Jadilah Lelaki Perkasa, Seperkasa Kuda Putih

Tuesday, May 19, 2015

Wayang Hot: Shinta diculik Rahwana

Yang pakem adalah Rama Shinta
Episode 9
Dari Wayang Pasca Pakem Ki Broto de el el.
Shinta Purik, Ngambeg
(Aslinya Shinta diculik Rahwana)


Rama & Shinta

Di hutan Dhandhoko, sepeninggal Lesmana, keadaan tidak menjadi lebih baik. Rama sering termenung menyendiri memandang bulan merah sambil menyenandungkan lagu-lagu putus kasih. Hatinya sedih membayangkan adik kinasih sendirian bertapa di gua yang sunyi sepi. Ia menyesal telah melepaskan orang yang paling dicintainya, demi laku satrio utomo (lelakon ksatria utama), yang sebenarnya sikap lamis. Demi ambisi politiknya untuk kembali madheg narendro (naik jadi raja) dengan mengorbankan orang yang ingin menyayanginya dan menyanding orang yang tidak begitu disayangi. Melihat kenyataan seperti itu, Shinta menyadari bahwa ia sedang menghadapi kenyataan pahit. Cinta Rama hanya untuk adi kinasih/terkasih walau orangnya telah mungkur. Yang dimiliki Shinta hanyalah sosok Rama, bukan hati Rama. Yang dihadapnya hanyalah raga Rama, bukan sukmanya. Yang digenggam Shinta hanyalah secarik kertas nikah, bukan jati diri Rama.
Sukma Rama tidak disisinya, tetapi mengembara ke gua sunyi mendengarkan dengung kidung-kidung Lesmana. Demi melihat kenyataan itu, Shinta makin merana. Ia dinikahi bukan atas dasar cinta. Ia tak lebih dari sebuah vas bunga pajangan. Entahlah, untuk menunjukkan betapa sakti dan jantannya Rama dalam memenangkan sayembara, dharma sebagai satrio utomo atau hanya sebagai andalan ambisi politik Rama. Air mata Shinta sudah habis. Shinta sudah mutung putus asa, hatinya retak berkeping-keping. Ia sudah tidak bisa lagi menangis. Harga dirinya sebagai wanita tertusuk
“Aku bukan vas bunga, aku wanita yang merindukan kasih sayang dan pelukan mesra. Aku sisihan sandingan yang seharusnya disisimu, bukan hanya status.”
Disisi lain, Shinta terhimpit rasa bersalah telah mengusir Lesmana. Salah apa dia ? Selama ini, pemuda lembut ini sikapnya sangat baik kepada Shinta, nyaris sempurna. “ Mengapa aku tega kepadanya … ? “

Makin hari hati Shinta makin kalut. Ia serba salah. Sikap Rama kepadanya baik bahkan ia rela berpisah dengan yang tersayang. Shinta tidak punya alasan apapun untuk merajuk. Ia tidak bisa memaksa Rama mencintainya. Pada suatu hari ketika Rama sedang berburu mencari makanan, Shinta nekat minggat dengan meninggalkan surat singkat yang ditulisnya pada daun-daun hutan.

Kangmas Ramawijaya
Sepeninggal dhimas Lesmana akhirnya saya menyadari bahwa cinta kasih kangmas hanya untuknya seorang. Bagi kangmas, saya tak lebih sebuah pelengkap untuk memenuhi statusmu. Kita tidak perlu berpura pura lagi bahwa kita bukan garwo, bukan sigaring nyowo(belahan jiwa). Oleh karenanya saya meninggalkan kangmas. Kita bercerai. Itulah yang terbaik bagi kita beriga, Saya akan mencari dhimas Lesmana untuk minta maaf dan memintanya kembali bersatu dengan kangmas. Kemudian, saya akan mengembara mengikuti jejak kaki. Semoga bahagia selalu.
Salam hormat
Shinta

Tersaruk saruk Shinta meninggalkan hutan Dhandhoko. Ia benar-benar tidak tahu harus kemana pergi. Ia tidak tahu dimana Lesmana. Tidak mungkin ia pulang ke kerajaan Manthili karena ayahnya telah wanti-wanti kepadanya untuk tidak purik. Ia jerih kembali ke Rama, hatinya sakit melihat Rama hanya menatap bulan merah membayangkan Lesmana. Shinta sudah mutung, tung. Belum lagi becek, digigit nyamuk, makan tekèk, dll. Ia melangkah dan melangkah terus mengikuti langkah kakinya. Dalam bayang2 rasa bersalah karena mengusir Lesmana ….
Tanpa disadarinya ia telah keluar dari hutan Dhandhoko dan masuk laladan lain. Hutan Jantoko yang gelap pekat, tempat yang gawat ke-liwat-liwat. Jika ada sato kewan masuk, pasti mati. Apalagi jika itu bangsanya ayam, bebek, kambing, sapi. Pasti jadi ingkung, tong-sèng, empal atau steak. Jika ada manusia masuk kesitu, harusnya mati. Tetapi laladan ini lebih gawat. Yang masuk mesthi disiksa, dislomoti rokok, dan ditempilingi dulu. Banyak manusia hilang disini tanpa ketemu kuburannya. Wé lha dalah gawat nian …. , laladan apa ini ? DOM ! … daerah operasi militer. Wuaduh, lantas siapa komandan DOM-nya ? Dalam keremangan samar-samar muncul sosok tubuh tinggi besar. Rahang bawahnya panjang dan taring tunggalnya mencuat keatas mingis-mingis. … Kolonel Telik Sandi negara adidaya Alengka Diraja ! … Dityo Kolo Marico ! (Chakill)
Eèèèng … ing … èèèèèèèèèèèèng …..
+ Kiiiiiii… !
- Opo …. !
+ Gamelannya kok begitu ?
- Iki gamelan Londo, tau’ ?
+ Begini saja, Ki : mung, mung gung mung gung mung gung mung .., mung …
- Emoh ah, èlek BGT.
+ Kok jelek ?
- Suaramu pating gedhumbrèng koyo èmbèr di kepruk’i !
+ Wo, nggih …


########################
Episode 10
Janda di Sarang Penyamun


Begitu masuk Dewi Shinta langsung diinterogasi Dityo Kolo Marico.
“ eiiiit …. ini ada cewek nan cantik jelita, … siapa kau, dari mana asalmu, ngapain kesini ? … mana ktp, sim, paspor, visa, izin kerja, daftar riwayat hidup, ppn, pajak, … dst … dst “
“… Tumbaaaaas … Aku kesini mo beli bakpia pathook … Kamu siapa ?“
“ eiiiiit … disini tidak ada bakpia pathook, adanya minyak tanah, mau ? Saya Dityo Kolo Marico van der Alengka Diraja. Siapa kau ?”
“ Wo, kamu Kolo Wahing, to ?”
“ eiiiit …, wahing ..bersin..?”
“ Lha, Mrico itu rak bikin wahing, to ? Aku Dewi Woro Shinta binti Janoko soko Manthili “
“ eiiiit …, putri Prabu Janoko, to ? …. monggo … monggo …
“ Kamu tahu keadaan Manthili ? “
“ eiiiit … tahu. Intelejen saya melaporkan keadaan Manthili sedang krisis ekonomi !
“sik, siapa bossmu …. ?”
“ eiiiit …, Sarpokenoko menko polkam itu boss dan istri saya. Rajanya ratu gung binatoro yang menguasai hutan ini Prabu Rahwana.”
“ Apakah kita bisa berbicara dengannya ?”
“eiiiit …, kebetulan, dua-tiga hari lagi mereka akan datang. Silahkan tinggal di dalem Kolo Marican, gusti Dewi“
“Bagus, aku mau buat political deal dengan sang Prabu … “
Mengetahui keadaan Manthili sedang susah darah negarawan Shinta terusik. Ia tahu bahwa Alengka adalah negara facist adidaya yang sangat kaya raya. Beberapa hari kemudian datanglah penguasa rimba Jantoko, maharaja Prabu Rahwana dengan diiringi oleh adiknya, Dewi Sarpokenoko. Prabu Rahwana tubuhnya tinggi besar dengan badan gempal penuh otot pating pethokol mirip Ade Rai, Arnold Schwarzneger, atau the Rock. Lehernya leher beton dengan rambut gimbal terurai krembyah-krembyah. Prabu Dasamuka adalah raja pemarah – bludregan. Ia tidak bisa dibilang tampan. Rahangnya pesegi kukuh yang justru memancarkan citra jantan. Matanya mudah melotot. Jika bicara seperti mem-bentak dan selalu diikuti dengan sumpah serapah. Jika berjalan selalu menghentak hentak bumi sampai serasa ada gajah lewat. Raja gung binatoro ini sangat pd, nyaris megalomania. Sarpokenoko adalah wanita militer. Tubuhnya juga tinggi besar. Dandanannya menor dan suaminya banyak. Poliandri umum diwaktu itu.  Di Mahabharata Dewi Drupadi atau Dewi Pancali bersuamikan lima orang. Kol. Marico adalah salah satu suami Sarpokenoko. Setelah dikenalkan dan basa basi, Shinta mulai bicara
“Prabu Rahwana, izinkan saya bicara”
“Mau apa kau ! “ Dengus bernada bariton keluar dari rahang kukuh Rahwana.
“Negara saya miskin, kanjeng Prabu. Saya hendak minta bantuan. Sebagai imbalan, negara kami akan menyerahkan pangkalan militer “
“Mengapa harus membantumu, hah “ Sang raja ganas bereaksi “Tak gempur negaramu jebol ! “ Rahwana menggeram menunjukkan jati dirinya sebagai makluk ganas. Shinta yang selama ini dirundung nestapa mendapat kesempatan untuk melupakan pedih hatinya. Ia tertantang menjinakkan si buas.
“Kanjeng Prabu tidak perlu menggempur negara saya yang miskin dan lemah. Mengapa tidak menggunakan modus operandi yang lain ?“
Shinta tersenyum manis. Ia menyukai peranan barunya. Kemanapun ia pergi selalu dilelo-lelo seperti golek emas. Tidak ada seorangpun mengijinkannya bekerja keras. Sekarang ia harus meyakinkan si Penyamun. Ia menyukai peranan barunya. Semangatnya ma-kantar2. Disisi lain sang maharaja ter-heran2 ada makluk lemah dan rapuh ngèyèl. Ia selalu berhadapan dengan raja2 dan satria2 perkasa dan berujung dengan lutahing ludiro (banjir darah). Sekarang berhadapan dengan wanita. Raja besar yang kuper dengan wanita jadi kikuk. “ Modus operandi apa ? “
“Nglurug tanpo bolo, menang tanpo ngasoraké, dan sakti tanpo aji “ Shinta menyembah takjim. “Opo kuwi, ndhuk ? “ Rahwana mulai tertarik. Ndhuk ! Shinta nyaris berteriak kegirangan, nada ndhuk-nya nada kekeluargaan. Si Penyamun sudah tidak lagi melihat dirinya sebagai mangsa ! Diusapnya keringat dingin di keningnya.

############################
Episode 11
Si Molek dan si Buas
Beauty & the Beast


Rahwana

“ Selama ini baginda selalu mengerahkan wadyo bolo pirang-piramg bergodo, menang dengan mengalahkan dan selalu ngagem aji2 “ Shinta mengerahkan kasudibyan salesmanshipnya. “ Sekarang kita coba menaklukkan tanpa wadyo bolo, tanpa aji-aji, dan tanpa menyakiti warga sana, bisa tidak “ Sikap Shinta mengusik “ Selama ini gusti Prabu selalu memakai modus operandi wutahing ludiro (tumpahnya darah), sekarang kita coba modus baru, kanjeng Prabu “ Wajah sangar Rahwana meredup, ia menyimak kata-kata Shinta dan Shinta mulai berkicau. Saat itu Shinta merasa bebas, lepas dari suami yang tidak mencintainya. Ia menjadi dirinya.
“Kanjeng Prabu sugih kendel bondho wani. Itu memang perlu tetapi tidak cukup“
“Opo manèh ?”
“Sugih pétung bondho kaweruh. Kaweruh itu digembol ora metosol, diguwak ora gemrosak”
“ Wuik, opo kuwi, ndhuk “
“ … ihik, hik, hiiii hikk … saya juga tidak tahu … cuma mbagusi kok … hik hik …“ Shinta terkikik sambil menutupi mulutnya. Wajahnya tampak naif dan manis. Seperti bocah ketahuan bohongnya. Sang Raja ter-bahak-bahak dikerjain gendhuk itu.
Kemudian pembicaraan bergeser, Shinta mulai bicara tentang dunia kecilnya dihutan kemarin. Tentang kembang Sepatu, Menur & Kenongo, burung Bekisar, bahkan tok-érok dengan matanya yang seperti kelereng. Dengan mata berbinar diceritakannya sayap-sayap bening bandhempo yang seperti kain sutra. Sampai larut malam. Pada hari yang lain Shinta bicara tentang dirinya yang juga manusia biasa. Ia juga wanita seperti layaknya wanita lainnya. Yang membedakannya hanya kedudukannya semata. Saat Rahwana datang menemuinya, sesekali sempat juga ia memperhatikan tubuh Rahwana yang tinggi besar, gempal, berotot, dan atletis. Bahkan tubuh Rahwana jauh lebih tegap dari pada Rama suaminya. Rahwana, jelas jauh lebih ‘macho’ dan tentu bisa membuat setiap wanita gandrung dan mabuk kepayang. Sebagai seorang wanita muda yang sudah sekian lama tak tersentuh laki-laki. Dewi Shinta beberapa kali juga sempat merasakan detak jantungnya tiba-tiba berdegup keras tak terkendali. Bulu kuduknya seringkali berdiri meremang, saat membayangkan tubuh Rahwana menyentuh dirinya. Bukan karena takut, tetapi karena terbuai oleh bayangan erotik yang tiba-tiba merangsek ke dalam benaknya. Keringat dinginnya mengucur begitu saja di seluruh permukaan tubuhnya. Tubuhnya, tiba-tiba berubah menjadi panas dan seketika otaknya tidak lagi bisa berpikir jernih. Ada gejolak gairah yang tiba-tiba menyeruak tanpa bisa dikendalikannya. Badannya bergetar hebat, lidahnya terasa menjadi kelu dan sukar untuk berkata-kata. Jari-jari tangannya yang lentik, tiba-tiba menjadi gemetar. Tubuhnya lemas dan seakan ia tidak mempunyai kekuatan untuk menggerakkannya. Hatinya sejenak menjadi resah dan gelisah. Saat ia menjawab pertanyaan Rahwana, kalimat yang terlontar dari mulut mungilnya begitu bergetar, sehingga saat mengucapkannya menjadi terbata-bata. Untunglah, Rahwana menganggap kalimat yang diucapkan terbata-bata itu, sebagai ucapan seorang yang sedang dilanda ketakutan hebat. Andai saja Rahwana tahu apa yang sedang dirasakannya, mungkin ceritanya akan menjadi lain. Selama ini dunia Rahwana adalah dunia satu dimensi. Selalu tentang darah, darah, dan darah. Malang melintang dari satu medan laga ke medan tempur lainnya, Dalam keriuhan ringkik kuda, deru campur debu, lolong kematian, sumpah serapah. Tentang bagaimana meretakkan rahang lawan. Tentang bagaimana menebang leher musuh. Tentang bagaimana memporakporandakan pertahanan lawan. Dunia lutahing ludiro … bau anyir mengikuti kemana Raja beringas ini pergi. Kini Sang Penyamun teretegun melihat dunia lain. Dunia yang tak pernah dijenguknya. Tentang Semprang yang ekornya njeprik, tentang anak-anak bebek yang namanya minthi.  Kemudian tentang Ronggowarsitan; tentang Kolotidho, Kolobendu, dan Kolosubo. Tentang Unining Uninang Uninong. Sang Maharaja tergugah; ia melihat dimensi lain selain genangan darah merah. Ia mulai menyukai kicauan si burung Pipit kecil mungil, si gendhuk Shinta. Gendhuk mungil itu menghadirkan pelangi dalam hidupnya. Di sisi lain, rasa bombong merayap di hati Shinta. Berbulan di alas Dandoko serasa tidak punya arti. Di Jantoko ia melakukan peranannya nyaris sempurna. Negotiator par excellence ! The beast nyaris dijinakkannya, ia tidak lagi buas. Harga dirinya membubung naik. Mendung yang menyaput wajahnya tersibak sampai sumeblak. Kecantikannya kembali mencorong seperti bulan moblong2. Semua orang terpesona oleh kecantikannya tetapi si buas ini tidak. Ia sudah tuwuk dengan gadis cantik. Baginya, mencari gadis ayu semudah memijit buah Ranti. Ia lebih menyukai kicauannya dan Shinta sangat berbahagia dengan sorot mata menyanjung dari si buas. Hati Shinta ber-bunga2. Ia merasa bebas, seperti burung terbang diangkasa melayang-layang. Shinta menjadi sedikit liar. Malam itu bulan purnama. Shinta & Rahwana bercengkerama berdua dipinggir sebuah sungai. Entah apa yang sedang terjadi, mungkin Bathara Kamajaya sedang lewat disitu. Atau Shinta ikut-ikutan meminum anggur Sang Penyamun yang membuatnya sedikit pusing. Suasana begitu indah dan Shinta tergerak untuk mengeramasi rambut Sang Penyamun yang gimbal dan krembyah-krembyah. Sang maharaja manut, ia telentang
dipinggiran pasir kali yang basah. Dibiarkannya gendhuk mungil itu membasahi rambutnya. Sambil berdendang, Shinta mengeramasi rambut Sang prabu. Kemudian dibasuhnya muka Sang Raja sambil tiap kali membetulkan kemben yang lobok. Kemben pinjaman mbakyu Sarpokenoko kedodoran. Selalu mlotrak mlotrok.

