Jadilah Lelaki Perkasa, Seperkasa Kuda Putih

Sunday, May 31, 2015

Petualangan di Tanah Papua - Final

Kepekatan malam menutupi daerah hutan rimba di Papua - hawa sejuk mulai menguasai didaerah pedalaman yang biasanya di tengah hari sangat panas dan lembab. Keheningan malam terganggu oleh bunyi pelbagai serangga dan juga burung hantu serta ketepak sayap kelelawar mencari mangsanya. Semuanya itu tak menjadi perhatian Ashanty : saat ini benaknya hanya di penuhi oleh satu fikiran saja yaitu bagaimana caranya lolos dari cengkraman ke lima penduduk asli yang terlihat sangat buas itu. Mungkin sekali ia takkan lolos dari perkosaan massal - namun bagaimana caranya agar jiwanya dapat selamat dan tak menjadi korban suku bangsa yang mungkin masih sedemikian biadab dan kanibal menikmati hidangan daging manusia. Kelima lelaki yang bertubuh hitam legam dan tampak sangat kasar itu kini telah mendekati dan mengelilingi Ashanty yang berlutut dan menundukkan kepalanya. Salah seorang yang memakai topeng menyeramkan kemudian tampil di hadapan Ashanty , menyentuh serta mendengakkan dagunya sehingga mata mereka berhadapan. Ashanty hanya dapat melihat sinar mata orang si lelaki melalui lubang di topengnya, sehingga sukar untuk menafsirkannya dengan jelas. Tangan sangat kasar yang memegang dagunya kini diletakkan diatas kepala Ashanty , mengusap usap rambutnya yang tergerai , kemudian menekan kepalanya ke bawah sehingga mendekati alat kemaluannya yang telah membesar dan tegang di hadapan wajah si cantik. Tombak yang berada di tangan kiri lelaki buas itu kini ditujukan ke arah buah dada kanan Ashanty dan menyentuh puncak putingnya yang memang sangat menggemaskan setiap mata lelaki yang melihatnya. Alat kejantanannya sedemikian menakutkan penuh otot dan pembuluh darah itu kini menyentuh dan mendesak ke bibir Ashanty yang masih menutup. Ashanty tentu saja mengerti apa maunya lelaki buas itu namun jiwanya masih saja menolak dan tak mau menerima barang asing di masukkan ke dalam mulutnya , namun sang lelaki tak mengenal belas kasihan. Ujung lembing yang terasa dingin dan sangat tajam itu kini mulai ditekannya ke puncak puting buah dada Ashanty menyebabkan si cantik bergidik dan kembali sadar bahwa ia tak mempunyai pilihan lain. Sambil mengucapkan doa yang masih samar samar diingatnya dari sejak masa remajanya Ashanty perlahan membuka mulutnya yang mungil. Bukaan yang kecil itu tak disia siakan oleh lelaki buas itu yang dengan sangat kasar melesakkan penisnya yang tidak disunat ke rongga mulut Ashanty. Amat sesak dan penuh terlihat tombak daging itu masuk diantara bibir manis yang biasanya memakai make up sangat mahal. Karena memang kepala penis itu sangat besar dan pas pas-an masuk maka baik bibir Ashanty maupun deretan giginya kini berfungsi membuka kulup sang pemerkosa - disaat itu barulah tercium oleh Ashanty bau yang sangat tak enak memualkan dari bagian kepala penis yang memang selama tak ereksi penuh selalu tertutup oleh kulup dan mungkin jarang dibersihkan oleh sang empunya. Bau memualkan tercampur pesing itu menyengat panca indera penciuman Ashanty sehingga diusahakannya bernafas melalui mulut agar hidungnya tak tersiksa aroma memuakkan, namun apa daya mulutnya penuh sesak dengan daging pentungan yang masuk hampir setengahnya. Pemasukan itu sudah lebih cukup dan tak dapat diteruskan karena telah menyentuh awal kerongkongan dan tenggorokan Ashanty menyebabkannya gelagapan sukar sekali bernafas.
Mendadak Ashanty merasakan tangannya yang terikat erat di punggungnya terlepas - rupanya telah diputus oleh pisau tajam dari salah seorang yang berada di belakangnya. Ashanty merasa agak lega karena tangannya yang kesemutan kini memperoleh aliran darah lagi - namun hal ini tak berlangsung lama : kedua nadinya dipegang dengan kuat dan kasar dan dipaksakan untuk mencekal dua buah penis lain yang tak kalah panjang dan besar diameternya dengan yang sedang memperkosa mulutnya. Dan rupanya kedua penis itu adalah milik Gbagbo dan Ntsubo yang kini tak mau kalah dan ingin memperoleh jatah pemuasan di malam itu. Wanita cantik yang berlutut tak berdaya itu kini dipaksa untuk mengocok merangsang batang kelamin dengan kedua tangannya. Dirasakan oleh Ashanty bahwa kedua penis yang telah tegang mengeras itu mulai berdenyut di dalam sentuhannya dan semakin lama semakin membasar sehingga akhirnya genggaman jari jarinya yang panjang lentik tak cukup untuk mengatup seluruhnya lingkaran penis ditangannya.

Rupanya tak puas sampai disini saja si lelaki buas yang tengah meroncé mulutnya mendadak merebahkan diri lalu menarik korbannya untuk menungging sehingga dalam posisi ini Ashanty dipaksa melanjutkan menyepong dan mengulum alat kebanggaannya itu. Kedua lelaki yang tengah dikocok penisnya oleh Ashanty juga ikut rebah di samping kiri kanan Ashanty sehingga proses penghiburan gratis dengan jari jari tangan lentik halus itu masih berlanjut. Posisi hampir menungging ini rupanya memang disengaja oleh ketiga pemerkosanya karena kini ada kesempatan untuk Utuzo dan lelaki bertopeng terakhir menyeramkan untuk ikut dalam "permainan" ini. Ashanty merasakan kini beberapa tangan kasar mengusap usap tubuhnya dikiri kanan mulai dari leher, bahu, ketiak , lalu turun ke pinggang , menyelinap kebawah meremas remas bukit payudaranya yang menggantung. Tangan tangan lain mengusap usap pundaknya , turun ke punggungnya lalu membelai meremas remas kedua bulatan pinggul pantat bahenol kebanggaannya. Secara instink dan intuisi Ashanty mulai merasa takut karena tangan tangan kasar pemerkosanya itu semakin lama semakin mendekati bagian bagian badannya yang intim dan tersembunyi. Tangan tangan itu menusuk nusuk pusarnya kemudian semakin menurun mendekati bukit Venus yang rapih dicukur licin, sementara tangan tangan lain membuka belahan pantatnya disertai jari jari nakal menyentuh mengusap celah bongkahan pantatnya.  Butir air mata berlinang linang di pelupuk matanya dan mengalir turun membasahi pipinya yang halus , ketika Ashanty merasakan bukit kemaluan serta lingkaran duburnya diraba dan diusap usap jari jari kasar tak senonoh. Secara refleks otot otot kemaluan maupun dubur Ashanty mengejang dan menolak tindakan intim yang hanya biasa dilakukan antara pasangan suami istri. Namun refleks penolakan ini justru menambah kegembiraan para pemerkosanya dan mereka merasakan bahwa wanita cantik yang sedang dikerjain ini tak menyerah mentah mentah begitu saja dengan tindakan mereka. Dengan bersahutan didalam bahasa yang tentu saja sama sekali tak dapat dimengerti oleh Ashanty mereka saling bersahutan dan tertawa kesenangan melihat reaksi sang korban diselang seling hembusan nafas mereka. Ashanty sendiri pun sebagai wanita muda sehat penuh dengan hormon kewanitaan mulai merasakan ada gejolak yang muncul didalam tubuhnya. Akal sehatnya menyadari bahwa tubuhnya sedang dijarah dikuasai dan dironcé oleh lima orang pria pribumi yang sama sekali tak dikenal sebelumnya , akal sehatnya sukar menerima keadaan yang sedang dialaminya , namun pori pori kulitnya mulai terangsang dan bulu badannya terutama kuduknya mulai berdiri. Keringat pun mulai membasahi seluruh tubuhnya karena urat syaraf yang sedang bertahan mati matian melawan perkosaan membutuhkan banyak enersi dan ini menghasilkan kelembaban uap mengkilat di permukaan kulitnya yang halus mulus.
"Emmppppfhhh, ooouh , aaahhh , empppfffhh , slrrrrp , sluuuurrrp " , bunyi tak karuan keluar dari mulutnya yang di penuhi oleh kemaluan lelaki pemerkosanya.
Bau memuakkan dari kemaluan itu perlahan lahan namun dengan pasti kini terganti oleh aroma ludah Ashanty yang memang jauh lebih harum. Kedua pemerkosanya yang bertopeng hanya mengeluarkan desahan desahan kenikmatan tanpa mengucapkan kata atau kalimat yang dapat dimengerti Ashanty karena itu adalah bahasa pedalaman mereka , sementara Gbagbo , Ntsubo dan Utuzo terkadang masih  mengucapkan beberapa kata atau kalimat didalam bahasa Indonesia yang primitif.
"Iyyaaaa, nona pintaaaar, ayooo teruuus kocoook burung saya, bikin diaaaa jadi gede, ooaaah, yaaa teruus", ujar Ntsubo dan Gbagbo saling bersahutan.
Utuso sementara itu semakin brutal mengusap dan terkadang menyelinapkan jarinya kedalam lembah lembab yang terlindung oleh bibir kemaluan jauh lebih mungil dibandingkan wanita asli pedalaman yang sering dipermainkannya.

Jari jari lain dari pemerkosa bertopeng kini telah pula "bermukim" ditengah belahan pantat Ashanty, mencari pusat tengah lingkaran anus yang tentu saja bagi ukuran penduduk pribumi ditengah rimba ini sangat mungil sangat menawan dan mengundang untuk dimasuki.  Ashanty mengeluarkan protes namun suaranya terpendam dan teredam oleh penis besar ibarat pisang tanduk menghunjam ditenggorokannya, mencegah getaran pita suaranya sehingga yang keluar hanyalah bunyi rintihan memilukan :
"Jnnnggggnn, eempppfffh, enggggghh, nnggggggh , lllllpppppsssskkknnn, oooouuummmpfffh, nnnnnnssssshhhhllllnnn , aaooowwwfffhhh, ".
Ashanty berusaha menggoyangkan pinggulnya yang menungging keatas itu kekiri kekanan mengelakkan tusukan jari ditengah duburnya, namun pemerkosa bertopeng menyeramkan bersama Utuzo si penunujuk jalan jahanam kini mendekap pinggang Ashanty dari kiri kanan dan menekannya kebawah sehingga bokong istri cantik yang sedang disiksa ini semakin menonjol keatas dan bongkahan pantatnya semakin tampak menggiurkan.
Gbagbo dan Ntsubo semakin menyeringai lebar menakutkan dan kini bergantian memeras meremas dan menarik memijit memilin mencubit puting Ashanty sehingga terasa perih dan ngilu, namun tangan² mereka yang lain juga mengusap dan menekan nekan ketiak Ashanty membuatnya semakin mengeluh dan menggelinjang kegelian.
Utuzo sementara itu telah berhasil memasukkan sebuah jarinya kedalam vagina Ashanty dan mulai merojok keluar masuk sambil memutar mutarkan jarinya itu. Rontaan Ashanty disertai ratapannya yang memelas justru semakin membuatnya makin bersemangat :
"Bagus bagus terus ayyyo yyyyo goooyangg , manaa sirooopnya yang maniiiis, nona anak bagus cantik keluaaaarkan siroopnya , ayyyo ayyyo".
Pada saat itu Ashanty ingin berteriak sekuat isi paru parunya namun apa mau pemerkosa mulutnya justru menjambak rambut Ashanty dengan kasar dan menekan kepalanya sehingga lebih dari separuh penisnya masuk menekan rahang belakang Ashanty. Tak lama kemudian Ashanty merasakan penis dimulutnya melebar sedemikian rupa sehingga rahang Ashanty terasa sangat sakit pegal karena dipaksa membuka maksimal tanpa hentinya lalu penis itu berdenyut denyut dan akhirnya semburan sperma hangat memenuhi kerongkongannya. Aroma hanyir sangat menjijikkan memenuhi pancaindera pernafasannya yang dirasakannya ibarat akan tercekik - doyan atau tak doyan , jijik atau tak jijik , mual atau tak mual , semuanya tak ada guna untuk dilawan karena Ashanty tahu tak ada jalan lain yang terbuka. Berkali kali Ashanty ingin muntah ketika teguk demi teguk lahar sepat agak asin memuakkan itu melalui lorong kerongkongannya. Kerongkongan yang biasanya menikmati minuman mahal termasuk anggur kelas satu dan champagne itu kini dipaksakan menelan sperma orang sadis yang sama sekali bukan tandingan derajatnya. Dari balik topeng menakutkan itu keluar suara ibarat binatang buas jantan sedang menggeram menyetubuhi sang betina. Geraman itu terdengar di telinga Ashanty bagaikan gema yang tak ada habisnya sementara semprotan demi semprotan sari kejantanan harus diterimanya. Tubuhnya yang sedemikian langsing semampai bahenol kini menjadi permainan dari lima lelaki kasar - namun ini baru permulaan dari siksaan yang akan masih berlanjut. Setelah tetesan tetesan sperma yang membanjiri mulutnya akhirnya terhenti maka sang pemerkosa bertopeng itu melepaskan jambakannya di rambut korbannya dan menggeser menggulingkan badannya kesamping sehingga Ashanty sempat megap megap menghirup menarik nafas panjang kelelahan dan mengharapkan akan memperoleh kesempatan sedikit istirahat. Namun harapan Ashanty itu hanya sia sia karena tubuh si permekosa bertopeng segera di gantikan oleh Ntsubo yang merebahkan dirinya dengan penis gagah perkasa ibarat tugu patung totem yang melambangkan keperkasaan sang nenek moyang suku primitif itu. Ashanty berusaha berontak namun apalah daya seorang wanita lemah menghadapi lima tenaga alamiah laki laki yang hidup sehari hari di tengah rimba.

Ntsubo memeluk lingkaran dada Ashanty sehingga tak dapat berkutik lagi sedangkan Gbagbo dan Utuzo merejang kembali tangan Ashanty di punggungnya , lalu pinggul molek Ashanty diturunkan mereka perlahan lahan sambil mengarahkan belahan selangkangan wanita korban mereka ke penis Ntsubo yang berdiri tegar ibarat tombak menunggu celah yang akan dihajarnya habis habisan. Berbeda dugaan mereka yang rupanya sudah sering memperkosa bersama wanita suku pedalaman mereka didesa maka ukuran gerbang vagina Ashanty tak selebar wanita pribumi disitu. Berkali kali usaha mereka gagal, biarpun penis Ntsubo telah demikian tegang bagaikan kayu penumbuk beras dan vagina Ashanty telah dirangsang jari jari Utuzo namun "tembakan" mereka meleset kesamping kiri kanan atas atas bawah. Kini mereka memaksa Ashanty setengah berdiri dengan lutut setengah ditekuk , tangannya tetap ditelikung di punggung , lalu Gbagbo dan Utuzo menarik melebarkan bibir kemaluan Ashanty kekiri kekanan. Tentu saja Ashanty tak mau diperlakukan sebagai pelacur desa dan berusaha berontak sekuat tenaga - namun kedua lengannya yang ditelikung dipunggungnya semakin ditarik keatas sehingga terasa sangat sakit di sendi pundaknya menyebabkan Ashanty meraung menjerit. Setelah itu Ashanty tak berani lagi berontak karena takut sendi bahunya akan lepas atau patah dan pasrah akan di tikam vaginanya dari bawah ibarat legenda Dracula yang "menyaté" musuh yang ditangkapnya dengan perlahan menusuk menembus perut mereka dengan memakai tonggak kayu ditanam ditanah bagaikan bambu runcing. Meskipun bukan gadis lagi - telah lama memasuki jenjang pernikahan dan sering ML dengan suaminya - bahkan beberapa menit lalu sempat di perkosa oleh Aslan - dan dirangsang dengan jari tangan Utuzo sehingga pelumas alamiah vaginanya telah membasahi dinding kenikmatannya - namun pemasukan penis Ntsubo tetap dirasakan sakit ibarat dimaam pengantin. Penyebabnya adalah ketidak sesuaian ukuran vaginanya dibandingkan kejantanan yang milimeter demi milimeter sedang menguak menerobos gerbang kewanitannya.
"Auuuuuuw, ooooohhh , pelaaaan pelaaaaaan , aduuuuuuh auuuuuuuw sakiiiiiiit , saaakiiiiit , hentiiikaan duluuu, uuuuuhh, aaampuuun , auuuuuuuww , saaakiiiiiiiit ", lolongan suara Ashanty memecah keheningan malam.
Ashanty menengadahkan wajahnya keatas, kepalanya menoleh kekanan kekiri , hidungnya yang bangir mancung kembang kempis menahan rasa sakit yang menyiksa selangkangannya yang terasa seolah sedang dibelah dua.
Berbeda dengan Ashanty yang sedang menderita maka ke lima lelaki pribumi Papua itu menikmati sekali adegan yang jarang terjadi itu : tubuh wanita kota putih mulus dipaksakan duduk dengan lembing tumpul memasuki liang intimnya. Kedua lutut Ashanty yang dipaksa menekuk setengah berdiri setangah berlutut semakin lama semakin letih kaku dan gemetar menahan berat badannya sendiri. Akhirnya tanpa dapat dihindari tubuh molek bahenol itu turun , turun , turun dan mau tak mau akhirnya harus rela di"saté" oleh penis Ntsubo. Dalam mimpi seburuk apapun seumur hidupnya tak pernah Ashanty membayangkan apa yang sedang dialaminya saat ini : seorang diri ditengah hutan rimba di kerjain oleh lima lelaki kasar secara bergantian dan sekaligus secara massal. Badannya terasa dilolosi semua tulangnya , keinginan melawan sudah mulai punah , hanya tekad untuk kembali ke dunia yang beradab masih ada dan hanya inilah yang mempertahankannya untuk tetap hidup.

Tubuh Ashanty telanjang bulat dan penuh keringat kini hanya dapat menggelepar dengan lemah ketika milimeter demi milimeter di"tancap"kan ke lembing daging yang menusuk membelahnya melalui vagina yang begitu mungil.
Ibarat terbawa angin puting beliung dirasakannya semua dihadapan mata berputar , seluruh tubuhnya terasa panas dingin mengalami pelecehan tanpa peri kemanusiaan itu. Bermenit menit lamanya tubuh ayu molek yang terbiasa dengan massage , spa dan segala macam perawatan di salon kecantikan kini diperlakukan ibarat pelacur desa yang tak ada harganya sama sekali. Ashanty tak dapat mengerti mengapa ia belum pingsan karena disaat sedang mengalami penyiksaan seperti itu - apakah dirinya sudah mulai berubah dan ikut terbawa alam pervers ?
Ketika tubuhnya terutama vaginanya secara sangat lambat mulai adaptasi dengan penis yang menjarahnya tanpa belas kasihan itu mendadak Ashanty merasakan ada tangan kasar memaksa melebarkan bongkahan pantatnya dan memaksa celah yang menyembunyikan liang duburnya membuka dan menunjukkan lingkaran kuncup bunga terhias otot lingkar berkerut. Dirasakannya ada cairan ludah hangat jatuh di tengah anusnya itu dan kemudian dua buah jari mendorong perlahan namun pasti memaksa untuk menembus pertahanan otot lingkarannya disitu. 
Rasa ngeri dan takut tak terkira menyadarkan Ashanty karena naluri kewanitaannya memperingatkan apa yang akan terjadi.
"Jangaan , jangaaan masuuk disitu , sakiiiiit , engggga mau , jangaaan , kasihaniiii sayaaa, aaampuuuun", tanpa sadar keluar suara Ashanty memelas meratap memohon belas kasihan yang tentu saja takkan menggoyahkan rasa keinginan para pemerkosanya yang sadis  untuk melihat lebih lanjut penderitaan mangsanya.
Ternyata yang kini memulai kegiatan sodomi adalah si penunjuk jalan termuda yaitu Utuzo. Dari semua tokoh pemerkosa dimalam itu Utuzo adalah yang termuda dan mempunyai penis terpanjang. Utuzo awalnya berasal dari suku lain dan ketika ia masih kecil terjadi perang total diantara suku suku primitif disitu. Semua penduduk dari suku asal Utuzo dibunuh terkecuali ibunya Utuzo yang memang masih muda dan tercantik untuk ukuran dunia Papua disitu. Karena itu Utuzo yang saat itu baru masuk usia satu tahun bersama ibunya dibiarkan hidup, diculik dibawa oleh suku buas yang memenangkan perang dan dibesarkan ditengah suku lain itu. Ibu Utuzo dijadikan gundik oleh kepala suku pemenang danUtuzo menjadi anak lelaki kesayangannya. Menurut kebiasaan suku itu anak laki laki sepuluh hari setelah lahir harus disunat dan karena itulah Utuzo adalah satu satunya pemerkosa dimalam itu yang penisnya tidak berkulup lagi. Utuzo menyeringai lebar ketika dilihatnya Ashanty calon korbannya telah menungging maksimal dan di rejang kuat di kiri kanan oleh Ntsubo dan Gbagbo sedangkan seorang pemerkosa kelima yang juga bertopeng berdiri didepan wajah Ashanty meminta service mulut mungilnya.
Kembali Ashanty dipaksa untuk menghisap menyepong penis berkulup dengan bau sangat tak menyenangkan - terutama ketika kulup lelaki pemerkosanya telah tertarik kebelakang oleh bibir dan deretan gigi Ashanty.
"Ennnssshhhmmmmpfffh, ssssssshhhhhh , aaaauuuuuuuwwww ", Ashanty terlonjak badannya ke depan sehingga service mulutnya terlepas dari penis pemerkosanya ketika dirasakannya Utuzo menekan kepala penisnya yang disunat berbentuk jamur alam raksasa.
Ibarat siput yang tersentuh garam yang pasti akan membunuhnya Ashanty berontak dan meronta dengan sisa sisa tenaga cadangan mengingatkan seseorang yang sekarat kejang terakhir kali. Biar bagaimanapun tenaga Gbagbo dan Ntsubo masih lebih kuat dan apalagi dibantu dengan tekanan Utuzo di punggungnya memaksa Ashanty tetap menungging.

