Jadilah Lelaki Perkasa, Seperkasa Kuda Putih

Tuesday, May 5, 2015

Pernikahan yang Ternoda 2: Kembalinya Mantan Kekasih

Lisa

“Auu… Aldi, ampun….” aku mengelinjang kegelian saat tiba-tiba Aldi menggelitik pinggangku, rasa ngantuk yang kurasakan kini sudah sirna, “ya… ha…ha… kamu nakal ya, nanti mama balas lo…” aku berusaha berdiri sambil menangkapnya, tetapi usahaku gagal karena Aldi begitu lincah menahan seranganku
“masa segini aja si ma….” Katanya sambil berusaha menangkap kedua tanganku yang dari tadi berusaha menggelitikinya
Sebenarnya aku tidak menyangka kalau ternyata tenagaku kalah besar darinya sehingga dengan mudanya Aldi mengikat ke dua tanganku,
“he…he… sekarang mama mau lari ke mana lagi ayo…” ancamnya sambil memainkan ke dua jarinya di depan mataku,
“Sayang ampun, iya mama ngaku kalah…” kataku mengiba ke padanya,
Ternyata Aldi sangat senang melihatku yang sudah tidak berdaya perlahan jari-jarinya mulai menggelitik perutku sehingga aku kembali kegelian, gerakanku yang liar membuat baju tidurku ke singkap sampai perutku yang putih mulus terlihat olehnya. Tanpa kusadari aku mulai terangsang dengan permainan yang dilakukan Aldi terhadap tubuhku karena aku merasa bagian selangkangan menjadi sedikit basah, sengaja atau tidak jari-jari Aldi menyentuh bagian tubuhku yang sensitif
“Aldi… eennngg…” aku semakin terangsang saat jari-jari Aldi berpindah menggelitiki pahaku, sehingga sekali-kali kurasakan jarinya menyentuh bagian tenga celana tidurku, “Aldi… aahk… cukup sayang, sudah jam berapa ni?” aku berusaha menghentikan tindakan Aldi yang menurutku sedikit berlebihan, Aldi diam menghintikan aktivitasnya beberapa kali Aldi terseyum ke arahku,
“Ya uda deh ma… Aldi siap-siap dulu ya ma… tapi mama jangan bobo lagi ya…” katanya sambil membukakan ikatan tanganku, dia terseyum lalu pergi meninggalkan aku sendiri yang masih tergeletak lemas
Aku masih terbaring di atas kasur, perlahan kuarahkan jariku menyelusup ke dalam celana tidurku yang tipis. Kurasakan bagian tenga celana dalamku sangat basah detak jantungku terasa semakin cepat beberapa kali aku berusaha menyadarkan diriku, dengan sangat lembut jariku menggosok vaginaku dari luar celana dalam.
“Ahkk… Al… eehhmm…” pikiranku mulai di rasuki setan, bayangan Aldi yang sedang memainkan vaginaku membuat nafasku sesak, tanpa ragu-ragu jariku menyibak celana dalamku ke samping, dengan gerakan yang lembut jari telunjukku menerobos lubang vaginaku yang semakin merekah,
“EEhhkk… Al enak… terus Al… tusuk terus…” kataku yang di susul dengan gerakan jariku yang semakin cepat mengobok vaginaku, setelah beberapa menit kurasakan otot-otot vaginaku menjadi tegang sedangkan darahku terasa mendidih, dan vaginaku juga mulai terasa panas saat orgasme melanda tubuhku.

Setelah memuaskan diriku sendiri, aku pun segera bangkit ke kamar mandi di kamarku. Aku baru saja membuka semua pakaianku dan baru saja mau menyalakan shower ketika pintu kamar mandi diketuk, lalu terdengar suara Aldi.
“Ma...Ma!” panggilnya.
 Aku segera membuka pintu kamar mandi dan bertanya sambil mengintip dari celah pintu, “Ya Di? kenapa?”
 “Di kamar mandi sana airnya macet, boleh Aldi mandi di sini?” tanyanya.
 “Oohh...nanti ya Di, mama mandi dulu, gak lama kok” kataku.
 “Eh iya Ma” kulihat pandangan matanya ingin melihat lebih selain bahu telanjangku yang terlihat olehnya.
Baru saja hendak berbalik dan menutup pintu, tiba-tiba seekor kecoak melintas di bawah dekat kakiku. Aku sangat jijik dan geli dengan serangga satu ini sehingga aku menjerit dan melompat ke belakang.
“Aawwww....tolong!” teriaku.
Aldi yang masih di situ buru-buru masuk, ia melihat kecoa itu dan buru-buru melepas sandalnya untuk memukul binatang itu. Namun si kecoa ternyata terlalu lincah dan keburu kabur keluar dari kamar mandi ke kamarku. Aldi mencari-carinya dengan sandal siap di tangan.
“Duh kabur kecoanya Ma, ga dapet, moga-moga keluar dari kamar deh” katanya kembali ke kamar mandi, namun matanya menatap nanar ke arah tubuhku.
Aku baru sadar
kalau aku tidak memakai apapun dan Aldi telah menyaksikan ketelanjanganku. Wajahku terasa panas dan terlihat merah padam melihat tatapannya.Reflek aku melipat kedua tanganku ke dada, rasa panik kembali melandaku. Sebelum aku bisa berbuat sesuatu, Aldi sudah berjongkok dan menyergapku lagi
“Aldi, kamu mau apa?” aku meronta panik berusaha melepaskan diri, entah ia mendapat tenaga dari mana untuk menarik kedua lenganku yang melindungi dadaku.
Aldi nampak menelan ludah dan berkata, “Ma...Aldi sangat ingin sekali sama mama” katanya dengan suara terputus dan parau.
Tanpa membuang waktu lagi, Aldi menangkup kedua payudaraku dengan kedua tangan dan meremasinya lembut. Jarinya yang nakal memilin kedua putingku yang berwarna kemerahan sungguh menggiurkan, bagaikan buah ceri.
 “Ma tetek Mama bagus… bolehkah Aldi ngisep?” tanyanya sambil mengelus sepasang puting tersebut.
Antara menolak dan menerima, aku menikmati elusannya, detak jantungku sedikit mereda karena kecoa itu sudah enyah kini cepat lagi karena elusan anak ini.
 “Hisaplah kalau Aldi mau!” entah mengapa aku malah mengangguk seraya mengelus rambut bocah itu, mungkin karena ada rasa ingin berterima kasih karena ia telah mengusir binatang menjijikkan itu, tapi kenapa seperti ini?
Aldi

Tanpa banyak bicara lagi, Aldi menurunkan wajahnya dan menghisap puting payudaraku.
 “Apakah ini yang selalu dia fantasikan selama ini tentang diriku, ibu angkatnya?” tanyaku kepada diriku sendiri dalam hati saat aku mulai menurunkan mukaku,
“Akhh…” desahku saat anak itu mulai menghisap putingku sehingga badanku menggeliat seperti kesetrum
Kunikmati emutannya pada puting payudaraku, kurasakan badan Aldi sedikit gemetaran saat melakukannya, mungkin tegang karena baru pertama kali. Setelah beberapa lama ia melepaskan pagutannya dari payudaraku dan berkata
“Ma, Aldi suka memek kaya punya mama, bagus buluan lebat, boleh pegang ga ma?” tanyanya.
 Aku terdiam sesaat menatap wajah polosnya “boleh, asal mama juga boleh pegang punya kamu” jawabku, “ayo mama buka dulu baju kamu”
Aku melihat ekspresi senang di wajahnya bercampur tegang ketika aku melucuti pakaiannya. Mataku terpaku melihat penisnya yang sudah menegang ketika kupeloroti kolornya. Benda itu memang tidak sebesar milik pria dewasa, namun keras dan pasti akan tumbuh besar dan perkasa seiring usianya. Dengan tergopoh-gopoh saking gembiranya, ia segera memegang vaginaku, jari-jarinya perlahan menembus sela-sela rambut kemaluanku dan mengelus belahan vaginaku yang terasa basah dan hangat. Uuuhh...bagaimana mungkin bocah sekecil ini sudah mampu mempermainkan gairahku? Apakah ia sudah pernah sebelumnya? Tubuhku kembali menggeliat,
“Akhh…” desahku saat jarinya mengelus belahan vaginaku, jari itu semakin masuk meraih tonjolan daging yang berada tepat pada bagian atas bibir vaginaku. Tubuhku makin menggeliat dibuatnya
“Akhh…Diii” desahku serasa menggetarkan jiwa sambil mengocoki penis anak itu yang makin keras.
“Ma...Aldi sayang sama mama, pengen bisa ginian terus” ceracau Aldi
Sungguh aku nyaris tidak percaya aku melakukan hal nista ini dengan anak angkatku sendiri yang masih di bawah umur dan gilanya aku sungguh menikmatinya
“Kamu udah pernah ginian sebelumnya Di?” tanyaku lagi dengan suara lirih
 “Pernah Ma...dulu sama Mbak Sarmi, pembantu di rumah, dia yang ajarin Aldi” jawabnya polos.
Aku terhenyak tidak bisa berkata apapun, anak sekecil Aldi ternyata pernah melakukan hubungan seks.
“Mbak Sarmi yang isepin burung Aldi, terus masukin burung Aldi ke memeknya, rasanya agak nyeri tapi enak. Aldi muncratin cairan kaya pipis tapi bukan, enak banget. Apa mama juga pengen Aldi gituin kaya Mbak Sarmi?” tanya anak itu dengan nada polos dan wajah tidak bersalah.
 “Eeerr...iya mau Di, mama mau” ya Tuhan, gilakah aku, mengapa aku menjawab seperti ini? sepertinya akal sehatku sudah hilang atau apa?

Tanpa bicara lagi, aku duduk di kloset agar tidak ketinggian bagi tubuhnya yang masih pendek. Segera kami mulai saling menjelajahi tubuh masing-masing. Aldi meremas-remas buah dadaku dengan gemas, sementara mulut kami tidak henti saling berpagutan dan lidah kami saling belit dan saling menggelitik dengan nikmatnya. Saat ia mencium leherku, aku segera menggeliat nikmat. Lalu ciumannya terarah semakin ke bawah, menyelusuri bahu dan dadaku, sampai di pangkal payudaraku yang sebelah kanan. Sejenak ia menatapnya, lalu tanpa buang waktu lagi segera dikulumnya putingku, sementara sebelah tangannya meremasi buah dadaku yang lain.
 “Akhhh… okhhh…” erangku tak henti-hentinya. “Sekarang, Di... masukkan sekarang!” aku sudah tidak peduli lagi dengan norma-norma apapun, aku tidak bisa lagi mengendalikan diriku dan sangat ingin merasakan batang penis anak angkatku ini di dalam vaginaku. Tanganku terus mengelus dan sedikit meremas batang penis Aldi yang sudah keras. Aku turun dari kloset membaringkan tubuhnya di lantai kamar mandi, badanku menggeliat ketika merasakan elusannya. Aku segera menelungkupi tubuhnya sambil mengarahkan batang penisnya ke dalam vaginaku.
 “Aww…!!!“ erang Aldi tertahan, “enak ma, terus ma!” katanya sambil memegang payudaraku merasakan himpitan vaginaku pada penisnya yang mulai masuk sebagian
“Mama masukin sekarang Di” kataku dengan nada merangsang.
 Dengan sekuat tenaga, aku menurunkan tubuhku sehingga penisnya tertekan hingga masuk ke vaginaku, bles…!!! terasa batang penis Aldi mulai masuk seiring dengan pekik tertahanku. Dinding vaginaku dengan ketat menggesek batang penis anak angkatku itu. Sekali lagi kuhempaskan tubuhku kuat-kuat dan slebb…!!! batang penisnya masuk seluruhnya. Kali ini aku bukan hanya memekik lirih, “Akkhhh…” tapi badanku juga menggelinjang kuat.
Selanjutnya naluriku yang mulai bekerja, tanpa diperintah, aku segera menaik-turunkan tubuhku sehingga batang penis Aldi terpompa dalam lubang vaginaku. Sementara itu, tangan anak ini juga tidak berhenti meremasi kedua buah dadaku, dan mulutku mengulum bibirnya dengan lidah yang saling membelit. Ketika Aldi mengalihkan kulumannya pada puting susuku, aku mendesah nikmat,
“Akhh… enak, Di. Kontol kamu enak banget” kataku tanpa malu
Aku semakin memacu pompaanku pada penisnya. Mungkin karena kurang pengalaman menyetubuhi perempuan, Aldi tidak dapat bertahan terlalu lama,
“Ma...Aldi mau keluar nih, memek mama enak banget sih!” erangnya
Seharusnya aku menahan diri, tapi aku justru semakin mempercepat pompaanku pada penisnya. Tak lama kemudian pompaanku semakin tidak terkendali.
“Akhh… A-Aldi … okh!” ceracau anak dan, crutt… crutt… kurasakan air mani muncrat di dalam vaginaku.

 Seiring dengan itu, aku justru memutar-mutar pantatnya dengan cepat, wajahku tertengadah dengan bibir kugigit.
“Okhhh…” lalu dengan diiringi keluhan panjang, akupun memeluk tubuh mungilnya erat-erat.
Kami mencapai puncak kenikmatan secara hampir bersama-sama di atas marmer kamar mandi yang basah. Sejenak kami terdiam kaku dalam posisi tersebut, lalu akhirnya aku bangkit melepaskan penisnya yang mulai mengecil dan berlutut di sampingnya.
“Waw... enak banget Ma, baru kali ini Aldi merasakan kenikmatan seperti itu. Ini yang namanya ngecrot ya ma?” sahutnya terengah-engah.
Aku hanya terdiam tanpa mampu menjawab.
 “Dulu sama Mbak Sarmi ga seenak ini Ma” celotehnya kepadaku. “lagian Mama cantik sekali, Aldi sudah suka sejak awal” lanjutnya sambil merabai pahaku
“Aldi...kamu ini, kita gak bisa kaya gini terus!” kataku sambil menepis tangannya
Aku sebenarnya hanya jaga gengsi, dalam hati aku masih ingin menikmati kenikmatan terlarang ini. Aku melihat ke arah selangkangannya, wow...penisnya mulai bangun lagi.
“Ma lihat...kontol Aldi bangun lagi!” sahut Aldi menggenggam benda itu dan menunjukkannya padaku.
“Terus kenapa?” tanyaku sedikit judes.
Sebagai jawabannya Aldi langsung mendorong tubuhku sehingga terbaring di lantai kamar mandi dan menindihku
“Aldi....sudah...hentikan...mama gak mau lagi....aahhh....aahh!” protesku berubah menjadi lenguhan nikmat saat jari-jari anak itu meraih vaginaku dan mulai mengobok-oboknya, “Akhh…Aldi nakal ya, gak mau dengerin mama!” desahku.
Kurasakan kewanitaanku kembali mengalirkan lendir yang membuatnya kembali basah akibat kocokan jari-jarinya.
“Aldi entot mama lagi ya!” pintanya dengan nada memelas.
“Di...kamu...aaahhh....aaahhh!!” aku hanya bisa mendesah, aku benar-benar tidak bisa menolaknya
Kuraih batang penisnya dan kubimbing ke arah liang vaginaku. Kulihat ia tersenyum dan mulai mendorong pinggulnya sehingga penisnya melesak masuk.
“Ahhh....” erangku sambil menggigit tangan saat batang penisnya mempenetrasiku, “pelan aja Di. Jangan terburu nafsu supaya ga terlalu cepet.” gila tanpa sadar aku sedang mengajari bocah ini menyetubuhi ibu angkatnya sendiri.
 “Hemmm…iya ma” hanya itu jawabku padanya, lalu tanpa banyak bicara lagi ia segera mengayunkan pantatnya, memompa vaginaku.
Kali ini ia bisa bertahan lebih lama dari sebelumnya, mungkin karena sebelumnya ia sudah memuncratkan air maninya, maka tidak segera muncrat kembali, selain itu ia juga menuruti nasehatku agar mengatur tempo genjotannya sehingga tidak buru-buru keluar.
Rintihan dan erangan kami bersahut-sahutan di kamar mandi ini “akh… okh… bang… akh…”
 “Ehm... uh...seret banget memek mama” Aldi semakin mempercepat pompaannya