############################
Episode 12
Julang Pilar Legam


Lama-lama Shinta gregeten. Kemben akhirnya ditanggalkannya dan ia bertelanjang dada. Sepasang cengkir gading yang indah bergelantungan dengan bebasnya. Shinta membasuh leher Rahwana, kemudian kebawah, mengusap badan Sang prabu yang penuh bulu. Badannya bergoyang dan terkadang sepasang cengkir gading itu berayun-ayun menyapu badan Rahwana. Ketika membasuh lengan, telapak tangan Sang Raja dilekatkannya ke dadanya. Ketika sampai ke pinggang Sang Raja, tanpa wigah wigih disingkapnya kain Rahwana. Janda muda itu terkesiap nyaris terpekik. Ada pilar menjulang tegak. Seperti batu gilang hitam legam. Besar. Untuk sesaat Shinta terpana dan terasa darahnya berdesir. Diambilnya segayung air dan disiramnya pilar hitam itu. Kemudian diusapnya pilar itu. Jari2 lentiknya tampak mungil menyusuri pilar yang menjulang seolah menuding indahnya Sang Ratri. Lalu dikecupnya mahkota pilar itu. Seolah mengecup sekuntum mawar. Bukan mawar merah atau putih, mawar hitam. Mulutnya tampak kecil, apalagi ketika pilar itu masuk kemulutnya. Beberapa saat pilar itu diantara kemungilan jari-jari lentik dan mulutnya. Lalu didekapnya pilar itu kedadanya. Pilar itu terasa hangat. Dan putik sepasang cengkir gading itu merona ke-merahan. Tiba-tiba Shinta merasa ada yang basah mbrebes mili dari dirinya, dan hangat. Sembari berdiri dibukanya kain yang menutup tubuhnya. Ia kini berdiri tanpa sehelai benangpun dan rembulan membuatnya seperti bersinar gilang gemilang. Rahwana memandangi tubuh mungil indah itu. Dan pilar legam itu terangguk-angguk, seolah memengagumi keindahan tubuh molek itu. Shinta merebahkan badannya kepaha Rahwana. Seperti cecak ia merayap ke tubuh Dasamuka yang terlentang. Pelan-pelan ke atas sambil menciumi seluruh tubuh Sang Penguasa rimba Jantoko. Cengkir gadingnya menyusuri tubuh Rahwana yang penuh bulu. Dua-duanya tergetar. Terasa bagai ada dua butir kerikil diujung cengkir gadingnya menyentuh tubuh Sang Raja. Akirnya Shinta sampai keatas, nafaspun menderu. Dikecupnya pipi Sang Penyamun dan kemudian didapatnya mulut Sang Raja. … sensor … sensor …. sensor ….

Ini yang di sensor:
Sensor OFF. . .

Bergegas mereka pergi ke bangunan utama keratin Alengka dan langsung masuk kamar tidur keprabon. Rahwana menendang pintu “blaam” hingga tertutup. Mereka bergulingan di kasur yang empuk dengan nafas terengah-engah. Desah nafas keduanya makin menderu. Tangan Shinta me-raba-raba mencari-cari pilar itu. Antara gairah dan sedikit takut karena pilar yang kelewat besar bagi tangan Shinta. Ukuran kejantanan Rahwana ini pas sekali dalam genggaman tangan mungil wanita itu, ukurannya yang besar sangat cocok dengan postur tubuh Sang Penguasa dan ini sangat mempesona bagi Shinta. Urat – urat yang mengitari batang kejantanan Rahwana berdenyut dalam genggaman tangan wanita itu; wanita cantik itu tak bisa menghindari kekagumannya pada alat vital Sang Penguasa namun seperti anggota tubuh yang telah dipasangi susuk, Shinta tidak bisa melepas pandangan dari kejantanan pria itu. Ingin sekali rasanya wanita itu merasakan kejantanan Rahwana itu di dalam garba kewanitaannya, ia tidak yakin benda besar dan panjang ini bisa masuk seluruhnya, tapi… Shinta seharusnya tidak akan mengijinkan Rahwana menyetubuhinya. Ya. Itu pasti. Tidak mungkin. Mestinya tidak boleh, namun ia telah mantab akan meninggalkan suaminya yang bisex dan hanya peduli kepada Lesmana itu.
Tangan Rahwana meraih pergelangan tangan Shinta dan membimbing mengocok kejantanannya secara perlahan. Kejantanan Rahwana yang hitam, besar dan panjang membuat wanita itu sangat terpesona. Penis Rahwana jauh lebih gemuk daripada milik suami yang ditinggalakannya, lebih panjang dan sangat keras. Panjangnya melebihi milik Rama. Hitam… besar… panjang…
Setelah beberapa saat membiarkan tangan Rahwana membimbingnya, Shinta tidak membutuhkan dorongan apapun lagi untuk terus menikmati kemantapan alat kelamin Sang Penguasa ketika Rahwana melepas tangannya, Shinta masih terus mengocok kejantanan raksasa itu. Apa yang dimiliki itu tak akan mengingkari hukum alam, bagaimana orang sebesar dan sehitam Rahwana semestinya memang memiliki penis yang seperti ini! Begitu besar dan panjang… tangan Shinta bergerak turun ke pangkal batang kejantanan pria itu, mengagumi ukuran kejantanan yang sebelumnya belum pernah ia lihat. Nafas wanita itu makin berat, nafsunya mengambil alih, birahinya makin meningkat. Wanita itu tidak akan keberatan kalau benda ini dicoba dimasukkan ke dalam liang kenikmatannya… tapi… tapi…
Saat itulah Rahwana mendorong jarinya yang panjang ke dalam bagian terlarang milik Shinta. Terpengaruh oleh rangsangan bertubi, Shinta mencoba menyikapi dengan kesadaran yang tersisa. Hanya ada satu konsekuensi yang akan ia peroleh jika mengijinkan Rahwana melakukan rangsangan lagi, dan hal itu mestinya tidak boleh terjadi. Shinta berusaha menyadarkan dirinya sendiri. Dia telah pernah menikah. Dia barangkali mencintai Rama, suaminya, tapi kini di negeri asing ini belum tentu. Dia belum mencintai Sang Penguasa ini karena baru berkenalan. Tubuhnya hanya pernah dimiliki Rama, mantan suaminya. Dia seharusnya tidak boleh membiarkan ini semua berlanjut sebelum urusannya clear dengan mantan suaminya!
“Lepaskan aku dulu kang mas, baiknya kita omong-omong saja dulu!” tuntut si seksi itu. Tapi Rahwana tidak menghiraukannya.
“Strategi militer kita bicarakan nanti saja nduk cah ayu,” tukas Rahwana. Bibir pria hitam dan tinggi besar itu masih terus memagut leher putih mulus milik wanita itu. Jari jemari Rahwana menusuk lebih ke dalam. Kaki Shinta menggeliat dan menjepit tangan Sang Penguasa ia berusaha menarik tangan Rahwana keluar dari selangkangannya.
“Ini sudah keterlaluan, kita tidak boleh melakukan ini dulu! Aku ini menawarkan kerjasama militer!” Ia coba berdiplomasi.
“Ini duluan tak papa toh?” Raksasa itu mana peduli, ia malah nyengir ketika dia diingatkan bahwa tubuh molek yang menggiurkan yang sedang menggeliat di bawah tubuhnya ini adalah milik laki – laki lain, tubuh seorang ratu bahkan! (Rahwana belum tahu bahwa Shinta telah menceraikan Suaminya secara sepihak) Dengan nekat Rahwana memutarkan jarinya di bibir kemaluan Shinta yang makin lama makin basah, lalu menusukkan jarinya itu ke dalam kewanitaan Shinta lebih dalam lagi.

Ketika jari Rahwana melesak masuk, tanpa sadar wanita itu meremas kejantanan Rahwana dengan kencang. Penis itu begitu besar dan keras, wanita itu seakan tak mampu menggenggamnya utuh karena ukuran lingkarnya yang sangat besar. Dia tak pernah menduga orang sebesar Rahwana memiliki penis yang malahan sedemikian besarnya, ia sudah memperkirakan ukurannya, tapi penis milik Rahwana ini melebihi semua imajinasi liarnya. Batang kejantanan hitam besar milik Rahwana berdenyut dalam genggaman tangan Shinta yang halus, si cantik itu bisa merasakan denyut yang bergerak di urat yang bertonjolan di batang yang terisi oleh desakan darah dan sperma yang siap diledakkan. Raksasa itu menarik jarinya dan merubah posisi. Ia mengangkat tubuhnya sehingga Shinta kini bisa melihat langsung ukuran sebenarnya batang kejantanan laki – laki yang baru saja menindihnya. Mata indah si cantik itu langsung terbelalak! Luar biasa besarnya! Jauh lebih besar daripada milik Rama atau . . . apalagi Lesmana yang setengah banci itu!
“Oh Jagad dewa bathara!” desis Shinta yang terkejut.
Raksasa itu meringis. Dia bangga dan bahagia melihat reaksi tamu agungnya yang terkejut saat melihat ukuran kejantanannya. Reaksi jujur yang ditunjukkan oleh wanita itu sungguh sedap baginya. Rasa ketakutan karena tak ingin ketahuan, perasaan bersalah, nafsu yang menggelegak yang sangat terlihat di wajah wanita itu adalah keindahan sempurna bagi pria itu. Inilah yang membuatnya terangsang hebat. Shinta memang bukan seorang perawan, tapi Rahwana memperkirakan tusukan pertama penetrasinya akan seret sekali, karena walaupun sudah pernah berkali – kali melayani nafsu suaminya, garba wanita itu masih sangat mungil. Shinta memandang penis Rahwana dengan penuh ketakutan sekaligus kekaguman. Seakan ia berhadapan langsung dengan seekor ular nogotaksoko dan takut untuk menggerakkan tubuh sedikitpun. Bagi pria itu, menyaksikan konflik batin Shinta yang jelita itu sungguh suatu kenikmatan yang tak terkira.
“Cah ayu, apakah kamu inginkan yang ini nduk? Bukankah lebih baik kita nikmati saja malam yang indah ini?”
Shinta menatap Rahwana bingung, apa maksud kata – katanya itu?
Raksasa itu tersenyum dan mengulangi lagi ucapannya, “setelah selama ini bersuamikan laki – laki hebat tapi pervert setengah homo seperti Rama … apakah begini yang kamu inginkan denok deblong? Senjata pusaka sejati dari laki-laki sejati seperti ini nduk?”
Wajah Shinta memerah karena jengah. Ia jengkel dan kesal pada sikap Rahwana yang arogan, tapi memang benar apa kata sang raja itu – wanita itu sangat tertarik mencicipi kejantanan milik Rahwana yang luar biasa besarnya. Warna merah jambu karena malu merambati pipi wanita ini. Kejantanan sejati… Senjata Pusaka sejati… laki-laki sejati .. .. kata – kata itu terus berulang di otak Shinta yang makin kalut. Tidak mungkin ada penis sebesar itu! Terlalu besar dan panjang! Batin Shinta dalam hati. Setahunya lewat visidi beli di pasar gembrong yang pernah ditontonnya, tidak mungkin ada penis yang batangnya hampir sama besarnya dengan pergelangan tangan wanita itu! Ia lupa bahwa anak-anak kecil di Mantili saja sudah sering melihat ‘barang’ milik para raksasa negro Afrika yang besar dan panjang dari warnet bahkan milik para raksasa di pelosok kampung dan kota-kota kerajaan Mantili. Ketika Rahwana berpindah posisi dan kedua tangannya kini berada di bawah kain wanita itu, Shinta yang jelita itu bisa melihat dengan jelas batang penis pria itu! Shinta terbata – bata melihat panjang penis pria itu. Tidak akan muat! Benda ini tidak akan muat masuk ke dalam bawuknya yang mungil! Benda itu akan menghancurkan rahimnya! Batin Shinta lagi.
“Terlalu panjang dan besar…” desis Shinta perlahan.
Nafasnya kembang kempis, ada desakan berat di dalam dadanya, di tenggorokan dan dalam pikirannya. Panas menghentak – hentak membuat birahi wanita itu meninggi, ada kehausan luar biasa yang ditimbulkan pemandangan indah yang diberikan Rahwana pada lubang kemaluan Shinta. Rahwana tersenyum ketika wanita cantik itu menggerakkan pinggulnya keatas tanpa sadar, mengikuti gerakan tangan Rahwana mendekap pinggang dan memepetkan bunga basah yang mungil itu ke tubuhnya.
Shinta telah menyerah kepada sang rajanya…
Shinta telah ditaklukkan…
“Ya jagad dewa! Apa yang… maaf kakanda Rama, suamiku…” pikirnya.

Raksasa itu tersenyum, lagi – lagi laki – laki besar berotot berkulit hitam itu menempelkan bibirnya ke bibir tipis wanita itu, mengatupkan mulutnya ke mulut Shinta dengan satu ciuman penuh nafsu. Apapun kata – kata yang hendak diucapkan Shinta, semua permohonan dan penolakannya, luruh oleh ciuman itu. Shinta menggeser kepalanya mencoba menghindar dari ciuman Sang Penguasa tapi gerakan itu justru membuat Rahwana mendapatkan akses ke arah telinganya yang seputih pualam. Raksasa itu tidak berhenti di bibir wanita itu, lidahnya menjilat pipi dan telinga si cantik itu, masuk ke dalam telinganya, memutar dan merasakan tiap sisi kecantikan parasnya. Dada bidang Rahwana bisa merasakan kehangatan yang dihadirkan buah dada cengkir gading Shinta yang menempel kepadanya, mendorongnya naik turun seiring emosi dan nafsu yang menggelora di badan sang Shinta. Shinta tidak bisa menghindar dari rangsangan hebat yang dilakukan Rahwana pada telinga dan pipi dan dadanya, tubuhnya bergetar dan menggelinjang. Tangan Rahwana merenggangkan kedua paha Shinta, menekuknya sampai se-pinggul. Raksasa itu memposisikan dirinya di antara kedua kaki sang kekasih. Shinta menyadari apa yang tengah ia hadapi. Godaan lidah Rahwana yang terus menjilati wajah dan telinganya tak berbelaskasihan… sekaligus menggairahkan. Rahwana yang berkulit gelap itu benar – benar tahu bagaimana caranya membuatnya bergairah! Sangat nakal, sangat… terlarang. Shinta memiringkan kepala, membuat telinganya jauh dari jangkauan lidah pria itu, ia menatap pria yang tengah menggumulinya dan hendak memintanya berhenti. Ia menatap mata pria itu… mata yang penuh dengan hasrat dan nafsu. Nafsu birahi untuk menggauli tubuh indahnya. Batin wanita itu dipenuhi perasaan yang berkecamuk dan menggelora. Dia bingung, jantungnya berdebar kencang dan nafasnya kembang kempis naik turun. Bukannya menolak laki – laki yang bukan suaminya, Shinta malah menggoyang pinggul karena tak tahan godaannya. Ia malu sekali. Ia ingin memaki – maki dirinya sendiri yang tak mampu menahan birahinya, namun ketika mulut Rahwana mencium bibirnya, wanita itu tak mampu melawan sedikitpun. Bibirnya yang indah membuka sedikit untuk menerima serangan nafsu dari sang raja yang digdaya. Ketika lidah Rahwana masuk ke dalam mulutnya, lidah wanita itu menyambut dan keduanya segera bertemu dalam pertempuran nafsu. Ujung pusaka Rahwana yang jelas tak bersunat itu menyentuh bibir mbakyu T wanita itu, batang kejantanan laki – laki perkasa itu siap dilesakkan ke dalam liang cinta sang Shinta yang jelita. (mbakyu T = miss Tempik, miss V) Tentu di India Selatan tak ada budaya sunat-menyunat, namun kulup penis yang telah diplorotkan membuat mata indah milik wanita itu menyala karena kaget. Dengan pandangan bingung, wanita cantik itu menatap mata buas penuh nafsu milik Rahwana yang sedang memeluk dan menciuminya. Raksasa itu menatap mangsanya dengan senyum penuh gairah. Dia sangat menyukai saat – saat seperti ini, saat di mana wanita yang hendak ia tiduri menatap tak percaya kepadanya. Mata wanita itu terbelalak lebar karena tahu penis hitam milik raja yang digdaya sudah siap masuk ke dalam liangnya yang mungil. Rahwana mendorong pantatnya ke depan dan melepaskan ciuman dari mulut wanita itu.
“Ja – Jangan! Jangan…!! Kamu tidak boleh…” wanita itu mencoba melawan.
Raksasa itu menusuk lagi. Akhirnya ia benar – benar menembus gerbang garba wanita itu.
“Ahhhhhhhh!!!” jerit wanita itu tertahan.
Ia lalu berhenti. Rahwana kaget sekaligus senang ketika tahu bahwa vagina wanita itu ternyata masih cukup sempit dan rapat, batang penisnya yang masuk ke dalam liang kenikmatan wanita itu seperti dihimpit oleh dinding basah yang rapat dan nyaman, memberikan kehangatan yang lain daripada yang lain. Setelah tidur dengan Rama, perji (farji, vagina) mungil itu masih tetap seperti milik seorang pengantin baru. Rahwana menggerakkan badan ke depan, menusukkan kejantanannya ke mbakyu perji Shinta lebih dalam lagi. Masuknya batang penis Rahwana yang menjajah mbakyu Tnya sedikit demi sedikit membuat wanita itu secara refleks membuka kakinya lebar – lebar. Rahwana mengangkat pinggul wanita itu yang seksi dan mengangkatnya tinggi sementara dia melanjutkan niatnya menumbuk sang bidadari. Hampir tiga perempat bagian batangnya sudah masuk ke dalam, melewati bibir vagina wanita itu yang basah dan merah. Rahwana menusuk sekali lagi, menambah kedalaman batangnya.

“Ooooooh… jangan… aku tidak kuat lagi!”
Raksasa itu tertawa penuh kemenangan dan mendorong penisnya lagi. Pinggul wanita itu mulai tersentak – sentak tak teratur di bawah pelukan raja yang digdaya, kakinya yang jenjang meronta – ronta. Wanita itu mencoba mendorong tubuh pria itu, ia mencoba memberontak meskipun semuanya sia – sia, Rahwana masih tetap bertahan. Justru karena wanita itu memberontak, batang penis laki – laki raksasa itu makin membenam di dalam liang cintanya. Akhirnya si cantik itu menyerah, batang kejantanan raja yang digdaya itu sudah terlalu dalam terbenam dan kewanitaannya sudah menangkupnya dengan erat, tak akan ada gunanya melawan apalagi mencoba mendorong pria itu. Dia memang harus rela disetubuhi pria itu seperti yang telah dimulai Shinta terlebih dulu. Kalimat itu membuat gemetar seluruh tubuh wanita itu. Dia berlagak tak mampu berbuat apa – apa lagi! Dia hanya bisa pasrah! Dia akan segera mendapat kenikmatan luar biasa disetubuhi sang raja! Nafsu birahi yang bercampur dalam benak sang Shinta membuatnya sangat bergairah. Ada perasaan aneh yang menyapu tubuh wanita itu, gairah sensasi birahi yang menyelimuti dari ujung kaki hingga ke ujung rambut. Ia mulai terbiasa dengan ukuran kejantanan pria itu. Kewanitaannya yang terus disiksa oleh kenikmatan mulai lengket pada batang penis raja yang digdaya, dinding garba wanita itu mulai merenggang dan menyesuaikan dengan ukuran penis yang menginvasi. Namun… ketika wanita itu sudah bersiap, tiba – tiba saja Rahwana berhenti. Setelah beberapa detik tanpa ada gerakan, wanita itu akhirnya sadar Rahwana sudah berhenti menusuk. Ketika mata indah Shinta yang cantik itu melihat ke tubuh yang menguasainya, Rahwana rupanya tengah terdiam dan menikmati saat – saat yang sangat diimpikannya, yaitu saat penisnya masuk ke dalam vagina wanita itu. Otot vagina wanita itu berkedut meremas penis yang ditusukkan ke dalam, menyebarkan sentakan birahi ke seluruh tubuh wanita itu. Wanita cantik itu puas sekaligus malu karena bagian dalam tubuhnya seakan membelai batang kejantanan pria itu dengan kedutan-kedutan halus. Bagaimanapun caranya wanita itu masih mencoba untuk mengendalikan tubuhnya sendiri. Ketika wanita itu melihat ke atas, ia melihat Rahwana menatapnya tajam, merekapun saling bertatapan. Wajah wanita itu memerah karena malu.
“Su… sudah semua? A… apa sudah masuk semua?” tanya wanita itu.
Raksasa itu menyeringai. “Belum cah ayu.”
Raksasa berkulit gelap itu mengeluskan tangannya di lekuk pinggang wanita itu, menikmati kehalusan kulit sang bidadari, naik ke atas, lalu menggenggam erat lengan mungil Shinta.
“Belum, ini belum masuk semua cah ayu, apa wis merasa enak?” tambah pria itu. Ia tersenyum, jelek wajahnya namun punya pesona tersendiri, dan menusuk lagi.
Betapa nikmatnya melihat wajah wanita itu yang terkejut oleh jangkauan tusukannya. Kali ini Rahwana memeluk erat wanita itu supaya posisi mereka tidak berubah dan ia bisa menusuk lebih dalam. Rahwana sangat menyukai cengkraman vagina wanita itu yang seperti tangan yang erat menangkup batang kejantanannya. Tusukan penis panjang itu bagai melawan dinding rahim wanita itu dan menembus terus ke dalam rintangan yang sebelumnya belum pernah ditembus oleh penis lain.
“Ooooooh… Ya jagad dewa bathara… oooooh.” Desah wanita itu.
Raksasa itu melepas satu tangan dan meraih rambut panjang wanita itu, ia menjambak rambut si cantik itu dan membuat kepalanya tertarik ke belakang. Wanita itu berteriak kesakitan, tapi rasa sakit itu seiring dengan gelombang nikmat sodokan di selangkangannya. Vagina wanita itu meremas penis Rahwana dengan otot lingkarnya tiap kali benda panjang yang keras itu masuk dan mencoba menjelajah ke dalam.