Hanya satu dua menit Ashanty berontak dan menggeliat lalu kembali dapat ditaklukkan : mulutnya kembali terisi penis yang sedemikian bau memualkan - sedangkan otot otot lingkar pelindung anusnya tanpa ada rasa kasihan lagi dibelah dan dimekarkan oleh penis Utuzo. Bermenit menit otot otot lingkaran yang juga cukup kuat itu bertahan , namun akhirnya dengan dengus nafas Utuzo yang menakutkan dan jeritan Ashanty yang memilukan namun teredam pecahlah keperawanannya yang kedua........Ashanty merasakan badannya seperti dibelah dua bagian , anusnya ibarat dicolok kayu panas berapi lalu disayat sayat lapisan selaput lendir dindingnya , ibarat luka terpotong terkena cairan cuka dan garam , inikah rasanya apa yang disebut "hukum picis" zaman baheula ?. 
Berbeda dengan korbannya yang sedemikian menderita maka ke empat lelaki pemerkosanya , terutama Utuzo merasakan sangat puas bahagia melihat mangsanya melenguh tertahan , mendesah tertahan , merintih teredam , sesekali menggelinjang lemah dan sisanya hanya menggelepar lemah dibawah kekuasaan mereka. Ashanty sudah tak sadar harus "service" mengulum menyepong menjilat penis bau yang dibenci dikutuknya itu, semua syarafnya hanya merasakan satu sensasi disaat itu yaitu rasa sakit yang benar benar telah mencapai kesanggupannya untuk bertahan. Ashanty hanya dapat memanjatkan doa agar ia segera pingsan atau lebih baik mati mendadak daripada harus mengalami penyiksaan seperti ini , seluruh tubuhnya ibaratnya hanya terdiri dari gumpalan syaraf diterpa oleh satu perasaan : sakit , sakit dan sekali lagi sakit , perih, nyeri , ngilu tak tertahan. Samar samar didengarnya geraman dan dengusan ke empat lelaki penyiksanya saling bersahutan bersamaan dengan ritme masuk keluarnya penis dimulutnya dan di anusnya. Utuzo rupanya sudah terbiasa menyodomi wanita dan ia mengetahui bahwa "kemenangannya" akan lebih mantab sempurna jika sodominya ditambah "bumbu" sedikit sehingga wanita korbannya ditengah menderita sakit tak terkira juga akhirnya merintih rintih dan kejang karena orgasmus yang dipaksakan. Utuzo tahu caranya menyiksa wanita sedemikian rupa sehingga melupakan rasa sakit dan malu akan menjerit jerit kenikmatan. Utuzo menjilati belakang leher Ashanty yang jenjang , samping lehernya , kemudian bergantian telinganya kiri dan kanan sehingga basah dengan ludahnya, lalu mendesis meniup dan berbisik ditelinga Ashanty :
"Nona kesakitan ya, coba jangan melawan , coba bayangkan rasa sakit ini akan erkurang pelan pelan dan berganti dengan enak , mau kan , nanti saya bantu begini caranya".
Ashanty merasakan kini ada jari jari yang kembali mengusap "mont veneris"nya - mencari celah kewanitaannya yang lembab , menguakkannnya , mencari kearah atas dan menemukan daging kecil tersembunyi dilipatan bibir dalam kemaluannya.
"Ini nona punya sumber kenikmatan yang belum terpakai , ini jagung yang paling lezat didunia , ini jagung bukan untuk direbus atau dibakar , tapi untuk dimanjakan jari jari saya , mau kan nona manis ?", Utuzo meneruskan ucapannya sambil menjepit dan memijit klitoris Ashanty.
Utuzo mengetahui bahwa klitoris sebenarnya mirip dengan penis , ada "kulup"nya yaitu lipatan bibir kemaluan dalam - dan kalau lipatan itu dibuka maka muncullah klitoris itu dan siap untuk dirajah dan dirangsang oleh jari yang berpengalaman.
"Eeeemmmmnnnggeeaa, nggggggmmmmphfff,  jjjnnnnngggnnn, eeaaaauuuffmmmmphh, " hanya suara protes seperti itu keluar dari mulut Ashanty yang sedang dipenuhi kemaluan yang sangat memuakkannya.
Utuzo tak perduli semua itu, jari jarinya mengusap , memutar , memilin , menarik , mencubit kasar dan kembali mengelus klitoris Ashanty ibarat ahli permata sedang menggosok berlian yang baru ditemukannya. Kemahiran Utuzo membuat syaraf syaraf Ashanty yang selama ini dipusatkan untuk menerima rasa sakit tak terkira kini di paksakan untuk mengalihkan perhatian terhadap rangsangan lain tak kalah kuatnya, rangsangan geli geli ngilu tercampur sengatan sengatan seperti aliran listrik yang mula mula lemah namun makin lama semakin kuat.

Ashanty mengalami terjangan rasa lain yang tak diduganya semula : tanpa disadari paha dan betisnya yang begitu mulus mulai lagi bergetar , tanpa dikehendakinya jari jari kakinya menekuk membuka ibarat kepalan tangan , kulit telapak kakinya yang peka itu terasa kesemutan. Semua tanda dan gejala dari wanita yang mulai kehilangan pertahanan dirinya dan kini berada diperbatasan kehilangan rasa malu sama sekali tentu saja tak lolos dari pengamatan para lelaki pemerkosa Ashanty , dan mereka semakin lama semakin sering berpandangan satu sama lain dan semakin sering menukar seringai buas kemesuman mereka. Ntsubo dan Gbagbo kini cukup dengan masing masing dengan satu tangan memegang menelikung nadi Ashanty dipunggungnya , tangan mereka yang satunya mereka pakai untuk mengusap usap telapak kaki Ashanty sehingga si wanita ayu cantik ini semakin menggelinjang kegelian. Si pemerkosa bertopeng yang tetap merojok rojok penis baunya dimulut Ashanty tak mau kalah dan mengusap usap ketiak Ashanty yang tentu saja sangat peka pula. Utuzo kini meningkatkan rangsangan jari jari tangannya di klitoris Ashanty secara bergantian dengan tangan kiri kanan - jari jari tangannya yang "nganggur" tidak menyentuh klitoris dipakainya untuk merangsang bergantian puting buah dada Ashanty. Diusap - diremas - dipilin - dipijit dan dicubit cubitnya secara sadis pucuk merah jambu kecoklatan muda itu , menambah dorongan terakhir dipusat otak Ashanty memasuki jurang yang dalam. Ibarat orkes yang memainkan lagu berkepanjangan dan kini berakhir dengan nada crescendo maka ketiga pelaku adegan persetubuhan brutal itu mengalami orgasmus bersama : pemerkosa bertopeng menyemburkan spermanya yang sangat sepat hanyir di mulut Ashanty membuatnya terbatuk tersendak , Utuzo menyemburkan gelombang demi gelombang air maninya di dubur Ashanty - disertai cubitan gemas di puting susu dan klitoris Ashanty. Semua rangsangan simultan itu tak dapat tertahan lagi oleh Ashanty : bagaikan tsunami menghantam seluruh badannya yang bergetar gemetar dan menggelepar kejang kejang , didepan matanya terjadi letakan kosmik dengan hasil jutaan bintang berputar putar disertai bunyi pekikan melengking yang tiada hentinya. Bermenit menit berlalu dan barulah kemudian disadarinya dari mana datangnya pekikan melengking itu : itu adalah suaranya sendiri yang belum pernah didengarnya sendiri. Tak pernah dibayangkannya bahwa ia sebagai wanita sangat terpelajar dan hidup sopan santun akan sanggup mengeluarkan suara jeritan melengking memecahkan keheningan malam :
"Ouuuuuuhhhh , aaaaaauuuuuuuuuuuwwwww , aaaaaaaaaarrrrghhhh , eeemmmmpffffh , aaaaahhhhiiiiiiihhh , aauuuuuuuoooooooow ,  iiiiiiiiiyyyyyaaaaaaa  , oooooooohhhhhhh , teruuuuuussss , teeruuuuuuuuusss , aaaaa, saaaaakiiiiiittttt,  aaauuuuuuuwww , iiaayaaaaaaa , nikkmaaaaaat , udaaaaah iyaaaaaaa , teruuuuuuss" , akhirnya Ashanty benar benar memasuki alam penuh kegelapan di dalam benaknya - Ashanty jatuh pingsan.....

#######################
PEMBANTAIAN MELANJUT   - -  TRANSFORMASI TERJADI SEMPURNA.

Berjam jam Ashanty pingsan dan ketika perlahan lahan ia mulai sadar kembali tak langsung disadarinya mengapa terasa sangat pusing , tubuhnya terasa bergoyang goyang tak ada hentinya kedepan belakang dan terkadang menyamping. Lalu yang dilihatnya adalah selalu puncak pohon dengan daun daun tinggi dan juga terkadang langit pekat sedikit berbintang. Ashanty mencoba menggerakkan kaki tangannya namun tak berhasil dan ketika ia memaksakan diri membuka matanya lebih lebar maka rasa terkejutnya tak dapat diuraikan kata kata. Ia sedang di gotong dengan batang bambu amat besar , kaki tangannya terikat dan tergantung dibambu itu bagaikan hewan buruan babi rusa atau kijang besar telah dibunuh dan kini dibawa ke pusat perkubuan penduduk primitif ditengah hutan rimba untuk dijadikan santapan. Ashanty berusaha berteriak namun mulutnya disumpal dengan cabikan celana dalam string dan bh-nya sendiri sehingga suaranya tak keluar seperti dikehendakinya. Ashanty berusaha untuk berontak dan meronta ronta sekuat tenaga menyebabkan tubuhnya semakin keras bergoyang kekiri kekanan dan rupanya ini agak menyulitkan para penculiknya yang sedang menggotong yaitu kedua pribumi bertopeng.
Tiba tiba terdengar Gabgbo membentak dan memberikan aba aba dalam bahasa yang sama sekali tak dimengerti oleh Ashanty dan kedua pemanggulnya menghentikan tindakan mereka. Sebelum Ashanty menyadari apa yang akan terjadi mendadak dirasakan tubuhnya yang telanjang bulat itu dari kiri dan kanan di hajar dengan pecutan semacam tali rami yang selalu tergantung dipundak Gbagbo, Ntsubo dan Utuzo. Proses pemecutan itu tak hanya sekali saja melainkan berulang ulang , semakin lama semakin kencang dan menyakitkan sehingga Ashanty tak tahan lagi : menggeleng gelengkan kepalanya sehingga rambutnya kusut bergerai sambil mengeluarkan air mata dan menoleh kearah Utuzo yang berdiri didekat kepalanya mengawasi penyiksaan tak berperi kemanusiaan itu.
Utuzo mendekati telinga Ashanty , membuka sumpalan mulutnya dan berkata
"Nona harus menurut dan nyerah dibawa ke markas permukiman suku kami jika nona tak mau mengalami penyiksaan lebih barat. Nona pasti tahu dan telah sering melihat di rimba ini penuh sekali tumpukan tanah yang merupakan sarang semut merah yang nona telah alami sendiri satu dua kali bagaimana sakit pedih sengatannya. Kalau nona tetap melawan maka nona akan kami cambuki lagi sampai luka luka lalu nona kami letakkan diatas sarang semut itu - nona bisa bayangkan sendiri jika nona terikat tak berdaya digigiti disengati oleh puluhan, ratusan atau bahkan ribuan semut ganas itu - bagaimana sekarang nona janji tidak melawan atau akan disiksa seperti macam itu ?".

Ashanty bergidik dan tak dapat membayangkan bagaimana rasanya menahan kerubutan ribuan semut merah itu : sengatan satu dua semut saja sakitnya sudah bukan main , bagaimana kalau ribuan. Ashanty tak meneruskan niatnya untuk berteriak dan hanya bertanya dengan suara memelas :
"Ya, saya takkan mencoba melawan , namun tolong lepaskan dan kembalikan saya ke kota , saya pasti tak ada gunanya berada di markas suku kamu , saya tak punya apa apa lagi , biarlah saya batalkan niat saya mencari suami saya , tolong kembalikan saya".
Utuzo menoleh kearah para penculik lain dan mengucapkan beberapa kalimat - mungkin penterjemahan dalam bahasa asli mereka bagi yang kurang mengerti percakapan baru terjadi. Sambil menggeleng gelengkan kepalanya Utuzo berkata : "Semuanya kini telah terlambat , kehidupan nona akan diputuskan nanti oleh kepala suku besar kami , kemungkinan besar nona akan selamat tak dibunuh tapi apa nasib nona selanjutnya akan nona dengar di markas kami".
"Nona pasti tak terbiasa digotong dalam keadaan terikat begini , oleh karena itu agar nona tak terlalu pusing minumlah sedikit obat yang saya bawa ini".
Ashanty yang memang sudah sangat pusing dan mual tergoyang goyang digotong seperti hewan sembelihan itu tak melawan dan bertanya lebih lanjut , diminumnya saja cairan yang disodorkan dimulutnya. Dan memang benar dalam waktu hanya beberapa menit Ashanty merasakan kedua pelupuk matanya begitu berat sukar dibuka dan kepalanya penat sehingga tak lama kemudian dihadapan matanya menjadi gelap - Ashanty tak sadarkan diri lagi.

Entah berapa lama , berapa jam , berapa hari berlalu Ashanty tak dapat dan tak sanggup menghitungnya lagi - Ashanty telah kehilangan orientasi tempat dan waktu. Ashanty akhirnya menyadari bahwa para penculiknya memakai cara transportasi yang sangat merendahkan dirinya itu karena dengan cara itu mereka dapat bergerak lebih cepat jika dibandingkan ia harus mengikuti langkah mereka yang memang sangat gesit dan cepat karena terbiasa menembus hutan belukar. Ashanty hanya dilepaskan dari ikatan dan gotongan menggantung kalau mereka akan makan minum dan melepaskan hajat - sesudah itu ia diberikan obat dan diikat dan dibawa dengan "pikulan" bambu itu. Perjalanan mereka menembus hutan rimba diseling sekali dengan naik perahu melewati danau sangat besar - dan Ashanty mellihat dengan hati berdebar debar bahwa di seberang tepi danau tujuan mereka tampaklah dikejauhan sebuah gunung tinggi berbentuk sirip ikan hiu namun sebagian besar puncaknya tertutup kabut dan awan. Jadi betul sekali apa yang dikatakan suaminya itu - ternyata itu memang bukan dongeng atau legenda melainkan kenyataan , namun apakah rahasia tersimpan didaerah yang dikatakan sangat angker dan penuh misteri itu , apakah suaminya ada disitu , masih hidupkah , apa yang ditemukannya,  pa nasibnya ? Setelah hampir seharian menyeberangi danau yang ternyata memang sangat luas itu Ashanty tidak lagi diikat dan di gotong ibarat hewan sembelihan , namun setengah diseret dipaksa mengikuti langkah langkah lebar dan cepat para penculiknya kembali memasuki hutan rimba belukar , sampai akhirnya mereka sampailah di kaki gunung misterius itu. Ashanty tertegun melihat dinding gunung yang tinggi itu namun apa yang menarik perhatian dan mengejutkannya setelah melihat lereng gunung melalui alat kekeran yang sebentar dipinjamkan oleh Utuzo adalah banyaknya gua serta celah celah besar disitu. Terlihat jelas pula banyaknya gerak gerik di celah celah serta gua di lereng terjal itu dan pada saat Ashanty masih memikir mikir apakah yang bergerak gerak disitu maka Utuzo menerangkannya :
"Disitulah suku kami hidup , markas pusat kehidupan kami berada didalam gunung itu , hampir dari puncak sampai dibawah tanah , sejak dari zaman purba sampai sekarang , oleh karena itu kami mudah bersembunyi dan sukar terlihat apalagi ditemukan oleh orang luar". "Di dalam gunung itu dan terutama di bawah tanahnya banyak tersimpan segala macam hasil alam yang rupanya sangat dicari cari oleh dunia modern - termasuk suami nona".
Ashanty terkejut mendengat kalimat terakhir ini dan langsung bertanya : "Jadi suami saya memang berada disitu dan masih hidup dia , tolong kasih tahu , bagaimana nasibnya , pasti dia sedang menunggu kedatangan saya ?".
Beberapa saat ibarat kehidupan disekeliling mereka terhenti dan akhirnya Utuzo memecahkan keheningan dengan jawabannya : "Tak lama lagi nona akan melihat dan menemukan sendiri jawabannya , setelah itu barulah akan ditentukan bagaimana kiranya jalan kehidupan nona lebih lanjut".
Ashanty berusaha menekan rasa ingin tahunya dan merasakan bahwa tak ada gunanya bertanya lebih mendalam karena pasti tak akan memperoleh jawaban yang diharapkannya. Oleh karena itu diikutinya saja secara bergegas langkah para penculiknya itu - jika ia berjalan terlalu lama maka dirasakannya ada lembing tajam menusuk punggungnya. Ashanty telah membiasakan diri berjalan ditengah para lelaki penculi pemerkosanya dalam keadaan hampir telanjang bulat - hanya beberapa daun lebar mirip daun pohon talas menutup daerah kelaminnya. Ditengah perjalanan itu beberapa kali dirasakannya tangan tangan jail dari penculiknya menjamah dan meremas baik buah dada maupun pinggulnya yang memang menggemaskan terutama dilihat bergoyang ketika berjalan.
Akhirnya mereka tiba dikaki gunung dan kedatangan mereka disambut hiruk pikuk teriakan beberapa anak kecil, lalu ditambah beberapa wanita tua dan akhirnya jumlahnya makin bertambah dengan puluhan lelaki tua muda. Ashanty tak sempat lagi memperhatikan bagaimana bisingnya suara yang mengiringi tiap langkahnya , yang dirasakannya adalah udara yang sangat panas lembab ketika ia masuk semakin dalam dan menaiki beberapa kali jenjang tanah liat keras yang rupanya merupakan tangga untuk mencapai tempat semakin tinggi. Dilihatnya pula bahwa penduduk asli primitif yang kini mengerubunginya itu hampir semua telanjang bulat , para laki laki memakai semacam koteka sedangkan para wanitanya hanya memakai semacam cawat. Sedangkan anak anak yang mengerumuninya umumnya telanjang bulat dan terlihat penis anak laki laki jarang sekali yang disunat.

Akhirnya mereka sampai di sebuah dataran yang sangat luas dan disitu terlihat banyak suku bangsa liar itu sedang berkumpul mengelilingi tempat berbentuk susun menyusun agaknya menyerupai semacam tahta tempat duduk para pemimpin. Dan memang benar dugaan Ashanty karena ketika Utuzo meneriakkan sesuatu kalimat yang terdengar aneh sekali ditelinga Ashanty maka kumpulan orang disekeliling ketinggian itu membuyar kesamping. Terlihatlah seorang penduduk asli pribumi suku bangsa primitif itu sedang duduk di tahta dengan didampingi seorang bertopeng. Sang pemimpin atau kepala suku yang duduk di tahta itu berdiri perlahan lahan dan Ashanty melihat penuh kengerian tubuh sedemikian kekar berbulu lebih mirip beruang atau gorila daripada tubuh manusia. Muka si pemimpin itupun terlihat sangat buas tanpa ada senyum atau mimik sama sekali dengan mata dapat dikatakan mendelik mengawasi tubuh Ashanty dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Utuzo yang selama itu berdiri dibelakang Ashanty mendadak menekan kedua pundak Ashanty dan memaksanya untuk berlutut , kemudian dengan kasar direnggutnya ikatan daun lebar dipunggung Ashanty sehingga lepas jatuh ditanah. Dengan demikian sempurna sudah tubuh Ashanty kembali telanjang bulat bagaikan dewi Aphrodite putih mulus ditengah kerumunan ratusan suku asli Papua berkulit hitam yang terlihat masih sangat buas dan liar.
Ashanty berusaha menutupi buah dadanya dan kemaluannya dengan kedua tangannya , namun segera dikerumuni oleh beberapa lelaki muda yang menyeretnya semakin mendekati tahta sang pemimpin. Kedua tangannya kembali di telikung di punggungnya sehingga Ashanty tak dapat menutupi bagian badannya yang vital , bahkan telikungan itu semakin diperkuat dan dinaikkan agak keatas menyebabkan Ashanty menjerit kesakitan. Tanpa terasa secara refleks Ashanty berusaha mengurangi rasa sakit disendi bahunya yang ditelikung itu dengan agak membusungkan dadanya sehingga kedua bukit kenyalnya semakin menonjol menantang para mata lelaki disitu. Hiruk pikuk yang memenuhi ruangan gua besar itu langsung berhenti dalam waktu sedetik ketika sang pemimpin mengaangkat tangannya dan memberikan tanda agar Utuzo maju kedepan mendekati tahta. Utuzo melakukan apa yang diperintahkan itu dan setelah berada sekitar lima meter dari tahta mulailah Utuzo berbicara dengan suara lantang kepada si pemimpin suku bangsa itu. Beberapa kali selama berbicara Utuzo menoleh kebelakang dan menunjuk kearah Ashanty namun tentu saja Ashanty tak mengerti bahasa yang dipakai oleh mereka. Setelah berbicara sekitar sepuluh menit yang dirasakan oleh Ashanty bagaikan berabad abad lamanya sang pemimpin turun dari kursi tahtanya dan berjalan berdampingan dengan Utuzo mendekati Ashanty. Tanpa disadari Ashanty berusaha mundur setapak demi setapak namun tentu saja ditahan oleh beberapa lelaki kuat yang memegangi badannya bahkan justru mereka semakin mendorong Ashanty mendekati pemimpin mereka dan kembali menelikung dengan kuat sehingga puting Ashanty lagi lagi makin menonjol mencuat keatas.
Ashanty tak dapat bergerak atau menghindar lagi : ia dikelilingi oleh sekian banyak lelaki berwajah buas hampir telanjang semuanya , dan sang pemimpin suku kini telah berdiri langsung berdempetan dengannya : dadanya yang berbulu hitam lebat bagaikan gorila melekat dengan kedua putingnya yang mengeras. Sedemikian tinggi besar dan kekarnya tubuh si pemimpin suku sehingga Utuzo yang demikian tinggi pun masih kalah apalagi Ashanty yang berukuran sebenarnya cukup tinggi badan 1,75 meter hanya mencapai ketiak si pemimpin !.

