beberapa menit kemudian, Yuki merasakan vaginanya berdenyut-denyut dan ada sesuatu yang tak tertahankan mau keluar
“Pak… Yuki… mau pipis…stop Pak...stop...aaahhh” Yuki tidak dapat menahan serangan-serangan Pak Dodo dan akhirnya “Ahhhh…” Yuki pun berteriak menandakan telah orgasme, orgasme pertamanya dari laki-laki yang memaksanya melakukan perbuatan amoral.
“Hehehe, ini bukan pipis, manis, ini namanya orgasme...ternyata kamu menikmati juga yah. Sekarang kamu telah jadi lonte, kamu harus siap bapak pakai kapanpun, ngerti?” kata Pak Dodo kegirangan.
Yuki tertunduk dan tangisannya makin menjadi-jadi menerima kenyataan dirinya telah dinodai oleh gurunya sendiri. Tiba-tiba Pak Dodo mencium Yuki yang membuat dia kelabakan karena nafasnya yang ngos-ngosan sehabis orgasme barusan harus menerima ciuman dari Pak Dodo hingga membuatnya menjadi sesak nafas.
“Pak… mmppphh… tunggu… mmppphh… dulu…” minta Yuki.
Permintaan Yuki semakin membuat Pak Dodo melumat habis mulut Yuki. Karena tak digubris, akhirnya Yuki membiarkan Pak Dodo melumat mulutnya sedangkan Yuki mencari sela untuk bernafas. Tiba-tiba Pak Dodo menghentikan aksinya.
“Dah sekarang kamu berdiri!” perintah Pak Dodo.
Dengan gemeteran, Yuki mematuhi perintah Pak Dodo, dia berdiri dari kursi yang dia duduki. Lalu Pak Dodo menggeser kursi tersebut dan membalikkan badan Yuki. Lalu badan Yuki di dorong hingga sekarang dia terlungkup di meja Pak Dodo. Yuki dapat merasakan sesuatu bergerak di selangkangannya, dia pun menoleh ke belakang, dan dia melihat Pak Dodo sedang berusaha memasukkan penisnya ke vaginanya. Yuki pun tersentak kaget.
“Pliss Pak, jangan…huuu---hhuuuu...” Yuki meronta dan menangis berusaha menghentikan perbuatan Pak Dodo.
“Dah kamu diam aja, ntar juga ketagihan” balas Pak Dodo.
Akhirnya penisnya Pak Dodo menemukan sasarannya. Ketika Pak Dodo berusaha memasukkan penisnya lebih dalam, Yuki hanya bisa meringis menahan sakit karena ada benda padat memasuki kemaluannya. Dengan perlahan, Pak Dodo memasukkan penisnya lebih dalam hingga Yuki tidak tahan untuk menjerit.
“Ampun, sudah Pak… Aaaggghhh…” jeritnya karena sebuah benda keras memasuki kemaluannya.

Dorongan Pak Dodo terhenti karena penis itu mencapai dinding keperawanan Yuki. Pak Dodo pun menariknya sesaat tapi kemudian dia mendorongnya lebih keras lagi.
“Tidaaakkk… Aaaggghhh…” Yuki merasakan rasa sakit yang luar biasa karena hujaman penis Pak Dodo kali ini berhasil menjebol keperawanannya.
Darah pun meleleh dari pinggir bibir vaginanya diiringi air mata Yuki yang meratapi kesuciannya diambil oleh gurunya tersebut.
“Cup… cup… cup, anak bapak jangan menangis, ntar bapak beliin permen, hak… hak…” terdengar ledekan Pak Dodo karena bisa memerawani Yuki.
Yuki diam sesegukan karena kesuciannya telah terenggut. Lalu Pak Dodo mulai menggerakkan pinggulnya hingga membuat penisnya keluar masuk vaginanya Yuki. Yuki hanya bisa meringgis dan mendesah setiap hentakan Pak Dodo. Lama kelamaan Yuki terbiasa dan mulai menikmati persenggamaan itu. Tapi dia diam saja karena dia tak mau menambah kesenangan Pak Dodo. Hentakan demi hentakan Pak Dodo yang diterima Yuki membuat keduanya berkeringat dan Yuki merasakan sesuatu akan meledak di kemaluannya. Suatu sensasi yang belum dia dapatkan sebelumnya. Pak Dodo menambah sensasi yang dialami Yuki dengan menghisap jenjang leher Yuki yang membuat Yuki semakin meringgis. Pak Dodo juga meremas-remas kedua buah dada Yuki dari belakang. Yuki tak menolak apalagi melawan, dia sudah hanyut dalam nafsu yang dipancing Pak Dodo. Mulutnya yang terbuka sangat lebar meronta-ronta dan tampak sangat menderita, ia hanya tinggal memakai sepatu sport dan kaus kaki putihnya hingga semakin merangsang pria itu untuk berbuat lebih ganas. Pak Dodo menggenjotnya lagi dan lagi dengan tanpa ampun lagi karena ia sudah benar-benar kesetanan. Pria itu semakin ganas dengan genjotan liarnya, sampai-sampai suaranya terdengar, clep, clepp, clepp.., sementara Yuki hanya bisa mengerang kesakitan, dari pinggir bibir vaginanya nampak darah perawannya berlelehan.
“Aaahhh...aahhh...aahhh!!” desah Yuki, begitu seterusnya sampai suara teriakannya lebih serak dari yang sebelumnya, dan ternyata air mata Yuki yang menangis tersedu-sedu semenjak tadi belum habis juga malah semakin deras sehingga membasahi payudaranya.
Sambil menggenjotnya, Pak Dodo juga menjilati air mata Yuki, lalu mengulum mulut gadis itu yang semenjak tadi menganga itu sampai dia sulit untuk bernapas sampai akhirnya, crott.. Sperma Pak Dodo pun tertumpah di rahim artis muda yang malang itu.
“Aaahhh...sippp...uueennaakknya!” erang Pak Dodo sambil berkelojotan kenikmatan.
Entah mengapa, mungkin karena kelelahan diperkosa hingga Yuki pun tak sadarkan diri. Nafsu Pak Dodo belumlah reda, ia terpesona melihat tubuh telanjang Yuki yang sudah terkulai lemas dan bercucuran keringat itu, maka kembali pria itu mengerjainya kembali selagi dia pingsan. Pak Dodo mengisap-hisap sambil sedikit menggigit dan menarik putingnya ke atas saking gemasnya hingga akibatnya kedua payudara Yuki kini memerah, tetapi ia tidak mempedulikannya sama sekali.