Beberapa saat kemudian, wanita itu bisa merasakan tamparan kantung pelir Rahwana yang mengenai pantatnya. Saat itulah wanita itu sadar, kalau kantung kontal-kantil Rahwana telah menempel di pantatnya, itu artinya batang kejantanan raja yang digdaya itu telah masuk seluruhnya ke dalam vaginanya! Secara insting, wanita itu mulai menggoyang pantatnya.
Raksasa itu menatap ke bawah, dia menikmati kecantikan alami wanita itu, dia menikmati halusnya leher jenjang wanita itu, dia menikmati matanya yang lebar, hidung mancungnya dan nafasnya yang kembang kempis. Mata si cantik itu kabur, Rahwana memberi kesempatan pada wanita itu untuk mengembalikan kesadaran, ketika akhirnya mata indah itu menatapnya tajam, Rahwana tersenyum penuh kegembiraan pada wanita itu. Wanita cantik itu membalasnya dengan senyuman lemah.
“Sekarang cah ayu,” kata pria itu, “saatnya kita berdua menikmatinya, Shinta yang denok.”
Mata wanita itu terbelalak melebar, dia terkejut oleh situasi dan kata – kata yang dikeluarkan raja yang digdaya ini. Tapi Rahwana lebih terkejut lagi ketika dia merasakan kaki jenjang wanita itu melingkar di pinggangnya. Raksasa itu tersenyum lagi, kali ini wanita itu membalasnya dengan gugup. Lalu Rahwana mulai menyetubuhinya. Wanita itu melenguh dan mengerang penuh nafsu ketika Rahwana menarik diri dan kemudian menusuk dengan kekuatan penuh. Berulang kali Rahwana mengangkat pinggulnya dan menjatuhkan diri ke dalam selangkangan wanita itu yang terbuka lebar. Rahwana menikmati kelembutan paha dalam wanita itu yang bagaikan sutra ketika tamunya ini mengikat pinggulnya dan menariknya ke bawah. Tamunya yang seksi takluk akan kenikmatan birahi di bawah pelukannya! Apakah ada yang lebih nikmat daripada ini?
Tentu saja ada, bagi Sang Penguasa kenikmatan puncaknya adalah ketika dia menyemburkan spermanya dan berharap ia bisa menghamili wanita sesempurna wanita itu. Itu akan jadi hal yang terindah baginya. Raksasa itu merenggut pundak wanita itu dan menikmati tiap jengkal kedalaman tempiknya, ia terus mendorong penisnya dan mengacak-acak vagina yang hanya pernah menjadi milik kesatria Rama suami wanita cantik yang kini meringkuk dalam pelukannya. Bagi Sang Penguasa sesaknya lorong vagina perempuan itu adalah surga yang menjadi nyata.
Kenikmatan yang terlalu berlebih membuat wanita itu tak kuat lagi, ia melolong ketika cairan cintanya mengalir. Ratapan yang keluar dari mulut wanita itu bertolak belakang dengan orgasme yang keluar dalam liang kenikmatannya. Rahwana merasakan getaran pada tubuh indah yang kini berada di bawahnya, ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan lagi genjotannya.
“Jangan Kakang… sudah… sudah cukup… aku sudah keluar… sudah…”
Raksasa itu hanya tertawa dan meneruskan gerakan maju mundurnya.
“Oh Jagad Dewa! Sudahlah, Kakang! Sudah cukup… aku tidak kuat lagi… kamu dengar tidak? Aku sudah keluar… aku tidak kuat…”
Raksasa itu hanya mempedulikan sedikit rengekan wanita itu dan meneruskan gerakannya. Wanita itu menggeliat dan meronta, mencoba mendorong tubuh pria itu. Tapi raksasa itu lebih kencang memegang tubuhnya, ia juga lebih kuat dan lebih bernafsu. Tiba – tiba saja tubuh wanita itu mengejang, dengan satu lolongan bernafsu, wanita itu sampai di puncak kenikmatannya yang kedua. Wanita cantik itu tersentak – sentak dan bergetar akibat sensasi luar biasa yang berasal dari tubuh bagian bawahnya. Si cantik itu tidak percaya, kaget dan terkejut… belum pernah ia mengalami puncak kenikmatan birahi seperti ini sebelumnya…

Sekian lama ia bersuami seorang kesatria, Shinta tidak pernah merasakan dirinya begitu nikmat. Suksmanya serasa terbang melayang ke awan. Selama ini ia merasakan suami yang setengah hati, yang stereo. Dengan tonjolan yang juga setengah hidup karena membayangkan Lesmana saja, seperti plembungan kurang angin. Kini ia merasakan tenaga sebatang tonggak legam. Tubuh Shinta meregang, bergetar dan denyut-denyut itu terasa nikmat. Ahhhhh …. , Wanita itu ambruk dalam pelukan Sang Penguasa puas dan pasrah. Tidak ada gunanya melawan. Rahwana meneruskan aksinya menggoyang dan menusuk garba wanita itu sekuat tenaga, memberikan serangan bergelombang di antara selangkangan sang wanita idaman yang mengikat pinggulnya dengan kaki yang jenjang. Gelombang orgasme membuat Shinta lemas, ia tidak lagi melawan dan membiarkan Rahwana melakukan apa saja dengan tubuhnya. Rahwana adalah seorang pria kuat yang telah mengambil apa yang ia inginkan dan dari apa yang baru saja Shinta alami, ia gembira sekali Rahwana menginginkannya. Kehangatan yang lembek terasa di sekitar selangkangan dan pinggang wanita itu, si cantik itu segera sadar kalau Rahwana akhirnya mencapai puncak orgasme. Semprotan pejuh Rahwana melesat jauh ke rahim wanita itu, tubuh wanita cantik itu bergetar seakan menunggu – nunggu bibit unggul yang ditanam oleh raksasa berkulit hitam yang bukan suami ini. Raksasa itu menarik kejantanannya dengan pelan, batangnya yang tebal dan panjang penuh dengan lumuran cairan cinta yang tercampur dari keduanya.
“Saya mencintaimu Shinta.” kata Rahwana dengan bersungguh – sungguh.
“Be… benarkah?”
Rahwana mengangguk, sudah kepalang basah, ia tidak akan mundur lagi. Ia benar – benar telah mencintai Shinta. Tidak masalah kalau ia ditolak dan harus mengundurkan diri menjadi raja penyamun lagi karena toh Shinta istri kesatria yang terkenal, yang penting, ia telah melindungi wanita yang ia cintai dan membuktikan cintanya. Shinta masih terus menatap mata Rahwana dengan pandangan berlinang. Lalu… dengan kekuatan yang entah datang dari mana, Shinta menyorongkan kepala ke atas, menarik kepala Rahwana ke bawah, dan mencium bibirnya dengan lembut. Rahwana kaget sekali melihat reaksi Shinta ini, ia tidak mengira tamunya itu akan menciumnya. Namun Shinta adalah wanita yang sangat diidam – idamkannya. Mendapat ciuman dari Shinta bagaikan mendapat anugerah yang tak ternilai harganya. Rahwana membalas ciuman Shinta dengan sapuan lembut di bibir. Mereka saling melumat dan memberikan nafas, menyapu bibir dan lidah dengan kelembutan. Setelah lama tak merasakannya, baru kali inilah Rahwana sadar, ia telah memperoleh apa yang telah ia damba selepas kehidupan kelamnya, ia telah memperoleh cinta. Setelah cukup lama mereka berciuman lembut, Shinta akhirnya melepas bibir Rahwana. Rahwana terdiam tak mampu bicara, bibirnya bergetar karena merasakan keindahan yang telah lama ia idam – idamkan.
“Mas…”
“I… Iya, manis?”
“Maukah kamu selalu tidur hanya denganku?” Pandangan mata Rahwana terbelalak kaget.
Secara jujur Dewi Sinta juga mengakui di dalam hati (hal ini secara diam-diam juga sering diutarakan kepada Dewi Trijatha), bahwa Rahwana dipandang dari satu segi, memang telah melakukan banyak kejahatan. Namun, dari segi lainnya, selama ini, ia selalu mendapat perlakuan yang sangat baik dan sopan oleh Rahwana. Dari berita dan cerita yang diterimanya dari berbagai pihak secara sembunyi-sembunyi, Dewi Sinta juga mendengar berbagai kabar tentang Rahwana. Sebagian besar kabar yang diterimanya itu, menceritakan bahwa Rahwana telah berubah menjadi orang yang gembira, penuh senyum, dan bahkan suasana istana sudah sangat berubah. Semua berita tentang Rahwana, ternyata merupakan berita yang sangat positif. Dewi Sinta sebenarnya juga berpikir, bahwa jika Rahwana benar-benar orang jahat, maka pada hari pertama saat ia datang, bisa saja ia langsung diperkosa dan ditinggalkan begitu saja oleh Rahwana. Tetapi kenyataannya, Dewi Sinta tidak pernah mengalami hal itu.

#####################
Kamar Rahwana.

Shinta baru sadar kalau ternyata kamar raja penyamun nya itu sangat bersih dan rapi. Ia tidak sempat memperhatikan ketika masuk ke tempat ini tempo hari. Barang – barangnya disusun di pojok, tempat tidurnya juga sangat bersih, sepreinya harum seperti baru dicuci. Kamar yang sebelumnya dijadikan gudang itu juga sangat wangi. Shinta jadi semakin kagum dengan pria yang telah menyelamatkannya dari cengkraman kegundahan karena Lesmana ini. Walaupun punya masa lalu yang bisa dibilang tidak menyenangkan, Rahwana adalah pria yang mengagumkan. Rahwana memang telah menceritakan masa lalunya, ia menjadi seorang raja daerah Selatan dengan ambisinya yang besar. Kini Rahwana ingin memperbaiki kesalahannya itu. Bagaikan pengantin yang baru saja menikah, tanpa diminta Rahwana mengangkat tubuh Shinta dan meletakkan tubuh indahnya dengan lembut di atas ranjang. Walaupun awalnya kaget, namun Shinta menuruti saja kemauan lelaki perkasa itu. Kain seprei yang bersih dan harum membuat Shinta tidak merasa jijik, ia bahkan sangat kagum dengan kerajinan dan kebersihan dayang-dayang Rahwana, sungguh sangat jarang laki – laki seperti ini. Rahwana duduk di samping Shinta yang terbaring. Dengan berani mantan istri Rama itu menyentuh pundak laki – laki raksasa digdaya yang rebah disampingnya. Ia menyentuh pundak Rahwana tanpa melepaskan pandangan dari mata pria raja penyamun itu. Tangan lembut Shinta meraih bagian belakang kepala Rahwana dan menariknya ke bawah, lalu bibir seksi si cantik itu mengecup bibir sang raja diraja. Ciuman lembut Shinta yang tulus mengoles bibirnya bagaikan obat untuk semua lelah, gelisah dan keluh kesah yang pernah Rahwana keluarkan seumur hidupnya. Olesan lembut bibir mungil tamunya itu juga membuat tubuh Rahwana bagaikan disentak aliran listrik berjuta volt, seandainya dia adalah sebuah baterai hidup, Rahwana sudah langsung tercharge dengan energi hingga penuh. Bibir mereka berdua saling mengelus, saling menimang, beruntai, berjalin, menikmati sentuhan pelan dan nikmat yang tak bisa diungkap dengan kata.
“Mmmhh…” desah Shinta manja.
Ia memejamkan mata dan membiarkan bibir Rahwana menari di atas bibirnya yang lembut, membiarkan bibir tebal dan keras sang raksasa menyelimuti bibirnya yang ranum. Olesan bibir Rahwana tidak seperti bibir Rama yang lembut atau bibir Lesmana yang kewanita-wanitaan. Lama pagutan bibir mereka tak saling lepas, Rahwana mulai mengeluarkan lidahnya yang bagai ular. Lidah Rahwana membuat Shinta makin tak berkutik dan tenggelam sepenuhnya dalam pelukan sang raja buruk rupa.
“Kang Mas?” tanya Shinta ketika bibir mereka lepas sejenak.
“Hmm?”
Shinta tak buru – buru menjawab karena kembali menikmati lidah dan bibir Rahwana.
“Aku… mhh… mmhh… mau… tanya…”
“Hmm?”

Kembali bibir Rahwana menggelayut di bibir sang kekasih namun kali ini Shinta menolaknya.
“Iiihhh… kakang nakal! Aku kan mau tanya sesuatu yang penting, jangan diganggu dulu!”
“Habis bibir kamu menggemaskan, mungil dan mengundang, aku jadi tidak tahan.” Kata Rahwana sambil tersenyum. “Baiklah, kamu mau tanya apa, sayang?”
“Bagian mana dari tubuhku yang paling kakang Rahwana suka? Akan langsung aku berikan sekarang juga.” Kata Shinta sambil menggigit bibir bawahnya dengan genit.
“Aku suka semuanya.”
“Ah, jawaban gombal.”
“Kalau begitu… aku suka dari ujung kaki sampai ujung rambut.”
“Hi hi hi, aku nggak percaya. Mana ada yang suka ujung kaki aku.”
“Aku suka.”
“Bohong.”
“Eh, gak percaya? Baik aku buktiin!”
Rahwana membalik badannya dengan cepat tanpa mempedulikan protes Shinta yang tertawa.
“Aku kan cuma becanda, kakang!”
Rahwana membuktikan kesungguhannya dengan menciumi jempol dan jemari kaki Shinta. Si cantik itu adalah wanita yang amat memperhatikan kebersihan, sehingga Rahwana tidak sedikitpun merasa jijik karena kaki Shinta sangat mulus dan bersih. Mirip kaki seorang bayi yang lembut dan suci. Rahwana mencium dan menjilat – jilat kaki sang kekasih dengan sepenuh hati. Shinta bergetar karena rangsangan Rahwana ini.
“A… aku percaya, kakang… aku percaya…”
Sambil tersenyum puas Rahwana mengelus lembut betis sang bidadari. Tentu saja pria perkasa itu tidak berhenti sampai di situ saja. Ia mengeluskan tangannya dari bawah ke atas, naik ke arah paha mulus Shinta. Kaki Shinta yang jenjang membuat Rahwana terkagum – kagum, begitu mulus, indah dan putih, bsangat sedap dipandang. Shinta memiliki karunia yang sangat lengkap dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, semua indah dan sempurna. Tapi bidadari itu kini tengah dilanda nafsu birahi yang meledak – ledak, ia tidak mau tangan Rahwana hanya mengelus – elus betis dan pahanya saja, ia ingin lebih. Sambil berbaring di ranjang, Shinta memberanikan diri mengelus batang kejantanan Rahwana yang masih tersembunyi di balik celana. Tangannya yang lembut bergerak naik turun dengan perlahan, membuat sekujur tubuh Rahwana merinding keenakan. Siapa yang tidak mau penisnya dikocok wanita semolek Shinta? Hanya dengan melihat pandangan mata Shinta yang berbinar, Rahwana tahu kalau Shinta merindukan permainan cinta yang sebenarnya, bukan perkosaan brutal, atau hubungan dingin tanpa perasaan seperti yang ditunjukkan Rama. Rahwana akan membuat si cantik ini menikmati persebadanan yang indah bersamanya.

Perlahan Rahwana menurunkan celana berikut celana dalamnya. Batang kangmas K(ontol)nya menegak kencang di hadapan wajah cantik Shinta.
“Mas… aku ingin… mmm… boleh aku…?” tanya Shinta malu – malu. “Mmm… bolehkah?”
Shinta tidak melanjutkan kata – katanya saat ia melihat Rahwana mengernyit keenakan. Elusan lembut jemari Shinta pada batang kejantanan Rahwana membuat raksasa itu bergetar dan menggelinjang tak kuasa menahan nafsu. Hal itu membuat Shinta tersenyum tertahan, seperkasa apapun Rahwana, ia ternyata tidak tahan dengan jari – jarinya yang lembut. Sembari menikmati elusan lembut jemari Shinta pada penisnya, Rahwana melucuti pakaian yang ia kenakan. Ia ingin bersentuhan langsung dengan kulit mulus Shinta, tanpa terhalang baju mereka. Seakan mengerti kemauan Rahwana, Shinta mengikuti dengan melucuti pakaiannya sendiri. Ia berhenti sebentar mengelus penis Rahwana untuk membuka baju. Pria perkasa itu mengerang kecewa ketika Shinta berhenti menyentuh kejantanannya, namun karena ia mendapati Shinta sudah tak berbusana ketika ia membuka mata, Rahwana tak mengeluh sedikitpun. Rahwana berdecak kagum ketika kembali bisa menikmati keutuhan tubuh molek Shinta. Benar – benar seorang bidadari yang turun dari langit, sempurna tiada duanya. Bila dibandingkan dengan bintang sinetron, mungkin Shinta lebih cantik dan seksi, kini bayangkan jika tubuh sesempurna itu dipersembahkan sepenuhnya untuk pria seperti Rahwana! Pandangan matanya tak ingin lepas dari kesempurnaan Shinta, wajah cantik lembut dengan rambut yang terurai indah, kulit mulus seputih susu yang memancarkan keharuman mewangi, payudara sempurna yang sintal dan menggairahkan, pinggang ramping, pantat bulat, semua – untuk Rahwana. Shinta diam saja tanpa mempedulikan kekaguman Rahwana kepadanya dan meneruskan ‘pekerjaannya’ memainkan kejantanan Rahwana. Rahwana buru – buru sadar dari rasa kagum yang membuatnya terbengong – bengong dan segera kembali ke posisi semula, ia berbaring dan membiarkan wajah Shinta tepat berada di depan penisnya sementara ia sendiri berhadapan langsung dengan kaki sang bidadari. Saat itulah pria raksasa yang perkasa itu menurunkan wajahnya hingga ke kaki sang bidadari. Shinta meringis keenakan saat Rahwana beraksi, tanpa malu – malu pria raksasa raja diraja penyamun itu menjilati dan menciumi ujung – ujung jemari kaki Shinta. Rahwana melakukan aksinya dengan sangat pintar dan membuat Shinta menggelinjang, Janda muda yang statusnya mungkin adalah istri orang itupun tak kuasa menahan desahan demi desahan yang terus menerus keluar dari bibir mungilnya.
“Auhhhhhmmm, kakanggg… geli kakang… jangan… aaaaahhhh…” tangan Shinta tak beranjak dari batang kejantanan Rahwana, terus meremas dan mengocok penisnya yang besar dan hitam sementara sang raja penyamun mencumbu dan mengulum jari – jari kaki dan betisnya. Melihat Shinta keenakan, Rahwana menarik kaki wanita cantik yang mulus dan jenjang itu ke bawah.
Jengkal demi jengkal sisi-sisi kaki Shinta dicumbui dengan buas oleh Rahwana, si cantik itu makin tak tahan dibuatnya, kakinya bergerak tak menentu arah, menyepak kesana kemari. Rahwana tersenyum, dengan tangannya yang berotot dipegangnya kaki Shinta erat – erat, lalu dijilatinya seluruh bagian kaki Shinta yang sangat putih dan indah itu.