Semakin cepat dan semakin cepat ia menggenjot, semakin aku ikut bergoyang mengimbanginya, sampai akhirnya,
“Maaaa…” serunya dan matanya terbalik ke atas dengan kepala tertengadah, kurasakan tangannya mencengkram betisku, ia akan orgasme lagi
“Okhhh…” erang Aldi dengan tubuh mengejang kaku lalu menindih tubuhku, kepalanya jatuh di antara kedua bukit payudaraku.
Aku yang tidak bisa bergerak karena ditindih olehnya dan masih lemas terpaksa harus berdiam diri. Kurasakan mulutnya yang mengulum puting susuku, mengemut, dan mengelusnya dengan ujung lidah diselingi dengan gigitan pelan. Sesaat kemudian kurasakan dekapannya mengendor, penisnya masih tetap menancap di vaginaku. Ia kembali bangkit dan berlutut di antara pahanya, agaknya ia masih belum puas. Tanpa minta ijin dulu seperti sebelumnya, ia segera memacu kembali vaginaku.
Untuk beberapa lama masih berdiam diri dengan lemasnya, hanya pasrah menikmati genjotannya dan tangannya yang liar menggerayangi tubuhku. Kembali terulang paduan rintih nikmat dan erang kami, “Akh… okh… bang… akh…”
 “Ehm... ugh...” aku makin bersemangat menggoyang pinggulku saat kenikmatan itu mulai terasa.
Tak lama kemudian akhirnya kembali kurasakan rasa geli yang nikmat menjalar dari vaginaku.
 “Di…mama… aaahh…” kataku terputus-putus karena desakan nafsu.
Tapi meskipun aku dak mengatakan dengan jelas apa yang kumaksud, tampaknya Aldi bisa menangkap maksudku, itu terlihat dari jawabannya.
 “Aldi juga ma… mau… okh…ngecrot lagi” katanya sambil mengguncangkan pantatnya keras-keras.
Tak lama kemudian aku tidak lagi mampu menahan gempuran batang penisnya. Kedua paha jenjangku melingkari pinggulnya erat-erat,
“Terush..Di....mama udah mau juga!!” erangku tidak karuan, “Aaahh....aahh...aakkhhh!!”
Seiring dengan itu, aku terbangun merasakan air masuk ke hidungku. Aku melihat sekeliling, ternyata aku tertidur di bathtub dan bermimpi main gila dengan anak angkatku sendiri. Nafasku ngos-ngosan, kenapa mimpiku harus seperti itu? apakah itu merupakan perwujudan dari fantasi liarku? Tidak...aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu dengan anak angkatku sendiri, tidak jangan sampai...ini hanya mimpi. Aku segera menyelesaikan mandiku dan berpakaian, namun terus terang mimpi itu masih terngiang-ngiang di ingatanku ketika aku sarapan, Segera aku mencuci piring dan mengerjakan yang lain untuk mengalihkan pikiran tidak senonoh itu.

###
Hari ini rumahku terlihat sepi karena bi Mar, pak Isa dan Ani meminta izin untuk pulang kampung sedangkan pak Rojak mengantar anak dan suamiku, sehingga aku hanya sendirian di rumah. Karena tidak ada pekerjaan akhirnya aku memutuskan untuk menyirami tanaman yang biasanya di lakukan oleh pak Isa, bagiku menyiram tanaman adalah hal yang sangat menyenangkan, sekaligus untuk menghibur hatiku yang kini sedang di timpa banyak masalah yang harus kuhadapi.
“Lisa….” saking asyiknya menyirami tanaman sehingga mebuatku tidak sadar kalau aku kehadiran seorang tamu memanggilku,
“Ferdi…” kataku tersentak kaget saat menyadari siapa yang datang, aku tidak menyangkah kalau akan kembali bertemu dengan mantan pacarku yang dulu sangat aku cintai, walaupun akhirnya aku tidak dapat bersamanya karena kedua orang tuaku menjodohkan aku dengan suamiku yang sekarang,
“Iya, aku Ferdi kamu masih ingat…” katanya lagi meyakinkan diriku, entah kenapa tiba-tiba aku reflek memeluknya dengan sangat erat, rasa rindu yang amat sangat membuatku lupa dengan setatusku yang sekarang
“gimana kabar kamu?” katanya yang membalas pelukanku,
“baik mas… mas sendiri gimana?” tanyaku sambil memandangnya wajahnya yang tetap seeperti dulu selalu ceria
“eehkk… hhmm… kita ngobrolnya di dalam aja mas…” entah kenapa aku merassa malu sekali karena tingkahku yang tiba-tiba langsung memeluknya, sehingga aku memutuskan untuk melepaskan pelukanku
Di dalam ruangan itu aku hanya berdua saja dengan mantan pacarku, kami bercerita dan bercanda gurai layaknya seorang kekasih yang sudah lama tidak bertemu, ternyata Ferdi masih seperti dulu sangat menyenangkaan dan perhatian. Semakin lama obrolan kami menjadi semakin serius sehingga akhirnya aku menceritakan bagaimana kehidupanku yang sekarang di mana aku yang sampai sekarang belum memiliki anak dan sampai akhirnya aku diperkosa dan di ancam oleh pembantuku sendiri, Ferdi terlihat sangat marah saat mendengar cerita dariku, dia tidak menyangka di balik seyumanku yang manis terdapat luka yang sangat dalam,
“Maafin aku mas, karena dulu pernah meninggalkanmu,” aku sudah tidak sanggup lagi untuk menahan air mataku, Ferdi yang mengerti betapa beratnya beban yang harus kupikul langsung memelukku penuh dengan rasa kasih sayang sama seperti saat aku menceritakan bahwa aku sudah di jodohkan oleh kedua orang tuaku dari dulu sampai sekarang dia selalu bisa mengerti keadaanku

“Lis, kamu yang sabar ya, aku yakin kamu pasti bisa melewati semua ini…” dengan sangat lembut Ferdi menghapus air mataku yang meleleh dari kelopak mataku
Ternyata perhatian Ferdi membuat beban yang ku rasakan sedikit menghilang, tatapannya yang penuh dengan rasa kasih sayang membuatku luluh, cinta yang selama ini menghilang kembali tumbuh subur, perlahan Ferdi mendekatkan wajahnya sampai akhirnya dia mencium bibirku yang tipis, ku rasakan jari-jarinya merabahi pahaku yang terlapis celana jins yang kupakai,
“hhmm… sslluuppss…sslluuppss…” aku membalas ciumannya dengan lembut, sedangkan tangannya berusaha membuka kaos yang ku pakai sampai akhirnya melewati kepalaku sehingga bagian atasku hanya tertutup Bh yang berwarna biru langit, dengan sangat pelan Fedi merebahkan tubuhku di atas sofa,
“Ternyata kamu masih seperti dulu, cantik bagaikan bidadari…”pujinya sambil menciumi bagian atas payudaraku
Kupejamkan mataku saat dia melepas kaitan Bh yang kupakai dan melemparnya jauh-jauh seolah-olah dia tidak ingin melihatku memakai benda tersebut. Aku semakin dibuat merinding saat lidahnya mulai mengulum putting susuku, sekali-kali dia mengigit putting susuku secara bbergantian,
“Ahk… Fer… eehhmm….” Aku kini sudah benar-benar terangsang, dia kembali memandangku dengan seyuman yang sangat manis sehingga mebuatku merasa aman dan merelakan semuanya untuknya dan melupakan setatusku sebagai istri orang,
Kini dia kembali menjilati sekujur tubuhku, aku sempat tersentak saat lidahnya membasahi perutku sedangkan kedua telapak tangannya di gunakan untuk memilin putting susuku, aku kembali diam saat Ferdi mebuka resliting celana jins yang kupakai. Perlahan tangannya menarik celanaku seolah-olah ingin menikmati tubuhku dengan perlahan-lahan. Aku sedikit membantunya dengan mengangkat pinggulku agar celana jins yang kupakai dapat lolos dari kakiku. Dia tampak takjub memandang tubuhku yang kini hanya terbalut kain berbentuk segitiga menutupi vaginaku, dia kembali mencium bibirku dengan sangat lembut sedangkan jari-jarinya menyelusup masuk ke dalam celana dalamku. Kurasakan jari-jarinya mulai menggesek vaginaku yang basah oleh cairan cintaku sendiri,
“ahhkk… Fer, hhhmm… entotin aku…” kataku sambil memandangi wajahnya yang tanpak sangat bernafsu ingin meniduriku,
“iya sayang…” bisiknya di telingaku, “kamar kamu di mana?” katanya lagi, tanpa menunggu jawaban dariku Ferdi langsung menggendongku,

Di dalam kamar aku tiduran telentang sedangnkan Ferdi berdiri menatapku yang tergolek pasrah, sambil terseyum Ferdi melepaskan satu-persatu pakaian yang melekat di tubuhnya sampai akhirnya aku dapat melihat penisnya yang kira-kira berukuran 17 cm dan berdiameter 3-4. Dia melangkah mendekatiku, dengan sekali sentakan celana dalam yang ku pakai terlepas dari tubuhku sehingga untuk kedua kalinya aku memperlihatkan vaginaku ke pada orang lain yang bukan suamiku, aku hanya menurut saja saat Ferdi mengangkat ke dua kakiku ke atas pundaknya, perlahan ku rasakan penisnya menggesek bibir vaginaku, dengan tempo yang sangat pelan Ferdi mendorong masuk penisnya ke dalam vaginaku
“Ahk… Fer, enak… uuhhkk…” aku mulai merintih ke enakan saat Ferdi mulai menghentakan penisnya di dalam vaginaku,
“memekmu sempit sekali sayang, aahhkkk…ahhkk…” katanya yang memuji vaginaku
Semakin lama Ferdi semakin cepat menggenjot vaginaku, kira-kira 10 menit berlalu untuk pertama kalinya aku merasa otot-otot vaginaku mencengkrang kuat penis Ferdi di dalam vaginaku. Seluruh tubuhku terasa di aliri listrik saat kenikmatan melandah tubuhku,
“aaahhkk… Fer aku ga kuat…” teriakku saat aku mencapai orgasme pertamaku, Ferdi kembali terseyum memandangku, kini tubuhku di balik menghadap ke samping dengan penis yang masih tertancap di dalam vaginaku,
“sayang kita mulai lagi ya…” aku hanya mengangguk karena tubuhku terasa lemas, dengan gerakan yang sangat cepat Ferdi kembali menghujamkan penisnya di dalam vaginaku,
Kira –kita 15 menit menggunakan gaya ini, perlahan kurasakan penisnya berdenyut-denyut di dalam vaginaku, begitu juga dengan diriku tubuhku terasa bergetar saat orgasme ke duaku mulai mencapai puncaknya
“sayang, aku mau keluar…” katanya sambil membalik tubuhku, kembali ke posisi semula,
“iya aku juga Fer, aahhkk… aahhhkk… cepat Fer…” tiba-tiba kurasakan lahar panas membasahi vaginaku, dan disusul dengan cairan cintaku yang mengalir deras,
“oohhkk…. Eenak sayang, hhmm…” katanya sambil menikmati semburan terakhirnya,
Setelah puas mereguk kenikmatan bersamaku, Ferdi berdiri mengambil tisu membesihkan penisnya yang kotor karena cairan vaginaku. Berkali-kali dia terseyum memandangku sedangkan aku tergolek lemas dengan posisi mengangkang. Kurasakan cairan sperma dan cairan cintaku mengalir bersamaan keluar dari dalam vaginaku,
Entah kenapa tiba-tiba aku seperti tersadar dari mimpi indahku, aku merasa sangat menyesal dengan apa yang kulakukan barusan padahal aku sudah berjanji dengan diriku sendiri tidak akan kembali melakukan tindakan bodoh, hatiku terasa sakit saat bayangan suamiku terlintas di dalam pikiranku sehingga air mataku mengalir mebasahi pipiku.

“Kamu kenapa Lis?” Ferdi mendekatiku sambil membantuku duduk, dengan sangat lembut Ferdi memelukku, “kamu menyesal?” Mendengar pertanyaannya aku hanya diam saja,
“ya sudahlah… semuanya kan sudah terjadi tidak ada yang perlu disesali… “
“Iya Fer, ini semua salahku…” kataku sambil menutupi mukaku dengan telapak tanganku,
“tidak ada yang salah kok” katanya sambil kembali merabai vaginaku yang basah, aku kembali tidak dapat menolak keinginannya.
Perlahan tubuhku kembali di rebahkan di atas kasur yang biasa tempatku melayani suamiku, tetapi kali ini menjadi saksi bisu perselingkuhanku terhadap Ferdi mantan kekasiku,
“Maafkan aku suamiku karena aku telah menodai cinta kita yang selama ini kita bangun dengan sebuah kepercayaan yang tak dapat kujaga dengan baik.”

######
Pak Rojak

Malam semakin larut tetapi mataku tetap juga tidak mau tertutup, perasaan bersalah selalu menghantuiku membuatku merasa tidak tenang, kini aku hanya dapat menangisi diriku yang semakin jauh tenggelam ke dalam jurang hitam, hujan yang mengguyur rumahku menjadi saksi bisu betapa menderitanya hidupku.
Tok….Tok….Took….
“Iya sebentar….” Mendengar ketukan pintu membuat hatiku sedikit berbunga-bunga, aku melangkah mendekati pintu dengan seyuman yang terlukis di bibirku, “papa ko pulangnya….” Suaraku terhenti, seyumanku berubah seketika saat menyadari ke datangan pak Rojak di depan kamarku,
“Ada apa mama… he… he…” dia tertawa sambil memandang tubuhku yang terbalut daster tipis, sehingga tubuh bagian dalamku terlihat jelas karena aku hanya mengenakan celana dalam yang tembus pandang, “malam ini tuan tidak pulang karena katanya ada urusan mendadak, jadi malam ini kita bisa bersenang-senang” tubuhku terasa lemas seolah-olah tulang-tulangku remuk seketika,
Belum sempat aku berkata lagi pak Rojak sudah memeluk tubuhku dengan sangat erat, sehingga sulit bagiku untuk melarikan diri darinya,
“pak cukup, jangan pak…” air mata yang tadi telah terhapus kini kembali membanjiri mataku, kurasakan telapak tangan pak Rojak meremasi bongkahan pantatku dengan sangat kasarnya, sedangkan bibirnya berusaha melumat bibirku yang tipis, tanpa bisa menolak aku hanya dapat pasrah menerima perlakuan darinya,
“sslluuppss…. Hhmm… eehhmm…” lidah pak Rojak menjulur masuk ke dalam mulutku, beberapa kali lidah kami bertemu saling membelit tanpa bisa kutolak,
Setelah pintu tertutup pak Rojak berjalan melewatiku yang berdiri kaku di depannya, dengan santai pak Rojak duduk di atas kasurku sambil memandang tubuhku tanpa berkedip,
“Tolong lampunya di nyalakan, biar tubuh sexsimu semakin terlihat…” katanya santai, tanganku gemetaran saat dengan terpaksanya aku menyelakan lampu, dalam sekejap lampu kamarku menyinari tubuhku yang terbalut daster tipis,
“Bagus-baguss…. Tubuh Ibu benar-benar sempurna, coba sekarang Ibu lepaskan dasternya saya ingin melihat lebih jelas lagi.” Aku masih terdiam sambil menggelengkan kepalahku, tubuhku sudah terasa lelah, air mataku juga sudah tidak mau lagi keluar,
“kenapa diam Bu…. Jangan main-main Bu kalau tidak Ibu tau sendiri akibatnya…”
“i-iya pak…” kataku terbata-bata, dengan sangat terpaksa aku menurunkan tali dasterku sampai akhirnya daster yang ku pakai jatuh ke lantai, payudaraku yang tidak tertutup apa-apa lagi tergantung bebas, sedangkan bagian bawahku masih di lapisi kain segitiga,

