Jadilah Lelaki Perkasa, Seperkasa Kuda Putih

Saturday, February 14, 2015

Viona The Naughty Girl 2 : Rise of the Avenger


Notice :
  • Cerita berikut adalah mengandung material dewasa, bila anda dibawah umur disarankan jangan membaca.
  • Semua peristiwa, karakter, dan nama yang didalam cerita ini adalah fiksi/tidak nyata.
  • Dilarang melakukan dan mencontohi tindak tidak pantas di dalam cerita ini.
  • Bila ada nama yang sama, dan kejadian yang mirip, itu hanya kebetulan saja, tidak berhubungan dengan crita ini.
  • Jauhi seks ilegal, dan jangan memperkosa satu sama lain.

Selamat menikmati.

#########################

John a.k.a Black
"pecundang, pengedar...itulah mereka menyebutku, dipukuli sia-sia, dipenjara sia-sia atas kesalahan yang tidak kulakukan, seseorang harus membayar ini semua...suatu saat"
Itu adalah kalimat-kalimat yang selalu muncul dari benak pikirannya, setiap malam saat sendirian. Dia adalah si "Petugas 3" atau sebut saja nama aslinya adalah John. Sebelumnya John bukanlah orang yang bertugas sebagai pembersih kamar villa atau cleaning service.
Dia adalah pria terhormat, dan melakukan tugas dari bossnya dengan baik dan tanggung jawab. John juga tidak suka memandang rendah sesama orang, dan tidak mengangkat orang hanya untuk mendapat uang. Dia suka membantu yang lemah. John selalu menghormati bossnya, dan melakukan tugas dengan baik. Tetapi sayangnya Peter bukan boss yang baik, dia ada melakukan beberapa bisnis gelap. Dan, hal baik dalam dunia ini tidak selalu berpaling kepada orang baik seperti John. 20 tahun lalu John ditimpa tragedi dikhianati oleh bossnya itu.

----------20 Tahun lalu---------

Pada suatu hari John diberikan tugas oleh Mr.Peter. John sebagai karyawan setia Peter tentu saja menerima tugas itu dengan penuh tanggung jawab.
"kamu antar paket ini..ke alamat ini saja..", Peter berkata.
"baik pak, akan aku bereskan segera", John.
Waktu itu John tidak menanyakan apa isi kotak tersebut, karena selama ini ia kira bossnya ada pengusaha bersih dan terhormat. Sewaktu kerja dengan Peter, John selalu diberlakukan secara adil, baik, dan tidak ada diskriminasi. Peter menganggap John seperti temannya.
"aku akan bekerja dengan Pak Peter selamanya dan membantunya hingga dia tua dan pensiun, dan hingga si Viona kecil dewasa dan menjadi boss" pikir John dalam hatinya.
Sewaktu mobilnya sudah tiba di dekat sebuah platform, tampak ada macet panjang karena mobil-mobil pada tidak berjalan.
*priiiit* bunyi peluit dari polisi.
Saat di tengah jalan ada patroli pemeriksaan, salah satu polisi berjalan mendekati mobil John dan John menurunkan kaca mobilnya. John disuruh menepi dulu di tempat pengecekan.
"siang pak, ada yang bisa kubantu pak?", sahut John kepada polisi tersebut.
"Pak, dimohon turun dari mobil segera, dan kami ada tugas untuk di lakukan", jawab Polisi itu.
John langsung turun dari mobil, ada 2 polisi dan seekor anjing pendeteksi mengecek mobil John. Dan Anjing itu menggonggong dengan kotak tersebut. Polisi mulai merasa curiga, dia membawa kotak itu. John masih merasa tenang, mungkin kotak tersebut hanya berisi hadiah buat teman atau saudara. Namun dugaannya salah total. Ketika telah terbuka, isi kotak itu berisi "narkoba", dan beberapa macam. Para polisi langsung menyergap John yang dalam keadaan panik dan tidak tau apa-apa.
"pak aku tidak tahu apa-apa, aku hanya mengantar saja", kata John namun tidak dihiraukan polisi.
Setelah peristiwa itu, terjadi, John di fitnah sebagai pengedar. Di media massa, koran, TV, radio, juga menyatakan kalau John adalah pengedar narkoba. Dia diinterogasi oleh polisi bahwa dia bekerja untuk siapa. John pernah mengatakan kalau barang itu adalah dari bossnya "Peter" dan memberikan alamat Peter, dan alamat kirim tujuannya. Namun setelah polisi cek, alamat tersebut adalah bangunan kosong, dan setelah polisi cek ke rumah Peter.
"tidak ada yang bernama di Peter di kediaman tersebut, kamu bohong!!", Kepala Polisi.
John begitu saja ditangkap polisi, dia di kurung 20 tahun atas keputusan jaksa, tanpa ada pengadilan. Di dalam penjara John juga tidak bisa tenteram, selalu ada saja yang mencari masalah dengannya. Dan ada juga polisi-polisi yang suka memukul John seenaknya. Pria yang lembut dan baik hati ini, menjadi kasar, dan hidup hanya untuk mencari balas dendam.

Viona
######################
20 tahun setelah dia keluar dari penjara, kini berumur 45tahun. Nama John sudah tidak ada lagi, kini dia sudah mengganti nama menjadi "Black", yang artinya dalam Inggris adalah "Hitam". Setiap malam, habis kerja Black selalu menyendiri di mess kecilnya, gelap dan di temanin sebuah komputer dan internet gratis dari perusahaan. Sedangkan petugas yang lain lebih suka berkumpul dan berminum-minum bareng, main gitar, ngobrol dll.
"Bingo...akhirnya kutemukan, juga..Viona kecil..", Black.
Dia menemukan Profile Viona di facebook yang tidak diset private, dan ada nomor hubungnya. Dia melihat foto-foto..dan mecokcokkan foto yang dia ambil dengan HP nya pada tanggal 31 Dec 2014. Itu adalah pada saat Viona, Jay, SKy, dan Ryan berjalan menuju ke Villa mereka.
"Viona kecil, kamu sudah tumbuh dewasa dewasa, dan begitu....nakal..", Black berkata.
Black berpikir, dia harus menarik anaknya keluar untuk bisa memanjat ke boss lamanya, yang namanya Peter itu palsu. Black mengambil handphonenya dan menghubungi nomor Viona. Viona waktu itu masih umur 8 tahun dan sama sekali tidak tahu akan peristiwa yang menimpa John. Dia kira John yang sekarang masih seperti "John" yang dulu. Dan ayah Viona juga membohonginya kalau Om John yang behenti bekerja.
*ring ring* *ring ring*
"Halo, ini Viona, siapa ya?", Viona.
"halo Viona, ini aku Om John, masih ingat?", Black.
"Om John! kemana saja Om, sudah terlalu lama, aku rindu banget sama om!", Viona.
"Om juga rindu dengan..."kalian"...", Black.
"Bagaimana kalau Om minggu ini datang rumah bertamu?? datang ya.", ajak Viona.
"apa itu akan merepotkan kalian", Black.
"ini rumah saya, kalau om cmn datang bertamu saja tidak merepotkan kok", Viona.
"rumah sendiri? Viona udah jadi Boss ya?", Black.
"belum kok om, ini cuman hadiah dari papa saja", Viona.
"Omong-omong ortu lagi di luar negri belum pulang di waktu singkat", lanjut Viona.
"ohh baiklah, sabtu ini aku akan bertamu ke rumahmu, aku akan mengjenguk ortumu bila mereka sudah balik", Black.
Viona memberikan Black alamat rumahnya kepada Black yang masih dikira pria 20 tahun lalu. Setelah mereka berjanji jadwal dan hari akhirnya saling menutup telepon mereka.
"ini adalah kesempatanku...Viona akan menjadi tiketku untuk ke ayahnya", Black

Black berjalan keluar dari messnya dan menghampiri beberapa rekan kerjanya yang berotak mesum dan juga bekas penjaraan.
"apakah kalian suka seks gratis? tapi dengan cewek yang sangat cantik, dan masih muda, berumur 18 tahun", Black.
"ahh si blackie bohong..mna ada hal kayak gitu!" Teriak beberapa rekan kerjanya.
"tapi kalau memang ada, wah gua bakal seks nonstop ama cewek kayak gitu!"
"gua bakal ngehekin ampe teriak teriak minta ampun dah!" Canda-canda dari rekan-rekannya.
"kalau aku bilang, ada, pasti ada..tergantung kalian mau atau tidak saja..", Black.
Mereka semua terdiam, dan mulai mendegarkan Black. Karena selama ini Black kalau bilang ada, memang ada, dan mereka juga tau Black orangnya berkomitmen.
"baiklah, kalau percaya...sekarang kalian lakukan saja perintahku, bila terjadi apa-apa cukup aku saja yang tanggung", Black.
Di malam itu segerombolan pria kasar dan otak mesum itu berkumpul dan mendengarkan rencana Black.

############################
Hari-hari berlalu dengan cepat, akhirnya tiba juga hari Black akan bertamu ke rumah Viona.
*Ding DOng* Ding Dong*
"haloo om John, bagaimana kabarmu??, ayok silahkan masuk", Viona.
"terima kasih", Black.
"dimana Sumarni, masih bekerja dengan kalian gak?", Black
"Sumarni sementara aku liburkan, semnjak hari tahun baru kmrin sih, tapi gapapalah", Viona.
"jadi tuan putri yang sibuk dengan kebersihan rumah sementara waktu donk", Black.
"ahahahaha! jangan panggilku tuan putri deh, bisa aja om ini, aku buatin teh dulu, om duduk dulu ya.", Viona.
"om John, kamu benar berubah total ya tampilannya, kamu tampak kekar sekali, tinggi, dan wajahmu juga lebih pria dari dulu",
"iya, aku lebih sering berolahraga sekarang.", Black.
Di dalam pikiran Black,situasi ini menjadi lebih mudah, karyawan pembersih rumahnya sedang liburan. Cuma tinggal Viona sendiri dirumah saja. Mendengar suara jalan Viona sedikit mendekat. John mengeluarkan sebatang mirip rokok, tetapi baunya bukan rokok.
Dia membakar batangan itu dan di taruk di bawah meja tamu. Batangan itu mengeluarkan asap yang tidak sulit dilihat oleh mata, namun tercium oleh hidung. Dan bila tercium akan membuat orang itu pingsan seketika. Dalam sekejap Viona sudah kembali dengan tehnya, dan dia meletaknya di meja tamu. Dan dia juga ikut duduk di ruang tamu itu.
"silahkan om, hhmm..om ada mencium..seperti bau asap tidak??", Viona.
Asapnya sebenarnnya semakin tebal, namun Black dari tadi sudah bertahan nafas. Sewaktu di penjara dia selalu di siksa dengan kepalanya diceburkan ke dalam air cukup lama. Dari situ dia belajar bertahan nafas lebih lama.
"baunya...aneh...Om aku...aku pusing....",VIona.
Viona langsung pingsan oleh asap itu, Black langsung mengeluarkan sebuah masker dan dia pakai. Dia memasukkan kocek sebatang asap tadi kekoceknya sendiri. Dia memakai sarung tangan tebal hitam, topi, dan kaca mata hitam. Setelah periksa di luar rumah sepi, dia membawa Viona keluar dari rumah itu, dan memasukkannya ke dalam mobil gelap itu.
Jadi dirumah Viona tidak ada meninggalkan jejak apapun. Asap tadi juga sudah menghilang. Di dalam mobil, Black menyuntik Viona dengan berbagai obat-obatan, itu adalah obat untuk membuat sistem otaknya lupa akan hal-hal yang baru saja terjadi. Mungkin Viona masih ingat akan pesta gangbangnya, tapi dia tidak akan mengingat kalau dia ada bertemu dengan Black atau Om John.
"maaf Viona, aku ada tujuanku sendiri, dan secara tidak sengaja berada dalam lingkaran dendamku", Black.
Kekejaman yang semua Black lalui sudah melupakan dia dari rasa kasihan.

#######################
Jam menunjukan arah jam 2 siang
Di suatu tempat...

Pelan-pelan Viona terbangun..
"ohh...aku..aku dimana ya?? kenapa tangan dan kakiku terikat??", Viona terkejut.
Viona di sembunyikan di sebuah rumah kontainer yang berkarat dan gelap warnanya, di ruang itu banyak alat-alat besi dan rantai. Dan lantai itu juga tidak nampak bagus lagi, tempat ini seperti sarang tikus saja. Kontainer ini biasanya di gunakan untuk mengirim barang, namun bisa juga dijadiin rumah kecil. Dalam situ cukup pengap, ada sebuah ventilasi kecil namun apa gunannya untuk tempat hancur beginian.
"Ahkk sakit! tolong...ada orang??? tolong aku!"
Viona mencoba melepaskan dirinya, namun tidak bisa, kakinya di ikat kuat dengan rantai besi yang ada gembok, butuh kunci untuk membukanya. Tangannya juga tidak beda, dan tubuhnya di kunci dalam posisi "X", meronta justru menyakitkan kulit sendiri. Tiba-tiba.. * PHommmmm!! * Suara pintu besi dari rumah kontainer ini terbuka. Dan Masuklah 3 pria kasar, hitam, agak kegemukan, dan wajahnya seperti preman pembunuh saja.
"Ohhhh!! Sudah bangun Nonaaa??? Hahahaha!", Pria Kasar 1.
"Kami kemari, karena terdengar ada yang teriak LONTONGGG!!!!", Pria kasar 2.
"Hehehe, kami saja beres dgn pekerjaan kami, sekarang ada pekerjaan baru buat kami non!!", Pria kasar 3.
"kaliann mau apa!? Tolonggg, tolonggg!!", Viona.
"TOLONGGGGGGGGG!!!!!!", Pria kasar 1 ikut teriak.
"tuh cara teriak tolong nona, harrus lebih keras! tapi percumaa, kamu sudah dalam perangkap tikus non", Pria kasar 2.
"berapa kali pun kamu teriak, tidak bakal ada yang kemari untukmu non, simoan tenaga aj.", Pris kasar 3.
Viona semakin panik, dan 3 pria itu langsung mendekati tubuhnya.
"di tempat gini, kamu tidak butuh ini lagi non", Pria kasar 1.
Pria itu langsung menggunakan sebuah gunting dan mengoyak t-shirt Viona, yang lain mengoyak rok kasualnya.
"ahhhh jangann!!! aku mohon!!!", Viona.
Sekarang tinggal bra dan celana dalam putih Viona saja melekat pada tubuhnya.

"Seksi asliiii!!! percaya dengan Black memang tidak bakal rugi deh!", Pria kasar 1 sambil meremas payudara Viona.
Mereka lanjut mengoyak bra dan celana dalam Viona.
"Jangannnnnnn!!!!", teriak Viona mulai menangis.
Viona memang cewek eksebisionis dan hobby seks, tetapi ini jelas beda, karena dia tak rela, dan ini sudah jelas pemerkosaan. Ketiga pria kasar itu jadi semakin nafsu melihat tubuh Viona yang tersaji polos, tanpa sehelai rambut ada pada tubuhnya, ketiaknya yang putih mulus, pahanya, pokoknya dari atas sampai bawah mulus. Pria kasar pertama langsung menjilat vagina Viona, yang kedua dan ke tiga langsung meremasi ke dua payudaranya.
"nnggggg....aku mohon...hentikan...", mohonan Viona jelas percuma saja.
"dah cukup basah ya memek mu, gua pakuin pake kontol gua sekarang", Pria kasar 1.
Penis yang cukup gemuk dan besar itu langsung masuk penuh ke liang vagina Viona.
Dia menggenjot vagina itu dengan kasar, dan keras, cukup membuat vagina Viona yang sempit menderita.
"nnggggg...ngghhh!!!", Viona mencoba untuk tidak mendesah saat digenjot oleh pria itu.
"napa di tahan non suaranya, teriak aja, ahak ahak gitu, gimana sih, katanya non suka main rame-ramean kan", Pria kasar 2.
"iya, kondom berlimpahan di villa ya non, berapa cowok yang loe entotin non??", Pria kasar 3.
"asli nih enak...memeknya sempit banget untuk gadis yang tidak perawan lagi", Pria kasar 1.
Lama-lama Viona tidak tahan juga dengan genjotan itu, walaupun terpaksa, tapi perasaannya tetap tidak bisa ditahan.
"oohhh!! ahhhh!!! sia...lan.....!!", Viona orgasme, tapi kesal karena terpaksa.
Viona menjadi semakin tidak percaya diri di hadapan mereka, karena baru saja melalui force orgasm. Si pria kasar itu kembali menggenjot vagina Viona.
"loe dah keluar kan mek, kini giliran gua yang keluar ya!", Pria kasar 1.
"aku mohon...ja..jangan di dalam....ngggghh!!", Viona.
Sekali lagi Viona meronta-ronta, namun rantai besi itu justru menyakitkan kulitnya. 2 pria kasar lain tak henti memerasi payudaranya dan mereka menggelitik ketiaknya yang harus.
Hal itu membuat Viona makin menderita. Namun si pria yang sedang memompa vagina Viona sudah capai batasnya.

"oohhh!! enak asliii!! memeknya sempitt!!!! *Crooooottttt*", Pria kasar 1.
Sperma yang banyak di semprot di dalam liang vagina Viona. Sperma itu ada yang mengalir keluar dari vaginanya, ini adalah cream pie pertama bagi Viona.
"oohhh...tidak.....aku akan hamilll!!!!", teriak Viona sambil menangis.
"iya hamillah sana, biar jadi perempuan ya, sekarang giliran gua dah! hahaha!", Pria kasar 2.
*cepp* penisnya dengan mudah lngsung masuk ke dalam liang vagina Viona, karena sudah licin oleh sperma tadi.
"asli memang masih sempiit nih memek!!", Pria kasar 2.
"cepetan ya, ntar giliran gua", Pria kasar 3.
"ok ok sabar, saja kita masih ad banyak waktu", Pria kasar 2.
Lalu penis itu langsung mulai membuat memompa Viona.
"ohhh..jangan lagi...jangan lagi...ngggghhh!!", Viona.
2 Pria yang lain kembali sibuk memeras payudara Viona. Kondisi ini membuat Viona tak lama lagi orgasme.
"shitt!!! NNgahh..AAAAhhhhh!!", kembali Viona harus harus orgasme secara terpaksa lagi.
Kali ini air vagina Viona muncrat. Dan hal itu mmebuat ke 3 Pria kasar itu semakin bahagia.
Kembali Pris kasar itu menggenjot vagina Viona, Viona tidak tahan dengan serangan rasa sensitif itu ditambah payudaranya daritadi dimainin terus ama 2 pria lain.
"mantapp!!! gwa keluarrrrr!!!!!! woghh!! *Crooootttt Croottttttttttttt*", Pria kasar 2.
Kali ini spermanya amat banyak, bibir vagina Viona kali ini sudah terkubur oleh limpahan sperma yang barusan, bercampur yang tadi.
"uh...", Viona tidak mengeluh lagi, percuma juga dia memohon.
"Okkk giliran gua", Pria kasar 3 beraksi.
Pria ke 3 ini langsung menggenjot vagina Viona tanpa ampun. Dia menghentakkan penis dengan kuat ke dalam vagina Viona.
"ahhh...oohh...cu..kup...", Viona sambil mengalirkan air mata.
Namun air mata cewek yang dikatakan senjata ampuh bagi pria ini pun percuma. Dia tetap memompa vaginanya tanpa ampun..dan 2 pria yang lain sampai menjilati payudara Viona.
Tak lama lagi, Viona kembali lagi di hajar orgasme paksaan yang ketiga kalinya.

"ngg......oohhhhhh.......", desahan pelan Viona saat orgasme paksaannya yang ke 3 kali.
"tidak ada waktu istirahat!", Pria kasar 3.
kembali dia memompa, dengan hebat vaginannya.
Paha Viona hingga gemetaran menahan serangan orgasme berikut.
Dia ingin mengontrol sendiri supaya tidak sampai multi orgasme.
Tapi percuma juga, dengan serangan dari vagina dan payudara oleh 2 pria lain, sulit untuk dikontrol.
Kali ini Viona terpaksa orgasme lagi, dan kali ini multi orgasme.
Bagian vagina Viona sampai gemetaran, kedua pahanya ingin dirapatkan tapi tidak bisa karena terkunci. Pria yang ketiga ini juga sudah capai limitnya.
"WOoghhhh!!! keluarrrr!! terima hadiahkuu non!!! ohh!! *crooooootttttttttt*", kembali liang vagina Viona di penuhin oleh sperma yang pekat dan tebal.
Kemudian tiba *Phoommmmm* suara pintu besi itu terbuka lagi. Dan masuk segerombolan pria kasar seperti mereka juga, ada 3 pria tampak kasar muncul. Mereka semua jalan mendekati Viona yang sudah babak belur ini, dan menatap tubuhnya.
"jangan.....jangan...aku mohon......", Viona menjadi takut oleh kedatangan gerombolan pria itu.
"Hey!, kalian bertiga! Kurang ajar! tadi dah bilang, sekarang belum waktunya untuk gagahin nih nona!", Pria Kasar 4.
"maaf... maaf, kami benaran tidak tahan lagii boss..", pria kasar 1.
"buset dah, memeknya sampe berantakan gitu. beri obat pil anti hamil dulu", pria kasar 4.
"Black bilang kita semua boleh gagahin nih nona..tapi...kalian juga tau diri, ini gratisan", Pria kasar 4.
"om..aku..aku ini dimana??", tanya Viona kepada pria kasar 4, sambil menutup selangkangan dan payudaranya.
"lebih kamu tidak usah tau, kita akan menyimpanmu di sini sementara, Hey! lepasin rantainya terus beri istirahat!", Pria kasar 4.
Setidaknya Viona sekarang tidak takut lagi karena segerombolan pria itu masuk bukan untuk menambahkan deritanya. Sekarang rantai pada tangan dan kaki sudah bebas dari Viona, dan meminum pil anti hamil yang di siapin mereka. Viona menoleh ke luar pintu, tampak terang, dia ada pikiran untuk kabur dari sini, tapi dia takut dikejar dan ditahan oleh mereka 11 pria kasar sekarang.
Dan mungkin akan lebih parah nasibnya jika gagal.

