Jadilah Lelaki Perkasa, Seperkasa Kuda Putih

Wednesday, July 15, 2015

Paijo's Revenge

Paijo

Cerita ini bermula dari sebuah obrolan di sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan.
''Jo gimana kabarmu ??? Setelah dipecat oleh si nyonya, kamu jadi jarang nongol disini sih jadi kangen aku.'' ucap seorang lelaki setengah baya berpakaian satpam sambil tangannya mengambil sepotong pisang goreng yang tersaji dihadapannya.
''Ah biasalah Bang lagi sibuk, ada protek kecil-kecilan.'' jawab seorang laelaki berumur 40 tahunan sambil menyeruput secangkir kopi panas pesanannya.
''Wah udah sukses lo Jo, pake ngerjain proyek segala.'' kata sang satpam, dari papan nama yang dipakainya tertulis ''Bambang''. Orangnya gemuk, tingginya 169cm, berkulit coklat agak kehitaman, berkumis tebal dan kepalanya botak tengahnya.
''Sukses apaan bang ??? Proyek gue cuma copet sana copet sini doank hehehehehe.'' ujar sang lawan bicara sambil tertawa memperlihatkan giginya yang letaknya amburadul sama seperti yang punya.
''Owalah Jo Jo, daridulu gak pernah berubah lo.'' kata Bambang sambil tersenyum kecut mendengar penuturan Paijo sahabatnya itu. Paijo memang dari dulu terkenal sebagai preman kampung kerjanya kalau tidak malak ya maling, maka dari itu Paijo diajak Bambang ikut ke kota untuk merubah peringai buruknya itu tapi apa mau dikata sifat orang sulit dirubah.
''Eh Bang kamu masih kerja di rumah itu yah ???'' tanya Paijo sambil ikut-ikut Bambang mencomot pisang goreng.
''Masih, emang kenapa ?'' tanya Bambang.
''Gak apa-apa, cuma nanya aja.'' jawab singkat Paijo sambil memandang kosong ke arah gelas kopi yang ada dihadapannya. Pikirannya melayang saat dia pertama kali diajak Bambang ke kota untuk ikut bekerja di rumah majikan Bambang.

#################### ############
6 Bulan yang lalu....
Di sebuah terminal bus ibukota kisah pengembaraan Paijo dimulai.


''Aduh panas amat sih ibukota, tau gini gwe gak mau deh disuruh si Bambang kesini.'' gerutu seorang lelaki berumur 40an, berbadan kurus, tinggi 170cm, berkulit coklat dekil, dia tak lain adalah Paijo. Begitu turun dari sebuah bus dia langsung menuju warung kopi setempat untuk melepas lelahnya.
''Halo.. Bang lo dimana ??? Katanya jemput gwe di terminal ???'' kata Paijo sambil menyeruput kopi pesanannya.
''Sabar Jo ni lagi di jalan, udah kamu tunggu aja deh, eh udah dulu yah dah ijo nih lampunya.'' jawab Bambang sambil terdengar suara telpon ditutup.
''Ah kampret si Bambang.'' gerutu Paijo sambil meletakkan hpnya. Tak lama berselang datang Bambang menjemput Paijo untuk diperkenalkan pada majikannya.
Di tengah padatnya lalu lintas ibukota. Bambang mengendarai sepeda motor tuanya dengan lihai, dia menyalip semua mobil yang ada di hadapannya seolah-olah dia adalah seorang pembalap berpengalaman.
''Wooi Bang jangan cepat-cepat, gwe takut nih.'' teriak Paijo sambil memeluk erat sahabatnya itu.
''Udah santai aja Jo, aku sudah mahir kalau urusan salip menyalip hahahaha.'' jawab Bambang sambil menambah kecepatan motornya. Sampai mereka berhenti di sebuah perempatan yang cukup ramai dan lampu lalu lintas menunjukkan warna merah, Bambang berhenti sebentar sambil membuka kaca helmnya.
Dia melihat kekiri ada 2 orang gadis bersepeda motor yang menatapnya dengan aneh sambil tertawa-tawa kecil, dikanannya dia melihat sepasang abg yang juga melihatnya dengan tatapan aneh.
''Ni orang-orang ngapain pada lihatin gwe ???'' batin Bambang sambil mengaca pada spion motornya takut ada kotoran yang menempel dimukanya sehingga jadi perhatian orang-orang. Tak seberapa lama melintas seorang pengamen bencong membawa bass betotnya dia melihat Bambang sebentar dan mulai menghampirinya.
''Aduh Bang ini masih siang-siang di tempat umum pula, kalau udah nggak tahan ayo ikut eike jangan disini donk.'' kata si Bencong dengan suara cempreng dan kemayunya.
''Heh ngomong apaan lo ??? Hush pergi sana gwe gak punya receh !!''. Kata Bambang merasa jengah dipelototi oleh semua orang di lampu merah itu.
''Lha itu temannya megang apaan coba ??? Masa dak sadar sih bang ??''. Jawab si Bencong sambil jarinya menunjuk ke arah perut Bambang

Bambang

Saat Bambang melihatke arah perutnya dia terkejut karena tangan Paijo tepat mendarat di selangkangannya pantas semua orang melihatnya dengan aneh.
''Hei Jo, lo pegang apaan dasar kampret ?? Bangun woi !''.Bambang teriak sambil menggoyangkan tubuh tambunnya, Paijo yang sedang menutup matanya sambil memegang erat pangkal paha Bambang.
''Eh kuyuk, ngapain pake teriak-teriak segala ? '' Balas Paijo yang kaget diteriaki.
''Eh kampret lihat noh, lo pegang apaan hah ? '' Kata Bambang.
''Lha emang apaan nih ? '' Jawab Paijo sambil meremas-remas burung Bambang yang sedang tertidur didalam celananya tersebut.
''Woi asem, malah diremas.'' ucap Bambang kesal.
''Wei lhadalah ternyata ini burungmu toh Bang tak kira, kamu bawa botol minuman disakumu hehehehe.'' Kekeh Paijo sambil menjauhkan tangannya dari pangkal paha sahabatnya itu.
“Aduh emang gede yah Bang ? Aduh eike jadi pengen lihat hihihihi.'' celoteh si Bencong yang sedari tadi melihat pertengkaran 2 sahabat ini.
''Heh wanita jadi-jadian minggat sono !! Kalo dak gwe tabrak juga nih.'' Ancam Bambang sambil menarik-narik tuas gas motornya.
''Ih takut, tapi sun dulu donk, Muuuaaachh.'' kata sang Bencong sambil mengambil keesempatan dalam kesempitan mencium pipi si Bambang, terus berlari meninggalkan 2 sekawan itu yang masih dipandangi oleh orang-orang di perempatan.
''Ah sialan masa gwe dicium bencong, kalau yang nyium si nyonya mah gwe mau-mau aja.'' ujar Bambang sambil memutar tuas gas motornya karena lampu sudah hijau.
''Emang majikan lo cakep Bang ?'' tanya Paijo penasaran.
''Beuh bukan cakep lagi Jo tapi cakep binti bahenol bin mulus, secara artis gitu lho.'' terang Bambang bangga.
''Wah siapa Bang ? Beritahu dong.'' rengek Paijo penasaran.
''Udah ntar juga lo lihat sendiri.'' kata Bambang sambil menambah kecepatan motornya sampai mereka memasuki sebuah kawasan elite hal ini nampak dari rumah-rumah yang ada di kanan-kiri jalan yang terlihat besar dan mewah, mereka berjalan menyusuri jalan di perumahan elite tersebut sampai tiba di sebuah rumah besar berlantai 3 berwarna kuning gading dengan pagar yang tinggi menjulang, di depannya tampak 3 mobil mewah yang terparkir di depan garasi.

''Nah ini Jo tempat kerja gwe, gimana bagus kan ?'' kata Bambang bangga sambil membuka pagar besi berwarna kuning.
''Wah gede yah Bang, eh mana nih majikan lo ?.'' tanya Paijo yang masih penasaran dengan sang majikan.
''Eh Pak Bambang udah balik, sini pak !'' seru seorang perempuan di depan pintu rumah.
''Nah ayo Jo ! gwe kenalin ma majikan gwe.'' kata Bambang sambil menggandeng Paijo menaiki tangga kecil menuju tempat sang nyonya berada.
''Oh ini toh teman kamu yang mau kerja disini Bang ?'' tanya sang nyonya sambil memperhatikan Paijo dari ujung kaki sampai ujung kepala. Sedangkan Paijo hanya melongo melihat sosok wanita tinggi, putih, berhidung mancung dan berbadan seksi itu.
''Kenalin nya, ini namanya Paijo temen saya yang pengen nglamar jadi tukang kebun disini.'' kata Bambang sambil menunjuk Paijo.
''Owh namanya Paijo, kenal saya kan ?'' tanya sang nyonya yang langsung membuyarkan segala lamunan jorok Paijo.
''Eh....eh....hhhmmm nyonya Deswita Maharani kan ? Artis yang biasa masuk di tv ntu ?'' tanya Paijo lugu.
''Iya Jo, wah ternyata kamu tahu juga yah hahahaha.'' Deswita tertawa melihat Paijo yang gugup.
''Ya udah sekarang kamu ikut Bambang yah, biar dia yang kasih tahu tugas-tugas kamu sama tempat kamu tidur.'' kata Deswita sambil berbalik menuju ke dalam rumah.
Paijo diajak Bambang ke kamar belakang yang dipisah dari rumah utama oleh gang sempit, Bambang menjelaskan tugas Paijo sebagai tukang kebun. Di sana hanya ada Bambang dan Paijo saja sebenarnya ada seorang pembantu perempuan tapi dia hanya bertugas sampai sore saja setelah itu dia pulang ke rumahnya di kampung dekat komplek perumahan elite tersebut. Paijo sebenarnya mulai betah kerja di sana, apalagi Deswita sangat baik dan ramah padanya tak jarang bila tak ada kesibukan Deswita selalu menemani Paijo ngobrol saat Paijo bekerja merawat kebun. Tapi hal yang sebaliknya dirasakan oleh Paijo dari Ferry Maryadi suami Deswita yang selalu berlaku kejam padanya, apabila ada sedikit saja kesalahan maka tak jarang pula Ferry memarahi Paijo dengan kata-kata kasar. Sebenarnya hal itu diketahui oleh Deswita tapi apa mau dikata sifat keras Ferry Maryadi membuat Deswita tak berani menentang, dia hanya memberitahu Paijo agar memaklumi sifat suaminya itu dikarenakan Ferry sangat cemburu melihat kedekatan Deswita dan Paijo. Sampai pada suatu saat..........

Deswita Maharani

''Mama.....ma sini Cepaaat !'' teriak Ferry dengan lantang tak lama kemudian datang
Deswita yang masih memakai daster motif bunga-bunga sebab hari ini tidak ada jadwal syuting sehingga Deswita ingin memasak untuk suaminya.
''Ada apaan sih Pa ?'' tanya Deswita.
''Mama tahu Hpku dimana ?'' tanya Ferry kesal.
''Yah mana mama tahu, kan yang naruh Papa sendiri.'' jawab Deswita pendek.
''Iya Papa tahu tadi Papa taruh di atas meja rias di kamar, sekarang kok dak ada ?'' jelas Ferry sambil masih sibuk mencari-cari sesuatu di laci-laci meja rias.
''Jangan-jangan ada maling masuk ke rumah ma.'' kata Ferry sambil menatap Deswita dengan curiga.
''Emang siapa malingnya? Kan di rumah cuma ada papa sama mama, si mbok juga paling pagi ampe siang doang itu juga di dapur jarang ke ruang depan.'' kata Deswita menjelaskan.
''Ehhmm siapa tuh tukang kebun kita yang baru ?'' tanya Ferry.
''Si Paijo ? Ah Papa ngaco, lha wong dia itu dak pernah masuk rumah kok, paling-paling juga ke dapur makan doang.'' jawab Deswita.
''BAMBANG....BAMBANG.....BAMBANG !!!!'' teriak Ferry memanggil Bambang.
''Ya pak, ada apa yah ?'' jawab Bambang terengah-engah.
''Panggil si Paijo kemari !'' perintah Ferry.
''Siap pak !'' jawab Bambang sigap sambil berlalu.
5 menit kemudian......
''Ada apa yah pak ?'' Kata Paijo yang datang di ruang depan yang disana sudah ada Ferry Maryadi dan Deswita Maharani yang menunggu diatas sofa.
''Paijo tadi kamu masuk ke rumah kan?'' tanya Ferry penuh selidik.
''I....iya pak tadi siang saya masuk buat ambil makan di dapur.'' aku Paijo.
''Benar kamu cuma ambil makan di dapur ?'' kata Ferry dengan nada selidik.
''i....iy.....iya pak.'' jawab Paijo yang semakin bingung dengan pertanyaan-pertanyaan majikannya tersebut.
''Apa kamu tidak masuk ke kamar saya terus mengambil HP saya.'' tanya Ferry.
''Tidak kok pak, saya mana berani ngambil HP bapak.'' elak Paijo, sebenarnya Paijo sudah mau insaf dari segala perbuatan buruknya sejak bekerja di rumah disana, itu semua berkat kebaikan dan keramahan Deswita.

''Alah mana ada maling yang ngaku.'' kata Ferry sinis. Mendengar perkataan sang majikan semakin membuat Paijo bingung, salah apa sehingga dia difitnah dengan kejam seperti ini.
''Udah ayo kita ke kamar kamu Jo, saya mau periksa.'' kata Ferry yang langsung berdiri dan menuju kamar Paijo di belakang yang langsung diikuti oleh Paijo, Bambang dan Deswita. Disana Ferry menggeledah kamar Paijo, tanpa disadari mereka Ferry mengeluarkan HP dari saku bajunya.
''Nah ini apa ? Paijo coba kamu jelaskan kenapa Hp saya ada di kamar kamu !'' bentak ferry sambil menunjukkan HPnya pada Paijo.
''Ah...anu...itu...Tadi dak ada disitu kok tuan.'' kata Paijo yang kelihatan gugup, karena memang bukan dia yang mengambil Hp tuannya itu.
''Tapi gak mungkin Pa kalau Paijo yang nyuri HP papa.'' Deswita coba membela Paijo. Hal itu malah menambah kecemburuan Ferry pada tukang kebunnya tersebut.
''Udah kamu jangan belain maling satu ini, Bambang sekarang kamu cepat usir dia dari rumah ini sekarang juga !'' perintah Ferry pada Bambang.
''I....iiyy....iiyaa Pak.'' jawab Bambang terbata-bata karena tidak tega mengusir sahabat baiknya tapi ini adalah perintah dari majikannya sehingga dia harus memendam segala rasa persahabatan miliknya.
''Ayo Jo kita keluar !'' ajak Bambang dengan halus, merasa sudah dijebak Paijo mengerti dan menurut saat diajak Bambang keluar dari rumah itu.
''Baik pak kalau bapak memang mau saya pergi maka saya akan pergi tapi ijinkan saya membereskan barang-barang saya.'' Paijo meminta ijin.
''Ya sudah, sana cepat kemasi semua barang-barangmu sebelum aku panggil polisi.'' perintah Ferry dengan sombong, sesudah semua barang-barangnya dikemas Paijo pergi dari rumah itu diantar oleh Bambang.

################################################## ############
*Kembali ke masa kini*

''Pulangkan saja aku pada ibuku atau ayahku..uu...u...u.'' suara cempreng seorang pengamen membuyarkan lamunan Paijo.
''Ah siapa sih nih ? Suaranya jelek amat.'' ujar Bambang kesal karena acara minum kopinya diganggu oleh suara yang tidak enak untuk didengar itu.
''Idiiiih si Abang, jangan gitu napa ? Gini-gini kan eike juara nyanyi bang.'' jawab sang pengamen yang ternyata adalah bencong yang ketemu di perempatan saat Paijo datang pertama kali di ibukota.
''Lha dalah kamu lagi....kamu lagi, kenapa nasibku sial mulu yah ? Bukannya dikejar cewek eh ini malah dikejar bencong mana bencongnya bentuknya abstrak kayak gini pula.'' ujar Bambang yang kesal saat menengok ke arah bencong pengamen tadi yang berada di depan warung dengan dandanan ''full colour'' tak lupa dengan kecrekan dari bekas tutup botol.
'' idih si Abang gayanya aja gitu tapi aslinya senengkan ketemu ama Jamela lagi, hayo ngaku hanyo.'' jawab sang bencong dengan PD, nama aslinya Jamil tapi kalau sedang jadi bencong jadi Jameela.
''Idih najis tralala eike seneng ketemu kmyuuu, eh napa gwe ngomong bences ? Gara-gara lo sih, udah sana pergi !'' kata Bambang, melihat sang bencong timbul sebuah ide di kepala Paijo.
''Bang gwe punya ide nih, tapi lo kudu bantu gwe yah.'' kata Paijo.
''Ide apaan emangnya ?'' tanya Bambang keheranan, Paijo pun membisiki Bambang.
''Ah gila lo, ntar kalo dianya lapor polisi gimana ?'' kata Bambang yang terlihat terkejut setelah dibisiki Paijo.
''Udah lo santai aja dak bakalan deh dia lapor.'' rayu Paijo.
''Hhmmmm...oke deh tapi lo yang bicara ama tuh bencong gwe malas.'' imbuh Bambang.
''Ok ok, eh mana tuh bencong ?'' Paijo clingak clinguk mencari bencong tadi. Sampai dia melihat sang bencong tengah melihat TV yang kebetulan di dalamnya ada acara komedi yang diperankan oleh Ferry Maryadi mantan juragan Paijo.
''Wah mas...eh...mbak seneng sama tuh artis yah ?'' tanya Paijo.
''Huuh mas eike naksir berat ama tuh artis mana ganteng, badannya kekar, uuhhh pokoknya gak nahan deh.'' cerocos Jamil.
''Mbak mau ketemu tuh artis gak ?'' tanya Paijo.
''Eh emang bisa mas ?'' Jamil langsung bertanya penasaran.
''Bisa, asal.....'' Paijo membisiki Jamil yang ditanggapi cekikikan oleh sang bencong.
''Ok deh mas, itu mah bisa diatur hehehehehe.'' jawab Jamil sambil tertawa licik.