Si pemimpin menyentuh dan mengangkat dagu Ashanty sehingga mata mereka saling bertatapan : sepasang mata buas bersinar sinar penuh kebuasan dan nafsu hewaniah dengan sepasang mata jeli ibarat bintang kejora penuh rasa jijik dan takut. Badan si pemimpin langsung tercium menyebarkan aroma aneh menyengat hidung Ashanty
"Aku Bomo Manolo , raja suku Kotubu , rakyat penjaga gunung Maronggo , asing masuk , asing sudah mati , asing hidup korban untuk dewa , asing hidup jadi boleh perempuan raja" , demikian si pemimpin berbicara dalam susunan kata yang sangat membingungkan Ashanty yang telah gemetar seluruh tubuhnya karena takut.
Utuzo yang melihat bahwa Ashanty kurang mengerti maksud pemimpinnya langsung menambahkan : "Orang asing yang berani masuk ketengah daerah sini dan jatuh ditangan suku Kotubu harus dibunuh, dikorbankan untuk dewa gunung Maronggo, kecuali perempuan muda boleh hidup tapi harus menjadi istri raja Bomo Manolo".
"Jadi kalau begitu dimana suami saya ?, Ashanty memberanikan diri menanyakan nasib suaminya.
Manolo memandang Ashanty penuh kebengisan lalu menggerakkan tangannya menyuruh Utuzo serta Ashanty ikut berjalan kebelakang memutari tahtanya dan apa yang terlihat menyebabkan Ashanty tak dapat menahan lagi jeritannya penuh kengerian dan ketakutan dan tanpa disadari menjatuhkan dirinya berlutut menangis tersedu sedu. Di belakang tahta itu menjulang dua buah pilar kayu sangat tebal - dan ditengah kedua pilar itu dengan terbentang tangan kakinya terikat adalah Professor Azkenazy yang jelas telah mulai membusuk mayatnya. Wajahnya telah rusak hampir tak terkenali , didadanya tergantung foto istrinya : Ashanty , dan disampingnya foto itu tergantung alat yang memberikan bunyi keras tak henti²nya dan langsung dikenali Ashanty adalah Geiger Counter. Alat itu adalah untuk mencari dan men-deteksi bahan yang mempunyai radio-aktif. Bahan radio aktif tentu saja sangat dicari oleh para pemimpin dunia karena dapat dijadikan bahan baku untuk reaktor atom - entah untuk tujuan damai atau membuat senjata nuklir.
"Suami nona tidak kami bunuh , dia kami temukan sudah tak sadar rupanya karena gigitan ular berbisa , tapi dia tidak bisa mati karena jantungnya terus berbunyi, dan dia melindungi raja kami supaya tidak bisa mati", demikian Utuzo berfilsafah lebih lanjut, dan Manolo yang berdiri disebelahnya mengangguk perlahan tanda setuju.
Mendadak Ashanty sadar bahwa suku yang masih sangat sederhana jalan berfikirnya itu menganggap bahwa suaminya yang telah mati itu masih terus hidup karena bunyi Geiger Counter yang terus aktif karena rupanya di dalam gua itu - atau bahkan mungkin seluruh gunung Maronggo memang penuh dengan bahan radio-aktif.
Ashanty merasa lemas seluruh badannya. Ia menyadari bahwa harapannya untuk dapat  kembali kedunia modern dapat dikatakan telah punah. Pilihan apa yang tersisa bagi masa depannya? Ibarat dapat membaca jalan fikiran Utuzo membawa Ashanty untuk menjauhi mayat suaminya yang terikat itu. Dibelakangnya tetap ikut raja Manolo dan beberapa orang pengawalnya yang sangat tegap. Beberapa puluh meter dibelakang mayat Azkenazy dan tahta sang pemimpin terlihat sebuah lembah yang cukup dalam. Disitu tampak patung menyeramkan yang rupanya adalah dewa pujaan rakyat suku bangsa ini.


Di depan patung menyeramkan itu tampak dua buah pilar kayu serupa dengan tempat mengikat mayat Azkenazy. Bedanya adalah di kedua pilar itu tampak terikat rangka rangka manusia yang jelas telah lama mati tinggal tulang belulang saja.
"Mati siksa korban makanan dewa , hidup senang ikut raja", tiba tiba terdengar lagi hentakan suara Manolo yang berat, seolah guntur mendengung di telinga Ashanty dan dirasakannya tangan Manolo membelai pinggulnya.
Tak perlu diuraikan lebih lanjut oleh Utuzo kali ini Ashanty telah menyadari apa yang kini tinggal menjadi pilihannya : akan disiksa sehingga mati untuk menjadi korban dewa berhala pujaan rakyat suku Kotubo atau tetap hidup namun bersedia menjadi istri Manolo dan harus bersedia memuaskan semua keinginannya. Ashanty tak sanggup menjawab dan tak sanggup memutuskan apa yang terlebih baik : lebih baik mati saja namun ia tak tahu apakah tahan sebelumnya mengalami segala macam siksaan yang sadis. Atau biarlah menjadi istri sang raja Manolo yang lebih mirip beruang atau gorila , dan permainan sadis apa yang harus diterimanya seumur hidup berdampingan dengan pemimpin berbadan raksasa ini. Manolo tersenyum lebar melihat Ashanty yang hanya mengalirkan air mata tersengguk sengguk dan menggeleng kepalanya seolah ingin memperoleh jawaban yang terbaik namun sia sia saja tak dapat didengarnya. Mendadak Manolo melepaskan tali ikatan penutup pinggulnya yang terbuat dari kulit harimau , dan tanpa disadarinya Ashanty menoleh kearah selangkangan Manolo. Disertai pekikan yang tertahan pandangan mata Ashanty melebar penuh rasa takut dan tak percaya apa yang dilihatnya : bukan saja penis suaminya , bahkan penis Aslan yang memperkosanya didalam tenda , dan juga kelima alat kemaluan penduduk suku asli pemerkosanya setelah itu - termasuk kejantanan Utuzo yang membuatnya pingsan beberapa kali ketika disiksa perkosaan dan sodomi - semuanya tak dapat menandingi penis raksasa dihadapannya. Penis raja Manolo dalam keadaan "tidur" telah menyamai lebarnya lengan bayi dan panjangnya mencapai setengah paha menggantung bagaikan senjata rahasia kebanggaan yang empunya , bagaimana jika ereksi penuh - mana tahan Ashanty harus melayani monster ini? Manolo tak menunggu dan tak memperdulikan apakah Ashanty setuju atau tidak : Ashanty adalah istri Azkenazy yang dimatanya memiliki kehudpan abadi tak akan mati karena jantungnya berdenyut terus. Barangsiapa menjadi istrinya dan menguasai tubuhnya pasti akan memperoleh lagi tambahan kekuatan sukar dikalahkan siapapun.
"Nona siap sama banyak perempuan kasih obat jadi tahan sanggup kawin raja Manolo", demikian ujarnya sambil
berbisik bisik ketelinga Utuzo yang tersenyum lebar dan menyeringai menatap Ashanty penuh kemesuman.
Tanpa banyak basa basi lagi tubuh Ashanty yang telanjang bulat didorong, ditarik dan setengah diseret oleh para pengawal pribadi Manolo terdiri dari lelaki muda bertubuh kekar menuju kebagian lain dari markas mereka.
Pertama tama Ashanty dibawa kebagian paling bawah dari markas suku Kotubu yang juga tersembunyi digunung Maronggo. Ternyata danau yang terletak tak jauh dari kaki gunung itu mempunyai sambungan dan hubungan dengan semacam sungai yang mengalir di bawah tanah markas suku Kotubu. Disitu ternyata telah menunggu peluhan wanita setengah baya dan tanpa memperdulikan protes Ashanty yang merasa sangat kedinginan, mereka memandikan Ashanty dengan merendamnya disungai berair jernih namun dengan arus tetap mengalir. Ashanty tak hanya direndamkan di air biasa namun setelah itu juga dimasukkan semacam kolam kecil dengan sumber air hangat dan dipenuhi dengan segala macam daun dan bunga liar yang rupanya tumbuh di daerah situ. Setelah itu Ashanty digusur ke dalam ruangan lain dimana telah menunggu pula puluhan wanita suku Kotubu dan segera diseret menuju tengah ruangan yang terletak agak lebih tinggi. Di situ ternyata ada bale-bale dengan tinggi sekitar setengah meter terbuat dari batang batang bambu yang sangat kuat demikian pula empat kakinya.

Sebelum Ashanty sempat menduga apa kegunaan dipan itu tubuhnya yang bugil dan agak menggigil kedinginan diseret dan diletakkan diatas bale-bale bambu itu. Kedua pergelangan tangan dan pergelangan kakinya ditarik dipentang selebar mungkin dan diikat dengan semacam tali dari anyaman rotan tipis ke ujung bawah kaki bale-bale sehingga tubuh Ashanty kini membentuk huruf X besar. Ashanty mencoba melepaskan tangan dan kakinya dan meronta sekuat tenaganya namun ikatan tali anyaman rotan tipis itu ternyata sangat kuat. Jangankan untuk melepaskan diri, berkutik atau bergesar sedikitpun Ashanty tak mampu lagi dan dengan rasa cemas tercampur takut Ashanty menantikan apa yang terjadi selanjutnya. Dua orang wanita setengah baya kini menempatkan diri disamping kiri kanan bahu Ashanty dan dua orang lagi duduk langsung disamping pahanya yang terpentang maksimal lebar dan terikat erat. Rupanya ke-empat wanita setengah baya itu mempunyai tugas untuk memeriksa apakah ada bulu di ketiak dan disekitar kemaluan Ashanty. Mereka meneliti dan memeriksa sangat cermat bagian lipatan tubuh Ashanty itu dan setiap orang mempunyai semacam alat capitan kecil terbuat dari kayu : setiap kali ditemukan ada rambut halus diketiak maupun dipinggir vagina Ashanty maka dengan capitan itu mereka segera mencabutnya. Hal ini sama sekali diluar dugaan Ashanty yang tentu saja sebagai wanita modern memelihara mencukur bulu bulu yang mengganggu kecantikan badannya. Namun Ashanty memakai alat pencukur canggih "Ladi-Shave" sehingga proses pembersihan bulu rambut itu berjalan dengan lancar tanpa dirasakan oleh kulit Ashanty yang memang licin mulus itu. Kini pembersihan bulu badan dilipatan tubuhnya yang tersembunyi dilaksanakan secara primitif : setiap bulu atau rambut yang dicabut tentu saja akan dirasakan oleh kulit Ashanty. Ke empat wanita setengah baya itu sama sekali tak perduli Ashanty setiap kali menjerit kecil ketika bulu bulu halusnya dicabut dan tubuhnya setengah mengejang melawan pengikat di ujung bale. Proses yang sangat memalukan dirinya itu dirasakan Ashanty tak akan berakhir padahal ke empat wanita itu sangat cekatan dan mereka telah selesai membuat ketiak serta kemaluan Ashanty licin kelimis hanya dalam waktu tak lebih dari satu setengah jam. Setelah proses depilasi ini berakhir maka Ashanty merasakan kulit ketiak serta seluruh bukit kemaluannya sangat panas dan gatal menyebabkannya berusaha meronta ronta namun apa daya semua sia sia saja. Setelah itu Ashanty dilepaskan dari ikatan di bale-bale itu namun bukan untuk dibebaskan sama sekali : Ashanty kini di seret oleh para pengawal pribadi raja Manolo sambil dikelilingi oleh pelbagai wanita setengah baya menuju ruangan lain lagi. Ditengah ruangan berikutnya ini ternyata dilengkapi dengan empat pilar amat kokoh terbuat dari kayu kekar - dan Ashanty kini dibawa menuju ketengah ruangan itu. Dalam posisi berdiri kini tangan kakinya dipentang kembali selebar mungkin dan diikat lagi dalam posisi huruf X ditengah dua pilar. Kembali empat orang wanita mendekati Ashanty yang berusaha menggeliat geliat dan meronta dalam keadaan telanjang bulat itu. Empat wanita setengah baya ini mempunyai tugas berikutnya yaitu memijit dan melumasi seluruh tubuh Ashanty dengan cairan lici berminyak tercampur sari tanaman yang dikenal khasiatnya untuk membangunkan hasrat birahi seorang wanita - hal serupa pernah dialami Ashanty sebelum diperkosa oleh Aslan. Tapi karena kali ini bukan wanita biasa yang akan memasuki pelaminan melainkan pilihan raja Manolo maka konsentrasi pelumas rangsang birahi ini dibuat tiga kali lebih tinggi dari yang biasa dipakai di malam pengantin rakyat biasa suku itu.                                                 
       
Keempat wanita setengah baya yang berfungsi sebagai "juru perias" pengantin itu sangat cekatan menguasai cara memijit mengurah badan seorang wanita dengan jari jari mereka. Hanya bagian wajah Ashanty yang tak dilumasi dan di dipijit oleh mereka namun selebihnya tak ada sedikitpun yang lolos : mulai dari leher jenjang, bahu, ketiak, pundak, buah dada terutama puting yang mencuat, pinggang , perut datar dengan pusat mencekung , pinggul , lipatan paha, selangkangan , bukit kemaluan , belahan vagina , bongkahan pantat , celah anus diantara bulatan sekal bahenol , tak ada satu milimeter persegi-pun yang lolos dari urutan jari mereka. Bahkan bagian dalam dinding vagina dan anus Ashanty tak luput dari gosokan cairan getah lumas perangsang dari tangan mereka.
Semuanya tak dapat ditolak oleh Ashanty : badannya yang semula terasa hangat dan nyaman diurut dipijat dengan sedemikian mahirnya dengan cepat berubah menjadi rasa geli gatal dan panas ibarat digigiti ribuan semut.
Rasa kegelian dan kegatalan itu semakin lama semakin parah memuncak sehingga Ashanty mengeluh meratap agar semuanya dihentikan. Badannya yang terikat telanjang bulat meliuk liuk menggelinjang tak teratur kesemua arah dan karena pergelangan tangan dan kakinya terikat erat maka yang dapat bergoyang hanya bulatan pinggul dengan bongkahan pantat yang begitu sempurna - gerakan mana disertau dengan nafas kembang kempis sehingga perut yang datar juga ikut naik turun ibarat sedang latihan tari perut di kisah 1001 malam. Ditengah tengah penderitaan dan penyiksaan ini akhirnya Ashanty tak tahan lagi dan menangis tersedu sedu disertai jeritan jeritan memohon ampun minta dilepaskan dari ikatan dan diberikan kesempatan untuk menggaruk seluruh badannya yang gatal - terutama bagian bagian intim kewanitaannya.Ketika pandangan Ashanty mulai kabur karena dibasahi air mata dan keputus asaan mengalami pelecehan seksual seperti itu terdengarlah hiruk pikuk dari banyak orang yang memasuki ruangan penyiksaan itu. Ashanty melihat tubuh Manolo yang sedemikian tinggi besar berbulu kini setengah tertutup oleh pelbagai perlengkapan perang suku primitif itu, sedangkan diatas kepalanya terlihat semacam mahkota terbuat dari kepala singa. Dengan langkah perlahan namun pasti Manolo dan para pengawalnya mendekati Ashanty yang berdiri namun terikat erat telanjang bulat tak berdaya. Ashanty melihat disebelah kanan Manolo berjalan Utuzo dan disebelah kirinya ......melangkah dengan tegap dan gagah seorang laki laki yang juga dikenal oleh Ashanty : Hutumali !!!
Ashanty langsung berteriak : "Tolong pak, tolong bicara dengan raja Manolo bahwa saya datang hanya untuk mencaru suami saya , dan kini saya hanya ingin kembali pulang kerumah dan melupakan semuanya. Tolong pak saya bersumpah tak akan menceritakan siapapun mengenai pengalaman saya , tolong pak nanti saya bayar berapapun yang bapak kehendaki".
Hutumali hanya tersenyum licik dan menoleh kearah Manolo , Utuzo dan rakyat yang mulai berkumpul diruangan itu : "Nyonya telah memilih jalan nasib sendiri , sejak semula telah saya peringatkan namun nyonya tidak mau mendengar nasihat saya. Kini saya tak dapat menolong lagi karena di daerah gunung keramat ini yang berkuasa adalah tetap suku Kotubo - dan nenek moyang saya pun berasal dari suku ini. Mereka tetap hidup seperti ratusan tahun lalu , tetap sederhana dan terpisah dari dunia modern. Mereka melindungi hasil bumi alam negara ini yang dinincar dan ingin dikuasai manusia serakah seperti misalnya suami nyonya dan Aslan. Saya tak akan melarang niat Manolo untuk menjadikan nyonya sebagai istrinya , dan saya tak akan mengkhianatinya karena sebetulnya Manolo masih keluarga jauh dengan saya. Utuzo juga sebenarnya masih keponakan jauh dari istri saya dan selalu saya tahu kemana dan dimana Utuzo sebagai penunjuk jalan akan membawa pengunjung asing yang memasuki daerah terlarang ini dengan alasan dibuat buat. Terimalah saja perjalanan takdir dan nasib nyonya , sesuaikan diri dengan kehidupan sederhana disini dan nikmatilah kehangatan setiap malam didalam pelukan raja Manolo".

Hutumali menoleh dan berbisik bisik ketelinga Manolo kemudian beralih lagi menghadap Ashanty, memandang tubuh putih mulus telanjang bulat itu dan meneruskan nasihatnya : "Saya mengatakan kepada Manolo bahwa wanita modern yang telah terbiasa dengan kehidupan serba ada dan mewah harus diajarkan disiplin, harus dikembalikan lagi dari dunia emansipasi kedalam dunia leluhur dimana wanita selalu harus patuh terhadap suami, harus selalu melayani keinginan suami , harus selalu memuaskan keinginannya , dan kalau perlu sejak awal mula harus ditaklukkan secara konsekwen sehingga akhirnya menyerah dan pasrah".
Manolo memberikan tanda kepada para pengikutnya untuk memulai pesta yang telah ditunggu oleh para rakyat penduduk suku Kotubu , mereka diberikan izin untuk menikmati semua hewan buruan terbaik dan terlezat yang biasanya hanya menjadi bahan santapan Manolo sendiri serta pengawal pribadinya , mereka boleh bersenang senang sampai esok pagi hari, berpesta sepuasnya diseluruh ruangan di dalam gunung , gua dan lembah yang tersembunyi bahkan juga sampai ketepi danau , hanya dilapisan atas kelima yang tak boleh dimasuki siapapun: disitu adalah ruangan tidur raja Manolo sendiri dengan para istrinya serta selirnya. Tak lama kemudian baik Utuzo maupun Hutumali pamitan dan mengundurkan diri meninggalkan ruangan - semua rakyat telah keluar mencari tempat bersenang senang - kini tinggal hanya berdua : Manolo dan Ashanty.
Ashanty menyadari bahwa hidup matinya berada ditangannya sendiri : kalau ia masih tetap ingin hidup maka tak ada jalan lain ia harus menuruti kemauan Manolo yang serbentara lagi pasti akan menagih haknya sebagai suami.    Memang benar dugaan Ashanty - ketika semuanya telah pergi dan mengundurkan diri maka Manolo langsung mendekap dan memeluk tubuhnya. Kulitnya yang halus mulus namun saat itu terasa hangat dan gatal kini bersentuhan dengan badan Manolo yang berbulu lebat. Ashanty tak berani melawan dan merasa seakan akan sedang dirangkul oleh gorila raksasa. Meskipun udara disitu sangat panas lembab namun Ashanty menggigil bagaikan orang sedang demam meriang. Harapannya hanya satu : jatuh pingsan sebelum harus melayani nafsu hewaniah suami yang terlihat begitu buas dan ganas. Namun harapan hanya tinggal harapan : dengan  kesadaran penuh Ashanty merasakan tubuhnya diangkat dibopong ibarat selembar bulu yang ringan. Dipelupuk matanya terbayanglah adegan dalam film King Kong dimana seorang wanita berkulit putih dijadikan korban persembahan oleh penduduk primitif dipedalaman hutan rimba. Wanita persembahan itu diangkat hanya dengan satu tangan saja oleh gorila raksasa dan dibawa ke gua tempat pemukimannya. Ashanty merasakan dirinya juga kini sebagai wanita korban persembahan tengah dipanggul untuk sebentar lagi memasuki neraka kawin paksa yang selama ini hanya kisah dongeng. Manolo memanggul calon istrinya selangkah demi selangkah mendekati ruangan tempat kediaman pribadinya. Semua selir, para wanita penghibur serta tiga orang istrinya yang umumnya hampir sama tuanya dengan dirinya sendiri telah diperintahkannya untuk meninggalkan ruangan kamar tidur pribadinya. Manolo tak mau diganggu saat ini karena ia ingin menikmati tubuh Ashanty yang sedemikian bahenol merangsang , kulit Ashanty yang sedememikian putih bersih mulus tanpa cacat sedikitpun diyakininya adalah re-inkarnasi bidadari walhalla dan siapa dapat memiliki tubuh itu akan memperoleh tambahan kesaktian dan pengaruh gaib dibandingkan dengan kepala suku lainnya. Kini mereka telah memasuki kamar pelaminan Manolo : ruangan penuh dengan obor menyala di pelbagai penjuru dinding yang dihiasi segala macam tengkorak hewan besar dihutan itu, dari rusa sampai dengan harimau serta pelbagai jenis ular raksasa yang hanya ada di hutan rimba di kaki gunung itu. Di tengah ruangan tampak tepat tidur raja Manolo berukuran sangat luas karena harus menampung besarnya tubuh yang empunya - ranjang itu hanya mempunyai kaki sangat pendek namun kokoh luar biasa terbuat dari kayu yang entah berusia ratusan tahun. Yang menjadi "kasur" adalah timbunan daun jerami yang disusun tindih bertumpuk setelah melalui segala macam proses tradisionil hutan dan terasa hangat bagi yang menidurinya.