Tapi dia sudah memilih, akhirnya dia memilih untuk kabur, dengan cepat Viona langsung keluar dari pintu ruang kontainer itu. Tetapi ke 11 pria kasar itu tidak mengejarnya..
"sudahku bilang..jangan kabur..masih saja kabur...", Pria kasar 4 berkata pelan.
Tapi pilihan Viona untuk kabur juga sia-sia..ternyata saat keluar dari pintu kontainer, yang dilihat Viona adalah tempat ini seperti pula kecil. Sekitar nya adalah lautan, dan jelas pulau ini pasti terpencil, tidak ada perumahan, tidak penghuni normal. Di luar juga ada segerombolan buruh yang melihat ke Viona yang telanjang bugil.
"Non! tidak usah kabur deh! gak ada jalan lagi!", teriak gerombolan pria itu dari jauh dan jalan mendekati Viona, ada 6 orang.
Viona putus asah dan langsung pantatnya terjatuh letih ke tanah tersebut, dan terduduk diam di situ tanpa sehelai pakaian pun. 6 Pria dari rumah kontainer keluar dan menghampiri Viona, kini dia di kepung 12 pria kasar buruh.
"sudah aku bilang jgn kabur, masih saja kabur, tidak ada gunanya, kamu teriak, mau gimana kek gak guna semuanya", bentak Pria kasar 1.
"percuma non, GPS dan koneksi telepon tida berfungsi juga disni non", Pria kasar 4.
"kita semua akan seks dengan kamu, siapa tidak mau, kalau ada 200 pria di sini sekarang, 200 juga bilang mau", Pria kasar 3.
"tapi tenang kok non, cuman 12 orang aja disini, hehe", lanjut Pria Kasar 2.
"dan jangan sembarang lari di luar non, kalau ada bajak laut lewat nampak non, kamu bakal di perkosa sampai mati!", Pria kasar 1.
"ok, untuk sementara nih kita kurung dulu di ruangan tadi, biarin istirahat dulu.", Pria kasar 4.
"ehh baju..baju si non mana??", Pria kasar 4.
"udah kami robekin tadi bos..", Pris kasar 1.
"Bodoh!, tanpa pakaian dia akan kedinginan, besok beliin!!", bentak Pria kasar 4.
Hari pun mulai gelap. Beberapa dari mereka mengangkat tubuh Viona dari tanah itu dan memasukkan kembali ke ruangan tadi, tidak ada sedikitpun lawanan dari Viona. Kali ini Viona tangan dan kakinya tidak di rantai lagi, dia di masukkan ke sebuah kandang besi, dan lantainya di alas kasur busa yang sudah tua dan dan menguning. Kandang besi itu cukup luas untuk tidur, di dalam ada sebuah bantal yang tampak lama.
"dah masuk sana" salah satu dari mereka mendorong Viona masuk ke kandang besi itu.

Viona terjatuh dan terduduk ke dalam kandang besi itu, sisa-sisa sperma dan cairan pada vagina Viona yang belum kering mengotori dan membasahi sedikit kasur yang sudah tua itu.
"kalian bertiga, jaga ruangan yang ini, yang lain balik ke tempat masing-masing", Perintah Pria kasar 4.
"SIAP BOS!"
"kalau si non minta ke toilet, atau ada keperluan apa bukain pintu dan barengin", Pria kasar 4 "dan biarkan istirahat dulu sekarang.", lanjutnya
Dan ada yang menaru beberapa makanan dan minuman di dalam kandang besi itu, kemudian di tutup dan digembok. Tapi pikir Viona mending begini saja, daripada tertangkap oleh bajak laut, dia tidak bakal selamat lagi. Dia pikir ini mungkin penculikan, mungkin ada yang mau mendapat uang dari ayahnya dengan ancaman begini. Sebagai cewek gadis pintar, dia berpikir lebih baik nurutin saja perintah mereka, hingga mereka mendapat tebusan yang dinginkan. Pikirnya lebih baik tidur saja dulu...air matanya masih mengalir, namun pemikirannya tetap tegar terhadap apapun yang di hadapin.
Untuk sebagai seorang gadis yang begtu mudah mengalami hal seperti ini, dan masih bersikap positif, ini membuat Viona adalah gadis yang ama kuat. Tetapi Viona sendiri masih tidak tahu bahwa yang membuat nasibnya seperti gini adalah gara-gara perbuatan ayahnya dulu. Dan sekarang orang yang dikhianati ayahnya sedang membalas dendam dengan ganas. Dendam yang sudah pendam bertahun-tahun. Tak lama setelah itu Viona tertidur tanpa busana apapun, ke 3 Pria kasar yang sedang menjaga ruangan itu tentu merasa amat bahagia dan beruntung. dan setelah itu, dia menunggu nasib yang akan dia hadapin selanjutnya dengan mental kuat. Setelah Beberapa jam, kini waktu ada di arah jam 7 p.m.
"Bangun!", teriak suara laki-laki dengan kasar.
Viona perlahan terbangun. Saat matanya perlahan sudah terbuka dia melihat ada 6 pria kasar tadi di depannya. Salah satu dari mereka langsung membuka pintu kandang besi itu, dan yang lain menggapai lengan Viona dan menariknya keluar dari kandang itu. Viona langsung di lempar ke ranjang yang ada di ruangan itu, kasur yang kotor dan menguning itu. Dan tubuhnya sudah tersaji polos, karena sama sekali belum punya pakaian.
"malam ini giliran kita berenam bersenang-senang denganmu non, besok kamu baru layanin yang lain", Pria Kasar 4.
Di situ berenam ada, Sul si bos(Pria kasar 4, 45thn), Budi si gendut berjenggot putih(40thn), Anton si tinggi kurus(35thn), Dedi(38thn), Wanto(28thn) yang tubuhnya berotot, dan Rio(25thn) yang paling muda. Hanya Rio yang tampak seperti anak muda 20thn, sedangkan yang lain tampak tua setidaknya sudah umur 38-40an thn.

"bermimpi pun tidak bakal bisa mendapat nona seksi seperti begini! hahaha!", Sul.
"betul bos, ini lebih dari mimpi, dan bisa buat kita semua!", Budi.
Berenam itu langsung mendekati Viona yang sudah terlentang di atas ranjang, dan melepaskan pakaian mereka dengan buru-buru. Setelah itu payudara Viona langsung di remasi oleh 2 Pria, Sul menjilat vaginanya, dan yang 3 lainnya dengan tangan bergerilya di sekujur tubuhnya. Sambil bersorak mereka bersenang-senang dengan tubuh Viona. Viona tidak melawan dan membiarkan mereka lakukan apa saja, toh sudah tidak ada gunanya melawan. Malahan bahaya jika membuat mereka sampai marah, pikir Viona. Ini adalah pengalaman pertama buat Viona, karena biasanya, dia memilih pasangan seks nya dengan ada batasan dan kriteria. Dulunya dia hanya seks dengan cowok-cowok ganteng, muda, bersih, dan sopan. Sedangkan yang kali ini dia harus seks dengan pria-pria jelek, busuk, muka hancuran, dan buruh-buruh, dengan rasa pasrah. Kini Vagina itu sudah basah dan licin oleh ludah Sul. Sul menyuruh yang lain nuggu giliran, dan mereka pun menghentikan kerjaan tangan-tangan jahil mereka. Kini tinggal Sul dan Viona di atas ranjang. Sul memiliki penis yang panjang 30cm, dan diameter cukup besar. Pelan-pelan penis itu tegang dan sudah menjadi tongkat.
Mata Viona langsung melebar saat melihat ukuran penis raksasa itu.
"nih non, pernah lihat yang sebesar ini gak, ini asli non, tidak pakai sulapan.", kata Sul sambil menepuk-nepukkan penis itu ke wajah Viona.
"ayo jawab kalau bos nanya!", Anton.
"ngga..belum pernah..", Viona menjawab dengan pelan.
"sekarang jilatin, terus kamu kulum sampai basah", Sul.
Viona langsung menjilat penis itu beberapa detik, kemudian dia mulai mengulumnya dengan mulutnya. Dia mengalami kesulitan dan penis tersebut hanya masuk setengah.
"yah, bukan begitu non caranya.", Sul.
Sul agak kesal dan langsung menghentakkan penis itu maju dengan laju, kemudian Sul menggunakan tangannya menahan kepala Viona supaya penisnnya tidak lepas dari mulutnya.Kini penis raksasa itu hampir habis di telan Viona, baunya amat tidak sedap.
"emmmm!!! emmmm!!", Viona tak tahan dengan hal tersebut.
Dia jelas tersedak cukup mampus, air matanya mengalir dan hidungnya menjadi merah.
Sul menahan posisi itu selama 5 detik kemudian dia melepasnya.
"emmm!!! uhuk!!! uhuk!!! hahh..hah.." Viona terbatuk-batuk dan banyak ludah mengalir keluar dari mulut Viona, yang lain tertawa-tawa melihat Viona yang sedang batuk, penis Sul juga sudah basah oleh ludah Viona.

"hoookkksss!! Puitttss" Sul meludahi vagina Viona dengan ludahnya cukup tebal yang di buang dari mulutnya.
"butuh sedikit pelicin lagi, biar gampang masuk ya non", Sul.
"Ayoo Boss Hajar Boss!" "Hantam Boss!!" "bantai! habisin boss!!" berbagai sorakan dari yang lain menyorakin Sul.
Kemudian Sul memberikan pill anti hamil dan segelas air ke Viona.
"nih obat anti hamil, kamu tak mau hamil kan?", Sul.
Viona langsung mengkonsumsi obat tersebut. Setelah itu Sul dengan tanpa ampun langsung mengpenetrasi laing vagina Viona. Karena Viona bukanlah perawan lagi, dia tidak akan pelan-pelan memasukinya.
"OOhhhh! Mantap sempit juga non!", Sul.
"nngggggg.....oohhh...", desah Viona.
Penis itu masih tertanam 20cm dan masih 10cm lagi belum tertanam. Sul mendorong penisnya ke dalam dengan kuat, sehingga kini sudah tertanam penuh.
"rasain yang gede non", Sul.
Mata Viona terbuka lebar dan menoleh ke atas menahan penis raksasa itu. Tidak bisa menahan, Viona mengeluarkan desahan nakal.
"aaAaahhhhh....Aduhh....aaaahh..", Viona.
Penis itu cukup panjang untuk hingga mencapai G-Spot Viona, dan G-spot itu sangat sensitif.
Sul terus memompa dengan laju. Dan tidak lama, Viona sudah capai orgasme. Dan yang lain bersorak ria.
"OOOhhhhhhhh....", Viona.
"mantap kan non?", Sul.
Kini Sul merubah posisi tubuh Viona menjadi menungging, doggystyle. Dari belakang Sul memompa vagina itu. Kembali vagina Viona terisi penuh dengan penis berukuran besar itu.
"aahh!! ahhh!! ! ahhhh!", Viona.
"ya, begitu non, teriak, biar lebih enak", SUl.
Sul menambah kecepatannya sambil mendesah, bertanda kalau dia sudah mau keluar. Tetapi hal itu membuat Viona orgasme duluan. kali ini Viona memuncratkan air vaginanya.
"nngg..Ngahhhhhh!!", Viona.
"giliranku! AAAkkhhhh!! Keluarrr!!", Sul.
*crrrottttttttt crooott* Sul menyemburkan sperma pekat di dalam vagina Viona, banyak dari sperma itu mengalir keluar dari vagina Viona.
"neh, masih ada bersihin kontol gwa, di telan ya!", Sul.
Viona membersihkan sisa sperma di penis pria itu. Dan sekali lagi Sul menghentakan penis itu dengan kasar ke mulut Viona. Hal itu membuat dia sekali lagi terbatu-batuk, dan yang lain menertawakannya.
Viona merebahkan dirinya di ranjang itu, menunggu yang lain bergilir.

Setelah selesai Sul berpakian dan langsung keluar dari ruangan itu. Tangannya memberi kode kepada sisa 5 pria di ruang itu bahwa selanjutnya giliran mereka. si Budi langsung mengambil giliran selanjutnya, yang lain tidak rebut-rebutan, karena tau kalau semua bakal dapat giliran juga. Budi sudah tidak sabar dia langsung menancapkan penis nya ke dalam vagina Viona.
"wahh enakk! pertama aku ngehek dgn amoy cantik begini!", Budi.
"ngg....ohh...", Viona.
Saat Budi sedang sibuk menggengjot Viona pintu besi ruang itu terbuka *Phommmm* Masuklah 6 Pria kasar lainnya, dan kini ruangan itu ada 11 orang, tanpa Sul. Viona takut dengan kedatangan mereka.
"ooh..aku mohon jangan...kaliann besok saja...aku tak akan sanggup...", Viona.
"tenang aja non, kita bereenam emang besok kok, tadi siang kan kami bertiga udah beri non peju, masa lupa?", Pria kasar 1.
"iya non, hehe. Bos Sul bilang kita boleh kemari tapi cuman nonton doank!", Pria kasar 2.
"iya iya, lanjutin tuh non bersenang-senangnya, gak sah hiraukan kami, hehehe", Pria kasar 3.
Pria-pria itu semua tertawa-tawa. Tapi setidaknnya Viona merasa lega, karena calon pemerkosaannya tidak bertambah setidaknya untuk malam ini. Keenam pria yang barusan masuk, tidak akan menodainya malam ini, tapi hanya menonton, mereka duduk di pojok ruangan itu, dan mereka tidak melepaskan pakaian. Ruangan itu menambah pengap, dan bau yang berat, dan sorakan juga bertambah lebih heboh dan keras. Karena udaranya yang sudah terlalu pengap mereka harus membiarkan pintu besi itu terbuka, biar udara dan angin lebih mudah masuk. Kembali Viona digenjot oleh Budi, dan di tonton oleh segerombolan pria lainnya. Viona sekarang bertambah malu di hadapan ramai, dia berusaha menahan suara desahan nakalnya.
"mmm....nggg....", Viona.
Tetapi Budi langsung mempercepat pompaannya, dan membuat Viona lebih derita.
"nngg....Ngahhh...ahhhhh", Viona.
"nah gitu donk Moy, keluarin suara nakalmu itu, hahaha.", Budi.
Tapi Budi juga tidak kuat nahan lagi, dia menancap lebih dalam lagi ke liang vagina itu dan akhirnya ejakulasi juga. Kali ini Viona tidak mengalami orgasme.
"OOghhhh!! Asiykkkk!! *Croooootttt*", Budi menyemprotin liang vagina Viona dengan spermanya.
"uhh....", Viona.

Budi menyemprotin di dalam banget, sehingga yang mengalir keluar hanya sedikit. Setelah itu Budi langsung mendekatkan penisnya ke mulut Viona, Viona otomatis langsung membersihkan penis itu sendiri.
"nah, gitu baru gadis pintar", Budi sambil mengusap-usap kepala Viona.
Pria-pria lain tidak henti tertawa dan bersorak-sorak. Budi keluar dari posisi, dan dia duduk merebahkan diri di pojok ruangan bersama yang lainnya. Anton langsung naik ke ranjang dan siap memperkosa Viona. Anton ini orangnya tinggi, tapi kurus, dia memiliki penis yang panjang 30cm, tapi berdiameter tidak besar. Anton merebahkan tubuhnya di ranjang, dan menyuruh Viona untuk menunggang penisnya yang panjang.
"ayoo non, nunggang kontol gua, dah ga sabar lagi nih", perintah Anton sambil menepuk-nepuk selangkangannya sendiri.
Viona bangkit dari rebahannya dan merangkak ke Anton, dan dia menggapai penis panjang itu dan memasukannnya ke liang vaginanya, kini posisi mereka adalah Woman On Top. Viona menggapai penis panjang 30cm itu dan memasukinya ke liang vaginanya sendiri, sedangkan Anton santai-santai saja merebah.
"ooh...", desah Viona saat penis itu sudah tertanam 15cm.
Dalam posisi Woman On Top ini, tubuh bugil Viona berhadap ke dinding sehingga ke 10 penonton lainnya hanya melihat tubuh bagian belakangnya saja. Dan jelas mereka tidak puas dengan itu.
"tarik Ton, biar wajahnya berhadap ke kita semua" "iya! Non gak sah pake malu-malu lagi deh" Sorakan pria-pria lain.
Mendengat kata-kata mereka, Anton memutarkan tubuh Viona sedangkan vaginanya masih penuh menelan penis panjangnya. Viona otomatis ikutin saja arahnya dan memutarkan tubuhnya, dan sekarang dengan posisi woman on top dia sudah menghadap ke penonton ramai itu. Langsung Viona mendapat sorakan, ejekan, dan tawaan dari semua.
"lahh, belum masuk semua non, gimana nih?", Anton.
"cukup om..punya om panjang...", Viona.
"Ahh sudah jangan banyak cingkonek!", Anton.
Anton menarik pinggang Viona kebawah sehingga penis akhirnya itu tertanam penuh. Dan Anton langsung mulai memompa vaginanya, dengan panjang penis itu jelas langsung mengenai G-Spot Viona sedangkan kedua payudara Viona ikut bergoyang naik turun.
"aaaaAAAhhh..ngggg...AAAa", Viona.
"enak kan non, heheh", Anton.
tak lama lagi, Viona sudah tenggelam dalam rasa orgasme.
"oooohhhhhh.....", Viona menjerit
Tubuhnya mengejang dan kepalanya terhadap ke atas, bagian pahanya dan selangkangannya bergetar hebat. Sekujur tubuh Viona sudah keringat basah, hingga kulitnya tampak kilat oleh keringatnya, dan ada butir keringat dan payudaranya terlihat basah oleh keringatnya sendiri.

Viona sebelumnya jarang amat keringat, walaupun saat pesta gangbang terakhir pun dia tidak keringat.
tapi karena ruang ini tidak ber-AC dan amat pengap, jadi tidak bisa ditahan. Anton langsung siap untuk serangan keduanya, dia tidak beri istirahat kepada Viona yang belum hilang orgasmenya.
Anton menyuruh Dedi dan Wanto yang berdiri dekat menekan bahunya supaya penis itu di paksakan lebih kedalam lagi ke liang vagina Viona. Dan Rio dan Budi menahan kedua paha Viona. Sedangkan Anton menahan pinggangnya. Sekarang penis Anton tidak akan kemana-mana lagi, Viona sudah terkunci oleh genggaman mereka berlima. Dedi dan Wanto mengambil kesempatan ini meremasi kedua payudaranya dengan keras.
"OOhhh....Amm..punnnn..nnngga...aaah", Viona tidak tahan dengan perasaan tersebut.
Anton langsung memompa vagina itu dengan cepat dari bawah. Tubuh Viona tampak melompat-lompat, namun tubuhnya di kunci sehingga tidak bisa gerak banyak. Dalam hitungan 20 detik, Viona sudah mengalami multi orgasme. Tapi Anton dan lainnya tidk melepaskannya, penis itu tetap memompa vagina itu tiada henti. Karena Anton sudah tak sabar mau semburkan spermanya di vagina itu.
"OOhhh!! AAAHH!! AMM..PUnnnN!! AAhhhh!", teriak Viona.
Viona tak tahan juga untuk yang kali ini, dia langsung mengalami multi orgasme sekali lagi.
"HHHnnggghhh!!!! mantappppppp!!!! *Croooootttttttttt*", akhirnya Anton ejakulasi juga.
Liang vagina Viona kembali dipenuhi oleh sperma. Viona langsung terkulai ke belakang dan terjatuh ke ranjang. Anton mencabut penisnya dan langsaung memasuki penis itu ke mulut Viona yang sedang rebahan di ranjang. Viona membersihkan penis itu. Sperma banyak ngalir keluar dari vaginanya dan ada yang berbentuk balon dan pecah seperti sabun. Melihat Anton keluar dari posisi, Dedi langsung mengambil posisi di depan Viona. Yang lain menjauh dan membiarkan Dedi dan Viona di ranjang berdua.
"Ayo non, belum waktunya istirahat!", Dedi.
Dedi langsung memompa vagina Viona seperti yang lain, dengan cepat dan tanpa ampun. Viona sudah sangat sensitif, daritadi sudah diserang orgasme dan multi orgasme. Kekuatannya untuk menangkis rasa demi rasa di vaginanya sudah tidak ada lagi. Sebentar saja Viona kembali diterpa orgasme.
"ooohh......", Viona.
Dedi mengangkat tubuh Viona hingga membuatnya menungging dengan gaya doggy. Penis itu langsung menerkamnya dari belakang. Tak lama dalam posisi itu, Dedi sudah capai batasnya juga.
Dia menghentakkan penisnya tertanam penuh ke dalam vagina Viona dan menyemburkan sperma hangatnya di dalam.
*OOGhhhhhh!! aSikkkkkkk!! *Crooooootttttt*", Dedi.