Pria itu melihat jam tangannya, waktu telah menunjukkan pukul 13:05 WIB, berarti ia tadi telah mengerjainya selama hampir dua jam, wajar jika dia sekarang pingsan, mungkin juga pada jam ini Yuki sudah seharusnya pulang sekolah. Untuk mengantisipasi hal ini, Pak Dodo mengambil ponsel Yuki, ia menulis SMS pada mama Yuki yang isinya, ‘hari ini agak telat Ma, jemputnya nanti aja jam 2.30’. Setelah itu, ia memutuskan untuk beristirahat dulu sambil minum untuk memulihkan tenaganya yang sudah lumayan habis dan untuk mempersiapkan diri pada sesi berikutnya. Kemudian menggelar matras di tengah ruangan itu dan dipapahnya tubuh Yuki dan diletakkan di atasnya. Dengan seringai mesum di wajahnya ia tuangkan segelas air ke wajah gadis itu. Yuki pun perlahan memperoleh kembali kesadarannya karena siraman air. Pak Dodo yang tenaganya sudah kembali pulih, segera saja menuju target yang belum pernah ia jamah dari tadi yaitu anusnya. Dan akhirnya posisinya telah dirasa pas untuk melakukan posisi doggy style. Setelah mendapatkan posisi yang tepat, pertama-tama pria itu menjilati dan menusuk-nusuk anus Yuki dengan lidahnya dengan ganasnya dan rasanya benar-benar nikmat sekali. "Aduuhh!! Aahh!! Pak...jangan Pak, jangan disitu!" erang Yuki.
Entah mengapa Yuki tampak menderita sekali, padahal pria itu belum melakukan apa-apa, hanya sebatas menjilati sambil menusuk-nusuk anusnya dengan lidah dan jari. Tapi peduli apa, justru dengan dia meronta-ronta seperti itu akan membuat nafsu pria itu semakin meledak. Tanpa pikir panjang lagi, Pak Dodo langsung mengambil posisi untuk menyetubuhinya lagi, kali ini lewat anal. Pertama-tama ia menancapkan sepertiga batangnya dulu di anus yuki. Karena anus gadis itu benar-benar kecil dan masih perawan maka ini akan cukup sulit, pikir pria itu. Tiba-tiba terdengar rontaan Yuki.

"Ampuun Pak! Mau diapakan saya!! Jangan di situ! Sakit!!"
Tanpa peduli sedikit pun dengan apa yang diucapkan Yuki, Pak Dodo mulai kembali mencoba menerobos anus Yuki. Didorong masuk kemudian dikeluarkan lagi, dan terus ia lakukan itu sampai anus Yuki menjadi sedikit licin dan longgar. Karena akhirnya agak jengkel dan bosan untuk menunggu lebih lama lagi, maka Pak Dodo pun menerobos liang anus Yuki dengan sekuat tenaga. Slackk!! Scrrct!!
"Uuookkhh!! Khaakkhh!! Ahhgghh!!", jerit Yuki dengan tubuh berkelejotan.
Yuki tampak benar-benar menderita, dan pria itu juga sudah merasakan ada sesuatu yang sobek, maka ia teliti anus gadis itu untuk memastikannya dan ternyata benar, darah segar sudah mengucur deras dari liang anusnya. Pak Dodo kembali mengambil celana dalam Yuki untuk membersihkan darah dari anusnya. Darahnya benar-benar banyak, mungkin karena liang anusnya terlalu kecil. Dan setelah memastikan liang anus Yuki telah terasa licin dan mulai nikmat untuk digarap, langsung saja Pak Dodo kembali menggenjot gadis itu dengan sodokan-sodokannya yang ganas. Yuki hanya bisa menangis tersedu-sedu dan memohon untuk segera dipulangkan ke rumahnya karena mungkin orang tuanya sekarang sudah mulai mencemaskan dirinya yang belum pulang dari sekolah.
"Enngghh.. Enngghh.. sudah Pak..saya mohoon..saya mau pulang Pak.... Heenngghh.. Engghh.."
“Tenang saja Yuki, Bapak udah kabarkan ke mamamu kalau pulangnya telat, tidak akan ada yang kuatir, sekarang kamu nikmati aja dulu!”
Mendengar rintihannya yang terdengar serak dan sangat menderita itu menyebabkan birahi Pak Dodo justru semakin naik, dan ia menggenjot anus gadis itu dengan lebih ganas lagi hingga akhirnya aku menyemburkan spermanya di dalam anus Yuki. Tangan Pak Dodo juga bergerilya di sekujur tubuh Yuki, payudara yang menggantung itu diremasinya dengan gemas.
“Eeeggghh… Pak, Yuki mau keluar lagi!” erang Yuki sudah tak tahan.
“Yah sudah yuk, keluarin aja kalo gak tahan, hehehe” kata Pak Dodo tanpa berhenti menggenjot
“Eeeggghh… Pak, Yuki sudah gak tahan… Aaaggghhh…” akhirnya Yuki mencapai orgasme lagi.
Walaupun Yuki telah klimaks tapi Pak Dodo masih belum selesai.
“Pak sudah pak…saya mohon...aahh” pinta Yuki.
“Enak aja, saya khan belum keluar, hehehe” jawab Pak Dodo.
Bukannya makin pelan, gerakan Pak Dodo makin kencang bahkan tak memperdulikan Yuki yang baru saja orgasme. Tindakan Pak Dodo membuat nafsu Yuki naik lagi. Dia pun mengimbanginya dengan ikut menggoyangkan pantatnya. Yakin anak muridnya itu sudah jatuh ke tangannya pria itu semakin cepat menggoyangkan pantatnya bahkan semakin lama gerakan mereka semakin tak terkendali.

Selang beberapa menit kemudian akhirnya...
“Aaagghhh…” Yuki akhirnya orgasme kembali, diikuti oleh Pak Dodo beberapa saat kemudian.
“Gimana Yuk rasanya? Enak? Hehehe” Pak Dodo senang karena muridnya itu orgasme duluan. Yuki diam saja menanggapi ledekan Pak Dodo. Ia merasakan nyeri pada anus dan vaginanya yang baru saja diperawani, darah keperawanan, cairan orgasme, dan sperma bercampur membasahi kedua liang senggamanya itu.
“Nah sekarang kamu dah jadi budak seks Bapak, jadi kamu harus siap Bapak pakai kapan saja, kamu mengerti itu Yuki?” tanya Pak Dodo.
Yuki mengangguk lemah dan mulai memunguti pakaiannya yang tercecer.
“Sekarang kamu boleh pulang, tapi kapan pun Bapak minta kamu harus siap!” perintah Pak Dodo diikuti oleh anggukan Yuki.
Setelah memakai seragamnya kembali, Yuki pun pulang dengan kenyataan bahwa sekarang dia telah jadi budak seks Pak Dodo, guru olahraganya. Suatu perasaan malu dan terhina kini melandanya, bagaimana gara-gara perbuatan menyontek telah menyeretnya sejauh ini oleh gurunya yang bejat itu. Namun di hati kecilnya ia juga menikmati perkosaan tadi. Sesampainya di rumah ia segera mandi membersihkan diri dan berusaha menyembunyikan perasaannya di depan mama dan adik-adiknya.