**************************************
Seminggu kemudian...................

''Maaf bu ini ada paket buat ibu.'' kata Bambang sambil menyerahkan sebuah bungkusan berwarna coklat pada Deswita.
''Owh iya, makasih yah pak Bambang.'' balas Deswita dengan senyuman.
''Permisi bu, saya mau kembali ke pos.'' Bambang pamit pada Deswita, yang dijawab dengan anggukan oleh Deswita karena Deswita tampak sibuk mengamati paket yang diterimanya tadi.
''Kok dak ada alamat pengirimnya yah ? Ah mungkin dari penggemar.'' batin Deswita sambil membolak-balik paket tadi, saat dibuka yang ada hanya sebuah kaset dvd dengan sebuah pesan diatas sebuah kertas yang ditaruh didalam wadah kaset dvd tersebut.
''Tolong diputar sekarang juga !'' tulis pesan itu. Karena penasaran Deswita pun lantas memutarnya dan dia sangat terkejut karena gambar yang muncul di layar televisi adalah gambar sang suami Ferry Maryadi sedang dihisap kontalnya oleh seorang laki-laki mirip perempuan.
''Ya ampuuun papa ?'' kata Deswita lirih sambil menutup mulutnya tak percaya dengan kelakuan suaminya itu, Ferry yang selama ini dikira hanya berakting jadi bencong ternyata benar-benar mengalami orientasi seks yang menyimpang.
''Kring....kring....kring.'' suara telpon rumah Deswita berdering.
''Halo...'' jawab Deswita.
''Halo bu, gimana kiriman saya sudah datang ?'' jawab seseorang diseberang telpon.
''Jadi kamu yang kirim video ini, apa mau kamu hah bajingan ? Uang ?'' tanya Deswita kesal.
''Saya tidak minta uang saya minta tubuh kamu sayang hahaha.'' jawab sang penelpon misterius.
''bajingan jangan macam-macam yah, saya lapor polisi baru kamu tahu rasa.'' ancam Deswita.
''Owh silahkan tapi jangan salahkan saya bila video suamimu beredar di internet.'' ancam balik sang penelpon.
''Jangan, saya mohon jangan. Baik saya akan menuruti semua kemauanmu tapi jangan kamu sebarkan video itu.'' jawab Deswita sadar akan akibat yang akan terjadi jika video itu tersebar.
''Bagus sekali sayang, sekarang buka pintu rumahmu. Gwe ada di depan pintu rumahmu.'' perintah sang penelpon misterius. Saat pintu dibuka Deswita terkejut karena di depannya sudah berdiri seorang laki-laki yang dikenalnya.
''Paijo...??'' Deswita terkejut setengah mati.
''Apa kabar bu ? Hehehehehe gimana ? Terkejut ?'' jawab Paijo santai.
''Kamu...bagaimana bisa ?'' tanya Deswita.
''Jangan kaget gitu bu, sebenarnya saya sudah tahu sejak lama kalau suami ibu punya kelainan jadi saya umpan dia pake kenalan saya. Pas dia lagi ''main'' diam-diam saya rekam.'' jawab Paijo menjelaskan.
''Kamu...Bajingan, Bambang...Bambang !!'' teriak Deswita memanggil Bambang.

''Ada apa bu ?'' jawab Bambang yang datang.
''Usir orang ini sekarang juga.'' perintah Deswita kesal.
''Owh dak bisa, gwe punya kesepakatan dengan Bambang, ya gak Mbang ?'' jawab Paijo santai.
''Apa jadi kamu juga Mbang ?'' Deswita kaget dengan pengakuan Paijo.
Sedang Bambang hanya tersenyum mesum membayangkan bahwa sebentar lagi dia akan menikmati tubuh sang majikan yang seksi dan putih bak artis bokep dari jepang apalagi buah dada Deswita yang berukuran besar.
''Sudah jangan banyak tanya, sana masuk !'' hardik Paijo yang sudah tak sabar ingin segera menggeluti tubuh sang artis. Dengan kasar didorongnya Deswita masuk kedalam rumah yang langsung diikuti Bambang dari belakang dan segera mengunci pintu.
''Jangan saya mohon jangan Jo, apa salahku sampai kamu tega kayak gini ?'' Deswita bertanya sambil meneteskan air mata.
''Ini bukan salah lo sayang tapi ini semua salah suami lo yang cemburuan abis, jadi kalau lo pengen ngutuk maka kutuk aja suami lo hahahahaha.'' jawab Paijo sambil menjambak rambut Deswita yang tersungkur di lantai.
''Tapi Jo...Umph...mmhhhh.'' sebelum Deswita selesai menyelesaikan perkataannya bibir seksinya sudah dicium dengan ganas oleh Paijo.
''Wah Jo nyosor aja lo, wah mantab Jo toketnya kenyal euuyyh.'' kata Bambang sambil meremas dada Deswita yang dibungkus dengan kaos ketat warna merah itu.
''Bentar Mbang jangan disini dak enak mainnya, ayo nyonya Ferry kita masuk ke dalam kamarmu.'' kata Paijo sambil menyeret Deswita menuju kamarnya.
''Akh tolong...sudah Jo.'' pinta Deswita beringsut diatas ranjangnya saat melihat Paijo mulai melepas pakaiannya satu persatu.
''Akh....hiiii.'' teriak lirih Deswita saat melihat kontol Paijo yang berdiameter raksasa dan panjang sekitar 15cm itu tengah mengacung keatas, sambil menutup matanya dengan tangannya diam-diam Deswita melirik penis Paijo.
''Kenapa bu ? Belum pernah lihat kontol yah ? Hahahahaha pasti lo belum pernah lihat kontol yang sebenarnya kan. Nih lihat yang benar hahahahaha.'' kata Paijo sambil naik ke ranjang, mengangkangi Deswita dan menampar-namparkan penisnya yang tegang ke muka Deswita yang tertutup oleh tangannya. Merasakan hangat dari penis Paijo perlahan-lahan birahi Deswita mulai naik.
''Ayo donk dibuka, nih hisap kontol gwe. Kontol gwe enak lho rasanya kayak permen lolipop rasa susu tapi susunya susu basi hahahahahaha.'' ujar Paijo sambil berusaha membuka tangan Deswita yang masih menutupi mukanya.
''Akh.....uhhmmmppp..'' Deswita kaget saat merasa ada yang memelorotkan rok panjang yang dikenakannya, sehingga dia melepaskan tangannya. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Paijo yang langsung memasukkan penisnya ke mulut Deswita sehingga artis cantik itu tersedak karena tak mampu menampung batang penis Paijo yang besar.

''Wah Jo pahanya putih mulus tanpa bulu hehehehe.'' kata Bambang yang ternyata juga sudah bugil, yang melucuti rok panjang Deswita ternyata adalah Bambang karena tak tahan ingin segera melihat tubuh sang artis tanpa busana.
Sepasang paha putih mulus itu langsung jadi bulan-bulanan oleh Bambang yang sudah terkena nafsu setan, dijilatinya sepasang paha itu yang mengakibatkan Deswita kegelian tapi dak dapat protes karena mulutnya tersumpal penis Paijo. Penjelajahan Bambang akhirnya sampai pada pangkal paha sang artis terlihat bagian terpenting itu tertutupi oleh celana dalam warna krem bermotif bunga, ditengahnya terlihat basah yang menandakan kalau si empunya sudah terangsang hebat.
''Wah Jo si nyonya udah basah banget Jo, wuih harum beda ama perek-perek yang biasa gwe pake.'' kata Bambang sembari membenamkan wajah pas-pasannya itu ke dalam pangkal paha Deswita.
''Yeee barang artis lo samain ama perek bedanya jauh Mbang tapi persamaannya sama-sama enak kalo dimasukin kontol hahahahah.'' Paijo tertawa puas mengetahui kalau Deswita sudah terangsang.
''Uhhmmm......ukkhhh....uhuk....uhuk.'' Deswita tidak bisa protes karena masih tersumpal penis Paijo sampai akhirnya Paijo melepaskan penisnya dari bibir Deswita yang membuat sang artis terbatuk-batuk.
''Mbang gantian, gwe pengen jilatin memek nih artis. Gwe penasaran rasanya kayak gimana ?'' ujar Paijo sambil berdiri.
''Ok Jo tapi kita bugilin dulu dong nyonya, masa cuma kita doang yang bugil.'' ujar Bambang sambil mencoba membuka celana dalam Deswita.
''jangan....jangan....saya...mohon.'' pinta Deswita memelas sambil tangannya memegangi celana dalam yang akan dilepas oleh Bambang.
''Plakkk....'' sebuah tamparan keras melayang ke arah pipi mulus Deswita.
''Heeehh lonte jangan banyak cincong ! Apa lo udah lupa soal video suami lo ? Mau gwe sebarin biar geger seluruh negeri ?'' ancam Paijo sambil menjambak rambut panjang Deswita.
''Jangan...baik-baik saya nurut.'' jawab Deswita sambil mengusap-ngusap pipi kanannya yang memerah akibat tamparan Paijo.
''Bagus, nah gitu kan sama-sama enak hehehe. Mbang bugilin dia ! Gwe mau telpon dulu.'' perintah Paijo pada Bambang sambil berlalu meninggalkan mereka berdua di kamar dan menuju ruang tengah.
''Halo.....he.....hem.....bagus....ok-ok ntar setengah jam lagi lo suruh telpon aja ok, bye gwe mau ''main'' dulu yah.'' kata Paijo sambil menutup telpon dan menuju kamar Deswita.
''Ah....ssshhhh.....mmmhhhh.'' desahan Deswita langsung menyambut Paijo saat memasuki ruangan tersebut.
Terlihat Bambang tengah menindih Deswita yang sudah tanpa sehelai benang yang menutupi tubuh sintalnya dan menggenjot penisnya di dalam vagina sang artis.
''Wah Mbang main gasak aja lo, lah gwe kebagian apanya nih ? Masa gwe bengong doang lihat lo ngentot ?'' kata Paijo protes.
''Sabar Jo, nih nih masih ada toketnya. Kenyal lho mana padat berisi lagi.'' jawab Bambang cuek sambil tetap memompa penisnya.
''ah....hhhmmmm.....ha....ha......hekkk.'' erangan Deswita terhenti seketika ketika perutnya terasa sesak saat Paijo mendudukinya dan mulai menyodorkan penisnya.

''Ayo nya nih jepit kontol gwe pake toket lo !'' perintah Paijo sambil menyorongkan penisnya di depan wajah Deswita.
Mulanya Deswita tampak ragu-ragu tapi melihat tampang Paijo yang mulai kesal maka dengan terpaksa dia menuruti kemauan mantan pembantunya itu.
''Oh....sshhhh....mantab, ternyata beneran Mbang, toketnya kenyal plus padat berisi hahaha. Mana pentilnya gede lagi, ngegemesin deh ihhhh.'' kata Paijo sambil menikmati jepitan dada Deswita dan mulai memaju mundurkan kontolnya.
''Akhhhh.....jangan, sakittt......!'' Deswita kesakitan saat dengan gemasa Paijo menarik pentilnya dengan keras.
''Wah Jo coba lo tarik lagi !'' ujar Bambang disela-sela genjotannya.
''Mang napa Mbang ?'' tanya Paijo keheranan.
''Saat lo tarik pentilnya memeknya nyonya kayak nyedot-nyedot kontol gwe.'' ujar Bambang.
''Wah ternyata si nyonya senangnya disiksa yah, wah kelainan juga nih orang sama kayak suaminya hahahahaha.'' kata Paijo sambil mulai menarik-narik puting sang nyonya dengan keras.
''Akhhh....jangan....aku.....dak...kuattt....AAAAK KKKHHHHH.'' Deswita orgasme akibat perlakuan Paijo dan genjotan Bambang di memeknya.
''Wah Jo si nyonya ngecroot, uhhh mantaphhh anget-anget sedottt.'' Bambang keenakan saat memek Deswita berkontraksi akibat orgasme hebat yang melandanya.
''Wah enak di lo dak enak di gwe Mbang.'' ujar Paijo cemberut sambil melepaskan kontolnya dari jepitan dada Deswita.
''Ha......ha.....ha....ha.'' Deswita terengah-engah usai mendapatkan orgasme yang hebat tadi, belum pernah dia mendapat kepuasan seks seperti tadi, diam-diam dia mulai menikmati perkosaan yang tengah dialaminya.
''Ok ok Jo, nih gwe mau minum dulu nih, haus gwe.'' Bambang meninggalkan Deswita yang masih tergolek lemah dan menuju keluar kamar.
''Nah sekarang sini, giliran gwe yang nyicipin memek lo.'' kata Paijo sambil menepuk-nepuk pahanya yang mengisyaratkan bahwa dia ingin Deswita berada diatasnya.
''Hmmmpph....ahhh.....ssshhhh...besss..besaarr.'' kata Deswita lirih saat dia menurunkan tubuhnya pelan-pelan diatas kontol Paijo.
''Hahahaha enakan mana kontol gwe ama kontol suami lo ?'' tanya Paijo saat Deswita mulai menggoyang pinggulnya.
“Sssshhhh....ahhhmm..haa...haaa.'' Deswita tak menjawab karena tengah merasakan nikmat yang tiada tara.
''Heh ditanya kok diam aja ?'' Paijo kesal dan langsung meremas dada Deswita dengan kasar.
''AHHHH....AKKKHHHH.'' tak disangka akibat remasan Paijo, Deswita kembali mendapatkan orgasme yang dahsyat.

''Wah belum-belum udah ngecroot 2x, enak yah kontol gwe ?'' Paijo bertanya sambil tetap memegang pinggul Deswita dan mulai menggoyang-goyangkannya.
''Ha....ha....hmmmmph...huuh enak banget kontol kamu.'' jawab Deswita yang telungkup menutupi tubuh Paijo akibat kelelahan setelah mendapat orgasmenya yang kedua.
''Akhhhh....jangan...jangan disitu !'' kata Deswita panik saat merasa ada seseorang yang berusaha memasukkan sesuatu kedalam liang duburnya.
''Tenang aja Nyah dijamin pasti bakal minta nambah.'' ternyata Bambang berusaha memasukkan penisnya ke dalam lubang anus Deswita.
''AAAAKKHHHH......'' Deswita teriak saat Bambang berhasil membenamkan penisnya masuk ke dalam lubang anus sang nyonya.
''Wah gila lo Mbang, tapi gak apa-apa biar tambah mantap. Ayo Mbang goyang bareng-bareng.'' kata Paijo sambil mulai ikut memompa penisnya yang masih berada di lubang vagina Deswita.
''Akkkghhh....bajingan....akkkhhhh...terussshhhh.. ..terusin.....hhhhmmmpphh.'' desah Deswita yang mulai tak terkontrol akibat kenikmatan yang baru pertama kali rasakan.
''Tilililit.....tilililit.'' suara handphone Deswita yang ditaruh didekat ranjang berbunyi dan langsung diambil oleh Paijo, sejenak dia melihat ID sang penelpon dengan senyum misterius dia memberikan HP tadi ke Deswita.
Saat melihat ID sang penelpon mula-mula Deswita tak ingin menjawabnya tapi dipaksa oleh Paijo sehingga dia menerimanya juga.
''Halo papa....hhhmmmm....ssshhhh.'' jawab Deswita.
''Halo ma, ahhhh.....ini papa mau .....kabarin....ssshhhh...kalo papa pulangnya agak telat.'' kata Ferry di ujung telepon sana.
''Iya dak apa-apa Pa, Papa lagi ngapain kok kayaknya kesakitan gitu ?....ahhhssss.'' tanya Deswita.
''Ini....Papa...lagi dipijat...auwwhh.'' balas Ferry.
''Sama donk Pa ahssss....ini Mama juga lagi dipijat....owwwwhhsss.'' jawab Deswita sambil berusaha menahan desahannya karena Paijo dengan usilnya menyedot dada Deswita dengan keras.
''Ya...udahsss...Ma...Papa tutup dulu yah.'' kata Ferry yang langsung menutup telpon.

********************************
Di kamar hotel....

''Aduh yang telpon siapa sih ? Bikin aku cemburu aja.'' kata seorang waria di sela-sela mengulum sebuah penis yang kecil nan pendek.
''Ada deh yang, yukz dilanjutin.'' ujar sang pelanggan yang tak lain dan tak bukan adalah Ferry Maryadi.
''Iiiihhh sebel, Jameela cemburu nih jadinya.'' ujar sang waria yang adalah Jamil.
''Udah pokoknya kamu tahu beres deh, yuk kita ''Main'' lagi.'' ujar Ferry sambil meletakkan HPnya, perlahan-lahan Jamil mendekati Ferry dan masuk ke dalam selimut hotel yang menutupi tubuh Ferry.

************************************************** **
Kamar Deswita......

''Wah Jo si nyonya pintar bohong juga yah, Nya udah berapa kali selingkuh kok pintar banget bohongnya ? Hahahahaha.'' ujar Bambang yang tengah menusuk-nusukkan penisnya di lubang anus Deswita.
''Ahhhh......sssshhhh......udah....jangan....banya k....bacot....akhhhh......genjot.....yang....cepet ...ba....bajingan.'' ujar Deswita tersengal-sengal. Sungguh pemandangan yang ajaib seorang artis kelas nasional berkulit putih mulus tengah dihimpit oleh 2 orang lelaki kasar berkulit hitam dan sedang mengerang-ngerang merasakan 2 batang penis tengah menusuk-nusuk 2 lubang kenikmatan sang artis.
''Ahhhh....ha....ha...Jo gwe gak kuat nih pengen keluar.'' Bambang tengah berusaha menahan arus sperma yang tengah berusaha keluar dari ujung penisnya.
''Ssshhh....aaakkhhh....sama Mbang, kita cepetin aja yuk biar sama-sama crooetsss, gwe penasaran si nyonya kalo ntar hamil anakanya kayak siapa yah ?'' kata Paijo.
''Ah....jangan...jangan di dalam.'' kata Deswita memelas mengetahui niatan Paijo yang ingin mengeluarkan spermanya di rahimnya.
''Udah jangan banyak cincong, nih terima pejuh gwe AKHHHHH....LONTE....NIH...NIH...NIH.'' kata Paijo diiringi sentakan-sentakan kuat yang membuat Deswita kembali orgasme untuk yang ke-3 kalinya.
''AAAAKHHHJJ....AAAAAKKKKHHH.....HA..HA...HA...HA. '' terdengar suara desahan ke-3 orang tersebut saat mereka telah mencapai puncak kenikmatan secara bersama-sama.
Bambang segera melepas penisnya setelah copot gantian Paijo yang menggulingkan tubuh Deswita ke samping, Deswita hanya bisa terengah-engah menyesali nasibnya sekarang disela-sela lubang vagina dan lubang anusnya mengalir cairan putih menetes keluar banyak.
''Hahahaha makasih yah Nya, ingat jangan macam-macam atau gwe sebar video tadi ok. Setiap suami lo keluar maka lo harus menuruti gwe dan Bambang dan juga lo harus mencukupi semua kebutuhan gwe dan Bambang baik itu jasmani ataupun ''Rohani'' ngerti ?'' jelas Paijo panjang lebar sambil menjambak rambut Deswita hingga acak-acakan.
''Iya...akkkhh.....saya bakal nurut semua mau kamu.'' kata Deswita sambil meringis menahan tangis.
''Hahahahah bagus, Mbang ayo kita ngopi dulu.'' kata Paijo sambil memunguti bajunya dan meninggalkan ruangan itu diikuti oleh Bambang,
Deswita hanya bisa tergolek tak berdaya memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan, apa yang akan terjadi jika dia benar-benar hamil akibat perbuatan 2 orang itu ? Semua soal itu membuat Deswita tak kuasa membendung airmatanya.