Viona kembali terjatuh lagi, dan rebah di ranjang itu. Dia langsung membersihkan penis Dedi yang sudah di sodorkan ke mulutnya dengan kulumannya. Setelah itu Dedi langsung keluar dari posisi dan duduk ikut yang lain menonton. Wanto dan Rio langsung naik ke ranjang berduaan, sekarang di ranjang ada Viona, Wanto, dan Rio. Viona menggelengkan kepalanya sambil berkata, "ammmpun..bang....beri aku istirahat dulu...."
Namun percuma saja, Wanto langsung menarik ke dua lengannya, dan Rio mengangkat pinggang Viona hingga menunggang penis Wanto. *cepp* penis itu langsung tertanam penuh di dalam liang vagina Viona. Wanto langsung mulai memompa dari arah bawa, membuat tubuh Viona yang sedang menunggang penis itu ikut naik turun. Rio menarik kepala Viona ke arah kanan, dan Rio memasukkan penisnya ke dalam mulut Viona.
"osshh yess..mantapp..gadis pintar..", Rio sambil mengusap-usap kepala Viona.
Payudaranya tidak bebas dari genggaman Wanto yang sekalian sedang menggenjotnya.Tak lama Wanto sudah tidak tahan lagi dan sudah capai tingkat ejakulasi.
"OOOhhhhhggg! *crooooottttt*", Wanto.
Vaginanya kembali disiram dengan sperma pekat dan banyak itu. Wanto langsung mendorong tubuh Viona keluar dari posisi Woman On Top dan kini Viona berlutut. Setelah membersihkan penis Wanto. Rio dari belakang langsung mendorong tubuh bagian atas Viona menunduk hingga menjadi posisi nungging. Dari belakang Rio memompa dengan cepat, sambil menampar-nampar pelan pantat Viona *pok pok pok pok* Penonton tertawa semua. Rio menghentikan genjotannya dan memerintah Viona untuk memaju-mundurkan pantatnya sendiri. Viona tanpa lawan langsung nurutin saja, dia langsung memaju-mundurkan pinggulnya, dan sekarang dia yang sedang menunggangi penis Rio.
"uhhh....oh...", Viona.
"iya begitu, gadis pintar memang selalu menurut hehe", Rio.
Yang lain menyorakin Rio sok-sok jadi guru seks saja dan mengejek Viona.
"di percepat dong non! *pok pok*", Rio sambil menepuk pantat Viona.
Viona mempercepat gerakannya. Viona semakin di sorakin gerombolan pria itu. Saat itu dari luar Sul si Boss yang daritadi keluar dari ruangan itu sekarang datang ikut nonton. Dia tertawa heran melihat Viona sendiri yang memompa vaginanya ke penis Rio.
Sambil bercanda, "Wah wah..Rio kamu pakai sulap atau ilmu gelap apah? sekarang loe yang dientotin amoy yang cakep begini loh!", Sul
"hahah Boss, gua kan guru seksnya amoy ini!, Rio.
"ehhhh, kurang ajar loe ya, berani selangkah lebih maju dari Bos mu! hahah!",Sul

Kembali mereka semua tertawa, kecuali Viona yang sedang mengalami rasa malu tingkat super. Tak lama kemudian Viona mencapai tingkat orgasme lagi, kepalanya tertempel ke ranjang, sedangkan pantatnya masih menungging
"oohhhhh....nngg...ahhhhh..." Viona.
"pintar, enak kan non? sekarang giliran gwa yang beri pertmax plus buat loe, sebagai hadiah!", Rio.
Rio langsung memompa tanpa ampun dari belakang, karena sudah mau keluar juga.
"ehhhh...ahhhh....aaahh!!", Viona.
"Woghhhh!!! gua keluarrr!! nehh rasainn!!!! *croooootttttt creeetttt*", Rio
Viona langsung membersihkan penis yang sudah disodorkan Rio. Kini kondisi Viona amat tampak buruk, vaginanya penuh dengan sperma lengket dan ada yang masih mengalir keluar. Di dalam vagina Viona, totalnya sudah ada sperma campuran 6 pria campuran. Mulutnya juga lengket dan mengilat akibat campuran sperma dan ludahnya sendiri. Viona sudah amat kecapekan, dia langsung terlentang tubuhnya ke ranjang itu, dan tidak bergerak sedikitpun selain bernafas. Sebelumnya Viona tidak pernah terasa capek begini, dia bisa saja disebut ratu gangbang tapi kali ini dia sama sekali tidak percaya diri disituasi seperti gini, dan sekali lagi ini adalah pemerkosaan. Viona sama sekali tidak siap dengan situasi seperti gini. Viona dibiarkan tiduran di ranjang beberapa menit. Tak lama kemudian, 6 pria tadi yang masih berpakain, mereka melepaskan celana dan celana dalam mereka dan sekarang ada 12 batang penis di depan Viona. Viona langsung menoleh ke arah mereka dan amat takut kalau mereka semua akan memperkosanya lagi. Air matanya mengalir namun tidak ada suara isak tangisnya. Mereka semua kumpul berdekatan dengan Viona yang di atas ranjang, dan 12 pria itu masturbasi dengan tangan mereka sendiri. 1 menit kemudian
"woooghh!!! oghhh!!!" "aarghhh!!"
12 pria itu akhirnya capai limit mereka dengan masturbasi, dan mereka menyemprot sperma itu ke Viona.
Rambut, wajah, perut, paha, sekujur tubuh Viona di penuhin dengan sperma-sperma 12 pria itu. Ini juga menjadi penglaman barunya, yaitu bukkake. Viona terpaksa menutup matanya karena takut sperma yang mengalir terkena matanya. Tiba-tiba dari arah pintu, masuk seorang pria tangguh bersama 7 pria lain di belakangnya.
"bagaimana pestanya guys?", suara yang tak asing lagi bagi para semua pria di situ, dia adalah Black.
"wahh..Blackie, kita baru selesai, nih anak-anak juga pada ikut nonton, Blakie telat datang deh", Sul, sambil memakai pakaiannya dan yang lain juga ikut mengenakan pakian mereka kembali.
Kini ruangan itu penuh dengan 20 pria. Tadinya ada 12, dan Black muncul bersama 7 pengikutnya, jadi menjadi 20. Mereka langsung menyiapkan sebuah kursi untuk black dan diletakkan di dekat ranjang yang masih di rebah Viona, dan Black duduk di situ. Sekarang Viona yang sudah babak belur, tubuhnya penuh dengan sperma yang mulai mengering, di kelilingi sebanyak 20 Pria.

"wahh, Black, sudah banyak anak disini, kamu bawa 8 anak lagi, nih non mainnya kuat lagi?", Sul.
"aku bawa anak-anak kemari bukan untuk berpesta, tapi kami baru bawa barang-barang untuk kebutuhan nona ini", Black.
"ok Black, barang nya masih di atas kapal ya Black?", Sul.
"betul, suruh mereka turunin, dan bawa perlengkapan mandi untuk nona ini", Black.
"ok!, kalian dengar kata Black!, ayo kerja kerja, turunin muatan kapal sekarang", Sul.
Para pria langsung keluar dari ruangan itu, dan ruangan itu cuma tinggal Viona, Black yang sedang duduk, dan Sul saja. sambil duduk Black melihat sekitar ruangan ini dan melihat sekujur tubuh Viona.
"bagaimana nona? lebih heboh dari pesta terahirmu kah?", Black.
Viona kembali heran, kenapa mereka bisa tahu tentang pesta di villa.
"kalian...sebenarnya siapa, kok tau tentang pesta di villa??", Viona.
“lebih baik kamu tidak usah tau", Black.
"jadi..jadi apa mau kalian sebenarnya..?", Viona.
"bila sudah saatnya kamu sudah tahu sendiri", Black.
Kemudian Black menoleh ke ranjang tempat Viona berbaring yang sudah menguning, dan sekarang penuh dengan sperma, keringat, semakin bertambah parah.
"ranjang ini, suruh orang diganti baru saja", Black.
"ok Blackie!", Sul
"kalian mau berpesta dengan nona ini boleh, tapi diluar situ, jangan di apa-apain, dia juga manusia, jadi perlakukan dengan layak", Black.
"aku tau maksudmu Black, kamu memang yang paling baik hati diantara kami semua", Sul.
Black berdiri dari kursi itu dan berkata, "not bad, sul, not bad".
Sul tersenyum senang.
Black menatap Viona dan berkata, "besok kita akan bertemu lagi nona, bila kamu ad pertanyaan, aku akan menjawab yang bisa aku jawab saja".
Kemudian Black keluar dari ruangan itu, dan Sul mengikutinya. Sul berteriak menyuruh 3 anak buahnya datang kemari dan suruh bawa Viona ke kamar mandi. Viona yang masih bugil dibimbing 3 pria itu menuju kamar mandi.

Saat di luar, Black dan Sul berbicara sambil berjalan.
"jadi, sampai kapan gadis itu akan kami simpan Blackie?", Sul.
"sampai dendamku terbalas Sul", Black.
"aku percaya dendammu akan terbalas Blackie, jgn lupa kalau butuh bantuan, aku selalu siap", Sul.
"ini dendam personalku Sul, aku merasa egois sampai menarikmu ke dalam hal ini", Black.
"Ahh apaan kamu Black, kita sudah bagaikan saudara! lagipula apa ruginya juga Black, karena rencanamu kita bisa gagahin gadis itu kapan saja", Sul.
"Selama ini kamu sudah membantuku banyak, mulai dari saat aku di penjara, keluar dari penjara, terima kasih Sul", Sul.
"ahh sudah sudah, kita impas saja lah, kamu bisa balas dendammu, dan kami bisa gagahin putri dari Ayah kurang ajar itu, hehe.", Sul.
Setelah itu Black masuk ke dalam ruangan kontainer lainnya, dan dia bermalam disitu. Sul juga masuk ke rumah kontainernya sendiri. Pria-pria yang lain sudah selesai menurukan semua barang dari kapal itu. Budi, Anton, Dedi, Wanto, Rio, dan 7 pria yang datang bersama Black naik ke kapal tersebut dan berlayar meninggalkan pulau terasing ini. Di pulau sekarang sisa Black, Sul, 5 Pria lainnya, dan Viona. Sementara itu Viona sudah tiba di kamar mandi yang tidak jauh, kamar mandi cukup luas untuk mandi. Walau kamar mandi ini tampak sudah di bersihkan, tetapi masih tampak agak tua, dan ada celah kecil sehingga ada tiupan angin masuk. Di dalam sudah tersedia air bersih seember 120 liter. Dan kamar mandi itu sudah lengkap dengan pasta gigi, gosok gigi, shaver, shaving gel, deoderant, handuk tebal, dan barang-barang perawat kulit lainnya. Viona membersihkan semua noda yang ada di tubuhnya dan di dalam liang vaginanya sampai bersih. Setelah selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi itu, Viona yang masih belum punya pakaian, dia membalut tubuhnya dengan handuk tebal tersebut. Kembali dia dibimbing 3 anak buah Sul tadi, kembali ke ruangan dimana dia di gangbang. Sesampai di ruangan itu 3 pria itu langsung keluar dari ruangan tersebut. Salah satu dari mereka mengatakan,
"non, kalau ada keperluan tekan tombol berlogo lonceng ini ya, kami akan langsung kemari"
Tombol tersebut dekat dengan pintu masuk ruangan ini kemudian pria itu menutup pintu itu dan mengunci pintu itu dari luar.

Ruangan itu sudah tampak beda, kandang besi yang dia dikurung tadi siang sudah tidak ada lagi. Tempat tidurnya juga sudah diganti yang baru, dan tidak adalagi rantai-rantai atau besi-besian di ruang itu. Ada bantal, guling selimut, semuanya bersih dan baru. Lantai dan dindingnya sudah tampak lebih cerah. Ventilasinya diganti yang baru, dan diruangan itu dipasang kipas angin electric yang bisa menghembuskan udara dingin. Di atas ranjang baru itu ada di taruk beberapa kaos tanpa lengan, t-shirt, rok mini, sexy-pants, dan juga ada celana atau rok biasa simple. Selain itu juga ada bra dan celana dalam. Ruangan itu juga terdapat meja sedang dilengkapi cermin untuk ngaca, make-up powder, dan banyak perlengkapan pengawet dan pengharum kulit lainnya. Hair dryer, penjepit hair bonding, dan penjepit keriting juga ada. Perlengkapan perawat kuku, pokoknya sudah cukup lengkap dan bagus untuk seorang yang di culik. Semua ini adalah aturan Black, bagaimanapun saat Viona kecil, Sul juga pernah menggendongnya, dan dulu dia menyayanginya. Jadi setidaknya selain di gangbang, dia mau diluar situ dia diperlakukan layak seperti manusia. Setelah selesai berpakaian Viona langsung naik ke ranjang itu dan mulai tidur. Dia menanti keesokan harinya untuk bertemu dengan Black, karena dia juga ada pertanyaan dengan dia.

by : Viona

Thursday, February 5, 2015

The Orgy Club 3: Buih Cinta di Tengah Lautan Birahi

“Amel ya...dia sebenernya anak yang baik, orangnya gak bertele-tele, pinter lagi, gua baru tau cerita dia kaya gitu, ke gua aja yang kenal lebih lama belum pernah cerita, tapi ke lu udah, gua rasa dia juga sebenernya ada hati ke lu Ric” kata Indra mangut-mangut mendengar curhatku, “oh iya makasih Mas!” katanya pada si mas pembantu kantin yang baru mengantarkan pesanannya.
Saat itu jam setengah sepuluh pagi, baru bubaran kuliah pagi. Kami makan pagi sambil ngobrol mengenai orgy club dimana aku baru saja menjadi newbie-nya yang berkat rekomendasi dari temanku yang satu ini. Dan baru pada Indra lah aku curhat mengenai perasaanku terhadap Amel yang tiba-tiba saja timbul setelah aku ML dengannya dan ia mulai terbuka padaku. Aku tidak ingin langsung mengatakan ini cinta karena aku ingin lebih berhati-hati mengenai yang satu itu agar tidak sakit hati lagi setelah dikhianati mantanku.
“Ya itulah aneh kan Dra, gua kayanya ada rasa ke dia tapi malah enjoy kalau liatin dia digituin sama orang lain, lagian dia itu kan lebih tua dari gua, gua pengennya yang lebih muda daridulu juga”
“Haiya masa soal itu aja dimasalahin kaya milih milih mobil, gini aja deh bro, mulai sekarang gua ga akan pernah nyentuh si Amel lagi sampe lu mutusin kalau lu emang ga pengen macarin dia”
“Pacarin? Wah gua belum kepikir kesitu sumpah, buru-buru mutusin pacarin malah bikin sakit ati kaya yang dulu-dulu.”
“Udah, nyantai aja mikirnya, jodoh gak jodoh udah ada yang atur, kalau lu mau minta pendapat cewek soal  ini ke Kak Angel deh, dia itu cewek yang dewasa bukan cuma umur tapi juga pemikiran, dia paling enak buat teman curhat, percaya deh”
Tiba-tiba BB Indra berbunyi dan ia mengangkatnya lalu berbicara selama beberapa saat, aku cuek meneruskan makanku sampai ia menyelesaikan bicaranya
“Huh sialan, baru inget habis masa aktif!” gerutu Indra ketika mengirim pesan yang gagal.
“Mau pake yang gua dulu?” tawarku
“Ngga...ntar aja....eeehh hhmmm...Ric!” tiba-tiba wajah Indra tersenyum penuh arti sambil memandang lurus ke belakangku
“Apa?” jawabku
“Gua lagi butuh pulsa nih, mau ga kita taruhan kalau gua menang lu isiin mentari 100 buat gua, gimana?” tantangnya.
“Kalau lu ga menang gimana?” tanyaku lagi
“Ntar gua yang beliin pulsa buat lu kalau dah habis”
“Boleh...taruhan apa emang? Bola?” aku menyeruput air mineralku.
“Bukan...lu pasti seneng deh, tuh lu liat di sana, tuh dokter itu!”

Dr. Lea

Aku menengok ke belakang mengikuti pandangan matanya, kulihat Dokter Lea, salah satu dokter klinik kampus dan juga salah satu dosen di fakultas kedokteran, baru saja menyelesaikan makannya dan hendak beranjak.
“Dokter Lea, napa emang? Naksir lu?”
“Gini, kalau gua bisa ngentotin dia, gua menang, deal?” katanya dengan suara dipelankan.
Aku menanggapinya dengan tertawa, aku pikir temanku ini tidak waras atau apa, ini kan namanya cari penyakit, dia kira ini di kost/klub apa? Bisa begituan seenaknya? Apalagi dengan dokter kampus, kena gampar saja masih untung, paling parah bisa-bisa di DO atau malah dituntut pelecehan seksual.
“Hiihihi...Dra...Dra, otak lu korslet ya? Kelamaan di klub ditambah nyandu JAV sama hentai ya!” tawaku
“Sekarang lu ketawa, nanti kita liat hasilnya, gimana? Deal ga?” tantangnya lagi.
Aku jadi penasaran juga nih, pakai cara apa dia kira-kira, Indra ini memang orangnya supel dan dengan lawan jenis gampang akrab, tapi kalau bisa merayu dokter kampus sampai mau diajak ML dalam sehari rasanya ‘mission imposible’. Maka kutepuk sambutan telapak tangannya pertanda menerima tantangannya, kan lumayan tuh dapet pulsa seratus ribu.
“Oke deal ya...yuk sekarang ikut gua, dia pasti balik ke klinik, ayo mumpung hari Jumat lagi ga banyak orang.” ajaknya.
Aku mengikuti Indra ke klinik kampus dekat fakultas kedokteran, suasana hari Jumat tampak lenggang seperti biasanya. Kamipun tiba di depan klinik itu, Indra mengetuk pintunya.
“Masuk!” sahut suara wanita dari dalam sana.
“Ehh....kamu Ndra, ada perlu apa nih?” tanyanya ramah, ia sedang membaca dokumen medis di mejanya.
Sebagai gambaran, Dokter Lea ini adalah seorang wanita 30 tahun dengan rambut pendek sebahu, wajahnya yang imut dan murah senyum membuatnya terlihat lebih muda dari usia sebenarnya. Aku sendiri agak tidak percaya ketika belakangan mengetahui usianya. Aku sih hanya sekedar tahu saja tentang dirinya, memang banyak yang bilang ia adalah dokter cantik, tapi tidak sampai kenal karena aku tidak pernah sakit sampai harus ke klinik kampus.
“Pagi Dok...mau medical check up nih!” sapa Indra, “ini teman saya Rico” ia memperkenalkan diriku.
“Rico” aku menjabat tangannya yang halus lalu duduk di depan mejanya bersama Indra, ia tersenyum manis sekali.
“Lagi ga sibuk kan Dok?” tanya Indra
“Gak kok, biasa hari gini emang sepi, yang mau medical check up kalian berdua nih?”
“Iyah Dok, saya aja dulu ya!” kata Indra
“Baik...yuk duduk di ranjang sana” Dokter Lea menutup map-nya dan berjalan ke arah ranjang pasien di pojok.