##############################
Seminggu kemudian

Pak Dodo tersenyum lebar sambil duduk di ruangannya, di bawahnya Yuki tengah berlutut dan mengulum penis pria itu. Mata Pak Dodo tertuju pada layar BB di genggamannya yang sedang memainkan video berisi adegan mandi seorang wanita yang wajahnya tidak asing lagi karena seorang public figure
“Hehehe...kamu memang murid yang baik Yuki, pokoknya bapak janji akan memberi nilai bagus untuk olah raga kamu, selama kamu nurut sama Bapak tentunya!” pujinya sambil mengelusi rambut gadis yang sedang mengoral penisnya itu.
“Kamu ada nomernya di sini kan?” tanya pria itu lagi.
“Ada Pak cari aja di situ” jawab Yuki melepas penis di mulutnya.
“Nomer yang masih aktif kan?”
Yuki mengangguk, lalu pria itu kembali mendorong kepalanya untuk meneruskan oral seksnya. Pak Dodo mencari-cari nomor dari daftar kontal di BB Yuki.
“Yang ini, benar?” tanya Pak Dodo seraya menunjukkan BB itu pada nama ‘Kak Bella’
Yuki mengangguk mengiyakannya. Pria itu lalu menyalin nomer itu ke HP miliknya.
“Maaf Kak Bella, saya terpaksa” kata Yuki dalam hatinya.
Kak Bella yang dimaksud tidak lain adalah aktris Laudya Cynthia Bella yang dishoot diam-diam ketika mandi ketika di hotel di dekat lokasi syuting bareng. Itu tentu atas perintah Pak Dodo yang memanfaatkan muridnya yang telah menjadi budak seks ini.
“Hehehe...memang hoki punya koneksi artis, jadi bisa menghubungkan ke artis lainnya, betul kan Yuki? Bapak yakin dia akan nurut kalau ga mau bikin skandal, kita nanti bisa threesome bareng hak...hak...hak!!” tawanya penuh kemenangan.

Tamat?
By : FanFicsHolic

Saturday, July 26, 2014

Sang Penjaga Neraka

Iblis Geryon dan Dewi Kadence

Setiap hari selama ratusan tahun, sang Dewi mengunjungi neraka dan setiap hari itu pula Geryon mengawasi dari tempatnya bertugas, hasrat memanaskan darahnya lebih dari api kutukan di luar posnya. Seharusnya sejak awal ia tak mengamati sang Dewi, menjaga agar tatapannya terus tertuju ke bawah sepanjang waktu. Ia adalah budak dari Pangeran Kegelapan, dibuahi oleh kejahatan. Sedangkan perempuan itu seorang dewi, tercipta dari cahaya. Ia tak mungkin memiliki sang Dewi, pikir Geryon sambil mengepalkan tangan. Tak peduli betapa ia menghendaki yang sebaliknya. Lagi pula, mana mungkin sang Dewi menginginkannya. Obsesi ini... tak ada gunanya, dan tak memberinya apa-apa selain rasa putus asa. Dan, ia tak butuh rasa putus asa lebih banyak lagi. Namun, tetap saja ia mengawasi sang Dewi hari ini saat perempuan itu melayang melewati gua tandus, jemari berkuku warna koral menelusuri bebatuan bergerigi yang memisahkan bawah tanah dengan dunia kematian. Ikal-ikal keemasan tergerai di punggung yang elegan dan membingkai wajahnya yang begitu sempurna, teramat jelita, bahkan Aphrodite sendiri tak bisa menandinginya. Mata secemerlang bintang itu menyipit, warna merah merona membias di pipinya yang semulus batu pualam.
“Dinding ini retak,” ucap sang Dewi, suaranya bagai seuntai lagu di tengah-tengah desisan api di dekat sana – dan jeritan tak wajar yang selalu menyertai.
Geryon menggeleng, yakin benar ia hanya membayangkan kata-kata itu. selama berabad-abad bertemu, mereka tak pernah bertegur sapa, tak pernah sekalipun menyimpang dari rutinitas mereka.
Sebagai Penjaga Neraka, ia memastikan gerbangnya selalu tertutup hingga ada jiwa yang harus dibuang ke dalamnya. Dengan begitu, tak ada seorang atau sesuatu pun yang bisa meloloskan diri – dan  jika mereka mencoba, dialah yang menghukum. Sedangkan sebagai Dewi Penindasan, perempuan itu memperkuat dinding penghalang hanya dengan satu sentuhan. Keheningan tak pernah pecah di antara mereka. Ketidakpastian menggelapkan sosok sang Dewi.
“Kau tak punya komentar?”
Sekejap kemudian ia berdiri di depan Geryon, meski laki-laki itu tak pernah melihatnya bergerak. Aroma honey-suckle mendadak mengalahkan bau burung belerang dan daging meleleh, dan Geryon menghirupnya dalam-dalam, memejamkan mata penuh kenikmatan. Oh, seandainya dewi itu selalu berada disana...
“Penjaga,” sang Dewi memanggil.
“Dewi,” Geryon memaksa pelupuk matanya terbuka sedikit demi sedikit, lambat laun menampakkan pendaran kecantikan sang Dewi. Dari dekat, perempuan itu tak sesempurna yang ia bayangkan. Segelintir bintik-bintik memerciki hidung mancung sang Dewi yang manis dan lesung pipi muncul seiring lengkungan senyum separuhnya. Ah, itu bahkan lebih baik lagi. Apa yang sang Dewi pikirkan tentang dirinya? Geryon bertanya-tanya. Mungkin sang Dewi menganggapnya monster, mengerikan dan cacat. Memang seperti itulah wujudnya. Tapi bila perempuan itu menganggap Geryon demikian, ia tak menunjukkannya. Hanya rasa penasaranlah yang bersarang di mata secemerlang bintang itu. Tapi tentu saja itu untuk dinding, duga Geryon, bukan karena dirinya. Bahkan saat ia masih manusia, para perempuan tak ingin berurusan dengannya. Mereka langsung menyingkir begitu ia menunjukkan perhatian kepada mereka. Ia terlalu tinggi, terlalu kekar, terlalu kikuk. Dan itu, bahkan sebelum penampilannya mirip dengan Ogre.Terkadang ia bertanya-tanya apakah ia tercemar sejak lahir.