“Aaaahh, kakangsss… ouuuhhh, jahaaaat… geli ahhhh!!”
Rahwana melanjutkan ciuman dan jilatannya tanpa memperdulikan desahan manja sang janda muda. Shinta memejamkan mata menahan nafsunya yang menggelegak hebat karena permainan yang dilakukan oleh Rahwana. Semua perasaan jijik yang selama ini dipelihara telah ia lepaskan dengan bebas bersama Rahwana. Shinta melenguh dan mengerang tanpa malu, membiarkan suaranya lepas menyebar ke seluruh penjuru kamar istana. Seluruh penat dan stress karena masalah Lesmana dan Rama membuat Shinta menyerahkan seluruh tubuhnya pada Rahwana. Rahwana kini tak hanya menggunakan lidah dan mulutnya saja, tangannya bergerak menyentuh paha Shinta dan mengelus – elusnya lembut. Tak pernah ia membayangkan sebelumnya kalau ia mampu melakukan hal ini, yaitu mengelus – elus paha mulus seorang wanita cantik dan terhormat seperti Shinta. Mantan istri Rama itu masih memejamkan mata, ia membiarkan saja tangan Rahwana bergerak nakal menyusuri pahanya yang putih mulus sampai ke pangkal paha. Setelah bagian bawah kaki Shinta yang jenjang basah oleh ciuman dan jilatan bibir dan lidah Rahwana, kini giliran paha mulus Shinta yang diserang. Janda muda itu membuka pahanya lebar – lebar memperlihatkan keindahan bibir bawuknya yang merekah merah muda, kuncupnya yang mungil mempesona Rahwana. Ia kagum Shinta masih memiliki bentuk vagina yang indah padahal sudah bertahun ia memberikan segalanya pada Rama. Jari jemari Rahwana bergerak lincah menyusuri daerah sekitar bawuk Shinta tanpa sekalipun menyentuh bibir mbakyu Tnya. Tubuh Shinta menggelinjang karena menahan nafsu yang kian lama kian tak tertahankan. Sekali – sekali Rahwana menyentuhkan jarinya ke bibir bawuk Shinta seakan tak disengaja.
“Ahhhh!! Ahhh!!” desah Shinta manja, tubuhnya bergetar hebat tiap kali Rahwana memancingnya.
Tak tahan oleh perlakuan sang raja penyamun , Shinta melenguh panjang, kepalanya bergerak makin tak terkendali ke kanan kiri sementara matanya masih terus terpejam. Melihat gerakan erotis dan lenguhan manja sang tamu, Rahwana makin berani. Dengan nekat pria kurus berkulit gelap itu mendorong kepalanya masuk ke pangkal paha Shinta.
“Aaaaaaaaaaahhhh!!!” Shinta kembali mengeluarkan desahan panjang.
Rahwana terus melaksanakan niatnya menguasai daerah bawuk Shinta dengan bibir dan lidahnya. Hisapan, ciuman dan jilatan silih berganti menyerang sang janda muda. Belum sampai kejantanan Rahwana masuk, liang cinta Shinta sudah mulai basah. Bahkan Rahwana bisa melihat tetesan air cinta mengalir tipis dari bibir mungil bawuk sang kekasih. Shinta mengangkat pantatnya, meminta bibir Rahwana terus mengelus bibir vaginanya. Dengan lembut Rahwana menyusuri rambut bawuk Shinta yang lembut. Rahwana paling suka dengan wanita seperti Shinta, dia merawat rambut bawuknya dengan mencukurnya rajin, baunya juga sangat wangi dengan aroma khas. Rahwana sengaja menggoda Shinta dengan menghembuskan nafas ke liang kewanitaannya tanpa menyentuh. Shinta tak tahan lagi, dia sodorkan bibir kewanitaannya ke mulut Rahwana. Dengan kedua jarinya, Rahwana membuka sedikit mulut bawuk Shinta. Iapun segera mencari titik kelemahan sang janda muda - klitorisnya. Ketika tonjolan cukup panjang yang mematikan itu berhasil ditemukan, Rahwana memperlancar aksinya menaklukkan Shinta. Bentuk klitorisnya memang agak panjang menyerupai penis kecil tepat di atas lubang kewanitaannya dan ukurannya jauh lebih besar dibandingkan milik wanita lain. Jilatan, hisapan dan sedotannya membuat tubuh Shinta melonjak – lonjak bagai kuda liar yang sangat binal. Rahwana bahkan harus memegang erat tubuh Shinta agar tak terlonjak jatuh dari ranjang. Rahwana melumat lembut kelentit sang wanita cantik yang ada dalam pelukannya, ciumannya lalu beralih ke sisi luar bibir vagina dan akhirnya ke bawah, masuk ke dalam liang cintanya. Sekali lagi Shinta melonjak ke atas dan mendesis dengan keras, wajahnya yang cantik terlihat histeris namun ia berusaha keras menahan teriakannya.
“kakang! Sudah, kakang! Aku tidak kuat lagi! Masukkan! Ayo! Masukkan…”

Rahwana tidak begitu saja menuruti permintaan Shinta. Ia mainkan dulu lidahnya di bibir kewanitaan Shinta. Gerakan kaki sang bidadari makin tak tertahan, ia menendang kesana kemari tanpa sasaran. Kepalanya berpaling ke kanan dan kiri dengan mata terpejam dan keringat yang terus bercucuran. Shinta mengambil bantal dan menggigit ujungnya untuk menahan kenikmatan yang terus ia rasakan. Ketika Rahwana menyedot cairan cinta yang menetes keluar dari kewanitaan Shinta, rasa gelinya ia alirkan dengan menggigit ujung bantal. Lidah Rahwana makin berkuasa. Ia mendorong lidahnya masuk ke kewanitaan Shinta, menjilat dinding yang ada di dalam, menari dan bergoyang tanpa ampun. Jari jemari Rahwana membuka sedikit bibir kewanitaan Shinta agar lidahnya bisa lebih leluasa.
“Sudah, kakang! Sudah cukup! Aku tidak tahan lagi!” desis Shinta untuk yang kesekiankali.
Rahwana mengangkat kepala dan tubuhnya, kini ia membenamkan bibirnya ke telinga sang bidadari. Orang yang pernah menyerang Maespati itu terus membisikkan kata – kata mesra ke telinga Shinta, sementara tangannya asyik memainkan pentil susu yang sudah sangat menjorok keluar. Mantan Istri Rama itu sudah sangat bernafsu, wajahnya memerah karena sangat menginginkan kejantanan Rahwana. Ia mengelus dada Rahwana dan meminta dengan pandangan memelas. Rahwana tahu apa yang diinginkan oleh tamunya yang jelita itu, ia segera mengambil posisi. Rahwana kembali mengincar klitoris panjang milik Shinta. Benda mungil yang menjorok tepat di atas area bawuk sang bidadari itu dijilatnya ke kanan dan kiri, digerakkan naik turun. Bagi seorang wanita, titik kelemahan inilah yang membuatnya tak tahan menerima godaan laki – laki. Begitu pula bagi Shinta, tubuhnya melejit dan pantatnya diangkat tinggi – tinggi, cairan cintapun meleleh membasahi bibir bawuk si cantik itu. Ketika Rahwana nekat menyeruput cairan cinta Shinta, istri Rama itupun menggelinjang keenakan dan meronta.
“Kakaangg… ahhhhh… ooooohhhhmmm… aja nggo dolanannn …” Shinta merem melek keenakan, dia sudah tidak tahan lagi. “Ayo masukkan, kakang! Cepeeeet!! Aku tidak tahaaaan!!” rengeknya manja.
Dengan hati – hati Rahwana menaiki tubuh sempurna milik Shinta, putihnya kulit mulus Shinta yang bagai pualam membuat pria raksasa itu terkagum – kagum. Kontras sekali kulit bidadari ini dengan kulitnya yang hitam legam. Apalagi melihat payudara sempurna yang tak puas – puas remas dengan gemas. Betapa kagetnya Rahwana ketika Shinta nekat menarik batang kemaluannya yang sudah mengeras.
“Ouuuughhhh, besar sekali… ehmmmm… masukan, kakang!! Cepeeettt!!”
Tentu saja Rahwana tidak ingin begitu saja menyodokkan penisnya ke kewanitaan Shinta walaupun dia sangat ingin. Dengan gerakan ringan, digoyangkan ujung gundul penisnya ke bibir bawuk Shinta tapi selalu ditariknya batang kemaluan itu ketika Shinta ingin membimbingnya masuk ke dalam.
“Aaaahhh! Gimana sih!! Ayoooo, aku sudah tidak tahaaaann!!!” rengek si cantik.
Dengan hati – hati batang kejantanan Rahwana ditarik oleh Shinta masuk ke dalam liang bawuknya. Bagi Rahwana, ini yang namanya mimpi menjadi kenyataan. Sang tamu yang cantik jelita dan seksi sangat bernafsu menikmati kemaluan raja Alengka yang buruk rupa, raksasa dan hitam legam. Shinta sudah tidak ingat lagi statusnya sebagai istri Rama ataupun putri raja, ia hanya ingin disetubuhi saat ini – disetubuhi oleh penis raksasa Rahwana! Penis Rahwana melesak masuk dengan tidak mudah karena meskipun kewanitaan Shinta sudah sangat basah dan cairan pelumas yang keluar di dalam liang kenikmatan Shinta membanjir dengan deras, batang kejantanan Rahwana terlalu besar untuk langsung melesak masuk ke dalam. Shinta mengerang dan menggoyangkan kepalanya ke kiri dan kanan, ia menderita dalam kenikmatan. Ketika melihat Shinta sedikit kesakitan, Rahwana menunda menyodokkan penisnya, tapi Shinta justru mengangkat pantatnya, ingin segera digenjot.

Rahwana memaju mundurkan pinggulnya dengan perlahan, ia takut menyakiti ‘mbakyu T’ milik Shinta. Tapi wanita cantik itu sudah terlalu tenggelam dalam kenikmatan birahi yang tanpa ujung. Rahwana tak puas – puasnya memandang kecantikan dan kemolekan wajah dan tubuh Shinta. Lekuk tubuhnya yang sempurna, buah dadanya yang kenyal, pinggang ramping dan kulit putih mulus sang dewi. Ia bagaikan berada di awang – awang, tak percaya ia ternyata berhasil menikmati keindahan tubuh istri Rama yang sangat seksi ini.
“Kanda… aku nggak tahan… terussss… aaaahhhh…” Shinta merengek manja.
Rahwana tidak mampu menjawab karena merem melek keenakan. Kewanitaan Shinta meremas – remas penisnya, memilin dan menggilingnya dalam liang kenikmatan yang sempit dan lembab. Ia tidak menyangka kewanitaan nyonya satu ini masih begitu sempit dan nikmat, penisnya seakan disedot ke dalam tubuh Shinta. Kewanitaan si cantik itu lama kelamaan makin basah oleh cairan kenikmatan yang keluar dari dalam, membuat goyangan penis Rahwana seakan menumbuk liang yang basah. Desahan manja dan kecantikan Shinta membuat Rahwana makin tak kuat menahan nafsunya. Dengan penuh tenaga raksasa berkulit gelap itu mempercepat gerakan menumbuknya. Shinta makin kebingungan, sakit sekaligus enak sekali rasanya, ia tidak tahu harus berbuat apa. Shinta hanya bisa mengimbangi gerakan memilin Rahwana dengan menggerakkan pinggulnya maju mundur. Kejantanan Rahwana yang ukurannya sangat besar memenuhi liang kenikmatannya dengan penuh, hanya dengan menggerakkan pinggulnya sedikit, penis itu sudah sampai di ujung terdalam dinding kewanitaan Shinta, si cantik itupun belingsatan dan merem melek keenakan. Tempat tidur Rahwana makin tak berbentuk, sepreinya acak – acakan, bantal dan gulingnya terjatuh entah kemana. Makin lama, kedua insan yang sedang bercinta itu semakin dekat ke puncak kenikmatan. Rahwana berusaha keras menahan orgasme, ia tak ingin terlalu cepat mengeluarkan air maninya, ia masih ingin menikmati kewanitaan Shinta yang nikmatnya bagaikan surgawi. Tapi ia tak bisa mengingkari kekuatannya sendiri, dengan sekuat tenaga, Rahwana menyodokkan penisnya berkali – kali ke dalam kewanitaan Shinta yang menjerit – jerit penuh kenikmatan. Akhirnya Rahwana mengeluarkan satu lolongan panjang, ia meremas bahu Shinta kuat – kuat. Ia hampir sampai di puncak kenikmatan. Shinta yang tahu Rahwana sudah hampir orgasme juga tak mau kalah, ia menggerakkan tubuhnya dengan gerakan menggila dan mendaki jalan nikmat menuju puncak. Shinta sudah tidak peduli lagi dengan posisinya sebagai tamu Rahwana ataupun statusnya sebagai istri Rama dan putri raja Manthili. Ia hanya ingin memuaskan birahinya secara alami, tanpa paksaan, tanpa tuntutan. Shinta mengangkat kakinya dan mengapit pinggul Rahwana, ia sodokkan pantatnya ke atas untuk melesakkan penis Rahwana lebih dalam lagi. Akhirnya si cantik itu sampailah ke ujung perjalanan permainan cinta ini, ia mengerang tanpa terkendali.
“kakang Kakaangg! Aku mau keluaaaaaar!!” jerit Shinta panik, ia tak kuat lagi menahan orgasme. “Ahhhhhh! Aaahhhh!!!”
“Ahhhhmmm!! Ayo sayang! Kita sama – sama keluar! Aaahhh!!! Shintaku sayaaaang!!”
Semprotan demi semprotan air mani mengalir deras di dalam kewanitaan Shinta, bercampur dengan cairan cinta yang memancar dari dalam. Cairan kental meleleh dari ujung bibir bawuk sang janda muda, membuktikan penyatuan kedua tubuh insan berlainan jenis ini.

Desah nafas kelelahan berpacu dari mulut Shinta dan Rahwana yang masih berpelukan dalam ketelanjangan, keringat deras membanjir di seluruh tubuh mereka, kejantanan Rahwana masih bertahan di dalam liang lembut Shinta. Untuk beberapa saat lamanya, mereka berdua hanya terdiam, membiarkan waktu berlalu dan mencoba memperoleh kembali nafas mereka yang kembang kempis. Tangan Rahwana menggenggam erat tangan Shinta, untuk sesaat sekalipun, ia tidak mau melepaskannya. Ia ingin terus bisa melakukan ini, ia ingin terus bisa menikmati keindahan tubuh sang tamu… ah bukan… ia ingin terus bisa menikmati tubuh indah sang kekasih pujaan. Ya, walaupun di mata orang luar mereka adalah tamu, tapi Rahwana dan Shinta kini resmi menjadi sepasang kekasih. Mata mereka saling berpandangan, mencoba menyelami perasaan masing – masing. Rahwana tahu, walaupun ada kepuasan dalam diri Shinta, namun matanya yang indah itu tak bisa berbohong. Ia menyimpan kesedihan yang teramat dalam. Rahwana tahu apa yang mereka lakukan ini salah, Shinta adalah mantan istri sah raja Pancawati Rama dan mungkin belum dicerai secara resmi. Ia mungkin telah menggoda wanita cantik itu untuk berselingkuh. Mungkin apa yang mereka berdua rasakan bukan cinta, mungkin hanya nafsu… tapi… seandainya diijinkan, ia ingin selalu bersama… selamanya. Shinta menatap mata Rahwana tajam, entah kenapa ia terlihat ragu hendak mengungkapkan sesuatu.
“Kang Mas, aku… bolehkah aku menanyakan sesuatu? Sebenarnya aku malu… tapi…”
“Boleh saja, sayang. Mau tanya apa?”
“Mas… emmm, sudah capek belum?… emm… mau… lagi?” Shinta mengedip genit dan tersenyum manja.
Rahwana tersenyum geli. Ia memeluk bidadarinya erat – erat tanpa sedikitpun keinginan melepas tubuh indahnya. “Apapun yang kamu minta, sayang. Apapun yang kamu minta.”
Dengan manja Shinta mengangkat tangan Rahwana dan membiarkan jemarinya mengelus pantatnya yang bulat, Shinta kemudian menggoyangnya tanpa merasa malu.
“Mau coba dari belakang?” tanya si cantik itu dengan senyum nakal.
Rahwana menarik tangan Shinta dan mengarahkan ke selangkangannya.
“Auw,” wanita itu menjerit kaget saat merasakan penis Rahwana yang kembali menegang dahsyat dalam genggamannya. “Sudah bangun lagi? Padahal baru juga 5 menit.” Shinta berseru, kagum bercampur senang.
Shinta mengambil posisi berbaring menyamping sehingga tubuh Rahwana menghadap ke punggungnya. Shinta ingin Rahwana memeluknya dari belakang sambil melakukan penetrasi. Sulit bagi seseorang pria melakukan posisi percintaan seperti ini disebabkan pantat sang wanita akan mengganjal tubuhnya sehingga penisnya tak dapat masuk secara maksimal ke dalam liang kewanitaannya. Apalagi bagi pria yang memiliki panjang kemaluan standar-standar saja, bisa-bisa penisnya selalu terlepas saat melakukan gerakan persetubuhan. Namun tidak bagi Rahwana. Meski ujung penisnya tak sampai menggapai mulut rahim Shinta namun benda itu mampu menancap dengan sempurna dalam posisi itu.
“Oughhhhhhh…huadhuh sayanggggg” desah Shinta ketika kejantanan Rahwana telah menyatu dengan kewanitaannya. Jemari Rahwana meraih kedua payudara Shinta dan meremasnya lembut sambil mengayunkan pinggulnya mundur maju.
Rahwana dapat bertahan lama dalam posisi itu karena ia tak terlalu merasa gesekan yang maksimal. Penisnya tertekuk terlalu ekstrim. Kemungkinan penisnya bakalan jadi melengkung bila terlalu sering bersetubuh dengan gaya ini. Tapi Shinta begitu menyukainya karena penis Rahwana membentur G-spot secara tepat. Bagi Shinta ini adalah posisi favoritnya selain posisi doggy.