Indra mengikuti dari belakang, aku jadi makin penasaran apa yang akan dilakukannya, masa dia mau senekad itu memperkosa Dokter Lea? Beberapa langkah dari ranjang pasien, tiba-tiba Indra menarik lengan Dokter Lea dan membalikkan tubuhnya menghadap dirinya lalu didekapnya erat. Mulut Indra langsung nyosor mencium bibirnya.
“Ahhh...Dra! Kamu gila yah!” serunya sambil memalingkan muka melepaskan diri dari mulut Indra yang mulai nakal dan sudah mulai menciumi lehernya.
“Ah, dokter ini. Santai aja, dia member klub terbaru kok” sahut Indra enteng dan dengan sigap ia menyingkap rok span hitam Dokter Lea hingga terpampanglah paha mulus dokter cantik itu.
Segera setelah itu Indra mencumbunya habis-habisan sehingga Dokter Lea terlihat mulai enjoy dan akhirnya dia berkata,”Uhhh...dasar...bilang kek dari tadi, jadi ga usah jaim-jaiman!” suaranya nampak letih namun disertai oleh desahan nafsu yang menggelora terlebih saat tangan Indra mulai mengelusi pahanya yang indah itu.
Indra mengacungkan jari tengah dan telujuk padaku di belakang punggung Dokter Lea, mataku memancarkan kemenangan tanpa melepaskan ciumannya terhadap Dokter Lea. Selanjutnya ia menunjuk ke arah pintu dan memutar telapak tangan, aku yang terpana segera ke arah pintu dan menguncinya. Dengan dada berdebar-debar, aku pun menghampiri mereka. Kupeluk tubuh langsing Dokter Lea dari belakang. Tanganku meraba dadanya yang berukuran sedang, kuremas lembut buah dadanya sehingga ia menggeliat.
“Nah...kenalin Ric, Dokter Lea ini dulunya pernah ngekost di tempat kita, jadi dia ini alumni klub, jadi ga usah sungkan-sungkan sama beliau, ya ga Dok?” kata Indra sambil meremas payudara Dokter Lea yang satunya.
“Aahh...diem kamu Ndra, welcome to the club Ric, saya suka member baru, jadi ingin mengenal kamu lebih dalam” Dokter Lea menengokkan wajahnya menghadap wajahku dekat sekali, suaranya jadi basah dan penuh gairah.
Lengannya merengkuh leherku dan telapak tangannya mendorong kepalaku ke arah wajahnya. Bibir kami pun bertemu dan berpagutan panas. Tanganku mulai menyingkap ke atas kaos dibalik jas dokternya sehingga bra kremnya terekspos.
“Wow, sudah mahir yah kamu. Sudah pengalaman ya?” guraunya setelah melepas ciuman sambil meraba selangkanganku, tangan lentiknya meremas penisku sehingga semakin menegang saja.
“Belum Dok, baru pernah ML sama satu mantan sebelum gabung ke klub?” jawabku mengendus leher jenjangnya, aroma parfum berkelas terasa dari tubuhnya.
“Tapi begitu masuk langsung empat cewek dia sikat semua dalam sehari hehehe...” timpal Indra yang tangannya tengah mengelusi selangkangan Dokter Lea dari luar celana dalamnya.
“O ya....nafsu kamu gede juga ya!” kata Dokter Lea tersenyum nakal padaku, “yuk kita ke sana aja, capek dong berdiri terus gini!” ia mengajak kami ke ranjang pasien saja agar nyaman.

Kini ia pun duduk di pinggir ranjang diapit olehku dan Indra di sebelah kanannya. Aku terus menciumi wajah, bibir dan leher Dokter Lea, sementara Indra sudah melucuti bra-nya hingga terpampanglah kini kedua payudaranya yang bulat sedang dengan puting berwarna coklat itu. Desahan Dokter Lea semakin liar ketika lidahku menggelitiki lehernya yang jenjang dan Indra bergantian melumat dan meremasi payudaranya. Bibirku kembali memagut bibirnya, lidah kami langsung terlibat saling jilat dan belit dengan panas sementara tangan kiriku meremas payudara kanannya. Ia mengerang tertahan di sela percumbuan kami ketika tangan kiriku turun ke bawah dan mengelus-elus paha dan selangkangannya. Tubuhnya semakin menggeliat tak menentu dan nafasnya terasa semakin memburu. Indra naik ke ranjang dan membuka celananya, ia menyandarkan bantal pada tembok agar nyaman berselonjor di ranjang pasien
“Sepong dong Dok!” pintanya memegang penisnya untuk dilayani Dokter Lea, ukuran penis Indra ternyata tidak jauh beda dengan punyaku, standar cowok Asia lah.
Dokter cantik itu membaringkan diri menyamping di antara paha Indra, lalu mencium kepala penis Indra, batangnya dan akhirnya memasuk-keluarkan penis itu ke dalam mulutnya. Tangan kirinya memegang batang penis temanku itu sambil bibir dan lidahnya terus melakukan aksinya. Secara alamiah, kedua tanganku bergerak melucuti rok spannya hingga lepas lalu disusul celana dalamnya. Kini ia telah telanjang bagian bawah, tinggal memakai atasan berupa kaos yang sudah tersingkap dan jas dokternya. Kuamati dengan nanar kewanitaan Dokter Lea, vaginanya ditumbuhi bulu yang tebal tapi teratur. Agaknya ia rajin merawatnya, sebab bulu-bulu itu dicukur rapi, belahannya nampak menggairahkan membuatku tak sabar untuk segera menikmatinya. Kuraba wilayah segitiga kenikmatan itu, jari-jariku mengusap-usap bibir vaginanya lalu kugerakkan keluar masuk ke belahannya.
“Auuwww, aaahhh, enak Ric … terusin ya!” desis Dokter Lea sambil menggeliatkan pinggulnya dengan indah.
Setelah beberapa saat mencucuk-cucuk vaginanya dengan jari sampai wanita cantik itu menggeliat-geliat, kini aku mendekatkan wajahku ke selangkangannya dan lidahku kujulurkan ke belahannya yang telah becek.
“Ooooohhhh…!” desahnya sambil mempercepat gerakan mulutnya terhadap penis Indra.
Jariku membuka vaginanya hingga klitorisnya terlihat. Kuciumi biji kecil itu sambil sesekali melakuan gerakan menyedot. Bagian sensitif itu sudah tegang sebesar biji kacang hijau. Indah sekali bentuknya, apalagi ketika kukuakkan labianya bagian atas klitorisnya. Kedua labianya kupegang dengan kedua tanganku dan kubuka lebar-lebar lalu dengan lembut kujulurkan lidahku menusuk makin dalam ke vaginanya.

“Aaaaaahhhhhh ….Ric pinter juga ya kamu!” Dokter Lea berusaha mengendalikan erangannya namun sesekali suaranya meninggi tanpa terkendali.
Aku melakukan gerakan mencium, menjilat, menusuk, menyedot secara bergantian, bahkan tak urung kuisap klitoris dan kedua labianya secara bergantian, hingga erangan dan rintihannya semakin keras.
“Ahhh, yes...eeemmm!” Indra yang sedang dioral penisnya juga meracau tak karuan.
Kepala Dokter Lea naik turun mengoral penis temanku. Tangan Indra tidak tinggal diam, ia meremas-remas payudara Dokter Lea dan memilin-milin putingnya.
Cairan kewanitaan Dokter Lea keluar semakin banyak saja. Kusedot dan kutelan cairan bening itu dengan nikmatnya, gurih rasanya. Tangan kanannya kini memegang belakang kepalaku dan menekankannya kuat-kuat ke selangkangannya sambil menggeliat-geliat seksi. Agaknya ia sudah orgasme. Kurasakan aliran cairan menyembur dari dalam vaginanya yang langsung kuseruput seluruhnya dengan bernafsu. Ia menolakkan kepalaku, mungkin merasa jengah karena kuisap seluruh cairannya, tanpa mau menyisakan sedikit pun. Aku tidak mengikuti perlakuannya, tapi terus menekan wajahku menjilati sisa cairan orgasmenya yang masih berleleran. Aku masih melumat vagina Dokter Lea ketika ia mengangkat wajahku lalu mencium bibirku.
“Good start Ric, mantap!” pujinya
Kulihat Indra terpengaruh atas orgasme Dokter Lea
“Sekarang aja ya Dok, saya belum dapet nih!” ajaknya
“Aaahh...oke, tapi saya masih capek sih, jadi di bawah ya,” Dokter Lea menelentangkan dirinya di ranjang tersebut setelah sebelumnya melepaskan jas dokter, kaos dan bra nya hingga bugil total.
“Ric...tolong taro di kursi situ aja!” pintanya padaku
Aku pun melakukan permintaannya, sekalian aku melepas celana dan celana dalam lalu kuletakkan di dekat pakaiannya. Setelah itu aku kembali ke ranjang tempat peraduan kami. Indra telah mengambil posisi di antara paha Dokter Lea dan menggesek-gesekkan penisnya ke bibir vagina dokter cantik itu. Dokter Lea nampak naik lagi birahinya atas perlakuan Indra. Indra menekan penisnya hinggga melesak semakin dalam ke dalam vagina dokter itu. Dokter Lea sendiri menyambutnya dengan membuka lebar-lebar pahanya. Kedua kakinya dipentang dan dipegang oleh kedua tangan Indra. Dokter Lea lalu mengisyaratkan aku mendekatinya. Aku pun naik ke dadanya dan tangannya langsung meraih penisku.

“Keras nih...kayanya ga bakal mengecewakan, hihi...!” komentarnya.
“Ga bakal Dok, jaminan mutu boleh dicoba!” timpalku.
“Emangnya baygon, jaminan mutu!” ia mulai mengocok penisku pelan.
Sambil menyentuh penisku, perlahan-lahan ia dekatkan wajahnya ke arah pahaku dan menjilat kepala penisku.
“Eeemmm...sedap Dok!!” desahku nikmat.
Dokter Lea semakin liar bergerak menikmati tusukan penis Indra sambil melumat penisku. Kedua tanganku tidak mau tinggal diam dan meremas-remas kedua payudaranya dengan putingnya yang semakin mengeras itu. Genjotan penis Indra kulihat semakin kencang dan itu berpengaruh pada semakin kuatnya Dokter Lea menghisap penisku. Kurasakan kepala penisku menekan ujung tenggorokannya, tapi wanita ini  tidak peduli, ia sepertinya sudah ahli soal beginian, air liurnya menetes di sela-sela bibirnya yang tak kenal lelah mengoral penisku. Bahkan ketika seluruh penisku ia telan, lidahnya mengait-ngait lubang kencingku, rasanya agak panas, tapi geli bercampur nikmat. Aku ikut merintih tanpa kusadari. Plok...plokkk...plok....suara penis Indra keluar masuk semakin cepat. Penisku disedot kuat-kuat oleh Dokter Lea sehingga tanganku pun makin gemas meremas payudaranya.
“Ahhh, saya mau keluar Dok...yessshhh!” erang Indra ngos-ngosan

“Sama Dra...bareng ya? Oooohhhh, akkhhh … enak gilaa... yang dalam... aaauhhggghhhhh!!” rintih Dokter Lea semakin tinggi.
Desah orgasme Dokter Lea tak tertahankan ketika dengan hebatnya penis Indra menghunjam dengan cepat dan berhenti saat orgasmenya pun menjelang. Kedua pahanya menjepit pinggul temanku sementara mulutnya menelan penisku hingga ujungnya kurasakan menekan tekak tenggorokannya. Kuperhatikan tubuh wanita ini yang indah bergetar-getar beberapa saat. Aku menengok ke belakang, tubuh Indra pun menegang otot-ototnya sambil terus menusukkan penisnya lebih dalam. Aku turun melepaskan diri dari Dokter Lea agar ia lebih menikmati orgasmenya dengan utuh dan mengambil tempat duduk di pinggir ranjang.  Indra menghempaskan tubuh di atas tubuh Dokter Lea, sementara kedua tangan wanita itu memeluk temanku. Kuamati mereka berpelukan sambil bertindihan menikmati gelombang orgasme yang makin menyurut.
Tak lama kemudian, Dokter Lea berkata dari balik himpitan tubuh Indra, “Sekarang giliranmu ya Ric...yuk cepet mumpung masih jam jumatan nih, masih sepi!”
“Nggak apa-apa Dok, santai aja. Saya kan cuma nemenin Indra aja,” aku berbasa-basi
“Jangan gitu dong” Dokter Lea menolakkan tubuh Indra dan turun dari ranjang lalu mendekatiku. “kamu kan pendatang baru, masa saya belum memberi sambutan ke kamu” ia cium bibirku lembut sambil melingkarkan kedua tangannya ke leherku.
“Nah, sekarang kamu berbaring aja di ranjang” suruhnya padaku, “Dra kamu turun dulu, sempit ranjangnya tuh!”
Indra hanya mengangguk dan turun dari ranjang yang sebenarnya hanya muat satu orang itu untuk membiarkanku naik
“Giliranlu bro....enjoy!” katanya menepuk lenganku ketika aku hendak membaringkan diri.
Dokter Lea naik ke atas penisku lalu ia membuka kedua belah pahanya lebar-lebar. Rambut-rambut halus vaginanya memberikan nuansa romantis yang tak terlukiskan ketika bersentuhan dengan kepala penisku. Tubuh Dokter Lea benar-benar seindah pualam. Geliatnya begitu erotis, membuat pria manapun takkan mampu menguasai diri untuk tidak menyetubuhinya dalam keadaan begitu rupa.

“Ayo Ric, ga usah malu-malu gitu, tiap member orgy club ga perlu sungkan soal ginian” rayu Dokter Lea sambil mengelus rambutku, kuamati wajahnya dari dekat, benar-benar cantik, di balik wajah wanita berintelektual tinggi ini ternyata mengandung gairah yang tinggi, payudaranya bersentuhan dengan dadaku
Tanganku mengelus-elus lengan dan perutnya. Ia menarik pergelangan tanganku agar mengelus dan meremas payudaranya. Kini aku mulai beroperasi di bagian dadanya dan memainkan putingnya yang kembali mengeras akibat sentuhan jari-jariku. Kupilin-pilin putingnya dengan lembut dan kudekatkan mukaku ke payudaranya. Lidahku kujulurkan menjilati puting payudaranya memberinya sensasi geli, setelah itu kumasukkan putingnya ke dalam mulutku sambil melakukan gerakan menyedot.
 “Ooogghh, ya, yahh, gitu enak Ric! ” desisnya
Disemangati begitu, kedua payudaranya makin kuremas sambil terus mengisap, memilin, menyedot putingnya dengan gerakan bervariasi, kadang-kadang lembut, kadang ganas, hingga pemiliknya menggeliat-geliat nikmat. Kurasakan tangannya yang lembut meraih penisku dan menyentuhkan kepalanya pada bibir vaginanya. Ia menggelinjang-gelinjang antara geli dan nikmat.
“Ooouggghh, kita mulai aja yahh! Udah ga tahan nih” erangnya.
Aku mengiyakan saja mengikuti permintaannya, ia terus memainkan penisku menggesek klitorisnya hingga kurasakan semakin tegang ditekan oleh kepala penisku. Ia menurunkan tubuhnya setelah bibir vaginanya tepat pada kepala penisku
“Eeemmmhh...” lenguhnya merasakan penetrasi penisku pada vaginanya
Secara perlahan ia mulai menaik-turunkan pinggulnya menyambut masuknya penisku yang melesak makin ke dalam.
Indra memandang ke arahku sambil tersenyum. Kini ia berdiri di samping ranjang dan meraih payudara Dokter Lea dan mengenyotnya.
“Aaaahhh …… ” erang Dokter Lea lagi, tangannya memeluk kepala Indra yang menyusu darinya.
Gerakannya menaik turunkan tubuh di atas penisku berlangsung dengan ritme pelan, tetapi kadang-kadang ia menyelinginya dengan gerakan cepat dan dalam. Rintihan nikmat terdengar dari mulutnya
“Oohh...yahh...enak...isep Dra, isep yang kuat!”
Pinggulnya sesekali berputar sehingga penisku seperti sedang mengaduk. Semakin lama gerakan pinggulnya makin tak menentu. Aku sendiri terkadang aktif menggerakkan pinggulku sehingga penisku semakin menghantam-hantam vaginanya. Seiring gerakanku makin bertenaga, desahannya pun makin kuat mengarah pada jeritan, namun ia masih berusaha meredamnya dengan menggigit bibir atau jarinya sendiri. Dengan beberapa kali hentakan ke atas kubuat tubuh Dokter Lea semakin bergetar, kurasa sebentar lagi ia segera menggapai puncak kenikmatan.
“Ric, terusin ….udah mau nih, ooohh!” ia menggeram sambil menyentak-nyentakkan tubuhnya semakin cepat.
Jari-jari tangannya memeluk punggung Indra dengan erat. Dinding vaginanya semakin berdenyut-denyut memijati penisku, sentakannya kadang membuat buah pelirku ngilu tapi perasaan itu bercampur dengan kenikmatan luar biasa. Kurasakan guyuran cairan kewanitaannya membasahi penisku sedemikian rupa hingga tak kuasa kubendung luapan spermaku memasuki rongga vaginanya.
“Dokter....!!! ngecrot nih!” desahku sambil meremas payudaranya
Ia pun akhirnya ambruk menindihku setelah Indra melepaskan pelukannya. Kuciumi bibirnya rapat-rapat dan ia pun menyambut ciumanku. Kurasakan bibir kami berdua agak dingin, sebab aliran darah kami seakan-akan terdesak ke bagian bawah. Kedua belah pahanya menjepit kedua pahaku dengan kuatnya dan jepitan vaginanya seolah-olah ingin mematahkan batang penisku. Dinding vaginanya masih berdenyut-denyut memilin penisku.Beberapa kali aku mendorong tubuhnya tapi ia tak mengijinkan tubuhku meninggalkan tubuhnya.
“Buru-buru amat? Peluk aku Ric...saya suka diberi kehangatan!” katanya.
Mulutnya masih terus menciumi mulutku hingga bibir kami kembali berpagutan dan lidahnya masuk rongga mulutku menggapai langit-langit mulutku. Kulakukan hal yang sama bergantian dengannya. Cairan orgasme kami mengalir di selangkanganku, juga kuperhatikan membasahi wilayah kewanitaannya. Penisku menyusut setelah melakukan tugasnya dengan baik. Aku melepaskan diri dari pelukannya dan berbaring di sebelah sebelah kiri tubuhnya Sungguh sensasi yang terlukiskan nikmatnya. Lama kami berpelukan dalam posisi berdekapan. Elusan jari-jari Dokter Lea di tubuhku membuatku tak habis pikir, betapa dahsyat permainan wanita ini. Ia memiliki kekuatan melawan dua pria sekaligus.

“Oh gitu...jadi akhir minggu ini kalian bakal party bulanan?” Dokter Lea telah berbenah diri dan duduk di belakang meja kerjanya.
“Iya Dok, kalau bisa dateng dong ya...sejak member setahun lalu baru pernah sekali ketemu dokter di party loh saya!” kata Indra
“Ya gimana ya...maaf sekali, bukannya ga kepingin, tapi tuntutan profesi, jadwal padat...yang kali ini juga gak bisa keliatannya, ada shift malam di rumah sakit” ujar Dokter Lea tersenyum, “tapi kalau kalian mau datang ke rumah sakit, welcome banget kok saya...jam malem gitu kadang enak ada yang nemenin” lanjutnya.
“Yah...pengennya sih dokter ke party, ya udah deh....oke kita cabut dulu ya dok! Tar lagi ada kuliah lagi” pamit Indra setelah melihat jam tangan.
“Yuk Dok, kita pamit dulu, sampai nanti ya!” aku juga pamitan.
“Oke bye-bye guys” Dokter Lea bangkit dan mengantar kami ke pintu.
“Wei...ngehe lo...ga bilang-bilang kalau Dokter Lea ex-member!” aku menonjok pelan lengan Indra yang tertawa menang atas diriku.
“Huehehehe...ya salah lu juga ga nyelidikin dulu malah langsung main ketawain gua” katanya, “terus gimana nih taruhannya Ric?”
“Oke...oke gua isiin pulsa lu nanti, lu emang partner in mupeng sejati hahaha....” aku merangkul pundaknya dan berjalan meninggalkan gedung itu.
Tidak apa deh membayarkan pulsa 100ribu untuk temanku ini juga, tidak ada artinya dibandingkan bisa mendapat pasangan seks baru, Dokter Lea yang cantik dan montok itu. Aku dan Indra sedikit berlari memasuki ruang kuliah karena kami sudah agak terlambat. Untunglah Bu Tri yang galak itu belum menutup pintu sehingga kami masih boleh masuk kelas. Satu setengah jam ke depan aku mengikuti kuliah ini seperti biasa. Seusai mata kuliah ini, Indra meninggalkanku karena ada urusan, sedangkan aku masih harus menunggu karena masih ada kuliah berikutnya satu setengah jam lagi. Aku bermaksud menunggu di perpustakaan sambil baca-baca, saat berjalan ke sana aku melewati taman kampus dan bertemu lagi dengan Dokter Lea. Ia sedang bersama seorang bocah laki-laki yang memakai baju seragam taman kanak-kanak yang letaknya tidak jauh dari kampus ini. Anak itu berlari-lari di dekatnya dengan membawa robot-robotan sambil disuapi oleh seorang baby sitter yang sibuk mengejar-ngejarnya.
“Siang Dok!” sapaku menghampirinya, ia juga membalas hai dengan senyuman, “sama keponakan? Atau pasien?”
“Ooh bukan...anak” jawabnya, “Albert! Come here, say hello to uncle!” panggilnya pada anak itu.