“Retakan itu kemarin tak ada,” kata sang Dewi. “Apa yang menyebabkan kerusakan seperti itu? Dan, begitu cepat?”
“Segerombolan Penguasa Iblis setiap hari bangkit dari lubang neraka dan berjuang agar bisa keluar. Mereka sudah mulai muak dengan penahanan disini dan mencari manusia hidup untuk disiksa.”
Sang Dewi menerima berita itu tanpa reaksi. “Kau punya nama-nama mereka?”
Geryon mengangguk. Ia tak perlu melihat ke balik gerbang untuk tahu siapa saja yang berada di sisi seberang. Ia bisa merasakannya. Selalu.
“Kekerasan, Kematian, Kebohongan, Keraguan, Kesakitan. Haruskah kulanjutkan?”
“Tidak usah,” jawab sang Dewi pelan. “Aku paham. Mereka yang terburuk dari yang terburuk.”
“Benar. Mereka menghantam dan mencakari dinding di balik gerbang, sangat ingin pergi ke dunia manusia.”
“Well, hentikan mereka.” Sebuah perintah, dibalut oleh permohonan dengan suara serak.
Seandainya bisa. Geryon rela memberikan sisa-sisa terakhir kemanusiaannya untuk melakukan apa pun yang diinginkan sang Dewi. Apapun untuk membalas hadiah kedatangannya kesini setiap hari. Apapun untuk membuatnya tetap disini, memperpanjang aroma manis tubuhnya.
“Aku dilarang meninggalkan pos, sama seperti aku tak diijinkan membuka gerbang untuk alasan apapun selainuntuk memasukkan jiwa terkutuk ke dalam. Aku khawatir tak bisa mengabulkan permintaanmu.”
Suatu desah terdengar dari sang Dewi. “Kau selalu melakukan apa yang diperintahkan?”
“Selalu.”
Sekali Geryon pernah melawan ikatan tak kasat mata yang membelenggunya. Sekali, tapi tidak lagi. Melawan hanya akan mengundang kesakitan dan penderitaan – bukan padanya, tapi pada yang lainnya. Manusia tak berdosa yang mirip ibu, ayah, dan para saudara laki-lakinya – karena ibu, ayah, dan para saudara laki-lakinya sudah habis dibantai – dibawa kesini dan disiksa di depannya. Jeritan mereka... oh, jeritan-jeritan itu, jauh lebih buruk daripada pekik kesakitan yang merembes dari Neraka. Dan saat melihat itu... Geryon menggigil. Andai rasa sakit dan penderitaan itu ditimpakan pada dirinya, ia tak akan peduli. Ia akan tertawa dan melawan lebih keras lagi. Apalah artinya sedikit kesakitan lagi? Tetapi Lucifer, saudara Hades, sekaligus pangeran iblis, membutuhkan penjaganya tetap bugar, utuh. Jadi ia menggunakan cara lain untuk mendapatkan kerja sama Geryon. Kenangan itu akan menghantui Geryon selamanya, meski mungkin saja akan memudar di malam hari, seandainya ia butuh tidur. Tetapi ia tetap terjaga di setiap jam di setiap hari, tak pernah bisa melupakan.
“Kepatuhan. Aku mengharapkan yang berbeda darimu,” ujar sang Dewi. “Kau seorang kesatria, begitu tangguh dan percaya diri.”
Benar, ia memang seorang kesatria. Tetapi ia juga seorang budak. Peran itu tidak saling meniadakan. “Maafkan aku, Dewi. Ketangguhan dan kepercayaan diriku tak mengubah apapun.”
“Aku akan memberimu imbalan karena membantuku,” sang Dewi bersikeras. “Sebutkan hargamu. Apapun keinginanmu akan menjadi milikmu.”
Seandainya saja bisa, pikir Geryon lagi. Ia akan meminta untuk mencicipi tubuh itu sekali saja. Atau semalam dalam pelukan sang dewi. Telanjang. Menyentuhnya. Merasakan kehangatan kulitnya. Membayangkannya, membuat setiap otot di tubuh Geryon menegang. Ia bergairah, sekaligus putus asa dalam ketiadaan harapan. Tidak. Ia tak bisa mengambil resiko membuat orang-orang tak bersalah menderita hanya untuk memuaskan keinginannya dengan dewi jelita ini. Tapi, kenapa kau peduli itu? batin Geryon berontak. Lihat tubuh mulus itu, begitu menggairahkan! Jadi, satu pelukan? Atau cuma sekedar ciuman, apa salahnya?

“Penjaga?” desak sang Dewi. “Apapun.”
Geryon menelan ludah. “Maafkan aku, Dewi. Aku sangat ingin membantumu, tapi...”
Bahu indah sang Dewi merosot kecewa, “Tapi... kenapa? Kau juga ingin para iblis tetap di Neraka seperti aku. Benar kan?”
“Benar.” Geryon bimbang untuk memberitahukan alasannya menolak membantu perempuan cantik itu, ia masih merasa malu akan hal itu hingga kini. Sang Dewi terdiam, menunggu.
“Ehm, aku...” Geryon gemetar.
“Mungkin ini bisa membantumu untuk mengingat.” sang Dewi mendekat. Tangannya bergerilya tepat di penis Geryon yang sudah menegang sejak tadi. Dia meremas-remasnya lembut, membuat jantung iblis jantan itu naik turun tak karuan. Takut. Enak. Dan entah perasaan apalagi yang berkumpul menjadi satu.
“Keras sekali,” sang Dewi berbisik pelan. Kemudian dia membuka celana Geryon dan mengeluarkan ’isinya’.
Geryon tidak sampai hati untuk mencegah karena jujur, ia juga menginginkannya. Inilah yang diimpikannya selama berabad-abad, dan sekarang terjadi begitu saja karena alasan yang tidak begitu jelas. Dan sangat mudah. Jadi, mungkinkah ia menolak? Apalagi ini juga tidak menyalahi ikatan yang dibuat oleh Lucifer.
“Dewi… Dewi…” Geryon terbata.
Sang Dewi terus meremas penisnya. Tubuh montok perempuan itu sudah merapat semakin dalam, begitu insten dan... menggiurkan. Bahkan dengan sangat menggairahkan, dia sengaja menggesek-gesekkan payudaranya ke lengan Geryon. Sementara Geryon, yang semula diam karena kaget dan tak percaya, kini juga ikut larut dalam permainan. Tubuhnya menegang, dengan tangan meremas buah dada sang Dewi yang bulat dan padat, sambil memeluk tubuh perempuan itu begitu erat.
”Bagaimana, enak kan?” tanya sang Dewi, tangannya bergerak lincah dan cepat, mengocok penis Geryon.
Iblis itu hanya mengangguk.
“Anggap saja ini sebagai uang muka. Kalau kau mau membantuku, akan kuberikan yang lebih enak.”
Geryon mengerti apa yang dimaksud oleh perempuan itu. Tapi ia tak sanggup untuk menjawab karena sekarang sang dewi sudah jongkok dan menunduk di depan penisnya. Perempuan itu membuka mulutnya, dan.. Hupp! Ia menelan penis Geryon dan menghisapnya. Gila! Geryon bahkan tak pernah membayangkan akan mendapatkan kenikmatan seperti ini. Bisa menciumnya saja, dia sudah sangat bersyukur. Apalagi diemut seperti ini... Uhh, rasanya seperti masuk ke dalam Surga.
”Ooghhh… Ooghhh…” Geryon merintih, atau menggeram? Karena suaranya memang sangat berat, seperti auman empat harimau yang dijadikan satu.
Sang Dewi tampak sangat menikmati penisnya. Perempuan itu mengocoknya dengan tangan, sambil ujungnya terus diemut dan dihisap-hisap cepat. Lidahnya yang basah bermain, menggelitik kepala penis Geryon yang tumpul, yang dari lubangnya sudah mengeluarkan cairan precum.