*TAMAT*
by: Rangganaga

Enam Sembilan

6 orang wanita cantik dan seksi duduk terikat di atas kursi yang terletak di tengah ruangan yang sangat besar seperti sebuah aula. Mereka telah sadar dari pingsan dan kini mengamati sekeliling ruangan itu. Di sebelah kanan mereka ada sebuah pintu yang berukuran sangat besar, sedangkan di sebelah kiri mereka ada 6 buah pintu yang berukuran normal. Di sekeliling tembok banyak terdapat angka 666 yang merupakan lambang sebuah organisasi hitam misterius terbesar di Indonesia, anggotanya merupakan orang-orang penting dan mereka lah yang mengendalikan Indonesia di belakang layar.  Mereka berenam saling memandang dengan penasaran dan sedikit terkejut karena ternyata mereka saling mengenal satu sama lain. Belum habis rasa kaget mereka tiba-tiba mereka kembali dikejutkan dengan suara pintu yang terbuka dengan keras. Pintu besar di sebelah kanan mereka terbuka lebar dan dari sana keluar orang-orang yang berpakaian serba hitam serta memakai jubah yang menutupi seluruh tubuh mereka. Salah satu dari mereka mendekati enam wanita itu, tangan kanannya menggenggam beberapa buah kunci sedangkan tangan kirinya menjinjing sebuah alat yang menyerupai radio. Alat itu diletakkannya di lantai dan tiba-tiba keluar suara serak laki-laki saat ditekan salah satu tombolnya.
‘Selamat datang 6 wanita terpilih, selamat mengikuti turnamen antar selebritis wanita yang telah menginjak tahun keenam. Turnamen ini akan menguji stamina dan daya tahan kalian sebagai seorang wanita. Aturannya sangat mudah, ada 6 buah kunci yang dibawa oleh salah satu teman saya yang kini berdiri di hadapan kalian, tiap orang mengambil sebuah kunci secara acak dan gunakan untuk masuk ke salah satu pintu yang ada di sebelah kiri kalian. Setelah kalian masuk maka akan ada skenario yang harus dihadapi, siapa yang bisa melaluinya dan sampai ke pintu selanjutnya paling cepat maka akan menjadi pemenangnya, hadiah untuk pemenang telah menunggu di baliknya sedangkan yang kalah akan terkurung di ruangan mereka sampai batas waktu 6 jam berakhir. Saya sebagai pimpinan organisasi sekaligus pencetus kegiatan tahunan ini mengucapkan semoga sukses dan dengan ini saya nyatakan turnamen ini resmi dimulai.’
Suara itu berakhir bersamaan dengan menyalanya lampu di atas pintu dan menunjukkan angka-angka dari tiap pintu. Tiap pintu memiliki warna yang berbeda sesuai dengan warna lampu di atasnya. Di atasnya lagi ada huruf digital yang menyala dan berbunyi “6 hour, 6 women, 6 key, 6 door, 6 stage and 6 scenario”. 6 orang wanita itu telah terlepas dari ikatannya, mereka telah berada di depan pintu yang sesuai dengan kunci masing-masing. Setelah saling memandang satu sama lain dengan agak ragu akhirnya mereka membuka pintu di hadapan mereka dan satu-persatu masuk ke dalamnya.

########################

Chef Marinka
Peserta pertama yang masuk adalah peserta nomer tiga, dia memasuki pintu yang berwarna putih sesuai dengan warna tanktopnya. Wanita yang memiliki tinggi badan 158 cm dan berat badan 48 kg itu melangkah dengan gontai menuju ke sebuah ruangan yang ternyata sangat dikenalnya. Dibalik pintu yang dibukanya ternyata ruangan audisi Master Chef Indonesia, namun ruangan itu kosong dan tidak ada satu pun peserta yang sedang beraksi di sana. Wanita yang dikenal dengan panggilan Chef Marinka itu pun berdiri termangu di ruangan besar yang kosong, meskipun usianya sudah menginjak kepala 3 namun wajahnya masih cantik dan kulitnya putih mulus. Marinka terkejut saat pintu di ujung ruangan mendadak terbuka dan muncullah salah satu kompatriotnya, seorang Chef pria yang sudah berumur, Chef Degan menghampirinya sambil tersenyum lebar. Marinka sedikit takjub karena Degan tidak memakai setelan jas seperti biasanya melainkan hanya mengenakan celana boxer dan bertelanjang dada sehingga menampakkan dadanya yang bidang.
“Ada apa ini chef?” tanya Marinka dengan agak curiga.
“Selamat datang di ruangan MasterSex Indonesia” jawab Degan sambil tertawa lebar.
“Maksudnya?” tanya Marinka lagi.
Sebelum Marinka selesai berkata Degan telah menerjangnya hingga terjatuh ke lantai. Ditahannya kedua tangan Marinka ke atas hingga tidak bisa melawannya, namun Marinka masih belum mau kalah, dia meronta-ronta untuk mencoba membebaskan diri dari sergapan Degan. Sayangnya tenaga dari tubuh mungil Marinka tidak berarti apa-apa dibanding Degan yang tinggi dan besar. Degan mencumbu leher Marinka dengan tenang seolah tidak mempedulikan perlawanan Marinka, sementara lama-kelamaan rontaan dari Marinka semakin melemah. Degan berhenti sejenak untuk melepaskan kalung emas dan kalung warna-warni Marinka yang menganggu aksinya, Marinka mengambil kesempatan itu untuk mendorong tubuh Degan dengan kedua tangannya yang dilepaskan sesaat oleh Degan. Degan yang tidak siap dengan serangan itu terdorong sedikit dan membuat Marinka bisa melepaskan diri darinya. Untungnya dengan sigap ditangkapnya salah satu ujung rompi Marinka yang melambai di dekatnya, Marinka tidak menghiraukan itu dan terus berlari menjauh hingga rompinya tertarik sampai terlepas darinya. Marinka berlari menuju ke pintu putih yang tadi dia buka. Setelah sampai ternyata pintu itu tidak memiliki pegangan pintu, bahkan lubang kuncinya juga sudah tidak ada. Degan tertawa dari kejauhan melihat wajah bingung Marinka. Marinka kembali berlari, kali ini menuju ke arah pintu satunya tempat Degan keluar tadi. Namun kali ini Degan mengejarnya dan berhasil menangkapnya lagi sebelum dia sampai ke pintu. Keduanya tersungkur ke lantai, Degan segera menindih tubuh Marinka agar dia tidak kabur lagi. Degan kembali menahan kedua tangan Marinka ke atas hingga ketiaknya yang putih dan mulus terbuka lebar. Degan menjilati ketiak Marinka yang sedikit basah oleh keringat, dengan ganas dijilatnya kedua ketiak Marinka bergantian hingga menjadi semakin basah. Marinka hanya bisa berteriak-teriak minta tolong dan minta ampun. Jilatan Degan kini sudah menjalar ke bagian leher, salah satu tangannya melepaskan tangan Marinka dan beralih ke arah dada Marinka. Marinka menggunakan tangannya yang terlepas untuk memukul dan melawan serangan Degan, tapi tentu saja Degan tidak menghiraukannya, tangannya malah asyik meremas payudara Marinka dari balik tanktopnya. Lidah Degan kini menyusuri belahan dada Marinka yang terlihat menggiurkan, kedua tangan Marinka kini telah terlepas karena kedua tangan lebih memilih untuk menyusup ke dalam tanktop Marinka. Ditariknya bra Marinka hingga terlepas dan dibuangnya bra yang berukuran 34b itu ke lantai. Meskipun melawan rupanya Marinka tersulut nafsu juga, terbukti dari puting payudaranya yang menjeplak di tanktop putihnya. Segera saja Degan menghisap puting Marinka dengan liar sementara kedua tangannya masih meremas gunung kembar Marinka.

Marinka yang telah terbuai oleh birahinya hanya diam menikmati setiap perlakuan dari Degan, tanpa terasa tanktop putihnya telah terlepas dan memperlihatkan kedua payudara indahnya beserta kulit tubuhnya yang putih dan mulus. Degan telah menyusuri tiap inci tubuh Marinka bagian atas, kini dia ingin beralih ke bagian bawah. Dia pun beralih ke bawah dan mencoba membuka celana pendek Marinka. Namun Marinka seakan tersadar kembali, dengan cepat ditendangnya perut Degan hingga dia terjatuh ke belakang. Marinka bergegas menuju ke pintu tanpa mempedulikan tubuh bagian atasnya yang terbuka, kedua payudaranya berguncang mengikuti hentakan kakinya. Marinka segera membuka pintunya dan dibaliknya telah menunggu dua orang pria yang sudah sama-sama tidak memakai pakaian sama sekali. Yang satu berwajah agak Chinese dan berkulit putih, satunya lagi berwajah garang dengan tubuh penuh tattoo, mereka adalah Chef Arnold dan Chef Juna. Mereka berdua segera menyeret Marinka dan membawanya kembali ke tengah ruangan. Degan tertawa melihat wajah ketakutan Marinka yang kembali kepadanya dengan diseret oleh dua orang laki-laki. Marinka kembali terbaring di lantai, Arnold dan Juna memegangi kedua tangannya dengan erat. Degan berjongkok di hadapannya dan melepaskan celana pendek dan celana dalamnya yang berwarna putih juga. Kini Marinka benar-benar telanjang bulat, sama dengan keadaan 3 laki-laki itu. Vagina Marinka yang ditumbuhi rambut-rambut halus di sekitarnya segera dilahap oleh Degan, sedangkan Arnold dan Juna berbagi payudara Marinka. Ketiga pria itu menjamah setiap daging mulus Marinka dengan penuh nafsu, Marinka yang tidak kuasa melawan hanya bisa pasrah.  Degan meminta kedua rekannya untuk minggir sebentar untuk memberinya ruang. Dibaliknya posisi tubuh Marinka hingga seperti bayi yang mau merangkak. Dalam sekejap dihujamkan penisnya yang telah menegang ke dalam vagina Marinka yang telah basah kuyup dari belakang. Degan memulai aksi doggystyle-nya dengan cepat dan membuat Marinka sedikit terengah-engah keenakan. Arnold turun ke bawah tubuh Marinka dan memainkan kedua payudara Marinka yang bergelantungan. Satunya diremas dengan tangan dan satunya dilahap dengan mulutnya. Juna yang masih berdiri mendekati wajah Marinka dan mengarahkan penisnya ke dalam mulut mungil Marinka. Dijejalkannya penisnya yang berukuran paling besar diantara mereka bertiga hingga Marinka sedikit tersedak. Marinka tidak kuasa lagi menahan rangsangan yang dideranya, berulang kali dia mendesah keenakan dan vaginanya telah beberapa kali mencapai klimaksnya namun belum ada tanda-tanda kapan mereka bertiga akan menghentikan permainannya.

#######################
Farrah Quinn

Peserta kedua adalah peserta nomer empat yang berada tepat di sebelah kanan Marinka. Dia masuk ke pintu berwarna coklat yang senada dengan warna tanktop dan juga warna kulitnya. Wanita ini kenal cukup dekat dengan Marinka dan kebetulan mendapat pintu yang berdekatan juga. Wanita ini seumuran dengan Marinka, hanya saja dia memiliki postur lebih tinggi dan lebih besar. Wanita yang juga seorang chef terkenal ini memasuki ruangan yang gelap gulita, dengan perlahan dia berjalan dan meraba-raba ke arah tembok untuk mencari saklar lampu. Wanita yang dikenal dengan nama Farah Quinn ini terkejut karena tiba-tiba lampu menyala sebelum dia menemukan saklarnya. Dua orang laki-laki tak dikenal telah berada di sampingnya dan menyeretnya ke atas meja. Empat orang muncul dari balik pintu berwarna putih di ujung ruangan. Dua orang tak dikenal dan dua orang yang sangat dikenal dan dicintainya, suami dan anaknya. Mereka berdua diikat di atas kursi oleh dua orang tak dikenal yang baru datang itu dan mulut mereka diplester, mereka menatap sedih ke arah Farah sementara kedua orang itu bergabung bersama dua orang lainnya yang berada di dekat Farah. Keempat orang itu memakai jubah hitam dan hanya menampakkan wajah mereka. Dua orang berwajah lokal, seorang bule berkulit putih dan seorang negro.
“Siapa kalian?” hardik Farah kepada mereka.
“Kita rekan kerja suamimu” sahut pria gundul berwajah lokal.
“Mau apa kalian?” teriak Farah kepada mereka yang semakin mendekatinya.
Mereka berempat tidak ada yang menjawab pertanyaan Farah melainkan malah menyergap Farah bersamaan. Farah dibaringkan di atas meja bundar besar, kedua tangannya dicekal oleh si bule sementara si negro menahan kedua kakinya. Si gundul mengeluarkan gunting dari balik jubahnya, sedangkan pria satunya yang berambut gondrong mengeluarkan cutter. Si gundul menggunting celana jins pendek Farah hingga terlepas dan memperlihatkan celana dalamnya yang berwarna hitam dan berenda. Si gondrong menggunakan cutternya untuk memotong tanktop coklat Farah dan terlihat pula bra hitam yang membungkus gundukan montok di dada Farah.
“Wah, lumayan nih, 34c” teriak si gondrong setelah melihat bra Farah.
“Gak usah banyak omong, langsung sikat aja” ujar si gundul cepat.
Si gondrong segera memotong bra hitam Farah hingga gundukan payudaranya menyembul keluar dan terbebas dari penutupnya, hampir bersamaan dengan si gundul yang menggunting celana dalam Farah dan membuat vagina Farah yang dipenuhi rambut lebat disekitarnya menjadi terekspos. Pakaian Farah berserakan di lantai sementara tubuhnya terbuka lebar tanpa tertutup sehelai kain pun. Farah meneteskan air mata melihat pandangan sedih dari suami dan anaknya, dia berteriak memaki-maki mereka berempat. Empat pria itu tidak mendengar teriakan Farah karena mereka asyik menikmati pemandangan indah tubuh telanjang Farah di depan mereka. Si gondrong segera melumat kedua payudara Farah dengan rakus bersamaan dengan lidah si gundul yang telah menjelajahi lembah kenikmatan Farah. Awalnya Farah berteriak-teriak memaki mereka berdua, namun lama-kelamaan teriakan itu berubah menjadi desahan kenikmatan. Farah tak kuasa menahan serangan dari duet si gundul dan si gondrong yang beraksi menjebol pertahanannya.  Setelah menghujani sekujur tubuh Farah dengan remasan dan jilatan akhirnya duet gundul-gondrong pun bertukar posisi dengan si bule dan si negro. Keduanya membuka jubah hitam mereka dan ternyata mereka tidak memakai apapun di baliknya. Penis si negro yang berukuran di atas rata-rata segera menyodok liang Farah yang terbuka di hadapannya. Awalnya agak kesulitan masuk namun dengan sedikit goyangan akhirnya penis si negro berhasil menembus liang Farah yang agak becek. Si negro menggenjot vagina Farah dengan perlahan seolah menikmati iramanya. Di depannya, si bule yang berwajah cukup tampan sedang asyik melahap bibir Farah yang sensual dan menggoda. Farah yang memang sudah terkena percikan asmara pun membalas ciuman si bule. Mereka berdua berciuman dengan ganas, kedua lidah mereka saling berpaut dan beradu dengan sengit hingga menimbulkan suara kecipak yang cukup keras. Kedua tangan si bule tidak mau kalah, keduanya beradu melawan gundukan kembar Farah yang kenyal, diremasnya dengan lembut senada dengan tusukan si negro.

#############################
Magdalena

Lain tempat lain cerita, peserta ketiga yang masuk adalah peserta nomer satu yang telah melewati pintu berwarna merah yang terletak di pojok kiri. Peserta ini juga mengenakan pakaian yang sewarna dengan pintunya. Dia mengenakan gaun panjang selutut tanpa lengan, dengan masih mencangklong tasnya dia menuju ke dalam ruangan yang agak remang-remang dan berbau tidak enak. Wanita cantik yang usianya hampir mendekati kepala tiga itu memiliki tinggi badan 160 cm dan berat badan 50 kg. Posturnya yang ideal ditambah dengan kulitnya yang putih dan mulus melengkapi wajahnya yang sedikit Chinese. Wanita yang dikenal dengan nama Magdalena ini sering menghiasi layar kaca dengan wajah cantik dan tubuh indahnya. Dia masih berjalan melewati koridor ruangan yang cukup panjang dan agak gelap. Perlahan namun pasti akhirnya dia sampai di ujung koridor, lampu menyala terang dari ruangan di ujungnya. Lena masuk ke ruangan itu dan langsung terkejut sampai jatuh ke lantai. Sesosok makhluk aneh berdiri di hadapannya, kelihatannya merupakan kombinasi antara manusia dengan gurita. Seonggok kepala menempel di tubuh kecil yang tidak memiliki tangan dan kaki melainkan tentakel panjang yang ujungnya berbentuk seperti penis manusia namun lubang di ujungnya bisa membuka dan menutup seperti menghisap udara.
“Kamu pasti terkejut dengan wujudku ya?” teriak makhluk itu kepada Lena.
“Iya, siapakah,, eh, apakah kamu?” tanya Lena dengan wajah ketakutan.
“Aku adalah salah satu hasil percobaan dari organisasi 666 yang berhasil” jawab makhluk itu sambil tertawa terbahak.
Lena terdiam membisu, banyak sekali pertanyaan yang berputar di kepalanya namun tidak ada satu pun yang bisa dikatakannya. Lena hanya duduk mematung di hadapan makhluk itu. makhluk itu berhenti tertawa, wajahnya menyeringai seperti wajah pemburu yang bertemu mangsanya. Dengan cepat dua buah tentakelnya melesat ke arah Lena dan menarik tubuh Lena mendekatinya. Lena yang kaget dengan tarikan mendadak itu mencoba berteriak namun dalam sekejap salah satu tentakel makhluk itu membungkam mulutnya hingga suaranya tidak keluar sama sekali. Dua buah tentakelnya yang menyeret Lena tadi sekarang mengangkat kedua tangan Lena ke atas sampai tubuh Lena melayang di udara. Dua tentakel lain kini membelit kaki Lena yang meronta-ronta di udara mencari pijakan. Dua tentakel lain mendarat di tanah dan menjadi pijakan makhluk itu, sementara satu tentakel yang tersisa menjelajahi tubuh Lena dan berhasil melepaskan semua pakaiannya.  Lena melayang di udara dalam keadaan bugil, empat tentakel mencengkram kaki dan tangannya dengan erat. Sebuah tentakel yang tadinya menutup mulut Lena kini menyepong payudara Lena yang berukuran 34D bergantian. Lubang tentakel yang agak besar itu membuka dan menutup seolah menghisap payudara Lena. Saat membuka seolah mengulum sebelah payudara Lena, saat menutup lubangnya seukuran dengan puting Lena yang berwarna merah kecoklatan dan seolah sedang menjepitnya. Mulut Lena yang telah terbebas kini melenguh keenakan saat kedua payudaranya dikerjai oleh tentakel itu. Tentakel satunya yang tadi merobek-robek pakaian Lena kini berkutat di sekitar selangkangan Lena yang mulus tanpa ada rambut sedikitpun. Tentakel itu bergerak perlahan seolah mengusap sela-sela paha Lena, Lena mulai menggelinjang saat tentakel itu menghisap vaginanya, makin lama makin keras hisapannya sampai Lena mengerang keras membebaskan birahinya. Beberapa kali vagina Lena mengeluarkan cairan kenikmatannya hingga daerah sekitarnya sedikit becek. Tentakel itu kemudian menyusup ke liang vagina Lena perlahan, Lena menjerit histeris bahkan sampai pingsan saat tentakel itu memasuki lembah kehangatannya.