“Hah! Anak!?” aku tersentak dalam hati, tidak kusangka Dokter Lea ternyata sudah punya anak sebesar ini, padahal masih terlihat begitu muda dan ramping, selain itu rasa vaginanya juga masih seperti wanita yang belum pernah melahirkan, hampir tidak percaya aku dibuatnya.
“Hi Albert...hello!” aku mengulurkan tangan dan ia dengan malu-malu menjabat tanganku, kuperhatikan wajahnya memang ada kemiripan dengan ibunya, terutama mata dan hidung, wah...ternyata dokter satu ini memang MILF, yes...I like it!
“Pake Inggris ya omongnya?” tanyaku setelah anak itu kembali sibuk dengan mainannya.
“Ya campur lah, kan sekolahnya pake Inggris pengantarnya” jawab dokter cantik itu.
“Eeemm...iya emang sekarang banyak sekolah yang standar internasional ya...”
“Kamu masih ada kuliah ya Ric?” tanyanya
“Iya bentar lagi Dok, kan sekarang lagi tunggu...kalau dokter, kapan pulangnya?”
“Sebentar lagi, makanya dia kesini jadi sekalian pulang abis ini”
“Dijemput sama papanya Dok?”
“Papanya...” tiba-tiba air muka Dokter Lea berubah, “nggak...saya single parent kok”
“Ups...maaf Dok” aku merasa tidak enak karena sepertinya mengorek kehidupan pernikahannya yang kelihatannya tidak berjalan mulus.
“Hihihi maaf apaan sih...kamu gak salah apa-apa kok maaf” dia mulai tersenyum lagi.
Aku buru-buru mengalihkan topik pembicaraan, kami duduk di bangku batu dekat situ dan ngobrol. Dokter Lea ternyata teman ngobrol yang menyenangkan,sehingga kami cepat akrab seperti teman lama, padahal aku pada dasarnya bukan pria yang supel. Obrolan kami semakin seru, dia bercerita dan terus berkembang hingga tidak terasa setengah jam berlalu, Aroma tubuhnya harum membuat darah lelakiku bergolak keras apalagi mengingat kejadian tadi pagi bersamanya.
“Eeehhmmm...Dok, omong-omong tadi pagi puas ga?”aku beranikan diri aku mengajukan pertanyaan nakal dengan suara pelan
Dia terdiam beberapa saat dengan pandangan ke arah anaknya yang sedang bermain, wah...aku sudah berpikir jangan-jangan dia marah nih. Lalu dia menoleh ke arahku
“Ric...saya sudah tampar kamu...” ketika dia berkata begitu nafasku tertahan karena malu telah bertanya seperti itu, “kalau kamu bukan anggota klub”
Barulah aku lega mendengar kalimat lanjutannya itu.
“Tapi saya kan udah anggota Dok, jadi gimana?”
“Hussshh....jangan omong macem-macem ah, disini ada anak saya tau”
“Kalau di ruang praktek boleh Dok?”
“Saya udah mau pulang Ric” jawabnya enteng, “tapi sebelumnya mau beres-beres dulu, kalau mau bantu saya yuk kita kesana”
Saat itu Albert sudah menghabiskan makannya dan berlari ke arah mamanya dengan manja.
“Albert, you play here for a while ok, mom will be back soon!” kata Dokter Lea sambil berjongkok dan memegang kedua pundak buah hatinya itu, “Sus, main-main aja deket sini, saya mau beres-beres dulu!”
“Iya Bu!” sahut si babysitter, “yuk sini Bert!”
“Yuk Ric...kita bicara di dalam aja!” ajak Dokter Lea setelah mengecup pipi anaknya.
“Albert bye-bye!” kataku pada anak itu yang dibalas senyumannya.
Iblis dalam diriku juga berkata, “I’m going to fuck your Mom for a while Boy...hehehehe!”
Aku mengikuti Dokter Lea yang sudah mendahuluiku di depan. Aku suka MILF satu ini, gaya pancingannya bener-bener cool.

“Kunci pintunya” perintahnya seraya berjalan ke arah jendela dan menutup tirai setengahnya.
Begitu berbalik badan setelah mengunci pintu, Dokter Lea langsung memelukku erat sekali.
“Uuuffff...Dok …”
Tanpa banyak babibu lagi bibir kami langsung berpagutan. Lidahnya yang lincah dan ahli langsung menelusuri rongga-ronga mulutku. Tangannya turun ke bawah mengelusi selangkanganku yang sudah menggeliat dari balik celanaku. Kali ini ia menunjukkan sisi agresifnya dibanding ketika pertama bercinta beberapa jam yang lalu. Sambil masih berpelukan, aku menggeser tubuhnya menuju ke mejanya. Ia menaikkan pantatnya pada tepian meja, matanya menatapku tajam, menantang dan penuh nafsu. Aku tak tahan lagi, kusingkap kaos di balik jas dokternya hingga tampaklah kedua gumpalan daging kenyal putih yang seakan sesak tertutup bra krem. Gumpalan itu tampak lebih menonjol, karena posisi dadanya agak membusung. Kemudian kunaikkan juga kedua cup bra itu sehingga sepasang buah dadanya yang bulat, menonjol, kenyal, putih, bersih tampak seluruhnya di hadapanku. Sepasang putingnya telah mengeras. Tak ada yang bisa kuperbuat selain menyerbu sepasang gunung indah itu dengan mulutku.
“Ooohhh...Ric!” Dokter Lea merintih keenakan ketika kujilati dan kukenyot putingnya.
Aku sadar harus main quickie karena waktu tidak banyak, maka sambil mengeksplorasi payudaranya dengan mulutku, tanganku yang satu membuka celanaku dibantu tangannya. Ia sudah terlebih dahulu mengeluarkan penisku sebelum aku sempat menurunkan celana dalamku membuatku makin tegang aja. Lalu, dengan perlahan dia membantu menurunkan celana dalamku. Celana panjangku telah melorot jatuh ke lantai dan celana dalamku menyangkut di pahaku, penisku sudah mengacung tegak di depan Dokter Lea, ibu muda yang cantik dan sexy itu.
“Kamu yang ajak, jadi awas kalau ga memuaskan ya!” katanya sambil menatap penisku.
“Beres Dok, dijamin!” sahutku sambil menyingkap roknya dan menarik lepas celana dalamnya.
Celana dalam itu pun terlepas dan kuletakkan di meja itu. Dokter Lea membuka kakinya lebih lebar, klitnya pun semakin terlihat jelas, merah jambu dan berlendir, siap untuk ditusuk. Aku langsung menempatkan pinggulku di antara pahanya yang membuka dan kami berciuman lagi. Tangan kananku membimbing penisku mencari lubang sasarannya, akhirnya kepala penisku menempel pada bibir vaginanya yang basah dan mulai kutekan.

“Uuuuuhhhhhh....eeemmmhhh!” rintihnya, padahal baru kepala penisku saja yang masuk..
“Ouufff ...pelan please!” ia menahan dadaku ketika aku menekan lebih keras.
“Oh...maaf Dok! Sori terlalu nafsu”
Aku coba lebih lembut, menusuk pelan-pelan tapi pasti sampai akhirnya penisku tenggelam seluruhnya. Vaginanya memang sungguh sempit, gesekannya amat terasa di batang penisku.
“Eeeehhmmm....enak Dok, sempit, padahal kan Dokter dah punya anak!” kataku sambil menggenjot dengan tempo sedang.
“Aaahh....aaahh...saya kan dulu sesar!”
“Oohh...pantes masih legit hehehehe....”
Tempo genjotanku pun kunaikkan sampai mejanya berderit-derit setiap aku melakukan gerakan menusuk.
“Uuuhh....Ric...kamu sadar siapa yang lagi kamu entot ini? Saya dokter kampus, ibu dari seorang anak! Ini hubungan terlarang...berani-beraninya kamu!” katanya sambil menatapku dengan matanya yang sayu.
“Tapi kan dokter anggota klub...jadi bebas dong ya ga?” kataku sambil terus menggenjot vaginanya sampai ia tidak bisa menahan erangannya sehingga harus menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Aku menyingkirkan telapak tangannya dan memagut bibirnya sehingga erangannya teredam. Ketika kurasakan gelombang klimaks itu akan tiba, saatnya mempercepat pompaan. Penisku makin berdenyut-denyut siap memuntahkan sperma. Ketika hendak mencabut penis untuk dikeluarkan di luar guna menghindari ‘kecelakaan’ sepasang kakinya menjepitku menahanku mencabut penisku, tangannya juga memelukku semakin erat saja. Karena memang aku tak mampu menahan lagi, kusemprotkan kuat-kuat spernaku ke dalam vaginanya, sambil mengejang dan melenguh. Dia juga mencapai orgasmenya tidak lama setelah aku sehingga kurasakan kehangatan di bawah sana, cairan orgame kami sudah pasti membasahi meja di bawahnya. Tak lama kemudian, tubuh kami melemas saling berpelukan. Kami dapat merasakan dengus nafas masing-masing yang ngos-ngosan.

“Thanks ya Ric…singkat tapi puas!” kata Dokter Lea sambil membelai pipiku.
“Oh masa?“
“Iya bener...kamu hebat mainnya”
“Ah...Dokter terlalu muji deh, saya biasa aja kok, malah masih kalah liar dibanding dokter”
“Kamu tau Ric, profesi saya menuntut kedisplinan dan ketelitian, ditambah peran sebagai single parent, itu semua gak mudah, stress udah hal biasa” curhatnya sambil mengelus-elus dadaku, “suami gak punya, pacar juga yah setidaknya belum dulu sampai sekarang ini, karena itu Ric, kalau lagi ada waktu senggang di luar itu saya sangat menikmati peran saya sebagai...wanita nakal...yah sangat nakal, dimana saya bisa mengekspresikan hasrat sebebas-bebasnya. Di klub inilah saya menemukan yang saya perlukan, bukan sekedar seks, tapi juga teman”
Tiba-tiba terdengar suara pesan masuk, Dokter Lea mengambil BB dari kantong jas dokternya dan membaca pesan itu.
“Sepertinya kita harus udahan dulu, kamu juga sebentar lagi kuliah kan?” ia melepaskan diri dari dekapanku dan turun dari meja.
“Wah mejanya jadi basah Dok!” aku hendak mengambil tissue untuk membersihkan cairan hasil persetubuhan kami yang berleleran di tepi meja.
“Gapapa Ric, tar saya bersihin, kamu mending cepet beres-beres biar gak telat!” katanya sambil berbenah diri, ia mengambil celana dalamnya di atas meja dan memakainya kembali.
“Lain kali kalau senggang kita bisa main lagi ok” katanya tersenyum “oh ya...saya pakai IUD, jadi feel free aja kalau kita ML”
“Oh gitu”
“Yup...satu anak aja udah cukup repot, jangan sampai tambah lagi, setidaknya belum dulu sampai saat ini” katanya lagi, “terus...ini kartu nama saya!" ia mengeluarkan kartu nama dari dompetnya dan menyodorkannya kepadaku.
Kuterima kartu nama itu. Tertulis nama lengkap beserta gelarnya, Dr. Lea Kumalasari Sp. PD-KGH, di bawahnya tertera rumah sakit tempatnya bekerja dan juga alamat rumah dan nomor HP.
“Spesialis penyakit dalam...KGH nya apaan Dok?”
“Konsultan Ginjal Hipertensi” jawabnya, “O ya, salam buat anak-anak di kost ya!”
“Oke deh...dokter juga kapan-kapan main ke kost dong, ya...ya...!!” godaku sambil memeluk tubuhnya.
“Kamu ini, kan udah saya bilang jadwal saya padat, harus urus anak juga...tapi kalau ada waktu saya coba ke sana sekalian nostalgia!” ia mendorong dadaku pelan dan berjalan ke arah pintu, “O iya, Amel masih kost di situ kan Ric?”
“Amel...mata gede, rambut panjang sedada itu?” aku mencoba memastikan.
“Iya...dia kayanya angkatan kamu deh”
“Masih kok, angkatan atas saya itu sih Dok” jawabku, “emang ada apa sama dia Dok?”
“Ngga...cuma tanya, salam aja buat dia” katanya
 “Ya udah deh, saya kuliah dulu ya Dok....dadah” aku pamitan sambil mencium ringan bibirnya dan meninggalkan ruang klinik kampus dengan hati puas.

Amelia

Sungguh hari yang menyenangkan, aku menuju ruang kuliah dengan hati puas. Beberapa orang sudah menunggu di kelas ketika aku tiba. Setelah menyapa beberapa orang aku mencari tempat duduk dekat jendela supaya dapat udara segar. Aku duduk lalu mengecek BB sambil menunggu si dosen datang.
“Hai kayanya senang banget hari ini!” sapa Amel yang tiba-tiba sudah di sebelah, ia menarik bangku kosong di sebelahku dan duduk di sana.
“Hehe...gokil juga nih” kataku lalu membacakan sebuah status lucu di facebook salah satu temanku.
“Bukannya senang karena kenal sama dokter cantik?” kata Amel lagi yang membuatku agak kaget, “romantis banget di taman tadi, gua kira lu bapaknya anak itu” lanjutnya dengan nada agak sinis seperti biasa.
“Oohhh....itu hehehe...Dokter Lea, itu Indra yang ngenalin, gak nyangka dia anggota klub juga ternyata” kataku, “kita sempat threesome tadi pagi, si Indra tuh yang mulai” aku memelankan suara.
“Wow...jadi sudah sejauh itu, ckk....ckkk...ckk...” ia geleng-geleng kepala.
“Eh iya, Dokter Lea juga titip salam ke kamu Mel, kayanya kalian kenal deket ya?”
“O thanks, tapi gua tolak salamnya!” katanya datar.
“Hah...ada apa emang di antara kalian Mel?” kayanya lu sinis banget nadanya daritadi,” ooo...gua tau, lu cemburu ya hahaha...!”
“Ihhh...apaan sih lu, ngapain juga cemburu ke lu?” wajahnya berubah masam, “please jangan omong sembarangan yah!”
“Eh, sori bukan maksud gitu, emang ada apa sebenernya antara kalian?”
“Ini urusan pribadi gua, sori gua pindah ke belakang, temen-temen gua udah dateng”, lalu ia berdiri meninggalkanku begitu saja.
Aku tiba-tiba jadi tidak enak melihat reaksinya, entah ada apa dengannya dan Dokter Lea, sepertinya ia tidak mau diajak bercanda soal ini. Tak lama kemudian dosen pun datang dan aku mengikuti kuliah seperti biasa, Amel tidak sedikitpun melihat ke arahku selama itu, nampaknya ia marah atau tersinggung padaku yang aku belum mengerti dimana salah kataku sampai dia begitu. Usai kuliah aku masih harus bertanya beberapa hal mengenai tugas pada dosen sementara Amel sudah keluar bareng teman-temannya sehingga aku pun kehilangan jejaknya. Setelah semua selesai, aku berjalan ke parkiran motor, hatiku sedikit galau, tidak enak pada Amel. Aku ingin segera pulang menemuinya di kost dan menjelaskan semuanya.
“Ehhh! Mel!” sapaku merasa senang melihatnya di tangga, “tadi itu...sori...!”
“Udahlah gua bukan mau omongin itu, cuma mau tanya lu ada kegiatan lagi ga?”
“Ga, mau pulang ini, napa emang?”
“Bisa anter gua Ric, ikutin aja petunjuk gua, jangan tanya-tanya dulu”
“Emm...oke, boleh, yuk!” aku agak heran juga dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah, tadi marah sekarang minta tolong.

Kami meluncur sampai ke sebuah daerah yang tidak terlalu jauh dari kampus, tapi aku baru pernah menginjakkan kaki ke sini, daerahnya agak menanjak, sepi, dan rumah-rumah di sana keren-keren.
“Ini sih daerah elit!” kataku dalam hati.
“Kita kemana nih Mel?” tanyaku penasaran.
“Depan sana belok kanan” katanya mengarahkan, sepanjang jalan ia tidak bicara apapun selain menunjukkan arah tujuan kami.
“Itu Ric, yang tingkat dua itu, yang ada pohon cemara di depannya!” katanya.
Akhirnya sampai juga kami di tujuan, sebuah rumah yang megah, letakknya lebih tinggi dibanding rumah lainnya. Amel turun dari motor dan memencet bel di sebelah gerbang.
“Rumah siapa nih Mel? Sodara? Temen?”
“Ngga...ini rumahnya om Dedy, di sini kita biasa ngadain arisan bulanan Ric, nanti lu juga diajak kok ke sini, nah sekarang gua ajak liat-liat dulu”
‘Oohh ya...wah baru tau gua Mel, bukannya setau gua mereka tinggalnya di kompleks deket kost kan?”
“Iya, yang satu ini juga, yang ini lebih berfungsinya ke arah guess house,  kalau ada rekan bisnis atau famili mereka dateng biasa tempatin di sini sama ya itu you know lah...yang lain udah cerita kan, tapi kadang mereka tidur di sini juga kok” jelasnya tersenyum tipis.
“Aaah...Non Amel! Ayo Non masuk!” sahut seorang pria setengah baya bertopi yang datang membukakan gerbang.
Aku pun memasukkan motorku ke pekarangan rumah itu.
“Di sini gapapa Pak?” tanyaku.
“Iya gapapa situ aja” jawab pria berpostur pendek tersebut.
“Pak Iqbal...ini Rico, anggota baru...Ric ini Pak Iqbal, penjaga di sini” Amel memperkenalkan kami setelah aku mematikan mesin dan turun dari motor.
“Hehe...anggota baru yah Den” pria itu mengulurkan tangan padaku yang kusambut jabat tangannya, “kalau perlu apa-apa disini bilang Bapak aja yah!” katanya ramah.
“Pak, kita ke dalem dulu yah, ga ada siapa-siapa?” tanya Amel.
“Oh, silakan Non hehee...ga ada siapa-siapa kok hari ini”
“Yuk Ric!” Amel lantas meraih lenganku dan menuntunku ke pintu depan sementara aku masih mengagumi pekarangannya yang indah dan tertata rapi itu.

Pak Iqbal

“Eeennnggg...Non!” panggil Pak Iqbal, Amel pun membalik “anu...kan udah lama” tangannya tanpa malu-malu mengelus pantat Amel yang terbungkus celana jeansnya.
Amel melepaskan tanganku sejenak, lalu ia berpagutan bibir dengan pria itu dengan panasnya. Amel agar merendahkan tubuhnya karena ia lebih tinggi. Mereka beradu lidah di depanku tanpa risih, tangan pria tua itu menggerayangi payudara montok Amel dan pantatnya, adegan itu berlangsung sekitar 2-3menitan.
“Eemmhh...udah dulu ya Pak” Amel mendorong pelan pria itu ketika ia hendak menyingkap kaosnya, “gak sekarang, oke” katanya.
“Hehe...iya deh Non, Bapak ngerti, eh sori Den Rico, kangen soalnya udah lama ga ketemu Non Amel” kata pria itu cengengesan padaku, “silakan masuk aja”
“Dasar...muka ramah tapi mesum juga nih si tua!” omelku dalam hati, panas juga hatiku melihat adegan mereka tadi.
“Mau minum apa Den? Non?” tanyanya dengan tetap tersenyum
“Teh dingin aja Pak, mau apa Ric?”
“Ehh...apa ya, air dingin aja deh Pak, lagi panas nih”
Amel lalu mengajakku memasuki rumah itu. Betapa aku terkagum-kagum menyaksikan interior di dalamnya yang elegan itu. Sebuah piano di sudut, minibar lengkap dengan botol-botol minuman keras berkelas di lemari kacanya, beberapa patung bergaya Eropa maupun Oriental nampak di beberapa tempat memberi kesan eksotis. Di tengah ruangan terdapat satu set sofa lebar dan panjang serta televisi berlayar flat dan lebar dengan permadani berbulu di bawahnya. Wah...jadi disini biasanya diadakan arisan bulanan penghuni kost yang lebih tepatnya pesta Caligula itu, aku jadi tak sabar ingin segera bergabung dalam pesta tersebut.
“Mel, gapapa emang nyelonong masuk ke rumah orang gini?” tanyaku
“Kan gua udah bilang, disini lebih ke guess house, termasuk kita ini yang member orgy club.”
“Ohh gitu, ic...ic deh!” kataku sambil terus mengagumi rumah mewah ini.
“Terus, lu ajak gua ke sini mau apa emangnya Mel?” tanyaku
“Gua lagi pengen berenang” ia melangkah ke belakang membuka sebuah pintu kaca yang lebar, di luar sana terdapat sebuah kolam renang yang berukuran sedang, suasananya begitu teduh dan nyaman dengan pemandangan sekitar yang indah.
“Emang lu bawa baju renang Mel?”
Ia tersenyum dan berkata, “Baju renang? Siapa yang butuh?” habis berkata ia mulai membuka celana panjangnya, kemudian kaosnya.