“Pak, eehhm… ja-jangan sekarang… badan saya masih terasa capek, saya janji lain kali saya akan melayani bapak…” kataku harap-harap cemas,
“Terus…. Urusannya dengan saya apa Bu?” lagi-lagi pak Rojak menampilkan wajah yang menjijikan…
“Tetenya ga keliatan Bu… tangannya bisa di buka?” katanya lagi sambil menunjuk bagian dadaku yang tetrtutup oleh telapak tanganku, “cepat Bu, sebelum kesabaran saya habis” nada suaranya tidak terlalu tinggi tapi aku sangat mengerti dengan ancamaannya itu,
“I-iya pak…” tanpa bisa berbuat apa-apa aku meneruti ke mauannya, pak Rojak tertawa saat melihat putingku mengeras, pak Rojak tau betul kenapa putingku mengeras memang harus kuakui akhir-akhir ini aku mulai menyukai cara mereka memperkosaku tidak mungkin lebih tepatnya mempermainkanku,
“Ha…ha… bagus-bagus, tanpaknya memek Ibu sudah ga tahaan ya, tapi saabar sebentar ya Bu…” katanya sambil mendekatiku, dari belakang pak Rojak memeluk tubuh bugil kurasakan tangan kanannya menempel di bagian payudara kananku sedangkan tangan kirinya merabahi vaginaku yang basah,
“Ahhkk… pak, eehhmm…” aku hanya dapat merinti sebisa mungkin menahan suaraku agar tidak terdengar keluar,
“Ha…ha… bagaimana Bu enak kan…” tanpa memperdulikan erangaanku jari pak Rojak menyelusuri belahan vaginaku,
“E-enak pak, eehhmm…” aku terpaksa menjawab karena aku tahu apa akibatnya kalau aku melawannya, aku sedikit merenggangkan kakiku saat jaat jari telunjuknya memaksa masuk ke dalam lubang vaginaku,
“jangan malu bu katakan dengan keras saya tidak mendengar,” kini dua jari bersarang ke dalam vaginaku, tanpa hentinya pak Rojak mengobok lubang vaginaku,
“I-IYA PAK… ahkk… ENAK SEKALI… eehhmm…” dia terseyum memandangku,
Tanpa bisa menolak pak Rojak menyuruhku untuk berposisi menungging di atas kasur sambil menggoyang pantatku, beberapa kali pak Rojak menampar pantatku seehing terasa panas,
“ayo bu di goyang terus, he….he… mumpung malam ini suamimu tidak ada di rumah” dengan lancangnya pak Rojak membuka bibir vaginaku, lidahnya yang kaasar terjulur menjilat permukaan vaginaku dari belakang sambil meremas buah pantatku,
“eehkk… hhmm… uuhhkk… aaahhkkk…” vaginaku terasa semakin basah oleh air liur, pantatku terasa bergetar dengan mata terpejam aku menyambut orgasme pertamaku, dengan sangat rakusnya pak Rojak menjilati lendir vaginaku,

Setelah memberiku istirahat sebentar pakk Rojak kembali menyuruhku berubah posisi, kini aku berjongkok di depannya penis pak Rojak yang sudah sangat keras mengancung di depanku, aku yang mengerti keinginannya lasung melahap habis penis pak Rojak,
“oohhkk… terus Bu, eehhm… bibirmu sexsi sekali…. Oouuu… ya begitu Bu enak…” mulut pak Rojak tidak mau diam saat lidahku menjilati permukaan penisnya, sekali-kali aku menggiit kecil kulit penisnya yang kekar, dengan gerakan yang sangat cepat aku mengulum penis pak Rojak dan pada sampai akhirnya pak Rojak mengerang bertanda dia sudah tak tahan lagi dengan bergegaas aku menarik mulutku dari penisnya, tanpa bisa menghindar sperma pak Rojak membasahi wajahku yang putih mulus tanpa noda sedikitpun,
“Uuhhkk… hmm….” Katanya yang masih sempat menamparkan penisnya ke wajahku, tetapi sedikitpun aku tidak berniat untuk menghidar dari tamparan penisnya,
“ternyata Ibu wanita yang baik, buktinya Ibu bisa memuaskan saya dengan hanya menggunakan mulut, luar biasa… semestinya Ibu bangga…” kaatanya panjang lebar, sambil membelai rambutku yang hitam,
“Sudahla pak saya tidak butuh pujian….” Kataku yang menyesali perkataan pak Rojak, selama ini aku selalu berharap suamiku la yang memujiku, tetapi ternyata sekarang malahan pak Rojak yang memujiku,
“Ya… ya… saya tau, kamu hanya membutuhkan kontol saya, hhmm… dasar wanita murahan…” mendengar perkataanya hati semakin terasa sakit, belum sempat aku menjawab pak Rojak telah menarik tubuhku di atas kasur,
“Pak, jangan… “ kataku sambil berusaha merapatkan ke dua kakiku, tetapi pak Rojak tidak tinggal diam dengan sangat kasar pak Rojak menarik kedua kakiku sehingga berposisi mengangkang, tanpa berkata lagi pak Rojak menempelkan penisnya di depan bibir vaginaku,
“oohhkk… saya heran kenapa memekmu masih saja sempit…” dengan sangat keras pak Rojak menghentakan penisnnya ke dalam vaginaku sehingga teraasa sakit,
“eehkknngg…. Pak sakit…aauuu… perih pak… pelan-pelan,” pintaku sambil mengangkangkan kedua kakiku agar tidak terlalu sakit, dengan tempo yang sangat pelan pak Rojak menggenjot vagianku,
“kalau sekarang gi mana Bu masih sakit…” katanya yang terus memompa vaginaku, payudaraku yang bebas bergoyang turun naik mengikuti irama…

“Me…mendingan pak… eehhkk… hhhmm… pak.. aauu….” Jawabku di sela-sela nafas yang memburu, melihat kedua payudaraku menganggur pak Rojak langsung melumat habis putting susuku dengan bibirnya yang tebal,
“aauu… pak… penisnya aahhkk…” kataku manja saat pak Rojak denggan sengaja menghantamkan penisnya dengan keras ke dalam vaginaku
Melihat reaksi tubuhku pak Rojak semakin bersemangat memompa vaginaku, setelah beberapa menit aku kembali mengerang saat orgasme melanda tubuhku. Pak Rojak yang merasa belum puas, membalik tubuhku berposisi aku di atas dan pak Rojak di bawah, kini giliran aku yang mengontrol tempo permainan dengan sangat cepat aku menggerakan pinggulku ke kiri dan ke kanan, ke atas dan ke bawa,
“ouu.. pak aku sudah mau sampai eehhmm….” Gerakanku semakin cepat bertanda aku sudah mau keluar,
“bareng Bu… bareng…” katanya sambil ikut menggerakan penisnya di dalam vaginaku, dalam hitungan detik vaginaku terasa panas karena cairan cintaku bertabrakan dengan sperma pak Rojak yang kental,
Tubuhku tergeletak tak berdaya di atas kasur, sempat terlihat bayangan pak Rojak yang keluar dari dalam kamarku. Sungguh gila ketika kurengungkan semuanya, istri macam apa aku ini? aku menikmati diperkosa para pembantuku dan juga berselingkuh dengan mantan kekasihku dulu. Apakah aku harus mengaku pada suamiku atau terus menyimpan semuanya sehingga menjadi bebanku. Aku letih, aku belum mau memikirkan lebih jauh lagi. Kupejamkan mataku berharap semua yang telah terjadi pada hari ini dapat terlupakan saat matahari kembali terlihat

By: Lintang Cahaya

Tuesday, April 28, 2015

The Magic Remote ESCIT

Carmadi / Camad

Carmadi atau akrab disapa Camad atau juga biasa dipanggil “cawet oleh teman-teman SMP nya adalah pemuda pengangguran setelah dia lulus SMA, umurnya sekarang 19 tahun, umur-umur emas untuk seorang lelaki mencari wanita idamannya, tetapi Camad belum sekalipun mempunyai pacar. Jangankan pacar, teman wanita pun dia tak punya, sifatnya sebenarnya baik, dia suka menolong tanpa pamrih bahkan waktu SMA dia suka disuruh temannya untuk membelikan es ke kantin depan yang jaraknya jauh dari kelasnya, dia pun rela tanpa mengharap uang kembaliannya tau pamrih sedikit pun . Sejak kecil memang Camad sudah terbiasa dengan cobaan hidup, dia tinggal dirumah gubuk kecil di sebuah gang sempit yang penuh sesak oleh warganya, padahal sebenarnya dia adalah keturunan konglomerat, bapak Camad adalah anak dari salah satu mentri yang pernah menjabat di era orde baru, tetapi bapak Camad sudah tidak dianggap sebagai keluarga lagi karena dia memilih tinggal bersama istrinya sekarang yang notabene adalah anak dari pembantu di keluarga konglomerat itu, bapak Camad justru memilih hidup sederhana dengan istrinya ketimbang melanjutkan karir bapaknya. Orang tua Camad sudah mengajarkan pentingnya keikhlasan dalam hidup walaupun Camad belum sepenuhnya bisa mengerjakannya secara utuh.

#######################

Di sebuah galaxy yang jauh dari bumi, sedang terjadi krisis yang sungguh mengenaskan sudah 500 tahun krisis ini belum teratasi
“kamu tau sebenarnya inti permasalahan kita Feelix” kata Vendetta, ratu di salah satu kerajaan di planet Ibbilmobis bernama Yggitgard
Secara garis besar planet Ibbilmobis mempunyai 3 kerajaan besar yang saling berseteru, 3 kerajaan itu mempunyai masalah yang sama dan beberapa orang berpikir jika 3 kerjaan itu mau bersatu maka krisi ini akan berakhir maka ada beberapa kelompok sekutu yang menginginkan adanya perdamaian ini.
“menurut saya kita kurang kaya, ratu” kata Feelix, seorang laksamana muda terbaik di kerajaan itu
Dia sudah menjabat expert ensign ( jabatan tertinggi kekaisaran di Yggitgard ) saat umurnya belum genap 17 tahun.
“ Apa maksud kamu bodoh !! kau masih saja menganggap air dari bumi bisa membuatkita kaya, bisa membuat semuanya beres hah ?” bentak Vendetta
“Maafkan saya ratu tetapi menurut saya rakyat kita kurang kuat, asupan gizi mereka kurang, mereka kurang cerdas, karena kita masih kurang dalam pemberdayaan Sumber Daya Alam, kita harus memberi air dari bumi yang masih bersih agar SDA kita bagus dan kerjaan lain akan iri kepada kita” terang Feelix,
Ternyata kata-kata Feelix “kerajaan lain akan iri kepada kita” memekakan telinga ratu Vendetta
“oh.. jadi begitu menurutmu. Saya sekarang setuju padamu. Setelah terang pergilah ke bumi kerdilmu itu kita kuras air dan buat kerajaan lain iri pada kita hahahahah..” kata Vendetta
“baik ratu ” jawab Feelix singkat
“ingat Feelix! Kerajaan lain akan iri kepada kita “ tawa Ratu Vendetta semakin keras
Feelix tidak menjawab dan segera berlalu.

#################################

Secara fisik Camad orangnya krempeng, kulitnya hitam dekil, wajahnya penuh jerawat, Camad memiliki sahabat bernama Jeki, Jeki adalah teman Camad sejak SMP, Jeki juga yang memulai panggilan “ Cawet “ pada Camad. Saat SMA Jeki pernah meminjami Camad VCD porno yang baru dibelinya karena takut ketahuan makanya dia titipkan pada Camad, Jeki pun pernah mengajak Camad nonton bareng di rumahnya. Sejak saat itu, Camad jadi gila sex, dia suka membayangkan dirinya bersetubuh dengan wanita, mungkin sudah ratusan wanita yang sudah menjadi objek bayangan Camad. Pada pagi menjelang siang, ibu Camad membangunkan Camad yang masih tidur
“Mad, mbok sana, kamu pergi cari kerja kek, ojo tidur terus, emange ada cewek sing gelem sama orang sing tidur terus pantesan kamu jomblo” kata ibu Camad
Tumben-tumbenan ibu Camad menyinggung soal wanita biasanya ibu Camad tidak pernah bicara masalah wanita dengan Camad. Ibu Camad walaupun umurnya sudah 40 tahun namun masih tampak muda, badannya masih bagus bahkan buah dadanya yang 38C itu masih segar dan kencang.
“cari kerja opo to buk ? wong aku Cuma lulusan SMA, saiki susah bu cari kerja wong sing sarjana juga akeh sing pengangguran opo maneh aku” jawab Camad yang masih mengantuk.
“iyo, opo maeh kamu sing kerjaane turu tross” kata ibu Camad.
“wes, sana cari kerja dulu, kalo kamu mau berusaha pasti akan ada jalan, wong ibu doain kamu terus “ lanjut ibu Camad.
Setelah didesak oleh ibunya akhirnya Camad mau pergi cari kerja dengan bekal ijazah SMA dan piagam juara ngaji tingkat kelurahannya itu, Camad pergi berkeliling untuk mencari kerja.

######################

Hari sudah mulai terang, pesawat baru jenis cosmos R27-6113-23 Planetoid produksi Emblem ( sebuah produsen pesawat dari planet Tornheim yang sudah terkenal di seluruh galaxy kecuali galaxy milkyway ) pesawat ini baru di produksi 3 buah namun kerajaan Yggitgard sudah memiliki karena ratu Vendetta yang haus akan pujian sudah ingin menyombongkan ini pada kerjaan lain, pesawat ini belum pernah diuji sekalipun bahkan pesawat ini masih diragukan dapat melewati atmosfer bumi yang sangat keras. Namun, sudak tidak ada penghambat lagi, expert ensign Feelix sudah bersiap di kapal itu, dia sudah bersiap meluncur dengan membawa misi yang tampak mudah yakni “menguras bumi”. Perjalanan sudah dimulai semua berjalan mulus bahkan kecepatan pesawat ini melebihi kecepatan pesawat yang biasa digunakan oleh Feelix, namun dengan kecepatan ini ceroboh sedikit akan berbuah fatal. Dan mimpi buruk yang sudah diramalkan sebelumnya terjadi juga. Pesawat Feelix gagal menembus lapisan atmosfer bumi dan membeku juga kehilangan kendali, mesin mati membuat pesawat jatuh bebas dari ketinggian, sekarang yang Feelix hanya mengharap dirinya tidak mati dan pesawatnya tidak jatuh dikeramaian agar kabar alien tetap menjadi misteri di bumi.

#########################

Camad sudah berkeliling hampir seharian, keteknya sudah berair, wajahnya berminyak dan semakin gosong
“haduuhhhh.. pancen emang ngluru kerjaan angel kabeh pake persyaratan fisik, kenopo fisikku sama sekali ora mlebu kriteria, iku namane rasis “ gerutu Camad dalam hati “coba aku ganteng, tinggi, berotot rak usah angel dadi gigolo pun aku gelem “.
Tiba-tiba Camad melihat asap di kejauhan, Camad langsung lari ingin melihat apa yang terjadi. Camad langsung kaget melihat sebuah pesawat berbentuk piringan hancur gosong dan dia juga melihat seorang berbadan tegap, berambut pirang tergeletak dan tampak luka bakar parah. Camad langsung menghampiri orang itu dan hendak menolongnya
“waduh. Bule maneh iki ngomonge piye ? Aku lapor pak RT wae ki “ kata Camad setelah melihat wajah Feelix, tapi tiba-tiba Camad yang hendak pergi lapor pak RT tangan Camad dipegang oleh Feelix
“ a................ir....” kata Feelix terbata-bata “hah? Air , mister haus butuh air?” kata Camad
Lalu Camad membuka tasnya dan mengambil sebotol air putih
“ini mister” kata Camad sambil menjulurkan tangannya ke Feelix. Feelix tidak meminum air itu namun dia menyiramkan air itu ke seluruh badannya. Dengan ajaibnya seluruh luka bakar yang dialami Feelix langsung kering tubuhnya langsung segar seperti tidak pernah terjadi apa-apa
“Sungguh dahsyat air suci ini” kata Feelix.
“mister , mister ora opo-opo ehhh.. gak apa-apa?” Camad tampak bingung dengan orang yang baru ditemuinya itu
“tidak, apa-apa” Feelix tersenyum dan langsung memeluk tubuh Camad.