Tak mau kalah, sambil bergidik keenakan, tangan kanan Geryon menggangkat rok panjang sang Dewi hingga ke pinggang. Dipandanginya celana dalam berwarna putih milik perempuan itu, juga bokongnya yang bulat dan sekal. Sedikit melenguh, Geryon segera meremas-remasnya. Sementara tangan kirinya, bergerak mengelus payudara sang Dewi yang kini sudah tidak tertutup lagi. Benda itu tampak bulat dan menggiurkan, bersinar bagai dua matahari di lubang neraka yang gelap ini. Ujungnya meruncing, terasa sangat keras dan padat. Tidak sampai tiga menit, Geryon akhirnya menyerah. Nafsu menggebu yang sudah ditahannya begitu lama, membuatnya jadi tidak tahan lama. Tanpa bisa dicegah, spermanya menyembur, muncrat ke dalam mulut sang Dewi. Perempuan itu sempat terkejut ketika menerima semprotan pertama. Tapi selanjutnya, saat ia sudah bisa menguasai diri, malah meremas penis Geryon agar benda itu mengeluarkan semua isinya. Sang Dewi menghisap dan memerahnya sampai habis. Mulutnya baru terbuka ketika penis Geryon sudah melemas dalam genggamannya. Tersenyum, dia lalu menelan semuanya. Sungguh luar biasa. Geryon segera membenahi celananya. Begitu juga dengan sang Dewi.
”Sekarang, boleh aku tahu alasannya?” tanya perempuan itu. Dia menyingkirkan jemari Geryon yang masih bertengger di atas bukit payudaranya.
“Aku telah menjual jiwaku pada Lucifer,” akhirnya Geryon mengaku. “Aku sudah tidak punya kehendak lagi. Hidupku hanya untuk melayaninya. Segala perintahnya, itulah yang kulakukan. Meski sangat ingin membantumu – apalagi setelah yang barusan – aku tidak bisa melakukannya.”
“Bagaimana itu terjadi?” sang Dewi tampak tertarik.
“Ceritanya panjang.”
“Aku bisa menunggu.”
“Apa kau tidak punya banyak tugas untuk dikerjakan?”
“Aku sedang melakukan tugasku sekarang. Kalau kau?”
Geryon tersipu, teringat apa yang baru saja mereka lakukan.
“Hmm, jadi...” sang Dewi mendesah. “Jiwamu milik Lucifer, sang Pangeran Kegelapan?”
“Ya,”
“Andai jiwamu dikembalikan, kau akan bisa membantuku?”
“Tentu saja,” Geryon menjawab mantab, suaranya serak.
“Baiklah. Akan kulihat apa yang bisa kulakukan.”
Mata Geryon terbeliak ngeri. Perempuan itu akan mendekati Lucifer? “Jangan, kau harus...”
Tapi sang Dewi sudah menghilang sebelum dia sempat menghentikannya.

***
Ruang Dalam Neraka...

”Lucifer, dengar aku baik-baik. Aku ingin bicara denganmu. Kau akan muncul di depanku. Hari ini, di ruangan ini juga. Sendirian. Aku akan tetap berada disini.” Kadence, Dewi Penindasan, paham ia harus menyatakan keinginannya dengan rinci atau pangeran iblis itu akan menginterpresentasikannya sesuka hati. ”Dan, kau akan berpakaian.”
Bila ia hanya meminta pertemuan, sang Pangeran mungkin akan memboyongnya ke tempat tidur, dengan tangan dan kaki terikat, pakaiannya lenyap, tubuh montoknya kelihatan, sementara satu legiun iblis mengelilinginya, sama seperti terakhir kali, dua ratus tahun yang lalu. Kadence memperhatikan sekelilingnya, seolah-olah mengamati tempat itu adalah tujuan kedatangannya. Alih-alih batu dan semen mortar, dinding istana Lucifer terbuat dari nyala api. Oranye-emas, berderak. Mematikan. Singgasananya tersusun dari tumpukan tulang, abu dan api. Di sampingnya terdapat altar bernoda darah. Satu tubuh tak bernyawa masih tergeletak di atasnya – perempuan, tanpa busana, dan tanpa kepala. Meski demikian, kepala itu akan segera terpasang kembali, agar siksaannya bisa dimulai lagi. Begitulah caranya disini. Jadi sulit untuk tetap bersikap tenang di tengah keadaan mengerikan seperti itu.
”Lucifer,” panggilnya lagi. ”Kau sudah dengar permintaanku. Sekarang datanglah. Atau aku akan pergi dan kau akan melewatkan kesempatan untuk mendapatkan tawaran menarik.”
Dentam langkah kaki mendadak menggema dan nyala api setinggi beberapa meter di hadapannya tersibak. Akhirnya. Dari dalam, Lucifer melenggang, seceria hari terbaik di musim panas.
”Ya, aku memang mendengarmu.” ucapnya dalam suara sehalus sutra. Ia bahkan tersenyum lebar dengan ekspresi jahat yang murni. ”Kau menyebut-nyebut soal tawaran menarik? Apa yang kau maksudkan, sayangku?”
Tubuh mulus Kadence bergidik. Lucifer bertubuh tinggi, berotot seperti seorang kesatria, juga tampan dan sensual meski ada neraka gelap berkecamuk di matanya. Di selangkangannya, terlihat tonjolan besar tertutup celana usang dari api. Benda itulah yang dulu memberikan orgasme bertubi-tubi kepadanya. Memandangnya, Kadence takut sekaligus tertarik.
”Apa keperluanmu?” tanya Lucifer, tetap tersenyum. Suaranya tenang, tapi tetap terdengar mengancam.
Kadence mengangkat dagu. ”Dindingmu telah dirusak, dan sekelompok iblis berusaha meloloskan diri.”

Pangeran Kegelapan, Lucifer

Senyum sang Pangeran langsung lenyap. Matanya menyipit, menunjukkan kemarahan, yang kemudian dihalaunya dengan mengedikkan bahunya santai. ”Jadi, dindingnya rusak. Kau berharap aku berbuat apa?”
Kadence memantapkan tekadnya. Inilah saatnya. ”Si Penjaga. Dia bisa membantuku menghentikan mereka. Tapi karena kau memiliki jiwanya, dia harus mendapat ijinmu.”
Lucifer mendengus. ”Tidak. Aku tak akan memberi ijin. Untuk alasan apapun. Aku suka ia berada di tempatnya sekarang.”
Benar, dia menolaknya. ”Kenapa?” Kadence bertanya.
Lucifer mengetuk-ngetuk dagu dengan satu ujung jarinya. ”Well, penjaga terakhirku menjadi korban dari dusta satu iblis dan hampir mengijinkan satu legiun melarikan diri dari sana. Aku tidak mau itu terjadi lagi.”
”Tapi dindingmu sedang dirusak!” Kadence berusaha.
”Tidak.” Lucifer menggeleng. ”Kita cari cara lain. Jangan libatkan Geryon.”
Geryon. Akhirnya, sebuah nama. Berasal dari bahasa Yunani, yang berarti monster. Kadence tak menyukai nama itu. Geryon lebih baik dari penampilannya. Jauh lebih dari itu.
”Tak ada yang akan kau katakan lagi?” tanya Lucifer. ”Jadi, kita berpisah sekarang?”
Apa ini permainan Lucifer? Ia butuh dinding itu diperbaiki sama seperti Kadence. Kalau para iblis itu sampai lepas ke dunia manusia, mereka akan sama-sama repot. Menangkapnya lagi membutuhkan usaha besar dan keras. Tidak cukup ratusan tahun. Dengan pikiran itu, Kadence menjawab pertanyaannya sendiri. Ya, ini sebuah permainan. Lucifer tengah mempermainkannya.
”Aku penguasamu,” Kadence berkata. ”Aku akan...”
”Kau bukan penguasaku.” geram Lucifer tak terima. ”Kau adalah... pengamatku. Kau menyaksikan, memberi saran, dan melindungi. Tapi tidak memerintah!”
Kau terlalu lemah, Lucifer tak mengatakan itu. Lagi pula, ia tak perlu melakukannya. Mereka berdua tahu bahwa itu benar. Lucifer lah yang memegang kendali. Kadence cuma bisa mengikuti. Tak ada jalan lain. Ia akan melakukannya, demi Geryon. Menegakkan bahunya, Dewi cantik itu pun berkata,
”Aku tadi menawarkan sesuatu kepadamu. Boleh aku katakan sekarang?”
Lucifer mengangguk, seolah sudah menantikan pertanyaan itu sedari tadi. ”Silahkan,” sahutnya.