Shinta rasanya seperti seluruh tubuhnya digedor-gedor! Tak hanya itu, sekujur punggung dan pinggang mulus Shinta diraba-rabanya dan tak lupa payudaranya diremas-remasnya. Perlahan tapi pasti dan semakin lama semakin cepat kocokan-kocokan yang dilakukan mereka berdua. Shinta dengan gerakan mundur tekan dan Rahwana gerakan tarik dorong kedepan sekencang-kencangnya dan itu semua menimbulkan bunyi. Shinta mulai terpancing lagi dan..
"Zzhh.. woouwww.. zzhh.. woouwww.. zzhh.. woouwww.."
"Terruuss.. yyaa.. teerruuss.. hmemmhh.. yaa.."
Gerakan mereka berdua semakin berpacu.. kencang.. dan keraass seolah mereka mau mengakhiri semuanya dan.. "Cah ayu.. itunya semakin licin dan kenyuutt-kennyuutt "
"enakk.. gandulku terasa dipijit-pijit.. sayaang.." erang Rahwana.
"Aku mau keluar lagi Kang mas sayaangg.. teerruuss.. teerruuss.."
Mendadak Shinta memeluk erat bantal, gerakan sama sekali berhenti dan kembali lagi bongkahan pantat Shinta berdenyut-denyut menekan-nekan tanda kenikmatan yang tiada tara.
“Tahan dulu kang mas” tiba-tiba Shinta melepaskan diri.
Sesaat mereka rebah berdiam diri bersebelahan, Rahwana kemudian merebahkan kepalanya dipundak kirinya sambil terengah-engah kelelahan dan mencoba mengatur nafasnya setelah “hampir saja” mereka orgasme.
Kini giliran Shinta yang 'berhula-hula'. Ia duduk di atas Rahwana . Shinta terlihat tak tahan melihat kejantanan raksasa Rahwana yang tegak menantang, dan segera dituntun untuk dimasukkan kedalam kewanitaannya. Kedua tangan Rahwana meremas-remas bongkahan bokong Shinta yang semakin lama bergerak berputar-putar tak karuan. Diputar-putar kepala kejantanannya di bibir kewanitaannya yang sedikit berlendir dengan tangan kanannya dan sesaat kemudian, blless.., Shinta sedikit menjerit histeris.
"Woouuwww.. heehh.. heehh.."
Badan Shinta sedikit bergetar dan diam sejenak sambil kedua tangannya bertumpu pada dada Rahwana, sebaliknya kedua tangan Rahwana meremas-remas buah dada Shinta. Mulanya dengan gerakan sedikit memutar dan kemuadian Shinta menaik turunkan pantatnya.
"Teruuss Nyona.. terruuss Nyona.. teerruuss.."
"Kocok Nyona sayang.. kocokk.. putaarr.. dan.. teerruuss.."
"Woouwww.. woouwww.. enakk kang mas .. woouwww.."
Sambil sedikit membungkuk, Shinta melakukan gerakan tarik tekan berulang-ulang, semakin lama semakin cepat dan beberapa saat kemudian..
"Woouuwww.. woouuwww.. akuu mau keluar Kang mas.. woouwww.."
Gerakan tarik tekan Shinta semakin kencang dan mendadak terdiam sambil pantatnya berdenyut-denyut menekan-nekan..
"Woouuwww.. woouwww.. aakkuu keluar Kang mas saayyaanngg.."
"Wwoouuwww.."

Pinggul Shinta itu berayun turun membuat liang senggamanya menelan habis batang kejantanan Rahwana tanpa sisa. Semua otot-otot kewanitaannya berkontraksi berirama dengan sangat cepat dan kuat diikuti di bagian panggul dan rahim. Lalu diakhiri dengan cengkraman kuat pada penis Rahwana. Kocokan Rahwana mendadak macet total, penisnya bagai tercekik dan terkunci. Bahkan gumpalan sperma kental yang terdorong dari testis nya sulit memancar hingga menyesaki saluran dalam kejantanannya. Kejadian yang berlangsung hanya beberapa detik itu membuat Rahwana ia bagai melayang ke surga. Rasa geli plus nikmatnya sungguh menyentak tak tertahankan. Kontan saja Rahwana terpekik keras sementara kedua matanya mendelik dan hanya terlihat bagian putihnya saja.
“Aaaoo…..enaakkk!!!!!!!!”
Setelah vagina Shinta kembali berkedut-kedut barulah kejantanan Rahwana agak lega memuncratkan sperma. Cairan itu melesat bagai peluru begitu terlepas sumbatannya. Mereka saling berpelukann erat dan pantat Shinta masih berdenyuutt kenyuutt menekan-nekan seolah-olah Kejantanan Rahwana akan dilahap dimasukkan kedalam kewanitaannya sedalam-dalamnya tanpa sisa.. Crrrttt…crrrtttt…crrrtttt…Begitu banyak jumlah cairan yang ia muntahkan sehingga mbakyu T-nya dan rahim Shinta bagai tak mampu menampung semuanya. Dan gerakan Rahwana mendadak berhenti sambil memeluk kedua kaki Shinta, pantatnya semakin ditekankan kedepan dan berkedut-kedut.
"Oochh.. ouch.. creett.. crutt.. cruutt.."
Sebagian tumpah dan mengotori seprey kasur. Penantian mereka selama ini akhirnya telah tertuntaskan. Napas Shinta terlihat tersengal-sengal dan berangsur-angsur menjadi diam tanpa gerakan sedikitpun karena lunglai kenikmatan yang habis diraupnya. Bibir Rahwana dikecupnya berulang-ulang. Rahwana rebah dipelukan Shinta. Akhirnya Shinta terkulai meringkuk didada Rahwana dan akirnya tertidur pulas. Shinta bermimpi seolah berjalan diantara awan diiringi ribuan tok-érok kesayangannya. Baru kali ini Rahwana merasakan seorang perempuan begitu bergairah kepadanya. Selama ini yang dihadapinya adalah perempuan2 yang ketakutan. Yang terpaksa melayaninya. Ah, Pipit kecil, sukakah kamu denganku, Raja penyamun ? Ia membatin. Dilihatnya Shinta yang meringkuk tertidur dengan senyum tersungging. Pipit kecil yang malang, mengapa kau blusukan dibelantara ini ? Rahwana mengusap tubuh mungil itu dan berkata dalam hati. Apa yang kau inginkan, ndhuk ? Katakan, ndhuk. Kubuatkan Taman Asoka dari taman kadewatan untukmu. Yg ada tok-éroknya, ya ndhuk. Pelan-pelan dibopongnya burung Pipit mungil itu pulang. Sebuah pemandangan yang kontras. Si molek dan Sang Penyamun. Yang satu meninggalkan jejak-jejak berdarah, satunya tak pernah bersua dengan kekerasan. Yang satu belia, baru belasan tahun. Satunya sudah bangkotan, bahkan lebih tua dari ayahnya. Yang satu menebar aurora sangar, satunya membiaskan keindahan. Dan …., putik cintapun bersemi diantara kedua insan itu.
“Saya mencintaimu Shinta.” kata Rahwana dengan bersungguh – sungguh.
Malam pun terasa panjang untuk mereka berdua. Ini bukan kali pertama baginya, dan jelas bukan yang terakhir.

Ini di luar pakem pedhalangan, terpaksa ditempel kembali sensorannya:

Sensor ON lagi. . . .

Bumi gonjang ganjing, langit kelap-kelip, ... blah , ... blah, .... blah, ... Ong ... ing ... oooooooooong ...
Shinta mendhem jero, wewadi penyimpangan sex Rama & Lesmana tidak dibuka kepada Rahwana. Ia hanya mengatakan tidak berbahagia dengan Rama dan minta pegat. Shinta minta bantuan Rahwana untuk menyampaikan talak-tiga. Permintaan2 Shinta dipenuhi. Yang pertama Kolo Marico diutus untuk menyampaikan kehendak Shinta untuk bercerai. Menyampaikan talak tiga. Kedua Shinta minta bantuan mbakyu Sarpokenoko untuk menemukan Lesmana dan mengembalikannya kepada kakaknya. Shinta dan Prabu Rahwana akan ke Manthili melaksanakan usulan Shinta tentang pangkalan militer dan bantuan keuangan. . . . . .

+ sik, sik, sik, ki Dhalang
- opo Jo ?
+ Sesudah ketemu, rujuk, lantas cerai, Rama tetap tidak menikah lagi. Artinya homosexualitasnya tidak sembuh, Ki
- Terus ?
+ Artinya, Mereka memang dari sononya begitu. Rama Lesmono itu kisah cinta abadi, Ki.
- Kok pinter kowe, Jo
+ Masa Shinta bersama Rama pendek sekali. Katakan 3 tahun sebelum ditundung. Sesudah itu pisah 15 tahun lamanya. Rujuk hanya sebentar, mungkin 5 tahun. Jadi total hanya 8 tahun. Pertanyaan, dimana keagungan kisah cinta Rama-Shinta?
- Embuh


By:  Ruhul Yaqin

Friday, May 8, 2015

Jurnal Seks Marlene: Fantasi Liar Suamiku

Marlene


Perkenalkan namaku Marlene, sekarang berumur 28 tahun, sudah menikah tetapi belum berencana untuk memiliki anak dulu karena masih berkonsentrasi dengan karier dan pendidikan S2-ku. Aku bekerja sebagai head marketing di salah satu bank swasta ternama di Jakarta, di samping itu sorenya aku menyempatkan diri mengikuti kuliah, tidak setiap hari sih, paling dalam seminggu 2 atau 3 hari dan waktunya sudah kusesuaikan dengan jam kerjaku. Teman-temanku bilang aku beruntung karena dikarunia wajah yang cantik dan memiliki bentuk tubuh yang indah, mungkin karena ukuran dada dan pinggulku yang sangat menggoda, selain itu ditambah pula mendapatkan suami yang terbilang cukup tampan dan mapan. Aku dan suamiku, Beny, baru menikah sekitar dua tahun. Bagiku ia bukan sekedar pendamping hidup, tapi juga partner seks yang paling luar biasa, terkadang aku sampai kewalahan menghadapi gairahnya yang begitu tinggi. Sebelum menikah memang aku adalah gadis yang lugu, seks adalah hal yang tabu bagiku, tetapi begitu merasakan nikmatnya seks setelah menikah, aku begitu ketagihan, selalu menginginkannya lagi dan lagi. Beny adalah seorang yang inovatif dalam urusan ranjang, ia mampu merubah diriku dari seorang gadis lugu menjadi aku yang liar dan haus seks seperti sekarang ini. Ia mengenalkanku pada alat bantu seks , kami mempunyai beberapa alat bantu seperti butterfly, kondom sambung dan vibrator. Alat itu kadang kami pakai dalam ritual seks kami, dari semua alat bantu tersebut semuanya memberikan kenikmatan yang berbeda-beda. Terkadang kalau lagi birahi tinggi dan suamiku tidak ada, aku juga suka masturbasi dengan alat bantu. Suamiku sangat senang melihat aku bermasturbasi bahkan sebenarnya dia yang pertama kali mengajarkan masturbasi kepadaku, dan dia tidak keberatan apabila aku bermasturbasi di depannya, malah katanya aku sangat seksi dan merangsang. Kalau sudah begitu masturbasiku pasti berlanjut dengan persetubuhan yang liar dan panas. Selain dengan alat bantu, kami juga suka bersetubuh di tempat-tempat yang tidak lazim dan bisa dibilang berisiko ketahuan orang lain karena bosan kalu di tempat tidur terus dan perlu ada tantangan, kata suamiku. Kami pernah bersetubuh di taman depan rumah dimana risiko ketahuan sama orang lainnya sangat tinggi walau kami lakukan pada pagi hari. Terus terang rasanya seru sekali, nikmat sambil deg-degan. Selain itu kami pernah bersetubuh di atas balkon sebuah hotel di Amerika ketika bulan madu kami dulu, tidak terbayang kalau penghuni kamar sebelah ke balkon juga, wah gimana jadinya tuh, tetapi itulah kenikmatannya. Kami juga pernah bersetubuh di kolam renang salah satu hotel di Bali dan hampir ketahuan oleh pelayan hotel. Sejak menikah pula aku mulai berani tampil seksi yang tidak berani kulakoni sewaktu masih gadis dulu. Entah mengapa ada kebanggan sendiri kalau orang-orang menatapku dalam balutan busana seksi dengan tatapan mupeng. Beny sendiri tidak keberatan dan juga bangga istrinya ditatapi seperti itu.

Nah dalam kesempatan ini aku mau bercerita tentang hadiah ulang tahun yang diberikan oleh suamiku bulan yang lalu, tepat pada usiaku yang ke-28. Pada waktu itu kami sepakat merayakan di sebuah cottage di salah satu pulau di Kepulauan Seribu yang tidak berpenghuni, sehingga hanya kami berdua. Kami menyewa salah satu cottage yang ada posisinya strategis sehingga dapat menikmati pemandangan laut yang menambah kesan romatis. Kami tiba di sana pagi hari tepat pada hari ulang tahunku, pengurus cottage meninggalkan kami setelah berpamitan. Memang dari awal aku sudah menduga bahwa ada kejutan yang sangat merangsang yang akan diberikan oleh Beny, tetapi aku tidak menduga betapa luar-biasanya kejutan tersebut. Ia memang termasuk royal dalam memanjakanku. Saat makan siang di depan pondok kami di pinggir pantai, ia memberikan ucapan selamat ulang tahun kepadaku.
"Happy Birthday ya Say!” ucapnya mesra sambil mengecup pipiku
Kemudian dia mengambil sesuatu dari saku celananya, sebuah kotak hitam kecil dan membukanya di hadapanku. Wah sebuah kalung dari emas putih bermatakan berlian, aku senang sekali karena walaupun buas di ranjang ia ternyata sangat romantis.
"Sini gua pakaikan" kata Beny seraya memakaikan kalung tersebut.
"Thanks ya say!" kataku.
"Itu masih hadiah pembukaan Sayang, masih ada paket hadiah yang lainnya loh" katanya.
"Apaan tuh? jangan main rahasia?rahasiaan dong" kataku lagi.
"Sekarang kita selesaikan makanya dulu, nanti hadiah utamanya diberikannya bukan di sini" katanya genit.
Bukan di sini? Wah aku semakin penasaran saja jadinya, apa ya yang akan dia berikan sebenarnya? Pasti bukan sekedar sex toy baru lagi atau lingerie yang seksi untuk membawa pada permainan seks yang romantis dan menggairahkan. Mungkin juga hadiah itu ada di travel bag yang sejak tadi ia bawa.
"Mari kita bersulang!", kata suamiku sambil mengangkat gelas berisi red wine, "demi kebahagiaan kamu, sayang" katanya lagi.
“Demi kebahagiaan kita!” kataku mengangkat gelas dan menyentuhkannya dengan gelasnya
Kami pun meneguk habis isi gelas tersebut. Setelah itu kami ngobrol tentang bebagai hal, dari obrolan ringan, hubungan kami dan mereview kembali perjalanan asmara kami sejak pacaran hingga kini. Di tengah obrolan tiba-tiba aku kok merasa begitu horny, aku terangsang sekali, mungkin pengaruh wine juga, begitu pikirku.
Tak lama setelah menyelesaikan makan, kami berjalan-jalan sebentar melihat-lihat pemandangan di sekitar tempat kami. Indah sekali memang, deburan ombak dan lambaian nyiur sungguh membebaskan kami dari suasana hiruk pikuk ibukota tempat kami tinggal. Tak lama kemudian, kami tiba di daerah berkarang-karang yang indah.
"Ok, now...ready for the main course?" katanya sambil nyengir nakal
"Apaan sih? Bikin penasaran orang aja" kataku tersenyum.
"Pokoknya hadiah kali ini beda deh dari sebelum-sebelumnya, hehehe" katanya lagi, “omong-omong say, lu pasti lebih cantik kalau cuma pakai kalung itu aja!”
Aku pun tersenyum mengetahui maksudnya, maka satu persatu aku melepaskan pakaianku mulai dari kaos, hotpants, hingga bra dan celana dalamku sampai akhirnya aku tidak memakai apapun lagi selain kalung pemberiannya itu dan cincin kawin yang masih melingkar di jari manisku.