Camad berontak “Mister, homo ya ?” bentaknys
“Tidak-tidak, maafkan saya, itu cuma tanda terima kasih saya, karena kamu telah menyelamatkan nyawa saya” kata Feelix
“yowes, saya maafkan tapi kalo sampe main peluk-peluk lagi awas lho” jawab Camad pada Feelix
“eh, mister, sebenernya mister siapa sih ? mau kemana ? trus kalo pesawatnya udah begini gimana pulangnya ?” tanya Camad
“gak apa-apa kok, aku bisa memanggil untuk dijemput” jawab Feelix
“terus, mister itu siapa dan mau ke mana ?”tanya Camad lagi
“kenalkan saya Feelix, saya dari planet Ibbilmobis” jawab Feelix
“hah? Iblis, mister iblis? ...” Camad tampak bingung dengan apa yang di katakan makhluk di depannya
“bukan, bukan, saya bukan iblis, saya Feelix, Feee.. lixxxx saya dari Ibbilmobis ibb.. bill mobis.. saya kesini dengan tujuan damai” jawab Feelix berbohong
“Ibbilmobis kui nang ndi ?” tanya Camad yang belum mengerti-mengerti
“Ibbilmobis itu diluar sana, saya dari planet lain selain bumi yang kamu tempati ini” jawab Feelix
“ohh... jadi mister iku alien” Camad menanyai Feelix lagi
“lebih tepatnya makhluk Nordics tapi bukan manusia” jawab Feelix
“oke.. walaupun saya masih bingung, kenalin saya Carmadi, mister bisa panggil saya apa saja, saya ikhlas mau Camad atau niru temen saya yang namanya Jeki kalo manggil saya Cawet” kata Camad sambil menjabat tangan Feelix seperti orang berkenalan
“hahaha.. oke.. aku panggil kamu savior aja karena kamu sudah menyelamatkan aku atau Jon saya dulu punya teman namanya Jon dia baik seperti kamu ” kata Feelix sambil tertawa
“terserah mister aja. Saya kan udah bilang saya ikhlas dipanggil siapa aja” kata Camad pada Feelix
Camad sudah mulai senang dengan Feelix, dia sudah tidak bingung seperti awal pertemuannya
“mister, lebih baik kerumah saya aja ngobrolnya, masak di semak-semak gini, nanti dikira pak RT kita lagi mesum” lanjut Camad

############################

Di sebuah lab pengontrol, bunyi alarm berdengung sejak tadi
“ada apa ini ? ada apa dengan Feeelix? ” kata Vendetta yang tampak gelisah dengan bunyi alarm “danger” ini.
“maaf ratu, tapi kami kehilangan sinyal dari pesawat Feelix dan kemungkinan pesawat hancur karena kita tidak dapat melacak” kata Devian, salah satu crew overseer
“AHHHHHHHHHHH!!!!!! SIAL! Sekarang ada dimana Feelix? ” kata Ratu Vendetta, suaranya sangat keras karena kemarahannya
“kita tidak tahu ratu, kita belum dapat sinyal S.O.S dari Feelix atau mungkin dia sudah mati” terang Devian yang agak takut dengan kemarahan ratunya.
Ratu sudah tidak berkata-kata lagi, dia gelisah sambil mondar-mandir, semua crew overseer juga terdiam tidak ada yang berani mengeluarkan kata-kata sedikitpun
“kirim tim pencari sekarang” kata ratu Vendetta memecahkan keheningan
“tapi, kita sudah tidak punya pelacak jarak jauh lagi ratu, dan hal yang sangat riskan bila kita menggunakan pesawat biasa kita bisa-bisa diketahui oleh para manusia, yang bisa kita lakukan adalah menunggu Feelix memencet tombol S.O.S atau ada manusia yang menemukan Feelix dan memencetkan tombol S.O.S” terang Devian lagi
“jadi.. semua ini gagal !” kata ratu Vendetta, dia sudah lemas, pikirannya sudah kacau di hanya terduduk di tangga lab “ “AAAAAAAAHHH...sial!!” teriak sang ratu memekakan telinga.

####################

“Ini rumah saya, mister. Maaf kecil tapi disini banyak kebahagiaan kok” kata Camad pada Feelix.
Sesampainya dirumah Camad. Camad memperkenalkan Feelix pada ibunya
“oh iya mister, ini ibu saya. Bu, ini mister namanya Filits” kata Camad
“bukan, Feelix fee lixx” kata Feelix memperjelas
“iya, itu” tambah Camad.
“Salam kenal ya Feelix” kata ibu Camad sambil menjabat tangan Feelix, tapi tiba-tiba ibu Camad jatuh
“eh.. kenopo bu? “ tanya Camad heran
“tidak tahu mad, tiba-tiba ibu lemes banget” kata ibu Camad yang memang tampak lemas
“gak apa-apa kok, ibu kamu tidak apa-apa kok” Feelix menimpali,
“oh ya udah kalau begitu, ibu istirahat aja di kamar” kata Camad pada ibunya
“ya udah, ayo mister ke kamar saya” lanjut Camad.
Sesampai di kamar Camad, Feelix nampak jijik dengan kotor dan sempitnya kamar Feelix tapi dia hanya diam saja tanpa berkata pada Camad
“eh mister, kok mister bisa tau ibu saya nggak apa-apa, emang mister bisa nerawang atau mister bisa tau penyakit-penyakit, mending mister tinggal disini aja, disini, dokter bisa kaya” kata Camad.
Feelix tersenyum pada Camad lalu ia mengambil sesuatu dari kantong celananya, sesuatu itu berbentuk persegi panjang gepeng dengan berbagai tombol
“Ini nih..” kata Feelix sambil menunjukan benda itu pada Camad “itu apa, mister? Itu bukannya remot TV” kata Camad
“bukan, ini bukan sembarang remot ini namanya ESCIT, ini remot bisa bahaya kalau jatuh di tangan yang salah, maaf tadi ibu kamu saya kerjai” terang Feelix.
“APA? POKOKNYA MISTER HARUS BERTANGGUNG JAWAB SAYA GAK IKHLAS tapi emang itu apa sih, mister saya masih nggak ngerti” kata Camad marah tetapi lalu heran

“ayo keluar aja aku tunjukkan cara kerjanya” kata Feelix
“Ini kan ada 4 tombol, setiap tombol punya fungsi yang berbeda-beda” kata Feelix pada Camad
Camad tampak terkesan dan penasaran dengan alat yang dibawa oleh Feelix
“oke contoh kita pencet tmbol yang merah, ayo pegan bareng-bareng remot ini” kata Feelix.
Feelix dan Camad bersama-sama memencet tombol merah di remot itu. Tiba-tiba semua orang di sekitarnya berhenti bahkan air yang tumpah tetap mengambang tidak terjatuh
“ini, tombol merah untuk stop timer, kita bisa menghentikan waktu dengan memencet tombol merah di remot ini, semua orang, semua hewan, dan semua benda akan berhenti kecuali orang yang megang remot ini” terang Feelix pada Camad
“wow.. ” Camad tidak bisa berkata-kata lagi, dia hanya terkagum dengan alat yang dibawa oleh Feelix
Dia langsung punya banyak rencana yang ingin dia lakukan dengan alat ini termasuk menggunakan alat ini untuk memuaskan nafsu birahinya
“kalau udah selesai, kita pencet tombol merah lagi dan semua akan berjalan normal” kata Feelix, dan benar saja saat Feelix memencet tombol merah itu lagi, semua orang kembali berjalan, air kembali tumpah.
“coba yang kedua mister, coba yang kuning “ kata Camad penuh gairah
“kalau yang kuning namanya hypnotized, kamu pasti sudah tau kan hypnotized, kita bisa mempengaruhi orang untuk melakukan orang jika kamu memencet tombol ini, ayo kita coba” kata Feelix.
Dan setelah Feelix memencet tombol kuning di remot itu untuk membuktikan cara kerja dari tombol itu Feelix menyuruh anak kecil yang sedang bermain di sekitar rumah Camad untuk membelikan minuman di warung jalan besar yang jaraknya agak jauh. Benar saja, anak kecil itu membelikan Feelix minuman tanpa minta dibayar sama sekali padahal biasanya anak itu susah disuruh, jangankan gratis, dibayar pun ia susah disuruh.

Camad sangat menginginkan alat itu, fantasynya sudah liar, dia sudah tidak sabar karena mimpinya untuk menyentuh wanita sudah selangkah lagi menjadi nyata.
“terus yang ketiga yang ijo itu untuk apa?” kata Camad ang tambah heboh
“ini namanya invicible” kata Feelix seraya menekan tombol itu lalu tiba-tiba menghilang di depan Camad
“Loh, mister kok ngilang SIALAN!” kata Camad yang tampak sangat kecewa, bayangannya tentang wanita buyar, dia mengira kalau Feelix pulang ke alamnya tapi tiba-tiba Feelix kembali muncum di depan Camad
“ini gunanya untuk menghilang kalu kamu mencet tombol ini, kamu tidak akan terlihat oleh siapapun” terang Feelix sambil tersenyum
“yang terakhir, singkat saja tombol berwarna putih ini, untuk menetralkan pikiran, jadi seseorang di hadapan kamu akan lupa dengan hal yang barusan dia lakukan”.
Selesai menunjukan hasil peradaban di planet Feelix, Feelix kembali masuk ke rumah Camad
“Mad, sudah ya, terima kasih atas segala bantuannya, saya mau pulang tapi saya janji, saya akan kembali lagi” Feelix berpamitan pada Camad dan memencet tombol SOS untuk dijemput.
“tapi mister, boleh saya minta satu permintaan saja” kata Camad memelas
“apa mad?” tanya Feelix
“saya minta alat itu untuk kenang-kenangan” kata Camad “plisssssssss” lanjut Camad sambil berlutut
“ehmmm” Feelix berpikir, dia takut Camad melakukan kebodohan dengan alat itu, seperti leluhurnya yang meninggalkan barang-barang disini dan disalah gunakan “oke, saya anggap kamu orang baik, jangan sampai disalahgunakan ya” kata Feelix “ tapi kamu harus diregistrasikan dulu, nanti setelah kapal penjemput saya datang, kamu ikut saya dulu untuk mendaftarkan kamu “ lanjut Feelix.

#################

Tiba-tiba lab berdering keras, Ratu Vendetta yang sedari tadi hanya terduduk mulai bangun
“sinyal SOS Feelix, Ratu” kata Devian pada ratu,
“cepat kamu pimpin penjemputan kapal itu kalau bisa dengan bangkai Feelix” kata ratu Vendeta yang mengira Feelix sudah mati.
Dengan menggunakan pesawat khusus rescue, Devian memimpin pasukannya untuk misi penjemputan kapal Feelix. Setelah kapal sampai di bumi, Devian kaget karena bunyi sinyal SOS dari Feelix tidak ada tanda-tanda bekas pesawat jatuh, tidak ada bangkai pesawat yang ada hanya pemukiman padat penduduk di sebuah gang kecil.
“apa-apaan ini ?” kata Devian dalam hati “apakah ada manusia yang mengambil dari pesawat Feelix, tapi dimana bangkai pesawatnya ?“
“Sebaiknya kita masuk saja ke rumah itu, kita menyamar sebagai manusia.” Kata Devlin, saudara kembar Devian yang menjadi co-pilot pesawat rescue
“oke kamu yang turun, saya tunggu disini” kata Devian menyuruh Devlin.
Setelah berganti pakaian seperti manusia biasanya Devlin turun dari pesawat menggunakan sinar hijau. Devlin masuk saja ke rumah Camad tanpa salam dan permisi, dia langsung masuk ke kamar Camad. Betapa kagetnya Devlin melihat Feelix ternyata didapatinya masih hidup
“Feelix!” teriak Devlin
Feelix bangun dan langsung memeluk Devlin,
“dimana kapalnya Feelix” kata Devlin,
“ada disekitar 16 mil ke barat dari sini, ayo saya tunjukan, ayo Camad kamu juga ikut” kata Feelix
“sebentar” tahan Devlin, dia lalu menggunakan alat sejenis walky-talkynya untuk menghubungi Devian supaya mengikutinya dari atas.
Sesampainya di tempat bangkai kapal pesawat Devian langsung mengangkut bangkai pesawat dengan sinar hijau, mudah sekali seperti alat penyedot debu.
“tunggu devlin, sebelum saya pulang, saya ingin meninggalkan ESCIT untuk Camad sebagai kenang-kenangan, saya berhutang nyawa padanya” kata Feelix,
“tapi, apakah kamu yakin dia tidak menyalahgunakan alat itu?” tanya Devlin
“saya yakin, dia orang baik” kata Feelix meyakinkan “baiklah kalau itu mau kamu, ayo manusia, kita ke kapal dulu kamu harus diregistrasi”
Di dalam kapal Camad tertegun melihat banyak barang canggih yang belum pernah ia lihat seebelumnya bahkan dalam film,
“oke John Savior, mari masuk” kata Devlin pada Camad
Camad bingung dengan yang dikatakan Devlin, siapa John Savior, tapi dia tidak terlalu memikirkan itu, yang ada dibenaknya adalah remot itu. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan dari pengambilan DNA, sidik jari dan lain-lain, remot ESCIT sudah resmi milik John Savior ( Camad ). John Savior adalah nama pemberian Feelix untuk Camad kaarena dia sudah menyelamatkan nyawanya.
“sebagai penutup, saya akan membacakan beberapa pantangan untuk alat ini, yang pertama, jangan untuk hal bersifat komersiil, kedua, jika digunakan jangan sampai orang bisa menaruh kecurigaan, contoh jika kamu gunakan untuk sex, jangan biarkan korban kamu tetap telanjang, bereskan dan bersihkan dulu, ketiga, yang paling penting jangan sampai ada orang yang tahu. Jika kamu sudah melanggar dua saja peraturan itu, alat ini akan kami ambil. Mengerti John Savior?!” terang Devlin pada Camad
“mengerti pak !” jawab Camad singkat.