Manolo meletakkan tubuh istrinya yang telanjang bulat dan segera di lepaskannya tunik penutup badannya hingga langsung terlihat betapa kontrasnya kedua badan pasangan yang sama sekali "tidak sebibit, sebabat atau sebobot" seperti selalu dikatakan oleh penduduk Jawa tradisionil. Kembali Ashanty bergidik merinding dan tanpa sadar kembali berusaha menjauhkan dirinya dari tubuh raksasa hitam penuh bulu dihadapannya. Manolo rupanya ingin mengurangi bahkan menghilangkan rasa takut istri barunya dengan berusaha bersenyum dan memperlihatkan keramah tamahan , namun karena memang wajahnya begitu menyeramkan maka mimik yang dinilainya sendiri sebagai senyuman bahkan dimata Ashanty bagaikan seringa binatang buas yang akan mencabik merobek dan menyantapnya. Karena itu Ashanty semakin menggeserkan badannya tapi disatu saat tentu saja tak berhasil lagi karena telah mencapai pinggiran "ranjang". Di saat itu Manolo meraih dan menangkap tubuh langsing istrinya dan didekapnya Ashanty dengan kedua lengan berbulunya tanpa memperdulikan rontaan mangsanya yang lemah dan sia sia saja. Manolo memeluk istrinya dengan tenaga yang dianggapnya sendiri sangat halus dan lemah lembut namun bagi Ashanty dirasakan menyesak dadanya dan membuatnya mulai sukar bernafas, apalagi ketika Manolo tiba tiba menunduk dan menciumnya. Dengan ukuran mulut dan bibirnya yang sedemikian besar Manolo menutup mulut dan bibir ranum Ashanty yang merah merekah sehingga kelabakan karena merasa susah bernafas. Ketika akhirnya Ashanty berhasil dengan susah payah menemukan jalan nafasnya kembali maka terciumlah bau mulut Manolo yang tak menyenangkan. Aroma mulut dan ludah Manolo mengingatkan campuran bau tembakau , daun sirih dan cengkeh yang membusuk - semuanya adalah bau yang tidak dikenal oleh Ashanty menyebabkannya pengap dan langsung batuk-batuk tersedak. Manolo sebaliknya tak memperdulikan semuanya karena justru sebaliknya dinikmatinya bau mulut ludah Ashanty yang terasa harum dan lain sekali dengan aroma mulut wanita desa suku Kotubu. Dengan ganas Manolo semakin rakus melumat bibir Ashanty sekaligus ditariknya rambut panjang tergerai melebihi bahu menyebabkan Ashanty menjerit kesakitan: Kesempatan ini dipakai lidah Manolo bagaikan ular memasuki rongga mulut wanita cantik yang sedang dijarahnya, kemudian lidah itu mulai bersilat menyapu langit langit tanpa perduli perlawanan lidah Ashanty yang tentu saja jauh lebih kecil dan lemah. Semua tindakan Manolo ini menyebabkan tubuh Ashanty yang sejak di urapi dan dilumasi segala macam ramuan obat perangsang oleh ke empat wanita setengah baya tadi mulai lagi menggejolak panas kegatalan. Permukaan kulitnya yang memang halus dan peka semakin tak nyaman karena digesek terus menerus oleh kulit Manolo penuh bulu bulu kasar dan kini ditambah lagi dengan rasa gatal. Manolo menempatkan diri dengan posisi agak menyamping disebelah kanan tubuh mangsanya , tangan kanan Ashanty tertindih oleh tubuh Manolo sehingga tak dapat dipergunakan melawan sama sekali , lengan kiri atas Manolo diletakkan dibawah leher Ashanty ibarat bantal kepala. Tangan kiri Manolo mencengkeram pergelangan tangan langsing Ashanty demikian erat sehingga Ashanty merasa sangat kesakitan dan jika diinginkan maka dengan kekuatan penuh pastilah pergelangan Ashanty akan dapat remuk di cengkeraman Manolo. Setelah kedua tangan Ashanty berada sepenuhnya dibawah kekuasaan dan tak dapat dipakai melawan, maka dalam posisi agak miring menyamping Manolo menindih dan menekan paha kanan Ashanty yang sebelumnya direntangkan selebar mungkin. Kaki kanan Manolo dengan paha dan betis sedemikian kekar penuh cacat² bekas luka pertempuran kini memaksa membuka selangkangan Ashanty yang berusaha mati²an mengatup namun tentu saja kalah tenaga.

Hanya dalam waktu tak ada satu menit kedua paha Ashanty begitu putih halus mulus telah terkangkang sempurna tertekan oleh kedua paha Manolo yang sedemikian besar penuh bulu berwarna hitam legam. Penuh kepuasan kini
Manolo melepaskan ciumannya sebentar dan menyaksikan mangsanya yang menggeliat meronta tanpa berdaya melepaskan diri. Wajah Ashanty menoleh kekanan kekiri berusaha menghindari ciuman buas Manolo berikutnya namun sang raja mengalihkan ciumannya kini ke leher jenjang , menyapukan lidahnya yang kasar ketelinga dan berbisik :
"Bagus , baguuus , uuummmmh wangi wangiii , tahaan lagiiiiii , ssshhhhh , sebentaaar lagiiiii sakiiiiit , tapiiii nanti makiiiiiin baguuuus , cantiiiiikkk , rasaaaaa nikmaaaat".
Sambil mengoceh dengan bahasa campuran sukar dimengerti Manolo meningkatkan kegiatannya dengan tangan kanannya yang sama sekali bebas mengusap usap seluruh badan Ashanty : kedua buah dada sintal kenyal dengan puting menggemaskan kini menjadi sasarannya , diremas remas dengan lembut dan kasar bergantian membuat Ashanty semakin menggeliat, menjerit kesakitan namun sesaat kemudian meronta ronta akibat rasa ngilu nikmat. Tangan kasar Manolo menarik mencubit memilin dan memijit pentil yang semakin lama semakin keras menegang, lalu jari jari kasar itu diganti oleh bibir Manolo yang besar dower bergantian dengan gigitan gemas meninggalkan cupangan merah dikulit payu dara yang putih itu. Sambil terus menerus menggigiti dan menjilat jilat buah dada montok Manolo meneruskan perjalanan jari tangan kanannya menuruni lembah perut datar, menggoda sebentar pusar yang berdenyut kegelian, dan turun turun turun memasuki bukit yang telah licin karena dicabuti bulunya oleh para wanita setengah baya tadi. Kulit didaerah bukit kemaluan Ashanty yang sangat sensitif itu setelah dicabuti bulu kemaluannya terasa panas agak perih - apalagi setelah diolesi dengan ramuan perangsang dicampur sari ulat bulu - kini tanpa rasa kasihan sedikitpun diraba dan diusap usap oleh jari kasar Manolo. Rasa panas dan perih kini bertambah dengan rasa gatal tak terkira menyebabkan Ashanty ingin menggaruk atau paling sedikit mengatup dan menggesek gesek kedua pahanya melawan siksaan di selangkangannya itu. Apa mau kedua paha belalangnya dipaksa mementang semaksimal mungkin dan ditekan oleh kedua paha dan betis Manolo sehingga tak ada yang dapat dilakukan oleh Ashanty selain meratap merintih memohon agar penderitaannya segera diakhiri :
"Ooooooh, eeeennnnngghhh, uudaaaaaah , uddaaaaaah , ssssshhhhhhh , periiiiiih , auuuuuw , eeiiiinnnnnngh , toolooonnngg , geliiiiiiiiiiii , geeeliiiiiiiiiiii , oooooouuuuh , eempfhaaaammmpuuuuunn , uudaaaaah doooong".
Manolo sangat puas melihat istrinya meronta menggeliat tanpa dapat berkutik dibawah kekuasaannya , melihat wajah sedemikian ayu cantik menggeleng kekiri kakanan menahan derita tak terkira , melihat pipi halus dibasahi air mata , melihat hidung bangir mancung kembang kempis mendengus semakin cepat dan terutama mulut manis terbuka mendesah tak habisnya - inilah saatnya membuktikan kejantanannya dan menaklukkan total istrinya.
Manolo membalikkan tubuhnya sehingga kini sempurna menutupi tubuh Ashanty , tubuh Manolo tertutup bulu tebal kasar hitam legam hampir dua meter, seberat hampir seratus duapuluh kilo menindih tubuh istrinya yang sintal langsing semampai tak sampai enampuluh kilo. Ashanty merasa seluruh isi paru parunya tertekan dan tidak dapat bernafas sama sekali , berontak pun sama sekali tak ada gunanya , selain itu terasa sangat mengganggu adalah rasa panas dan gatal disemua bagian badannya yang vital dan ini membutuhkan pemuasan.

Manolo meletakkan kedua paha dan betis Ashanty yang menekuk lemas di atas pundaknya , kedua pergelangan tangan Ashanty yang sedemikian langsing dicengkeramnya diatas kepala Ashanty cukup dengan hanya memakai satu tangan kirinya. Tangan kanannya kini memegang dan mengarahkan penisnya yang telah sedemikian tegang selingkar ujung pukulan kasti dan sepanjang hampir duapuluh delapan senti dengan kepala berbentuk topi baja kearah celahan dilembah bukit venus yang lembab. Ukuran kepala penis itu terlihat terlalu besar untuk menguak membelah celah vagina Ashanty namun hal bukan sesuatu hal baru bagi Manolo yang telah sering sanggama dengan wanita sukunya sendiri dengan ukuran vagina bukan tandingan rudalnya. Manolo tahu bahwa obat ramuan perangsang yang dilumaskan dan bahkan dioleskan kedalam dinding Ashanty oleh para wanita setengah baya tadi akan menunjukkan khasiatnya dan membantu penis raksasanya membelah celah kemaluan Ashanty. Dinding celah kewanitaan Ashanty telah basah dan licin dengan madu alamiah , belahan bibir kemaluan Ashanty telah membengkak pula diakibatkan rasa gatal dan penebalan ini membuatnya merekah seolah mengundang datangnya kejantanan yang menerobos masuk menghantam gerbang rahimnya. Perekahan bibir kemaluan Ashanty menyebabkan pula agak keluar dan menonjol pula sang kelentitnya yang kini tersentuh oleh ujung penis Manolo yang memang sengaja di usap dan digesek geseknya sepanjang celah vagina. Meskipun hanya sedikit sekali namun Manolo merasakan bahwa ujung kepala kemaluannya berhasil memasuki celah kecil diantara bibir kemaluan Ashanty - dan aaaah betapa hangatnya belahan yang sebentar akan dipaksa membuka semaksimal mungkin oleh senjata kebanggaannya. Manolo membiarkan rudalnya singgah tanpa bergerak ditengah belahan amat sempit itu. Jari jari tangan kanannya tak lagi memegang kemaluannya itu melainkan berusaha menguakkan dan membuka bibir vagina Ashanty lebih lebar. Dengan bantuan jari tangan ini Manolo merasakan kepala penisnya yang semula hanya menempel diawal belahan vagina kini agak mulai behasil menyelinap diantara dinding halus dan licin. Manolo menekan sedikit demi sedikit kejantanannnya lewat portal surgawi, namun sebagaimana telah di duganya maka proses selanjutnya tak semudah itu karena tak sebandingnya ukuran kelaminnya dengan istrinya. Pada saat itu Ashanty masih belum menyadari penuh apa yang akan dialaminya sebentara lagi , dirasakannya saat itu sedikit "keringanan" atas rasa gatalnya karena ada yang menggesek gesek liang vaginanya, sementara ia melupakan betapa ukuran panis raksasa Manolo yang bebarapa saat lalu menyebabkannya gemetar ketakutan. Bagi Manolo penetrasi ke liang surgawi Ashanty ibarat sedang memerawani seorang gadis berusia belasan tahun: meskipun dinding vagina Ashanty telah begitu hangat berlendir licin bagaikan dilumas minyak namun diameter penisnya memang diluar proporsi dibandingkan rata rata diameter wanita Asia. Namun proses evolusi manusia telah berjalan berabad abad termasuk evolusi alat kelamin wanita dewasa yang jika telah lewat masa pubertas akan sanggup "menampung" alat kelamin lelaki dewasa partnernya, meskipun berbeda ras maupun tinggi dan besar badan mereka, hanya proses penetrasi akan sangat menyakitkan jika si lelaki terlalu kasar dan tak sabaran.
"Nona sekarang tahan sakit, tahan masuk saya , jangan lawan tidak bagus , rusak nanti tidak bagus , lama biasa kurang sakit , masuk minta enak , enak dan bagus nanti", demikian Manolo mencoba menenangkan istrinya disaat makin menekan dan mendorong masuk penisnya , tapi Ashanty tak mengerti karena susunan kata kacau balau.


Milimeter demi milimeter Manolo menancapkan rudal kebanggaannya kedalam lubang sedemikian sempit, setiap milimeter dirasakan Ashanty sebagai siksaan tak ada taranya , selangkangannya bagaikan sedang dibelah dua , vaginanya dipaksa membengkang melebar sedemikian rupa sehingga terasa nyeri ngilu dan tiap saat akan koyak.
Namun dibalik rasa tersiksa tak terlukiskan ribuan kata kata dinding vagina Ashanty yang juga dilanda kegatalan  akibat olesan ramuan perangsang secara perlahan namun pasti merekah dan mengembang - menyambut lembing daging yang menyumbat penuh sesak sang lubang nirwana. Didalam puncak keputus asaannya Ashanty melenguh "Udaaaaaaah , udaaaaaah , enggggggaaaaaa muaaaaat lagiiiiiiiii, jangaaaan diterusiiiiin , aaampuuuun ampuuun , aaaah , saaakiiiiiiitt , panaaaaaaaass , sssshhhhhhhhhh , geeliiiiiiiii udaaaaah dong ,  saaakiiiiiitt , ammpuuuunn".
Namun Mnaolo mana mau melepaskan mangsanya , bahkan dengan penuh semangat diteruskannya tusukan penis raksasa kebangaannya semakin dalam , ia tak perduli lubang itu terbengkang sedemikian lebar sehingga Ashanty menjerit jerit bagai kancil lemah sedang disembelih. Paha dan betis Ashanty yang tergantung dipundak Manolo hanya dapat dengan lemah memukul mukul punggung pemerkosanya tanpa daya sedikitpun. Kedua buah dadanya juga terasa sedemikian bengkak memar penuh dengan bekas remasan jari kasar , putingnya terasa perih karena lecet disana sini akibat dipelintir, dicubit, dipilin, bahkan digigit gigit oleh "suami gorila"nya yang sedang dilanda nafsu birahi. Setiap milimeter masuknya penis Manolo menyebabkan Ashanty mendengakkan kepalanya sambil merintih rintih menyebabkan iba yang mendengarnya, hanya saja Manolo sudah bertekad akan menumpahkan benihnya kedalam rahim sang istri. Oleh karena itu tetap dipaksakannya penisnya masuk , putar sedikit kekiri , makin dalam masuk, putar sedikit kekanan , makin masuk kedalam , masuk masuk dan akhirnya....... ujung penis itu menyentuh mulut rahim Ashanty. Mulut rahim seorang wanita memang penuh jutaam syarat peka sehingga Ashanty memekik tidak karuan :
"Aaaauuuuuuwww , aaauuuuuuuuuww , udaaaaaah , ngiluuuuuuuuuu , sakiiiiiiiiiiiiit , lepaaaskaaan , engggga taahaaaaan lagiiiiiiiii ".
Kini semua rasa gatalnya telah punah sirna , hanya rasa panas nyeri ngilu sakit dan nikmat sekaligus seilih berganti - apalagi Manolo mulai dengan teratur menarik sedikit penisnya kemudian di tekannya lagi , di maju mundurkan , diputar putarnya menusuk vagina Ashanty ke segala arah. Tak pernah seumur hidup Ashanty membayangkan persetubuhan dengan lelaki dapat sedahsyat se-intensif seperti ini , semua yang pernah dialaminya , juga perkosaan massal sebelumnya punah memucat dibandingkan saat ini. Tanpa dikehendaki dan betul betul diluar kemauannya lagi Ashanty mengalami orgasmus demi orgasmus , tak mungkin lagi dihitung berapa kali , setiap orgasmus bagaikan mencapai puncak gunung tinggi , dihempaskan lagi kebawah , di seret lagi ke puncak gunung lebih tinggi lagi , dibanting lagi ke lerengnya. Jutaan bintang berputar putar dihadapan matanya , jeritan melengking dari celahan bibir manis yang tiada henti semakin lama semakin melemah menjadi rintihan dan dengusan , hidung yang kembang kempis semakin lambat mengeluarkan nafas dan akhirnya Ashanty melihat didepan matanya awan gelap semakin gelap menutupi benaknya sebelum jatuh pingsan.
Dimalam itu Manolo menunjukkan Ashanty apa artinya bersetubuh dengan raja suku Kotubu , menunjukkan apa keinginan Manolo untuk dipuasi oleh istrinya , mengajarkan Ashanty membuka mulut maksimal untuk mengulum dan menyepong penis raksasa , menjilat dan membasahkannya sebanyak mungkin dengan ludahnya , karena sesudah itu Ashanty harus pasrah sepenuhnya untuk dimasuki baik dari depan maupun belakang , baik vagina maupun anusnya. Percuma saja Ashanty memohon untuk tidak disodomi karena ratapan istri sedemikian cantik yang berlutut menyembah dihadapannya bahkan akan lebih memacu nafsu kebinatangannya. Ashanty mengetahui dan belajar menerima nasibnya , akhirnya menyerah dan pasrah sepenuhnya dijadikan ratu suku bangsa Kotubu.

TAMAT
By: MISSOLVG

Sekar dan Bayang Ireng

SINOPSIS
Seorang gadis pendekar berusaha membebaskan kawannya yang diculik dedemit sakti dengan ilmu silat hitam yang tak terduga.

Story codes
MF, MFF, mc, tent, magic, nc, rape, reluc

DISCLAIMER
  • Cerita ini adalah fiksi dan berisi adegan-adegan yang tidak pantas dibaca mereka yang belum dewasa, jadi jika pembaca masih belum dewasa, harap tidak melanjutkan membaca. Penulis sudah mengingatkan, selanjutnya adalah tanggungjawab pembaca.
  • Semua tokoh dalam cerita ini adalah fiktif. Kemiripan nama tokoh, tempat, lembaga dan lain-lain hanyalah kebetulan belaka dan bukan kesengajaan.
  • Sebagian tokoh dalam cerita ini digambarkan memiliki latar belakang (profesi, kelas sosial, suku dll.) tertentu. Tindakan mereka dalam cerita ini adalah fiksi dan belum tentu menggambarkan orang-orang berlatar belakang serupa di dunia nyata.
  • Pemerkosaan, pelecehan seksual, KDRT, dan trafiking di dunia nyata adalah kejahatan dan penulis menentang semua itu.  Penulis harap pembaca cukup bijak untuk dapat membedakan dunia nyata dan khayalan. 
  • Penulis tidak memperoleh keuntungan uang apapun dari cerita ini dan tidak memaksudkan cerita ini dijadikan sumber pendapatan bagi siapapun.
Cerita ini diadaptasi dari beberapa cerita lain. 
Ada komentar? Ide cerita? Mau diposting di situs anda?  Silakan kontak penulis di ninjaxgaijinATyahoo dot com.  Selamat membaca.

Sekar & Bayang Ireng
-Ninja Gaijin-

###################################
Sekar
Angin kencang yang bertiup di tebing Laut Selatan membuat pakaian sepasang orang yang berdiri di atasnya berkibar-kibar. Sikap tubuh mereka menunjukkan bahwa keduanya pendekar berilmu tinggi, saling berhadapan dalam kuda-kuda dan menghunus senjata tajam. Mereka tampak tak sedikit pun gentar dengan mengerikannya medan di sana, tebing terjal bertepi laut berombak ganas. Salah langkah sedikit saja, manusia maupun binatang bisa terjerumus dan hancur menjadi kepingan-kepingan tubuh berdarah-darah. Salah satunya memekik keras dan menerjang orang yang dihadapinya.
“Hiaaattt!!” Dari suaranya bisa diduga bahwa dia seorang perempuan.
Pendekar perempuan itu melompat sambil menusukkan pedang, menyerang lawannya. Sepintas pakaiannya yang terdiri atas kemben batik dan kain yang membungkus paha dan betis tampak menghalangi gerakan, namun ketika dia bergerak tersingkaplah kain itu menunjukkan bahwa di bawahnya dia mengenakan celana selutut. Pedangnya kemilau ditimpa cahaya matahari sore, tak kalah mautnya dengan tebing terjal tempat dia bertarung. Orang yang dihadapinya bertubuh sedikit lebih besar, wajahnya tak kelihatan karena kepalanya terbungkus kain dan hanya menunjukkan mata. Tapi dari tubuhnya terlihat bahwa dia laki-laki. Dia mencabut keris dan menangkis serangan si pendekar perempuan.
TRANGG!! “Hiyatt!!” “Ugh!” “Ahh!!” “Yiaaaahh!!” Jurus demi jurus, kedua pendekar itu bertarung di pinggir tebing.
Si pendekar perempuan lebih banyak menyerang, seolah hendak menghabisi lawan dengan sabetan dan tusukan pedang. Lawannya yang tak membuka wajah hanya menangkis, namun tak membiarkan satu pun serangan masuk dan melukai. Lama-lama si perempuan mulai letih dan kesal karena serangannya tidak ada yang masuk. Si laki-laki pun mulai menguasai keadaan. Dan satu salah langkah membuat pedang si perempuan terpental.  Dengan cepat si laki-laki menyerbu ke arah si perempuan—sambil menjatuhkan kerisnya juga.