“Lu yakin di sini ga ada orang lain lagi kan say?” tanyaku meyakinkan.
“Seperti yang lu liat dari tadi, cuma kita dan binatang-binatang di sini!” jawabnya sambil pandangannya menyapu tubuh telanjangku.
"Say, I love you!" katanya menatap dalam-dalam mataku lalu mencium bibirku dengan lembut.
Itulah suamiku, dia sangat tahu bagaimana memperlakukan perempuan. Kamipun mulai berciuman, tetapi masa cuma ini sih, yang seperti ini kan tiap hari kami lakukan, aku yakin kejutan sebenarnya baru akan ia buka, aku menikmati saja permainan yang dipimpinnya ini. Sambil berciuman dengan penuh nafsu, tanganku melucuti pakaiannya, kemeja pantainya kulempar kemudian tanganku menyusup ke balik celana pendeknya dan meraih penisnya yang sudah menegang. Kulepaskan pagutanku, lalu bibir serta lidahku mulai menelusuri lehernya, kemudian terus ke bawah. Sasaran lidahku berikutnya adalah dadanya yang bidang. Kukecup putingnya bergantian kiri dan kanan dan mulai kumainkan lidahku pada putingnya. Kukecup, kujilat, kugelitik, kugigit, inilah mandi kucing yang menjadi salah satu jurusku untuk memanjakannya. Kudengar ia melenguh dan mendesah lirih. Tak lama kemudian, aku berjongkok di atas pasir pantai. Kuturunkan celana pendek beserta celana dalamnya. Serta merta kulihat penisnya yang tegak bagaikan pentungan. Kuremas dan kukocok benda itu perlahan sambil kujilati kepalanya yang kian membesar dan memerah. Selanjutnya aku juga memanjakan batang penisnya yang berurat. Kujilat setiap titik batang penisnya. Akhirnya bibirku mendarat pada buah pelirnya. Kujilat dan kukulum sambil terus mengocok penisnya yang kian mengeras. Mulutku terasa penuh saat kumasukkan benda itu ke mulutku. Dia terus melenguh sambil kedua tangannya meremas rambutku dan mendorong, menarik kepalaku maju mundur. Aku kian ganas mempermainkan penisnya, kulakukan gerakan maju mundur mengulum penisnya hingga akhirnya kurasakan penisnya berdenyut-denyut. Kupercepat permainan tangan dan mulutku. Namun ia menghentikanku,
“Sabar say, jangan terlalu nafsu, baru pemanasan masa langsung crot?”
Kini ia mengeluarkan handuk dari travel bag dan menggelarnya di pasir agar kami bisa berbaring. Ia merebahkan tubuhku di atas handuk lalu menindihku, kupandangi matanya lembut dan kukecup bibirnya dengan lembut. Kurasakan tangannya meremas buah dadaku yang telah mengeras kedua putingnya. Tangan satunya turun terus mengusap pahaku hingga menyentuh rambut lebat vaginaku. Diusapnya belahan bibir hangat dan akhirnya klitorisku yang mungil dengan lembut tapi dengan penuh nafsu.
"Ooohh terus say.. teruuss.. aah!!" desahku lembut sambil memeluk dan mengelus rambutnya.
"Sekarang ya say, gua nggak tahan lagi!" katanya kehilangan kontrol.
"Iyaa Sayaang, gua juga mau sekaraanngg.. ayoo.." kataku sambil membuka kedua pahaku.
Ia pun mengarahkan penisnya ke lubang vaginaku dengan penuh perasaan, kepala penisnya terasa menggesek bibir vaginaku, lalu melesak masuk, didorong lagi...dan lagi...
"Ooohh Sayang.. ayoo masukkan kontolmu cepaatt.. aku nggak tahan lagii.." erangku sambil mencoba menekan pantatku seraya membuka paha lebih lebar dan akhirnya amblaslah penisnya ke dalam lubang vaginaku
Dia mendesah nikmat di balik kecupan buas bibirku yang sudah hilang kontrol. Luar biasa, kami bercinta dengan penuh gairah di atas pasir pantai, desahan kami berpadu dengan suara deburan ombak dan tiupan angin. Goyangan pinggul dan pantatku yang membuat penisnya terasa diurut oleh otot-otot kewanitaanku. Ia menjilati, menghisap, dan menggigiti payudaraku dengan nafsu birahi tinggi dan gemas sambil tetap menggenjot vaginaku dengan irama yang berubah-ubah diselingi oleh desahan-desahan nikmatku.
"Ooohh.. aahh.. mmff.. say.. ohh.. oohh.. teruuss say, enak banget!"
Nafasku turun naik seolah-olah tidak mampu menahan birahi dan apabila aku menggeser pantatku dari tempatku berpijak. Sedikit gesekan pada vagina saja memberikan rangsangan yang sungguh luar biasa. Sungguh aku sudah lupa diri dibuai permainannya, setiap remasan dan kenyotan pada payudaraku membuatku menggelinjang dalam kenikmatan.

Hari itu setiap sentuhan maupun hujaman pada vaginaku rasanya lebih nikmat satu juta kali dibanding biasanya. Ketika aku sudah di ambang klimak tiba-tiba dia malah menghentikan genjotannya dan membuka kedua pahaku dan menjilati seluruh kemaluanku.
"Aaaccrhh..", aku yang sempat merasa nanggung pun kembali menggelinjang nikmat.
Klitorisku distimulasi dengan sedemikian nikmatnya. Sambil merasakan nikmat pada vaginaku, aku meremas payudaraku sendiri, suamiku rupanya mengerti, sambil menjilati vaginaku tangannya membantu meremas payudaraku dan memilin putingku. Orgasme pun akhirnya menerpaku, aku tidak tahan lagi dan mendesah sejadi-jadinya dengan tubuh menggelinjang dahsyat. Cairan kewanitaanku mengucur dengan deras dan langsung diseruput oleh suamiku. Mataku terpejam nikmat, hebat sekali ia hari ini, lebih hebat dari biasanya. Dari vagina sekarang dia kini naik menjilati seluruh payudaraku dan putingku, aku hanya bisa terpejam menikmati sisa-sisa orgasme tadi. Antara sadar atau tidak sadar aku merasa saat memegang rambut suamiku rasanya kok berbeda. Betapa terkejutnya aku ketika aku membuka mata bukannya suamiku yang menindihku tetapi Pak Asmar, si tukang perahu yang mengantar kami ke pulau ini. Ia sudah telanjang dada, tinggal memakai celana sedengkul lusuhnya, sambil dengan nikmatnya menyusu dari payudaraku. Tentu saja aku terkejut, aku mau marah tetapi tidak bisa karena kenikmatan demi kenikmatan yang kuperoleh mengalahkan segalanya. Aku menoleh ke samping dan kulihat Beny berjongkok dan tersenyum sambil mengarahkan handycam ke arahku.
"Say, kamu...apaan ini? Kamu....", aku tak sanggup meneruskan kata-kataku karena menahan nikmat.
"Hai say...ini loh surprisenya, nikmati aja dulu yah", kata Beny
Aku tidak bisa tidak melenguh menahan rangsangan Pak Asmar. Tangan tukang perahu itu mulai memainkan puting kiriku, lalu menjilat payudara kananku. Aku pun mulai menggelinjang waktu tangan Pak Asmar meraba semakin ke bawah ke vaginaku dan akhirnya menemukan klitorsku. Aku jadi terangsang membayangkan diriku digauli orang lain di depan suamiku sendiri. Ia menghadapkan handycamnya pada kami seperti kameramen film bokep saja.
“Maaf ya Bu udah ngagetin, Ibu bener-bener cantik dan montok, Bapak jadi gak tahan nih!” kata Pak Asmar.
Tukang perahu itu lalu melanjutkan menggarapku. Dia menyedot – nyedot payudaraku dengan penuh semangat sambil jari-jarinya mengobok-obok vaginaku.
Aku melihat Beny sudah dikuasai nafsu melihat istrinya dicumbu sedemikian rupa. Aku pun memutuskan untuk menikmati saja permainan gila yang disebutnya surprise ini karena sudah tanggung untuk berhenti dan sudah terlanjur keenakan.
“Diisep yah Bu, kaya ke suami Ibu barusan!” Pak Asmar berlutut di sampingku dan mengacungkan penisnya ke wajahku.
Aku mengiyakan saja dan dengan segera kusambar dan kumasukan ke dalam mulutku, kuhisap dan kunikmati sedemikian rupa. Pria itu pun menggelinjang dan mendesah menahan nikmat.
"Teruus Bu Marlene, teruuss....enaknya!!", katanya meracau.
Penis Pak Asmar ukurannya sama seperti suamiku hanya lebih banyak uratnya dan kepalanya bersunat. Tidak terlalu lama aku mengoral batang pria itu, Beny memintaku telentang di atas handuk. Aku lepaskan batang Pak Asmar dan Beny kembali melumat vaginaku setelah sebelumnya handycam ia letakkan pada tripod membiarkannya merekam adegan kami. Tubuhku bergetar hebat merasakan belaian tangan mereka pada sekujur tubuhku. Sementara Pak Asmar masih asyik menjilati payudaraku yang menegang hebat, Beny kini menciumi bibirku dengan lembut, sengaja aku tidak mau melepas bibirnya agar tidak terlalu malu dengan si tukang perahu ini dan feelingku lebih tersalurkan padanya.

Pak Asmar
“gimana? Udah siap dimasukin lagi say? kapan lagi ngerasain yang gini…saya udah bilang ke Pak Asmar kok supaya gak kasar" bisik Beny..
"Malu sih say…ssshhh… bener nggak papa? aaahhh…gila enaaak banget…" desahku menahan nikmat
"nggak papa say, nanti kalo sakit ya nggak usah dipaksa…pokoknya kamu nikmati aja…ok" katanya menenangkan, lalu ia memberi kode pada Pak Asmar untuk bersiap siap
Terus terang, aku sebenarnya gemetaran ketika pria itu mulai menyiapkan penisnya. Rasanya tidak sreg melakukan seperti itu di depan suamiku sendiri, tapi disisi lain aku ingin merasakan sensasi aneh itu dimana diriku bercinta dengan laki laki lain dengan disaksikan olehnya. Rasa penasaran dan nafsu yang menggelegak bercampur aduk dengan cemburu dan perasaan bersalah. Pak Asmar memegang penisnya yang telah tegang itu, serta mulai di usap-usapkan dengan lembut di belahan bibir kemaluanku yang sudah sedikit terbuka. Ujung kemaluannya yang bersunat menyerupai cendawan merah itu menggosok gosok bibir vaginaku. Ahh...sensasinya sungguh luar biasa.! Sengaja si tukang perahu itu menggosoknya cukup lama agar aku terangsang habis-habisan. Mataku melihat ke arah penis pria itu yang sedang menempel pada bibir vaginaku siap mengobok-oboknya. Karena masih sedikit grogi, kedua tanganku mencoba menahan badan Pak Asmar dan badanku agak melengkung, khawatir kalau kesakitan, aku menarik pantatku ke atas untuk mengurangi tekanan penis Pak Asmar pada bibir vaginaku, akan tetapi dengan tangan kanannya tetap menahan pantatku dan tangan kirinya tetap menuntun penisnya agar tetap berada pada bibir kemaluanku sambil mencium telingaku
"Ibu rileks aja…, Bapak gosok gosok dulu yaa…biar enak….ok? uuuhh....asyik nih Bu, becek banget....kalo Bapak masukin sekarang…, boleh ga?" Pak Asmar bertanya sambil cengengesan
Aku bingung dan hanya menggeleng-gelengkan kepala ke kiri kanan, tidak tahu apa yang harus kujawab, mau sih tapi masih deg-degan, mataku memandang sayu ke arah vaginaku yang sedang didesak oleh penis tukang perahu itu dan mulutku terkatup rapat seakan-akan menahan debaran jantungku.
"Gapapa say?” bisikku meminta ijin suamiku
Beny mengangguk dan mencium mesra bibirku "Enjoy aja say, ga usah malu, I always love you kok” lalu ia mengangguk ke arah Pak Asmar.
Pria itu pun tanpa menunggu lebih lama lagi, segera menekan penisnya ke dalam lubang vaginaku yang telah basah itu, biarpun kedua tanganku tetap mencoba menahan tekanan badannya.
“Jangan tegang gitu dong say..santai aja….biarkan masuk…and enjoy" bisik Beny dekat telingaku seperti menemani orang melahirkan saja.
Mungkin, entah karena tusukan penis Pak Asmar yang mendesak desak atau karena ukuran penisnya yang lumayan besar, aku tidak tahan untuk tidak merintih ,
"aahh.. , ssshh ya pelan-pelan Pak… jangan kasar yaahh…. aahh.", rintihku lirih dengan wajah meringis menahan nyeri.
Pak Asmar mengakangkan kedua kakiku yang gemetar lebih lebar lagi. Kepala penisnya yang bersunat itu telah terbenam sebagian di dalam vaginaku, kedua bibir kemaluanku menjepit dengan erat kepala penis pria itu, sehingga belahan kemaluanku terlihat terkuak membungkus dengan ketat kepala penisnya. Setiap pergerakan mili demi mili dari penis pria itu memberikan sensasi yang tidak tertahankan. Pak Asmar terus memompa penisnya didalam vaginaku, sementara itu suamiku mendekati vaginaku dan menggesek-gesekkan jarinya pada klitorisku agar aku lebih terangsang. Tubuhku menggeliat dan mulutku terus mendesah.

"Bagaimana say…lebih enak kan sekarang?” tanyanya sambil tangan satunya meraih payudara kiriku dan meremasnya lembut.
"Sshhhhh...iya sih, mulai agak enak say….eeemmhh…beneran nggak papa niiih say…aahhh….nanti kalo gua ketagihan gimana...aahhh" wajahku memerah dan mulutku makin menceracau tak karuan, aku memang sudah mulai menikmatinya, batang itu terasa sesak di vaginaku padahal baru keluar masuk sebagian saja.
Pak Asmar menghentikan tekanan dan kocokan penisnya, sambil mulutnya mengguman, "Sakit Bu?…Bapak kurang lembut. .., maaf yaa…nafsu banget sih, ini Bapak lembutin deh!"
"aagghh…, nggaak kok Pak…udah mulai enak…tapi…jangan terlalu dipaksakan. .., yaahh.masukkan pelan pelan lagi yaaa… agak dalam yaa...aahh” jawabku terpatah-patah sambil terus menggeliat-geliat dan merangkulkan kedua tangan ke punggungnya, sopan juga orang ini ternyata pikirku.
"Oke deh Bu, Bapak mau masukin lagi…ntar kalau sakit bilang aja", sahut Pak Asmar dan tanpa menunggu jawabanku, segera saja ia merojokkan penisnya ke dalam lubang vaginaku yang terhenti tadi, tetapi kali ini kocokannya dilakukannya dengan lebih cepat.
Secara lembut tapi pasti, penisnya menguak dan menerobos masuk ke dalam vaginaku. Aku semakin rileks dan enjoy ketika penis itu telah terbenam hampir setengah di dalam lubang vaginaku, aku kini pasrah diperlakukan apapun olehnya dan kedua tanganku tidak lagi menahan badannya. Suasana pantai dengan deburan ombak dan suara hembusan angin semilir membantu membuatku terhanyut dalam permainan, ditambah pula Beny yang mengulum lembut payudaraku. Pak Asmar menekan lebih dalam lagi sehingga aku meringis meringis menahan sakit bercampur nikmat, kedua pahaku menggeletar. Sodokan-sodokan penis pria itu terasa semakin bertenaga saja sampai tubuhku ikut terguncang-guncang hebat. Beny mundur membiarkan Pak Asmar lebih leluasa menikmati tubuhku, ia nampaknya begitu menikmati menonton istrinya sendiri digumuli oleh pria tua ini. Ada kira-kira sepuluh menitan si tukang perahu menggarapku dalam posisi itu, aku merasakan vaginaku berdenyut semakin cepat yang pertanda sudah di ambang orgasme.
"Aduuh Pakk……..aahh….." aku pun melolong panjang sambil kedua tangannya mencengkeram pasir pantai dengan kuat dan tubuhku melengkung ke atas serta kedua kakiku melingkari pinggang pria itu menahan tekanan penisnya di dalam vaginaku. Pak Asmar mendiamkan penisnya terbenam di dalam lubang vaginaku sejenak sambil bertanya lagi,
"Sakit…, yaa Bu? Tahan dikit yaa, Bapak goyang pelan pelan kok ..sebentar lagi bakal kerasa nikmatnya …dijamin deh …!", katanya di telingaku.
Dengan mata terpejam aku hanya menggelengkan kepalanya sedikit seraya mendesah panjang,
"aagghh.. terush aja Pak, saya udah enak kok, ayoh!!", pintaku.
Kemudian Pak Asmar melumat bibirku dengan ganas, kami pun beradu lidah. Pinggulnya kembali bergerak dengan cepat naik turun menggenjoti vaginaku, sambil badannya mendekap tubuhku dalam pelukannya. Semakin lama gerakannya semakin cepat, terkadang batangnya dikeluarkan dari vaginaku, kemudian dihunjamkannya lagi, sehingga aku dibuatnya melenguh dan merintih berkepanjangan.

Tak selang lama kemudian aku merasa akan keluar lagi, badanku bergetar dengan hebat dari mulutku keluar desahan panjang,
"Aaduuh… , oooohh…, keluar lagi Pak...aaahh...aaahhh...lebih dalem!!" kedua kakiku kembali melingkar dengan ketat pada pantat Pak Asmar
Dengan mata embeliak dan tubuh menghentak hentak aku kembali mengalami orgasme yang hebat dan berkepanjangan. Selang sesaat badanku akhirnya terkulai lemas dengan kedua kaki tetap melingkar pada pantat Pak Asmar. Dengan tersenyum mesum, pria itu terus melakukan goyangan goyangan memutar dengan lembut. Biar sudah tua dan jelek begitu ternyata Pak Asmar pandai juga memuaskan wanita, ia telah memberikan multi orgasme padaku dan juga tahu cara memperlakukan wanita pasca orgame, sungguh aku terbuai dibuatnya. Pak Asmar lalu melepaskan dirinya dan bergeser ke samping, dia memberi kesempatan kepada Beny untuk mendekatiku.
"Gimana say…enak ga? Masih sakiittt?” tanyanya mesra
"Dasar yah lu....terus terang yah…rasanya nikmat banget sayang…gua sampai multi orgasme tadi…” kataku sambil mencubit putingnya dan berbisik malu tapi dengan nada protes, “ eh…..sekarang pengen sama punya kamu ya say…, kasihan kan kamu belum keluar…" kataku menawarkan diri padanya
Beny rupanya terangsang hebat melihat pemandangan istrinya sendiri digarap pria lain, dengan segera ia masukkan batang penisnya ke vaginaku yang sudah sangat basah itu.
"Aaghh", erangku dengan mata terpejam dan bibir digigit, wajahku memancarkan ekspresi kepuasan
Maka Beny pun menambah kecepatannya menyetubuhiku, penisnya keluar masuk diiringi suara kecipak karena vaginaku sudah sangat becek serta diiringi erangan dan desahanku setiap kali ia menyodokkan penisnya. Bisa kurasakan liang kemaluanku ini semakin licin oleh pelumas dari kewanitaanku.
"Ahh…, ahh", aku semakin keras berteriak, suaraku bersahutan dengan deburan ombak, memang tempat bercinta kali ini sungguh eksotis dan memberikan sensasi lebih, “ayo say...terus, enakkk…, eeemm…, mm!".
Tubuh Beny nampak mengejang, aku tahu inilah reaksinya ketika orgasme, tak lama kemudian, ia pun menancapkan dalam-dalam penisnya di vaginaku dan diiringi leguhan panjang dari mulutnya,
"Uuhh…hh…aku keluar ya yaah", erangnya "mm sshh…enaknya!!!" erangnya sambil kedua tangannya memeluk badanku dengan erat dan penisnya yang terbenam seluruhnya di dalam lubang kemaluanku menyemburkan spermanya yang hangat dengan deras, aku dapat merasakan setiap semprotannnya. Badannya tehentak-hentak merasakan kenikmatan orgasme bersamaku, sementara cairan spermanya yang hangat masih terus memenuhi rongga vaginaku. Di saat yang sama badanku juga bergetar dengan hebat dan kedua pahaku menjepit dengan kuat pinggulnya diikuti keluhan panjang keluar dari mulutku. Sungguh luar biasa enak dan menggairahkan sekali persetubuhan ini. Kami berpelukan saling berciuman kecil menikmati sisa-sisa kenikmatan tadi, aku sampai baru ingat kalau kami bukan cuma berdua, Pak Asmar sejak tadi duduk di atas batu karang menonton kami berdua sambil mengisap rokoknya.