#########################

Tiba-tiba Camad langsung berada di kamarnya, ibunya datang dan membangunkannya untuk mencari kerja, dia tidak asing dengan suasana ini, dia seperti mengalami dejavu
“mad, mbok sana, kamu pergi cari kerja kek, ojo tidur terus, emange ada cewek sing gelem sama orang sing tidur terus pantesan kamu jomblo” kata ibu Camad.
Camad bingung dengan perkataan ibunya, bukan karena ibunya membahas tentang wanita, tapi bukannya ibunya sudah mengakatakan itu tadi pagi
“bu, iki jam piro toh?” kata Camad
“iki wes jam 10 mad, cepet mandi cari kerja, terus ini tadi ada kiriman, katanya dari filits di iblisiblis” kata ibu camad menyampaikan.
Camad cepat-cepat membuka kotak itu yang ternyata berisi remot ESCIT, dengan segera ia memencet tombol merah untuk membuktikan kekuatan itu, atau apakah tadi cuma mimpi. Dan ternyata semua itu bukan mimpi, saat Camad menekan tombol stop timer semua disekelilingnya diam termasuk ibunya yang ada di depannya. Camad kembali menekan tombol merah untuk menetralkan kembali keadaan. Dengan semangat, dia langsung lompat dari ranjang dan bersiap berburu mangsa, dengan kedok mencari kerja. Camad mengawali hari dengan pergi ke sebuah bank, dia berharap supaya dia diterima kerja sebagai satpam, karena dengan menjadi satpam camad akan melihat banyak nasabah-nasabah seksi bahkan karyawan bank itu sendiri. Jam 11 bank tampak sangat ramai, tidak ada orang yang memedulikan Camad, semua sibuk dengan kerjaan mereka sendiri, tapi ada seorang wanita cantik, berwajah oriental, rambutnya agak kemerahan, badannya seksi sekali dan baunya bikin Camad semakin nafsu. Wanita itu adalah Venny, seperti name tag yang tertera di bagian kanan dadanya, dia adalah salah satu karyawati di bank tersebut.
“maaf pak, ada yang bisa, saya bantu?” sapa Venny ramah
“ini mbak, saya mau melamar kerja jadi satpam” kata Camad lembut
“oh .. tapi disini tidak ada lowongan kerja, silahkan cari ditempat lain” jawab Venny singkat dan langsung meninggalkan Camad.
Camad yang sakit hati dengan perlakuan Venny langsung berpikir untuk menggunakan alat itu untuk mengerjainya, dikeluarkannya alat itu dari sakunya. Kemudian dipencetnya tombol merah sehingga semua orang menjadi diam termasuk Venny
“aha...kena lo sekarang, makanya jadi orang jangan sombong” kata Camad memandang Venny yang telah mematung.
Camad memeluk tubuh Venny dari belakang, aroma parfumnya dan halus rambutnya yang tergerai panjang membuat Camad semakin bernafsu. Buah dada Venny diremasnya halus sambil menggeek-gesekan penisnya di pantatnya yang masih tertutup rok, lalu Camad merapikan rambut Venny ke samping, lehernya sekarang terlihat oleh Camad, dijilati leher Venny sampai ke telinga. Setelah itu, Camad membuka blazer dan kemeja yang digunakan oleh gadis itu sehingga sekarang tinggal BH nya yang masih menutupi tubuh atasnya, tapi Camad tidak buru-buru, dia ingin menikmati sensasi Venny. Didudukannya Venny ke kursi panjang untuk mengantri, dia lalu melepaskan celananya, penisnya yang sedari tadi ingin keluar, tegak kokoh berdiri, Camad lalu membuka mulut Venny dan memasukkan penisnya dalam-dalam ke mulut gadis itu. Dipeganginya kepala Venny lalu ia mulai menggerakan pinggulnya maju-mundur seperti bersetubuh, gerakannya semakin lama semakin kencang hingga akhirnya Camad tidak tahan lagi dan memuncratkan air spermanya di dalam mulut Venny
Venny

“Uuuhhh...sip tenan!!” erangnya saat mengeluarkan cairan putih kental di mulut gadis itu, cairan itu sangat banyak sampai meleleh keluar ke pinggir bibir Venny.
 Camad merasa lemas setelah keluar di mulut Venny, namun dia tentunya belum ingin menyelesaikannya. Ditepuknya pipi Venny, tak ada reaksi, lalu ia mencium bibirnya setelah mengelap spermanya yang berleleran di mulut gadis itu. Dikulumnya bibir Venny yang tipis dan berlipstik pink itu dengan sangat bernafsu.  Gadis itu tetap diam seperti juga orang lain di bank. Dia lalu mencopot BH serta stocking dan CD Venny. Sekejap kemudian terpampanglah seluruh tubuh seksi sang karyawati cantik itu, telanjang bulat terduduk di bangku. Pertama kali ia melihat payudara dan vagina wanita secara langsung. Camad tersenyum puas, nafsunya makin menggebu-gebu menatap kemolekan tubuh bugil Venny. Perlahan dielusnya paha gadis itu, sungguh lembut dan hangat, rabaannya semakin naik menuju selangkangan. Camad kembali bersemangat, penisnya kembali tegak, badannya kembali segar. Dia berlutut di lantai dan membuka kedua kaki Venny sehingga terpampanglah vaginanya yang kemerahan di tengah kerindangan bulu-bulu hitamnya. Camad meraba sekelilingnya, menyentil klitorisnya, bahkan mencoba memasukkan telunjuknya ke vagina Venny. Supaya lebih leluasa, dibukanya mulus itu lebih lebar lagi, hingga posisi gadis itu sekarang mengangkang lebar. Diciumnya vagina yang terawat dan rapat itu, dijilati dan dikocoknya dengan ganas. Makin lama terasa vaginanya makin basah, Camad terus mempermainkan daerah sensitif itu hingga mengeluarkan cairan kewanitaan. Tapi ia tidak ingin berlama-lama dengan vagina Venny. Sebentar kemudian Venny lalu ditidurkan dan kakinya diangkat ke atas. Dielus dan diurutnya penisnya yang sudah mengeras itu sambil memandangi takjub pada tubuh bugil Venny, terutama kemaluannya yang merah merekah siap untuk dinikmati. Ia mengarahkan penisnya ke vagina gadis itu dan perlahan ditekannya masuk, rasanya sesak walaupun keliatan sudah tidak perawan. Pelan dan bleshhhhhhhhhhhh..., gerakan maju-mundur, diteruskan sambil melumat bibir Venny.  Ia terus menggenjot sambil tangannya meremas lembut kedua buah dada karyawati bank yang cantik itu. Puting susunya terasa makin mengeras di jari-jarinya. Pinggul Camad naik turun, penisnya terus menggesek dinding vagina Venny yang makin berdenyut mengepit penisnya. Camad memandangi wajah manis Venny, diam tidak berubah, seperti patung namun hidup, tentu akan lebih seru menyaksikan wajahnya merintih-rintih keenakan, namun dalam stop mode tidak mungkin. Walau demikian, Camad sangat puas karena sangat menikmati tubuh sintal dan remasan vagina gadis itu pada penisnya yang juga berarti melepaskan keperjakaan pada gadis ini. Bosan dengan gaya itu, Camad mengubah posisi Venny menjadi doggystyle di lantai. Ia mengeluarkan dulu penisnya yang sudah berlumuran cairan cinta, lalu disundul-sundulkannya di sekitar bibir vagina gadis itu. Kepala penisnya menggosok klitoris Venny menimbulkan sensasi geli pada wilayah itu. Jariinya menguakkan bibir kemaluan Venny dan dibimbingnya penisnya ke lubang surga dunia itu. Ditekannya kepala penisnya hingga melesak masuk sambil meremas payudara Venny yang menggantung. Camad pun memasukkan seluruh batang penisnya ke dalam vagina gadis itu. Ia menarik setengah penisnya, sesaat kemudian ia hujamkan penisnya sekuat tenaga sehingga badan Venny tergoncang. Camad terus menggenjot dan membuka pahanya lebih lebar. Dia senang melihat penisnya keluar masuk di lubang kemaluan karyawati bank itu. 10 menit berlalu, Camad heran dengan kekuatannya, biasanya dia masturbasi tidak sampai 2 menit tapi sekarang selama ini dia masih sanggup. Akhirnya Camad pun merasakan penisnya akan segera menyemprotkan cairannya, ia memegang kedua buah pantat Venny kuat-kuat, hujaman terakhir menancap sangat dalam dan saat itulah penisnya memuntahkan sperma yang banyak dan kental ke dalam rahim gadis itu. Nampak sperma yang sudah bercampur cairan cinta mengalir membasahi sekitar daerah kemaluannya. Camad langsung merasa bersalah dia takut Venny hamil, sehingga ia langsung membersihkan tubuhnya dan tubuh Venny dengan tisu, lalu ia memakaikan kembali pakaian Venny yang sudah berantakan.
Rani
Camad sebenarnya sudah mau lari keluar dan memencet tombol merah kembali agar keadaan kembali menjadi normal. Tapi perhatiannya tiba-tiba tertuju pada seorang customer service yang tengah melayani seorang bapak. Gadis itu nampaknya lebih dewasa dari Venny, rambutnya disanggul rapi seperti wanita kantoran pada umumnya. Ia terdiam dalam posisi sedang tersenyum dan menyerahkan selembar formulir ke si bapak. Dengan tersenyum mesum, Camad mendekati wanita itu, ia naik ke belakang meja dan memperhatikan wanita itu dari dekat. Sama seperti Venny, aroma parfum yang dipakainya pun berkelas dan mengundang gairah. Pada name-tagnya tertulis namanya, Rani. Camad meraih buah dadanya dan meremasnya, empuk...lumayan besar. Lalu ia mempreteli satu-satu kancing blazer dan kemejanya hingga terlihat bra hitam di baliknya. Dengan agak buru-buru ia menyingkap cup bra Rani ke atas dan mulailah ia meremas-remas payudara kenyal berukuran sedang itu.
“Huehehehe...ini baru namanya toked” kata Camad dalam hati sambil menarik ke atas tubuh Rani hingga berdiri, “eeemmm....nyusu dulu ah!” mulut Camad melumat payudara kiri Rani dengan gemas sementara tangannya mulai gerayangan di tubuh customer service itu.
“Hehehe....apa lo!?” katanya pada si bapak di depan yang menjulurkan tangan hendak menerima formulir, tatapan pria itu kosong seperti patung “sirik ya?”
Camad kini berpindah melumat payudara kanan Rani, tangannya meremasi yang kiri, sementara tangan satunya menyingkap rok selutut gadis itu dan merabai paha mulusnya. Puas mengenyoti payudara Rani selama beberapa saat, kini ia sandarkan kedua tangan gadis itu ke meja dan menunggingkan pantatnya. Celana dalam hitam yang dipakai gadis itu ia peloroti hingga selutut.
“Saatnya jos lagi!” kata Camad mempersiapkan penisnya memasuki vagina Rani dari belakang.
“Uuuuhh” Camad melenguh, tubuhnya mengejang ketika penisnya merojok sedikit paksa ke dalam vagina Rani yang cukup sempit, tubuhnya bergetar hebat menahan rasa nikmat
Sesaat kemudian, ia sudah mendesak-mendesakkan penisnya dalam-dalam, sampai selangkangannya bergesekan dengan buah pantat Rani yang lembut. Tubuh Rani terdorong maju mundur, tangan Camad mendekap kuat-kuat pinggul customer service itu kemudian dihantamnya kuat-kuat lubang vagina gadis itu sambil menarik-narik pinggulnya.
“Mantap nih memek he he he….” Camad mengayunkan batang kemaluannya dengan lebih liar dan brutal
Ekspresi wajah Rani tetap tersenyum kaku, namun di dahinya mulai basah oleh keringat. Demikian juga si bapak di hadapannya, tetap dalam posisinya walau matanya memandang ke arah pergumulan Camad dan Rani.
“Damn, your asshole is so tighhhtt, HEyaarrhhhhh “
Di bank itu hanya terdengar suara lenguhan nikmat Camad dan suara kecipak alat kelamin mereka beradu. Penisnya berkali-kali menyodok-nyodok vagina Rani dengan ganas. Batang kemaluannya yang mengeras maksimal itu bergerak keluar masuk semakin cepat, bak alu menumbuk padi. Kemudian sambil mendekap pinggul gadis itu, Camad menjatuhkan dirinya ke belakang ke kursi empuk customer service. Maka kini Rani berada di pangkuan Camad atau lebih tepatnya menduduki batang kemaluan pemuda pengangguran itu.
“Ahhhh., Ahhhhhh, mantaphh....“ wajah Camad terangkat ke atas ketika merasakan batang kemaluannya semakin berdenyut dan hendak mengeluarkan spermanya.
Ia pun menekan tubuh Rani hingga penisnya melesak makin dalam dan mentok, lalu crott...ccroott...crot...beberapa kali semprotan sperma mengisi rahim customer service cantik itu. Camad melenguh panjang sambil meremas kedua payudara Rani, ia merasakan penisnya berangsur-angsur melemas lagi di vagina gadis itu. Setelah merasa tenaganya pulih lagi ia pun bangkit dari kursi dan kembali merapikan pakaian Rani yang sudah terbuka sana-sini serta menempatkannya kembali pada posisi semula.

Kejahilan Camad belum berhenti sampai situ, seorang ibu muda yang membawa kereta bayi juga menjadi sasarannya namun tidak sampai disetubuhi seperti Rani dan Venny karena Camad juga sudah merasa letih tenaganya terkuras. Ibu muda itu hanya ia rogoh-rogoh celana dalamnya sambil ia ciumi bibirnya yang indah sampai vaginanya memuncratkan cairan cinta, barulah Camad mengeluarkan tangannya yang belepotan cairan kewanitaan. Kemudian seorang mahasiswi yang sedang duduk menunggu antrean ia buka celana panjangnya dan celana dalamnya lalu ia jilati vaginanya sambil menggerayangi payudaranya hingga gadis itu orgasme.
“Selamat deh sampeyan, soalnya bukan seleraku hehehe” kata Camad melewati ibu gendut yang duduk di sebelah si mahasiswi setelah memakaikan kembali celana panjang gadis itu.
Sebenarnya Camad bisa saja menguras uang bank dalam kondisi seperti ini, namun untunglah jiwa kriminalnya tidak separah itu, lagipula itu tentunya akan melanggar perjanjian dengan Feelix. Setelah mengerjai si mahasiswi ia segera melenggang ke luar tanpa mengambil barang apapun dari bank maupun orang-orang yang sedang membeku itu. Korban terakhirnya adalah seorang wanita berusia akhir 20an yang baru memasukkan setengah kartu ATM ke mesin ATM. Ia tertarik karena melihat dada wanita berambut pendek sebahu itu yang membusung indah.
“Wah...toge ini, gua suka!” ia menatap payudara wanita itu setelah menyingkap kaos dan branya.
Camad lalu dengan rakus mengenyoti dan meremas payudara montok itu bergantian meninggalkan bekas liur dan cupangan-cupangan memerah di kulit putih si wanita itu. Lagi-lagi sambil tangannya merogoh ke balik celana pendek wanita itu dan mengocoki vaginanya. Sepuluh menit kemudian barulah ia puas menyusu dari wanita itu, payudara itu basah kuyup dengan bekas remasan dan cupangan dibuatnya. Camad mengeluarkan tangannya yang berlumuran cairan kewanitaan dari balik celana wanita itu lalu merapikan lagi pakaiannya. Setelah keluar dari gerbang bank, ia menekan tombol merah dan semua pun kembali berjalan normal. Ia pun meninggalkan bank itu dengan tersenyum puas. Sementara di dalam bank...
“Eeehh...copot...copot...kenapa Mbak?” tanya si Bapak memapah tubuh Rani yang terlihat limbung seperti mau jatuh pingsan di meja.
“Eeehh...nggak Pak” Rani menegakkan lagi tubuhnya walau terasa lemas secara aneh, “tadi kaya pusing ga ada tenaga, udah kok...udah gapapa” ia berusaha tersenyum lagi pada nasabah itu.
Seperti halnya Rani, para wanita korban Camad tadi juga merasakan hal yang sama, mereka merasa tubuh lemas sesaat seperti habis bersenggama, tapi tidak pernah tahu apa sesungguhnya yang terjadi pada diri mereka.