Si laki-laki menerkam si perempuan sehingga mereka berdua pun bergulat di tanah. Si perempuan meronta-ronta berusaha melepaskan diri, tapi jurus pitingan si laki-laki tak dapat dia kalahkan. Tapi dia sempat merenggut kain penutup wajah si laki-laki. Perlawanannya baru berakhir ketika.....si laki-laki menciumnya, menggeluti bibir si perempuan dengan bibirnya. Teriakan-teriakan pertarungan berubah menjadi desahan nafsu. Si perempuan memejamkan mata dan mengerang, bukan menahan sakit, melainkan berusaha membendung birahi yang menggelora. Dia merasa lebih susah menghadapi serangan seperti ini daripada tusukan seribu pedang. Padahal si laki-laki sudah membuang senjatanya. Yang dia gunakan hanya bibirnya, dan tangannya yang sudah menggerayangi, meremas kain kemben yang menutupi payudara si perempuan dan berusaha melucuti perlindungan itu. Tapi apakah benar semua senjata telah dilepas oleh si laki-laki? Karena si perempuan masih bisa merasakan keberadaan senjata lain yang siap menusuk.
“Ahh... Kangmas... Aku... aku malu...” Mulut yang tadinya meneriakkan seruan garang kini terengah lemah, mengucap kata-kata penolakan setengah hati.
Dua musuh berubah menjadi sepasang kekasih yang bibirnya saling berpagutan, tangannya saling menjamah, tubuhnya saling belit dalam nafsu. Dan si perempuan tiada berniat menangkis ancaman “senjata tumpul” yang dia rasa mendesak berlapis-lapis kain yang menutupi bagian terlemahnya. Bagian yang apabila disentuh, akan membuat dia takluk dalam asmara. Namun apa yang dimulai ternyata tidak dituntaskan: meski sang dara sudah terlentang pasrah dengan busana terdedah, rambut tergerai, dan bibir terengah menahan gairah, pasangannya malah berdiri.
“Sekar,” kata si pendekar, “Sungguh, aku sangat ingin bercinta denganmu sekarang. Tapi aku juga menemuimu hari ini untuk menyampaikan kabar. Ayahmu memanggilku untuk ikut berlaga ke Pantai Utara melawan laskar mancanegara yang mulai bercokol di sana. Dan sebagai prajurit aku harus mematuhi sabda Panglima-ku, membantu beliau sekuat tenaga.”
Pendekar perempuan yang dipanggil Sekar itu melompat berdiri sambil cemberut.
“Kangmas tak mempedulikanku lagi, hanya mendengarkan Bapak saja? Kalau begitu sana Kangmas menikah dengan Bapak, jangan denganku.”
Calon suaminya tak menggubris. “Sekar, ini demi kepentingan yang lebih besar. Dan kamu tahu mengenai ilmu silatku... Ilmuku mengandalkan hawa murni, dan kekuatannya bisa berkurang apabila aku bercinta dulu denganmu sebelum berangkat. Jadi, aku harap kamu mau bersabar.”
Si pendekar merangkul Sekar, menyibak anak rambut di dahi Sekar yang terlepas dari gelungan, dan mengecup kening kekasihnya. “Aku janji aku akan pulang,” katanya. “Sesudahnya aku akan puaskan kamu.”
*****

Sehari sesudah kepergian calon suaminya ke medan laga, Sekar sudah berjalan-jalan lagi di tebing Laut Selatan, dari arah timur ke barat. Cuaca memburuk; awan kelabu bergulung-gulung di arah barat, seolah amukan roh-roh jahat di angkasa. Dia bosan tinggal di rumahnya. Meski rumahnya besar dan megah, Sekar sering merasa kesepian di sana. Dia kurang betah hidup sebagai putri pembesar yang mesti anggun dan sopan, dan lebih menyukai kehidupan berpetualang. Karena tak bisa bercengkrama dengan kekasihnya, Sekar bermaksud mengunjungi kawannya, Ratri, yang tinggal di satu desa di sepanjang tebing. Ratri ialah gadis desa yang seumuran dengannya, putri kepala desa. Namun ketika sampai di rumah Ratri, Sekar menemukan orang-orang yang sedang berduka.
“Huu... Den Sekar, Ratri... Ratri diculik...” Ibu Ratri mengatakan sambil menangis tersedu.
“Siapakah yang menculik Ratri, Ibu?” tanya Sekar sambil merangkul ibu Ratri.
“Den Sekar, mohon ampun, sebenarnya ini karena kami tidak melakukan tugas kami sebagai kepala desa dengan benar,” kata bapak Ratri, si kepala desa. “Desa ini telah mengalami gangguan dari sesuatu yang jahat, entah manusia atau dedemit. Sebulan ini telah dua anak gadis yang diculik dan mereka tak ada yang kembali. Dan kali ini anak kami Ratri pun menjadi korban, diculik penjahat itu.”
Sekar putri seorang panglima yang telah mengenal ilmu silat dan kanuragan sejak kecil, dan diajari sikap ksatria untuk membela yang lemah. Mendengar ada penjahat yang menculik gadis-gadis desa saja darahnya sudah mendidih, apalagi ketika dia tahu sahabatnya ikut menjadi korban.
“Bapak, Ibu, aku akan cari Ratri! Penjahat itu tak bisa dibiarkan, aku harus memberantasnya sebelum dia merajalela dan mencelakai banyak orang!”
“Duh, Den Sekar, dia seseorang yang sakti! Kami tahu di mana dia berada, dan kami sudah pernah mencoba mengusirnya, tapi kami tak mampu. Dia melukai dan membunuh orang-orang kami.”
“Tapi dia harus dibasmi! Aku yang akan menghadapinya.”
Pasangan suami-istri itu hanya bisa mengantar kepergian Sekar. Dalam hati mereka memohon supaya si pendekar putri tak bernasib seperti orang-orang lain yang mencoba melawan kekuatan jahat sakti itu.
*****

“Di sinikah tempat dia?” kata Sekar kepada dirinya sendiri.
Tadi sesudah mengambil senjata dan bersiap-siap, Sekar menuju ke tempat yang ditunjuk kepala desa sebagai sarang si penjahat. Letaknya di ujung tebing. Siapa sangka di sana, tepat di tepi laut, ada candi tua yang sebagian sudah runtuh, tak terlihat dari desa karena terhalang bebatuan besar. Sekar berdiri di bibir tebing, di atas candi itu. Sepi. Dan hampir malam. Sebenarnya Sekar memilih waktu yang salah. Dia memilih menantang kekuatan gelap pada waktu sandikala, ketika keseimbangan dunia sedang bergeser. Sekar melompat turun dan menyadari benar-benar tak ada orang di sana selain dirinya. Dia berada di pelataran candi. Ada cahaya terang di dalam candi. Sekar pun mendekati pagarnya. Dan ketika mengintip, Sekar pun melihat sasarannnya. Bersama... Ratri.
“Ratri!” Sekar menutup mulutnya dengan tangan untuk mencegah suaranya terdengar.
Sahabatnya itu telah ditemukannya, dalam keadaan bersimpuh menghadap sosok bertubuh besar yang duduk di tengah, di depan candi yang runtuh. Sekar tak jelas melihat wajah sosok itu, hanya bisa melihat tubuhnya yang besar, rambutnya yang panjang berantakan, dan kedua pahanya yang sangat besar dan panjang sehingga membuat Ratri yang berada di antara kedua paha itu tampak kecil. Apakah dia manusia? Lengannya yang panjang dan hitam tampak menyentuh kepala Ratri. Cahaya yang Sekar lihat berasal dari empat pelita yang menyala di sekeliling sosok itu. Terlihatlah oleh Sekar bahwa keadaan Ratri justru tidak seperti yang diperkirakannya. Ratri terlihat dalam keadaan cantik, dengan rambut digelung berhias melati, wajah dirias, dan mengenakan kemben dan kain bagus. Dan satu lagi yang dilihat Sekar: tangan di kepala Ratri mendorong kepala Ratri makin dekat ke selangkangan sosok itu. Ratri dengan patuh membuka mulut mendekati suatu tonjolan yang panjang besar dan hitam, dan memasukkan tonjolan itu ke dalam mulutnya. Tiba-tiba pelita bergoyang sehingga bayangan yang timbul karenanya berubah. Sekar terkejut ketika sebagian bayangan itu mengenai dirinya: rasanya seperti disentuh! Mendadak si hitam menengok ke arahnya, dan Sekar pun bisa melihat sepasang mata yang menyala merah.

Bayang Ireng

“Sungguh tak sopan!” teriak si hitam. “Mengintip seperti itu, apa maumu hah?”
Sekar melompati pagar candi dan maju menyerang si hitam, langsung menghunus pedang. Tapi terjadi sesuatu yang aneh. Bayangan si hitam bergerak melilit pergelangan kakinya! Ilmu apa ini?! Sekar langsung melejit ke atas berusaha menghindar untuk menerjang dari atas. Langkah salah! Dalam langit yang menggelap, serangan si hitam malah susah dilihat. Tiba-tiba rambut si hitam memanjang jadi bayangan yang melesat ke arah Sekar di udara.Pinggang Sekar diincarnya. Sekar terbelit! Gadis itu menjerit ketika ditarik mendekat ke si hitam. Sekar belum menyerah, dalam keadaan ditarik mendekat itu dia berusaha mencari peluang.
“Hiaaattt!!” jeritnya selagi berusaha menebas bayangan si hitam yang menariknya.
“HUMH?” Si hitam menggerung ketika bayangannya tertebas.
Sekar mendarat dan langsung pasang kuda-kuda.
“Siapa kau! Lepaskan segera temanku Ratri!” tantang Sekar.
Musuhnya tampak seperti sosok gelap di tengah cahaya pelita, hanya sepasang mata merah yang menonjol di tubuh besarnya yang serba hitam. Sekar menduga-duga kesaktian macam apa yang dimiliki musuhnya. Sepertinya ilmunya berkaitan dengan bayangan. Sekar memikirkan siasat untuk melumpuhkan ilmu itu.
“Hmm hee hee hee hee hee,” si hitam tertawa, suaranya seram dan dalam.
“Den ayu, sebut aku Bayang Ireng. Si cantik ini temanmu? Hm, engkau pun tak kalah cantik. Daripada dia kulepaskan, bagaimana kalau kau saja yang ikut denganku? Kalian jadi pengantinku dua-duanya. Yang ini istri tua, kau istri muda. Kalian mau kan? Hee hee hee hee hee...”
Tiba-tiba Sekar mendengar Ratri mengerang.
“Ummmhhh!!” Suara Ratri teredam karena mulutnya penuh mengulum satu anggota tubuh Bayang Ireng.
“Dedemit! Kau apakan Ratri!!” seru Sekar sambil mengacungkan pedang.
Dari dekat, dia kini bisa melihat bahwa di sekeliling tubuh Ratri ada belitan sesuatu yang terlihat seperti tali tambang hitam tebal. Dan “tambang” itu berhubungan dengan tubuh Bayang Ireng, seperti bayangan yang menyerangnya tadi. Ujung tambang itu nampak lenyap di... bokong Ratri.

“Aahh!! Hah...! HAHH!!” Ratri akhirnya bisa membuka mulut dengan lega karena apapun yang dia kulum itu keluar dari mulutnya,namun dia terengah, suaranya awalnya seperti kesakitan namun kemudian terdengar keenakan.
Wajah cantiknya mendongak, lehernya tegang, dan seluruh tubuhnya bergetar.
“Ratri... Ratri! Kenapa kamu!! Bajingan, awas kamu!” Sekar menerjang, tak tahu Ratri sedang diapakan.
Tapi mendadak bayangan Bayang Ireng muncul lagi seperti cambuk berukuran raksasa, cepat sekali menyabet Sekar yang sedang maju menerjang.
“Hyahh!” Sekar tak bisa menghindari sabetan itu, dia terpental sampai terguling-guling. Sekar bangkit dan mendapati dirinya malah berada makin dekat ke Ratri. Dan dia melihat temannya dalam keadaan aneh.
Wajah Ratri tersenyum menganga lebar sampai memperlihatkan gigi, matanya kosong seperti tanpa jiwa. Dari bibirnya mengalir cairan putih kental. Ratri tidak kelihatan kesakitan, tapi malah merasakan enak. Dia tak peduli Sekar ada di depannya. Sekar berusaha meraihnya. Tapi sebelum Sekar berhasil, dia merasakan leher dan tubuhnya dililit!
“Den ayu, engkau maukah merasa apa yang dirasa istri tuaku?” Bayang Ireng kembali berkata, suaranya tetap seram namun kini bernada mempermainkan. “Perempuan yang kujadikan istriku bisa merasa seperti di swargaloka. Dan tidak mau lagi dengan kenikmatan dunia yang tiada berarti ini. Bagaimana? Hummm?”
Sekar meronta selagi lengan, atau anggota tubuh, atau bayangan, atau entah apa yang digunakan Bayang Ireng untuk membelitnya menariknya ke atas, membuat dirinya tak lagi menapak tanah. Dia merasakan seperti lawannya memiliki banyak lengan yang bisa memanjang dan membelit seperti ular, namun ujung lengan-lengan itu bisa menggenggam. Dan dia merasakan sekujur tubuhnya digerayangi! Di atas pahanya, salah satu lengan mencengkeram kain dan menarik...BREETT!! Kain penutup pahanya terobek!

“Ahh!! Lepaskan!!”
Lengan Sekar sendiri masih bebas dan masih memegang pedang. Dia langsung menebas putus bagian bayangan Bayang Ireng yang merobek kainnya, tapi tak ayal kainnya terobek sehingga paha, betis, sampai kaki tersingkap. Sekar memekik malu, karena sungguh tak pantas tubuh seorang perempuan terlihat.
“Hahaha... mulus nian pahamu den ayu, sungguh sayang kalau dibungkus? Aku ingin mengelus-elusnya.”
Bayang Ireng langsung mencuatkan lagi satu lengan dari bayangannya, membelit kaki Sekar yang tersingkap dengan erat. Sekar bergidik, seluruh lengan Bayang Ireng itu ternyata bisa meraba-rabanya, dan menggesek sekujur paha dan betisnya. Ujungnya berbentuk tumpul dan kini menyentuh-nyentuh cawat penutup kemaluannya.
“Jangan kurang ajar dedemit, rasakan ini, hiaaattt!!”
Sekar berusaha melepaskan diri lagi, dia merentangkan tubuh ke belakang, melengkungkan punggung sambil menebas. Genggaman di kakinya tidak begitu kuat meski melekat erat sehingga Sekar mampu berjungkirbalik dan kembali menebas Bayang Ireng. Ketika lengan yang membelit paha Sekar terputus dari bayangan utama, Bayang Ireng menjerit kaget. Rupanya dia bisa merasa sakit kalau bayangannya dilukai. Sekar dengan cepat memapas bagian-bagian lain yang mengikatnya, sehingga dia berhasil bebas, namun karena posisinya tadi terangkat di udara dia pun jatuh. Berkat latihan kanuragannya Sekar bisa jatuh dalam posisi kuda-kuda. Namun dia jatuh di bagian tanah yang hitam... tepat di tengah bayangan utama Bayang Ireng.
“Hoooo... HO HA HA HA HAA!!” Bayang Ireng tertawa seram selagi memunculkan banyak tonjolan dari bayangannya di sekeliling Sekar.
Sekar berusaha kabur tapi tanpa diduga muncul lagi satu tonjolan kokoh, tepat di bawahnya, seperti tinju yang tepat menohok ulu hati si gadis pendekar.
DHUAKK!! “Ahhh!!” Keras sekali pukulan itu sampai-sampai tubuh Sekar terpelanting ke belakang dan dia telentang. Sekar pun kelenger karena serangan dahsyat itu. Dia terkapar dan tak langsung bisa bangun.

Bayang Ireng muncul di hadapan Sekar. Dedemit itu berdiri di depannya, mengangkangi tubuhnya.
“Den ayu, sungguh cantik parasmu,” puji Bayang Ireng. “Sayang engkau berkelakuan seperti laki-laki, bertarung dan berteriak-teriak. Lebih baik engkau jadi istriku, gundikku, seperti temanmu itu. Mau kan?”
“Ukh... jangan bercanda kau... tak sudi!” Sekar berusaha menolak.
Dia ingin bangun tapi selain mengangkanginya, rupanya Bayang Ireng juga menggunakan bayangan untuk mengikat pinggangnya ke tanah.
“Aku Bayang Ireng, biasa menaklukkan dan membunuh orang, kecuali perempuan cantik,” katanya. Dan Sekar melihat Ratri berdiri di sebelah Bayang Ireng. Ratri lalu bersimpuh di sampingnya.
“Ratri! Ratri!” Sekar memanggilnya. Ratri mendekat, mengelusnya. Pandangan kosong Ratri membuat Sekar ngeri. Bibir merah Ratri terkatup namun terus mendekati Sekar... dan tiba-tiba...
“Mmmhh??” Ratri mencium bibir Sekar, memaksa mulut Sekar membuka. Dan ketika itu juga Ratri meludahkan cairan yang disimpan dalam mulutnya ke dalam mulut Sekar.
Itu cairan yang Sekar kira berasal dari anggota badan Bayang Ireng yang dikulum Ratri! Ratri terus mencium tanpa melepas, mencegah upaya Sekar memuntahkan apa yang diludahkannya. Sekar terpaksa menelannya. Barulah Ratri melepas bibir Sekar.
“Engkau sudah menelan bibitku, den ayu... bibitku bisa mengubah perempuan yang menelannya menjadi sundalku...” Bayang Ireng menjelaskan, selagi Ratri bersimpuh di sampingnya dan mengelus pahanya.
Lengan-lengan muncul lagi dan mencengkeram tepi kemben Sekar. Dan dengan segera kemben itu direnggut sambil dirobek. Payudara indah Sekar pun terlihat di bawah cahaya pelita. Lengan-lengan Bayang Ireng langsung pindah meremasi keduanya.
“Hm, tubuhmu sungguh indah den ayu, payudaramu bagus, pasti engkau telah dipelihara untuk kelak dijadikan persembahan bagi seorang raja atau pangeran bukan?” goda Bayang Ireng. Sekar meringis merasakan bayangan Bayang Ireng membentuk jari-jari yang meremas daging susunya dan lidah-lidah yang menyentil pentil-pentilnya. “Kembenmu terlalu ketat membebat susumu, mari kubebaskan, rasakan nikmatnya, den ayu!”

Sekar sebenarnya tidak amat lugu, Kangmas-nya sudah pernah menyentuh-nyentuh susunya. Namun apa yang dia rasakan saat itu berbeda. Payudaranya jadi jauh lebih peka. Sekar merasa enak sekaligus ngeri karena sentuhan Bayang Ireng terasa jauh lebih merangsang daripada jamahan tunangannya yang pernah dia rasa. Itu pasti karena cairan bibit yang dicekokkan Ratri tadi, pikirnya.
“Ah... ah... jangan...” Sekar menolak lemah, ketika pentilnya menanggapi rangsangan dengan menjadi tegang dan keras.
“Lihat penthilmu ngaceng, den ayu,” goda Bayang Ireng.
“Lepaskan aku... dedemit busuk!” maki Sekar tak berdaya. “Eh? AAHHN!! Sekar menjerit kaget ketika kedua pentilnya ditarik jauh.
“Hahaha... Ada apa, den ayu? Jeritanmu sungguh nikmat! Sukakah kalau susumu direnggut seperti itu?” kata Bayang Ireng.
“Tidak... AH!” Sekar kembali menjerit ketika payudaranya diremas keras. Pentilnya terus dimain-mainkan, ditowel-towel.
“Jangan pura-pura, den ayu. Penthilmu tambah kencang.”
Sekar belingsatan ketika tubuhnya berkhianat, payudaranya menikmati dilecehkan oleh dedemit hitam itu dan mulutnya terus mengerang nikmat. Sekali-sekali mulutnya ingat menolak tapi sisa tubuhnya seolah tak lagi punya keinginan melawan. Oh, enak sekali ketika payudaranya dimain-mainkan seperti itu! Tidak, tidak boleh kalah dengan jamahan dedemit busuk ini! Bayang Ireng mengamati wajah Sekar yang kacau, antara ingin menolak dan menyerah lalu menikmati. Sambil dia mulai menggarap bagian baru: bokong Sekar yang berada di atas bayangannya, dia gerayangi juga. Satu bagian bayangannya mencuat di depan selangkangan Sekar lalu langsung meraba. Masih ada halangan kain dan cawat. Itu pun disingkirkan. Ilmu Bayang Ireng yang membuatnya bisa memiliki banyak sekali anggota badan itu membuat Sekar jadi bulan-bulanan. Gadis pendekar itu merasakan kainnya dilepas dan cawatnya direnggut sampai koyak. Dan terasa sesuatu menyelip di bibir kemaluannya... mulai menggoda itilnya.

Itu bukan sentuhan yang baru bagi Sekar. Meski belum resmi menjadi seorang istri, Sekar sudah pernah mencicip sanggama bersama Kangmas-nya, si pendekar dengan wajah tertutup kain. Dan dia pernah merasakan puncak kenikmatan yang diberikan lelakinya. Jadi dia sedikit-sedikit tahu apa yang akan terjadi. Dan itu tak dia harapkan. Gesekan-gesekan lengan Bayang Ireng di itilnya mulai membuatnya basah. Apalagi payudaranya digenggam erat. Yang ditakutkannya terjadi juga...
“Ah... AHAA!! AHAHNN!!”
Akhirnya masuk juga anggota tubuh Bayang Ireng ke kewanitaan Sekar. Bayangan yang kini berperan jadi lingga itu awalnya kecil, namun lantas membesar dan memanjang; Bayang Ireng bisa mengatur ukuran dan bentuk anggota tubuh semaunya. Lalu berbagai cabang bayangan lain ikut bermain. Sekar merasakan tubuhnya diangkat sehingga dia berposisi seperti berdiri tegak, namun dengan kaki merentang, dan tidak menapak tanah; lengan-lengan Bayang Ireng menopang sekaligus mengikatnya, menggantungnya sekaligus mengendalikan tubuhnya seperti wayang. Bayang Ireng berada di depannya dengan satu anggota tubuh mencuat dari selangkangannya masuk ke lubang kemaluannya. Sekar lalu menjerit ketika dia merasa seluruh tubuhnya digenggam erat oleh banyak lengan dan dipaksa bergerak naik turun menancap di lingga Bayang Ireng. Kemaluannya, seluruh tubuhnya, dipaksa menjadi pemuas Bayang Ireng. Kadang dia dinaikturunkan cepat, kadang lambat. Yang lebih parah, Bayang Ireng bisa semaunya mengubah ukuran dan bentuk bagian tubuh yang menusuk Sekar. Sekar menjerit ketika lingga dedemit itu memanjang hingga mendesak rahimnya, atau membesar hingga merentang kemaluannya, atau mencuatkan tonjolan-tonjolan yang menggesek dinding kemaluannya. Sekali-sekali lingga itu mengecil, membuat Sekar lega sebentar, tapi kelegaan itu selalu langsung dihancurkan ketika kemaluannya kembali didesak benda yang kembali memanjang keras. Sekali-sekali dia diangkat sampai lepas dari tombak hidup itu, hanya untuk dihunjam keras-keras beberapa saat kemudian. Jerit-jerit Sekar membahana selagi dia terus disiksa. Akhirnya, Bayang Ireng melepasnya.