Dengan cengengesan, pria itu kembali mendekati kami,
"Masih kuat gak Bu? Gimana kalo Bapak puaskin lagi?” tanyanya.
"Eeehhmm…gimana ya?" aku memandang bimbang pada suamiku, pengen sih tapi masih gengsi kalau terus terang mengaku gitu.
"Lho say...kalo masih pengen ya silakan aja, mumpung Pak Asmar masih ada" kata Beny.
" Tapi…tapi… mmm.. bolehlah Pak, kita coba lagi…” kataku
“Tapi kali ini agak cepat ya…kalo pelan-pelan kurang rasanya, dijamin asoy deh pokoknya" kata Pak Asmar.
Aku melirik pada Beny sambil menggigit bibir bawah, lalu pandanganku berpindah ke arah penis si tukang perahu yang sudah kembali berdiri tegak itu sambil tanganku merapikan handuk di bawahku yang sudah acak-acakan akibat pergumulan kami.
“Ayo Pak silakan dimulai aja!” Beny mempersilakan si tukang perahu itu menikmati tubuh istrinya.
Tanpa diminta lagi, pria itu pun mengambil posisi di antara kedua pahaku dan mulai mendekatkan penisnya ke vaginaku lagi.
“Udah siap Bu? Hehehe...” tanya Pak Asmar
Aku hanya mengangguk, dalam hati kecilku aku juga ingin merasakan bagaimana bercinta dengan sedikit kasar, pasti ada sensasi tersendiri. Aku memandang Beny lagi dan ia hanya mengangguk padaku. Sementara di antara pahaku Pak Asmar telah memegang pinggangku dan mendorong masuk penisnya dalam dalam
“Aaaahh!!” desahku merasakan hujaman benda tumpul itu
Gerakan pria itu terlihat mulai sangat kasar, berbeda dari babak sebelumnya yang lemah lembut. Tangan kasarnya meremas kedua payudaraku dengan brutal dan jari-jarinya memencet juga memelintir putingku, aku merasa seperti diperkosa saja layaknya. Batangnyanya benar benar dihunjamkan dengan hentakan hentakan kasar dan brutal, sperma Beny yang tertampung di vaginaku tadi sampai meleleh keluar dibuatnya. Aku menoleh ke samping melihat bagaimana reaksi suamiku melihat istrinya sendiri setengah diperkosa begini, tetapi dilihat dari ekspresinya dan matanya yang tidak berkedip sepertinya dia malah menikmatinya sambil senyum-senyum padaku. Bahkan tangannya ikut meremas-remas payudaraku. Luar biasa…ini sungguh menggairahkan, sebuah pengalaman seks baru yang sensasional dimana aku seorang istri bersetubuh dengan pria lain di depan suami sendiri dan si suami menikmatinya seperti tontonan, aku benar benar terangsang hebat memikirkannya

Beny lalu berkata padaku, “Say, sekarang kita threesome ya” sambil megarahkan batang penisnya ke mulutnya untuk dioral.
Tanganku serta merta meraih penis itu, kumulai dengan menjilati lubang kencingnya yang membuatnya blingsatan Aku menggerakkan mataku melihat reaksinya. Ternyata dia juga memperhatikanku yang sedang menjilat-jilat penisnya.
"Always amazing say, gua ga pernah bosen disepongin lu, uuuhh", kata Benny sambil tangannya mengelus rambutku yang terurai panjang.
Mendengar pujiannya itu, aku pun makin bersemangat, kami memang sering saling memuji ketika bercinta dan terus terang itu meningkatkan kualitas kehidupan seks kami. Aku ingin melihatnya benar-benar blingsatan, ingin mendengar rintihan nikmatnya yang luar biasa, juga ingin melihat bagaimana jika tubuhnya menggeliat-geliat dengan penuh gelinjang karena merasakan jilatan dan kuluman nikmat dari mulutku. Kugenggam penisnya dan kumasukkan ke mulutku ,lidahku langsung bekerja dipadu dengan bibirku yang menyedot-nyedot benda itu. Kami merubah posisi menjadi doggy style dengan Pak Asmar tetap di belakang dan aku mengoral penis Beny.
"Aduh say...kontol si bapak kayanya mentok di dalem nih, gila enak bangetthhh...ssshh", kataku lirih.
“Hehe...ayo hajar terus Pak, istri saya puas sama Bapak nih” sahut Beny
“Pasti Pak, istri Bapak seksi, bahenol gini gimana saya ga nafsu” kata Pak Asmar menggoyangkan pantatnya maju mundur membombardir vaginaku dari belakang.
Tanganku meremasi kain handuk dan satunya memegangi penis suamiku. Tangan Pak Asmar kini mencaplok kedua payudaraku dan tanpa menunggu lebih lama ia meremas-remas gunung kembarku dengan liar, putingku pun dibuatnya semakin mengeras oleh cubitan dan gesekan jarinya. Sepuluh menitan dalam posisi ini aku merasakan sudah mau klimaks lagi
 “Mau keluar say...aaahhh...aahh” desahku
"Wah...pijatan memek istri Bapak mantep, kenceng banget" puji Pak Asmar
Memang kalau klimaks vaginaku berkontraksi sangat cepat sehingga penis yang bersarang di vaginaku pun terpijat lebih kuat. Pak Asmar semakin bersemangat menggenjot vaginaku dan aku sendiri kembali mengoral penis Beny sambil dibantu mengocoknya dengan tangan. Tidak sampai tiga menit, aku pun meraih kepuasan, kenikmatan itu bukan main dahsyatnya. Tubuhku sampai menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan menahan nikmat itu. Aku merintih dan mendesah sejadi-jadinya mumpung pantai ini sepi, paling hanya binatang-binatang sekitar sini yang mendengarnya. Di kejauhan nampak beberapa kapal dan perahu lewat, aku tidak tahu apa mereka beruntung meneropong kemari melihat kami, aku tidak peduli, kalau iya anggaplah itu tontonan gratis mereka. Tugasku belum beres, kedua pria ini masih belum keluar dan terus mengerjai tubuhku. Pak Asmar masih menghujam-hujamkan penisnya ke vaginaku, kadang dengan gerakan memutar sehingga aku menggelinjang nikmat dan aku mulai menggerakkan tanganku lagi mengocok pelan penis suamiku. Buah dadaku tetap menjadi bagian dari tangan Pak Asmar yang tak bosan-bosan meremas-remasnya. Makin lama si tukang perahu itu semakin cepat dan semakin keras menghunjamkan penisnya ke vaginaku dan mulai mendengus-dengus. Aku benar-benar dalam keadaan yang sangat nikmat, dengan cepat birahiku pun bangkit lagi, desahan sudah berubah menjadi erangan dan erangan sudah berubah menjadi teriakan. Pak Asmar mendorong habis pantatnya sehingga pinggulnya menempel ketat pada bongkahan pantatku, penisnya terbenam seluruhnya ke dalam vaginaku hingga menyentuh bagian terdalamnya. Sambil tetap menekan rapat-rapat penisnya ke dalam vaginaku, pinggulnya membuat gerakan-gerakan memutar sehingga penisnya yang berada di dalam lubang vaginaku ikut berputar-putar mengebor liang vaginaku sampai ke sudut-sudutnya. Gerakannya bertambah cepat dan ganas memompaku hingga akhirnya....
 "Oohh… Bapak ngecrot nih Bu!", dengan erangan yang cukup keras dan diikuti oleh badannya yang terlonjak-lonjak, Pak Asmar kembali menekan habis pantatnya dalam-dalam sehingga penisnya terbenam habis ke dalam lubang kemaluanku
Cairan hangat memenuhi vaginaku, kedua tangan pria itu mendekapku erat-erat.

"Sssh…, sshh…, hhmm…., hhmm!", dari mulutku terdengar suara keluhan merasakan semprotan spermanya di kewanitaanku.
Beny nampaknya tidak keberatan pria ini ejakulasi di dalam vaginaku. Malah ia kelihatannya bernafsu menyaksikannya. Aku merasakan penisnya semakin berdenyut di mulutku dan tak lama kemudian creet.. creet.. cret, spermanya bercipratan di mulutku. Karena beberapa hari tak bersetubuh maka cairan itu cukup banyak serta kental juga sehingga mulutku penuh oleh cairan putih susu itu. Beny menarik lepas penisnya dari mulutku dan sperma yang masih menetes dari lubang penisnya ia geser-geserkan ke bibirku. Kami bertiga lemas dan lunglai, Pak Asmar menindih tubuhku dan mengecupi pundakku sambil meresapi orgame yang telah kami raih. Setelah berpelukan dengan erat selama beberapa saat, tukang perahu itu kemudian membalikkan tubuhku. Ternyata dia masih belum puas menggarapku, besar juga tenaganya padahal usianya sudah setengah abad lebih. Ia mengangkat kedua kakiku sampai vagina dan telapak kakiku menghadap langit lalu dengan setengah jongkok ia memegang penisnya dan menempelkannya ke bibir vaginaku.
 "Uuuh.. uuhh.. uuhh", lenguhnya sambil menekankan kuat-kuat penisnya yang terbenam itu ke vaginaku.
Dan tiap kali Pak Asmar mengaduh aku pun ikut mengaduh,
"aah Pak...iya enak Pak."
Walaupun dengan nafas yang masih memburu Pak Asmar masih bersemangat menggenjot vaginaku. Vaginaku menjadi sangat lebar dan pangkal pahanya bersentuhan dengan pangkal pahaku. Kedua tangan pria itu memegang kedua betisku dan membantuku memompa penisnya secara teratur, setiap kali penisnya masuk, vaginaku ikut masuk ke dalam sebaliknya ketika penisnya keluar, vaginaku pun mengembang dan menjepit penisnya. Kami melakukan posisi ini cukup lama karena Pak Asmar menggenjotku dengan tempo lambat. Sementara aku mengerang dan berkelejotan di bawah sana, Beny berbisik..
"Say, gimana? Enjoy ga akhirnya bisa threesome?"
"Ya, gua puas banget, awalnya tegang tapi ternyata asyik juga bisa digarap dua penis sekaligus. Seru gila!" sahutku.
Hanya sekitar sepuluh menit Pak Asmar menggenjotku dalam posisi demikian aku segera mendapatkan orgasmeku.
"Gua mau keluar nih....ssshhh...ssshhh", kataku dengan terengah-engah
Akhirnya, "Aaarrcchh ..", aku mengejan hebat, aku merasakan seluruh otot kewanitaanku berkontraksi, pandanganku menjadi gelap rasanya.Tak lama kemudian, Pak Asmar memuntahkan spermanya juga di dadaku. Kubaluri cairan kental itu di dadaku hingga merata lalu kujilati yang menempel di jariku. Itulah akhir pergumulan kami siang  itu.

###########################
Malam harinya

"Gimana say hadiahnya tadi?", tanya Beny ketika kami berendam di bathtub dan mendiskusikan seks tadi siang.
"Hihi, lu kok tega sih, gua kan istrilu, tapi rela istrinya digituin orang", kataku.
"Hhhmmm…aneh sih emang, gua juga heran…seharusnya gua kan cemburu lu dientotin sama pria itu…tapi justru malah terangsang berat ngeliatin lu entotan sama dia, gila…menggairahkan sekali… aneh ya say…” katanya sambil memijat payudaraku, "by the way, lu menikmatinya nggak say?", dia balik bertanya.
Jujur dalam hati belum pernah aku mendapatkan kenikmatan sedemikian rupa, satu penis saja sudah enak apalagi dua. Aku hanya terdiam, tidak tahu mau menjawab apa, awalnya aku takut, deg-degan, sebal juga, tapi pada akhirnya aku tidak bisa menyangkal kalau aku sangat menikmatinya. Aku hanya tersenyum, aku nggak mau munafik semalam aku sangat enjoy dan mungkin suatu saat rindu untuk mengulanginya lagi. Jujur aku merasa menjadi wanita sejati tadi siang itu
"Eehhmmm...gimana ya jawabnya?” kataku sambil senyum-senyum
"Ayo dong say, omong aja, gua penasaran banget apa pendapatlu….ayo dong cerita honey" desaknya sambil memeluk tubuhku lebih erat.
"Iya deh, gua cerita, tapi lu nanti gak marah kan?”
"Wah...wah..memangnya seberapa heboh sih say?" ia terlihat makin penasaran.
"Ok..bener lho ya nggak boleh marah kalo gua jujur…kan lu yang minta" aku menekankan, “terus terang ya, gua bener bener menikmati yang tadi itu…luar biasa deh… coba kalo banyak batang yang masuk enak kali ya… kadang pengen juga cobain digangbang apalagi kalo banyak yang nyemprot di dalam. Terus udah gitu mandi sperma….kayak apa ya rasanya?” aku coba untuk tenang menjawab meskipun getaran suaraku tidak mampu menutupi kegugupanku, wajahku pun sampai merah dan menunduk malu
Beny menaikkan alis dan bersiul pendek, agaknya ia kaget juga mendengar fantasi liarku.
“Wew, tanggung tuh, orgy aja sekalian hehehe”
“Why not? Gua jadi kepingin bener bener sex party loh…digilir rame-rame, dari depan belakang,..rasanya gimana gitu…Aduh gua kayanya udah kelewatan ya?”
“Terus terang gua shock juga dengan kejujurannya tapi boleh juga fantasilu.. kapan-kapan mungkin bisa kita realisasi"
“Beneran nih? dasar suami gila ah lu!” aku mencipratkan air ke arahnya.
“Lu kan juga enjoy dasar istri gatel!” dia balik mencipratkan air padaku.
Setelah bercengkerama mesra di bathtub kami melanjutkannya bercinta sebentar di ranjang sebelum akhirnya terlelap.

######################
Keesokan harinya

Pagi-pagi jam tujuh lebih aku sudah bangun dan tidak bisa tidur lagi. Maka kuputuskan untuk mandi lalu menyiapkan makanan untuk Beny seperti yang biasa kulakukan sehari-hari di rumah. Cottage tempat kami menginap ini fasilitasnya cukup lengkap juga, lemari es yang berisi buah-buahan dan minuman dingin. Ada kompor dan lemari dapur yang lengkap dengan sachet kopi, teh, coklat dan sebagainya. Sambil menikmati teh hangat, aku membuatkan sarapan berupa roti coklat dan kopi untuk suamiku tercinta.
“Say...say...bangun dong” aku menggoncang pelan tubuhnya untuk membangunkannya.
“Jam berapa emang sekarang?” tanyanya dengan malas.
“Setengah delapan”
“Aaahh...nanti aja lah siangan mumpung libur, capek kan semalem lembur” katanya sambil merubah posisi tidur.
“Oke deh say....gua udah bikinin sarapan di meja depan, gua jalan-jalan dulu yah deket sini”
“Thanks say...love you!” katanya tersenyum tapi tanpa membuka mata.
“Love you too” aku mengecup pipinya.
Setelah memilih pakaian berupa kaos hitam tanpa lengan dan bawahan berupa kain samping Bali yang memperlihatkan paha kananku setiap kali aku menggerakkan kakiku, aku memutuskan untuk keluar dan berjalan-jalan menikmati pemandangan pagi di pulau ini. Suara ombak dan hembusan angin sepoi-sepoi yang meniup dedaunan di pohon membuat hati terasa teduh. Jejak-jejak kakiku menapak pada pasir pantai yang kulewati. Di dermaga aku melihat boat yang kemarin mengantar kami ke pulau ini tertambat di sana, memang berdasarkan jadwal jam sembilan nanti kami akan dijemput untuk berkeliling dengan boat di sekitar sini, ternyata Pak Asmar sudah datang lebih awal. Omong-omong Pak Asmar, aku jadi ingat lagi kejadian kemarin dimana aku bersetubuh dengannya di depan suamiku dan juga terlibat threesome, sungguh luar biasa, sungguh fantastis. Tiba-tiba saja pagi itu birahiku sudah naik lagi. Dalam hatiku terbersit keinginan untuk mengulangi kegilaan kemarin saat suamiku tidak ada, kupikir harusnya nggak masalah kalaupun dia sampai tahu, bukankah kemarin itu Pak Asmar juga sudah menikmati tubuhku di depannya. Terdorong kerinduanku aku memberanikan diri mendatangi boat itu. Kudapati Pak Asmar duduk di bangku panjang penumpang tengah menyantap nasi bungkus sarapannya, nampaknya ia tidak menyadari kedatanganku karena menghadap ke arah lain.
“Pagi Pak Asmar!” sapaku.
“Eh, si ibu, pagi...pagi Bu!” ia nampak sedikit kaget dan balas menyapaku, “kok sendirian Bu? Bapak mana?” tanyanya sambil matanya menatapi tubuhku yang berbalut pakaian seksi ini,
“Belum bangun, Bapak sendiri kok datang pagi amat, bukannya jadwalnya jam sembilan nanti?”
“Iya tadi baru bantuin tetangga anterin barang, pas lewat sini ya udah sekalian aja nungguin kan ga lama lagi”
“Boleh naik Pak?”
“Ohh...boleh...boleh, mari saya bantuin!” ia menaruh makanannya di bangku dan menghampiriku untuk membantu naik ke boat.
Ia menyambut tanganku dan memeganginya sementara aku melangkah ke boat. Kulihat matanya melirik paha kananku yang tersingkap ketika naik ke boat. Aku sadar kalau sesekali matanya curi-curi pandang ke arah tubuhku. Aku menjatuhkan pantatku di bangku sambil menumpangkan kaki sehingga kain samping itu sedikit tertarik ke atas, membuat pahaku semakin nikmat ditonton oleh si tukang perahu itu.