#################################
Aura Kasih

Di tempat lain peserta nomer dua juga telah memasuki pintunya. Pintu berwarna biru langit yang berkilau. Peserta yang satu ini diculik saat berada di ruang ganti, alhasil dia hanya mengenakan celana dalam pink bertali saja dan tanktop ketat warna abu-abu. Wanita yang menjadi peserta termuda ini masih berumur 25 tahun namun tubuhnya tidak kalah seksi dibanding yang lain. Wanita yang akrab dipanggil Aura Kasih ini memiliki tinggi 170 cm dan berat 50 kg, payudaranya yang montok berukuran 34d menjeplak di tanktopnya. Aura berjalan dengan hati-hati memasuki ruangan yang terang benderang. Ruangan itu kosong dan tidak ada apa-apa di sekitarnya, di ujung satunya ada dua buah pintu yang membuka secara bersamaan saat Aura mencapai tengah ruangan. Dua makhluk aneh muncul di hadapan Aura, bagian atasnya tubuh manusia dan bagian bawahnya adalah tubuh kuda, lengkap dengan penisnya yang berukuran luar biasa. Tanpa basa-basi dua manusia berwajah kembar itu menerjang Aura yang masih berdiri kebingungan, dalam sekejap Aura telah kehilangan semua kain yang membungkus tubuhnya. Dua centaur itu bergerak sangat cepat sampai Aura tidak sempat lagi berkata apa-apa. Yang dia tahu mereka berdua telah berbagi tugas untuk menjamah tubuhnya, satunya bagian atas dan satunya bagian bawah. Aura sama sekali tidak memberikan perlawanan dan malah menikmati setiap rangsangan dari kedua centaur yang berwajah kembar dan memiliki penis yang sama-sama ekstra. Tanpa sadar Aura telah berada dalam posisi doggystyle dengan satu centa menyodok vaginanya dari belakang sambil menepuk pantat sekalnya, sementara yang satunya menghujam mulutnya dengan penis berukuran abnormal sambil meremas kedua payudara montoknya yang menjuntai ke bawah. Puting payudara Aura yang berwarna merah kecoklatan telah menegang, rambut-rambut halus di sekitar vaginanya juga telah basah kuyup terkena campuran cairan Aura dan salah satu centaur. Aura mulai kehabisan tenaga melayani kedua centaur itu, namun sayangnya keduanya sama sekali tidak merasa lelah, bahkan belum ada keringat yang mengucur dari mereka. Aura dengan terpaksa terus menerima serangan mereka berdua.

#############################
Baby Margaretha

Di pintu kelima yang berwarna hijau rumput masuklah peserta lain yang tidak kalah menarik. Wanita yang satu ini adalah seorang model pendatang baru yang cukup terkenal. Dengan ukuran tubuh 165-50 dilengkapi dengan payudara 36c membuat tubuhnya terlihat padat dan berisi. Wanita yang bernama Baby Margaretha ini diculik saat berada di lokasi pemotretan, usianya masih 29 tahun namun pengalamannya sebagai model cukup banyak. Dia sering berpose seksi di majalah-majalah pria dewasa namun tidak ada yang tahu kalau dia masih perawan dan bahkan belum pernah punya pacar.  Baby masuk ke dalam ruangan yang ternyata sebuah lapangan rumput yang cukup luas, baby berjalan menuju sebuah pohon besar yang rindang dan di sana ada seorang anak kecil yang sedang duduk. Baby telah berada di depan anak kecil itu dan ternyata dia seorang laki-laki, dia agak ketakutan saat melihat Baby mendekatinya. Baby yang tidak pernah dilihat seperti itu menjadi penasaran dan mencoba berbicara dengan anak kecil itu.
“Dek, kenapa takut sama mbak?” tanya Baby.
“Pakaian mbak aneh” jawab anak itu.
“Aneh apanya?” tanya Baby lagi sambil duduk di sebelah anak itu.
“Aku gak pernah liat pakaian kayak gitu soalnya” jawab anak itu lagi.
“Ini pakaian dalem dek, emang begini kok” sahut Baby lagi.
“Aku boleh megang gak mbak?” tanya anak itu.
“Boleh aja dek” jawab Baby sambil tersenyum.
Anak kecil itu meraba-raba pakaian dan tubuh Baby perlahan, tanpa sadar Baby merasakan hawa aneh menjalar di tubuhnya, dia menikmati setiap sentuhan anak kecil itu sambil memejamkan mata, tanpa sadar ternyata seluruh pakaiannya telah dilucuti oleh anak kecil itu hingga dia telanjang bulat. Saat Baby membuka mata ternyata anak kecil itu telah hilang dan berganti menjadi lima orang pria dewasa yang telah asyik menjamah tiap jengkal tubuh montok Baby. Baby yang telah terpacu birahinya tidak memikirkan apa-apa lagi selain kenikmatan yang baru dirasakannya. Mereka berlima tersenyum saat melihat vagina Baby mengeluarkan darah saat disodok oleh salah satu penis mereka. Mereka menjadi semakin ganas melumat tubuh montok Baby, sementara Baby hampir tidak sadarkan diri dan terbuai oleh rasa nikmat yang dideranya.

#######################
Sefti Sanustika
Ruangan terakhir bernomer enam yang terletak di pojok kanan berwarna hitam kelam. Seorang wanita berkerudung masuk ke dalamnya, dengan memakai kacamata hitam dan tas hitam. Pakaiannya yang serba tertutup tidak mampu menyembunyikan tubuhnya yang montok. Dengan ukuran tubuh 160-50 namun payudaranya berukuran 36d dan terlihat mencuat dari balik kemeja lengan panjangnya. Meskipun sudah berumur namun kecantikan dari istri tersangka kasus suap ini masih memancar.  Sefti Sanustika berjalan santai memasuki pintu hitam itu dan ternyata di baliknya ada sebuah terminal bus yang tidak begitu besar, hanya ada sebuah bus di sana. Sefti segera bergegas menuju bus itu dan menaikinya. Di dalamnya sudah ada banyak penumpang yang memenuhi tempat duduk, sebagian tampak berdiri di tengah. Sefti ikut berdiri di bagian belakang bus dan bus pun melaju pelan seolah tadi hanya menunggu kedatangan Sefti. Satu jam telah berlalu, bus masih melaju menyusuri jalan dan tidak terjadi apa-apa pada diri Sefti. Sementara teman-temannya yang lain telah mengikuti scenario mereka masing-masing. Marinka telah dihajar oleh tiga orang chef rekannya sendiri. Marinka kini berada dalam posisi terjepit diantara tiga pria, Arnold yang berada di bawahnya menyodok vaginanya dari bawah, Juna berada di belakang Marinka dan menusuk anus Marinka dengan penisnya yang besar, sementara Degan yang telah puas menikmati kedua lubang tadi kini sedang di-oral dengan ganas oleh Marinka. Rekan Marinka yang berada di sebelah ruangannya, Farah tengah kesulitan melayani nafsu empat orang pria sekaligus, kini gantian suami dan anaknya yang menangis melihat Farah keenakan melawan empat orang yang berbeda-beda itu. Di ruangan pertama Lena masih tidak sadarkan diri setelah dihajar oleh monster tentakel, cairan tentakel yang berbau amis menyebar di sekujur tubuhnya. Di ruangan kedua Aura sedang menikmati detik demi detik bersama dua centaur tampan berwajah kembar berpenis besar. Sementara di ruangan kelima Baby sudah tidak sadarkan diri di tengah kepungan lima buah penis dari berbagai sudut. Sefti melihat jam tangannya dan tidak terasa sudah dua jam berlalu, seorang kernet menghampiri Sefti dan bertanya kepadanya.
“Mau kemana mbak?” tanya kernet itu.
“Gtw mas, saya pengen pulang tapi gtw ini sekarang dimana” sahut Sefti pelan.
Kernet itu tidak berkata apa-apa lagi tetapi malah menggerayangi punggung Sefti. Sefti ingin berteriak tetapi tiba-tiba dia seperti kehilangan suara, dia ingin melawan tetapi seketika tenaganya serasa hilang. Dia pun hanya berdiri seperti patung dan membiarkan kernet itu meraba punggungnya. Semua penumpang yang lain seperti tidak bisa melihat mereka berdua dan membiarkan saja kernet itu meraba tubuh Sefti. Tangan kernet itu perlahan bergerak ke depan, tubuhnya mendekat ke tubuh Sefti dan memeluknya dari belakang. Kedua tangannya meremas payudara montok Sefti yang masih terbungkus kemeja. Sefti ingin melawan tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa seperti tidak punya kuasa lagi atas tubuhnya.

Kernet itu telah mengeluarkan sebilah pisau dari sakunya dan merobek bagian depan kemeja Sefti sehingga kedua payudara besarnya yang terbungkus bra hitam pun menyembul keluar. Tangan kernet itu menyusup ke dalam dan melepaskan bra hitam Sefti sehingga gundukan payudaranya yang berukuran 36d terbebas dari sarangnya. Kedua putingnya yang berwarna coklat agak kehitaman pun terlihat jelas oleh penumpang yang berada di depannya, namun penumpang itu tidak bereaksi apa-apa seolah tidak melihatnya. Kernet itu tidak berhenti sampai di sana, kini dia melorotkan legging hitam Sefti hingga ke mata kaki, dia sedikit terkejut karena ternyata Sefti tidak memakai celana dalam sehingga bagian bawahnya kini terpampang jelas. Pantatnya yang sekal membusung tepat di depan penis kernet itu, dengan cepat kernet itu membuka celananya hingga penisnya terbebas dan segera menyusup ke sela pantat Sefti. Bersamaan dengan masuknya penis kernet itu ke dalam vagina Sefti tiba-tiba seolah keadaan menjadi normal kembali. Suara dan tenaga Sefti telah kembali, begitu juga kesadaran para penumpang di dalam bus yang semuanya laki-laki. Pria di depan Sefti tepat segera menjilati vagina Sefti yang terpampang di depan wajahnya, bekas-bekas rambut yang dicukur membuat daerah sekitar vagina Sefti sedikit geli dan kini menjadi basah terkena liur dari pria itu. Pria lainnya seolah antri di sekeliling Sefti untuk bergantian menikmati tubuhnya. Dan tanpa terasa semua pria dalam bus telah bergantian menikmati setiap lubang yang dimiliki Sefti, semua pria itu terkapar tak berdaya di tempat duduk masing-masing, sementara Sefti masih berdiri di tempatnya semula walau dalam kondisi tubuh yang acak-acakan. Tak terasa hampir 4 jam berlalu, lima orang peserta telah terkapar tak sadarkan diri di tempat masing-masing sementara Sefti masih berdiri tegak di dalam bus. Bus berhenti di sebuah terminal, Sefti turun meninggalkan para pria yang tergeletak penuh kepuasan di tempat duduk masing-masing. Sebuah pintu yang menyala menunggu Sefti di ujung terminal. Dengan semangat Sefti menuju ke sana dan membuka pintu itu. Dibaliknya sudah menunggu beberapa orang berjubah hitam, ada sebuah piala dan secarik kertas yang berada di atas meja di tengah ruangan. Dua orang berjubah hitam mendekat ke arah meja dan membuka tudung mereka. Seorang lelaki tua yang berwajah familiar dan seorang pria yang sangat dikenal oleh Sefti berada di sana. Suaminya Ahmad Fathanah terseyum menghampirinya sambil memberikan piala emas besar dan secarik kertas. Sefti membaca tulisan di piala yang berbunyi “The Strongest Women in Indonesia”, dia sedikit tersenyum dan mengedip ke suaminya. Kemudian dia membaca secarik kertas yang dibawakan suaminya itu, dia sangat terkejut sambil memandang ke lelaki tua di belakang suaminya. Kertas itu bertuliskan “Selamat, anda menjadi istri kesembilan dari Eyang Subur”

By: Dark Satan

Sunday, May 31, 2015

Petualangan di Tanah Papua - Final

Kepekatan malam menutupi daerah hutan rimba di Papua - hawa sejuk mulai menguasai didaerah pedalaman yang biasanya di tengah hari sangat panas dan lembab. Keheningan malam terganggu oleh bunyi pelbagai serangga dan juga burung hantu serta ketepak sayap kelelawar mencari mangsanya. Semuanya itu tak menjadi perhatian Ashanty : saat ini benaknya hanya di penuhi oleh satu fikiran saja yaitu bagaimana caranya lolos dari cengkraman ke lima penduduk asli yang terlihat sangat buas itu. Mungkin sekali ia takkan lolos dari perkosaan massal - namun bagaimana caranya agar jiwanya dapat selamat dan tak menjadi korban suku bangsa yang mungkin masih sedemikian biadab dan kanibal menikmati hidangan daging manusia. Kelima lelaki yang bertubuh hitam legam dan tampak sangat kasar itu kini telah mendekati dan mengelilingi Ashanty yang berlutut dan menundukkan kepalanya. Salah seorang yang memakai topeng menyeramkan kemudian tampil di hadapan Ashanty , menyentuh serta mendengakkan dagunya sehingga mata mereka berhadapan. Ashanty hanya dapat melihat sinar mata orang si lelaki melalui lubang di topengnya, sehingga sukar untuk menafsirkannya dengan jelas. Tangan sangat kasar yang memegang dagunya kini diletakkan diatas kepala Ashanty , mengusap usap rambutnya yang tergerai , kemudian menekan kepalanya ke bawah sehingga mendekati alat kemaluannya yang telah membesar dan tegang di hadapan wajah si cantik. Tombak yang berada di tangan kiri lelaki buas itu kini ditujukan ke arah buah dada kanan Ashanty dan menyentuh puncak putingnya yang memang sangat menggemaskan setiap mata lelaki yang melihatnya. Alat kejantanannya sedemikian menakutkan penuh otot dan pembuluh darah itu kini menyentuh dan mendesak ke bibir Ashanty yang masih menutup. Ashanty tentu saja mengerti apa maunya lelaki buas itu namun jiwanya masih saja menolak dan tak mau menerima barang asing di masukkan ke dalam mulutnya , namun sang lelaki tak mengenal belas kasihan. Ujung lembing yang terasa dingin dan sangat tajam itu kini mulai ditekannya ke puncak puting buah dada Ashanty menyebabkan si cantik bergidik dan kembali sadar bahwa ia tak mempunyai pilihan lain. Sambil mengucapkan doa yang masih samar samar diingatnya dari sejak masa remajanya Ashanty perlahan membuka mulutnya yang mungil. Bukaan yang kecil itu tak disia siakan oleh lelaki buas itu yang dengan sangat kasar melesakkan penisnya yang tidak disunat ke rongga mulut Ashanty. Amat sesak dan penuh terlihat tombak daging itu masuk diantara bibir manis yang biasanya memakai make up sangat mahal. Karena memang kepala penis itu sangat besar dan pas pas-an masuk maka baik bibir Ashanty maupun deretan giginya kini berfungsi membuka kulup sang pemerkosa - disaat itu barulah tercium oleh Ashanty bau yang sangat tak enak memualkan dari bagian kepala penis yang memang selama tak ereksi penuh selalu tertutup oleh kulup dan mungkin jarang dibersihkan oleh sang empunya. Bau memualkan tercampur pesing itu menyengat panca indera penciuman Ashanty sehingga diusahakannya bernafas melalui mulut agar hidungnya tak tersiksa aroma memuakkan, namun apa daya mulutnya penuh sesak dengan daging pentungan yang masuk hampir setengahnya. Pemasukan itu sudah lebih cukup dan tak dapat diteruskan karena telah menyentuh awal kerongkongan dan tenggorokan Ashanty menyebabkannya gelagapan sukar sekali bernafas.
Mendadak Ashanty merasakan tangannya yang terikat erat di punggungnya terlepas - rupanya telah diputus oleh pisau tajam dari salah seorang yang berada di belakangnya. Ashanty merasa agak lega karena tangannya yang kesemutan kini memperoleh aliran darah lagi - namun hal ini tak berlangsung lama : kedua nadinya dipegang dengan kuat dan kasar dan dipaksakan untuk mencekal dua buah penis lain yang tak kalah panjang dan besar diameternya dengan yang sedang memperkosa mulutnya. Dan rupanya kedua penis itu adalah milik Gbagbo dan Ntsubo yang kini tak mau kalah dan ingin memperoleh jatah pemuasan di malam itu. Wanita cantik yang berlutut tak berdaya itu kini dipaksa untuk mengocok merangsang batang kelamin dengan kedua tangannya. Dirasakan oleh Ashanty bahwa kedua penis yang telah tegang mengeras itu mulai berdenyut di dalam sentuhannya dan semakin lama semakin membasar sehingga akhirnya genggaman jari jarinya yang panjang lentik tak cukup untuk mengatup seluruhnya lingkaran penis ditangannya.

Rupanya tak puas sampai disini saja si lelaki buas yang tengah meroncé mulutnya mendadak merebahkan diri lalu menarik korbannya untuk menungging sehingga dalam posisi ini Ashanty dipaksa melanjutkan menyepong dan mengulum alat kebanggaannya itu. Kedua lelaki yang tengah dikocok penisnya oleh Ashanty juga ikut rebah di samping kiri kanan Ashanty sehingga proses penghiburan gratis dengan jari jari tangan lentik halus itu masih berlanjut. Posisi hampir menungging ini rupanya memang disengaja oleh ketiga pemerkosanya karena kini ada kesempatan untuk Utuzo dan lelaki bertopeng terakhir menyeramkan untuk ikut dalam "permainan" ini. Ashanty merasakan kini beberapa tangan kasar mengusap usap tubuhnya dikiri kanan mulai dari leher, bahu, ketiak , lalu turun ke pinggang , menyelinap kebawah meremas remas bukit payudaranya yang menggantung. Tangan tangan lain mengusap usap pundaknya , turun ke punggungnya lalu membelai meremas remas kedua bulatan pinggul pantat bahenol kebanggaannya. Secara instink dan intuisi Ashanty mulai merasa takut karena tangan tangan kasar pemerkosanya itu semakin lama semakin mendekati bagian bagian badannya yang intim dan tersembunyi. Tangan tangan itu menusuk nusuk pusarnya kemudian semakin menurun mendekati bukit Venus yang rapih dicukur licin, sementara tangan tangan lain membuka belahan pantatnya disertai jari jari nakal menyentuh mengusap celah bongkahan pantatnya.  Butir air mata berlinang linang di pelupuk matanya dan mengalir turun membasahi pipinya yang halus , ketika Ashanty merasakan bukit kemaluan serta lingkaran duburnya diraba dan diusap usap jari jari kasar tak senonoh. Secara refleks otot otot kemaluan maupun dubur Ashanty mengejang dan menolak tindakan intim yang hanya biasa dilakukan antara pasangan suami istri. Namun refleks penolakan ini justru menambah kegembiraan para pemerkosanya dan mereka merasakan bahwa wanita cantik yang sedang dikerjain ini tak menyerah mentah mentah begitu saja dengan tindakan mereka. Dengan bersahutan didalam bahasa yang tentu saja sama sekali tak dapat dimengerti oleh Ashanty mereka saling bersahutan dan tertawa kesenangan melihat reaksi sang korban diselang seling hembusan nafas mereka. Ashanty sendiri pun sebagai wanita muda sehat penuh dengan hormon kewanitaan mulai merasakan ada gejolak yang muncul didalam tubuhnya. Akal sehatnya menyadari bahwa tubuhnya sedang dijarah dikuasai dan dironcé oleh lima orang pria pribumi yang sama sekali tak dikenal sebelumnya , akal sehatnya sukar menerima keadaan yang sedang dialaminya , namun pori pori kulitnya mulai terangsang dan bulu badannya terutama kuduknya mulai berdiri. Keringat pun mulai membasahi seluruh tubuhnya karena urat syaraf yang sedang bertahan mati matian melawan perkosaan membutuhkan banyak enersi dan ini menghasilkan kelembaban uap mengkilat di permukaan kulitnya yang halus mulus.
"Emmppppfhhh, ooouh , aaahhh , empppfffhh , slrrrrp , sluuuurrrp " , bunyi tak karuan keluar dari mulutnya yang di penuhi oleh kemaluan lelaki pemerkosanya.
Bau memuakkan dari kemaluan itu perlahan lahan namun dengan pasti kini terganti oleh aroma ludah Ashanty yang memang jauh lebih harum. Kedua pemerkosanya yang bertopeng hanya mengeluarkan desahan desahan kenikmatan tanpa mengucapkan kata atau kalimat yang dapat dimengerti Ashanty karena itu adalah bahasa pedalaman mereka , sementara Gbagbo , Ntsubo dan Utuzo terkadang masih  mengucapkan beberapa kata atau kalimat didalam bahasa Indonesia yang primitif.
"Iyyaaaa, nona pintaaaar, ayooo teruuus kocoook burung saya, bikin diaaaa jadi gede, ooaaah, yaaa teruus", ujar Ntsubo dan Gbagbo saling bersahutan.
Utuso sementara itu semakin brutal mengusap dan terkadang menyelinapkan jarinya kedalam lembah lembab yang terlindung oleh bibir kemaluan jauh lebih mungil dibandingkan wanita asli pedalaman yang sering dipermainkannya.