***

Dengan langkah ragu-ragu, Kadence mendekati ruangan dimana Lucifer berada.  Letaknya di koridor Neraka yang paling dalam, tempat yang paling gelap dan panas. Sebentar saja, Kadence sudah banjir keringat. Tubuh montoknya tampak tercetak jelas di balik jubah putihnya yang tipis. Terutama tonjolan payudaranya yang tak ber-BH, benda itu tampak begitu menggiurkan. Putingnya yang mungil kemerahan terlihat kaku dan mencuat. Lucifer tak henti-henti meliriknya.
"Ayo masuk!" ajak sang pangeran kegelapan dengan riang.
"Mana Cerberus? Dari tadi aku tidak melihatnya." tanya Kadence berbasa-basi. Cerberus adalah anjing berkepala tiga penjaga neraka milik Hades.
"Oh, dia sedang jalan-jalan, sebentar juga kembali.” sahut Lucifer bercanda. Cerberus pasti sedang menjemput jiwa malang penghuni baru dari Neraka ini.
"Sebentar ya," katanya lagi sambil masuk ke dalam ruangan yang lebih dalam dan gelap.
Meski terkenal kejam dan sadis, tak disangka, kamar Lucifer ternyata tertata rapi. Dindingnya bercat hitam, alih-alih terbuat dari api. Di sudut ruangan, terdapat lemari kaca yang berisi berbagai macam senjata dan tengkorak. Di tengahnya, ada hamparan permadani berbulu dan kursi sofa kelas satu.
"Gimana, sudah siap?" tanya Lucifer mengejutkan.
Kadence segera menoleh kepadanya. ”Eh, ya... mari kita bicara.”
”Apa yang kau tawarkan?” tanya Lucifer tanpa basa-basi.
Kadence sedikit menarik nafas sebelum menjawab, ”Emm, kau tahu. Aku tidak bisa memberikan apa-apa sebagai ganti kebebasan Geryon, kecuali...” Tapi belum selesai dia berkata, Lucifer sudah keburu menuburuk tubuhnya.
"Hei, apa-apaan ini?" tanyanya kaget sambil meronta, mencoba melepaskan diri.
"Jangan berpura-pura, Kadence sayang. Ini kan yang mau kau tawarkan. Tubuhmu. Kita sudah sama-sama mengerti, aku membutuhkannya dan kau membutuhkan pelayanan Geryon bukan. Dia bisa menjadi milikmu asalkan kau mau melayani aku!" sahut sang pangeran iblis sambil berusaha menciumi bibir Kadence.
Serentak bulu kuduk Kadence berdiri. Geli, jijik... namun entah dari mana asalnya, perasaan hasrat menggebu-gebu juga kembali menyerang tubuhnya. Ingin rasanya ia membiarkan Pangeran Iblis ini berlaku semaunya atas dirinya. Harus dia akui, walaupun Lucifer kejam dan menakutkan, namun sebenarnya Iblis tua ini sering membuatnya berdebar-debar juga. Apalagi kalau mengingat pertemuan terakhir mereka yang ’panas’ dan ’membara’. Tapi sebagai seorang dewi, Kadence harus tetap menjaga harga dirinya, dia tidak boleh menyerah begitu saja. Jadi, dia tetap berusaha meronta-ronta, meski tahu itu percuma. Tidak ada yang bisa melawan kehendak Lucifer di neraka ini, kecuali Hades.

"Lucifer, lepaskan aku! Jangan... hhmmpppff!" kata-kata Kadence tidak terselesaikan karena bibirnya sudah keburu disumbat oleh mulut sang Pangeran.
Dia meronta dan berhasil melepaskan diri. Kadence segera bangkit dan terbang menghindar, tidak peduli meski salah satu payudara bulatnya sudah terburai keluar. Benda itu tampak mengayun-ayun indah saat Kadence terbang masuk ke kamar sempit dan gelap yang tadi dimasuki oleh Lucifer. Tindakan yang keliru, karena itu adalah tempat tidur sang Pangeran. Ada ranjang besar disana, berseprei empuk dari bulu angsa. Tampaknya Lucifer memasangnya tadi sebagai persiapan ’pertempuran’ mereka. Kadence terpojok. Dia malah seolah-olah mengajak Lucifer agar segera ’bermain’ dengan masuk ke ruangan ini. Merapatkan tubuh montoknya di sudut ruangan, Kadence  mengatur kembali nafasnya yang terengah-engah. Payudaranya juga kembali ia kembalikan ke tempatnya. Tapi yang aneh, entah mengapa, birahinya terus naik dan naik. Seluruh wajahnya terasa panas, kedua kakinya sampai gemetar. Lucifer yang seperti diberi kesempatan emas, mengepakkan sayapnya pelan memasuki kamar dan menutup pintunya dengan sekali kibasan tangan. Lalu dengan perlahan ia mendekati Kadence. Tubuh perempuan itu bergetar hebat manakala Iblis tua itu mengulurkan tangannya untuk merengkuh dirinya. Dengan sekali tarik, dia jatuh ke dalam pelukan Lucifer. Bibirnya segera dilumat habis. Terasa lidah Lucifer yang kasap bermain, menyapu telak di dalam mulutnya. Perasaan Kadence bercampur aduk menjadi satu, antara benci, jijik, bercampur dengan rasa ingin dicumbui yang semakin kuat, hingga akhirnya ia pun merasa sudah kepalang basah. Memang inilah yang tadi akan ditawarkannya pada Lucifer. Tubuhnya. Sekarang, setelah diserang seperti ini, meski enggan untuk mengakui, hati kecil Kadence juga menginginkannya. Terbayang olehnya apabila Geryon yang melakukan ini, entah apa yang sedang dilakukan si iblis bawahan itu sekarang. Maka, tidak berniat untuk menolak lagi, ia pun membalas cumbuan Lucifer dengan hangat. Merasa mendapat angin, Lucifer jadi makin berani dengan menelusupkan tangannya ke balik gaun yang dikenakan oleh perempuan itu. Jantung Kadence berdegup kencang ketika tangan laki-laki itu meremas-remas lembut gundukan daging kenyal yang ada di dadanya. Terasa benar, telapak tangan Lucifer yang lebar bergerak liar di atas permukaan buah dadanya yang putih mulus, ditingkahi dengan gesekan nakal jari-jari berkuku tajam yang  mempermainkan puting susunya. Gemas sekali nampaknya Iblis tua itu. Tangannya makin lama makin kasar bergerak di atas dada Kadence, bergantian kiri dan kanan. Setelah puas, dengan tidak sabaran, Lucifer mulai melucuti pakaian Kadence satu demi satu hingga berceceran di lantai. Hingga akhirnya Kadence hanya memakai secarik celana dalam saja, itupun sangat tipis dan mungil. Benda itu bahkan tidak sanggup menyembunyikan belahan vagina Kadence yang basah merah menggiurkan. Melihatnya, bergegas Lucifer melucuti celana pendeknya. Dari sana, menyembul batang penis itu yang telah menegang dahsyat, sebesar lengan, berwarna merah semerah kulitnya. Kadence bergidik. Tak terasa, ia menjerit ngeri. Sepertinya benda itu makin membesar saja dari waktu ke waktu. Bisa jebol miliknya dimasuki penis sebesar itu. Namun di lain pihak, Kadence tak dapat menyembunyikan kekagumannya. Seolah ada pesona tersendiri pada benda itu hingga pandangan matanya terus tertuju ke penis besar sang pangeran kegelapan. Nyala api memercik-mercik dari ujungnya saat benda itu bergoyang-goyang. Lucifer tengah berjalan mendekati dirinya. Tangannya meraih kunciran rambut Kadence dan menariknya hingga ikatannya terlepas dan rambut Kadence bebas tergerai sampai ke pinggang.