Sorry bro, kata-katanya masih berantakan
Thanks for you appreciation
Regards,

Mike

Thursday, April 16, 2015

Slutty Doll Anita: Diperawani Tukang Becak Langgananku


  • Cerita ini hanyalah Fiksi belaka……
  • Bacaan Khusus dewasa, bukan untuk anak dibawah umur, alias Adult Only…!! ^_^
  • Say NO To Rape and DRUG’S in The Real World
  • Maaf, buat yang nggak suka cerita bertema slutty, numpang lewat ya he he he
  • Satu lagi ^ _ ^, dilarang meng-Copy Paste, dan menampilkan cerita ini ditempat lain selain DiKBB dan Telur Rebus n Arsipgue.
#########################
Anita
 “Haiii!!“ aku melambaikan tanganku ke arah seseorang
Orang itu menengok ke arahku, sebuah senyum yang mengembang di bibirnya, sebuah senyuman yang selalu membuat hatiku berbunga-bunga, hanya sebuah senyuman?
Ya hanya sebuah senyuman, sebuah senyuman dari kekasihku, sebuah senyuman yang selalu memberiku hari-hari yang bahagia, sebuah senyuman yang selalu memberiku kekuatan, sebuah senyuman yang membuatku menjadi lebih hidup.
“Anita…..” ia berteriak menyebut namaku kemudian berlari kecil menghampiriku
Ia berlari bagaikan seorang anak kecil yang polos, tangannya yang kekar memeluk kedua bahuku, tatapanku dan tatapan matanya bertemu, saling menatap dengan mesra, tidak ada satu katapun yang terucap dari bibirnya namun sinar matanya telah mengatakan seribu kata-kata cinta untukku.
“Duhhhhhhh….. Rendy dan Anita, jadi iri nehhh….” suara seseorang seperti menyadarkan kami berdua, aku hanya menatap si pengganggu itu sebentar kemudian berusaha tersenyum
Aku kurang menyukainya, bukan karena wajahnya yang buruk dipenuhi dengan bekas bopeng, namun karena kelakuannya yang ugal-ugalan dan kasar, aku tidak mau kekasihku menjadi seperti dia, aku tidak mau…, kutarik tangan kekasihku untuk mengantri membeli tiket bioskop, sementara si pengganggu duduk sambil tersenyum-senyum mesum menatap “bunga-bunga segar” di sekelilingnya.
“Rendy…, ngapain sich kamu bawa-bawa Si Benny ?? “ aku berbisik di telinga Rendy kekasihku
“Hahhh… ? Napa Emang ? “Rendy menatapku dengan polos.
“Aku…, aku kurang suka sama dia…..” bibirku meruncing.
“Anitaaa…., dia kan sahabatku…jangan gitu ya sayanggg….” Rendy mengelus rambutku, aku menghela nafas panjang dan berusaha mengangguk sambil tersenyum.
“Waduhhhh…..!! “Rendy tiba-tiba meringis
“Ehhh…, kenapa ?? “aku terkejut ketika Rendy meringis.
“PAHIT… pahit sekali…”
“Pahit ?? “Aku tidak mengerti dan menatapnya dengan keheranan.
“Senyumannya pahitttttt……..” Rendy mencubit pipiku kemudian tertawa lebar.
“Kamu…, ichhhh….” Aku menepiskan tangannya kemudian melemparkan senyuman manisku, sebuah senyuman untuk kekasihku, hanya untuknya
“Nahhhhhh… githuuuu dhuonggggggg……Yuuuk….”

#########################
Jam 10.30

Sebuah mobil berhenti di sebuah rumah kost. Seorang berwajah bopeng turun dari dalam mobil itu, senyumannya yang menyebalkan melintas sesaat di wajahnya.
“Thanks ya…, sering-sering ajha ngajak gue yakkk, en jangan lupa tuan putrinya yang kinclong ini selalu dibawa he he he” Benny cengengesan dengan tampangnya yang tidak tahu diri itu, nangkring di jendela mobil dan melirik ke arahku.
“Udahhh…tidur sana husss husss ha ha ha ha ha ha…., eittttt…, matanya dijaga browwww….” Rendy protes ketika Benny melirik nakal ke arah dadaku.
“Soryy…. Canda, he he he….Yawdahh Yukk ahhh.. kita bobo bareng bertiga…”Rendi bertambah norak.
“BENNNYYYY…..!!! Tokkkkkk….“ Rendy mengetuk kepala Benny
Si pengacau itu buru-buru melompat ke belakang ketika Rendy hendak menjitak kepalanya sekali lagi, terdengar suara tawanya yang menjauh, dan menghilang di balik pintu gerbang rumah kost. Mobil Rendy membawaku menjauhi rumah kostnya dan berhenti di depan rumahku yang terlihat sepi.
“Benny itu orangnya yak, kaya gitu, bicaranya ceplas-ceploss…seenaknya,  jadi jangan disimpen dihati…. , nahhhhh manyun lagi dahhhhhhhh… runcing amat bibirnyaaaaaa…….” Rendy mencubit kecil hidungku
“Ehhhh apa?“ aku menarik bibirku ketika Rendy menyodorkan pipi kanannya.
“Lohhhhh ?? nggak dicium dulu nehhhhhh….., ntar nyeselllll, nggak bisa tidurrr……” Rendy menggodaku.
“Enak aja…, siapa yang nggak bisa tidur, lagian siapa yang mau nyium kamuummhhhhh….” Rendy menyumpal bibirku, aku segera mendorong dadanya agar ciuman kami terlepas, wajahku terasa hangat.
“Koqq gelap ya ?? “ Rendy bertanya kepadaku.
“Yaaaa…, lagi pada keluar kota siccchhh…,nengok temennya bokap yang lagi sakit…..” aku melompat keluar dari dalam mobil, Rendy mengunci pintu mobil dan kemudian mengekoriku dari belakang.

“Rendy udah malam, emmmhh.., pulang gihhh….nanti kemalaman” aku menahannya agar tidak melewati pintu gerbang rumahku
Dengan lembut Rendy menarik tanganku, diraihnya tas kecilku , ia menarikku ke depan pintu rumahku dan ckleekkk…., ia membuka pintu rumahku dan menarikku masuk ke dalam. Aku terdiam ketika Rendy memelukku, aku tetap terdiam ketika tangannya merayap turun dan bermain di pemukaan kaos ketat yang kukenakan. Ia meremas sepasang bukit kembar putih yang masih tersembunyi dibalik kaos ketat yang kukenakan, aku hanya menatapnya ketika tangannya bergerak meremas payudaraku. Kemudian menyelinap ke dalam bajuku, mataku terasa berat, ada rasa nikmat yang membuatku terlena ketika tangannya perlahan-lahan menyelinap ke dalam braku.
“Ohhhh…. “Aku mendesah pendek merasakan remas-remasan tangan Rendy yang semakin aktif.
“Anitaaa sayangggg, aku ingin lihat kamarmu ya….” Rendy menarik tangannya dari balik bajuku, ia membalikkan tubuhku dan mendorongku ke sebuah kamar.
“Bukan…, bukan disini, diatas…..” aku tertunduk dan berkata pelan, suaraku hampir seperti sedang berbisik, tubuhku terangkat melayang dalam bopongan Rendy yang membawaku menaiki tangga , menuju kamarku, aku tahu ia ingin melihat sesuatu yang lain, yang pasti bukan melihat isi kamarku, aku tahu itu…., aku tahu apa yang sebenarnya ingin ia lihat, dan aku membiarkannya, aku membiarkannya melihat apa yang ingin ia lihat, satu persatu pakaianku terlepas dari tubuhku, tubuhku dan tubuhnya telanjang bulat tanpa selembar benangpun menutupi tubuh kami berdua.
“Hhhhhhhh…. Rendyyyyyy…… “ aku mendesah memanggil namanya ketika tubuh kami menyatu erat, pelukannya begitu hangat, hangat sekali ketika tubuh kami yang sudah polos saling bergesekan dan saling dekap
Kekasihku menundukkan wajahnya, bibirnya menciumi rahang dan daguku, kemudian menciumi dan melumati bibirku yang terus mendesah-desah, air liurnya membasuh leherku, jilatan-jilatan lidahnya mengulasi batang leherku. Ada rasa hangat yang menggelitik ketika ia membenamkan wajahnya di belahan dadaku.
“Unnnhhhh… REnddddyyy Ahhhhhhhhh…“ aku kembali mendesah merasakan kenyotan-kenyotan lembut mengenyot puting susuku,
Kriiiinggg……….!!! Suara dering jam yang berbunyi mencabik-cabik khayalan liarku, kuhentikan gerakan jemari lentikku sedang menekan-nekan permukaan celana dalamku, kugeliatkan tubuhku kesana kemari untuk mengusir gairah birahi yang begitu menyiksa. (aku dan tokoh khayalanku yang tampan),

Aku seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi swasta di kota ini. Namaku Anita, aku adalah seorang gadis keturunan Tionghoa, tubuhku putih molek, sepasang bukit indah menonjol menghiasi dadaku, aku anak tunggal dari sebuah keluarga yang cukup berada.
“Mang ….. “ aku menyapa seorang tukang becak langgananku yang ngetem di seberang rumahku.
“Efff…Non Anita…,ayo Nonnn!!” Bang Sudin langsung mempersilahkanku untuk segera naik duduk di becaknya, beberapa saat kemudian becak bang Sudin membawaku dengan kencang keluar dari komplek perumahanku, digenjotnya becak itu hingga melesat dengan cepat.
“Nanti sore ya Mang, jangan lupa….”
“Iya Non…, jangan khawatir, Mang Sudin pasti nungguin Non Anita…” Mang Sudin menatap wajahku yang cantik.
Aku tersenyum nakal, ia sepertinya mengharapkan kedatanganku, dan aku tahu itu, mang Sudin selalu setia menungguku turun dari angkot atau tepatnya berusaha untuk  dapat mengintip sesuatu yang tersembunyi di balik rok miniku ketika aku berusaha untuk turun dari dalam angkot jurusan XXX..

##################
Sore hari…hujan angin yang lebat.

Hari itu benar-benar menyebalkan, siang hujan gerimis, ehhh, sore malah  hujan turun dengan lebih lebat, aduh, nggak mungkin deh Mang Sudin berhujan-hujan ria untuk menungguku,
“Pak… Kiriii…..!!” teriakan-ku menghentikan laju angkutan kota yang kutumpangi
Hupp, aku melompat turun dari dalam angkot, aku berusaha berlari – lari kecil di bawah kucuran hujan lebat, dinginnya Brrrrrrr…..
“Nonnn…, Non Anitaaaaaa…..!!“ aku menolehkan kepalaku ke samping belakang.
“Ehhhh…?“ aku tersentak terkejut
Gila, ternyata Mang Sudin dengan setianya menungguku sambil berhujan-hujanan, aku berlari menghampiri becaknya, kemudian meringkuk duduk kedinginan di dalam becak Mang Sudin, tidak begitu lama becak mang Sudin mendarat di depan rumahku.
“Masuk dulu mangg…, hujannn….!!“ aku membukakan pintu gerbang rumahku.
“Jangan Nonnn, nggak enak sama orang rumah….”Mang Sudin menolak tawaranku.
“Nggak apa koq.., lagi pada pergi piknik seminggu….” aku menanti mang Sudin yang tergopoh – gopoh mendorong becanya masuk ke dalam pelataran rumahku.
“Ayo Mangg, masuk…… “ aku membuka pintu rumahku.
“Permisi Nonnn….” tubuh Mang Sudin yang tinggi hitam membungkuk kemudian masuk ke dalam rumahku
Matanya sering sekali melirik kearah dadaku, aku tahu ada sesuatu yang indah tercetak di sana dan kini mata mang Sudin mulai berani  menatap wajah cantikku sebentar kemudian tatapan matanya kembali turun ke arah cetakan dadaku..
“Sebentar ya mangggg….. “ aku masuk ke dalam kamarku, kemudian kembali keluar dan memberikan selembar kain handuk kecil kepada mang Sudin.
“M’kasih  Nonnn….” Bang Sudin meraih handuk kecil pemberianku kemudian menyeka wajah dan lehernya, setelah menuangkan segelas air aku melangkahkan kakiku menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarku.
“Sebentar ya mangg, aku mandi dulu….”
“Ooo.., silahkan Non , Silahkan……..”.
Mang Sudin

Aku masuk ke dalam kamar mandi berukuran sedang, kulepaskan seluruh penutup tubuhku dan kunyalakan kran shower itu. Emmmhhhh…, Hangatt,,, sambil meresapi rasa hangat, kubersihkan tubuhku. Entah kenapa tiba-tiba gairah liar ini kembali datang menyiksaku, pikiranku begitu kotor, liar dan binal, dengan terburu-buru aku mematikan kran shower di kamar mandiku, kulilitkan kain handuk tebal meliliti tubuhku. Aaaaaahhhh, kenapa ini, jantungku berdetak dengan lebih kencang, kedua kakiku melangkah mendekati pintu kamarku yang terkunci, tanganku terulur untuk membuka pintu kamarku “Clikkk….” , dorongan itu semakin hebat menyadari ada seorang tukang becak di ruang tamuku. Ia bertubuh tinggi, berkulit hitam dan kekar, wajahnya sangat jauh dari kata lumayan,matanya berbeda jauh dengan mataku yang sipit, gairah liar itu mendorongku untuk berani melangkah keluar dari dalam kamar, menghampiri Mang Sudin dengan hanya mengenakan selembar handuk yang membalut tubuh mulusku.
“Haahhhhh ??? !! “ Mang Sudin berseru terkejut, matanya melotot merayapi tubuh mulusku dengan liar dan beringas, aku melangkah dan terus melangkah hingga berada di hadapan mang Sudin, tubuhku menggeliat indah dan melepaskan kain handuk yang melilit di tubuhku.
“ANJINGG….!! Non.?? “ Mang Sudin mengumpat kaget, matanya mendelik menyaksikan kemolekan tubuhku yang putih mulus, tubuhnya yang tinggi hitam kekar menghampiriku
“Manggg Sudin….” Aku merintih pelan menyebut namanya.
Dengan mudahnya mang Sudin memanggul tubuh mungilku masuk ke dalam kamarku, dibaringkannya tubuhku dengan posisi kedua kakiku terjuntai pasrah dipinggiran ranjang, aku menutup kedua mataku rapat-rapat, ketika satu persatu Pakaian Mang Sudin terlepas dari tubuh hitamnya. Lagi-lagi gairah binalku memaksaku untuk membuka kedua mataku, mata sipitku menatap tajam pada sesuatu yang menggantung di selangkangan Mang Sudin, aku memekik ketika mang Sudin menerkamku.
“Ohhhh….. Manggggg Sudinnn hennnnmmmmmm…..” Aku merinding ketika bibirnya mengecupi telingaku, lidahnya yang basah menari-nari didaun telingaku.