Jari jari lain dari pemerkosa bertopeng kini telah pula "bermukim" ditengah belahan pantat Ashanty, mencari pusat tengah lingkaran anus yang tentu saja bagi ukuran penduduk pribumi ditengah rimba ini sangat mungil sangat menawan dan mengundang untuk dimasuki.  Ashanty mengeluarkan protes namun suaranya terpendam dan teredam oleh penis besar ibarat pisang tanduk menghunjam ditenggorokannya, mencegah getaran pita suaranya sehingga yang keluar hanyalah bunyi rintihan memilukan :
"Jnnnggggnn, eempppfffh, enggggghh, nnggggggh , lllllpppppsssskkknnn, oooouuummmpfffh, nnnnnnssssshhhhllllnnn , aaooowwwfffhhh, ".
Ashanty berusaha menggoyangkan pinggulnya yang menungging keatas itu kekiri kekanan mengelakkan tusukan jari ditengah duburnya, namun pemerkosa bertopeng menyeramkan bersama Utuzo si penunujuk jalan jahanam kini mendekap pinggang Ashanty dari kiri kanan dan menekannya kebawah sehingga bokong istri cantik yang sedang disiksa ini semakin menonjol keatas dan bongkahan pantatnya semakin tampak menggiurkan.
Gbagbo dan Ntsubo semakin menyeringai lebar menakutkan dan kini bergantian memeras meremas dan menarik memijit memilin mencubit puting Ashanty sehingga terasa perih dan ngilu, namun tangan² mereka yang lain juga mengusap dan menekan nekan ketiak Ashanty membuatnya semakin mengeluh dan menggelinjang kegelian.
Utuzo sementara itu telah berhasil memasukkan sebuah jarinya kedalam vagina Ashanty dan mulai merojok keluar masuk sambil memutar mutarkan jarinya itu. Rontaan Ashanty disertai ratapannya yang memelas justru semakin membuatnya makin bersemangat :
"Bagus bagus terus ayyyo yyyyo goooyangg , manaa sirooopnya yang maniiiis, nona anak bagus cantik keluaaaarkan siroopnya , ayyyo ayyyo".
Pada saat itu Ashanty ingin berteriak sekuat isi paru parunya namun apa mau pemerkosa mulutnya justru menjambak rambut Ashanty dengan kasar dan menekan kepalanya sehingga lebih dari separuh penisnya masuk menekan rahang belakang Ashanty. Tak lama kemudian Ashanty merasakan penis dimulutnya melebar sedemikian rupa sehingga rahang Ashanty terasa sangat sakit pegal karena dipaksa membuka maksimal tanpa hentinya lalu penis itu berdenyut denyut dan akhirnya semburan sperma hangat memenuhi kerongkongannya. Aroma hanyir sangat menjijikkan memenuhi pancaindera pernafasannya yang dirasakannya ibarat akan tercekik - doyan atau tak doyan , jijik atau tak jijik , mual atau tak mual , semuanya tak ada guna untuk dilawan karena Ashanty tahu tak ada jalan lain yang terbuka. Berkali kali Ashanty ingin muntah ketika teguk demi teguk lahar sepat agak asin memuakkan itu melalui lorong kerongkongannya. Kerongkongan yang biasanya menikmati minuman mahal termasuk anggur kelas satu dan champagne itu kini dipaksakan menelan sperma orang sadis yang sama sekali bukan tandingan derajatnya. Dari balik topeng menakutkan itu keluar suara ibarat binatang buas jantan sedang menggeram menyetubuhi sang betina. Geraman itu terdengar di telinga Ashanty bagaikan gema yang tak ada habisnya sementara semprotan demi semprotan sari kejantanan harus diterimanya. Tubuhnya yang sedemikian langsing semampai bahenol kini menjadi permainan dari lima lelaki kasar - namun ini baru permulaan dari siksaan yang akan masih berlanjut. Setelah tetesan tetesan sperma yang membanjiri mulutnya akhirnya terhenti maka sang pemerkosa bertopeng itu melepaskan jambakannya di rambut korbannya dan menggeser menggulingkan badannya kesamping sehingga Ashanty sempat megap megap menghirup menarik nafas panjang kelelahan dan mengharapkan akan memperoleh kesempatan sedikit istirahat. Namun harapan Ashanty itu hanya sia sia karena tubuh si permekosa bertopeng segera di gantikan oleh Ntsubo yang merebahkan dirinya dengan penis gagah perkasa ibarat tugu patung totem yang melambangkan keperkasaan sang nenek moyang suku primitif itu. Ashanty berusaha berontak namun apalah daya seorang wanita lemah menghadapi lima tenaga alamiah laki laki yang hidup sehari hari di tengah rimba.

Ntsubo memeluk lingkaran dada Ashanty sehingga tak dapat berkutik lagi sedangkan Gbagbo dan Utuzo merejang kembali tangan Ashanty di punggungnya , lalu pinggul molek Ashanty diturunkan mereka perlahan lahan sambil mengarahkan belahan selangkangan wanita korban mereka ke penis Ntsubo yang berdiri tegar ibarat tombak menunggu celah yang akan dihajarnya habis habisan. Berbeda dugaan mereka yang rupanya sudah sering memperkosa bersama wanita suku pedalaman mereka didesa maka ukuran gerbang vagina Ashanty tak selebar wanita pribumi disitu. Berkali kali usaha mereka gagal, biarpun penis Ntsubo telah demikian tegang bagaikan kayu penumbuk beras dan vagina Ashanty telah dirangsang jari jari Utuzo namun "tembakan" mereka meleset kesamping kiri kanan atas atas bawah. Kini mereka memaksa Ashanty setengah berdiri dengan lutut setengah ditekuk , tangannya tetap ditelikung di punggung , lalu Gbagbo dan Utuzo menarik melebarkan bibir kemaluan Ashanty kekiri kekanan. Tentu saja Ashanty tak mau diperlakukan sebagai pelacur desa dan berusaha berontak sekuat tenaga - namun kedua lengannya yang ditelikung dipunggungnya semakin ditarik keatas sehingga terasa sangat sakit di sendi pundaknya menyebabkan Ashanty meraung menjerit. Setelah itu Ashanty tak berani lagi berontak karena takut sendi bahunya akan lepas atau patah dan pasrah akan di tikam vaginanya dari bawah ibarat legenda Dracula yang "menyaté" musuh yang ditangkapnya dengan perlahan menusuk menembus perut mereka dengan memakai tonggak kayu ditanam ditanah bagaikan bambu runcing. Meskipun bukan gadis lagi - telah lama memasuki jenjang pernikahan dan sering ML dengan suaminya - bahkan beberapa menit lalu sempat di perkosa oleh Aslan - dan dirangsang dengan jari tangan Utuzo sehingga pelumas alamiah vaginanya telah membasahi dinding kenikmatannya - namun pemasukan penis Ntsubo tetap dirasakan sakit ibarat dimaam pengantin. Penyebabnya adalah ketidak sesuaian ukuran vaginanya dibandingkan kejantanan yang milimeter demi milimeter sedang menguak menerobos gerbang kewanitannya.
"Auuuuuuw, ooooohhh , pelaaaan pelaaaaaan , aduuuuuuh auuuuuuuw sakiiiiiiit , saaakiiiiit , hentiiikaan duluuu, uuuuuhh, aaampuuun , auuuuuuuww , saaakiiiiiiiit ", lolongan suara Ashanty memecah keheningan malam.
Ashanty menengadahkan wajahnya keatas, kepalanya menoleh kekanan kekiri , hidungnya yang bangir mancung kembang kempis menahan rasa sakit yang menyiksa selangkangannya yang terasa seolah sedang dibelah dua.
Berbeda dengan Ashanty yang sedang menderita maka ke lima lelaki pribumi Papua itu menikmati sekali adegan yang jarang terjadi itu : tubuh wanita kota putih mulus dipaksakan duduk dengan lembing tumpul memasuki liang intimnya. Kedua lutut Ashanty yang dipaksa menekuk setengah berdiri setangah berlutut semakin lama semakin letih kaku dan gemetar menahan berat badannya sendiri. Akhirnya tanpa dapat dihindari tubuh molek bahenol itu turun , turun , turun dan mau tak mau akhirnya harus rela di"saté" oleh penis Ntsubo. Dalam mimpi seburuk apapun seumur hidupnya tak pernah Ashanty membayangkan apa yang sedang dialaminya saat ini : seorang diri ditengah hutan rimba di kerjain oleh lima lelaki kasar secara bergantian dan sekaligus secara massal. Badannya terasa dilolosi semua tulangnya , keinginan melawan sudah mulai punah , hanya tekad untuk kembali ke dunia yang beradab masih ada dan hanya inilah yang mempertahankannya untuk tetap hidup.

Tubuh Ashanty telanjang bulat dan penuh keringat kini hanya dapat menggelepar dengan lemah ketika milimeter demi milimeter di"tancap"kan ke lembing daging yang menusuk membelahnya melalui vagina yang begitu mungil.
Ibarat terbawa angin puting beliung dirasakannya semua dihadapan mata berputar , seluruh tubuhnya terasa panas dingin mengalami pelecehan tanpa peri kemanusiaan itu. Bermenit menit lamanya tubuh ayu molek yang terbiasa dengan massage , spa dan segala macam perawatan di salon kecantikan kini diperlakukan ibarat pelacur desa yang tak ada harganya sama sekali. Ashanty tak dapat mengerti mengapa ia belum pingsan karena disaat sedang mengalami penyiksaan seperti itu - apakah dirinya sudah mulai berubah dan ikut terbawa alam pervers ?
Ketika tubuhnya terutama vaginanya secara sangat lambat mulai adaptasi dengan penis yang menjarahnya tanpa belas kasihan itu mendadak Ashanty merasakan ada tangan kasar memaksa melebarkan bongkahan pantatnya dan memaksa celah yang menyembunyikan liang duburnya membuka dan menunjukkan lingkaran kuncup bunga terhias otot lingkar berkerut. Dirasakannya ada cairan ludah hangat jatuh di tengah anusnya itu dan kemudian dua buah jari mendorong perlahan namun pasti memaksa untuk menembus pertahanan otot lingkarannya disitu. 
Rasa ngeri dan takut tak terkira menyadarkan Ashanty karena naluri kewanitaannya memperingatkan apa yang akan terjadi.
"Jangaan , jangaaan masuuk disitu , sakiiiiit , engggga mau , jangaaan , kasihaniiii sayaaa, aaampuuuun", tanpa sadar keluar suara Ashanty memelas meratap memohon belas kasihan yang tentu saja takkan menggoyahkan rasa keinginan para pemerkosanya yang sadis  untuk melihat lebih lanjut penderitaan mangsanya.
Ternyata yang kini memulai kegiatan sodomi adalah si penunjuk jalan termuda yaitu Utuzo. Dari semua tokoh pemerkosa dimalam itu Utuzo adalah yang termuda dan mempunyai penis terpanjang. Utuzo awalnya berasal dari suku lain dan ketika ia masih kecil terjadi perang total diantara suku suku primitif disitu. Semua penduduk dari suku asal Utuzo dibunuh terkecuali ibunya Utuzo yang memang masih muda dan tercantik untuk ukuran dunia Papua disitu. Karena itu Utuzo yang saat itu baru masuk usia satu tahun bersama ibunya dibiarkan hidup, diculik dibawa oleh suku buas yang memenangkan perang dan dibesarkan ditengah suku lain itu. Ibu Utuzo dijadikan gundik oleh kepala suku pemenang danUtuzo menjadi anak lelaki kesayangannya. Menurut kebiasaan suku itu anak laki laki sepuluh hari setelah lahir harus disunat dan karena itulah Utuzo adalah satu satunya pemerkosa dimalam itu yang penisnya tidak berkulup lagi. Utuzo menyeringai lebar ketika dilihatnya Ashanty calon korbannya telah menungging maksimal dan di rejang kuat di kiri kanan oleh Ntsubo dan Gbagbo sedangkan seorang pemerkosa kelima yang juga bertopeng berdiri didepan wajah Ashanty meminta service mulut mungilnya.
Kembali Ashanty dipaksa untuk menghisap menyepong penis berkulup dengan bau sangat tak menyenangkan - terutama ketika kulup lelaki pemerkosanya telah tertarik kebelakang oleh bibir dan deretan gigi Ashanty.
"Ennnssshhhmmmmpfffh, ssssssshhhhhh , aaaauuuuuuuwwww ", Ashanty terlonjak badannya ke depan sehingga service mulutnya terlepas dari penis pemerkosanya ketika dirasakannya Utuzo menekan kepala penisnya yang disunat berbentuk jamur alam raksasa.
Ibarat siput yang tersentuh garam yang pasti akan membunuhnya Ashanty berontak dan meronta dengan sisa sisa tenaga cadangan mengingatkan seseorang yang sekarat kejang terakhir kali. Biar bagaimanapun tenaga Gbagbo dan Ntsubo masih lebih kuat dan apalagi dibantu dengan tekanan Utuzo di punggungnya memaksa Ashanty tetap menungging.

Hanya satu dua menit Ashanty berontak dan menggeliat lalu kembali dapat ditaklukkan : mulutnya kembali terisi penis yang sedemikian bau memualkan - sedangkan otot otot lingkar pelindung anusnya tanpa ada rasa kasihan lagi dibelah dan dimekarkan oleh penis Utuzo. Bermenit menit otot otot lingkaran yang juga cukup kuat itu bertahan , namun akhirnya dengan dengus nafas Utuzo yang menakutkan dan jeritan Ashanty yang memilukan namun teredam pecahlah keperawanannya yang kedua........Ashanty merasakan badannya seperti dibelah dua bagian , anusnya ibarat dicolok kayu panas berapi lalu disayat sayat lapisan selaput lendir dindingnya , ibarat luka terpotong terkena cairan cuka dan garam , inikah rasanya apa yang disebut "hukum picis" zaman baheula ?. 
Berbeda dengan korbannya yang sedemikian menderita maka ke empat lelaki pemerkosanya , terutama Utuzo merasakan sangat puas bahagia melihat mangsanya melenguh tertahan , mendesah tertahan , merintih teredam , sesekali menggelinjang lemah dan sisanya hanya menggelepar lemah dibawah kekuasaan mereka. Ashanty sudah tak sadar harus "service" mengulum menyepong menjilat penis bau yang dibenci dikutuknya itu, semua syarafnya hanya merasakan satu sensasi disaat itu yaitu rasa sakit yang benar benar telah mencapai kesanggupannya untuk bertahan. Ashanty hanya dapat memanjatkan doa agar ia segera pingsan atau lebih baik mati mendadak daripada harus mengalami penyiksaan seperti ini , seluruh tubuhnya ibaratnya hanya terdiri dari gumpalan syaraf diterpa oleh satu perasaan : sakit , sakit dan sekali lagi sakit , perih, nyeri , ngilu tak tertahan. Samar samar didengarnya geraman dan dengusan ke empat lelaki penyiksanya saling bersahutan bersamaan dengan ritme masuk keluarnya penis dimulutnya dan di anusnya. Utuzo rupanya sudah terbiasa menyodomi wanita dan ia mengetahui bahwa "kemenangannya" akan lebih mantab sempurna jika sodominya ditambah "bumbu" sedikit sehingga wanita korbannya ditengah menderita sakit tak terkira juga akhirnya merintih rintih dan kejang karena orgasmus yang dipaksakan. Utuzo tahu caranya menyiksa wanita sedemikian rupa sehingga melupakan rasa sakit dan malu akan menjerit jerit kenikmatan. Utuzo menjilati belakang leher Ashanty yang jenjang , samping lehernya , kemudian bergantian telinganya kiri dan kanan sehingga basah dengan ludahnya, lalu mendesis meniup dan berbisik ditelinga Ashanty :
"Nona kesakitan ya, coba jangan melawan , coba bayangkan rasa sakit ini akan erkurang pelan pelan dan berganti dengan enak , mau kan , nanti saya bantu begini caranya".
Ashanty merasakan kini ada jari jari yang kembali mengusap "mont veneris"nya - mencari celah kewanitaannya yang lembab , menguakkannnya , mencari kearah atas dan menemukan daging kecil tersembunyi dilipatan bibir dalam kemaluannya.
"Ini nona punya sumber kenikmatan yang belum terpakai , ini jagung yang paling lezat didunia , ini jagung bukan untuk direbus atau dibakar , tapi untuk dimanjakan jari jari saya , mau kan nona manis ?", Utuzo meneruskan ucapannya sambil menjepit dan memijit klitoris Ashanty.
Utuzo mengetahui bahwa klitoris sebenarnya mirip dengan penis , ada "kulup"nya yaitu lipatan bibir kemaluan dalam - dan kalau lipatan itu dibuka maka muncullah klitoris itu dan siap untuk dirajah dan dirangsang oleh jari yang berpengalaman.
"Eeeemmmmnnnggeeaa, nggggggmmmmphfff,  jjjnnnnngggnnn, eeaaaauuuffmmmmphh, " hanya suara protes seperti itu keluar dari mulut Ashanty yang sedang dipenuhi kemaluan yang sangat memuakkannya.
Utuzo tak perduli semua itu, jari jarinya mengusap , memutar , memilin , menarik , mencubit kasar dan kembali mengelus klitoris Ashanty ibarat ahli permata sedang menggosok berlian yang baru ditemukannya. Kemahiran Utuzo membuat syaraf syaraf Ashanty yang selama ini dipusatkan untuk menerima rasa sakit tak terkira kini di paksakan untuk mengalihkan perhatian terhadap rangsangan lain tak kalah kuatnya, rangsangan geli geli ngilu tercampur sengatan sengatan seperti aliran listrik yang mula mula lemah namun makin lama semakin kuat.