"Kau cantik sekali, Kadence..." gumam Lucifer mengagumi kecantikannya.
Kadence hanya tersenyum tersipu mendengar pujian itu. Ah, seandainya saja Geryon yang mengatakannya.
Dengan lembut Lucifer terbang turun sambil mendorong tubuhnya sampai terduduk di tepi ranjang. Lalu ia menarik celana dalam, kain terakhir yang menutupi tubuh mulus Kadence dan membuangnya ke lantai. Kini mereka berdua telah telanjang bulat. Lucifer dengan gemas mementangkan kedua belah paha Kadence lebar-lebar. Matanya nanar memandang daerah di sekitar selangkangan sang dewi. Nafasnya jadi sedemikian memburu. Tak lama kemudian, Lucifer membenamkan kepalanya di situ. Mulut dan lidahnya yang panjang menjilat-jilat penuh nafsu di sekitar kemaluan Kadence yang mulus tanpa rambut. Melenguh kegelian, Kadence memejamkan matanya. Ohh, nikmatnya, dia sungguh menikmatinya, sampai-sampai tubuhnya menggelinjang-gelinjang saking enaknya.
"Lucifer..!" rintih Kadence lirih. "A-aku tak tahan lagi...!" dia memelas sambil menggigit bibir bawahnya. Sungguh, dia tak tahan lagi mengalamai siksaan birahi yang dilancarkan sang iblis tua. Namun rupanya Lucifer masih ingin mempermainkannya. Tidak peduli, bahkan terlihat senang melihat Kadence  dalam keadaan demikian, ia meneruskan jilatannya. Bahkan kini tangannya ikut bermain dengan menjulur ke atas dan meremas-remas payudara sang dewi yang bulat menggoda dengan lembut. Padahal Kadence sudah sangat kewalahan dan basah kuyup.
"Lucifer... Aaakkhh...!" dia mengerang keras, kakinya menjepit kepala Lucifer kuat-kuat untuk melampiaskan derita birahinya.
Digenggamnya erat tanduk yang menghiasi kepala sang pangeran kegelapan itu keras-keras. Kini, Kadence sudah tidak peduli lagi bahwa yang bercinta dengannya itu adalah pemilik Neraka yang seharusnya ia takuti. Salah sendiri, kenapa dia sungguh lihai membangkitkan gairahnya? Kadence yakin, dengan nafsu yang sebesar itu ditambah pengalaman selama ribuan tahun, Lucifer tentu sangat ahli dalam hal ini, bahkan sangat mungkin sudah puluhan atau ratusan dewi, makhluk sorgawi dan manusia yang sudah digaulinya. Sedang enak-enaknya, tiba-tiba Lucifer melepaskan diri, lalu ia berdiri di depan Kadence yang masih terduduk di tepi ranjang. Penis besar sang pangeran kegelapan persis berada di depan wajahnya. Kadence sudah tahu apa yang diinginkan Iblis tua itu. Tanpa sempat melawan ataupun memprotes, tangan Lucifer sudah meraih kepalanya dan di bawa mendekati kejantanannya yang... Wow! Sungguh sangat besar itu. Tanpa melawan sama sekali, Kadence membuka mulut selebar-lebarnya. Lalu dengan sekali telan, dicaploknya penis besar Lucifer dan dikulumnya dengan penuh nafsu hingga membuat sang iblis merem melek keenakan. Benda itu hanya masuk bagian kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulut Kadence. Itupun sudah terasa penuh. Kadence hampir sesak nafas dibuatnya. Dia harus bekerja keras kalau mau memberi makhluk kegelapan ini kepuasan. Dan demi Geryon, dia rela melakukannya. Kadence terus menghisap, mengulum serta mempermainkan batang penis Lucifer keluar masuk di dalam mulutnya. Terasa benar kepala itu bergetar hebat setiap kali lidah Kadence menyapu ujungnya yang berapi.

Beberapa saat kemudian, Lucifer melepaskan diri. Ia lalu membaringkan Kadence di tempat tidur dan menyusul berbaring di sisinya. Kaki kiri perempuan itu diangkat, disilangkan di pinggangnya. Lalu ia berusaha memasuki tubuh Kadence dari belakang. Terasa kepala penis Lucifer yang besar menggesek klitoris di liang senggama Kadence, membuat perempuan itu bergidik. Lucifer terus berusaha menekan miliknya ke dalam milik Kadence yang memang sudah sangat basah. Akhirnya, setelah berusaha cukup keras, perlahan-lahan benda besar itu pun meluncur masuk. Dan ketika dengan kasar Lucifer tiba-tiba menekan keras hingga amblas seluruhnya ke dalam memek Kadence, perempuan itu tak kuasa menahan diri untuk tidak memekik. Perasaan luar biasa nikmat bercampur sedikit perih menguasai dirinya, hingga membuat tubuh mulusnya mengejang-ngejang selama beberapa detik. Lucifer yang mengerti keadaan itu, memberi Kadence kesempatan untuk bernafas dan membiasakan diri. Dia mendiamkan penisnya sebentar. Setelah nafas Kadence mulai tenang, barulah dia mulai menggoyangkan pinggulnya perlahan-lahan. Dan makin lama - setelah Kadence terlihat menikmatinya – menjadi semakin cepat. Kadence jadi tak kuasa untuk tidak merintih setiap Lucifer menggerakkan tubuhnya. Gesekan demi gesekan di dinding liang senggamanya sungguh sangat nikmat, membuatnya lupa ingatan. Lucifer terus menyetubuhinya dengan cara itu, sementara bibirnya tak henti-hentinya melumat bibir Kadence yang tipis, juga tengkuk dan lehernya. Sedang tangannya selalu meremas-remas payudara Kadence, tidak ingin membuat benda itu bergerak-gerak kesana-kemari. Kadence dapat merasakan puting susunya makin mengeras, runcing dan kaku. Dia bisa melihat bagaimana batang penis merah itu keluar masuk di dalam liang kemaluannya. Kadence selalu menahan nafas ketika benda itu menusuk ke dalam. Miliknya hampir tidak dapat menampung ukuran Lucifer yang super itu, dan ini makin membuat Lucifer tergila-gila. Tidak sampai di situ, beberapa menit kemudian Lucifer membalik tubuh Kadence hingga menungging di hadapannya. Ia ingin doggy style rupanya. Tangan makhluk itu kini lebih leluasa meremas-remas kedua belah payudara Kadence yang menggantung berat ke bawah sambil menusukkan penisnya dari belakang. Sebagai seorang dewi ia memiliki daya tahan tubuh yang jauh dibanding manusia, tapi menghadapi sang penguasa kegelapan tertinggi ini, dia memang bukan tandingannya. Iblis satu itu benar-benar luar biasa tenaganya. Sudah hampir dua jam permainan berlangsung, tapi tidak ada tanda-tanda kalau Lucifer akan mengakhirinya dalam waktu dekat. Kadence yang kini duduk mengangkangi tubuh makhluk itu, sudah hampir kehabisan nafas. Tapi demi Geryon, ia terus memacu goyangan pinggulnya. Kadence merasa sebentar lagi dia akan memperolehnya. Terus... terus... dan terus... dia sudah tak peduli lagi dengan gerakannya yang brutal ataupun suara erangannya yang kadang-kadang memekik nyaring menahan rasa luar biasa itu. Dan ketika klimaks itu sampai, tak peduli lagi meski dirinya seorang Dewi, Kadence berteriak kencang sambil menarik tanduk Lucifer. Dunia serasa berputar. Sekujur tubuhnya mengejang. Sungguh hebat rasa yang diterimanya kali ini. Ironis memang, sebagai dewi ia mendapat kenikmatan itu dengan melanggar aturan sorgawi, yang tentunya adalah kenikmatan terlarang.