Aku terpana melihatnya melucuti satu demi satu pakaiannya di hadapanku, ia lemparkan bra krem dan celana dalamnya padaku dan tersenyum melihat reaksiku. Kini ia tidak mengenakan apapun lagi, tubuh polos itu sungguh ciptaan yang agung, sungguh indah.
“Skinny diping...pernah Ric?” aku menggeleng, “oke gua terjun dulu ya!” dengan santai ia menuju ke tepi kolam.
‘JBUR!’ ia menceburkan diri ke air, berenang hingga tengah, lalu berbalik badan ke arahku yang masih terpana.
“Ikutan ga? kok bengong kaya perjaka tingting gitu?” sahutnya.
“Oke...tunggu Mel, tunggu hehehe!” buru-buru aku melepaskan pakaianku hingga bugil dan ‘JBUR!’ aku menyusulnya masuk ke air.
Air kolam sungguh menyegarkan tubuhku setelah seharian kuliah dan di tengah cuaca agak panas ini. Aku segera berenang mengejarnya, ternyata Amel bagus juga berenangnya. Dengan gaya bebas ia dengan cepat mencapai ke ujung sana dan ketika aku hampir mencapainya ia menolakkan badan pada dinding kolam dan kembali berenang gaya bebas ke ujung yang lain.
“Aaaww.!!” jeritnya sambil tertawa-tawa ketika di tengah kolam aku berhasil menyusul dan kutangkap pergelangan kakinya, “Ric...aaahh...tenggelam nih....gglllpp!”
Kutarik tubuhnya turun ke bawah air, kami saling berguling-guling di dalam air. Dalam satu kesempatan aku berhasil memagut bibirnya. Kami pun bercumbu di bawah air selama beberapa saat hingga akhirnya karena kehabisan nafas, kami pun naik ke permukaan.
"Buaaaahhh...." kami ngos-ngosan mengambil udara segar, saat itu kami di daerah dimana air merendam tubuh kami hampir ke leher.
Kami tertawa-tawa dan saling menyiramkan air.
“Non...Den...minumnya Bapak taro sini ya, ini ada kripik singkong juga!” sahut Pak Iqbal dari seberang sehingga membuat kami menengok ke sana.
“Makasih ya Pak!” sahut kami pada pria setengah baya itu.
Pria itu lalu meninggalkan kami berdua di kolam renang. Kudekap tubuh Amel sehingga kami saling merapat satu sama lain. Kuusap rambutnya yang basah ke belakang sehingga dapat lebih jelas menatap wajahnya yang nampak lebih cantik di kala basah seperti ini. Mata kami saling bertatapan sekarang, 10 detik berlalu tanpa berkata-kata. Tatapan kami serasa makin kuat ada sesuatu yang ingin diucapkan dari tatapan mata kami. Kupeluk erat tubuhnya, kurasakan setiap inci kulit di tubuh kami menempel dan bergesekkan. Kehangatan tubuh lembut Amel mengaliri diriku, kurasa ia pun mengalami perasaan yang sama.
“Ric” ia pertama membuka suara
“Iya”
“Gimana kesan-kesan setelah gabung di club?”
“Hhhmm...gimana ya, awalnya pasti rada kaget lah, baru tau ada yang ginian di negeri ini, tapi sekarang mulai enjoy, banget malah”
“Jadi lu udah bisa bedain mana cinta mana seks sekarang?” tanyanya lagi.
“Hhhmm” aku mengangguk

Aku menundukan kepala dan mencium bibirnya yang dibalasnya dengan lembut. Lidahku menjilati bibirnya yang membuka perlahan
“Umhh.” Amel menggelinjang saat lidah kami mulai saling beradu.
Ia memiringkan sedikit posisi kepalanya, dan tangannya merangkul leherku. Ciuman kami pun semakin dalam dan penuh perasaan. Lidah kami saling belit dan bertukar ludah, sungguh nikmat rasanya. Sesekali aku memainkan lidah di rongga atas mulutnya, ia meresponnya dengan menjulurkan lidahnya dan menggesek bagian bawah lidahku. Kedua tanganku di dalam air berada aktif menjamahi tubuhnya. Kuremasi kedua buah pantat Amel dan tangaku yang satunya membelai punggungnya dengan lembut. Aku dapat merasakan gelinjangnya dalam pelukanku, ia juga merabai dadaku dengan jemarinya yang lentik. Percumbuan kami berlangsung cukup lama juga hingga akhirnya aku melepaskan bibir kami dan menatap matanya dalam-dalam.
“Mel...gua say...” kuutarakan isi hatiku padanya, namun sebelum selesai ia menempelkan dua jarinya di bibirku.
“Jangan ucapin itu Ric..please” katanya.
“Tapi ini...”
“Jangan Ric...gua udah dua kali mendapat kata itu atau apapun sinonimnya, lalu gua balas mereka seperti apa yang mereka katakan itu dengan tulus, tapi apa yang gua dapat akhirnya? Semuanya palsu! Mereka cuma mau tubuh gua, seudah dapet mereka bisa seenaknya cari perempuan lain atau duain gua” suaranya sengau seperti mau nangis, “di club juga bisa seenaknya mendapat tubuh, tapi ga perlu pakai cara yang menyakitkan seperti mereka, karena itu gua gabung dan mulai menikmatinya, gua ga butuh kemunafikan, gua ga butuh kata-kata gombal...” ia lalu memelukku erat, terdengar ia sesegukan di dekat telingaku.
Aku terdiam sesaat mencoba mengerti dirinya dan kuelus-elus punggungnya, aku baru sekali mengalami pengkhianatan cinta, ia sudah dua, aku tidak ingin jadi yang ketiga.
“Gua ngerti Mel, pacaran emang berisiko terluka, gini aja, kita bukan pacaran, tapi TTM-an, gimana?” kataku melepaskan pelukan dan memegang erat kedua lengannya, “ya bisa diartiin temen tapi mesra juga bisa teman tapi mesum, jadi sex is only sex, lu bebas sama siapa aja, gua juga gitu, tapi sisanya kita jalani seperti pacaran, kita saling ngasih perhatian khusus? Jadi kalau gua ga akan jadi yang ketiga seandainya kita gak cocok nanti, kita tetap teman seandainya harus pisah nanti tanpa harus meninggalkan luka di hati masing-masing”
Amel diam, matanya terus menatap mataku.
“Seperti Alex sama Sabrina atau seperti Kak Angel juga gitu kan, inget? Kan mereka juga kelihatannya bisa menjalankan” kataku melanjutkan, aku teringat pada Alex si freak itu, sebelum aku tahu semua di balik kost aku sudah merasakan kalau Alex punya hati terhadap Sabrina, walaupun orangnya cuek, beberapa kali aku melihatnya membeli makanan untuk Sabrina atau perhatian lain yang sepertinya sepele seperti bertanya sudah makan atau belum, bagaimana ujiannya tadi, juga pernah beberapa kali menjemput Sabrina dengan motornya. Sabrina juga bukannya tidak menyadari dan ia pernah mengatakan hal itu padaku, tapi mereka belum pacaran resmi, setelah menjadi member club barulah aku tahu hubungan mereka seperti itu.

“Gapapa Mel, lu ga perlu jawab sekarang kalau memang belum siap” aku membelai rambut basahnya melihatnya terdiam terus, aku tidak ingin membuatnya tersudut, “eh...minum dulu yuk, gua ambilin yah!” aku membalik badan hendak berenang ke tepi.
“Ric” ia memanggilku dan meraih lenganku, “lu mau jawaban kan?”
Ia melingkarkan lengannya ke leherku dan menciumku kembali. Kami pun kembali terlibat percumbuan dan saling berpelukan erat penuh perasaan. Tangan kanannya meraba penisku di bawah air. Sementara ciumanku merambat ke telinganya.
“Ahh.. Ric!!”
Setelah puas dengan telinganya, jilatanku mengarah ke lehernya. Tanganku meraih kedua lekukan lututnya lalu kuangkat sebatas dadaku sehingga ia melayang di air dengan payudara tepat di depan wajahku. Tanpa basa-basi lagi aku langsung melumat payudara kanannya,
“Eeemmhhh enak…teruss” desahnya
Kepala Amel mendongkak ke langit. Jilatanku dari bulatan payudaranya mengarah ke putingnya. Lidahku bermain-main di areolanya, lalu melahap putingnya. Kusentil-sentilkan lidahku di puting itu dan menghisapnya sehingga membuatnya semakin menggelinjang.
“Yess disitu… sedot terus, jangan berhentiii…. Uhhh…”
Mendapati respon seperti itu, aku pun semakin bernafsu. Kuhisap puting itu dengan gemas.
“Ke tepi yuk Mel!” kataku setelah puas menyusu selama beberapa saat sampai meninggalkan bekas cupangan pada payudaranya.
Amel mengangguk, aku pun menggendongnya dalam posisi yang masih sama ke tepi, ia melingkarkan tangannya pada leherku sebagai topangannya.
“Duduk Ric, santai aja, sekarang gua yang servis lu!” suruhnya, aku pun duduk dan menyandarkan punggung ke dinding kolam di daerah dangkal itu, “pernah disepong di air?” tanyanya dengan senyum nakal dan memegang penisku yang sudah tegang, aku menggeleng.
Tanpa banyak omong lagi ia masuk ke air dan menangkap penisku dengan mulutnya.
“Uuuuhh!” erangku merasakan penisku dikulum di bawah air sana.
Lumayan lama juga Amel bisa bertahan sampai akhirnya ia mengeluarkan kepalanya dari air dengan nafas sedikit ngos-ngosan.
“Lagi?” tawarnya dengan senyum nakal
“Iya dong, sip banget Mel!” pujiku.

Amel kembali masuk ke dalam dan mengoral penisku. Kunikmati pelayanannya sambil merem-melek dan bersandar santai. Penisku pun kembali tenggelam di mulutnya, terasa hangat dan basah. Amel mulai menggerakan kepalanya naik turun. dan bermain-main dengan kepala penisku. Lidahnya menyapu bagian bawah kepala penisku sehingga sensasi yang kurasakan sangat membius tubuh. Ia memasukan penisku lebih dalam lagi ke mulutnya. Kali ini ia di dalam air sedikit lebih lama dari sebelumnya.
“Wah kuat juga lu Mel” kataku setelah ia muncul ke permukaan.
“Udah yah...udah abis nafas nih” katanya sambil mengambil udara.
Kuraih tubuhnya dan ia duduk dalam dekapanku menyandarkan punggungnya ke dadaku. Kuciumi pundak dan lehernya, tanganku meremas lembut payudara dan menggerayangi tubuhnya. Amel memejamkan mata menikmati perlakuanku dan menggelinjang nikmat. Tangannya membelai wajahku dan tangan satunya meraih penisku. Perlahan ia mulai menggerakan tangannya dan mengocok penisku. Aku mulai terbang akan kenikmatan yang ia berikan padaku.
“Udah boleh gua masukin belum Mel?” tanyaku dekat telinganya.
“Eeemmm” ia mengangguk, “I want you Ric”
Ia menggerakkan tubuhnya menaiki penisku. Kurasakan kejantanku yang digenggamnya bersentuhan dengan kewanitaannya yang basah dan hangat dan mulai memasuki dirinya pelan-pelan. Setiap gerakan tubuhnya memberikan kenikmatan yang tak terlukiskan. Matanya setengah terpejam, mulutnya mengeluarkan desahan menggairahkan. Kami melakukannya dengan lembut dan penuh perasaan karena ini adalah hari jadian kami, kami tidak tergesa-gesa dan ingin menikmati setiap momen ini dengan kenangan indah. Amel bergerak naik turun di atas penisku, kadang memutar sehingga penisku serasa dipijat dan dipelintir. Rintihannya memancing gairahku naik semakin tinggi sehingga kulampiaskan ke payudaranya yang kuremas dan kupilin-pilin putingnya. Di tengah desahannya sesekali Amel menggumamkan namaku. Tangannya kini memeluk leherku dan sesekali membelai pipiku. Pergumulan kami berlangsung begitu lembut dan kami saling menghayatinya. Cukup lama juga kami berposisi seperti ini. Kurasakan genjotan Amel semakin tidak beraturan, kadang cepat dan kadang lambat pertanda sebentar lagi ia akan klimaks.
“Uhhh...gua…. amannn…. hari iniii… Ahhh….ahh….” ucapnya terbata-bata karena erangannya.

Kuraih dagunya dan ia menengok ke belakang, bibir kami bertemu kembali. Penisku berdenyut semakin cepat di antara himpitan dinding vaginanya. Aku merasa sebentar lagi akan keluar. Kusentakkan penisku dengan keras ke dalam vagina Amel. Vaginanya juga berkontraksi semakin cepat dan sesuatu yang hangat dan deras tiba-tiba menyelubungi penisku.
“Aaahh....aaaaaaa!! ia melepas ciuman dan mendesah sejadi-jadinya dengan tubuh menggelinjang
Aku menggeser tubuhnya ke depan sambil tetap kudekap, kini aku bertumpu pada lututku sehingga dapat lebih cepat memacu tubuhku dan segera menyusulnya ke puncak. Gerakanku yang makin cepat menciptakan gelombang riak di sekitar kami sampai akhirnya aku menyemburkan spermaku di rahimnya.
“Uuuugghhh...keluar Mel!” erangku saat mencapai klimaks.
Gerakanku semakin melemah hingga akhirnya penisku yang telah menyusut pun tercabut dari vaginanya. Aku ambruk bersandar di dinding kolam sambil memeluk tubuh Amel yang bersandar padaku. Hening...hanya terdengar suara nafas kami dan desiran air kolam dihembus angin. Kami menikmati sisa-sisa orgasme yang baru saja menerpa dengan saling membelai tubuh masing-masing. Tidak perlu kata-kata, setiap rabaan dan tatapan mata sudah berbicara dengan sendirinya. Bersatunya tubuh dan emosi membuat kami mengerti apa yang dirasakan pasangan masing-masing.
"Ric, lu menyesal kita jadi seperti ini? atau mungkin nanti?" Amel memecah keheningan yang terasa indah ini.
“Nggak Mel...terus terang, waktu dulu kita kerja kelompok itu, pernah terlintas dalam pikiran bahwa gua memang naksir lu. Cuma gua ngerasa ah mungkin perasaan sesaat tertarik ama penampilan fisik aja lah, lagian kan gua masih sama mantan gua dulu. Terus setelah gua ngekost di situ, kita makin sering ketemu, makin sering ngobrol, jujur aja Mel, di situ gua udah mulai ngerasa ada chemistry...” kueratkan genggaman pada tangannya, dan ia membalasnya juga, “cuma gua gak berani bertindak, masih trauma baru putus juga sih, lagian gua pengennya sih cewek yang lebih muda dari gua, jadi bagi gua lu itu seperti kakak atau temen, aneh sih emang sampai akhirnya gua ngerasa fall in...." lagi-lagi aku tidak dapat menyelesaikan kalimatku karena jari Amel sudah menutup bibirku dengan lembut.
“Don't say something you might regret it later, Ric", suara Amel terdengar lirih, "gua ngerti, dan gua juga ngerasain itu, tapi untuk saat ini....like you said, let us be only friend, but a very special friend" 
Habis berkata Amel menarik wajahku ke arahnya sehingga bibir kami berpagutan, ia menciumku dengan lembut, penuh perasaan seakan-akan memberikan seluruh dirinya padaku melalui ciuman tersebut.
"Jangan bertanya-tanya lagi, Ric, biar waktu yang bicara, yang terjadi biarlah terjadi" bisik Amel di telingaku, kami berpelukan erat sekali sampai merasakan kehangatan tubuh masing-masing di tengah dinginnya air kolam.

"Omong-omong, gua haus nih, ah...eh..oh...terus dari tadi sih" Amel melepas pelukan dan tersenyum nakal, jarang-jarang ia tersenyum begitu.
“Eehh....gua aja Mel!” aku memegang lengannya ketika ia bangkit dan hendak menuju ke meja mengambil gelas kami.
Usai menghabiskan snack yang disediakan Pak Iqbal dan menghabiskan minuman kami, Amel mengajakku masuk kamar karena angin di sini mulai besar sehingga takut masuk angin. Setelah mengeringkan tubuh dengan handuk, Amel menggandeng tanganku ke lantai dua.
“Di sini Ric” katanya membuka pintu sebuah kamar.
Kamar itu cukup luas dengan didominasi wallpaper warna krem pada temboknya, sebuah ranjang king size di tengahnya lengkap dengan TV plasma, seperti kamar hotel saja nih. Amel membaringkan diri di tengah ranjang itu dan membuka kedua pahanya sehingga tampak belahan merah di tengah kerimbunan bulu-bulunya. Kugesek bibir kewataniaannya sedikit dengan ibu jariku, dan "Uh.." ia mendesah. Aku lalu menyusupkan kepalaku diantara kedua paha mulusnya, kubuka bibir kewanitaannya dan kujilati perlahan klitorisnya. Amel memegangi kepalaku dan mendesah keenakan
"Oh... Yah...aahh!”
Aku mulai menyedot dan menghisap vaginanya. Lidahku merasakan kedutan-kedutan dari wilayah sensitif itu, ia menjepit kepalaku lalu menuntun tanganku untuk mengerjai dadanya. Kuremas-remas perlahan payudaranya sambil menyedot-sedot klitorisnya perlahan, tangan Amel menjambak rambutku dan menekannya ke vaginanya.
Amel semakin keras meracau dan mendesah, "Terus Ric...terus...lebih dalem!!", ia menggelinjang keenakan dan menekan kepalaku ke vaginanya.
Kujilati klitorisnya, kumainkan lidahku di sana bergerak melingkar-lingkar, naik-turun, dan sesekali kusedot lembut klitorisnya serta gigitan kecil yang membuatnya sesekali menggeliat-geliat. Karena rangsangan lidahku vaginanya sebentar saja sudah  kebajiran dan bibir vaginanya berkedut-kedut. Aroma khas kewanitaan tercium jelas olehku, sangat memabukkan dan merangsang. Lidahku masuk semakin dalam mengais-ngais vaginanya
Amel semakin merasakan arus listrik kenikmatan yang besar. Jilatanku kini lebih fokus pada titik sensitifnya, klitorisnya. Erangan Amel pun semakin menjadi-jadi yang membuatku semakin bernafsu menjilatnya. Kugigit lembut daging kecil itu, ia seperti meledak, dengan rasa nikmat yang ia peroleh. Kemudian kelanjutkan dengan jilatan-jilatan nakal di wilayah itu

“Oohhh Ric...bawa gua ke surgaaa” erang Amel semakin menggila, sepertinya ia sudah mau klimaks
Amel tidak bisa menahan lebih lama lagi. Kepalanya semakin mendongkak ke atas, tubuhnya semakin menggeliat, tangannya semakin menekan kepalaku dan kedua paha mulusnya semakin kepalaku.
“Aaaahhhhhh!!!” Amel berteriak, badanya bergetar hebat.
Vaginanya mengeluarkan cairan cinta yang langsung kuhisap. Setelah reda gelombang kenikmatan itu, ia melepaskan jepitannya dan tangannya, lalu terkulai lemas. Tampak peluh keluar dari keningnya, aku duduk di sampingnya yang masih mengangkangkan selangkangannya. Kuciumi ringan bibirnya dan kuremas-remas dadanya. Vaginanya nampak basah olah cairan kewanitaannya bercampur dengan liurku. Aku berguling ke samping sehingga menindih tubuhnya. Amel memeluk kepalaku dan mendorongnya ke wajahnya sehingga kami berciuman lagi.
“Ayo, mulai lagi dong!” ajaknya yang segera kuiyakan
 Kedua tanganku membuka pahanya lebih lebar, penisnya berhenti di depan gerbang surganya.
“My angel….” bisikku di telinganya.
“Gua bukan angel Ric, angel ga punya nafsu, lu mau gua jadi makhluk kaya gitu?”
Kami tertawa sejenak, “tapi kalau terpancing terus dia akan punya Mel, seperti Lucifer contohnya”
“Oh berarti gua demon dong?” balasnya.
“Gak peduli lu angel atau demon Mel, atau apapun itu, gua akan tetap memilih lu”
“Oke deh...stop talking Ric, fuck me! Puasin gua, gua ga pernah sepuas hari ini”
“As you wish!” kataku seraya menekan penisku hingga melesak ke vaginanya yang sudah lembab dan basah membuatnya merintih dan memperat pelukannya. Kepala penisku terbenam sudah di kemaluannya, kutekan lagi agar semakin masuk.
“Awww....Ric!!” rintihnya
Kutarik pinggulku dan kudorong kembali. Gerakan itu kulakukan dengan lembut. Kedua tanganku memegang pinggulnya. Wajah Amel bersemu kemerahan menahan rangsangan. Aku pun semakin mempercepat gerakannya.
“Ahh… ahhh ahh…” erangan Amel semakin lama semakin menjadi, “masukin..sodok lebih keras… uuhh.”