Ashanty mengalami terjangan rasa lain yang tak diduganya semula : tanpa disadari paha dan betisnya yang begitu mulus mulai lagi bergetar , tanpa dikehendakinya jari jari kakinya menekuk membuka ibarat kepalan tangan , kulit telapak kakinya yang peka itu terasa kesemutan. Semua tanda dan gejala dari wanita yang mulai kehilangan pertahanan dirinya dan kini berada diperbatasan kehilangan rasa malu sama sekali tentu saja tak lolos dari pengamatan para lelaki pemerkosa Ashanty , dan mereka semakin lama semakin sering berpandangan satu sama lain dan semakin sering menukar seringai buas kemesuman mereka. Ntsubo dan Gbagbo kini cukup dengan masing masing dengan satu tangan memegang menelikung nadi Ashanty dipunggungnya , tangan mereka yang satunya mereka pakai untuk mengusap usap telapak kaki Ashanty sehingga si wanita ayu cantik ini semakin menggelinjang kegelian. Si pemerkosa bertopeng yang tetap merojok rojok penis baunya dimulut Ashanty tak mau kalah dan mengusap usap ketiak Ashanty yang tentu saja sangat peka pula. Utuzo kini meningkatkan rangsangan jari jari tangannya di klitoris Ashanty secara bergantian dengan tangan kiri kanan - jari jari tangannya yang "nganggur" tidak menyentuh klitoris dipakainya untuk merangsang bergantian puting buah dada Ashanty. Diusap - diremas - dipilin - dipijit dan dicubit cubitnya secara sadis pucuk merah jambu kecoklatan muda itu , menambah dorongan terakhir dipusat otak Ashanty memasuki jurang yang dalam. Ibarat orkes yang memainkan lagu berkepanjangan dan kini berakhir dengan nada crescendo maka ketiga pelaku adegan persetubuhan brutal itu mengalami orgasmus bersama : pemerkosa bertopeng menyemburkan spermanya yang sangat sepat hanyir di mulut Ashanty membuatnya terbatuk tersendak , Utuzo menyemburkan gelombang demi gelombang air maninya di dubur Ashanty - disertai cubitan gemas di puting susu dan klitoris Ashanty. Semua rangsangan simultan itu tak dapat tertahan lagi oleh Ashanty : bagaikan tsunami menghantam seluruh badannya yang bergetar gemetar dan menggelepar kejang kejang , didepan matanya terjadi letakan kosmik dengan hasil jutaan bintang berputar putar disertai bunyi pekikan melengking yang tiada hentinya. Bermenit menit berlalu dan barulah kemudian disadarinya dari mana datangnya pekikan melengking itu : itu adalah suaranya sendiri yang belum pernah didengarnya sendiri. Tak pernah dibayangkannya bahwa ia sebagai wanita sangat terpelajar dan hidup sopan santun akan sanggup mengeluarkan suara jeritan melengking memecahkan keheningan malam :
"Ouuuuuuhhhh , aaaaaauuuuuuuuuuuwwwww , aaaaaaaaaarrrrghhhh , eeemmmmpffffh , aaaaahhhhiiiiiiihhh , aauuuuuuuoooooooow ,  iiiiiiiiiyyyyyaaaaaaa  , oooooooohhhhhhh , teruuuuuussss , teeruuuuuuuuusss , aaaaa, saaaaakiiiiiittttt,  aaauuuuuuuwww , iiaayaaaaaaa , nikkmaaaaaat , udaaaaah iyaaaaaaa , teruuuuuuss" , akhirnya Ashanty benar benar memasuki alam penuh kegelapan di dalam benaknya - Ashanty jatuh pingsan.....

#######################
PEMBANTAIAN MELANJUT   - -  TRANSFORMASI TERJADI SEMPURNA.

Berjam jam Ashanty pingsan dan ketika perlahan lahan ia mulai sadar kembali tak langsung disadarinya mengapa terasa sangat pusing , tubuhnya terasa bergoyang goyang tak ada hentinya kedepan belakang dan terkadang menyamping. Lalu yang dilihatnya adalah selalu puncak pohon dengan daun daun tinggi dan juga terkadang langit pekat sedikit berbintang. Ashanty mencoba menggerakkan kaki tangannya namun tak berhasil dan ketika ia memaksakan diri membuka matanya lebih lebar maka rasa terkejutnya tak dapat diuraikan kata kata. Ia sedang di gotong dengan batang bambu amat besar , kaki tangannya terikat dan tergantung dibambu itu bagaikan hewan buruan babi rusa atau kijang besar telah dibunuh dan kini dibawa ke pusat perkubuan penduduk primitif ditengah hutan rimba untuk dijadikan santapan. Ashanty berusaha berteriak namun mulutnya disumpal dengan cabikan celana dalam string dan bh-nya sendiri sehingga suaranya tak keluar seperti dikehendakinya. Ashanty berusaha untuk berontak dan meronta ronta sekuat tenaga menyebabkan tubuhnya semakin keras bergoyang kekiri kekanan dan rupanya ini agak menyulitkan para penculiknya yang sedang menggotong yaitu kedua pribumi bertopeng.
Tiba tiba terdengar Gabgbo membentak dan memberikan aba aba dalam bahasa yang sama sekali tak dimengerti oleh Ashanty dan kedua pemanggulnya menghentikan tindakan mereka. Sebelum Ashanty menyadari apa yang akan terjadi mendadak dirasakan tubuhnya yang telanjang bulat itu dari kiri dan kanan di hajar dengan pecutan semacam tali rami yang selalu tergantung dipundak Gbagbo, Ntsubo dan Utuzo. Proses pemecutan itu tak hanya sekali saja melainkan berulang ulang , semakin lama semakin kencang dan menyakitkan sehingga Ashanty tak tahan lagi : menggeleng gelengkan kepalanya sehingga rambutnya kusut bergerai sambil mengeluarkan air mata dan menoleh kearah Utuzo yang berdiri didekat kepalanya mengawasi penyiksaan tak berperi kemanusiaan itu.
Utuzo mendekati telinga Ashanty , membuka sumpalan mulutnya dan berkata
"Nona harus menurut dan nyerah dibawa ke markas permukiman suku kami jika nona tak mau mengalami penyiksaan lebih barat. Nona pasti tahu dan telah sering melihat di rimba ini penuh sekali tumpukan tanah yang merupakan sarang semut merah yang nona telah alami sendiri satu dua kali bagaimana sakit pedih sengatannya. Kalau nona tetap melawan maka nona akan kami cambuki lagi sampai luka luka lalu nona kami letakkan diatas sarang semut itu - nona bisa bayangkan sendiri jika nona terikat tak berdaya digigiti disengati oleh puluhan, ratusan atau bahkan ribuan semut ganas itu - bagaimana sekarang nona janji tidak melawan atau akan disiksa seperti macam itu ?".

Ashanty bergidik dan tak dapat membayangkan bagaimana rasanya menahan kerubutan ribuan semut merah itu : sengatan satu dua semut saja sakitnya sudah bukan main , bagaimana kalau ribuan. Ashanty tak meneruskan niatnya untuk berteriak dan hanya bertanya dengan suara memelas :
"Ya, saya takkan mencoba melawan , namun tolong lepaskan dan kembalikan saya ke kota , saya pasti tak ada gunanya berada di markas suku kamu , saya tak punya apa apa lagi , biarlah saya batalkan niat saya mencari suami saya , tolong kembalikan saya".
Utuzo menoleh kearah para penculik lain dan mengucapkan beberapa kalimat - mungkin penterjemahan dalam bahasa asli mereka bagi yang kurang mengerti percakapan baru terjadi. Sambil menggeleng gelengkan kepalanya Utuzo berkata : "Semuanya kini telah terlambat , kehidupan nona akan diputuskan nanti oleh kepala suku besar kami , kemungkinan besar nona akan selamat tak dibunuh tapi apa nasib nona selanjutnya akan nona dengar di markas kami".
"Nona pasti tak terbiasa digotong dalam keadaan terikat begini , oleh karena itu agar nona tak terlalu pusing minumlah sedikit obat yang saya bawa ini".
Ashanty yang memang sudah sangat pusing dan mual tergoyang goyang digotong seperti hewan sembelihan itu tak melawan dan bertanya lebih lanjut , diminumnya saja cairan yang disodorkan dimulutnya. Dan memang benar dalam waktu hanya beberapa menit Ashanty merasakan kedua pelupuk matanya begitu berat sukar dibuka dan kepalanya penat sehingga tak lama kemudian dihadapan matanya menjadi gelap - Ashanty tak sadarkan diri lagi.

Entah berapa lama , berapa jam , berapa hari berlalu Ashanty tak dapat dan tak sanggup menghitungnya lagi - Ashanty telah kehilangan orientasi tempat dan waktu. Ashanty akhirnya menyadari bahwa para penculiknya memakai cara transportasi yang sangat merendahkan dirinya itu karena dengan cara itu mereka dapat bergerak lebih cepat jika dibandingkan ia harus mengikuti langkah mereka yang memang sangat gesit dan cepat karena terbiasa menembus hutan belukar. Ashanty hanya dilepaskan dari ikatan dan gotongan menggantung kalau mereka akan makan minum dan melepaskan hajat - sesudah itu ia diberikan obat dan diikat dan dibawa dengan "pikulan" bambu itu. Perjalanan mereka menembus hutan rimba diseling sekali dengan naik perahu melewati danau sangat besar - dan Ashanty mellihat dengan hati berdebar debar bahwa di seberang tepi danau tujuan mereka tampaklah dikejauhan sebuah gunung tinggi berbentuk sirip ikan hiu namun sebagian besar puncaknya tertutup kabut dan awan. Jadi betul sekali apa yang dikatakan suaminya itu - ternyata itu memang bukan dongeng atau legenda melainkan kenyataan , namun apakah rahasia tersimpan didaerah yang dikatakan sangat angker dan penuh misteri itu , apakah suaminya ada disitu , masih hidupkah , apa yang ditemukannya,  pa nasibnya ? Setelah hampir seharian menyeberangi danau yang ternyata memang sangat luas itu Ashanty tidak lagi diikat dan di gotong ibarat hewan sembelihan , namun setengah diseret dipaksa mengikuti langkah langkah lebar dan cepat para penculiknya kembali memasuki hutan rimba belukar , sampai akhirnya mereka sampailah di kaki gunung misterius itu. Ashanty tertegun melihat dinding gunung yang tinggi itu namun apa yang menarik perhatian dan mengejutkannya setelah melihat lereng gunung melalui alat kekeran yang sebentar dipinjamkan oleh Utuzo adalah banyaknya gua serta celah celah besar disitu. Terlihat jelas pula banyaknya gerak gerik di celah celah serta gua di lereng terjal itu dan pada saat Ashanty masih memikir mikir apakah yang bergerak gerak disitu maka Utuzo menerangkannya :
"Disitulah suku kami hidup , markas pusat kehidupan kami berada didalam gunung itu , hampir dari puncak sampai dibawah tanah , sejak dari zaman purba sampai sekarang , oleh karena itu kami mudah bersembunyi dan sukar terlihat apalagi ditemukan oleh orang luar". "Di dalam gunung itu dan terutama di bawah tanahnya banyak tersimpan segala macam hasil alam yang rupanya sangat dicari cari oleh dunia modern - termasuk suami nona".
Ashanty terkejut mendengat kalimat terakhir ini dan langsung bertanya : "Jadi suami saya memang berada disitu dan masih hidup dia , tolong kasih tahu , bagaimana nasibnya , pasti dia sedang menunggu kedatangan saya ?".
Beberapa saat ibarat kehidupan disekeliling mereka terhenti dan akhirnya Utuzo memecahkan keheningan dengan jawabannya : "Tak lama lagi nona akan melihat dan menemukan sendiri jawabannya , setelah itu barulah akan ditentukan bagaimana kiranya jalan kehidupan nona lebih lanjut".
Ashanty berusaha menekan rasa ingin tahunya dan merasakan bahwa tak ada gunanya bertanya lebih mendalam karena pasti tak akan memperoleh jawaban yang diharapkannya. Oleh karena itu diikutinya saja secara bergegas langkah para penculiknya itu - jika ia berjalan terlalu lama maka dirasakannya ada lembing tajam menusuk punggungnya. Ashanty telah membiasakan diri berjalan ditengah para lelaki penculi pemerkosanya dalam keadaan hampir telanjang bulat - hanya beberapa daun lebar mirip daun pohon talas menutup daerah kelaminnya. Ditengah perjalanan itu beberapa kali dirasakannya tangan tangan jail dari penculiknya menjamah dan meremas baik buah dada maupun pinggulnya yang memang menggemaskan terutama dilihat bergoyang ketika berjalan.
Akhirnya mereka tiba dikaki gunung dan kedatangan mereka disambut hiruk pikuk teriakan beberapa anak kecil, lalu ditambah beberapa wanita tua dan akhirnya jumlahnya makin bertambah dengan puluhan lelaki tua muda. Ashanty tak sempat lagi memperhatikan bagaimana bisingnya suara yang mengiringi tiap langkahnya , yang dirasakannya adalah udara yang sangat panas lembab ketika ia masuk semakin dalam dan menaiki beberapa kali jenjang tanah liat keras yang rupanya merupakan tangga untuk mencapai tempat semakin tinggi. Dilihatnya pula bahwa penduduk asli primitif yang kini mengerubunginya itu hampir semua telanjang bulat , para laki laki memakai semacam koteka sedangkan para wanitanya hanya memakai semacam cawat. Sedangkan anak anak yang mengerumuninya umumnya telanjang bulat dan terlihat penis anak laki laki jarang sekali yang disunat.

Akhirnya mereka sampai di sebuah dataran yang sangat luas dan disitu terlihat banyak suku bangsa liar itu sedang berkumpul mengelilingi tempat berbentuk susun menyusun agaknya menyerupai semacam tahta tempat duduk para pemimpin. Dan memang benar dugaan Ashanty karena ketika Utuzo meneriakkan sesuatu kalimat yang terdengar aneh sekali ditelinga Ashanty maka kumpulan orang disekeliling ketinggian itu membuyar kesamping. Terlihatlah seorang penduduk asli pribumi suku bangsa primitif itu sedang duduk di tahta dengan didampingi seorang bertopeng. Sang pemimpin atau kepala suku yang duduk di tahta itu berdiri perlahan lahan dan Ashanty melihat penuh kengerian tubuh sedemikian kekar berbulu lebih mirip beruang atau gorila daripada tubuh manusia. Muka si pemimpin itupun terlihat sangat buas tanpa ada senyum atau mimik sama sekali dengan mata dapat dikatakan mendelik mengawasi tubuh Ashanty dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Utuzo yang selama itu berdiri dibelakang Ashanty mendadak menekan kedua pundak Ashanty dan memaksanya untuk berlutut , kemudian dengan kasar direnggutnya ikatan daun lebar dipunggung Ashanty sehingga lepas jatuh ditanah. Dengan demikian sempurna sudah tubuh Ashanty kembali telanjang bulat bagaikan dewi Aphrodite putih mulus ditengah kerumunan ratusan suku asli Papua berkulit hitam yang terlihat masih sangat buas dan liar.
Ashanty berusaha menutupi buah dadanya dan kemaluannya dengan kedua tangannya , namun segera dikerumuni oleh beberapa lelaki muda yang menyeretnya semakin mendekati tahta sang pemimpin. Kedua tangannya kembali di telikung di punggungnya sehingga Ashanty tak dapat menutupi bagian badannya yang vital , bahkan telikungan itu semakin diperkuat dan dinaikkan agak keatas menyebabkan Ashanty menjerit kesakitan. Tanpa terasa secara refleks Ashanty berusaha mengurangi rasa sakit disendi bahunya yang ditelikung itu dengan agak membusungkan dadanya sehingga kedua bukit kenyalnya semakin menonjol menantang para mata lelaki disitu. Hiruk pikuk yang memenuhi ruangan gua besar itu langsung berhenti dalam waktu sedetik ketika sang pemimpin mengaangkat tangannya dan memberikan tanda agar Utuzo maju kedepan mendekati tahta. Utuzo melakukan apa yang diperintahkan itu dan setelah berada sekitar lima meter dari tahta mulailah Utuzo berbicara dengan suara lantang kepada si pemimpin suku bangsa itu. Beberapa kali selama berbicara Utuzo menoleh kebelakang dan menunjuk kearah Ashanty namun tentu saja Ashanty tak mengerti bahasa yang dipakai oleh mereka. Setelah berbicara sekitar sepuluh menit yang dirasakan oleh Ashanty bagaikan berabad abad lamanya sang pemimpin turun dari kursi tahtanya dan berjalan berdampingan dengan Utuzo mendekati Ashanty. Tanpa disadari Ashanty berusaha mundur setapak demi setapak namun tentu saja ditahan oleh beberapa lelaki kuat yang memegangi badannya bahkan justru mereka semakin mendorong Ashanty mendekati pemimpin mereka dan kembali menelikung dengan kuat sehingga puting Ashanty lagi lagi makin menonjol mencuat keatas.
Ashanty tak dapat bergerak atau menghindar lagi : ia dikelilingi oleh sekian banyak lelaki berwajah buas hampir telanjang semuanya , dan sang pemimpin suku kini telah berdiri langsung berdempetan dengannya : dadanya yang berbulu hitam lebat bagaikan gorila melekat dengan kedua putingnya yang mengeras. Sedemikian tinggi besar dan kekarnya tubuh si pemimpin suku sehingga Utuzo yang demikian tinggi pun masih kalah apalagi Ashanty yang berukuran sebenarnya cukup tinggi badan 1,75 meter hanya mencapai ketiak si pemimpin !.