Sekar yang capek sekali ambruk ke tanah. Dia berusaha bergerak pelan-pelan, menjauh. Dia hanya ingin kabur, dia tak mau lagi diperkosa Bayang Ireng. Namun Bayang Ireng tak berniat melepaskannya begitu saja. Bayangannya kembali meringkus Sekar dan mengangkatnya lagi. Sekar dibalikkan sehingga telentang melayang, punggungnya ditopang beberapa lengan dan pinggangnya dibelit. Sekar geleng-geleng kepala selagi dia melihat lengan, bukan, lingga hitam Bayang Ireng yang berbentuk seperti mata tombak siap menusuk kembali di depan pintu liang kewanitaannya yang menganga bekas didobrak. Gelengan kepalanya adalah harapan lemah Bayang Ireng bakal mengasihaninya dan melepasnya. Tapi mata tombak itu tetap mencoblos kemaluannya. Jerit keras terdengar dari mulut Sekar selagi kepalanya tersentak ke belakang. Kedua kakinya mengacung tegak ke atas lalu jatuh lagi selagi lingga Bayang Ireng menggenjotnya tanpa ampun, keluar masuk. Namun Sekar terus merasakan juga enak ketika payudaranya dicabuli dan titik kunci dalam kewanitaannya digesek-gesek oleh kelamin besar Bayang Ireng. Sekar merasa seolah kehilangan akal menghadapi semua itu. Dalam hatinya mulai timbul keinginan untuk memohon kepada Bayang Ireng agar meremas susunya lebih keras, menusuknya makin dalam dengan lingga yang makin besar. Dia hanya bisa menjerit dan mengerang, tak kuasa melawan. Tak terpikir lagi oleh Sekar bahwa dia harus mengalahkan sang dedemit keji Bayang Ireng yang telah memperbudak temannya.
“Aaah! Ngghhh! Ahh!” Sekar merasakan sesuatu membuncah dalam dirinya. Dia tahu apa itu, dia pernah merasakannya. Meski enggan mengakuinya, perojokan Bayang Ireng mendorongnya menuju nikmat paripurna. “Ah jangan... Sebentar lagi...”
“Hm? Sebentar lagi?” Namun Bayang Ireng lebih keji daripada yang Sekar duga. Ketika sesaat lagi Sekar akan memuncaki kenikmatan, tiba-tiba lingganya mengecil dan ditarik keluar, lalu tumpuan tubuhnya dilepas. Sekar jatuh lagi ke tanah, lelah, ketakutan, dan gemas karena gagal mencapai puncak. Dia meringis, berbalik badan dan berposisi merangkak. Sekar menyadari bahwa pakaian yang melekat di tubuhnya sudah koyak-koyak, tinggal sisa-sisa kain yang menggantung. Bayang Ireng tertawa melihat mangsanya yang gelagapan, seolah berusaha merangkak pergi. Dia membiarkan Sekar bergerak beberapa langkah sebelum mengirim lagi beberapa anggota tubuhnya melejit menjerat paha dan pinggang Sekar, dan kembali menerobos kemaluan Sekar yang sudah basah tak keruan dari belakang. Dan kali ini datanglah puncak itu, Sekar merasakan ledakan dalam birahinya yang membuatnya langsung kejang-kejang dan ambruk tertelungkup selagi batang keras besar membobol kewanitaannya. Dia menjerit-jerit tak tertahan. Puncak kenikmatan melanda sekujur tubuhnya, sampai dia benar-benar lupa diri. Dia sampai tak sadar Bayang Ireng melepas seluruh cengkeramannya, membiarkan dia menggelepar di tanah menjalani puncak birahi.
Ratri


Ketika Sekar pulih kembali, dia melihat Ratri kembali berada di dekatnya.
“Ratri...” panggilnya lemah.
“Sekar... hihihi... Kamu mau ikut aku juga jadi istri Ndoro Bayang Ireng...?” Kata-kata Ratri sungguh tak terduga.
“Ratri... pergi... aku... kita...” Banyak yang mau Sekar katakan, tapi dia tak kuat, lagipula dia bingung dengan pikirannya sendiri. Dia lalu membelalak ngeri ketika di samping Ratri muncul sosok tinggi besar hitam Bayang Ireng. Dan yang lebih membingungkannya, Ratri menoleh, mendekati Bayang Ireng, lalu memeluk dedemit itu.
“Ayo Sekar... ikutlah denganku... Ndoro Bayang Ireng bisa bikin aku merasa kenikmatan swarga...” kata Ratri sambil mencium bagian dada bayangan hitam itu. “Ndoro... jadikanlah temanku Sekar ini sundalmu... aku rela dia kau jadikan istri mudamu Ndoro...”
Bayang Ireng mendekati Sekar dan Sekar tak bisa menghindar lagi. Sekar yang berposisi masih merangkak itu dihampirinya dari belakang, lalu Sekar merasakan kegelapan meliputi dirinya. Jantungnya berdebar selagi dia menyadari seluruh tubuh Bayang Ireng mendekat ke seluruh tubuhnya. Posisi keduanya adalah posisi hewan bersetubuh, di mana si pejantan menunggangi si betina dari belakang, namun Bayang Ireng tidak hanya menunggangi, tapi malah seperti meliputinya, menelannya, memeluk seluruh tubuh Sekar dengan tubuhnya sehingga nyaris seluruh tubuh Sekar tertutup bayangan hitam, hanya kepalanya dan kedua tangannya yang masih terlihat. Di dalam bayangan itu Sekar merasakan seluruh tubuhnya dibelai, disentuh, digerayangi, dirangsang dengan segala cara. Dia hanya bisa mengeluh dalam hati, sementara bibirnya mengeluarkan desahan penuh nafsu. Satu bagian tubuh Bayang Ireng masuk ke dalam kemaluannya, lalu di dalamnya embelan itu langsung berubah menjadi lingga yang menggenjot dan mengaduk-aduk kewanitaan Sekar. Sekar juga merasakan payudaranya seperti disedot dan dikelitiki ribuan jari dan bibir yang meliputi. Tubuhnya gemetaran. Bayang Ireng berubah meliputi sekujur tubuhnya seperti baju, baju yang bisa mencabulinya. Pikiran dan tubuh Sekar segera takluk selagi dia dibuat mencapai puncak berkali-kali. Hanya Bayang Ireng dan Ratri yang bisa mendengar jerit kekalahan sang gadis pendekar.
*****
Setengah bulan kemudian

“Sekar, di manakah engkau?”
Pendekar dengan wajah tertutup kain itu mencari-cari tunangannya yang hilang ke segala penjuru, melabrak berbagai tokoh sesat yang dia anggap tahu di mana Sekar berada. Sesudah beberapa lama, dia menemukan bahwa Sekar terakhir diketahui berusaha membebaskan Ratri temannya yang diculik dedemit yang bersarang di pinggir Laut Selatan. Dan kini dia sudah berada di candi tua yang didatangi Sekar, menjelang malam. Dia menemukan pelataran candi itu diterangi empat pelita besar, membuat ribuan bayangan menari-nari mengikuti liuk cahaya api. Suasana hening namun di tengah pelataran terlihat satu sosok perempuan yang menari, seolah di sekelilingnya ada gamelan yang mengiringi. Tariannya lambat, anggun, dan mengusik birahi. Itu Sekar, tunangannya. Sekar mengenakan kain merah yang tidak rapi menutup tubuh bawahnya, sehingga sekali-sekali paha mulusnya tersingkap. Dia juga mengenakan kemben hitam yang seolah mendorong payudaranya yang montok ke atas. Rambutnya disanggul besar di belakang kepala, wajahnya dirias tebal. Andai dilihat lebih dekat, mata Sekar akan terlihat kosong. Di hadapannya berdiri satu sosok perempuan lain. Dialah Ratri. Namun Ratri berdiri tegak, diam, dan dia seolah tak mengenakan pakaian. Sekujur tubuhnya tampak ditutupi bayangan hitam, begitu pula tanah yang diinjaknya hitam kelam tertutup bayangan, biarpun berada di tengah cahaya empat pelita. Ratri berjalan dengan acuh mendekati Sekar. Pelan-pelan bayangan yang membungkus tubuhnya bergerak sendiri. Mulai muncul tonjolan-tonjolan kecil berbentuk seperti lengan, sulur, atau cambuk. Tiba-tiba, bagian-bagian bayangan itu melesat menuju Sekar. Dua langsung menjerat kedua pergelangan kaki Sekar dan dua lagi membelit lengannya. Dua lagi menarik kembennya sampai terbuka lalu melingkari kedua payudaranya. Sekar diangkat oleh lengan-lengan itu lalu didorong ke depan Ratri. Kedua pahanya direntangkan sehingga Sekar pun tersedia dalam keadaan mengangkang di depan Ratri. Dan dari bagian bayangan hitam yang berada di bawah perut Ratri muncul dua tonjolan, dua lingga yang langsung berebutan menusuki kemaluan Sekar dan membuat Sekar berteriak keenakan.

Bayangan yang membungkus Ratri pun buyar, sehingga terlihatlah bahwa Ratri memang benar-benar telanjang. Bayangan itu berubah menjadi semacam kursi yang menopang Ratri dalam keadaan mengangkang sambil mencoblos dua lubang Ratri, yang depan dan yang belakang. Yang di depan menusuknya sambil memunculkan cabang yang menggoda itil Ratri. Ratri berteriak-teriak keenakan sambil menyebut sesuatu yang terdengar seperti
“ndoro bayang ireng”. Dua perempuan dijerat bayangan raksasa di tengah pelataran candi tua itu, keduanya disetubuhi tanpa ampun, oleh dedemit sakti yang mampu berubah wujud, dan yang lebih parah, keduanya tampak menikmatinya!
Sekar dan Ratri menjerit berbarengan ketika kedua sahabat yang terjerat itu dibawa ke puncak swarga birahi oleh lingga-lingga cabul si dedemit hitam. Keduanya lalu diturunkan sehingga sama-sama duduk bersebelahan di tengah lingkaran besar bayangan hitam yang tak wajar karena mampu mengalahkan cahaya. Dan di depan mereka, di tengah lingkaran hitam itu, satu sosok seperti manusia bertubuh besar muncul seolah diangkat dari kelamnya dunia bawah tanah. Sekar dan Ratri berjalan jongkok mendekati sosok itu yang sudah mewujud lengkap seperti manusia, dengan kepala, tubuh besar, lengan-lengan besar, kaki-kaki besar, dan sepasang lagi anggota tubuh yang besar menggelantung di bawah perutnya—yang ini tidak seperti manusia. Sepasang lingga itu disodorkan kepada kedua gadis yang kini bersimpuh di hadapannya. Mereka berdua telah jatuh dalam cengkeraman Bayang Ireng, menjadi istri-istrinya, sundal-sundalnya. Keduanya mulai menggenggam dan membelai sepasang lingga kekasih mereka yang luar biasa itu, yang menjadikan mereka budak birahi dengan cara yang tak bisa dilakukan manusia awam. Satu tangan Bayang Ireng memegangi belakang kepala Ratri dan memaksa Ratri menelan batang hitam itu, sementara Sekar dengan sukarela menjulurkan lidahnya dan menjilati batang satunya. Ratri tak bisa memasukkan seluruh batang itu ke dalam mulutnya, maka dia mengelus sisa panjangnya, sementara dia berjongkok dan membiarkan bayangan di bawah dirinya mengeluarkan satu lengan yang menggoda kemaluannya. Mulutnya sesak diisi lingga raksasa Bayang Ireng.

“HUNGGGHHH!!” Bayang Ireng menggerung keras dan seram. Seluruh tubuhnya berdenyut-denyut. Sepasang batangnya muncrat, menyemburkan bibit putih cair. Mulut Ratri langsung penuh dan dia tak mampu menahan lelerannya keluar dari bibirnya, sementara wajah Sekar yang dirias langsung ternoda cipratan-cipratan putih yang menerpa tanpa henti. Sekar malah sengaja membuka mulut lebar-lebar, seolah ingin menangkap semburan bibit dedemit itu. Bau tajam menguar ke udara, namun kedua gadis itu seolah mabuk dibuatnya. Bahkan ketika semburan itu usai, keduanya masih mengisapi dan menjilati bibit yang tersisa. Keduanya telah kehilangan jati diri, tak lagi gadis-gadis priyayi terhormat, melainkan sepasang sundal yang tunduk pada birahi. Tersenyum dan tertawa-tawa keduanya, di tengah swarga hitam yang menjerat jiwa. Barulah Bayang Ireng menoleh, kedua matanya yang merah menyala itu melihat ke arah si pendekar.
“Wahai kawan. Aku tahu engkau mencari kedua gadis ini bukan? Ayo ke sini, kita nikmati mereka bareng,” undangnya.
Keris di pinggang si pendekar berkilatan ketika dia menghunusnya. Dia pun langsung melompat, menyerang Bayang Ireng, menanggapi undangan dedemit itu.
“HIAAATTT!!”

TAMAT
Diilhami sepasang teman, yang sekarang entah mereka ke mana

Tuesday, May 19, 2015

4Bia 2: Girl's Collector (Franda)

  • Cerita ini merupakan cerita ke-2 dari 4 cerita.
  • Cerita ini terpisah dari 3 cerita lain yang akan disajikan namun memiliki hubungan dengan cerita ke-1 sebagai acuan (baca : aura kasih – 4bia 1 “apartemen 1303”).
  • Met baca yaah ^o^ Diny Yusvita.
  • Salam Metal, Bung Rompis *awas ketawa sendiri disangka orang gila.
#########################
‘Pemirsa.. Indonesia kembali diguncang berita misterius. Baru saja kita kehilangan lagi yang kali ini seorang presenter berbakat, dimana sehari sebelumnya kita kehilangan pengantin muda artis. Mereka.. Bla bla bla bla’, suara pembawa acara berita di TV.


Flip!, TV dimatikan.
Orang yang mematikan televisi menyeringai. “Hehehe..kita masuk berita, Wuak hak hak hak hak,” ia tertawa bangga. Penisnya tengah dikulum dua wanita muda cantik jelita yang duduk bersimpuh di kiri dan kanan mengapitnya duduk bagai raja diraja. Tentu dua wanita itu adalah celebrity tanah air yang dimaksud penyiar berita TV tadi.
Mereka tidak berbusana...
Mereka serta beberapa artis lain yang tengah merangkak di lantai dengan kalung budak.
Mereka…??

-# Beberapa Waktu Sebelumnya #-

di sebuah Pendopo, tempat Lelaku ilmu hitam.

Franda

Seorang dukun sakti mandraguna tengah duduk bertapa di sebuah ruang penuh kepulan asap kemenyan, dinding berpajangan kepala tengkorak manusia serta jejeran keris. Matanya terpejam, mulutnya komat-kamit ‘was wes wos.. was was was belon bayar gas.. was pa dah ditagih tukang gas.. wah gas wat uange nge-pas’.
Tring!!! tiba-tiba mata dukun itu terbuka, seperti baru terima bisikan ghoib. Ia lantas berdiri dan keluar dari ruang pertapaan.
“Nyok! Penyook.. kesini!”. Seorang pemuda berperawakan IQ jongkok lari mendengar panggilannya, “Ay, ay ‘Ndoro.. ondewe”, (on the way).
Saat pria tersebut tiba, sang Dukun berkacak pinggang. “Sampeyan itu TK aja ‘ndak lulus di DO.. mbo’ ya ‘ndak usah Inggris-Inggrisan gitu toh, Nyook-Nyok!”.
Pria itu cengengesan, “E-hehe.. punten Ndoro, anuu.. Aku habis baca buku Tintin, jadi mau tiru Kaptennya yang brewokan itu, sii.. si.. Kapten Kredok!,”
“Haddock kali, kredok mah gado-gado mentah!”.
“Hoo iya ya, betul! Seraatus buat Ndoro!.”
“Seratus perak buat opo? Wong pengamen aja paling kecil lima ratus perak sekarang! eh Nyok, aku baru dapat wangsit… ka,”
“Hah, pangsit? Aku juga mau Ndoro. Pakai baso tapi sawi jangan,” potong pria itu pakai titip pesanan pula.
“Wangsit! bukan pangsit! Budek!” omel sang Dukun.
“Punten Ndoro.. punteen,” pria yang dipanggil Penyok-nyok itu langsung menunduk minta maaf.
“Yo wis. kowe pasang plank ‘Pengumuman!! tutup praktek sementara, tidak melayani jasa perdukunan dulu. Akan kembali dibuka pada waktu yang akan ditentukan nanti.’, di depan gerbang ya Nyok!,”.
“siap ‘Ndoro, baiknya ditambah tulisan ‘milik pribumi’ saja ‘Ndoro!”
“Memangnya lagi ada kerusuhan? Demo anarkis? takut dijarah? Heh…? ada-ada saja kamu itu Nyook-Nyok!, pie toh”
“hehehe iya ya ‘Ndoro.. betul juga. Tapi itu berarti kita masih terima wanita melahirkan dong?,”.
“memangnya aku dukun bersalin! Hah?!” kata si dukun kesal.
“Punten Ndoro, siap laksanakan!”, pria itu hormat layaknya paskibraka dan lantas ngacir tahu sang juragan marah diledeknya. Sambil lari sambil ia bersenandung, “Mata-muu.. Ahh!”.
Bagi yang telah menyimak, ‘Behind the Mask of Celebrity 2 – Hypnotized’, tentu telah familiar pada mereka berdua. Mereka adalah Ki Joko Edan, dukun sakti yang ternama di dunia ilmu hitam dengan keahlian khusus hipnotis, dan pemuda yang bersamanya tidak lain adalah Penyok, asisten yang bertugas membagi-bagikan nomer urut antrian pasien.
Karena punya feeling kerjaan Penyok tidak becus, Ki Joko sidak langsung ke lokasi seperti halnya Gubernur DKI Jokowi. Dan didapati tulisan suruhannya ditambahi Penyok, ‘Awas.. Mbah Dukun Galak!!’, di plank itu.
“Wong edyaan.. dasar kadal bunting, kecoa cubby, babi ngepet, dinousaurus, brontosaurus! PENYOOK!!” Ki Joko memanggil dengan geram memaki layaknya pelawak Alm. Kasino.
“YA ‘NDOROOooo…” suara itu malah semakin kecil terdengar lantaran Penyok minggat tahu Ki Joko marah.
‘Dziiiing..!!’ Penyok lari dengan kecepatan cahaya, dalam sekejap dirinya hilang tak berbekas.

# Tragedi Sang Artis

Dua dara tengah berbincang di sebuah meja makan foodcourt kampus, Universitas ternama artis kita, Efranda Stephanus. Atau lebih akrab disapa VJ Franda atau Franda saja.
“eh Nda.. gila deh, ini artis khan pendatang baru.. tapi main di film ini, film itu. Lebih muda dari lu padahal, masa elu kalah sama dia. Gw perhatiin, banyakan dia deh filmnya daripada lu,” ledek wanita yang duduk bersama Franda, membahas isi tabloid Cek & Ricek.
“Ah nggak juga!”, Franda membela diri, dalam hatinya membenarkan hal tersebut. Sesekali ia lontar senyuman ke seorang pemuda yang duduk di kedai sama tempatnya minum lantaran pemuda itu terus pandangi dirinya tanpa berkedip sedikit pun.
“Coba aja hitung filmnya.. adu sama lu, ayoh!” tantang teman Franda itu.
Franda tidak suka dengan arah perbincangan, “udah ah, ngomong yang lain aja yang lebih bermutu!”.
“Hahaay, takut kan lu?!” ejek temannya, Franda kesal bukan main dalam hati.
Kemarahan Franda sedikit surut ketika pemuda yang terus memperhatikannya datang menghampiri. Wajah si pemuda memang tidak bisa dibilang tampan. Cenderung culun dengan tubuh gempal, pendek, berkacamata. Ia memperkenalkan diri bernama Ronald dan ingin minta tanda tangan. Pemuda itu sambil memperhatikan tanda tangan di foto yang dibawanya..sambil ia pandangi Franda dari dekat. Rupanya dia seorang maniak, sampai memperhatikan hal lain termasuk apa yang diminum Franda. “Wow! Sis Franda suka Fanta juga ya?” tanya fans Franda yang bernama Ronald-Ronald itu.
“Ngg.. iyaaa!” jawab Franda diusahakan dengan senyum manis lantaran pertanyaan tidak penting sama sekali untuk dijawab. Pikir Franda, namanya juga jadi artis, resiko-lah, lumrah.
“Sama dong Sis!” sahut Ronald itu. Di saat yang sama, (perasaan ‘gak nanya deh gw!), Franda membatin. Buru-buru saja ia tanda tangan dan menyerahkan kembali barang milik fans-nya itu.
Bukannya mengucap terima kasih lalu pamit pergi, pemuda itu malah terus berdiri disitu dan bicara tak karuan, “Fanta lebih enak kalau dikolab sama susu, Sis!” usul-nya.
“Hah? di koolab? Apaan tuh? Dicampur maksudnya?, Nggak juga! Aku lebih suka Fanta biasa sih,” sahut Franda agar pemuda itu tahu kalau Franda mulai muak dengan keberadaannya yang mengganggu dan ingin dia segera enyah pergi.
“enak sis soda susu!” kata si Ronald lagi, terus memaksakan kehendak apa yang disukainya pada orang lain.
Mungkin karena pemuda itu terbuat dari kulit Badak dan agak-agak tidak nyambung lantaran sedikit terbelakang dia jadi aneh seperti itu. “lagi juga nggak ada susu Maaas disini!” tambah Franda makin kesal padanya.
“Susunya Sis Franda aja, kan enak susu perawan hehehe,” pemuda tersebut malah menyahut tanpa kenal sopan santun dan tahu aturan yang membuat Franda makin BT.
“Hahahaha, Frandaa-Franda.. sekali punya fans yang kayak begini model-nya.. Hhh!,” sindir temannya, hal ini jadi bahan empuk dirinya makin diremehkan dan dijatuhkan. Persahabatan terkadang kejam tanpa disadari.
“Eh Mas.. gw belum punya anak! So, nggak mungkin payudara gw keluar susu.. sekolah nggak sih loh?!” Franda kelepasan jadi ketus judes.

“Tetangga saya ada kok Sis yang begitu!,” pemuda itu malah ngotot mempertahankan alibi-nya yang tidak ilmiah, bukan sadar kalau Franda sudah gerah tidak suka padanya.
“Capek deh, Gubrakk!!” Franda merebahkan kepala di meja menutup wajahnya, teman Franda yang tadi senang dipikir bisa meledek Franda, jadi jengah juga.
“Eh Mas! nggak semua!, umumnya nggak gitu.. namanya juga gak umum, ya nggak semualah, mungkin aja terjadi, tapi tidak pada semua wanita! Lagi juga nggak etis banget sih laki-laki bicara masalah cewek sama cewek langsung! Mana ini tempat umum!,” kata teman Franda kesal disertai wajah jutek.
“Kalau dia nggak mau pergi, kita aja yuk yang pergi?” kata Franda ke temannya sambil rogoh tas tangan cari dompet.
“Sis Franda pulang naik apa? kalau naik busway kita kolab!” kata Ronald si pemuda, lagi-lagi untuk yang kesekian ribu kali mengulang kata-katanya.
(apa sih nih orang?! kelainan jiwa, steb atau keterbelakangan mental barangkali.. kata-katanya nggak jauh dari kolab.. susu, perawan?), Franda bertanya-tanya dalam hati.
Tiba-tiba lelaki berkepala botak menyela, “eit-eit-eit.. tunggu duluu! Mau kemana Nona-nona cantik!? jangan pergi dulu dong!. Dari tadi Abang perhatiin Non berdua ini digoda laki-laki tengik ini kan? Makanya pada mau pergi,” kata si Abang botak yang rupanya pelayan warung yang ditempati Franda dan kawannya.
Franda jadi urung ambil dompet, ia memang masih ingin duduk dan ngobrol disitu jika saja pemuda sang pengganggu ‘Ronald’ itu pergi. Si Abang botak melipat kaus di lengan yang ibarat siap berkelahi.
“Coy, jangan ganggu pelanggan orang ye!. Lu mau gua beri..? Hah..? Gua jotos ganteng lu!” kata si Abang dengan nada keras sambil mengepal tangan ke depan wajah Ronald.
“Siapa yang ganggu?,” ujar Ronald dengan ekspresi wajah tak berdosa.
“bujug nih bocah, entar gua lempar juga lu ke bangku Kora-Kora Dufan paling belakang biar jerit-jerit tahu rasa. Lu mahasiswa bukan sih? otak lu dimana Brur? di kepala kontol gua rasa, bukan disini!” sahut si Abang sembari menunjuk kepala botaknya.
“Ada juga yang keganggu yang ditanya, bukan eLu-nya! Tolol!. Mahasiswa IPK nol koma kali lu ya? masa’ kalah sama gua yang SD aja ‘gak lulus? Bego lu! Nih gua tanyain langsung biar lu dengar, ehm, apa Non berdua merasa terganggu dengan kehadiran Masteng ini?”, tanya si Abang sembari menunjuk Ronald dengan gaya mengejek.
“Masteng apa tuh Bang?” tanya balik Franda.
“Mas-mas Tengil, heheheh,” jawab si Abang sembari menoleh ke Ronald.