Aku mengajaknya ngobrol biasa saja tanpa mengungkit-ngungkit yang kemarin, mulai dari pekerjaan dan keluarganya. Ternyata Pak Asmar telah menduda selama dua puluh tahun lebih, istrinya kabur dengan lelaki lain meninggalkan dirinya dengan seorang putra.
‘Ooh...jadi Bapak udah lama ga pernah gituan lagi yah?” tanyaku memancingnya
‘He-eh sih” jawabnya sambil garuk-garuk kepala.
“Pantes Bapak kemarin semangat banget mainnya hehehe...” godaku.
“Hehe...itu sih, abis ibu cantik, seksi banget lagi, jadi saya kan ga tahan banget” pria itu cengengesan, “omong-omong mau kaya kemarin lagi ga Bu?”
"Apaan Pak?" aku berpura-berpura tidak tahu.
“Ah Ibu pura-pura ga tau nih” pria itu duduk di sebelah kananku dan merapatkan posisi sehingga lengan kami saling bersentuhan, “wah pagi-pagi udah disuguhin yang putih mulus gini Bapak gak tahan Bu”  tangannya mulai mengelus perlahan pahaku.
Aku tersenyum dan mengangkat kaki kananku dan menumpangkan ke kaki kirinya, sehingga ia dapat menikmati paha jenjangku itu dengan tanpa harus curi-curi pandang lagi. Kurasakan permukaan telapak tangannya yang kasar mengusap-ngusap betisku kemudian semakin merayap naik ke atas mengusap-ngusap pahaku.
“Wahhh Bu, mulus banget….“   ia memuji kehalusan dan kelembutan permukaan pahaku
Sekujur tubuhku merinding panas dingin saat telapak tangan Pak Asmar semakin aktif merayapi pahaku.
"Pak kalau ntar suami saya tau gimana nih?" godaku.
"Makanya mumpung suami ibu belum dateng, kita cepet-cepet Bu...lagian udah kepalang tanggung Bu.. Cuek saja dechh.." jawabnya sambil senyum-senyum melihat ke arah belahan dadaku
Tangannya semakin bersemangat mengelus-elus pahaku, bahkan tangannya masuk semakin dalam mendekati selangkangan.
“Aahhh...Bapak nakal ih!” desahku manja
“Hehehe...tapi Ibu suka kan?” godanya, tangannya makin berani masuk ke dalam sampingku dan sudah menyentuh celana dalamku, jari-jarinya mengelus-elus vaginaku dari luar.
"Geli Pak....ssshhh....aaahh?" aku mendesah.
"Bapak pengen banget nih Bu...” katanya sambil menekan-nekan vaginaku.
"Kepengen apaan Pak?" tanyaku.
"Kepengen sama memek ibu, tetek ibu...pokoknya ngentotin ibu habis-habisan, Bapak belum puas kemarin nih."
“Bu...boleh ga?”
“Boleh apaan Pak?”
“Kemarin itu bapak wanti-wanti saya ga boleh cium ibu, kalau ibu sendiri gimana boleh ga? soalnya ibu cantik banget saya kepengen ciuman sama ibu”
Aku hanya tersenyum lalu mengulum bibirnya dengan lembut, sebentar saja kami sudah beradu lidah dengan penuh nafsu, aku merasakan ada rasa ikan asin dari sarapannya. Pria itu pun tak ingin kalah dengan menyedot juga lidahku. Tangan kiriku meraih simpul ikatan kain sampingku dan melepaskannya sehingga bagian bawahku pun terbuka menyisakan celana dalam saja. Tangan Pak Asmar tetap mengelus-elus kadang menekan vaginaku, dia berusaha agar jarinya masuk ke celana dalamku supaya bisa menyentuh vaginaku yang mulai basah.
"Oogghh Pak... buka aja sekalian" aku mendesah perlahan menahan rangsangan yang dilakukan pria itu.

Akhirnya tangan kanannya dapat menarik tali celana dalamku dan sret...ia menariknya turun dibarengi gerakan kakiku sehingga lepaslah kain berbentuk segitiga itu dan tergeletak di lantai boat. Kini tangannya bisa leluasa bermain di lubang kenikmatanku, jari telunjuknya memainkan klitorisku dan jari tengahnya digoyang-goyangkan di bibir vaginaku. Dengan tetap berpagutan bibir, tangan kananku meremas-remas penis Pak Asmar yang masih berpakaian lengkap. Aku memberanikan diri duduk di pangkuannya hingga dadaku tepat di depannya. Pak Asmar mencium pipi lalu bibirku sambil tangannya mulai meraba raba payudaraku, kubalas dengan elusan dan remasan di selangkangannya yang kurasakan makin menegang. Ciumannya mulai turun ke leher, aku memejamkan mata menikmatinya. Ia menghentikan sejenak percumbuan panas kami untuk membuka bajuku, kuangkat tanganku dengan pasrah membiarkan kaos tanpa lengan itu lepas dari tubuhku. Kini aku telah telanjang di depan pria itu, payudaraku terpampang jelas di depan wajah tuanya. Dipandanginya dengan nanar sepasang gunung kembarku, ada sorot mata kagum sebelum wajahnya dibenamkan di antara kedua bukit itu, tangannya kepalanya mengusap usap kedua buah dadaku sambil meremas remas dengan gemas. Bibir Pak Asmar mulai menyentuh putingku, tanpa buang waktu lagi ia langsung menyedot putingku seperti seorang bayi yang menetek, lidahnya bermain main di putingku sementara tangannya bergerilya menggerayangi tubuhku. Aku mendesis perlahan di dekat telinganya, bergantian pria itu mengulum dari satu puting ke puting lainnya, kutekan kepalanya ke dadaku. Pria itu begitu rakus melumat payudaraku, entah mungkin gemas atau mungkin sudah nafsu. Tanganku mulai bergerak membuka kancing kemeja lusuhnya dan melepaskannya sehingga terlihat tubuh tuanya yang walaupun agak kurus tapi masih kencang dan menyisakan keperkasaan masa mudanya, kulitnya yang hitam kasar menandakan ia sering bekerja keras di bawah terik matahari. Aku berlutut di depannya, kubuka resleting celananya lepas, lalu kutarik turun celananya hingga terlepas dan kini hanya tersisa celana dalam yang menempel di tubuhnya. Pak Asmar hanya tersenyum melihat perbuatanku.
“Udah keras yah Pak” kataku sambil meremas kejantanannya yang sudah tegang dari balik celana dalam
“Iyah Bu...udah ga tahan pengen ngentot sama Ibu lagi nih!” jawabnya lirih, aku melihat dadanya turun naik, napasnya mulai menderu, aku tahu ia sedang menahan birahi.
Kupeloroti celana dalamnya sehingga kejantanannya keluar dari sarangnya, lumayan besar dan tegang, kubelai, kuremas, kuciumi dan kukocok dengan tanganku, sesekali kujilat kepala kejantanannya, nampak cairan bening sudah meleleh dari ujungnya
“Aaahh...enak Bu!” Pak Asmar mendesis sambil memperhatikanku menjilati kejantanannya
Lidahku terus menjelajahi daerah kejantanannya, dari ujung hingga pangkal bahkan kantong pelirnya, desisannya makin tak karuan.
Pak Asmar adalah pria kedua yang merasakan permainanku oralku yang sering mendapat pujian dari suamiku. Menghadapi permainanku di penisnya, reaksi Pak Asmar tidak beda jauh dengan Beny, desah kenikmatan keluar dari mulutnya, kombinasi antara jilatan dan kocokan tanganku membuatnya merem melek, tangannya meremas remas rambutku sambil menekan kepalaku ke penisnya.

“Uuuhh...udah dulu Bu, ntar keburu ngecrot, Bapak pengen jilatin memek ibu, boleh ga?” tanyanya menahan kepalaku.
“Boleh dong Pak, jilat sampai puas, bikin saya kelejotan!” aku berdiri menghadap dirinya yang tetap duduk, vaginaku tepat di depan wajahnya
Ia mengangkat kakiku ke bangku lalu membenamkan wajahnya ke selangkanganku, lidah si tukang perahu itu langsung mendarat di bibir vaginaku, menyapu-nyapu klitorisku
“Aaahhh....Pak...yahh enak!!” aku mendesah menikmati jilatannya
Kedua tanganku berpegangan pada atap boat, tanpa kusadari pinggulku bergoyang mengikuti iramanya, kurasakan jilatannya semakin menghebat menyapu vaginaku. Aku menggeliat menahan nikmat, goyangan pantatku semakin tak terkontrol sehingga vaginaku menyapu seluruh wajah Pak Asmar, namun nampaknya ia menikmati sapuan bulu-bulu kewanitaanku di wajahnya. Kuremas rambutnya dan makin kutekankan pantatku ke wajahnya, aku sudah tak peduli lagi bahwa diriku yang wanita karir yang berpendidikan tinggi ini sedang mekangkangi ini seorang tukang perahu yang usianya sepantaran ayahku, saat itu aku menempatkan diriku sebagai seorang wanita yang ingin mereguk kepuasan seksual sebanyak-banyaknya dari seorang pria. Cukup lama kami bertahan dengan posisi itu sampai vaginaku benar-benar becek hingga akhirnya Pak Asmar menarik tubuhku kembali duduk di pangkuannya. Bibirnya kembali menyusuri leher dan dadaku, tercium aroma vagina ketika ia melumat bibirku. Kami masih saling melumat bibir ketika kuraih penisnya dan kugesekkan ujungnya pada bibir vaginaku yang sudah basah.
“Saya masukin sekarang Pak” ujarku lirih sambil menekan tubuhku ke bawah, “aaahh...aaahhh”
Pelan-pelan kejantanannya makin melesak masuk ke liang kenikmatanku, tatapan matanya  tak pernah lepas dari ekspresi wajahku saat proses penetrasi. Aku pun balik menatap matanya dan terlihat ekspresi kenikmatan terpancar di wajah tuanya. Aku mendesis nikmat memulai gerakan naik turunku. Pria itu membenamkan wajahnya di dadaku, berkali kali pagutan gemas mendarat di bulatan payudara dan putingku, aku menggeliat ketika bibir dan lidahnya menyusuri leher dan telingaku, antara geli dan nikmat bercampur menjadi satu.. Aku mengintensifkan gerakan naik turunku,  desahanku pun semakin keras berpadu dengan suara air laut diterpa angin pagi. Kujepitkan kakiku di pinggangnya sambil memeluknya erat, kejantanannya makin dalam melesak di vaginaku.
“aaaaaaahhhhhh….aaaahhhhh” jeritku ketika ia menyentakkan pinggulnya ke atas, kuremasnya yang tinggal sedikit, tubuh kami berpacu dan makin melambungkan diriku tinggi ke puncak kenikmatan. Aku merasa diriku semakin liar sejak bercinta dengannya kemarin, aku tidak ragu dan malu lagi bercinta dengan orang selain suamiku, aku begitu menikmati cumbuan dan kocokannya. Kini Pak Asmar membaringkanku di bangku boatnya, kaki kiriku menjuntai ke bawah dan kaki kananku dinaikkan ke pundaknya, pinggulku sedikit terangkat, membuatnya makin bebas dan dalam melesakkan kejantanannya ke vaginaku, dan tentu saja makin nikmat kurasakan.

Ada mungkin sepermpat jam ia menggenjotku tapi belum ada tanda tanda orgasme, kali ini sepertinya ia lebih fit dari kemarin, permainannya pun lebih halus dan tidak buru-buru, irama kocokannya lebih teratur, sepertinya saat mau mencapai orgasme ditahan dengan menghentikan gerakan kocokannya beberapa detik kemudian kembali mengocok dengan cepat. Lima menit kemudian kami berganti posisi lagi
“Berdirinya kagok Bu, bikin pegel, ganti yuk” katanya mengajakku
Kali ini aku berdiri dan berpegangan pada atap boat dan ia mengocokku dari belakang, posisi berdiri, tangan kasarnya mengelus kedua buah dadaku, remasan lembut yang makin liar seliar kocokannya.
“aaaahh…ya pak…trus pak…truuuusssss” desahku sekeras genjotannya yang makin cepat.
Aku menggoyang pinggulku melawan gerakannya, dan efeknya sungguh hebat, vaginaku terasa teraduk aduk penisnya, yang tentunya menambah kenikmatan. Goyanganku makin liar melawan arah sodokan Pak Asmar dan tak lama kemudian tubuhku menegang. Aku akhirnya mencapai orgasme terlebih dahulu, vaginaku berdenyut kencang meremas remas kejantanan Pak Asmar. Pria itu belum menghentikan kocokannya justru kecepatannya bertambah. Aku menjerit keras dalam nikmat orgasme, peduli amat toh pulau ini tidak ada orang lain, sungguh nikmat dalam selingan kocokannya. Tiba tiba kurasakan denyutan hebat dari penisnya menghantam dinding vaginaku, semprotan cairan sperma yang hangat menyirami vaginaku.  kembali aku menjerit nikmat menerima denyutan demi denyutan, Pak Im meremas pantatku ketika menyemprotkan spermanya di vaginaku
“Ehm...eehhmm” sebuah suara berdeham dari samping belakang membuat kami sedikit terkejut dan menoleh ke sana.
Aku mendapati Beny sedang jongkok di dermaga menyaksikan perbuatan kami, entah sejak kapan. Pak Asmar kaget dan langsung melepaskan pelukannya sehingga penisnya tercabut dari vaginaku.
"Tenang! Tenang!" sahutnya mencoba menenangkan.
“Udah bangun say...dari kapan disitu? Kok ga nyadar gua?” tanyaku
“Belum lama juga, lu orang aja keasikan ngentot sampe ga sadar ada yang dateng hehehe” tawanya sambil melangkahkan kaki naik ke boat.
Aku menyambutnya dengan pelukan mesra dan sebuah kecupan ringan di bibirnya, tangannya membalas dengan remasan gemas pada pantatku.
"Bagaimana istri saya Pak?" tanya Beny pada Pak Asmar yang masih bengong
"Ehehehe...asyik, bahenol, terus memeknya juga seret banget. Bapak sampe ga tahan jadi main sebelum dapet ijin dari Bapak, maaf ya” jawabnya sambil cengengesan.
"Udah keluar berapa kali nih?" tanya Beny lagi
“Baru sekali kok, Ibu kalau ngentot liar juga ya hehehe!"
Saat mendengar itu istriku tersipu sipu malu dan segera menyambung, " habis seru sih main sama si Bapak! hihihi!".
Dengan cepat Pak Asmar kembali rileks. Untuk kembali memanaskan suasana, kutarik
tangan pria itu lalu duduk di bangku dan memintanya untuk mencumbui vaginaku. Tanpa diminta lagi, ia langsung menerkam selakanganku, ia jilat dan lumat penuh nafsu.
Beny mendekati kami dan mengeluarkan BB-nya untuk merekam adegan kami.

“Sini dong say!” panggilku dengan nada manja.
Kuraih selangkangannya dan kurasakan penisnya sudah mengeras di balik celana pendek yang dipakainya.
“Udah gede ya say!” sahutku lirih sambil meremas-remas penisnya dari luar celana.
“Ya iyalah liat lu hot gini mana ga ngaceng” jawabnya sambil terus mengarahkan BB.
Kemudian tanganku memeloroti celana itu, tak ayal lagi penisnya pun langsung mengacung tegak di depan wajahku. Aku langsung menyambut  penis kesayanganku itu yang telah sangat keras. Kulihat matanya merem-melek menikmati jilatan dan kulumanku pada penisnya. Sementara lidah Pak Asmar terus menyapu vaginaku yang semakin becek dan berdenyut. Dia reguk cairan birahiku yang terus mengalir keluar, lidahnya menyentil-nyentil klitorisku membuatku semakin berasa melayang.
“Duh say...mau keluar nih! ga tahan!” erang Beny
Aku tersenyum melihat reaksinya dan memompa penisnya lebih cepat di dalam mulutku. Aku ingin dia memuntahkan air maninya ke mulutku. Permainan lidah dan hisapan mautku akhirnya membuat orgasmenya tak lagi bisa terbendung. Aku merasakan ejakulasinya di mulutku. Aku menerima lima kali kedutan semprotan spermanya di mulutku.
“Eeemmm...hheelm...eeeemmhh!” itulah yang terdengar dari mulutku yang sedang meneguk habis spermanya sambil tanganku terus ikut memerasi penisnya, kutelan semua cairan itu tanpa ada yang tersisa di batangnya.
Pak Asmar lalu menggelar terpal di lantai kapal agar kami bisa berbaring di tempat yang lebih luas. Aku duduk di terpal
“Ayo say, sekarang giliran lu yah, fuck me please!” kataku seraya meraih batang kemaluan Beny yang mulai bangun lagi, kuurut sebentar kemudian Beny mengambil posisi di antara kedua pahaku, tanpa disuruh ia benamkan penisnya membelah bibir vaginaku.
Aku pun mengerang nikmat sepajang prosesi penetrasi berlangsung. Ia segera mengeluar-masukkan penisnya dengan lembut membuaiku seperti biasanya. Pak Asmar berlutut dekat kepalaku dan menyodorkan batang kemaluannya minta dikulum olehku. Kuraih benda itu dan kulakukan yang harus kulakukan. Kedua tangan kasar si tukang perahu kini aktif meremas dan menggelitik payudara dan putingku. Posisi threesome kami terus bertahan selama kurang lebih dua puluh menit. Kami tetap bersemangat berpacu dalam birahi meski tubuh kami sudah mulai dibanjiri keringat. Aku kembali menjerit penuh kepuasan yang kudapat dari suamiku, lalu tergeletak lemas di atas terpal. Setelah ngobrol-ngobrol ringan dan memulihkan tenaga kami memulai ronde berikut. Pak Asmar telentang di lantai dan aku mengangkang di atasnya dalam posisi membelakangi. Kini giliranku yang harus aktif menciptakan kenikmatan. Kugoyang pinggulku maju mundur dan berputar putar. Sementara itu, Benny belum bergabung lagi, ia kembali merekam dengan detail setiap pergulamatan kami. Pak Asmar tak henti hentinya melenguh lenguh keenakan karena goyangan liarku. Ia pun tak kalah ikut menggerakkan pinggulnya menyodok ke atas, sodokannya lumayan kuat sampai aku ikut tersentak-sentak kedepan. Akhirnya dalam waktu yang hampir bersamaan kami pun kembali diterpa badai orgasme yang sangat dahsyat. Semburan lahar panas yang bertubi tubi yang dipancarkan oleh penis si tukang perahu itu mengisi vaginaku, sebagian meluap lalu meleleh leleh keluar.

Sekarang Beny meminta Pak Asmar menggantikan posisinya sebagai kameramen. Ia membaringkan tubuhku dalam posisi menyamping lalu mengangkat kaki kiriku dan menaikkannya ke bahunya
“Uuuhhh...udah basah ginin say” erangnya ketika menekan masuk penisnya.
“Ya iyalah, udah disemprot terus dari tadi” jawabku
Ia mulai menghujani rongga vaginaku dengan sodokan sodokan mantap. Setiap kali ia mendorong batang kemaluannya, vaginaku terasa berdenyut denyut. Luar biasa nikmatnya dan membuatku ketagihan berat. Ia terus menyodok dan menyodok sampai rongga itu bergerak semakin menyempit sampai akhirnya memancarlah cairan cintaku yang penuh dengan kepuasan. Tubuhku menggigil menahan berjuta juta sengatan kenikmatan. Kami terbaring di atas terpal sambil melihat hasil rekaman di BB suamiku, aku dan suamiku saling senyum melihat rekaman itu, memang kami kadang mendokumentasikan persetubuhan kami. Pada hari terakhir kami di pulau tersebut banyak yang kami lakukan bersama-sama, baik di pantai, boat, hutan tengah pulau atau pun di cottage tempat kami menginap, malam itu aku tidur bersama suamiku dan Pak Asmar. Saat itu kami mendiskusikan acara liburan itu. Kami sepakat menilai liburan kami saat itu menjadi liburan paling berkesan. Sejak itu kami semakin kreatif dalam urusan seks, biar bagaimanapun bagi wanita seks harus didukung dengan cinta, yang aku lakukan dulu juga karena aku mencintai suamiku. Aku berpikir tidak adil kalau hanya aku yang menikmati pria lain dalam hubungan seks, maka dalam kesempatan lain aku mengajak teman kerjaku di bank dari bagian HRD, Veronika, untuk threesome bersama suamiku. Ia adalah wanita pertama yang bercinta dengan Beny setelah menikah denganku. Setelah itu wanita lain seperti sepupuku, rekan kerjaku yang lain, klien, dan teman kuliahku juga turut mewarnai kehidupan seks kami, demikian juga pria-pria lain. Akan kuceritakan satu-satu di lain kesempatan bila sempat menulisnya.

By: Marlene Gozali
Sungguh Puaskah Istri Anda ?