Si pemimpin menyentuh dan mengangkat dagu Ashanty sehingga mata mereka saling bertatapan : sepasang mata buas bersinar sinar penuh kebuasan dan nafsu hewaniah dengan sepasang mata jeli ibarat bintang kejora penuh rasa jijik dan takut. Badan si pemimpin langsung tercium menyebarkan aroma aneh menyengat hidung Ashanty
"Aku Bomo Manolo , raja suku Kotubu , rakyat penjaga gunung Maronggo , asing masuk , asing sudah mati , asing hidup korban untuk dewa , asing hidup jadi boleh perempuan raja" , demikian si pemimpin berbicara dalam susunan kata yang sangat membingungkan Ashanty yang telah gemetar seluruh tubuhnya karena takut.
Utuzo yang melihat bahwa Ashanty kurang mengerti maksud pemimpinnya langsung menambahkan : "Orang asing yang berani masuk ketengah daerah sini dan jatuh ditangan suku Kotubu harus dibunuh, dikorbankan untuk dewa gunung Maronggo, kecuali perempuan muda boleh hidup tapi harus menjadi istri raja Bomo Manolo".
"Jadi kalau begitu dimana suami saya ?, Ashanty memberanikan diri menanyakan nasib suaminya.
Manolo memandang Ashanty penuh kebengisan lalu menggerakkan tangannya menyuruh Utuzo serta Ashanty ikut berjalan kebelakang memutari tahtanya dan apa yang terlihat menyebabkan Ashanty tak dapat menahan lagi jeritannya penuh kengerian dan ketakutan dan tanpa disadari menjatuhkan dirinya berlutut menangis tersedu sedu. Di belakang tahta itu menjulang dua buah pilar kayu sangat tebal - dan ditengah kedua pilar itu dengan terbentang tangan kakinya terikat adalah Professor Azkenazy yang jelas telah mulai membusuk mayatnya. Wajahnya telah rusak hampir tak terkenali , didadanya tergantung foto istrinya : Ashanty , dan disampingnya foto itu tergantung alat yang memberikan bunyi keras tak henti²nya dan langsung dikenali Ashanty adalah Geiger Counter. Alat itu adalah untuk mencari dan men-deteksi bahan yang mempunyai radio-aktif. Bahan radio aktif tentu saja sangat dicari oleh para pemimpin dunia karena dapat dijadikan bahan baku untuk reaktor atom - entah untuk tujuan damai atau membuat senjata nuklir.
"Suami nona tidak kami bunuh , dia kami temukan sudah tak sadar rupanya karena gigitan ular berbisa , tapi dia tidak bisa mati karena jantungnya terus berbunyi, dan dia melindungi raja kami supaya tidak bisa mati", demikian Utuzo berfilsafah lebih lanjut, dan Manolo yang berdiri disebelahnya mengangguk perlahan tanda setuju.
Mendadak Ashanty sadar bahwa suku yang masih sangat sederhana jalan berfikirnya itu menganggap bahwa suaminya yang telah mati itu masih terus hidup karena bunyi Geiger Counter yang terus aktif karena rupanya di dalam gua itu - atau bahkan mungkin seluruh gunung Maronggo memang penuh dengan bahan radio-aktif.
Ashanty merasa lemas seluruh badannya. Ia menyadari bahwa harapannya untuk dapat  kembali kedunia modern dapat dikatakan telah punah. Pilihan apa yang tersisa bagi masa depannya? Ibarat dapat membaca jalan fikiran Utuzo membawa Ashanty untuk menjauhi mayat suaminya yang terikat itu. Dibelakangnya tetap ikut raja Manolo dan beberapa orang pengawalnya yang sangat tegap. Beberapa puluh meter dibelakang mayat Azkenazy dan tahta sang pemimpin terlihat sebuah lembah yang cukup dalam. Disitu tampak patung menyeramkan yang rupanya adalah dewa pujaan rakyat suku bangsa ini.


Di depan patung menyeramkan itu tampak dua buah pilar kayu serupa dengan tempat mengikat mayat Azkenazy. Bedanya adalah di kedua pilar itu tampak terikat rangka rangka manusia yang jelas telah lama mati tinggal tulang belulang saja.
"Mati siksa korban makanan dewa , hidup senang ikut raja", tiba tiba terdengar lagi hentakan suara Manolo yang berat, seolah guntur mendengung di telinga Ashanty dan dirasakannya tangan Manolo membelai pinggulnya.
Tak perlu diuraikan lebih lanjut oleh Utuzo kali ini Ashanty telah menyadari apa yang kini tinggal menjadi pilihannya : akan disiksa sehingga mati untuk menjadi korban dewa berhala pujaan rakyat suku Kotubo atau tetap hidup namun bersedia menjadi istri Manolo dan harus bersedia memuaskan semua keinginannya. Ashanty tak sanggup menjawab dan tak sanggup memutuskan apa yang terlebih baik : lebih baik mati saja namun ia tak tahu apakah tahan sebelumnya mengalami segala macam siksaan yang sadis. Atau biarlah menjadi istri sang raja Manolo yang lebih mirip beruang atau gorila , dan permainan sadis apa yang harus diterimanya seumur hidup berdampingan dengan pemimpin berbadan raksasa ini. Manolo tersenyum lebar melihat Ashanty yang hanya mengalirkan air mata tersengguk sengguk dan menggeleng kepalanya seolah ingin memperoleh jawaban yang terbaik namun sia sia saja tak dapat didengarnya. Mendadak Manolo melepaskan tali ikatan penutup pinggulnya yang terbuat dari kulit harimau , dan tanpa disadarinya Ashanty menoleh kearah selangkangan Manolo. Disertai pekikan yang tertahan pandangan mata Ashanty melebar penuh rasa takut dan tak percaya apa yang dilihatnya : bukan saja penis suaminya , bahkan penis Aslan yang memperkosanya didalam tenda , dan juga kelima alat kemaluan penduduk suku asli pemerkosanya setelah itu - termasuk kejantanan Utuzo yang membuatnya pingsan beberapa kali ketika disiksa perkosaan dan sodomi - semuanya tak dapat menandingi penis raksasa dihadapannya. Penis raja Manolo dalam keadaan "tidur" telah menyamai lebarnya lengan bayi dan panjangnya mencapai setengah paha menggantung bagaikan senjata rahasia kebanggaan yang empunya , bagaimana jika ereksi penuh - mana tahan Ashanty harus melayani monster ini? Manolo tak menunggu dan tak memperdulikan apakah Ashanty setuju atau tidak : Ashanty adalah istri Azkenazy yang dimatanya memiliki kehudpan abadi tak akan mati karena jantungnya berdenyut terus. Barangsiapa menjadi istrinya dan menguasai tubuhnya pasti akan memperoleh lagi tambahan kekuatan sukar dikalahkan siapapun.
"Nona siap sama banyak perempuan kasih obat jadi tahan sanggup kawin raja Manolo", demikian ujarnya sambil
berbisik bisik ketelinga Utuzo yang tersenyum lebar dan menyeringai menatap Ashanty penuh kemesuman.
Tanpa banyak basa basi lagi tubuh Ashanty yang telanjang bulat didorong, ditarik dan setengah diseret oleh para pengawal pribadi Manolo terdiri dari lelaki muda bertubuh kekar menuju kebagian lain dari markas mereka.
Pertama tama Ashanty dibawa kebagian paling bawah dari markas suku Kotubu yang juga tersembunyi digunung Maronggo. Ternyata danau yang terletak tak jauh dari kaki gunung itu mempunyai sambungan dan hubungan dengan semacam sungai yang mengalir di bawah tanah markas suku Kotubu. Disitu ternyata telah menunggu peluhan wanita setengah baya dan tanpa memperdulikan protes Ashanty yang merasa sangat kedinginan, mereka memandikan Ashanty dengan merendamnya disungai berair jernih namun dengan arus tetap mengalir. Ashanty tak hanya direndamkan di air biasa namun setelah itu juga dimasukkan semacam kolam kecil dengan sumber air hangat dan dipenuhi dengan segala macam daun dan bunga liar yang rupanya tumbuh di daerah situ. Setelah itu Ashanty digusur ke dalam ruangan lain dimana telah menunggu pula puluhan wanita suku Kotubu dan segera diseret menuju tengah ruangan yang terletak agak lebih tinggi. Di situ ternyata ada bale-bale dengan tinggi sekitar setengah meter terbuat dari batang batang bambu yang sangat kuat demikian pula empat kakinya.

Sebelum Ashanty sempat menduga apa kegunaan dipan itu tubuhnya yang bugil dan agak menggigil kedinginan diseret dan diletakkan diatas bale-bale bambu itu. Kedua pergelangan tangan dan pergelangan kakinya ditarik dipentang selebar mungkin dan diikat dengan semacam tali dari anyaman rotan tipis ke ujung bawah kaki bale-bale sehingga tubuh Ashanty kini membentuk huruf X besar. Ashanty mencoba melepaskan tangan dan kakinya dan meronta sekuat tenaganya namun ikatan tali anyaman rotan tipis itu ternyata sangat kuat. Jangankan untuk melepaskan diri, berkutik atau bergesar sedikitpun Ashanty tak mampu lagi dan dengan rasa cemas tercampur takut Ashanty menantikan apa yang terjadi selanjutnya. Dua orang wanita setengah baya kini menempatkan diri disamping kiri kanan bahu Ashanty dan dua orang lagi duduk langsung disamping pahanya yang terpentang maksimal lebar dan terikat erat. Rupanya ke-empat wanita setengah baya itu mempunyai tugas untuk memeriksa apakah ada bulu di ketiak dan disekitar kemaluan Ashanty. Mereka meneliti dan memeriksa sangat cermat bagian lipatan tubuh Ashanty itu dan setiap orang mempunyai semacam alat capitan kecil terbuat dari kayu : setiap kali ditemukan ada rambut halus diketiak maupun dipinggir vagina Ashanty maka dengan capitan itu mereka segera mencabutnya. Hal ini sama sekali diluar dugaan Ashanty yang tentu saja sebagai wanita modern memelihara mencukur bulu bulu yang mengganggu kecantikan badannya. Namun Ashanty memakai alat pencukur canggih "Ladi-Shave" sehingga proses pembersihan bulu rambut itu berjalan dengan lancar tanpa dirasakan oleh kulit Ashanty yang memang licin mulus itu. Kini pembersihan bulu badan dilipatan tubuhnya yang tersembunyi dilaksanakan secara primitif : setiap bulu atau rambut yang dicabut tentu saja akan dirasakan oleh kulit Ashanty. Ke empat wanita setengah baya itu sama sekali tak perduli Ashanty setiap kali menjerit kecil ketika bulu bulu halusnya dicabut dan tubuhnya setengah mengejang melawan pengikat di ujung bale. Proses yang sangat memalukan dirinya itu dirasakan Ashanty tak akan berakhir padahal ke empat wanita itu sangat cekatan dan mereka telah selesai membuat ketiak serta kemaluan Ashanty licin kelimis hanya dalam waktu tak lebih dari satu setengah jam. Setelah proses depilasi ini berakhir maka Ashanty merasakan kulit ketiak serta seluruh bukit kemaluannya sangat panas dan gatal menyebabkannya berusaha meronta ronta namun apa daya semua sia sia saja. Setelah itu Ashanty dilepaskan dari ikatan di bale-bale itu namun bukan untuk dibebaskan sama sekali : Ashanty kini di seret oleh para pengawal pribadi raja Manolo sambil dikelilingi oleh pelbagai wanita setengah baya menuju ruangan lain lagi. Ditengah ruangan berikutnya ini ternyata dilengkapi dengan empat pilar amat kokoh terbuat dari kayu kekar - dan Ashanty kini dibawa menuju ketengah ruangan itu. Dalam posisi berdiri kini tangan kakinya dipentang kembali selebar mungkin dan diikat lagi dalam posisi huruf X ditengah dua pilar. Kembali empat orang wanita mendekati Ashanty yang berusaha menggeliat geliat dan meronta dalam keadaan telanjang bulat itu. Empat wanita setengah baya ini mempunyai tugas berikutnya yaitu memijit dan melumasi seluruh tubuh Ashanty dengan cairan lici berminyak tercampur sari tanaman yang dikenal khasiatnya untuk membangunkan hasrat birahi seorang wanita - hal serupa pernah dialami Ashanty sebelum diperkosa oleh Aslan. Tapi karena kali ini bukan wanita biasa yang akan memasuki pelaminan melainkan pilihan raja Manolo maka konsentrasi pelumas rangsang birahi ini dibuat tiga kali lebih tinggi dari yang biasa dipakai di malam pengantin rakyat biasa suku itu.                                                 
       
Keempat wanita setengah baya yang berfungsi sebagai "juru perias" pengantin itu sangat cekatan menguasai cara memijit mengurah badan seorang wanita dengan jari jari mereka. Hanya bagian wajah Ashanty yang tak dilumasi dan di dipijit oleh mereka namun selebihnya tak ada sedikitpun yang lolos : mulai dari leher jenjang, bahu, ketiak, pundak, buah dada terutama puting yang mencuat, pinggang , perut datar dengan pusat mencekung , pinggul , lipatan paha, selangkangan , bukit kemaluan , belahan vagina , bongkahan pantat , celah anus diantara bulatan sekal bahenol , tak ada satu milimeter persegi-pun yang lolos dari urutan jari mereka. Bahkan bagian dalam dinding vagina dan anus Ashanty tak luput dari gosokan cairan getah lumas perangsang dari tangan mereka.
Semuanya tak dapat ditolak oleh Ashanty : badannya yang semula terasa hangat dan nyaman diurut dipijat dengan sedemikian mahirnya dengan cepat berubah menjadi rasa geli gatal dan panas ibarat digigiti ribuan semut.
Rasa kegelian dan kegatalan itu semakin lama semakin parah memuncak sehingga Ashanty mengeluh meratap agar semuanya dihentikan. Badannya yang terikat telanjang bulat meliuk liuk menggelinjang tak teratur kesemua arah dan karena pergelangan tangan dan kakinya terikat erat maka yang dapat bergoyang hanya bulatan pinggul dengan bongkahan pantat yang begitu sempurna - gerakan mana disertau dengan nafas kembang kempis sehingga perut yang datar juga ikut naik turun ibarat sedang latihan tari perut di kisah 1001 malam. Ditengah tengah penderitaan dan penyiksaan ini akhirnya Ashanty tak tahan lagi dan menangis tersedu sedu disertai jeritan jeritan memohon ampun minta dilepaskan dari ikatan dan diberikan kesempatan untuk menggaruk seluruh badannya yang gatal - terutama bagian bagian intim kewanitaannya.Ketika pandangan Ashanty mulai kabur karena dibasahi air mata dan keputus asaan mengalami pelecehan seksual seperti itu terdengarlah hiruk pikuk dari banyak orang yang memasuki ruangan penyiksaan itu. Ashanty melihat tubuh Manolo yang sedemikian tinggi besar berbulu kini setengah tertutup oleh pelbagai perlengkapan perang suku primitif itu, sedangkan diatas kepalanya terlihat semacam mahkota terbuat dari kepala singa. Dengan langkah perlahan namun pasti Manolo dan para pengawalnya mendekati Ashanty yang berdiri namun terikat erat telanjang bulat tak berdaya. Ashanty melihat disebelah kanan Manolo berjalan Utuzo dan disebelah kirinya ......melangkah dengan tegap dan gagah seorang laki laki yang juga dikenal oleh Ashanty : Hutumali !!!
Ashanty langsung berteriak : "Tolong pak, tolong bicara dengan raja Manolo bahwa saya datang hanya untuk mencaru suami saya , dan kini saya hanya ingin kembali pulang kerumah dan melupakan semuanya. Tolong pak saya bersumpah tak akan menceritakan siapapun mengenai pengalaman saya , tolong pak nanti saya bayar berapapun yang bapak kehendaki".
Hutumali hanya tersenyum licik dan menoleh kearah Manolo , Utuzo dan rakyat yang mulai berkumpul diruangan itu : "Nyonya telah memilih jalan nasib sendiri , sejak semula telah saya peringatkan namun nyonya tidak mau mendengar nasihat saya. Kini saya tak dapat menolong lagi karena di daerah gunung keramat ini yang berkuasa adalah tetap suku Kotubo - dan nenek moyang saya pun berasal dari suku ini. Mereka tetap hidup seperti ratusan tahun lalu , tetap sederhana dan terpisah dari dunia modern. Mereka melindungi hasil bumi alam negara ini yang dinincar dan ingin dikuasai manusia serakah seperti misalnya suami nyonya dan Aslan. Saya tak akan melarang niat Manolo untuk menjadikan nyonya sebagai istrinya , dan saya tak akan mengkhianatinya karena sebetulnya Manolo masih keluarga jauh dengan saya. Utuzo juga sebenarnya masih keponakan jauh dari istri saya dan selalu saya tahu kemana dan dimana Utuzo sebagai penunjuk jalan akan membawa pengunjung asing yang memasuki daerah terlarang ini dengan alasan dibuat buat. Terimalah saja perjalanan takdir dan nasib nyonya , sesuaikan diri dengan kehidupan sederhana disini dan nikmatilah kehangatan setiap malam didalam pelukan raja Manolo".

Hutumali menoleh dan berbisik bisik ketelinga Manolo kemudian beralih lagi menghadap Ashanty, memandang tubuh putih mulus telanjang bulat itu dan meneruskan nasihatnya : "Saya mengatakan kepada Manolo bahwa wanita modern yang telah terbiasa dengan kehidupan serba ada dan mewah harus diajarkan disiplin, harus dikembalikan lagi dari dunia emansipasi kedalam dunia leluhur dimana wanita selalu harus patuh terhadap suami, harus selalu melayani keinginan suami , harus selalu memuaskan keinginannya , dan kalau perlu sejak awal mula harus ditaklukkan secara konsekwen sehingga akhirnya menyerah dan pasrah".
Manolo memberikan tanda kepada para pengikutnya untuk memulai pesta yang telah ditunggu oleh para rakyat penduduk suku Kotubu , mereka diberikan izin untuk menikmati semua hewan buruan terbaik dan terlezat yang biasanya hanya menjadi bahan santapan Manolo sendiri serta pengawal pribadinya , mereka boleh bersenang senang sampai esok pagi hari, berpesta sepuasnya diseluruh ruangan di dalam gunung , gua dan lembah yang tersembunyi bahkan juga sampai ketepi danau , hanya dilapisan atas kelima yang tak boleh dimasuki siapapun: disitu adalah ruangan tidur raja Manolo sendiri dengan para istrinya serta selirnya. Tak lama kemudian baik Utuzo maupun Hutumali pamitan dan mengundurkan diri meninggalkan ruangan - semua rakyat telah keluar mencari tempat bersenang senang - kini tinggal hanya berdua : Manolo dan Ashanty.
Ashanty menyadari bahwa hidup matinya berada ditangannya sendiri : kalau ia masih tetap ingin hidup maka tak ada jalan lain ia harus menuruti kemauan Manolo yang serbentara lagi pasti akan menagih haknya sebagai suami.    Memang benar dugaan Ashanty - ketika semuanya telah pergi dan mengundurkan diri maka Manolo langsung mendekap dan memeluk tubuhnya. Kulitnya yang halus mulus namun saat itu terasa hangat dan gatal kini bersentuhan dengan badan Manolo yang berbulu lebat. Ashanty tak berani melawan dan merasa seakan akan sedang dirangkul oleh gorila raksasa. Meskipun udara disitu sangat panas lembab namun Ashanty menggigil bagaikan orang sedang demam meriang. Harapannya hanya satu : jatuh pingsan sebelum harus melayani nafsu hewaniah suami yang terlihat begitu buas dan ganas. Namun harapan hanya tinggal harapan : dengan  kesadaran penuh Ashanty merasakan tubuhnya diangkat dibopong ibarat selembar bulu yang ringan. Dipelupuk matanya terbayanglah adegan dalam film King Kong dimana seorang wanita berkulit putih dijadikan korban persembahan oleh penduduk primitif dipedalaman hutan rimba. Wanita persembahan itu diangkat hanya dengan satu tangan saja oleh gorila raksasa dan dibawa ke gua tempat pemukimannya. Ashanty merasakan dirinya juga kini sebagai wanita korban persembahan tengah dipanggul untuk sebentar lagi memasuki neraka kawin paksa yang selama ini hanya kisah dongeng. Manolo memanggul calon istrinya selangkah demi selangkah mendekati ruangan tempat kediaman pribadinya. Semua selir, para wanita penghibur serta tiga orang istrinya yang umumnya hampir sama tuanya dengan dirinya sendiri telah diperintahkannya untuk meninggalkan ruangan kamar tidur pribadinya. Manolo tak mau diganggu saat ini karena ia ingin menikmati tubuh Ashanty yang sedemikian bahenol merangsang , kulit Ashanty yang sedememikian putih bersih mulus tanpa cacat sedikitpun diyakininya adalah re-inkarnasi bidadari walhalla dan siapa dapat memiliki tubuh itu akan memperoleh tambahan kesaktian dan pengaruh gaib dibandingkan dengan kepala suku lainnya. Kini mereka telah memasuki kamar pelaminan Manolo : ruangan penuh dengan obor menyala di pelbagai penjuru dinding yang dihiasi segala macam tengkorak hewan besar dihutan itu, dari rusa sampai dengan harimau serta pelbagai jenis ular raksasa yang hanya ada di hutan rimba di kaki gunung itu. Di tengah ruangan tampak tepat tidur raja Manolo berukuran sangat luas karena harus menampung besarnya tubuh yang empunya - ranjang itu hanya mempunyai kaki sangat pendek namun kokoh luar biasa terbuat dari kayu yang entah berusia ratusan tahun. Yang menjadi "kasur" adalah timbunan daun jerami yang disusun tindih bertumpuk setelah melalui segala macam proses tradisionil hutan dan terasa hangat bagi yang menidurinya.