Namun ekspresi pemuda itu tetap seperti anak SLB yang tidak mengerti pembicaraan orang dewasa normal. Sedang Franda dan temannya menutup mulut menahan ketawa.
“ya kalau boleh jujur sih.. kita terganggu Mas..yang nggak, Nda? jawab dong, dia kan fans lu!” ujar teman Franda bernada keras agar Franda sedikit tegas.
Franda berfikir sesuatu sebelum bicara, “Ngg..iya Mas, tapi by the way thanks ya sudah jadi fans aku. Cukup sampai sini kali yaa ketemuannya, kita kembali ke aktivitas masing-masing,” Franda bermaksud ingin mengakhiri dengan cara baik-baik. Salah orang!.
“siapa yang nge-fans? Aku cuma mau perawanin dan perkosa susu sis kok!,” tanggap pemuda bernama Ronald itu ringan jauh di luar dugaan, sudah itu ia pergi begitu saja tanpa pamit serta merta dengan wajah polos pula.
“itu.. Orang bukan sih? Apa manusia planet mana kali ya nyasar ke Bumi?” ujar Franda sembari garuk-garuk rambut padahal tidak gatal, lantaran tidak mengerti sikap aneh fans-nya itu. “ada ya Mahasiswa kayak gitu? OMES! Otak mesum! Freak! Weird! ihh” tambah teman Franda dengan ekspresi jijik di wajah.
 “Tuh anak lahirnya dilepehin kali sama Emak-nya! Bagus dia pergi, baru mau dilempar ke comberan biar nganyut bareng tinja!” si Abang botak ngomel-ngomel sendiri. “Nah.. Nona-Nona cantik.. silahkan dilanjut! penggangu sudah pergi” kata si Abang lagi dengan ramah.
“makasih Bang,” sahut Franda dengan senyum manis, si Abang pun pergi dengan senang serasa jadi pahlawan.
Teman Franda rupanya tidak lama juga pamit pergi setelah terdengar bicara dengan seseorang di HP. Tinggal ia termenung seorang diri. Franda berpikir keras, bagaimana cara agar para produser dan sutradara tertarik untuk selalu mengajak dirinya main film terus dan terus hanya dia saja. Jual diri ke pejabat atau cukong sudah, lalu harus bagaimana? Lobby hanya menghantar ia menjadi pembawa acara singkat berita olah raga malam hari. Kesibukan dan penghasilan yang tidak seberapa dibanding celebrity lain hingga memaksanya cari kesibukan di kampus dengan jadi staf, tidak sulit dengan nilai IPK tinggi ditambah wajah cantik. Jika ditelisik dari kasus Eyang Kabur yang masih hangat terdengar, itu berarti para artis juga main kotor lewat jasa ilmu ghoib / dukun. Persaingan di dunia hiburan memang sangat ketat. Tapi..darimana dia bisa kenal dukun? apalagi yang jaminan. Haruskah ia datangi seluruh dukun dan menjajal keahliannya satu persatu?. Sebagai entertainer yang baru naik daun, tentu ia bahan sorotan paparazzi, akan tercoreng nama baik jika ketahuan terlihat di tempat-tempat praktek dukun.

Franda tidak sadar terlarut lamunan, orang-orang di sekitarnya pergi satu demi satu lantaran langit menguning. Masih hanyut dalam lamunan, sebuah jari tangan hitam kehijauan sebesar pisang ambon membekap mulutnya,
“eMpf! Mmpff!” rontaan Franda terhenti ketika menghirup aroma tangan pembekap mulutnya, mata serasa gelap, aromanya sangat tidak sedap dan ada bau-bau mistis sebangsa kemenyan.
Bisa dibilang Franda sempat tak sadar seperti terbius, lemas tubuh namun masih dapat merasa dirinya dipapah sang penculik, dibawa ke balik semak belukar dan ditelungkupkan di atas rerumputan. Ia mendengar suara derit meja digeser yang entah untuk apa, tubuhnya lalu ditelungkupkan di atas meja bekas dia minum tadi. Kedua tangannya ditikung ke belakang dan di ikat erat dengan seutas tali. Herannya mulut tidak disumpal apa-apa, seakan sang penculik yakin, tidak takut, kalau Franda akan teriak minta tolong. Franda sempat berpikir, apakah pemuda bernama Ronald tadi yang melakukan ini lantaran dendam. Penculik yang hanya dapat diterkanya itu memelorotkan celana beserta dalamannya. Agar yakin, sang penculik menciumkan tangannya ke hidung Franda sekali lagi, dan Franda pun berangsur tertidur, yang lagi-lagi herannya tidak lama. Seakan sang penculik ingin Franda setengah sadar ketika diperkosa, namun tidak melawan ketika ditelanjangi. Sang penculik membalik tubuh Franda terlentang. Franda dapat sedikit membuka mata. Tubuhnya masih tidak dalam kendali penuh, lemas tak bertenaga. Ia dapat melihat penculiknya kini, seperti bukan manusia utuh, aneh, dengan kulit hitam agak kehijauan. Hanya mengenakan kolor berwarna hijau, dalam hati Franda terbesit. Ia ingat memang sedang ramai kasus Kolor Ijo yang memperkosa para Ibu Rumah Tangga. Tapi yang paling mengagetkan, ternyata sosoknya botak?! Abang-abang tadi! (Aargh!), teriak Franda dalam hati, tidak dapat berbuat apa-apa. Franda seperti kena ‘Sirep’, hanya dapat melihat tanpa mampu gerak maupun bersuara, apalagi teriak. Franda menatap langit…gelap! Berarti hari telah menginjak malam. Sekitarnya pohon rimbun, dan ia tergeletak tak berdaya di atas meja bundar tempatnya duduk berdua temannya tadi. Kakinya mengangkang terlipat seperti huruf ‘V’ dengan celana dan dalaman warna putih menggantung di kaki kiri. Kancing bajunya terbuka dua, mempertontonkan belahan dada ala Franda yang sangat seksi menggoda. Dan sialnya, wajah laki-laki kolor ijo beruntung itu ada di depan kewanitaannya. Keanehan kembali muncul, wajah pria itu tidak senyum mesum, senyum menang dsb, seperti biasa, justru tanpa ekspresi. Bahkan ketika dia lekatkan hidung ke vagina Franda juga terlihat biasa-biasa saja. Tanpa diketahui Franda, bukan penculik itu sebenarnya yang menikmati… namun seseorang yang berada di kejauhan. Dengan ilmu hitam tingkat tinggi, orang dikejauhan itu yang merasakan nikmatnya. Jadi apa yang sang penculik lihat, dia juga bisa melihat jelas, apa yang sang penculik hendus, indera penciuman orang sakti itu juga menciumnya tanpa kontak langsung.

‘Hmhhh.. haruumnya iki memek! Enaaak, Hak hak hak!’ celoteh si orang sakti dari kejauhan.
Begitu juga ketika sang penculik menjulur lidah dan menyapukannya ke vagina Franda, si orang sakti yang berperawakan aki-aki itu merasakannya di mulut sampai liurnya menetes, ibarat lapar tiga hari belum makan dan kini menyeruput kuah baso yang lezat.
Franda hanya mampu bersuara kecil, ‘engh.. nghh..’ menikmati perkosaan mulut sang Kolor Ijo. Jika saja ia dapat bergerak, ingin rasanya tangan menjambak rambut Kolor Ijo itu untuk lampiaskan gairah yang menggelegak. Franda sangat menyukai jilatan-jilatan rakus penculiknya, mulutnya sampai megap-megap dengan lidah terjulur keluar seperti ingin berkata, ‘eMhh… Ki-kimochi! layaknya pemain JAV.
‘Slrrrphh.. Slrrrrrp!! Ahhh.. wuena’e memek jeng ayu iki! Aromae, wuiiih.. pancen oye poko’e!’ celoteh si orang sakti tentang vagina Franda yang serasa dijilat dan diemutnya.
Dia pun merasa puas bukan main. Dapat cuma-cuma memperkosa dengan mulut vagina Franda yang bentuknya indah, rasanya manis dan aromanya wangi. Sang penculik bekerja keras menyapukan lidah, menjilat-jilat klitoris Franda, si orang sakti tinggal duduk santai mulut otomatis menikmati kelezatan itil Franda. Bahkan lendir manis vagina Franda terasa di lidah, tentu langsung ditelan oleh orang tua sakti itu. Keluarnya cairan vagina yang begitu banyak menandakan jebolnya pertahanan Franda, ia telah jauh terangsang. Kecantikan dan fisik Franda memang bak Bidadari Nirwana, tapi ia anak manusia. Bidadari Dunia. Manusia yang memiliki nafsu lahiriah. Jamak jika terus dicumbu, ia takluk juga dan akan pasrah disenggama siapa saja. Seolah dengan telepati, si orang sakti menyuruh sang penculik berhenti, lanjut ke kenikmatan yang lebih-lebih lagi, penetrasi. Ya…penetrasi. Sang penculik melepas kolor hijaunya. Penis ukuran penis kampung miliknya membuat Franda cemas khawatir. Tidak sebanding bukan tandingan, vagina Franda terlalu mungil. Apalagi liangnya, hampir tidak terlihat kasat mata hanya berupa garis. Tidak heran para cukong dan pejabat yang membooking tidak tahan lama menyetubuhinya. Mereka yang pada dasarnya orang kaya, ‘payah!’ di ranjang, hanya nafsu besar di awal, kebanyakan Ejakulasi Dini. Sang penculik melekatkan ujung kepala penisnya yang gundul besar seperti kepalanya. Digesek-gesek sepanjang bibir vagina Franda, daerah kewanitaan itu pun semakin basah dan licin. Lancarlah sudah jalan menuju nirwana yang akan dipandu Bidadari Franda. Kolor Ijo itu menekan penisnya agar masuk ke liang surga Franda. JLEB!, ‘Ookhh…!!’ si orang sakti merasakan kepala penisnya terhimpit daging vagina yang super legit luar biasa, sesuai dengan kondisi sebenarnya dimana kepala penis Kolor Ijo tertancap mantap di vagina Franda.
‘Hh-hhh.. Slerrrrp! Ahh..’ si orang sakti menyapu liur-nya dengan tangan, saking enaknya dia sampai ngiler-ngiler, padahal baru kepala penis yang kejepit.
Pikiran jorok dan nafsu binatang yang besar buatnya tak sabar, ingin seluruh batang penis masuk hingga pangkal ke liang pussy juicy Franda. Di lain sisi, Franda sedang kesusahan. Jelas ia menolak disetubuhi pria asing apalagi orangnya jelek, gratisan lagi. Namun sayang, tubuh berkata lain. Tubuh moleknya berkhianat, malah menikmati apa yang orang asing itu lakukan pada tubuhnya. ‘Dia..’ tubuh Franda, malah ingin ‘Tuan’ penis masuk lebih dalam, sedalam-dalamnya, agar kenikmatan lebih nyata dapat diraih.

Kolor Ijo itu mendorong paksa masuk penis. Sedikit demi sedikit vagina Franda dengan bodoh menelan penis kampung itu, dan banyak demi banyak liur si orang sakti meleler deras lantaran ke-enakan. SLUB!, vagina Franda mengunci seluruh batang penis, masuk sudah dari kepala sampai pangkal.
‘O-ookhh… Memek artis memang e-enyaaaak, hhh..hhh..hhh..hhh!’, si orang sakti meracau dan nafasnya memburu lantaran penis akhirnya masuk total dan dicengkram erat-erat liang vagina Franda yang wangi, legit lagi sempit. Siapapun pasti iri.
(Genjot habis memek Jeng ayu iki!!), perintah via telepati si orang sakti ke kolor ijo.
Kolor ijo otomatis patuh, perlahan ia mengulur penis, baik Franda maupun si orang tua sakti sama-sama meliur keenakan menikmati pergesekan penis dan vagina. Vagina Franda mencengkram penis seakan tak rela jika ditarik habis keluar semua yang ternyata disisakan bagian kepalanya. Batang penis terlihat mengkilap, basah oleh lendir cinta vagina Franda.
“Enghh!!” Franda meluapkan suara erangan kecil lantaran si kolor ijo menghujamkan penisnya masuk vagina hingga membentur dinding rahim.
Begitu kerasnya sentakan hingga Franda yang di cap lemas tak dapat bersuara jadi mengerang juga. Sedang ekspresi wajah si orang sakti di kejauhan jelek tak karuan jeleknya. Sodokan itu nikmatnya sampai membuat wajah si tua itu terlihat blo’on. Beruntung dia, sodokan terulang berkali-kali, penisnya yang mengacung konak berkedut-kedut lantaran serasa bergesek dengan liang senggama Franda sungguhan.
‘Ugh! Ugh! Ooh! Ugh!’, begitu lenguhan si orang sakti menikmati persetubuhannya dengan VJ Franda. Lewat telepati juga ia menyuruh kolor ijo meremas payudara dan memilin puting merah muda Franda.
Sodokan-sodokan kolor ijo kian lama kian brutal, seirama erangan Franda maupun lenguhan si orang tua sakti. Aki-aki telanjang itu berdiri dari duduknya, ‘Aaakh..!! Aaaakh..!! Aaaaakh..!! Aaaaaakh!!’ lenguhnya serak parau, kian lama kian keras dan panjang mendekati ejakulasi. Ia menggeram menahan nafas, ‘Hrgkh!!’.
CRAAAATS!!!, spermanya muncrat keluar dari penisnya yang mengacung tegak. CROOOTT!!! CROT! CROOT! ia mengejang nikmat ibarat orang kambuh ayan. Kolor Ijo berhenti menyodok seolah tahu Tuan-nya tengah klimaks, yang aneh penis dia malah tidak keluar sperma. Seolah mereka tukar setengah jiwa pisah raga.

Wajah si orang tua sakti nampak puas namun tidak lelah. Batang penisnya masih tegak gagah mengacung yang seperti masih kepingin menggauli Franda, entah karena dia sudah menenggak ramuan kuat senggama atau fisik tidak begitu lelah lantaran tak bersetubuh secara langsung atau karena Franda yang terlalu cantik dan seksi baginya, hingga dia tak kenal lelah. Kesemuanya mungkin terjadi. Namun sayang, niat cabul gagal berlanjut di kala sorotan sinar terang benderang dari dua lampu senter milik satpam kampus menyinari jalan dan semak-semak sekitar.
“Li, aneh tuh.. kok meja tenda kayak kurang satu? Emang bisa jalan tuh meja?” tanya seorang satpam senior pada rekannya yang muda.
“ya kagak-lah Beh, masa’ iye.. punya kaki dong berarti! kagak sekalian punya meki!” jawab satpam muda yang dipanggil Li-Li itu.
“Hus.. lagi tugas jaga malem gini ngeres aja otak lu! entar disamperin pocong ngesot baru tahu!” omel si satpam tua.
“Jiaah.. pocong sih ada yang ngesot. Ada juga loncat Beh,”.
“ada noh..di pilem serem Indonesia nyang baru, ho-oh.. ngarang ye. Aneh-aneh aje pilem sekarang.. aneh tapi kagak mutu!.”.
“Ye iye Beh, kagak sekalian tuh pocong salto sambil bilang Wow!”.
“iye udeh lu ke semak sono gih, gua kesini!”.
“Jiaah Babeh pinter.. nyari yang deketan, aye disuruh yang jauh!” keluh si satpam muda.
“Huss, dosa nentang orang tue! udeh sono! entar gue tepak biji lu nyisa satu, mao?!”.
“jangan dong Beh.. bisa mandul tujuh turunan aye,”.
Mereka berdua pun berpencar. SREK!! SREK!! semak demi semak belukar mereka rintangi, si satpam tua melotot melihat sesuatu di depannya, ‘Haaahh…’ ia terpana. “LII!! ROJALIII…!!!, KEMARI!!!” teriaknya.
“BEK? BENTAAR.. NANGGUNG!!”.
“YAELAAH, CEPETAN!!!”.
“BENTAR BEEH, LAGI NYARI DAUN DULU.. ABIS KENCING!! BUAT NYEKA PALA PELER!!”.
“BUJUG BUNENG, UDEH PAKE LUDAH AJEE..!!. BUKANNYE KERJA MALAH.. SINI CEPET AH!!”.
“IYE-IYE SABAR NAPE.. INI LAGI NGESOT KESITU,” (ada apaan sih? palingan juga takut dilihatin Kuntilanak! Rasain!), pikir Jali si satpam muda. ‘Heeeeh…’ giliran dia yang terperangah ketika tiba, keduanya berbarengan mulut keluar liur lantaran lihat Franda rebah di atas meja tenda minum dengan kaki ngangkang seperti huruf V, dan dalaman menggantung di betis. Vagina Franda yang mungil sedikit berbulu tipis luber cairan cinta terlihat jelas.

‘Tes..! Tes..! Tes..!’ liur mereka menetes di rumput bersamaan.
“Li… gua masing idup ape di sorga nih? ape cuman ngimpi? Slrrrp!.”
“Sakaratul maut kali.. Babeh kan udah bau tanah, Slrrrp!”
“Sompret lu! Slrrrp!”.
“ini artis ngentot aeh nge-top Beh.. asisten dosen juga, dulu mahasiswi bunga kampus sini, Neng Franda namanya, Slrrrrpp!” jelas si satpam muda sambil menghirup liurnya yang sebagian sudah tumpah.
“Oo, gua tahu-gua tahu.. nyang maen di bioskop itu pan..Kung-pu Pranda? Slrrp!,”
“Babeh sok u know, itu mah film kartun barat, Kungfu Panda. Bukan.. ini artis yang bawa acara lensa olahraga malem yang suka kite pantengin di tipi, sambil maen gaple ama ngemil gorengan di pos.”.
“Ho-oh, Ho-oh.. gua baru inget!,”
“jamak aje.. orang seumuran Babeh kan pikun.”.
“Nyemot (Monyet) luh! nyela’ mulu!. Gua sering papasan di kampus ama ni anak, disenyumin.. waduhh, jadi dah ngaceng seharian si Justin, Slrrrp!” sahut si satpam tua juga menyapu lelehan liur di mulut dengan lidah.
“Justin? name Babeh Sobirin, kontol namenye Justin, kerenan name kontolnye Beh!”
“Diem lu ah! terus gimane.. kok si Neng ini diem aje kagak begerak? Jangan-jangan abis diperkaos aeh diperkosa?”.
“bisa jadi Beh, antara die takut ape dipelet, ape jangan-jangan pacarnye kabur takut ketangkep terus dikawinin?” emang kite hang-sip (hansip) kampung lagi ronda!.
“Ngaco lu Li! semua juga mao kawin ama anak cantik gini, homo aja tuh orang kalo kabur, goblok!. Diperkosa gua rasa nih, kagak bisa begerak, kena ilmu macem sirep atau hipnotis!”.
“sok tahu Babeh ah,”.
“Tong, satpam zaman sekarang rata-rata cuman bisa bela diri kayak lu.. angkatan gua beda, kudu punya pegangan juga!”.
“Keren Beh punya pegangan, seriusan?,”.
“ye ade-lah.. noh, bini di rumah!”.
“Mpok Yuyun? Jiaaah.. entu mah dipegangin.. bukan pegangan. Ye udeh.. terus pegimane nih urusan? masa dibopong bugil gini masuk kampus? bisa jadi layar tancep buat anak kuliah malem entar.. ke-enakan!”. (kalo yang nonton aye sendiri mah kagak nape!), dalam hati si satpam muda sesungguhnya.

Rojali

“Ye jangan,” sahut si satpam tua juga sok mikir padahal matanya terus melotot ke vagina Franda, tidak lepas memandang, “gini aje, gua usahain lepas sirep si Neng ini biar dia bisa pake pakaian.. lu sebentar cari ke sekitar semak. Gua yakin pemerkosanye ngumpet belon jauh kalo dilihat dari keadaan si Neng ini. Kudu kita tangkep tuh sebelon ade korban nyang laen!”, usul si satpam tua yang dipanggil Babeh itu dengan nada mantap dan meyakinkan.
“siap Beh! Jali on duty,” sahut si satpam muda penuh semangat ‘45.
“ho-oh deh sono, kagak ngarti gua entu bahase,”.
Satpam muda bernama Rojali itu langsung mengemban tugas mencari tersangka pemerkosa yang berkeliaran. Sementara tanpa diketahui oleh Rojali, satpam tua rekannya malah memasukkan jari tengah gemuknya ke vagina Franda dan berulah mengobok-obok, Franda pun ‘ah-uh’ jadinya. Mulut artis keturunan itu megap-megap, dirasa Sobirin si satpam tua jarinya basah sekali, Franda orgasme rupanya. Dia tarik keluar jari untuk menciumnya, (sayang nonok si Neng udah kecampur sama bau kontol! kalo belon.. bakal gua jilatin nonok-nye ampe ledes!), katanya dalam hati, lalu buru-buru melepas celana dan kolor buluknya.
Penis gemuknya yang sudah mengacung konak langsung dihujam masuk vagina Franda tanpa ba-bi-bu. Siapapun pasti sama tidak akan tahan. (Bujugg! nggkh!! liat bener nonok ni amoy!!) “Okh..enak!” lenguh satpam tua itu, ia langsung mencengkram kedua pergelangan kaki Franda dan merentangnya lebar-lebar, lantas bergerak menghentak brutal-brutal.
“Ehh..ehh..ehh..ehh!,” desah Franda seksi dengan suara tipis. Ia masih belum bisa menggerakkan tubuh, hanya bisa pasrah disetubuhi. Namun sorot matanya yang sayu masih dapat melihat jelas satpam kampus yang menyenggamainya. Tulisan ‘sobirin’ tertera di baju putih satpam tua tersebut, Franda mencatat.
Disaat yang sama, “Wooy! jangan lari luh!!,” suara itu teriakan Rojali ketika melihat kolor ijo yang sembunyi, lari lantaran tersorot lampu senternya. Babeh sempat menoleh sejenak berhenti menggenjot, namun sebentar lanjut karena vagina Franda serasa memijat-mijat penis gemuknya seolah minta kembali dipenetrasi.
Tiba-tiba Franda merasa mendapat kembali tenaganya, namun ia merasa tanggung untuk menyudahi persetubuhan. Vagina-nya yang banjir lendir jelas sudah kecolongan masuk dan digesek-gesek penis gemuk hitam jelek seperti sosok satpam yang menyetubuhinya. Jadi ia biarkan saja semua berlanjut, toh terlanjur basah, sekalian saja mandi. Jika saja Sobirin ‘ngeh’, dia harusnya tahu Franda sudah lepas dari ‘Sirep’, desahan Franda lebih keras kini. Sirep itu telah dilepas si orang sakti lantaran sudah tiada guna. Korban sudah tak dapat dipakai lagi. Sobirin tidak ‘ngeh juga wajar, tubuhnya tengah diselubungi kenikmatan seks yang luar biasa. Baginya, bermain seks dengan wanita cleaning service paruh baya saja asoy, apalagi dengan wanita muda cantik jelita macam Franda.