“Non Anitaaa…,sebenarnya Mamang udah lama pengen ngentotin Amoy secantik Non Anita, eh nggak taunya sekarang Non Anita malah menyerahkan diri minta dientot sama mamang he he he”bisikan-bisikan mesumnya malah membuat gairah-ku semakin liar.
“Mmmmmaaanggggg….. Nurrrrdinnnnnnnnn…. Aaahhhhhhhhhh….”
Rasa nikmat itu semakin menenggelamkanku ke dalam sebuah jurang yang begitu dalam disebuah lautan kenikmatan, ciuman-ciuman liarnya menjalari rahang, dagu dan bibirku.
“Uhhhh.., Aduhhhh….” Mang Sudin menyeretku ke tengah ranjang
Dengan kasar ia membalikkan tubuhku, sekujur tubuhku merinding ketika merasakan tubuh mang Sudin meneduhi tubuhku yang terlungkup di atas ranjangku.
“Essshhhhh…, Nonn…, Anjinggg siah AMOY, si-mulussssshh” Mang Sudin mendesak-desakkkan selangkangannya pada bongkahan buah pantatku
Aku menggigil merasakan sebuah benda yang menggesek-gesek belahan pantatku , menekan, dan bermain-main di antara himpitan buah pantatku.
“Urrrhhhhh…. Mmaannngggg…. Manggggggg…. Sudinnn….eeeesssshhh“
Mang Sudin membelit tubuhku dari belakang, nafasnya yang hangat berdengusan di tengkukku. Aku menggigil ketika rasa nikmat menyengati leherku, kecupan-kecupan liar dan gigitan-gigitan gemas mang Sudin berkali-kali menyengati leher dan tengkukku, lidahnya menjilati belakang telingaku dan mulutnya mencaplok serta melumat – lumat daun telingaku sebelah kiri.
“aaaaaa….., Hssshhhhaaahhhh…. Ohhhhh…” aku memalingkan kepalaku ke arah kanan karena sudah tidak tahan menahan rasa geli yang menyengat leher dan daun telingaku sebelah kiri
Namun  Mang Sudin justru memanfaatkan situasi dengan menyerang leher dan daun telingaku sebelah kanan. Batang lidahnya menggeliat liat menggelitiki belakang telingaku sebelah kanan kemudian menelusuri daun telingaku, terkadang  gigitan-gigitan gemas mang Sudin mampir di daun telingaku. Ia terkekeh ketika aku tersentak menahan rasa nikmat yang menggelitiki leher dan daun telingaku, aku merasa lega ketika Mang Sudin  mengangkat tubuhnya yang hitam dan kekar,
“Sini Nonnnn… rebahan disini…..” Mang Sudin menepuk-nepuk bantal empukku, entah kenapa aku menurutinya, aku merangkak dan merebahkan diriku terlentang dengan pasrah..
“Rentangkan tangannya keatas….Non, bagus..,ha ha ha dasar lonte disuruh apa aja nurut…….he he he, jarang ada lonte Amoy secantik Non Anita…, kalau ada juga ya,  bayarannya mahal, selangit……” aku merentangkan kedua tanganku ke atas

Desahan nafas Mang Sudin menerpa ketiakku. Aku tidak marah ketika Mang Sudin mengejekku, ia menyebutku lonte. Aku memejamkan mataku ketika merasakan ulasan-ulasan batang lidahnya menyapu ketiakku, hidungnya terbenam dan mengendusi ketiakku, mulutnya mengemut ketiakku dan lidahnya terjulur menjilati ketiakku ssslcccckkk… lllcccckkkk… slllccckkk cupppp…, cuphhhhh cuppppp, terdengar suara kecupan-kecupan mang Sudin yang begitu bernafsu mencumbui lekuk ketiakku.
“Aahhhhhhhhhhhh…… !! “ tubuhku tersentak dan sedikit meronta ketika mang Sudin membelitku sambil membenamkan wajahnya pada belahan dadaku
Aku berusaha meronta untuk menyadarkan akal sehatku sedangkan mang Sudin terus menyerang mencumbui susuku untuk menenggelamkan kesadaranku. Aku berbaring terbujuk oleh bujuk rayu gairah binalku, akal sehatku terbuai oleh kecupan-kecupan liar Mang Sudin yang menggeluti buah dadau.
“Anita…., muahhh he he he….Muummmm Cpokkkkk…. Muummmmmhhh Cpokkkkk ”Mang Sudin mengenyot puncak payudaraku kemudian menarik kepalanya kebelakang, terdengar suara letupan keras yang semakin membakar gairah nafsu binalku ketika susuku terlepas dari emut-emutan mulut mang Sudin yang mempermainkan payudaraku yang semakin keras mengenyal, aku menggigit bibir bawahku menahan rasa nikmat ketika batang lidahnya mengulas-ngulas pentil susuku, kemudian happpp….., mulutnya kembali mencucup puncak susuku, dikenyotnya puncak payudaraku hingga tubuh mungilku meronta dan melenting keenakan.
“Ahhhhhh…. Aaaaaa…. Ahhhhhhhhhhhhh……”.
Betapapun hebatnya aku meronta dan berontak namun belitan mang Sudin begitu kuat membelit tubuh molekku, dengus nafas tukang becak itu terasa hangat menerpa kedua bukit payudaraku. Air liurnya membasahi bulatan susuku, lidahnya semakin liar terjulur-julur menjilati pentilku yang meruncing dan kemudian batang lidahnya yang basah dan hangat membasuhi kedua bulatan dadaku.
“Ohhhh… manggggg… Sudinnnn…..” aku menggeliat resah ketika kecupan-kecupan liarnya bergerak turun ke perut, pinggul dan kemudian terdengar perintah mang Sudin.
“Tekuk dan rentangkan kedua kakimu Anita…..”
“Mangggg…. Kita…. Ohhhhhhhhh…..”tanpa meminta persetujuan lebih lanjut mang Sudin menekuk dan menekan kedua lututku ke samping
Selangkanganku merekah dengan indah dihadapan wajah seorang tukang becak bernama MANG SUDIN…!! Aku hanya sanggup mendesah dan terus mendesah merasakan kecupan-kecupan liarnya mengecupi permukaan vaginaku. Aku merintih ketika batang lidahnya yang basah hangat membasuh rambut jembutku yang tipis. Dengan reflek aku mengangkat punggungku, kedua tanganku menopang ke belakang, ketika merasakan batang lidah Mang Sudin menggeliut memasuki cepitan bibir vaginaku, aku menekuk wajahku, kepala mang Sudin terbenam di selangkanganku, kedua kaki mulusku tertekuk mengangkang ke samping. Batang lidah itu menggeliat semakin liar dan terjulur semakin dalam.

“Unnnnrrrhhhh…. Ahhhhhhhh…. Akkkkkkhhhhhhhh….Mangg”
Sesekali aku menarik pinggulku untuk menghindari rasa geli dan nikmat yang menyerang belahan vaginaku.
“Aoohhh ampunnnn aaaaaaaa…., Blukkkkk Crrr Crrrrrr….. “ punggungku terjatuh ke belakang, cairan vaginaku berdenyutan dengan nikmat, serrrr.. serrrrrrrrrrr….
Desiran kenikmatan itu mengiris – ngiris sekujur tubuhku yang mengejang sebelum akhirnya aku terkulai lemas dengan desah nafas yang tersendat-sendat, butiran keringat nakal mengucur melelehi tubuh mulusku. Aku menggelinjang kegelian ketika Mang Sudin menggesekkan kepala penisnya pada belahan vaginaku, digesek dan terus digesekkan kemudian mang Sudin mulai menjejal-jejalkan kepala penisnya yang perlahan mulai tenggelam dalam cepitan vaginaku.
“Mang akuuu.. akuuu…, sebentar, ooohhhh hentikan akkkhhhhh…..!!”tiba-tiba aku tersentak tersadar, apa yang tengah aku lakukan bersama SEORANG TUKANG BECAK diatas ranjangku, aku tersadar dan berusaha keras menghentikan gerakan penis mang Sudin yang sudah tertelan oleh vaginaku sampai sebatas leher penis. Ia mencengkram buah pinggulku sambil menusukkan batang penisnya menusuk belahan vaginaku kuat-kuat.
“JEBOLLL… SIAHHH…! JEBOL… !! HEUU.. JEBOLLLLL…!!“
“AWWWWWWW…….!! “ aku menjerit keras ketika merasakan tusukan-tusukan kuat yang membuat vaginaku terasa melar dan merekah
Rasa sakit menggigit selangkanganku., aku menatap mang Sudin yang tengah asik menjejal-jejalkan batang penisnya menusuk belahan vaginaku. Tidak ada lagi raut wajahnya yang sopan, TIDAK ADA…!! Yang ada hanya seraut wajah keji yang tengah tersenyum mesum menatapku yang terisak menahan rasa sakit di selangkanganku. Kegadisanku direngut dan vaginaku digenjot oleh seorang tukang becak bertubuh hitam kekar, batang penisnya tenggelam sedalam 14 cm kedalam jepitan vaginaku.
“Sakiittt… manggggg… ouhhh sakitttt… khhh hhkk hakkk..”
“Tenanggg Nonnnn, ntar kalau udah biasa ngentot nggak akan kerasa sakit lagi…, malah kalau udah ngerasa enaknya ngentot, non Anita bakal ketagihan batang kontol Mamang…..” Mang Sudin menusukkan batang penisnya semakin dalam hingga selangkangannya mendesak selangkanganku. Batang penisnya tenggelam dan tertancap dengan sempurna dicepitan vaginaku.  Tubuhnya yang hitam kekar mulai meneduhi tubuhku, aku mendesah menahan beban tubuh seorang tukang becak yang tersenyum mesum sambil menikmati kecantikanku.
“Aaaaaaaaaaaaa…., Aaaaahhhhhhhhh Mangggggg…..!”
Tanganku terangkat berusaha mencari pegangan ketika Mang Sudin mulai menghempas-hempaskan batang penisnya menumbuki belahan vaginaku, kubenamkan kesepuluh kuku jariku ke punggungnya, kedua tanganku memeluk tubuh hitam si tukang becak yang tengah asik menggenjoti belahan vaginaku. Batang penisnya bergerak keluar masuk dengan teratur, menusuk dan terus menusuki liang memekku. Clepppp… Cleppppp… Clllppppp… Bleppp.. cleppppppp…, terdengar suara decakan becek ketika liang vaginaku digenjot oleh batang penis Mang Sudin.

“Enak ya nonn ?? he he he cupphh cupphhh.. mmmmhhh….”
Mang Sudin menatapku kemudian wajahnya menunduk, bibirnya melekat dibibir mungil-ku. Bibirnya menjepit bibirku sebelah bawah, Mang Sudin mengemut bibirku bergantian sebelah atas dan sebelah bawah. Sesekali ia menggigit kecil bibirku, lidahnya menjilati sela-sela bibirku, kubuka rongga mulutku, batang lidahku terjulur keluar bergelut dan saling mengait dengan batang lidah mang Sudin.
“Srrrphhhh… Srrrpppppphhh…. Ckk Mmmmmmmpphhh… Ckkk“
Aku membalas lumatan – lumatan bibir Mang Sudin, lidahku kembali terjulur keluar, dengan bernafsu mang Sudin menghisapi batang lidahku. Air liur Mang Sudin belepotan di dagu, dan bibirku, sementara tubuhku terus tersentak-sentak dengan lembut di bawah tindihan seorang TUKANG BECAK yang tengah menggenjotkan batang penisnya, menyodoki liang vaginaku.
“Aaaaaaaaaaaaa… Hhhhh Hhhhoosssshhh.. Hhhhhhhhhssshhhh.. Cruttt… Crutttttt………” kedua kakiku membelit tubuh Mang Sudin, tubuhku kembali menggigil dengan nikmat ketika vaginaku berdenyut-denyut memuntahkan cairan klimaksku.
Kepalaku terkulai lemah kearah samping kiri, tubuhku bergidik dengan nikmat di bawah tindihan bang Sudin, tangan seorang tukang becak mengelusi rambutku yang acak-acakan, kedua kaki mulusku terkangkang pasrah.
“Mmmpphhh… Jrebbbb.. Memek Non makin licin peret,  makin enakk Jrebbb… Blessshhh… Crrrrbbbbbb… Bleeeppppp……buat dientot…” nafasku kembali tersendat-sendat merasakan tusukan-tusukan penis Mang Sudin kembali menggenjot vaginaku, aku semakin sengsara ketika mang Sudin mempercepat tusukan-tusukan batang penisnya.
“Ennggg Mampus Aaaaaaa,  Affffhhhh, Mangg…,!! owwwww…….!! “Aku mengeluh merasakan tusukan-tusukannya yang semakin liar dan kasar, semakin kasar dan lebih KASAR lagi….
“Ya nggak akan lahhhh….nonn, masa mampus, yang ada juga enak dan nikmat, bukannya mampussss he he he he….”
Aku memalingkan wajahku ke kiri dan kanan, vaginaku disodok dan tubuhku tersentak-sentak, terguncang dengan hebat di atas ranjangku sendiri. Keringat mang Sudin meleleh menetesi tubuh mulusku, terdengar suara tawa bejatnya ketika ia mendengar lolongan dan pekikan kecilku. Semakin keras aku aku melolong semakin keras pula ia menghentak-hentakkan batang penisnya, dipercepatnya irama genjotan-genjotan batang penisnya menggenjoti liang vaginaku.
“aaaa….., aaaaaaa… aaaahhhhhhh….. “ aku mendesah dan terus mendesah ketika merasakan sodokan-sodokan penis Mang Sudin yang merojok vaginaku dengan kuat dan kencang, agak lama juga ia mengerahkan seluruh tenaganya menyodoki vaginaku kuat-kuat.

Aku menarik nafas lega ketika tubuhku berhenti terguncang. Untuk sesaat mang Sudin beristirahat di atas tubuhku. Wajahnya tepat berada di atas wajahku, sementara batang penisnya tertancap dijepitan liang vaginaku, ia memandangiku dengan tatapan matanya yang penuh dengan kobaran nafsu binatang. Aku terdiam dan menatapnya, tangan mang Sudin membelai wajahku yang cantik jelita.
“Duhhh, Non Amoy koq murung sich ?? kurang ya dientotnya, sini biar mamang tambahinnnn….”
Desahan nafasku kembali membakar nafsu binatang Mang Sudin, ia kembali menghempas-hempaskan batang penisnya. Dengan bernafsu ia merojok-rojokkan batang penisnya menyodoki vaginaku, tanpa melepaskan batangnya dari cepitan vaginaku Mang Sudin merubah posisi. Kini aku duduk saling berhadapan, aku menduduki batang penis mang Sudin, kedua kakiku mengangkang menjepit tubuh Mang Sudin, sementara kedua tanganku berpegangan pada pundak mang Sudin.
 “Ayoo Non…, Mamang pengen nyobain goyangan Amoy….”
Aku terdiam untuk sesaat, dengan menahan rasa malu, aku mulai memberanikan diri mengangkat pinggulku kemudian perlahan-lahan aku mendesakkan kembali vaginaku ke bawah. Rasa nikmat itu membuat wajahku terangkat ke atas, mataku menatap langit-langit kamarku. Sesekali aku mengatur posisiku agar lebih leluasa menaik turunkan vaginaku. Dengan sabar mang Sudin membantuku menaik turunkan pinggulku, kedua tangannya yang kekar mencapit pinggang rampingku dan membantuku agar lebih lancar menghempas-hempaskan vaginaku mendesak batang penisnya yang dengan otomatis bergerak keluar masuk menusuk-nusuk belahan vaginaku..
“Ahhh… Hssshhh Ahhhhh… Mangggg…. “ tangan kiriku menekan belakang kepala Mang Sudin hingga terbenam di belahan payudaraku
Aku semakin cepat menaik turunkan pinggulku, mang Sudin semakin bersemangat menggeluti buah dadaku ketika aku merintih dengan liar.
“Aaaaaa… aaaaaa…….wwwwww…oohhhh mannnnggggggg”Aku menjerit liar merasakan kenyotan-kenyotan mulut Mang Sudin yang mengenyoti buah dadaku
Kupercepat hempasan vaginaku dan mang Sudin menyambut hempasan liarku dengan menyodokkan batang penisnya kuat-kuat ke atas.
“Hmmmmaanggggg, akh.. akuu.. aku mau keluarrrrr……”
“Sebentar… kita barengan….Nonnn Tahannnnn…., Tahan sebentar” Mang Sudin semakin menyentak-nyentakkan penisnya ke atas.
“Nggakkk khuatt manggggg akhhhh…, nggakk kuatttt… aduhhhh” aku mengeluh
Aku semakin dekat dengan puncak klimaks-ku, tubuhku tersentak-sentak tanpa daya.