Berkali-kali Kadence mengusap keringat yang membasahi dahinya. Lucifer yang masih belum finish, kembali mengambil inisiatif. Kini ganti dia yang berada di atas, menindih tubuh mulus Kadence. Lucifer memacu keras untuk mencapai klimaks. Desah nafasnya mendengus-dengus seperti kuda liar, asap dan hembusan api neraka keluar dari mulut dan hidungnya, sementara goyangan pinggulnya semakin cepat dan kasar. Peluh sudah penuh membasahi sekujur tubuhnya, juga tubuh Kadence. Sementara mereka terus berpacu. Sungguh hebat makhluk kegelapan ini, umurnya yang mencapai ribuan tahun tidak mempengaruhi staminanya. Beberapa saat kemudian, setelah setengah jam lagi berlalu, barulah Lucifer menggeram sambil mengeretakkan giginya. Tubuh Iblis tua itu bergetar hebat di atas tubuh Kadence. Penisnya menyemburkan cairan kental yang hangat dan panas ke dalam liang kemaluan sang dewi dengan begitu derasnya. Setelah rasa itu reda, perlahan-lahan mereka memisahkan diri. Bersisian, mereka terbaring kelelahan di atas kasur. Nafas Kadence yang tinggal satu-satu bercampur dengan bunyi nafas Lucifer yang berat. Mereka masing-masing terdiam, berusaha mengumpulkan tenaga yang sudah tercerai berai. Kadence terpejam, mencoba merasakan kenikmatan yang baru saja ia alami.  Terasa ada cairan kental hangat perlahan-lahan meluncur masuk ke dalam liang vaginanya. Panas, dan sedikit gatal menggelitik. Bagian bawah tubuhnya terasa benar-benar banjir, basah kuyub. Kadence menggerakkan tangannya untuk menyeka bibir bawah itu, dan tangannya pun langsung dipenuhi oleh cairan kental berwarna putih susu yang belepotan di sana-sini.
"Hahaha...Dewi Kadence yang cantik, ternyata kau tak kalah dengan Aphrodite dan Artemis dalam hal yang satu ini!" Lucifer berkata penuh kemenangan.
Kadence yang berbaring menelungkup di atas kasur hanya tersenyum lemah, karena sungguh sangat kelelahan. Namun dalam hati ia kaget juga mendengar perkataan Lucifer tadi.
“Apa!? Jadi dua dewi tertinggi itu juga pernah....ah masa bodoh lah!”
Kadence memejamkan matanya untuk sejenak beristirahat. Ia tidak peduli dengan tubuhnya yang masih telanjang bulat. Lucifer kemudian bangkit berdiridan mulai mengenakan kembali cawatnya. Kadence pun dengan malas bangkit dan mengumpulkan pakaiannya yang berserakan di lantai. Sambil berpakaian ia bertanya,
"Bagaimana dengan permintaanku?"
"Minggu depan akan kubebaskan dia," sahut Lucifer pendek.
"Kenapa tidak besok pagi saja?" protes Kadence, tak puas.
"Aku masih ingin tubuhmu, manis. Layani aku selama seminggu ini.” Lucifer menyeringai.
Kadence terdiam, tidak sanggup berkata apa-apa.

*** 

“Aku tak mengerti. “ ucap Geryon sambil menyilangkan lengan di dada, sebuah tindakan yang mengingatkannya saat ia masih menjadi manusia. “Lucifer tak akan pernah setuju untuk membebaskanku dari... kekuasaannya.”
“Aku meminta padanya, ia setuju. Kau bebas.” Kadence mengarahkan tatapan ke kakinya yang bersendal, tak mau berkomentar lagi tentang masalah itu.
Geryon jadi bertanya-tanya, apa perempuan itu menyembunyikan sesuatu? Sang Dewi tampak lebih pucat dari biasanya. Geryon menyadari, setelah seminggu berlalu tanpa kehadirannya, rona merah di pipi perempuan itu lenyap, bintik-bintik di hidungnya memucat. Ikal-ikal rambut keemasan sang Dewi terkulai lemas di bahu dan lengannya, dan Geryon bisa melihat noda jelaga diantara helaian rambut indah itu. Tangannya sangat ingin terulur, untuk menyisirkan jemarinya di sela-sela rambut itu.
“Bagaimana bisa?” Geryon bertanya lagi. “Apa yang kau berikan untuk menebus kebebasan diriku?”
“Apa itu penting?” sang Dewi mengentakkan kakinya sedikit. “Untuk menyelamatkan dinding, aku butuh bantuanmu. Kau tahu, Lucifer juga tak menginginkannya runtuh.” Jemari sang Dewi memanggilnya. “Kemarilah. Lihat kerusakan yang terjadi disini. Celah ini sudah memanjang sejak terakhir aku melihatnya seminggu yang lalu. Dan akan terus membesar hingga batunya terbelah dua. Saat itulah, legiun iblis bisa memasuki dunia manusia.”
Kemana saja kau seminggu ini? batin Geryon, tapi tidak sanggup untuk mengatakannya. “Kalau aku melakukan ini... membantumu...” bisiknya.
Sang Dewi masih tetap tak berbalik. Jari lentiknya asyik menelusuri celah bercabang yang membentuk retakan-retakan kecil, mirip sungai kecil yang mengalir dari sebuah lautan yang bergelora. “Ya?” tapi desah napasnya terdengar keras saat dia berucap.
“Aku akan mendapat imbalan? Lebih nikmat dari yang kemarin?” Geryon membayangkan tubuh mulus sang Dewi, telanjang, berada dalam pelukannya. Dengan kelamin mereka saling bertemu dan menggesek. Oh, betapa nikmatnya.
“Ya.” Sang Dewi menjawab tanpa ada keraguan. Masih tetap mendesah keras.
“Kalau begitu baiklah. Kuterima.” Geryon mengangguk. “Aku akan membawamu ke Neraka, Dewi.”  
Sang Dewi meliriknya sekilas, dan sekali lagi memalingkan pandang darinya. “Kalau begitu, ayo kita mulai bekerja.”
Dan mereka pun menghilang menuju bagian dalam Neraka...

END
By: Iisamu Takeo
Sungguh Puaskah Istri Anda ?