“Anggh!! Anggh!! Anggh!! Anggh!!” Franda mengerang, tangannya berpegangan di sisi meja oleh sebab tubuhnya terpental dan kepalanya membentur tiang payung di tengah meja.
Sobirin tidak menyadari kondisi menyakiti Franda itu, dia asyik memakai vagina Franda buat muncrat air mani-nya.
“Jiah.. ane disuruh ngudak begundal, die asik enggong.. pinter bener dah! Bukannye ngelepas sirep, malah lepas kolor, hadeeeh, Babeh-Babeh.. culas deeh!” keluh Rojali, rupanya dia telah kembali karena gagal menangkap kolor ijo yang hilang secara ghoib. Sobirin masa bodo terus meng-kimpoy Franda. “Kapan lagi Tong.. bisa ewek-in cewek ca’em kayak si Neng ini? ohh-ohh,” tanggap satpam tua itu sambil terengah-engah.
“iye juga sih.. paling mentok muke Babeh dapete babu!”
“monyong lu!, Ukh! Ukh!,”.
“abis ajak-ajak dong kalo ngewong.. sendirian aje!”.
“sabar.. tap dulu,Hnggk!Kkkh!! Engkkh!!!” ekspresi Sobirin menunjukkan kalau dia ejakulasi, cengiran senang di bibir Rojali, berarti gilirannya sekarang.
“eM.ahh.. ahh!” Franda mendesah pasrah merasakan cairan kental hangat satpam kampusnya tersembur begitu banyak di relung kewanitaannya, sampai-sampai luber keluar padahal penis masih menancap ketat tak ada celah.
Satpam kampus tua itu menarik batang penis gemuknya ketika dirasa tak ada lagi air mani keluar, untuk sementara, ia cukup puas berhasil menyenggama Franda hingga sex klimaks. Gumpalan cairan kental putih pekat hasil karya-nya di vagina Franda, berhamburan keluar, menetes di rerumputan ketika ia usai mencabut.
“Busyet! Beh.. ngen-crot dalem memek? Ntar anak orang bunting aje!,” Rojali cemas tapi kepingin juga.
“emang gua pemaen pilem Be-eP, ngocok terus crot diluar.. mana enak? Hh..hh.. Biarin, kalo die bunting minta tanggung jawab, gua kawinin! Hh.. hh.. capek tapi, hh.. hh, enak! ngaso’ dulu ah!” sahut Sobirin sambil terengah dan merebah ke rerumputan.
“Mana mao die ame Babeh biar kata bunting juga, mending ama aye yang muda-an!”.
“siape tahu, kali aje!”.
“Wooo.. ngarep! Mpok Yuyun mao dikemanain? Di lego? kagak bakal laku.. mane bekas Babeh lagi, dibuang ke tong sampah palingan!.”
“Anak kurap lu! udeh.. mao coblos tuh nonok kagak? ngemeng aje, kalo kagak gua nyang nambah nih!”.
“busyet! muke giile… doyan ape doyan Beh? Emang kemek di warteg nambah! ya mao lha Beh, aye! Masa’ kagak mao memek cewek kece’ gini.. bego aje, homo kali!” ujar Rojali seraya bersiap menempatkan kepala penis di depan bibir vagina Franda. Namun tiba-tiba saja Franda terbangun sedikit, siku lengannya menumpu badan, Rojali kaget. PLAK!!!, “Adaw!!, belon juga make’ udah kena gaplok.. apes gua!,” keluhnya, Sobirin antara mau ketawa dan takut lantaran Franda akan menuntut di-entotnya.

Sobirin

“Sama aja kalian berdua! cari-cari kesempatan!” bentak Franda dengan suara marah yang keras.
Rojali memegangi pipinya yang terasa sakit, tiba-tiba dia menarik Franda hingga kakinya menapak rumput lalu membalikkan tubuh Franda. “Beh! Beh! bantuin aye Beh.. tulung!” teriak Rojali ke Sobirin yang terkejut dengan kenekatan anak muda itu.
Rojali ingin Sobirin menekan dan menahan punggung Franda ke meja. Franda mencoba berontak, “Eh.. eh! jangan main gila lagi ya! nanti gw laporin polisi kalian!,” ancam Franda disela rontaan.
Rojali nampak tak perduli, ia terus melolosi celananya. “Li.. dengar ‘gak tuh, dia mao ngelaporin kite ke Pak RT aeh..Pak Polisi!! kabur nyok?!” Sobirin ketakutan tapi mau tak mau karena masih merasa punya hutang, dia bantu juga Rojali.
“Halaah, peduli setan! Babeh mah enak udah ngerasain nih amoy.. aye secelup aje belon, kagak adil! Masa aye di bui kagak dapet ape-ape! Mending aje sekalian,” tanggap Rojali.
“Eh! eh! jangan! ja-Anghh! Sssh.. eMhh!” rontaan Franda terpotong desahannya, lantaran penis kampung Rojali sukses besar menyeruak masuk vagina tanpa ampun.
“Anjrit memeknyee! Ngkh!”, Rojali mendengus-dengus keenakan, jantungnya berdegup akan keberuntungan.
Pertama kali dalam hidup penisnya merasakan jepitan vagina artis..bersetubuh dengan Tv sport anchor, mantan bunga kampus, asisten dosen amoy. Satpam itu pun langsung menggenjot ugal-ugalan lantaran enaknya. Franda disamping tubuhnya dipiting tak dapat bergerak, dia sendiri menikmati. Tidak seorang pun dapat menolak kenikmatan ketika vagina sudah kemasukan penis. Apalagi tubuh Franda ibarat mesin mobil yang sudah hidup, tinggal dibawa jalan-jalan saja ke puncak, dalam hal ini puncak kenikmatan. Saking enaknya, Rojali hanya tahan beberapa menit.
“Akh! Akh!,” ia menahan nafas tiap kali mani-nya muncrat keluar di dalam liang kewanitaan Franda. Franda lagi-lagi hanya dapat mendesah pasrah keras-keras tiap kali sperma Rojali muncrat Crot!.
Satpam muda itu menarik keluar penisnya dari liang kewanitaan Franda, Sobirin juga berhenti menindih punggung Franda.
“Ngehek!. Memeknye enak baanget! anjrit!!. Aahh… sekarang bodo’ habis ini, di bui-di bui dah..yang penting puass.. pernah ngerasain kimpoy artis, haha!” ujar Rojali dengan mata berbinar dan muka puas duduk di rerumputan meski harus dibayar hilang pekerjaan plus mendekam di penjara.
“Neng..Neng..maap Neng! Bapak kagak mao masuk penjare.. entar disodomi ame napi-napi kerasan disane, bisa kagak suka lagi entar ame cewek.. berabe dah si otong makan gaji bute!,” Sobirin berlutut memohon pada Franda yang mulai bangun berdiri mengenakan pakaian perlahan karena masih lemas.

Rojali yang tadi pasrah, lihat seniornya begitu dia langsung ikutan, daripada terima nasib jadi Maho, pikirnya. Franda pasang muka galak BT, meski ia tak bisa menyembunyikan kelelahan dan nikmat sisa orgasme di wajah cantik orientalnya. Tangannya masih menumpu meja tenda, sebagai korban perkosaan, tentu ia lelah fisik maupun mental.
“Hmhh.. ya sudahlah..sudah terjadi juga sih, mau gimana lagi. Bantu aku saja Pak ke parkiran mobil!,” pinta Franda dengan nada bicara maupun mimik wajah tidak terlihat naik pitam.
Tentu Franda pun lega, banyak pemerkosa yang membunuh korbannya untuk hilangkan jejak agar lepas dari hukum pidana. “aduh.. makasih Neng! untung banget kite Li, tau gitu nambah dah,” tanggap satpam tua itu malah.
“Yeee, pegimane si Babeh.. udeh bagus dimaapin juga, malah ngelunjak! dikasih pete’ minta jengkol Babeh mah!” sahut Rojali.
“Udah ah! nggak penting! Mau bantu ‘gak?!” omel Franda sambil jalan tertatih-tatih, “siap Neng!” tanggap keduanya sambil hormat layaknya pada atasan dan segera bantu memapah.
“Pak, nggak usah bertiga-tiga begini! yang satu tolong lihat jalan di depan saja jangan sampai ada orang lihat dan tahu, bisa jadi gosip nggak sedap nanti!”.
“Oh, rebes (beres) Neng. Kopral Jali, biar Komandan yang mapah si Neng, kamu amankan jalan! Kasih kode kalo sepi!. Laksanakan!.” Sobirin sok ngatur sok jadi atasan, padahal niatnya mesum, Rojali tahu.
“si Babeh pinter bener pilih peran dari tadi! Aye kebagian gak enak melulu… aye aje sini yang bopong Neng Franda!” usul Rojali, Sobirin lebih bulus darinya. “Hus, nyang senior sape disini.. entu nyang kudu jadi Bos! Ayo sono cepet pigi (pergi)! Huss-huss..!”.
“emang aye ayam diusir gitu!” keluh Rojali kesal bukan pada usiran Sobirin sebenarnya, tetapi karena kebagian peran yang tidak enak.
Rojali terpaksa nurut meski ekspresi muka masam. Dia mendahului awasi jalan yang akan dilalui. ‘ayoo.. kosong!” tangan Rojali melambai-lambai memanggil, artinya aman, Franda dan Sobirin jalan meski perlahan.
“Neng Franda.. jalan masing (masih) jauh.. mending Bapak gendong aje ye biar cepet?”, tanpa dengar persetujuan Franda, Sobirin langsung menggendong Franda layaknya pasangan pengantin baru nikah. “Pak, awhh!,” Franda terkejut, tanggannya spontan menggelayut ke belakang leher Sobirin,

Rojali makin iri dengki. Ia jadi ingat lagu yang sering didengarnya di radio, ‘ingin kubunuh satpam-mu! saat dia peluk tubuh indahmu! Di depan kedua mata-ku.. makan ati ama jengkol oh cantik.. aku cemburu!’.
Tentu tangan Sobirin dengan ini leluasa mengelus kemulusan paha Franda yang putih mulus, Franda tahu itu. Ia hanya bisa ngedumel, “bagus ya..? pintar usaha cari celahnya!” sindirnya, “ee-hehe.. namanya juga laki-laki Neng, maklum deh, hehe,” tanggap Sobari merasa Franda tahu akal-akalannya kesempatan dalam kesempitan. Franda juga terpaksa mendiamkan, toh dia terbantu juga, secara tubuhnya lemah lunglai, lemas tak bertenaga.
“ta’ gendong.. si eNeng Franda… ta’ ewong.. dimana-mana,” Sobirin bersenandung menikmati moment langka baginya.
Kira-kira setengah jalan, Rojali minta gantian, jika tidak dia mengancam akan pergi meninggalkan mereka berdua. “ini anak emang ye!,” Sobirin kesal kesenangannya direnggut. (Sejenis aja nih orang barbar berdua, dasar!), keluh Franda dalam hati. Bedanya Rojali minta gendong kuda, jadi dada montok Franda juga dapat dinikmati kekenyalannya selain bisa pegang paha.
“Sik-asyik.. sik-asyik.. ngentot denganmu. Sik-asyik.. sik-asyik.. ewek-in kamu, sampe abis peju-u-u-!” Rojali tidak mau kalah bersenandung ketika menggendong kuda Franda.
Sampai di pintu mobil Franda berpesan, “Pak, tolong rahasiakan masalah ini yah! jangan sampai ke telinga publik! Hanya kita bertiga yang tahu!”.
“Baik Neng, siap!” tanggap kedua satpam tersebut serentak seraya hormat.
“Satu lagi, aku mau minta tolong.. carikan info penjual minuman di warung tenda itu, kepalanya gundul pokoknya Pak!” imbuh Franda lagi.
“Oh betul Neng, saya tadi juga waktu ngejar sempat lihat.. memang kepalanya botak!. Mukanya jelek, item.. idup lagi,”.
“mirip lu dong!?,” celetuk Sobirin.
“Aye emang item Beh, tapi kagak botak.. ganteng lagi!”.
“Muke lu jauh! nah, Rohane tukang jamu gendong aje kagak sudi sama lu!”. Franda menepuk kening ‘capek deeh!’ dengar obrolan ngalor ngidul mereka yang sama sekali tidak penting.
“ya sudah Pak, itu saja ya.. informasi-nya aku tunggu, oya.. hubungi aku kesini saja!,” Franda lalu memberikan sebuah nomer HP yang dicatatnya di secarik kertas, dia malas mendengarkan pembicaraan mereka yang tidak bermutu itu. Pintar dia, tentu nomer yang diberikannya adalah nomer yang hanya untuk sekali pakai bisa langsung dibuang, jadi kedua satpam itu hanya bisa menghubungi seperlunya saja. Tentu nomor ponsel pribadi tidak diumbar ke sembarang orang.

“Lihat Li, nomer HP si Neng.. wuiih, mantep gua dapet nomer cantik si cantik.. Hihuuy!.” Sobirin memamerkan lalu mencium-ciumi kertas bertuliskan nomer HP Franda itu.
“Yee Babeh, ntu bukan buat Babeh seorangan.. buat aye juga! mane lihat Beh? bagus nomernye.. kite pasang buat togel aje ape..?, kali aje dapet!” tambah Rojali, membuat Franda makin geleng kepala, kok bisa-bisanya dia sampai jatuh ke pelukan mereka, disetubuhi mereka yang notabene orang udik yang bisanya judi togel dan main sama ‘Mbok-‘mbok. Hari yang aneh, pikir Franda.
“Pak, ini untuk sekedar uang rokok!” Franda menyodori uang beberapa ratus ribu.
“Waduh.. kagak usah Neng! kite aje masing (masih) kagak enak masalah kimpoy tadi! Bener ‘gak Li?,” tanggap Sobirin.
“bener Neng, udah kayak pemaen Be-eP abis kimpoy dibayar.. dapet meki, dapet duit!” tambah Rojali.
“Justru itu! ini..agar supaya Bapak berdua lebih bertanggung jawab pegang rahasia, ada beban.. jaga Aib! Jangan sampai keceplosan!” imbuh Franda dengan tatapan tajam.
Sobirin dan Rojali saling bertukar pandang, Sobirin membisik sesuatu ke juniornya itu. Mereka berbaris merapat layaknya upacara satpam, bersamaan mereka ber-ikrar,
“SIAP!! KAMI SUMPAH POCONG TIDAK AKAN MEMBEBERKAN RAHASIA KEPADA SIAPAPUN!!!” sumpah mereka dengan suara lantang.
“Sungguh? Janji?,” Franda belum percaya 100 %.
“DEMI TUKUL aeh DEMI TUHAAAN!!”, jawab mereka menirukan salah satu murid Eyang Kabur seperti yang dilansir Youtube. “asal.. Neng Franda bersedia kita kimpoy lagi, hehehehe” tambah mereka kompak dengan suara pelan sambil garuk kepala persis orang o’on.
“Heeh?” tanggap Franda dengan mimik wajah ‘WTH?!’. Sobirin kemudian mengambil duit itu dari tangan Franda, “kita lihat nanti Pak,” kata Franda lagi langsung menyalakan mesin mobil dan tancap gas pergi.
“Yihaaa! yes..yes, nak ning.. ning nang ning nuung.. nak ning!,” Sobirin girang joget jaipongan layaknya orang baru menang togel setelah pasang nomer ratusan kali.
“kenape Beh.. udeh sinting ape kesurupan?” tanya Rojali dengan muka serius. Sobirin langsung berhenti joget.
“Blo’on lu ye, persis tampang lu! Entu artinye Neng Franda kagak bisa nolak kalo kite kimpoy die lagi, bodo lu ah!” jelas Sobirin.
“Babeh sotoy..tau dari mane?”.
“Dasar pe’a! lu denger ‘gak jawab si Neng ‘lihat aja ntar’, nah.. kalo die mao nolak pan die bakal bilang ‘kagak bisa kek..ape kagak mao kek!’, gituu, dongo banget sih lu jadi orang!”.
“yaa Babeh.. jelasin aje nape, ‘gak usah bego-begoin aye gitu..entar bego beneran lagi,”.
“emang lu udeh bego dari pabrik! nyok ah kite balik ke pos lagi sekarang.. untung Silalahi kagak ikut ngider, bisa-bisa lender nonok Neng Franda dipake tigaan kontol segede gaban!”.
“anyo deh Beh, kite selidik besok sebelon tugas ye,” imbuh Rojali meng-usul.
Mereka berdua pun kembali ke pos.

###############
Esok harinya, selagi Franda istirahat tidak ke kampus maupun off syuting, Sobirin dan Rojali coba cari informasi. Mereka sok jadi detektif. Sembunyi dibalik semak-semak mengawasi orang yang dicurigai sekitar lokasi kejadian kemarin.
S : “Li.. ono bukan orangnye?”.
R : “bukan! entu mah Pak Soleh Beh.. tukang sapu!,”.
S : “alah, sok tau lu.. bisa aje die nyaru pake wig (rambut palsu),”.
R : “emm dibilangin.. terserah deh, aye kagak ikutan!”.
S : “oke, tapi awas lu kalo gua bener.. lu kagak boleh ngikut gua ngewek-in Neng Franda,”.
R : “sok aja Beh.. mata Babeh tuh yang burem.. giliran cewek ame duit aje, baru jelas!”.
S : “ye iyelah.. normal dong? lu juga sih.. katenye sore-an, eh, malem juga pas ronda! Udeh tau mata gua sliwer suka keder kalo malem!”.
R : “sori Beh aye ketiduran.. masing ngantuk bekas kemaren begadang, lagian kan sekalian biar kalo malem kite bisa ngendep-ngendep gini. Kalo siang kan keliatan orang, malah kite disangka maling trus digebukin orang sekampus lagi!”.
S : “Tapi eni gua yakin Li, kagak salah deh.. gua piting no orang pokoknye!”.
R : “ye udeeh.. gi dah, bekep sonoo.. dibilangin badung Babeh mah!,”.
“bilang aje lu takut, pengecut!” Sobirin ngedumel, Rojali cuma ketawa tanpa sudi membantu. Satpam gembul itu bergerak mengendap-endap hendak menyergap sasaran sendiri.
Dengan gerak cepat ia jalan ke belakang si tersangka dan menjambak rambutnya, “dapet lu, modar!”.
Sol : “Adeh-deh-deh, sakit! sakit!. Rin.. apa-apaan ente malem-malem gini cande, ah?!”, Sobirin langsung melepas jambakan saat lihat muka orang tersebut.
Sob : “waduh, Leh.. salah orang gua!” Sobirin menunduk-nunduk minta maaf. Rojali ketawa terpingkal-pingkal karenanya.
Sol : “bijimane sih..?! bahlul ente!”.
Sob : “mangap aeh maap Bos, gelap kagak keliatan!”.
Sol : “ah..gilo le aeh gile lo, hampir botak pala ane..
Sob : “di Reboisasi aje Bos kalo gundul mah,”
Sol : “emangnye hutan ditebangin?! ade-ade aje. Lagi ngapain dimari antum pade, hah?”.
Terpaksa karena tak dapat alasan lain, Sobirin pun menceritakan seluruh kejadian kepada Solehudin, hanya saja dia tidak bilang wanita korban adalah Franda pada awalnya. Setelah mendapat pencerahan balik, dia beserta Rojali balik ke pos. Mereka cukup terkejut dengan kenyataan yang ada, bahkan karena penasaran mereka menerusi penyelidikan hingga ke luar kampus karena kasus ini rupa-rupanya juga terjadi di kampus tetangga yang sama-sama kampus populer sekitar Jakarta Barat sesuai info yang didapat dari Solehudin.
bersambung ke part 2

Karya :
Bung Rompis (Roman Pipisan) & Diny Yusvita (Diny / V-ta).

-# #-

Note :
  • Khusus cerita ke-2 ini saja yang kolaborasi. cerita ke-3 & 4 akan dikerjakan mandiri seperti cerita ke-1 setelah mood nulis kembali penuh (Diny Yusvita).
  • Ide Cerita oleh Diny Yusvita
  • 4bia XXX ialah sebuah karya Diny Yusvita yang terinspirasi dari film Thailand horror Phobia, berisikan 4 cerita (+karakter) berbeda namun memiliki hubungan satu sama lain.
  • 4bia XXX terdiri dari 4 cerita (+karakter) berbeda, al :
-Cerita 1 – Aura Kasih “Apartemen 1303”. Credit to Fanfic Holics.
-Cerita 2 – Franda “Girl’s Collector”. Credit to Bung Rompis (Kak Harisco).
-Cerita 3 – Chelsea Olivia ??.
-Cerita 4 – ???.
  • Cerita ke-1 di adopsi dari film horror Japan “Apartemen 1303”.
  • Cerita ke-2 di adopsi dari film thriller U.S “Bones Collector” dan menghubungkan dengan kasus-kasus mistis di Indonesia (seperti Kolor Ijo & Eyang Subur).
  • Cerita ke-3 masih on going, tunggu tanggal mainnya ya ^o^.
  • Benang Merah cerita ada di lokasi kejadian yang sama terbunuhnya ke empat tokoh central sang pejantan.
**********************************************************
  • to Kak Haris, sorry yaa aq post disini tanpa ijin ^o^
  • to Bang Shu Imron Janitor, kalau cerita ini cukup masuk di KBB kontak aq yaa, nti aq minta Kak Haris suruh kirim pic-nya yg udah di edit dia. Okaay?
  • to KBB-ers, moga terhibur yaa.. daripada bicara ngelantur OOT + nggak penting!
Makaseeh...

Sungguh Puaskah Istri Anda ?