Kurasakan penisku menggesek g-spot Amel sehingga ia semakin menggelinjang. Cukup lama aku menggenjot Amel dengan posisi ini hingga akhirnya...
“Ohhhh…gua maauuu keluarrrr…aaahh...aahh!”
Belum sempat ia melanjutkan desahannya, aku menggenjotnya semakin cepat. Tubuh Amel makin mengejang.
“AAAHHHH.... AHHHHH...Ric...!!!” erangan Amel begitu keras seakan tidak peduli suaranya mungkin terdengar sampai luar kamar.
Jepitan vaginanya semakin kuat dan berkedut. Aku terus menggenjot vaginanya, penisku merasakan siraman hangat dari dalam vaginanya. Aku baru menghentikan genjotanku ketika tubuhnya mulai melemas lagi untuk memberinya isttirahat sejenak setelah ia mendapatkan orgasme yang kesekian kalinya. Tubuh kami sudah dibasahi keringat, walaupun AC di kamar ini terasa sejuk. Sekitar 30 detik tubuh Amel bergetar lemah dan bagai tak sadarkan diri. Setelah istirahat sejenak, aku membalikan tubuh Amel. Kali ini kami melakukan dalam posisi doggy style. Kuperhatikan punggung Amel begitu mulus tanpa cacat, aku semakin bernafsu. Maka aku pun langsung memasukkan penisnku dan menggenjotnya dengan cepat.
“Uhhh yessssss….Yeesshhh Ric....yes.”
Kupegangi kedua tangan Amel sehingga kini ia hanya bertumpu pada kedua lututnya. Tusukanku semakin dalam dan vaginanya semakin erat mencengkram penisku, sungguh terasa nikmatnya. Setelah beberapa lama, aku melepaskan tangannya, lalu menampar bongkahan pantat Amel yang semok.
“AWW!!”
Amel merasakan perih dan nikmat dalam waktu yang bersamaan. Kali ini yang menjadi sasaranku adalah kedua payudaranya yang bebas menggantung, kedua puting Amel habis kukerjai dengan pelintiran, cubitan, dan gesekan sehingga ia semakin menggila. Tangan kiriku berpindah tempat menggesek klitorisnya. Tubuhnya makin menggelinjang, kurasa ia akan segera kembali klimaks. Tubuhnya ambruk, tangannya tidak kuat menahan. Benar saja, vaginanya berkontraksi lebih cepat dan mengeluarkan semprotan di dalam menyiram penisku.
“Aaaaahhh!” Amel menjerit lagi, tapi kali ini teriakannya tidak sekeras orgasme yang ia dapat sebelumnya.
Amel kembali diterpa gelombang orgasme, ia memejamkan matanya, punggungnya terlihat mengkilap karena keringatnya. Kutarik penisku hingga lepas dan kubalikan tubuhnya sehingga kembali ke posisi telentang. Kulihat nafasnya naik turun seirama dengan naik turun buah dadanya yang dihiasi oleh butiran-butiran keringat yang belum hilang meskipun dihembus oleh hawa AC yang sejuk.
"Ric, gua puas banget!" kata Angel merebahkan kepalanya di dadaku sambil memainkan putingku, “eh lu belum keluar ya Ric” tanyanya melihat penisku yang masih tegak.
“Gapapa Mel, soalnya lu keliatannya dah capek, gua ga mau egois lagian masih banyak waktu kan” kataku membelai rambutnya.
“Jangan gitu dong, kesannya gua berutang ke lu Ric, gini aja, lu tutup mata, nikmati cumbuanku, oke?"

Aku mengangguk dan memejamkan mataku, ternyata dengan mata terpejam terasa lebih nikmat sekali sapuan lidah Amel di seluruh tubuhku, mungkin karena konsentrasiku yang terpusat, apalagi saat jari tangannya yang lembut menggenggam senjataku dan mengocoknya dengan cepat. Aku semakin melayang setengah sadar, semakin lama kocokan tangan Amel pada penisku semakin cepat. Sambil terus mengocok, lidahnya yang basah dan hangat memainkan putingku. Seluruh pergelangan sendiku bagai tertarik dan telah mengumpul di ujung penis. Tidak sampai lima menit saat kocokan tangan Amel semakin cepat, dan ujung dadaku dihisap kuat, seluruh tubuhku bergetar kuat dan muncratlah spermaku, tidak banyak memang sehingga hanya membasahi tangan Amel. Ia beralih ke penisku dan mengulumnya hingga bersih, setelah itu ia menindih tubuhku.
“Sekarang puas kan?” tanyanya
“Puas banget Mel” jawabku mengelus rambutnya, mata kami saling bertatapan, kutatapi lama-lama sorot matanya yang lembut, aku merasakan sesuatu dalam sorotan mata itu, sebuah cinta...cinta yang aneh memang, membuka sebuah lembaran baru dalam kehidupan cinta dan seksku.
Dalam ngobrol-ngobrol pasca bercinta, kami saling menceritakan pengalaman cinta dan awal kehilangan keperawanan kami masing-masing. akhirnya Amel bercerita juga tentang kisah cintanya yang kandas,
“Dia seorang dokter muda Ric, lulusan dari kampus kita juga, mapan dan punya prospek cerah, kita saling cocok satu sama lain, dia udah ngenalin gua ke orang tuanya dan mereka juga welcome ke gua. Jadi gua yakin dialah yang akan menjadi pendamping gua kelak, waktu itu gua masih terlalu naif mengira mereka akrab cuma sebatas rekan kerja...”
“mereka?” tanyaku belum mengerti.
“Perempuan itu...sesama dokter, janda beranak satu yang ga tau diri itu” nada suara Amel terdengar sedikit emosi, “sampai akhirnya gua ngebaca SMS di hapenya terus minta penjelasannya, dari situ gua baru sadar kalau selama ini gua diduain”
Agaknya aku mulai mengerti apa yang terjadi antara Amel dan Dokter Lea. Terus terang aku ingin tahu lebih banyak, tapi kuurungkan niat untuk bertanya lebih lanjut, takut ia marah lagi seperti tadi siang, mungkin nanti kalau waktunya tepat aku akan mendengar ceritanya lebih lanjut. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menghiburnya, kupeluk erat tubuhnya dan kucium dia dengan ciuman yang penuh kasih sayang, bukan nafsu semata. Tak lama setelah itu, kami pun tertidur berpelukan tanpa sehelai benangpun selain selimut lebar yang menutupi tubuh kami.

##########################

Aku terbangun ketika langit di luar sudah gelap, kulihat jam telah menunjukkan pukul 18.20. Amel sudah tidak di sampingku lagi, tapi di buffet samping ranjang ini sudah terletak segelas air putih. Dengan malas aku menggerakkan tubuhku yang masih terasa penat hingga duduk bersandar di kepala ranjang, lalu kuraih gelas itu dan kuteguk isinya hingga habis. Uuuhh...terasa lebih segar memang.
“Mel...Amel!!” kupanggil namanya namun tidak ada yang menyahut.
“Mana ya dia?” aku bergegas turun dari ranjang mencari sesuatu untuk menutupi tubuhku karena pakaianku semua masih di pinggir kolam.
Aku mendapati sebuah kimono di gantungan baju dekat kamar mandi. Kukenakan kimono itu dan keluar dari kamar untuk mencarinya. Baru saja hendak melangkah turun dari tangga, aku sudah mendengar suara desahan wanita dari ruang tamu. Dengan deg-degan aku mencari tempat mengintip dari tangga berbentuk melengkung itu. Mataku seperti mau copot melihat Pak Iqbal, penjaga rumah ini, tengah berlutut menjilat-jilat vagina Amel, jarinya juga menggesek dan mengorek-ngorek wilayah kewanitaan gadis yang baru jadian denganku itu. Saat itu Amel dalam posisi ngangkang di sofa dan mengenakan kimono pink tanpa dalaman apapun.
“Heeeegggghhh …. ssshhh …sssshhh…” kudengar Amel mendesis-desis dengan nafas memburu.
Tangan kiri Pak Iqbal bergerilya menyusup ke balik kimono Amel dan meremasi payudaranya. Amel tampak menikmati perlakuan Pak Iqbal dengan mata terpejam sambil meremas-remas rambut pria itu. Entah mengapa aku selalu menantikan saat-saat Amel digarap, dikerjai dan disetubuhi secara oleh orang lain terutama orang-orang kasar kelas bawah seperti Pak Iqbal. Tangan si penjaga rumah menarik lepas tali pinggang Amel sehingga kimono itu terbuka.
“Tiduran aja Non!” suruh pria itu sambil berdiri dan membuka celananya, penisnya yang sudah ereksi mengacung tegak begitu celananya dibuka.
Sedangkan Amel kini terbaring telentang di sofa dengan tubuh tinggal memakai kimono yang sudah terbuka itu. Pak Iqbal menindihkan tubuh kurusnya pada Amel yang sudah terbaring pasrah di sofa. Sambil memperbaiki posisi tubuhnya agar senyaman mungkin, lelaki tersebut dengan kedua tangannya membuka kaki Amel dan segera menempatkan badannya tepat berada di tengah, di antara kedua paha mulus Amel yang telah terkangkang itu. Dengan tangan kirinya memegang batang penisnya yang besar itu, lelaki tersebut mulai mengarahkan penisnya ke arah vagina Amel yang siap menyambutnya.

Begitu kepala penis bertemu dengan belahan bibir vagina luarnya, badan Amel nampak bergetar dan kedua tangannya mencengkeram dengan kuat pada sofa, desahan lirih terdengar dari mulutnya. Dengan perlahan-lahan Pak Iqbal mulai mendorong penisnya memasuki relung tubuh Amel yang paling sensitif itu. Seiring dengan masuknya penis Pak Iqbal, mata Amel terlihat membelakak dan rintihan nikmatnya terdengar jelas keluar dari mulut mungilnya. Pria itu menggerakkan pantatnya maju mundur dengan perlahan-lahan, sambil mulutnya mencium bibir ranum Amel. Tiba-tiba dengan suatu sentakan keras, pria itu menekan pinggulnya dan terus mendorong penisnya, sehingga terbenam seluruhnya ke dalam liang vagina Amel.
“Aaahhh!” terdengar jeritan halus kesakitan yang juga mungkin kenikmatan keluar dari mulut Amel.
Selanjutnya pelan-pelan pria itu mulai menggerakkan keluar masuk penisnya, sofa itu berderit-derit karena gerakan dan tekanan tubuh mereka. Kembali rintihan, desahan, dan lenguhan kenikmatan mereka terdengar memenuhi ruangan, semakin lama semakin keras. Tubuh Amel menggelinjang dalam dekapan Pak Iqbal, kadang-kadang terlihat ia mengangkat kepalanya, giginya menggigit bibir bawahnya menahan kenikmatan yang melanda seluruh tubuhnya, kadang-kadang dia menjerit kecil ketika si penjaga rumah menusuk dengan keras. Pak Iqbal semakin cepat menggoyang pantat kerempengnya dan Amel mendesis-desis tak karuan
“Enak Non? Non suka kan Bapak entot kaya gini?” tanya Pak Iqbal sambil terus memacu tubuhnya
“Enak Pak...enak bangetthh...aaaghhhh!”
Tak lama kemudian akhirnya Amel mengejang disertai erangan panjang serta pantatnya tersentak-sentak dan kedua kakinya mengejang kaku. Namun Pak Iqbal masih aktif mengeluar masukkan batang kemaluannya dalam tempo sedang. Terus terang, rasa cemburuku timbul saat melihat Amel bercinta dengan penjaga rumah yang sudah bangkotan itu, tetapi di satu sisi aku juga menikmatinya. Tidak tahan, tanganku memegang penisku yang sudah tegang sejak tadi. Lima menit berlalu pria itu menyenggamai Amel, perlahan-lahan dia melenguh makin tak karuan, gerakanya mulai tak beraturan apalagi Amel juga ikut menggoyangkan pantatnya. Akhirnya dengan satu lenguan panjang, Pak Iqbal memuntahkan seluruh spermanya di dalam vagina Amel. Dia berteriak histeris menikmati puncak orgasmenya.

Beberapa saat kemudian, goyangan mereka mereda dan berhenti, keduanya saling peluk, suara nafas mereka yang ngos-ngosan terdengar olehku. Amel lalu mendorong tubuh Pak Iqbal yang menindihnya, ia membenahi kimononya tapi tidak mengikat tali pinggangnya dan berjalan ke arah dispenser. Diambilnya gelas kosong lalu ia menuangkan air ke situ dan meminumnya. Saat itulah aku turun dari tangga menghampiri mereka. Kulihat reaksi mereka tidak terlalu kaget melihat kedatanganku.
“Hai!” sapaku
“Eh...Den Rico” sapa Pak Iqbal
“Udah bangun Ric?” Amel menengok ke samping dan meletakkan gelasnya.
Tanpa menjawab kuraih pinggangnya dan kubawa tubuhnya ke dekapanku, mata kami saling tatap tanpa berkata-kata, tanganku bergerak melepaskan kimononya dan kulempar ke atas meja ruang tamu. Amel telah bugil dalam dekapanku.
“Kenapa gak bangunin gua malah main duaan aja Mel?” tanyaku dengan menatap tajam matanya.
“Lu tidur lelap banget tadi, gua kasian bangunin lu, lagian kan kasian Pak Iqbal dari tadi cuma jadi penonton kita terus” jawabnya beradu tatapan denganku.
“Main duaan aja kan kurang seru, gimana kalau tigaan Mel” kataku lalu mengangkat tubuhnya.
“Aw Ric! Jahat lu, masa mau ngeroyok gua!” jeritnya manja.

Kuturunkan tubuhnya di sofa di samping Pak Iqbal dalam posisi duduk.
“Ayo Pak! Kita main bareng, jangan malu-malu!” ajakku penuh semangat, lalu melumat payudaranya.
“Hehehe...si aden suka main keroyok ya, Bapak sih ayo aja, udah ngaceng lagi nih!”
Sebentar saja tubuh telanjang Amel sudah digerayangi oleh tangan-tangan kami, lidahku dan Pak Iqbal juga bergerilya menjilati kulitnya yang putih mulus itu. Tangan keriput Pak Iqbal membelai-belai payudara Amel dan memberi tanda agar ia menaiki tubuhnya. Rupanya pria setengah baya ini minta dilayani lagi. Amel lalu menempatkan diri di atas tubuhnya. Mula-mula ia berjongkok di atas pinggang Pak Iqbal dan memasukkan penisnya dengan dibantu oleh tangan kanannya. Setelah penis tersebut masuk, perlahan-lahan ia menaik-turunkan tubuhnya di atas tubuh Pak Iqbal. Pria itu menyambut gerakan Amel sambil meremas-remas payudaranya. Beberapa saat kemudian Amel merebahkan tubuhnya di atas tubuh pria itu. Gerakan mereka semakin cepat, sesekali pantat Pak Iqbal terangkat ke atas, sementara Amel menurunkan tubuhnya dan menekan kuat-kuat hingga penis pria itu menancap dalam-dalam. Kuperhatikan bagaimana penis Pak Iqbal masuk keluar vagina Amel.
“Den Rico, tuh boolnya Non Amel kan nganggur tuch. Gimana kalau dimasuki kontol?” sahut Pak Iqbal
“Ya Ric, gua baru mau usul gitu. Tapi jangan kasar ya!” kata Amel.
Aku pun mengambil posisi. Perlahan-lahan kuelus-elus vagina Amel yang basah oleh cairannya. Jari-jariku kemudian mengarah ke pantatnya. Dengan cairan vaginanya kubasahi lubang belakangnya. Telunjuk jari kananku kumasukkan pelan-pelan ke sana.
“Yaaah gitu Ric, enak tuch…. Lebih dalam lagi!!! Ayoooo!!!!” desahnya dengan suara yang serak-serak basah karena dilanda nafsu.
Jariku masuk makin dalam ke pantatnya membuat gerakan tubuhnya semakin tak menentu. Dengan vaginanya dirojok penis Pak Iqbal dan jariku memasuki pantatnya, Amel berpacu menuju puncak kenikmatan.

“Ric, jangan cuman jari lu dong! Kontolnya juga... ayooo dong!!!” pintanya.
Sungguh gadis satu ini berbeda kalau sedang bercinta dengan kesehariannya yang terlihat alim. Kedua paha Amel kini berada di bagian luar paha si penjaga rumah, membuka lebar-lebar celah vaginanya bagi masuknya pria itu. Kuposisikan kedua pahaku menjepit paha Amel. Kepala penis kubalur dengan air ludahku dan kumasukkan perlahan-lahan ke liang belakang Amel. Mula-mula agak susah, sebab sempit, cairan kewanitaan dan air liurku cukup membantu dalam proses penetrasi anal itu.
“Sssshhhh, ohhhh Ric!” rintih Amel
“Sakit Mel?”tanyaku menghentikan gerakanku karena tidak tega melihatnya kesakitan.
“Rada...udah terusin aja, nanggung dong dicabut...ssshhh!” rintihnya.
Aku pun memasuk-keluarkan penisku ke dalam analnya dengan perlahan. Sedang dari bawah, penis Pak Iqbal masih merojok-rojok vaginanya dengan kecepatan pelan sambil menungguku penetrasi. Amel yang terhimpit berada di antara tubuhku dan si penjaga rumah melayani kami berdua sekaligus mengayuh biduk kenikmatan. Penisku kini telah menancap penuh di duburnya dan mulai bergerak maju-mundur perlahan. Gerakan Pak Iqbal semakin cepat, mungkin tak lama lagi ia akan orgasme. Amel pun semakin liar menggerakkan pinggul dan pinggangnya, apalagi di bawah sana Pak Iqbal menyusu pada payudaranya secara bergantian. Jeritan Amel yang begitu kuat seperti tadi kembali memenuhi ruang tamu. Inilah enaknya bercinta di rumah besar dengan lingkungan sepi seperti ini, suara rintihan dan jeritan kami dari dalam sini takkan terdengar keluar sehingga kami bebas mengekspresikan kenikmatan ragawi ini dalam erangan dan jeritan. Kedua tangan Amel memeluk tubuh tua Pak Iqbal erat-erat sambil menekan tubuhnya hingga dapat kupastikan penis Pak Iqbal masuk sampai pangkalnya, sedangkan penisku kugerakkan berirama ke dalam duburnya.
“Iyah...Ric...aaahh...aaahh...terussshh...enak!!” pinta Amel.
Kedua pundak Amel kupegang kuat sambil menghentakkan penis sedalam-dalamnya ke duburnya. Kami bertiga secara cepat melakukan gerakan menekan. Pak Iqbal dari bawah, Amel di atasnya menekan ke bawah, aku dari atas tubuh Amel menekan dalam-dalam penisku ke dalam duburnya.
“Ooougghh…gua keluar lagi! Ssssshhhhhh …akkkkhhh!!” jerit Amel dengan tubuh menggelinjang.
Kurasakan betapa jepitan duburnya begitu kuat, sama seperti vaginanya tadi, menjepit penisku. Tak berapa lama, Amel berdiri melepaskan diri dari himpitanku dan Pak Iqbal. Ia lalu berlutut tepat di depanku. Semula aku tak mengerti maksudnya. Kuelus-elus punggung, pinggul dan payudaranya dari belakang tubuhnya. Tangan kanannya meraih penisku dan mengarahkannya ke duburnya lagi.
“Wah, masih pengen ternyata?” kataku dalam hati.
Penisku kembali memasuki duburnya dalam posisi kami berdua berlutut. Lalu ia mengisyaratkan aku merebahkan tubuh ke belakang. Aku turuti permintaannya dan dengan penis tetap berada di dalam duburnya, aku berbaring terlentang sedang Amel kini ada di atasku dalam posisi sama-sama terlentang. Ia mengambil inisiatif bergerak menaik turunkan tubuhnya hingga penisku masuk keluar dengan bebasnya ke dalam duburnya.