“Sebentar lagi Nonnn TAHANNNNNNN……..!!!”
“Owwwhhhhh…. Crrrutttt…. Cruutttt………Maaaaangggg.”
“KECROTTTTTTTT…….”
Tubuh Mang Sudin rubuh ke belakang sambil memeluk tubuhku yang terengah keenakan di dalam pelukannya. Aku terdiam, mataku terasa berat, dan tubuhku terasa pegal karena kecapaian. Aku mendesah ketika tangan kanannya merayap dan meremas-remas buah pantatku, sedangkan tangan kirinya mengusapi punggungku yang basah. Aku menggeliatkan tubuhku dan meronta berusaha melepaskan diri dari pelukan Mang Sudin, namun kedua kakinya malah membelit tubuhku, tangannya yang kekar memeluk-ku, batang penisnya mengecil di dalam jepitan vaginaku.
“Mau kemana Nonnn, temenin Mamang tidur ya, Mamang belon puas koq, masih kepengen ngentotin Non Amoy yang mulusss he he he, dohhh Non Anita Bohay amat sich he he.. napsuin….” Mang Sudin memujiku, kedua tangannya berkeliaran dengan bebas, menggerayangi lekuk liku tubuhku yang putih mulus, aku merasakan batang penis mang Sudin berdenyut-denyut dan kembali menyesaki jepitan vaginaku.
“Uhhhhh…., sudahh mangggg, sudahhhh……cukup, kan tadi udah….” aku yang sudah kelelahan berusaha menolak keinginannya.
“Waduhhhh… itu mah baru pemanasan aja Nonnn… yukkk ikut mamang…kita ngentot lagi….” Mang Sudin menarikku keluar dari dalam kamar
Aku pasrah ketika mang Sudin menyuruhku untuk duduk di bangku sofa, di ruangan tamu. Kedua tungkai kakiku dikaitkan mengangkang pada lengan kursi sofa itu.
“Utssshh….. “ aku menarik pinggulku ketika jari telunjuk kanan Mang Sudin mencoblos belahan vaginaku, mataku beradu pandang dengan tatapan mata mesum mang Sudin yang menatapku sambil menusuk-nusukkan jari telunjuknya dalam-dalam,
Wajah mesumnya kembali memacu gairah binalku, ia tersenyum lebar ketika aku mulai merintih dan mendesah.
“Enak ga Non…..? “ tanya mang Sudin
“Jrossshhh….!! “ tiba-tiba Mang Sudin menusukkan jari telunjuknya kuat-kuat, ia menuntut jawaban-ku
“Enn Enakkk… enakkkk nnnnnhhhhh.. hsssshhh ahhhhhh” tangan kiriku mencekal pergelangan tangan kanannya, sementara tangan kananku bertumpu ke belakang. Aku menggeser posisi-ku agar dapat menyandarkan punggungku bersandar ke belakang. Telapak tangan kiri Mang Sudin mengelus-ngelus pangkal pahaku.
“Hsssshhhh… Hssshhhhhhhh Shhhhhaaaaaaaaaaaa….” aku mendesis-desis nikmat ketika jari telunjuk mang Sudin merojok-rojok belahan vaginaku
Kutekuk wajahku , nafsu semakin terbakar menyaksikan dua buah jari Mang Sudin yang basah oleh cairan vaginaku yang sudah tercampur dengan darah keperawananku.

“Ahhhhhhhhh” aku tersentak
Kesadaran dan akal sehatku datang terlambat.  Seorang tukang becak tengah menindih tubuh mulusku, semuanya jauh dari khayalanku selama ini. Sangat jauh sekali…., hancur sudah khayalan indahku selama ini. Aku?? seorang gadis keturunan Tionghoa cantik jelita, berkulit putih mulus, bercinta dengan seorang tukang becak?? Aku menyerahkan tubuh dan kesucianku kepada Mang Sudin?? berbagai macam pertanyaan mencambuk hatiku, gairah binalku kembali berkobar, aku memohon pada Mang Sudin.
“Colokkkk Manggg…, colokkk terussss… ahhhhh……”
“Mau pake jari atau pake kontol Non ?? “ Mang Sudin memberikan-ku dua buah pilihan sambil terus menusuk-nusukkan kedua jarinya.
“Pake kontolll… unnggghh… kontollll… mangggggg….” aku menjawab dengan terbata-bata.
“Ha ha ha, boleh…, bolehhhh.., tapi nanti kalau mamang udah puas bikin memek non bucat pake jari….”
Aku terengah, percuma saja aku memintanya untuk menyetubuhiku,  mang Sudin sedang asik menusuk-nusukkan jarinya merojoki vaginaku.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaa…..! Mannnngggg Ouuhhhhhh….!! “ aku tambah kelabakan ketika jempol mang Sudin ikut memijiti clitorisku, matanya berbinar-binar menyaksikan tubuh mulusku yang mengangkang menggeliat-geliat dengan erotis, aku mati-matian menahan sesuatu yang hampir meledak di selangkanganku, rintihan-rintihanku semakin sering terdengar.
“Udah Nonnnn, nggak usah ditahan-tahan gitu dehhhh, nyerah aja…” Mang Sudin menatapku dengan tatapan mata mengejek
Jarinya semakin aktif menusuki vaginaku, jari jempolnya mengucek-ngucek clitorisku aku tidak mau..! tidakk, aku tidak mau, TIDAKKKKKKK……!! Aku menggeleng-gelengkan kepalaku untuk mengusir rasa nikmat yang menghampiri-ku, Akkhhhh Crrrrttttttttt… crrrttttt…., aku roboh di bawah tatapan mata mesum Mang Sudin yang mengejekku. Mang Sudin menundukkan wajah mesumnya ke arah selangkanganku, terdengar bunyi menyeruput ketika mulutnya mengenyot-ngenyot vaginaku. Kedua kakiku menumpang di punggung mang Sudin sementara mulutnya masih asik mengenyoti selangkanganku. Tangan kiriku mengelus-ngelus rambut mang Sudin, sesekali tangan kiriku menekan belakang kepala mang Sudin sambil sedikit mengangkat vaginaku dan aku kembali menarik pinggulku ketika merasakan mang Sudin semakin lahap  menyantap selangkanganku.
“he he he.. geli mangggg oohhhhhh…, nikmatttssshhhh….ampunnn manggg Ampunnnnnn he he he he” aku terkekeh merasakan emut-emutan nakal mengemut bibir vaginaku.
Aku memekik sambil berusaha menarik vaginaku

Mang Sudin mengangkat kepalanya, ia menatapku sesaat, jemarinya mencapit dan membuka bibir vaginaku kemudian ia kembali membenamkan wajahnya di selangkanganku. Aku membelai-belai rambut Mang Sudin yang ikal, berkali-kali aku harus rela mendesah dan merintih ketika batang lidahnya menggaruk-garuk isi vaginaku, ohhhh…. Hhssshhh manggggg… hsssshhhhh, seperti itulah aku mendesah dan mendesis. Entah apa yang sedang dicari oleh batang lidah mang Sudin yang terjulur keluar dan berkali-kali menyelinap masuk kedalam belahan vaginaku, yang jelas aku menikmati gerakan batang lidahnya yang basah dan hangat.
“Owww… ihhhh.. mang Sudinnnnnnn…. “ aku memekik sambil menarik pinggulku
Ujung lidah mang Sudin mencokel clitorisku hingga aku tersentak nikmat. Aku mengangkangkan selangkanganku selebar-lebarnya ketika ujung lidah mang Sudin kembali mengejar daging clitorisku.
“Ahhhhhh…, owww….! .Owww maaaanggggg…Sudinnn, akhhhh…!!.”
Tubuh mulusku berkali-kali tersengat nikmat ketika ujung lidah Mang Sudin mencolek-colek kelentit-ku. Aku bertahan agar kedua kaki mulusku tetap mengangkang lebar walaupun rasa nikmat dan geli itu begitu kejam menyiksa kemaluanku..
“Emmmmmaaahhhh… Ahhhhhhh….. Offffhhhhh…….Oooooo “mulut-ku ternganga-nganga lebar,
Mataku yang sipit berkali-kali membeliak ketika mang Sudin melumat dan mengemut-ngemut daging clitorisku yang semakin menonjol, terkadang tangannya menepuk-nepuk permukaan vaginaku. Aku mengeluh ketika ia meremas gemas selangkanganku yang sengaja kukangkangkan selebar mungkin.
“Sini Nonnn…., mamang pengen disepong he heh e…”
Kini mang Sudin yang duduk mengangkang disebuah kursi sofa panjang, aku merangkak dan berlutut dihadapan kedua kakinya yang mengangkang lebar, kedua tanganku menangkap batang penis Mang Sudin, aku agak gugup ketika menggenggam batang penis mang Sudin..
“Ha ha ha, santai aja nonnn, nggak usah tegang gituuu…, mamang jadi ikut gugup nehhhh….” Mang Sudin menyandarkan punggungnya ke belakang.
“Iyy.. Iya Mang.., Iyaaa….” aku berusaha mengendalikan diriku
Ternyata begini rasanya menyentuh batang penis seorang pria, ada rasa gugup, horny, ihhhhh…, penis mang Sudin sesekali berkedut dalam genggaman telapak tanganku.

“Koqq diemmmm…?? langsung diservice atuh Nonnnn, sampe jamuran nih mamang nunggunya…..”
Aku menuruti keinginan Mang Sudin, entah kenapa aku tunduk mengikuti keinginan seorang tukang becak yang seenaknya memerintahku. Aneh…, benar benar aneh, aku mulai mengocok-ngocok batang penisnya, hmmm, aku mengangkat wajahku, sambil mengocoki batang penisnya aku menatap wajah Mang Sudin yang tersenyum lebar, dengan nakal aku membalas senyumannya.
“Enak ya manggg ?? he he he….” sesekali tangan kiriku mengelus dan meremas kepala penisnya, sedangkan tangan kananku mengocoki batang kemaluan mang Sudin. Aku terkekeh-kekeh ketika mata mang Sudin mendelik menatapku., mulutku meruncing dan meniupi batok penis mang Sudin. Fuuhhhhhh…., Fuuuuuuhhhh… Haaaaaahhhhhh… Fuuuuuuhhhh.
“Mangggg.. aku pengen dientot lagiiii….”
“Ntarrrr…., kalau Non Anita bisa bikin kontol mamang bucat, baru Mamang kasihhh…..he he he”
“Idihhhhh…. Mang Sudinnnnn………” aku semakin giat mengocok dan meremas-remas batang penis Mang Sudin. Kepalaku meneduhi kepala penisnya dan Hummm….nyummmm…, kuemut dan kuhisap kepala penisnya sekuat yang aku mampu.
“WADOOOHHHHH…. GELO SIAHH…., ARRHHHHH… ANJINGGGG”
Kata-kata kasar mang Sudin  membuatku semakin bergairah, kepalaku bergerak turun naik sambil menghisapi batang penis Mang Sudin. Kuletakkan rongga mulutku 1 cm di atas kepala penisnya. Haaaaahh.. Haaaaa….hh,  Haaahhhhhhh….,kuhangatkan kepala penis mang Sudin dengan udara yang terhembus dari rongga  mulutku. Sesekali ujung lidahku terjulur meruncing dan mengorek-ngorek lubang penisnya, kurang lebih sudah 10 meni-an aku berusaha memuaskan mang Sudin namun tampaknya ia tenang-tenang saja melayaniku yang sudah berusaha dengan keras.

“Mangg Sudinnnn… Aku pengennnnn…..maaanggggg , Ayooo Manggggg… entot aku lagi yaaaa….” aku merengek-rengek, bahkan hampir menangis, memohon pada seorang tukang becak yang tertawa senang menyaksikanku yang tengah tersiksa oleh gairah liarku.
“Yaa ha ha ha ha, tapi mamang pengen Non Anita yang di batas ya…, yukk sini naikkkkk…..mainnya harus yang liar ya kaya bondon, nggak usah malu-malu, ha ha ha ha  ”Mang Sudin tidur terlentang mengangkang di atas kursi sofa panjang.
“Iyaa Mangggg…, Aku mauuuu, divatasssss…, liar kayak bondon “
Dengan liar kunaiki dan kukangkangi tubuh Mang Sudin yang hitam akibat terlalu sering tersengat oleh sinar matahati, tubuhku yang putih mulus mengangkangi tubuh seorang tukang becak berambut ikat bernama Sudin yang berusia seumuran ayahku yang tangannya tengah mengacungkan batang penisnya ke arah belahan vaginaku yang mungil. Kuarahkan vaginaku dan kuturunkan pinggulku, kepalaku terangkat ke atas, bibirku mendesis keras merasakan batang penis Mang Sudin kembali membelah belahan vaginaku,
“HSSSSSSSSSSSSSHHHH… HSSSSSHHHH”, aku mendesis dan mendesis dengan liar sambil mendesakkan vaginaku hingga penis mang Sudin tertancap dan selangkangannya bersatu dengan selangkanganku, perlahan-lahan aku menggerakkan pinggulku, wajahku terasa panas karena jengah, tengah asik-asiknya aku menaik turunkan pinggulku.
“PLOFFHHH… Aaaaa.hhh… ke  ken kenapa dicabut mangggg….”
“TADIKAN Non Janji, maennya bakal liar kayak bondon…!!, mana nih janjinyaaaaa…., jangan kaya partai-partai politik dongggg…cuma bisa mengumbar janji doanggg….ehh begitu udah dipilih malah menyengsarakan rakyat….,nggak inget sama wong cilik…, malah sibuk menaikkan gaji pegawai negri, tapi lupa sama kami-kami ini yang selalu menderita…..”
“Aduhh...Mang koq jadi masalah partai sichhh…, masukin lagi dooonggg….,  Mang Sudinnnn…., ayo dong mangggggg” aku merengek-rengek dengan manja.
“YAWDAHH…, tapi yang liar dan binal ya Nonn…!!”

Mang Sudin kembali menempelkan ujung penisnya di belahan vaginaku. Kutekankan vaginaku ke bawah hingga penis mang Sudin kembali menyelusup kedalam cepitan vaginaku. Kali ini aku mengusir jauh-jauh rasa malu dan rasa risihku, kutegakkan tubuhku, kutatap mang Sudin yang melotot menatap susuku yang membuntal padat.
“HIAAAHHH…AHHHHH…AHHH … HIATSSSHHHH.”
Dengan liar dan binal aku menaik turunkan pinggulku, kebinalanku dan jeritan-jeritan liarku disambut oleh mang Sudin dengan menyodokkan batang penisnya kuat-kuat ke atas. Kedua tangannya mengangkat dan menarik membenamkan pinggangku ke bawah hingga hempasan – hempasan vaginaku lebih kuat dan bertenaga karena dibantu oleh mang Sudin.
“Hiaaaahhhmpppphhhh crrrruttt crrutttt…..” aku kembali  mengalami puncak klimaks.
“TERUS… TERUSSS Non AMOYY, Non nggak boleh berhenti biarpun memek Non  udah bucatttt…TERUSSSSS…..!! “ Mang Sudin memaksaku untuk bekerja dengan lebih giat
Aku melolong keras untuk melepaskan nafsu dan gairah liarku yang terasa menyesakki dadaku. Pinggulku terus melompat-lompat turun naik di atas sodokan-sodokan kuat penis seorang tukang becak yang menggeram-geram dengan gemas sambil mendelikkan katanya menatap gerakan-gerakan buah dadaku yang semakin membuntal indah. Crut sekali lagi, cruttt lagi dan cruuttt lagii….akhirnya aku benar-benar terkulai lemas tanpa tenaga ketika kenikmatan puncak klimaks kembali berdenyutan menyedot tenagaku terakhirku hingga benar-benar habis. Tubuhku basah kuyup oleh cairan keringatku yang menetes dan meleleh dengan deras. Blukkkk… Mang Sudin membalikkan posisi kami. Kini posisiku di bawah tindihan tubuhnya yang sudah sama-sama basah banjir keringat seperti tubuhku. Pompaannya semakin cepat dan liar hingga aku terengah-engah kewalahan, cumbuan liarnya menghujani leher, bibir dan daguku. Lama sekali mang Sudin menggeluti tubuhku.
“NGAHAKKK…ANJIINGG..!! CRRROTTT…CROOOTTT“
Aku yang setengah tertidur terbangun mendengar suara seruan keras mang Sudin. Aku merintih lirih merasakan semburan spermanya yang panas di dalam cepitan vaginaku. Tubuhnya yang basah ambruk menindih tubuh mungilku. Aku berusaha membuka mataku, aku menengokkan wajahku dan menatap ke arah jendela. Masih terdengar suara rintik-rintik air hujan, gelap, segelap langkah pilihanku yang dibutakan oleh nafsu birahi yang liar dan binal. Aku memejamkan kedua mata sipitku, lalu tertidur kelelahan di bawah tindihan Mang Sudin. Tubuhku yang putih mulus tertindih oleh tubuh seorang tukang becak bertubuh hitam kekar berambut ikal.

To be… next time
he eh he he he ^_^
See’ u next episode
Thank’s for reading
Meowww
….
Sungguh Puaskah Istri Anda ?