Manolo meletakkan tubuh istrinya yang telanjang bulat dan segera di lepaskannya tunik penutup badannya hingga langsung terlihat betapa kontrasnya kedua badan pasangan yang sama sekali "tidak sebibit, sebabat atau sebobot" seperti selalu dikatakan oleh penduduk Jawa tradisionil. Kembali Ashanty bergidik merinding dan tanpa sadar kembali berusaha menjauhkan dirinya dari tubuh raksasa hitam penuh bulu dihadapannya. Manolo rupanya ingin mengurangi bahkan menghilangkan rasa takut istri barunya dengan berusaha bersenyum dan memperlihatkan keramah tamahan , namun karena memang wajahnya begitu menyeramkan maka mimik yang dinilainya sendiri sebagai senyuman bahkan dimata Ashanty bagaikan seringa binatang buas yang akan mencabik merobek dan menyantapnya. Karena itu Ashanty semakin menggeserkan badannya tapi disatu saat tentu saja tak berhasil lagi karena telah mencapai pinggiran "ranjang". Di saat itu Manolo meraih dan menangkap tubuh langsing istrinya dan didekapnya Ashanty dengan kedua lengan berbulunya tanpa memperdulikan rontaan mangsanya yang lemah dan sia sia saja. Manolo memeluk istrinya dengan tenaga yang dianggapnya sendiri sangat halus dan lemah lembut namun bagi Ashanty dirasakan menyesak dadanya dan membuatnya mulai sukar bernafas, apalagi ketika Manolo tiba tiba menunduk dan menciumnya. Dengan ukuran mulut dan bibirnya yang sedemikian besar Manolo menutup mulut dan bibir ranum Ashanty yang merah merekah sehingga kelabakan karena merasa susah bernafas. Ketika akhirnya Ashanty berhasil dengan susah payah menemukan jalan nafasnya kembali maka terciumlah bau mulut Manolo yang tak menyenangkan. Aroma mulut dan ludah Manolo mengingatkan campuran bau tembakau , daun sirih dan cengkeh yang membusuk - semuanya adalah bau yang tidak dikenal oleh Ashanty menyebabkannya pengap dan langsung batuk-batuk tersedak. Manolo sebaliknya tak memperdulikan semuanya karena justru sebaliknya dinikmatinya bau mulut ludah Ashanty yang terasa harum dan lain sekali dengan aroma mulut wanita desa suku Kotubu. Dengan ganas Manolo semakin rakus melumat bibir Ashanty sekaligus ditariknya rambut panjang tergerai melebihi bahu menyebabkan Ashanty menjerit kesakitan: Kesempatan ini dipakai lidah Manolo bagaikan ular memasuki rongga mulut wanita cantik yang sedang dijarahnya, kemudian lidah itu mulai bersilat menyapu langit langit tanpa perduli perlawanan lidah Ashanty yang tentu saja jauh lebih kecil dan lemah. Semua tindakan Manolo ini menyebabkan tubuh Ashanty yang sejak di urapi dan dilumasi segala macam ramuan obat perangsang oleh ke empat wanita setengah baya tadi mulai lagi menggejolak panas kegatalan. Permukaan kulitnya yang memang halus dan peka semakin tak nyaman karena digesek terus menerus oleh kulit Manolo penuh bulu bulu kasar dan kini ditambah lagi dengan rasa gatal. Manolo menempatkan diri dengan posisi agak menyamping disebelah kanan tubuh mangsanya , tangan kanan Ashanty tertindih oleh tubuh Manolo sehingga tak dapat dipergunakan melawan sama sekali , lengan kiri atas Manolo diletakkan dibawah leher Ashanty ibarat bantal kepala. Tangan kiri Manolo mencengkeram pergelangan tangan langsing Ashanty demikian erat sehingga Ashanty merasa sangat kesakitan dan jika diinginkan maka dengan kekuatan penuh pastilah pergelangan Ashanty akan dapat remuk di cengkeraman Manolo. Setelah kedua tangan Ashanty berada sepenuhnya dibawah kekuasaan dan tak dapat dipakai melawan, maka dalam posisi agak miring menyamping Manolo menindih dan menekan paha kanan Ashanty yang sebelumnya direntangkan selebar mungkin. Kaki kanan Manolo dengan paha dan betis sedemikian kekar penuh cacat² bekas luka pertempuran kini memaksa membuka selangkangan Ashanty yang berusaha mati²an mengatup namun tentu saja kalah tenaga.

Hanya dalam waktu tak ada satu menit kedua paha Ashanty begitu putih halus mulus telah terkangkang sempurna tertekan oleh kedua paha Manolo yang sedemikian besar penuh bulu berwarna hitam legam. Penuh kepuasan kini
Manolo melepaskan ciumannya sebentar dan menyaksikan mangsanya yang menggeliat meronta tanpa berdaya melepaskan diri. Wajah Ashanty menoleh kekanan kekiri berusaha menghindari ciuman buas Manolo berikutnya namun sang raja mengalihkan ciumannya kini ke leher jenjang , menyapukan lidahnya yang kasar ketelinga dan berbisik :
"Bagus , baguuus , uuummmmh wangi wangiii , tahaan lagiiiiii , ssshhhhh , sebentaaar lagiiiii sakiiiiit , tapiiii nanti makiiiiiin baguuuus , cantiiiiikkk , rasaaaaa nikmaaaat".
Sambil mengoceh dengan bahasa campuran sukar dimengerti Manolo meningkatkan kegiatannya dengan tangan kanannya yang sama sekali bebas mengusap usap seluruh badan Ashanty : kedua buah dada sintal kenyal dengan puting menggemaskan kini menjadi sasarannya , diremas remas dengan lembut dan kasar bergantian membuat Ashanty semakin menggeliat, menjerit kesakitan namun sesaat kemudian meronta ronta akibat rasa ngilu nikmat. Tangan kasar Manolo menarik mencubit memilin dan memijit pentil yang semakin lama semakin keras menegang, lalu jari jari kasar itu diganti oleh bibir Manolo yang besar dower bergantian dengan gigitan gemas meninggalkan cupangan merah dikulit payu dara yang putih itu. Sambil terus menerus menggigiti dan menjilat jilat buah dada montok Manolo meneruskan perjalanan jari tangan kanannya menuruni lembah perut datar, menggoda sebentar pusar yang berdenyut kegelian, dan turun turun turun memasuki bukit yang telah licin karena dicabuti bulunya oleh para wanita setengah baya tadi. Kulit didaerah bukit kemaluan Ashanty yang sangat sensitif itu setelah dicabuti bulu kemaluannya terasa panas agak perih - apalagi setelah diolesi dengan ramuan perangsang dicampur sari ulat bulu - kini tanpa rasa kasihan sedikitpun diraba dan diusap usap oleh jari kasar Manolo. Rasa panas dan perih kini bertambah dengan rasa gatal tak terkira menyebabkan Ashanty ingin menggaruk atau paling sedikit mengatup dan menggesek gesek kedua pahanya melawan siksaan di selangkangannya itu. Apa mau kedua paha belalangnya dipaksa mementang semaksimal mungkin dan ditekan oleh kedua paha dan betis Manolo sehingga tak ada yang dapat dilakukan oleh Ashanty selain meratap merintih memohon agar penderitaannya segera diakhiri :
"Ooooooh, eeeennnnngghhh, uudaaaaaah , uddaaaaaah , ssssshhhhhhh , periiiiiih , auuuuuw , eeiiiinnnnnngh , toolooonnngg , geliiiiiiiiiiii , geeeliiiiiiiiiiii , oooooouuuuh , eempfhaaaammmpuuuuunn , uudaaaaah doooong".
Manolo sangat puas melihat istrinya meronta menggeliat tanpa dapat berkutik dibawah kekuasaannya , melihat wajah sedemikian ayu cantik menggeleng kekiri kakanan menahan derita tak terkira , melihat pipi halus dibasahi air mata , melihat hidung bangir mancung kembang kempis mendengus semakin cepat dan terutama mulut manis terbuka mendesah tak habisnya - inilah saatnya membuktikan kejantanannya dan menaklukkan total istrinya.
Manolo membalikkan tubuhnya sehingga kini sempurna menutupi tubuh Ashanty , tubuh Manolo tertutup bulu tebal kasar hitam legam hampir dua meter, seberat hampir seratus duapuluh kilo menindih tubuh istrinya yang sintal langsing semampai tak sampai enampuluh kilo. Ashanty merasa seluruh isi paru parunya tertekan dan tidak dapat bernafas sama sekali , berontak pun sama sekali tak ada gunanya , selain itu terasa sangat mengganggu adalah rasa panas dan gatal disemua bagian badannya yang vital dan ini membutuhkan pemuasan.

Manolo meletakkan kedua paha dan betis Ashanty yang menekuk lemas di atas pundaknya , kedua pergelangan tangan Ashanty yang sedemikian langsing dicengkeramnya diatas kepala Ashanty cukup dengan hanya memakai satu tangan kirinya. Tangan kanannya kini memegang dan mengarahkan penisnya yang telah sedemikian tegang selingkar ujung pukulan kasti dan sepanjang hampir duapuluh delapan senti dengan kepala berbentuk topi baja kearah celahan dilembah bukit venus yang lembab. Ukuran kepala penis itu terlihat terlalu besar untuk menguak membelah celah vagina Ashanty namun hal bukan sesuatu hal baru bagi Manolo yang telah sering sanggama dengan wanita sukunya sendiri dengan ukuran vagina bukan tandingan rudalnya. Manolo tahu bahwa obat ramuan perangsang yang dilumaskan dan bahkan dioleskan kedalam dinding Ashanty oleh para wanita setengah baya tadi akan menunjukkan khasiatnya dan membantu penis raksasanya membelah celah kemaluan Ashanty. Dinding celah kewanitaan Ashanty telah basah dan licin dengan madu alamiah , belahan bibir kemaluan Ashanty telah membengkak pula diakibatkan rasa gatal dan penebalan ini membuatnya merekah seolah mengundang datangnya kejantanan yang menerobos masuk menghantam gerbang rahimnya. Perekahan bibir kemaluan Ashanty menyebabkan pula agak keluar dan menonjol pula sang kelentitnya yang kini tersentuh oleh ujung penis Manolo yang memang sengaja di usap dan digesek geseknya sepanjang celah vagina. Meskipun hanya sedikit sekali namun Manolo merasakan bahwa ujung kepala kemaluannya berhasil memasuki celah kecil diantara bibir kemaluan Ashanty - dan aaaah betapa hangatnya belahan yang sebentar akan dipaksa membuka semaksimal mungkin oleh senjata kebanggaannya. Manolo membiarkan rudalnya singgah tanpa bergerak ditengah belahan amat sempit itu. Jari jari tangan kanannya tak lagi memegang kemaluannya itu melainkan berusaha menguakkan dan membuka bibir vagina Ashanty lebih lebar. Dengan bantuan jari tangan ini Manolo merasakan kepala penisnya yang semula hanya menempel diawal belahan vagina kini agak mulai behasil menyelinap diantara dinding halus dan licin. Manolo menekan sedikit demi sedikit kejantanannnya lewat portal surgawi, namun sebagaimana telah di duganya maka proses selanjutnya tak semudah itu karena tak sebandingnya ukuran kelaminnya dengan istrinya. Pada saat itu Ashanty masih belum menyadari penuh apa yang akan dialaminya sebentara lagi , dirasakannya saat itu sedikit "keringanan" atas rasa gatalnya karena ada yang menggesek gesek liang vaginanya, sementara ia melupakan betapa ukuran panis raksasa Manolo yang bebarapa saat lalu menyebabkannya gemetar ketakutan. Bagi Manolo penetrasi ke liang surgawi Ashanty ibarat sedang memerawani seorang gadis berusia belasan tahun: meskipun dinding vagina Ashanty telah begitu hangat berlendir licin bagaikan dilumas minyak namun diameter penisnya memang diluar proporsi dibandingkan rata rata diameter wanita Asia. Namun proses evolusi manusia telah berjalan berabad abad termasuk evolusi alat kelamin wanita dewasa yang jika telah lewat masa pubertas akan sanggup "menampung" alat kelamin lelaki dewasa partnernya, meskipun berbeda ras maupun tinggi dan besar badan mereka, hanya proses penetrasi akan sangat menyakitkan jika si lelaki terlalu kasar dan tak sabaran.
"Nona sekarang tahan sakit, tahan masuk saya , jangan lawan tidak bagus , rusak nanti tidak bagus , lama biasa kurang sakit , masuk minta enak , enak dan bagus nanti", demikian Manolo mencoba menenangkan istrinya disaat makin menekan dan mendorong masuk penisnya , tapi Ashanty tak mengerti karena susunan kata kacau balau.


Milimeter demi milimeter Manolo menancapkan rudal kebanggaannya kedalam lubang sedemikian sempit, setiap milimeter dirasakan Ashanty sebagai siksaan tak ada taranya , selangkangannya bagaikan sedang dibelah dua , vaginanya dipaksa membengkang melebar sedemikian rupa sehingga terasa nyeri ngilu dan tiap saat akan koyak.
Namun dibalik rasa tersiksa tak terlukiskan ribuan kata kata dinding vagina Ashanty yang juga dilanda kegatalan  akibat olesan ramuan perangsang secara perlahan namun pasti merekah dan mengembang - menyambut lembing daging yang menyumbat penuh sesak sang lubang nirwana. Didalam puncak keputus asaannya Ashanty melenguh "Udaaaaaaah , udaaaaaah , enggggggaaaaaa muaaaaat lagiiiiiiiii, jangaaaan diterusiiiiin , aaampuuuun ampuuun , aaaah , saaakiiiiiiitt , panaaaaaaaass , sssshhhhhhhhhh , geeliiiiiiiii udaaaaah dong ,  saaakiiiiiitt , ammpuuuunn".
Namun Mnaolo mana mau melepaskan mangsanya , bahkan dengan penuh semangat diteruskannya tusukan penis raksasa kebangaannya semakin dalam , ia tak perduli lubang itu terbengkang sedemikian lebar sehingga Ashanty menjerit jerit bagai kancil lemah sedang disembelih. Paha dan betis Ashanty yang tergantung dipundak Manolo hanya dapat dengan lemah memukul mukul punggung pemerkosanya tanpa daya sedikitpun. Kedua buah dadanya juga terasa sedemikian bengkak memar penuh dengan bekas remasan jari kasar , putingnya terasa perih karena lecet disana sini akibat dipelintir, dicubit, dipilin, bahkan digigit gigit oleh "suami gorila"nya yang sedang dilanda nafsu birahi. Setiap milimeter masuknya penis Manolo menyebabkan Ashanty mendengakkan kepalanya sambil merintih rintih menyebabkan iba yang mendengarnya, hanya saja Manolo sudah bertekad akan menumpahkan benihnya kedalam rahim sang istri. Oleh karena itu tetap dipaksakannya penisnya masuk , putar sedikit kekiri , makin dalam masuk, putar sedikit kekanan , makin masuk kedalam , masuk masuk dan akhirnya....... ujung penis itu menyentuh mulut rahim Ashanty. Mulut rahim seorang wanita memang penuh jutaam syarat peka sehingga Ashanty memekik tidak karuan :
"Aaaauuuuuuwww , aaauuuuuuuuuww , udaaaaaah , ngiluuuuuuuuuu , sakiiiiiiiiiiiiit , lepaaaskaaan , engggga taahaaaaan lagiiiiiiiii ".
Kini semua rasa gatalnya telah punah sirna , hanya rasa panas nyeri ngilu sakit dan nikmat sekaligus seilih berganti - apalagi Manolo mulai dengan teratur menarik sedikit penisnya kemudian di tekannya lagi , di maju mundurkan , diputar putarnya menusuk vagina Ashanty ke segala arah. Tak pernah seumur hidup Ashanty membayangkan persetubuhan dengan lelaki dapat sedahsyat se-intensif seperti ini , semua yang pernah dialaminya , juga perkosaan massal sebelumnya punah memucat dibandingkan saat ini. Tanpa dikehendaki dan betul betul diluar kemauannya lagi Ashanty mengalami orgasmus demi orgasmus , tak mungkin lagi dihitung berapa kali , setiap orgasmus bagaikan mencapai puncak gunung tinggi , dihempaskan lagi kebawah , di seret lagi ke puncak gunung lebih tinggi lagi , dibanting lagi ke lerengnya. Jutaan bintang berputar putar dihadapan matanya , jeritan melengking dari celahan bibir manis yang tiada henti semakin lama semakin melemah menjadi rintihan dan dengusan , hidung yang kembang kempis semakin lambat mengeluarkan nafas dan akhirnya Ashanty melihat didepan matanya awan gelap semakin gelap menutupi benaknya sebelum jatuh pingsan.
Dimalam itu Manolo menunjukkan Ashanty apa artinya bersetubuh dengan raja suku Kotubu , menunjukkan apa keinginan Manolo untuk dipuasi oleh istrinya , mengajarkan Ashanty membuka mulut maksimal untuk mengulum dan menyepong penis raksasa , menjilat dan membasahkannya sebanyak mungkin dengan ludahnya , karena sesudah itu Ashanty harus pasrah sepenuhnya untuk dimasuki baik dari depan maupun belakang , baik vagina maupun anusnya. Percuma saja Ashanty memohon untuk tidak disodomi karena ratapan istri sedemikian cantik yang berlutut menyembah dihadapannya bahkan akan lebih memacu nafsu kebinatangannya. Ashanty mengetahui dan belajar menerima nasibnya , akhirnya menyerah dan pasrah sepenuhnya dijadikan ratu suku bangsa Kotubu.

TAMAT
By: MISSOLVG
Sungguh Puaskah Istri Anda ?