Dari atas sana, Pak Iqbal bangkit mendekati kami berdua dan kembali mengarahkan penisnya ke vagina Amel. Kini gantian aku yang berada di bawah, Amel di tengah, dan penjaga rumah itu di atas Amel. Desahan, rintihan dan jeritan kami silih-berganti dan kadang-kadang bersamaan keluar dari bibir kami bertiga. Tanganku kumainkan meremas-remas payudara Amel dari bawah, kupilin-pilin putingnya yang sudah mengeras itu. Beberapa saat kemudian, Pak Iqbal melenguh,
“Ayo Non Amel, Bapak mau keluar nih...uuhhh!!!!”
“Tunggu bentar!” kata Amel, dan tiba-tiba ia bangkit hingga penisku terlepas dari pantatnya. Dengan cepat ia tolakkan tubuh Pak Iqbal hingga jatuh terbaring, lalu ia berlutut di antara paha pria itu dan menggenggam penisnya sambil memasuk-keluarkan penis itu ke dalam mulutnya. Sebentar saja, pria setengah baya itu pun memuncratkan cairan sperma mengenai wajah dan mulut Amel, tetapi ia tidak jijik menjilati cairan yang keluar itu. Aku teringat lagi perkataan Pak Kasimun, si penjaga kost, bahwa Amel memang suka menelan sperma. Dengan sabar aku menunggunya menyelesaikan cleaning service.
Tak lama Amel menoleh ke arahku sambil berkata, “Ric, lanjut yuk, masih kuat kan!”
Ia kemudian menungging di hadapanku sambil terus menjilati penis Pak Iqbal yang semakin lemas. Kutempatkan tubuh di belakang Amel lalu kumasukkan kembali penis ke dalam duburnya.
“Ric, jangan main belakang melulu dong, sakit tau, ntar gua jalannya jadi ga enak” katanya. “Eh oke deh, ga main belakang lagi nih” kucabut penisku dari sana dan kumasukkan ke dalam vaginanya yang basah.
Cairannya masih banyak tapi penisku tetap dijepit kuat sewaktu memasuki vaginanya. Penisku pun mulai bergerak maju mundur di dalam gua Risa. Sementara itu tanganku juga terus bergerilya di gunung kembarnya.
"Ahh...Ric...dalem lagi.. Ohh" Amel terus menggelinjang ke sana ke mari.
"Oh.. Oh...gua gak tahan lagi...mau keluar lagi...lebih keras dong... Ohh" erang Amel sambil terus mengocok penis Pak Iqbal
"Ahh.. Uhh.. Uh.. sama...gua juga Mel" lenguhku menahan nikmat
“Aaaaggghhh, nikmatnyaaahhhh!!” jepitan vaginanya begitu luar biasa saat jeritannya terdengar, hingga tak bisa lagi kutahan aliran spermaku kembali memasuki kepala penisku dan keluar tanpa tedeng aling-aling.
“Aaaahhh, Annn ….. gua muncrat Mel!” erangku sambil memeluk tubuhnya dari belakang dan meremas-remas kedua payudaranya.
Kami bertiga lunglai dalam keadaan telanjang, aku dan Amel di atas permadani dan Pak Iqbal di sofa. Lelehan cairan kenikmatan kami bertiga bertebaran di sofa kulit itu, sepertinya itu bukan yang pertama mengingat tempat ini sering menjadi ajang pesta seks.
“Ric, laper ga?” tanya Amel lemah, “gua udah titip beliin makan ke Pak Iqbal, tuh di meja sana  kalau mau makan”
“Belum terlalu sih sekarang, lu aja duluan Mel” kataku sambil meraih kimononya di sofa lalu menutupi tubuh telanjangnya.
Aku mengecup ringan dahinya lalu bangkit berdiri dan memakai kembali kimonoku
“Kemana Ric?” tanya Amel melihatku berjalan ke arah kolam.
“Mau duduk di luar dulu, cari angin sambil ngerokok” kataku sambil melangkah keluar.

Aku keluar ke pinggir kolam, langit sudah gelap, hembusan angin sepoi-sepot menerpa air kolam, suara jangkrik kodok terdengar di kompleks yang jauh dari hiruk pikuk jalan raya ini. Kuraih ceana panjangku yang masih tergantung di kursi santai, kuambil rokok dan lighter dari kantongnya. Sambil duduk bersandar dan menatap langit, aku menghirup rokokku dalam-dalam lalu menghembuskan asapnya. Kehidupan cinta memang aneh, aku sudah jadian lagi, ya aku tidak bisa menutupi lagi bahwa aku mencintai Amel, tapi aku malah bergairah melihat pacarku digarap orang lain. Beberapa saat kemudian kulihat Amel menyusulku, ia sudah memakai kimono pinknya dan rambutnya sudah digulung ke atas, membuatnya terlihat makin cantik. Aku menggeser tubuhku untuk memberinya tempat di kursi santai yang lumayan lebar itu. Ia tersenyum dan duduk di sebelahku.
“Ric, lu cemburu yah gua tinggal sendiri terus gituan sama Pak Iqbal?” tanyanya.
“Nggak kok Mel. Gua cuma gak habis pikir, koq bisa-bisanya kita jadian sementara kita malah cuek ngeliat pasangan kita ML sama orang lain, terus terang Mel...gua kok malah nafsu ngeliat lu gituan sama orang lain” kataku sambil menatap wajahnya.
Amel menatapku sebentar, lalu tiba-tiba ia tertawa lepas, aku suka melihatnya ketika sedang tertawa seperti itu karena selama ini ekspresi seperti itu memang jarang sekali.
“Ric, hidup ini memang terkadang aneh ya” katanya berfilsafat. “sekarang biar kita jalani aja dulu, daripada pacaran, bilang cinta, lalu selingkuh, itu kan nyakitin banget. Omong-omong...gua suka keterusterangan lu. Yang lain boleh aja memakai tubuh gua, tapi hati gua cuma lu yang bisa memiliki” katanya menggenggam telapak tanganku, kami terdiam saling genggam tangan dan menatap langit selama beberapa saaat.
Tangaku baru saja meraih rokok dari asbak di meja ketika ia meraih tanganku dan mengambil rokok itu. Kukira ia mau ikut mengisapnya tapi ternyata ia malah mematikan puntung rokok itu dengan menekannya di asbak.
“Ric...kurangin yah, stop lebih baik, gua gak suka cowok perokok” katanya memegang dadaku, “buat kesehatan lu juga, karena lu itu...my special one”
Aku mengangguk dan mata kami saling tatap lagi. Aku baru tahu, walau sehari-harinya terkesan cuek, Amel begitu perhatian terhadap orang yang ia cintai. Tatapan matanya sungguh menakjubkan mengandung perasaan terdalamnya yang tidak ia ungkapkan lewat kata-kata.

“Eh iya” tiba-tiba ia mengeluarkan BB-nya dari kantong kimono, “smile dong Ric!” ia raih kepalaku mendekatinya dan mengarahkan lensa kamera BB-nya ke arah kami.
“Yah...jelek, lagi-lagi...” ia kurang puas dengan hasilnya dan memotret sekali lagi, “nah ini bagus, foto pertama kita Ric” ia menunjukkannya hasil jepretan keempat padaku, bagus juga walau aku senyumnya agak maksa.
Amel lalu merebahkan kepalanya di dadaku dan jari-jarinya bermain lembut di pahaku.
“Malam ini kita tidur di sini yah!” katanya
“Emang boleh Mel?”
“Sebenernya ga sih, harusnya minta ijin dulu, tapi mumpung Om Dedi sama istrinya lagi ga di tempat, terus Pak Iqbal udah gua kasih jatah tadi, gua pengen malam ini cuma buat kita aja, lu mau kan?”
Aku tidak menjawabnya dengan kata-kata, tetapi mengangkat dagunya dan mencium bibirnya. Ciuman membara yang kembali terjadi di antara kami membuat kami berdua kembali hanyut dalam gelora asmara. Kurasakan dadanya yang semakin kencang ketika kami saling berdekapan. Entah berapa lama kami menikmati ciuman itu. Jari-jarinya bermain di dadaku sedangkan jari-jariku membelai tubuhnya. Ia naik ke tubuhku, kami saling raba dan saling berpelukan erat
“Lu mau main lagi?” tanyanya sambil memandang wajahku.
“Lu gak capek emang Mel?”
Ia menggeleng “Demi kamu, my special one...gua mau lagi,” jawabnya.
Aku hanya tersenyum melihatnya. Ia meraih penisku dari balik kimono dan mulai mengocoknya. Benda itu pun mulai bangun dari tidurnya.
“Udah bangun lagi adik lu Ric” ia tersenyum nakal dan semakin bernafsu.
Tangannya kini bermain-main dengan kedua buah zakarku. Amel merayap turun dengan gerakan erotis hingga berlutut di antara kedua pahaku. Ia kecup kepala penisku lalu mulai menjilati dari bagian kepalanya itu, sisi kanan dan kiri sampai kedua zakarku. Aku menikmati pelayanannya dengan wajah menatap langit
“Ohhh...” aku mendesah
Kedua tanganku memegang kepala Amel menahan nikmat. Sewaktu ia memasukan penisku ke dalam mulutnya, tanganku menekan kepalanya sehingga kulumannya semakin dalam.
“Ahhhh....enak Mel” sekali lagi aku mendesah nikmat.
Amel mengeluarkan penisku dari mulutnya untuk membetulkan posisinya, mengecup sekali lagi kepala penisku, lalu mengulumnya lagi. Kali ini ia membuka mulutnya sampai batasnya. Penisku masuk semakin dalam sampai akhirnya tiga perempat dari seluruh batangan itu tertelan olehnya. Lidahnya keluar dan menjilat bagian bawah penisku. Matanya menatap nakal padaku, sungguh liar sekali. Aku mencoba fokus dan bertahan dari serangan Amel.

Setelah beberapa lama, ia akhirnya mengeluarkan penisku. Kali ini ia naik ke selangkanganku sambil tangannya memegangi penisku yang sudah basah dan keras itu. Sambil satu tangan berpegangan pada pundakku, ia mengarahkan senjataku ke vaginanya. Perlahan-lahan ia menyelipkan batang penisku ke dalam liang vaginanya. Aahh.. aku merasakan kehangatan dan sensasi yang luar biasa saat bibir kewanitaan Amel menghimpit penisku. Pelan-pelan ia menurunkan tubuhnya sehingga penisku melesak semakin dalam, dan akhirnya amblas ke dalam vaginanya. Uhh.. rasanya ketat dan lembab sekali di dalam sana.
"Sshh...puasin gua Ric, please", Amel mendesah di telingaku.
Pelan-pelan ia mulai menaik-turunkan tubuhnya. Ohh... nikmat sekali goyangannya, aku menikmatinya sambil merem melek. Kuraih kimononya dan kupeloroti lewat kedua bahunya sehingga payudaranya terbuka sudah. Tanganku yang meremas kedua gunung kembar itu.
"Aahh.. ahh.. Mel...enak banget", aku merasakan tubuhku akan meledak menahan rasa nikmat yang luar biasa.
Aku menegakkan tubuhku dan memeluk tubuhnya, kuelus punggungnya yang halus, mulutku mengenyoti payudara dan putingnya.
 “Ric, gua udah mau dapet lagi. Turunin gua dong! Sekarang lu yang goyang”
Kuturunkan tubuhnya dan ia mengambil posisi nungging di kursi santai itu dan memintaku memasuki tubuhnya dari belakang. Kuarahkan penis ke vaginanya lalu memaju-mundurkan tubuhku sambil meremas-remas kedua payudaranya dari belakang. Erangan Amel semakin kuat ketika hunjaman penisku semakin cepat masuk-keluar vaginanya. Aku tidak ingat sudah berapa lama kami melakukan itu, ketika tiba-tiba kurasakan dinding vaginanya kembali berdenyut-denyut tanda akan orgasme lagi.
“Terusss...iya dikit lagi...aahhh...aahhh!!!” jeritnya sambil menghempaskan pantatnya kuat-kuat ke arah pahaku.
Cairan kewanitaannya yang hangat mengucur deras, tubuhnya mengejang selama beberapa saat. Aku merasakan kejantananku bagai sedang dipilin dan dihisap oleh sebuah mulut yang amat kuat sedotannya sehingga aku pun tak tahan lagi. Spermaku tumpah mengisi rongga kewanitaan Amel yang sedang megap-megap dilanda orgasme. Kami mengerang dan mengejang merasakan siraman birahi panas yang seperti hendak menerobos setiap pori-pori di tubuh kami sebelum akhirnya terkulai di kursi santai. Kami bersetubuh tidak terlalu lama memang, sekitar seperempat jam, tapi tubuhku terasa lemas karena hari ini terlalu sering orgasme. Kami berpelukan dan berciuman mereguk seluruh kenikmatan dari persetubuhan itu. Selama beberapa saat, kami hanya terdiam sambil berpelukan, saling memandang, lalu berciuman dengan lembut.
“Makan yuk, laper nih!” ajak Amel
Kami pun menyantap bakmi yang dipesan Amel lewat Pak Iqbal sambil ngobrol. Setelahnya dilanjutkan mandi bersama, Amel sungguh mengisi kekosongan hatiku, obrolan kami cocok satu sama lain, kurasakan ia juga merasakan hal yang sama, senyumannya hari ini sejak jadian di kolam tadi nampak begitu lepas dan bahagia. Malam itu kami tidur berdua di kamar berinterior mewah tempat kami memadu kasih tadi tanpa selembar benang pun di bawah selimut yang hangat
"Mel, jujur yah, malam ini gua benar-benar menikmati saat indah bersama lu." kataku membelai rambut panjangnya.
"Gua juga" balasnya.
Sebelum terlelap kami masih sempat melakukannya sekali lagi dengan tempo lembut dan relatif singkat.

#######################
Keesokan paginya, jam delapanan kami bersiap untuk meninggalkan rumah ini.
“Mel bentar dulu, gua kok mendadak sakit perut nih, tunggu bentar ya” kataku, “Pak nanti dulu, mau ke WC dulu saya!” sahutku pada Pak Iqbal yang bersiap membukakan gerbang.
“Yee...bukannya dari tadi, cepetan ya!” kata Amel.
“Iya sori, tunggu aja” kataku sambil bergegas kembali ke dalam.
Aku memang benar mau ke toilet tapi cuma pipis dan setelahnya aku tidak langsung kembali ke luar melainkan mengintip keluar melalui jendela dekat pintu depan. Aku ingin tahu apakah bakal terjadi sesuatu antara Amel dan Pak Iqbal jika kutinggal. Oh my God, seperti yang kuduga, mreka terlihat sedang saling berpelukan mesra. Amel berdiri bersandar pada dinding, Pak Iqbal sedang mencium bibirnya dan ternyata dibalas Amel dengan menundukkan wajahnya karena tubuhnya yang lebih jangkung dari pria itu. Mereka saling berpagutan penuh gairah. Tangan Pak Iqbal mulai merayapi lekuk lekuk tubuh Amel. Kadang tangannya meremas bongkahan bokongnya dan perlahan merayap ke atas dan sampai ke gundukan bukit buah dada Amel dan dengan remasan perlahan tapak tangannya lalu membuat gerakan meremas dan memutar seperti memijat. Kemudian tangan pria itu mulai menyingkap kaos Amel. Amel melepas ciuman sebentar untuk menggerakkan tangannya meloloskan kaosnya lalu ia letakkan di jok motorku. Pak Iqbal lalu menyingkap bra Amel ke atas sehingga tersembulah kedua gunung kembarnya yang putih mulus dengan putingnya yang telah mengeras di wajah pria itu. Dengan perlahan lidah Pak Iqbal menyapu gundukan bukit buah dada Amel dan kadang menghisap perlahan puting Amel. Dari balik jendela kulihat Amel memejamkan matanya dan mulutnya mengap-mengap. Libido Amel telah naik, dia menggelinjangkan badannya ketika pria itu terus menghisap putingnya sambil tangan kanannya menyusup masuk ke balik celana panjangnya mengobok-obok selangkangannya, namun sebentar kemudian pria itu mengeluarkan tangannya dan mulai membuka ikat pinggang dan resleting celana Amel. Wah, gila, pria itu sepertinya ingin menelanjangi Amel,  memang sih pagar tinggi itu berlapis canopy sehingga kegiatan mereka tidak akan terlihat dari luar tapi nekad juga berbuat seperti itu. Timbul semacam bara cemburu yang sangat merangsang hasrat birahiku. Namun aku tidak berniat menghalangi pergumulan mereka. Kecemburuanku itu justru menginginkan agar pencurian nikmat syahwat ini terus berlanjut. Aku justru sangat berhasrat menyaksikan ekspresi wajah pacarku yang baru saja jadian itu digarap pria lain. Aku ingin mendengar erangan nikmatnya saat penis pria lain menghujam-hujam vaginanya. Tanganku mulai meraba selangkanganku memegangi penisku yang telah ereksi. Amel telah telanjang sekarang, sebagian pinggulnya yang putih mulus itu telah berada di dalam genggaman tangan keriput Pak Iqbal. Tangan itu terus mengusap dan membelai paha jenjangnya. Sementara tangan kiri Pak Iqbal kulihat membuka celananya sendiri dan kulihat tangannya mengeluarkan kejantanannya yang ternyata telah menegang dan besar lalu mengarahkan tangan Amel untuk memegang batang penisnya.

Dengan terus berciuman, Amel dengan perlahan memegang batang kemaluan tersebut, dan secara mulai mengurut batangan itu ke atas ke bawah. Keduanya saling memberikan rangsangan kepada pasangan masing-masing. Tak lama kemudian Pak Iqbal mengangkat kaki kiri Amel dan mengarahkan penisnya ke vaginanya. Perlahan didorongnya penisnya yang sudah ereksi lagi masuk ke liang kenikmatan Amel
"Aagh.. yess.. terus masukin Pak..!" aku dapat mendengarkan erangan Amel dari tempat persembunyianku.
Pak Iqbal dengan irama yang teratur memompa vagina Amel, sambil mempermainkan lidahnya di leher dan bibirnya. Desahan Amel semakin berisik terdengar. Kadang mereka saling bicara diselingi ciuman mesra. Aku melongo melihat ekspresi wajah Amel saat diterpa birahi itu, matanya setengah tertutup. Kepalanya terkadang mendongak dan di lain waktu merunduk. Bibir si penjaga rumah tidak henti-hentinya memagut bahu dan payudaranya. Pantat pria itu terus berayun penuh irama dengan sangat indahnya makin lama semakin cepat dan kasar. Hanya dengan melihat ekpresi wajah Amel yang begitu enjoy menikmati genjotan Pak Iqbal, aku mendapatkan sensasi birahi luar biasa yang berbeda dari bersetubuh langsung, terlebih ketika mendengar suara desahan nikmat yang terus keluar dari mulut keduanya. Aku merinding dan darahku bergejolak hebat. Aku merasakan begitu nikmat mengocok kemaluanku sendiri sambil menyaksikan pacarku bermesum ria dengan pria lain. Klub ini memang telah mengubah drastis persepsiku tentang seks dan cinta, sungguh gila namun aku menikmatinya. Sepuluh menit kemudian aku mulai merasakan spermaku akan keluar. Kupercepat kocokanku hingga akhirnya aku pun sampai kepada puncak orgasmeku
Pergumulan antara Amel bersama Pak Iqbal sampai pada puncaknya ketika Amel tiba-tiba mengejang dan mempererat pelukannya pada pria itu. Erangan panjang terdengar dari mulutnya. Tak sampai tiga menit kemudian, giliran Pak Iqbal keluar, dia buru-buru mencabut penisnya dari vagina Amel. Amel pun tanpa diperintah berlutut di depan pria itu dan meraih penisnya yang lalu ia masukkan ke mulutnya. Sebentar saja, pria itu sudah mendesah keenakan sambil menengadah ke atas, sementara Amel nampak berkonsentrasi mengisap penisnya, pasti sperma pria itu telah tertumpah ke mulut Amel. Setelah menuntaskan hasrat birahi mereka kembali berpakaian, Amel terlihat agak rusuh karena seluruh pakaiannya terlepas, sedangnkan Pak Iqbal tinggal membenahi celananya saja. Aku pun menyudahi mengintipku, setelah cuci tangan aku pun kembali ke luar.

Ketika aku keluar Pak Iqbal sedang menyapu halaman depan dan Amel duduk di bangku taman sibuk dengan BB-nya seperti tidak terjadi apa-apa dengan mereka sebelumnya.
“Whew...lega nih” kataku sambil mengelus-elus perut dan berlagak tidak tahu apa-apa, “sori lama, yuk Mel!”
“Oke yuk” Amel memasukkan BB-nya ke tas dan bangkit berdiri.
Kami pun meluncur dengan motorku meninggalkan rumah mewah itu. Ketika berhenti di lampu merah, Amel berkata,
“Ric, waktu nunggu lu tadi...gua gituan sama Pak Iqbal”
“Ooohh...gitu” kataku seakan baru mengetahuinya
“Lu ga marah?” tanyanya lagi.
Aku menggenggam telapak tangannya dan berkata, “nggak, thanks atas kejujuran lu malah, kan seperti komitmen kita kemaren Mel, kita bebas mau sama siapa aja, bedanya cuma hubungan kita lebih khusus”
Kurasakan tangannya yang melingkar di pinggangku memelukku makin erat dan dadanya menghimpit punggungku, ia juga menyandarkan kepalaku di sana. Lampu sudah menyala hijau sehingga aku harus menjalankan kembali motorku. Hari yang tidak terlupakan itu menjadi awal hubungan cintaku yang baru, hubungan yang tidak biasa dan sama sekali berbeda dari hubungan cinta pada umumnya.

By: Caligula1979
Sungguh Puaskah Istri Anda ?